(12) Ibadah Haji

الخطبة الأولى

الْحَمْدُ ِللهِ عَلَى نِعَمِهِ فِىْ أَيَّامِ شَهْرِ ذِى الْحَجَّةِ الَّذِىْ أَرْشَدَنَا إِلَى طَاعَتِهِ، وَخَذَرْنَا مِنْ مُخَالِفَتِهِ وَمَعْصِيَتِهِ. أَشْهَدُ لآ إِلـٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللّـٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ وَالاَهُ.

أَمَّابَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ اتَّقُوااللهَحَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُوْمَاتٌ، فَمَنْ فَرَضَ فِيْهْنَّ الْحَجَّ  فَلاَرَفَثَ وَلاَفُسُوْقَ وَلاَجِدَالَ فِى الْحَجِّ... (البقرة : 197)

 

Ma’asyiral Muslim rahimakumullah !

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah dimana pun kita berada. Sebab taqwa adalah barometer utama untuk mengukur jauh dekatnya seseorang dengan Allah. Hidup tanpa disertai dengan ketaqwaan akan mudah terpeleset pada kemungkaran dan kemaksiatan yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain.

 Hadirin yang dimuliakan Allah !

Kita tahu bahwa bulan Dhulhijjah adalah bulan mulia yang di dalamnya banyak keistimewaan dan keutamaan bagi orang yang mau mendekatkan diri pada Allah dengan jalan beribadah. salah satu ibadah utama yang khusus dijalankan pada bulan Dzul Hijjah adalah ibadah haji, yang masuk dalam rukun Islam kelima. Sebagaimana dijelaskan Allah dalam firmanNya:

وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ (27) لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ (28)

 “Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka mempersaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan su paya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rizki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebagian dari padanya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk di makan orang-orang yang sengsara lagi fakir”. (QS. Al-Hajj ayat 27 dan 28)

Ahli Jum’ah yang dirahmati Allah !

Bila kita mau merenungkan makna ayat di atas, maka kita akan tahu bahwa di dalam ibadah haji itu banyak hikmah yang terkandung di dalamnya, di antaranya :

1).   Di dalam ibadah haji, seluruh status sosial ditanggalkan. Kemuliaan dan kehormatan seseorang dinilai dari ketaq waannya, bukan dari status socialnya, nasabnya atau kekayaanNya.

2).   Manusia harus bersyukur atas segala kenikmatan yang diberikan Allah kepadaNya dengan tekun beribadah dan berdzikir kepadaNya.

3).   Menanamkan kepedulian sosial terhadap sesema dengan memberikan makanan atau sesuatu yang bisa meringankan beban penderitaan hidup mereka yang kurang mampu.

Selain itu, orang yang melaksanakan ibadah haji akan semakin meningkat dalam melaksanakan ibadah dan ketaqwaannya kepada Allah, menyesali semua dosa-dosa yang telah dikerjakannya. Demikian juga cintanya kepada Allah sema kin bertambah. Semua itu adalah nilai-nilai rohani yang dapat meningkatkan ketahanan rohani di tengah-tengah carut marutnya kehidupan sekarang.

Juga tidak sedikit orang yang menjalankan ibadah haji, tetapi tingkah lakunya dalam kemaksiatan dan kemungkaran tidak berubah. Orang seperti ini hatinya memang telah beku, meskipun telah menjalankan ibadah haji tetapi ibadah yang dijalankannya itu tidak membekas dalam hatinya.

Ahli Jum’ah yang berbahagia !

Ibadah haji wajib dijalankan bagi setiap muslim yang telah mampu menjalankannya dan memenuhi persyaratannya. Karena itu berdosa orang yang sudah mampu menunaikan ibadah haji tetapi ia tidak mau melaksanakannya.

Dalam hal ini Rasulullah SAW pernah bersabda : ”Kalau saja aku mengetahui seorang kaya yang seharusnya sudah berkewajiban haji, kemudian mati sebelum menunaikannya, maka aku tidak akan shalat atasnya (jenazahnya)”.

Padahal orang yang mau melaksanakan ibadah haji dengan penuh keikhlasan, maka akan terhapus seluruh dosa-dosanya sebagaimana waktu ia lahir. Seperti yang disampaikan Rasulullah SAW dalam sabdanya :

“Barang siapa pergi haji dengan ikhlas hanya untuk Allah semata, lalu tidak mengucapkan kata-kata keji dan tidak keluar dari batas-batas agama, maka ia kembali seperti keadaan pada waktu ibunya melahirkannya”.

Hadirin yang dirahmati oleh Allah !

Orang yang mengerjakan ibadah haji sesuai dengan tuntunan syari’ah, ia ikhlas mengerjakannya semata-mata karena Allah, bukan karena mencari status sosial, bukan karena mencari sanjungan, maka ia akan menjadi haji yang mabrur.

Sebagaimana yang dijelaskan Rasulullah SAW dalam sabdanya :

أَلْحَجُّ الْمَبْرُوْرُ لَيْسَ لَهُ جَزَآءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ

“Haji mabrur, tidak ada balasannya melainkan surga”.

Berdasarkan hadits di atas tadi, maka sangat beruntunglah orang yang mengerjakan haji yang didasari dengan keikhlasan, kemudian hajinya itu diterima oleh Allah sebagai haji mabrur, karena haji yang mabrur akan dibalas oleh Allah dengan pahala yang berlipat ganda dan diampuni segala dosa-dosanya. 

Hadirin yang kami hormati !

Orang yang sudah menjalankan shalat lima waktu dengan disiplin, mengeluarkan zakat dari seluruh harta yang dimilikinya, berpuasa ramadlan sesuai dengan tuntunan syari’ah, dan mengerjakan ibadah haji ke Baitullah dengan meng harapkan ridla Allah semata, maka berarti ia telah menyempurnakan rukun Islam. Sedangkan bagi orang yang belum mampu untuk beribadah haji, maka dia tidak diwajibkan untuk melaksanakan rukun Islam yang kelima ini.

Allah adalah Dzat Yang Maha Adil lagi Maha Bijaksana, Dia menyediakan satu hari puasa yang disunnahkan kepada orang-orang yang tidak mengerjakan ibadah haji, dan puasa ini tidak boleh dikerjakan oleh orang yang melaksanakan ibadah haji.

Puasa itu disebut dengan puasa Arafah, yang pahalanya sangat besar disisi Allah. Inilah keadilan Allah, tinggal kita saja mau melaksanakannya atau tidak. Beruntunglah orang yang mau melaksanakannya dengan ikhlas, dan rugilah orang yang enggan untuk melaksanakannya.

Ahli Jum’ah yang dimuliakan oleh Allah !

Oleh karena itu, bagi kita yang belum mampu melaksanakan ibadah haji hen daknya berpuasa Arafah, karena puasa Arafah ini besar sekali pahalanya, lebih-lebih dalam puasa tersebut digunakan untuk berdo’a kepada Allah memohon ke padaNya agar diberi kemudahan untuk melaksanakan ibadah Haji, Insya Allah permohonannya akan dikabulkan oleh Allah. Meskipun demikian ikhtiyar dengan bekerja dan berusaha harus tetap dijalankan. Sebab kita masih dalam tingkatan syari’at. karena itu berdo’a harus disertai dengan usaha.

Mengingat begitu besarnya pahala ibadah haji, maka kita merasa heran bila ada orang yang sudah mampu menunaikan ibadah haji tidak mau melaksanakannya, atau menunda-nunda ibadah hajinya. Orang seperti ini akan mendapat murka Allah, karena kelebihan rizqi yang diberikan Allah tidak digunakan untuk bertaqarrub kepada Allah, malah digunakan untuk hal-hal lain yang berbau ke duniaan semata.

Rasulullah SAW pernah bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Baihaqi, yang artinya:

“Barang siapa yang tidak terganggu oleh kebutuhan yang memaksa, sakit yang menggoda atau oleh sang penguasa yang dzalim sampai tidak pergi haji, sebaiknya mati saja seperti matinya orang Yahudi atau seperti matinya orang Nasrani”. 

Ahli Jum’ah yang dirahmati Allah !

Bila kita tidak ingin mati konyol seperti orang Yahudi dan Nasrani, maka hen daknya kita melaksanakan perintah Allah, yaitu menunaikan ibadah haji apabila sudah memenuhi persyaratannya, jangan ditunda-tunda sebab kita tidak tahu akhir hidup kita, juga tidak tahu kapan habisnya rizqi yang kita nikmati dari. Allah itu. Orang yang suka menunda-nunda pelaksanakan ibadah hajinya adalah orang yang tidak fajham makna kehidupannya. Seluruh amal perbuatan kita di dunia ini akan dimintai pertanggung jawab di akhirat nanti, termasuk dalam pena sarufan harta benda.

Mudah-mudahan Allah selalu menunjukkan kita ke jalan yang lurus dan menyelamatkan kita dari segala bentuk tipu daya setan. Sehingga kita bisa melaksa nakan ibadah kepada Allah dengan tenang dan khusyu’.

Demikianlah sedikit uraian kami dalam khutbah Jum’ah ini, mudah-mudahan kita bisa mengambil hikmah dan manfaatnya sebagai bekal tambahan pengetahuan dalam bertaqarrub kepada Allah, sehingga kita bisa selamat hidup di dunia maupun di akhirat. Amiin Ya rabbal Alamiin.

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْءَانِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِى وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّى وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِى هٰذَا فَاسْتَغْفِرُوْهُ اللهَ اْلعَظِيْمَ لِىْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِيِنَ وَيَا نَجَاةَ التَّائِبِيْنَ، وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ.

 

الخطبة الثانية:

     الْحَمْدُ ِللهِ الْبَرِّ الرَّؤُوْفِ الْجَوَّادِ الَّذِى جَلَّتْ نِعَمَهُ عَنْ اْلإِحْصَاءِ بِاْلأَعْدَادِ الْمَانِّ بِاللُّطْفِ وَاْلإِرْشَادِ الْهَادِى إِلَى سَبِيْلِ الرَّشَادِ. أَشْهَدُ أَنْ لآ إِلـٰهَ إِلاَّ اللهُ الْوَاحِدُ الْغَفَّارُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُخْتَارُ وَأُصَلِّى وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدِنِ الْمُنَوَّرِ وَعَلَى أٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ اْلأَطْهَارِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَاكُمْ عَنْهُ وَحَذَرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ يَوْمَ الْمَحْشَرِ. اللّٰهُمَّ ارْضَ عَنْ جَمِيْعِ الصَّحَابَةِ وَالْقَرَابَةِ لِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خُصُوْصًا لِسَيِّدِنَا أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِىٍّ رَضِىَ اللهُ عَنْهُمْ أَجْمَعِيْنَ أَمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. اللّٰهُمَّ اجْعَلْ فِى قُلُوْبِهُمُ اْلإِيْمَانَ وَالْحِكْمَةَ وَأَوْزِعُهُمْ أَنْ يُوْفُوْا عَلَى عَهْدِكَ الَّذِى عَاهَدْتَ إِلَيْهِمْ، وَاجْعَلْنَا مِنْهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنْ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَّقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

     عِبَادَ اللهِ إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*