(2) Khutbah ‘Idul Adlha

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ. اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً. لآإِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ، وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لآإِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَِللهِ الْحَمْدُ. الْحَمْدُ ِللهِ الْمَلِكِ الْقَهَّارِ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَى نِعَمٍ تَتَوَالَى كَاْلأََمْطَارِ وَأَشْكُرُهُ عَلَى مُتَرَادِفِ فَضْلِهِ الْمِدْرَارِ. أَشْهَدُ أَنْ لآإِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ شَهَادَةً تُنْجِى قَائِلَهَا مِنَ النَّارِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ النَّبِيُّ الْمُخْتَارُ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ أَفْضَلِ مَنْ حَجَّ وَاعْتَمَر، وَعَلَى أٰلِهِ وَصَحْبِهِ اْلأَبْرَارِ. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ هٰذَا يَوْمٌ فَضِيْلٌ، وَعِيْدٌ شَرِيْفٌ جَلِيْلٌ، رَفَعَ اللهُ تَعَالَى قَدْرَهُ وَأَظْهَرُ. وَسَمَّاهُ يَوْمَ الْحَجِّ اْلأَكْبَرِ. اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah!

Semenjak tadi malam, hingga menjelang shalat ‘Ied tadi, kita telah menguman dangkan takbir, tahlil dan tahmid secara terus-menerus, baik di rumah, di langgar, di masjid, di jalan-jalan dan di tempat-tempat lain. Di sana sini terdengar suara “ALLAHU AKBAR”, yang berarti “Allah Maha Besar”, disusul dengan tahlil “LAA ILAAHA ILLALLAAH”, (tiada Tuhan selain Allah), dan ditutup dengan bacaan tahmid “WALILLAAHIL HAMDU” (hanya bagi Allah segala puja dan puji).

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah !.

Dengan takbir “ALLAHU AKBAR”, Allah Maha Besar, kita tanamkan keyakinan tentang kebesaran Allah, sesungguhnya hanyalah Allah yang Maha Besar, sedang selain Allah adalah kecil. Apapun yang telah kita bangga-banggakan dari kekayaan harta, kebesaran pangkat dan segala kemewahan dunia, semuanya adalah kecil dan tidak ada artinya sama sekali bila dibanding dengan kebesaran Allah. Dengan demikian tidak ada perlunya kita membanggakan kekayaan, karena kekayaan adalah kecil, tidak ada perlunya kita menyombongkan pangkat, karena adalah kecil, tidak ada perlunya memamerkan keahlian, karena prestasi atau keahlian adalah kecil, semuanya kecil, dan yang Maha Besar hanyalah Allah, PencipTa’alam semesta. Dialah yang berhak untuk disembah, LAA ILAAHA ILLALLAAH, tiada Tuhan yang wajib disembah selain Allah. Dialah yang mempu nyai segala kelebihan sehingga hanya Dia pulalah yang patut dipuji, “WALILLAAHIL HAMD”, dan hanya bagi Allah segala puja dan puji. Allah yang memberi kekayaan, menentukan pangkat, memberi kekuatan, memberi kemuliaan dan lain sebagainya, maka Dialah yang berhak dipuji. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillaahil Hamd.

Kaum Muslimin yang berbahagia !.

Semestinya bagi orang yang diberi kekayaan harta harus tahu siapakah sebenarnya yang memberi kekayaan itu, lalu ia memuji-Nya dan bersyukur kepada-Nya. Demikian pula bagi orang-orang yang diberi pangkat, kedudukan, kekuatan haruslah memuji dan bersyukur kepada Dzat yang memberi pangkat, kedudukan, kekuatan dan lain sebagainya. Jangan sampai pemberian-pemberian yang telah diperoleh itu digunakan untuk menyombongkan diri. Ketahuilah, bahwa tanpa limpahan pemberian-Nya, kita ini tidak memiliki apa-apa dan tidak berdaya apa-apa, maka janganlah berlaku sombong! Allah Ta’ala berfirman:

{وَلا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلا تَمْشِ فِي الأََرْضِ مَرَحاً إِنَّ اللهَ لا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍ} [لقمان: 18]

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri”. (QS. Luqman : 18).

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah !.

Sesungguhnya sifat sombong yang dimiliki oleh seseorang adalah diseba bkan dari perasaan yang keliru, yakni menganggap dirinya lebih kaya, lebih mulia, lebih gagah, lebih kuat, lebih pandai dan lain sebagainya. Seakan-akan kelebihan-kelebihan itu hanya dia yang memiliki, padahal hanya Allahlah yang mempunyai segala kelebihan sehingga hanya Allah pulalah yang berhak memiliki sifat sombong.

الْكِبْرِيَاءُ لِرَبِّنَا صِفَةٌ بِهِ مَخْصُوْصَةٌ فَتَجَنَّبَنْهَا وَاتَّقِ.

“Kesombongan itu merupakan sifat yang khusus bagi Tuhan kita. Maka jauhilah kesombongan dan bertaqwalah”. Oleh sebab itu marilah kita singkirkan jauh-jauh sifat som bong, dengan jalan berlaku sopan dalam pergaulan, sering menengok para tetangga terutama yang sedang tertimpa kesusahan, suka bertegur sapa dengan sesama umat Islam, ringan kaki mendatangi undangan dan lain sebagainya. Kecuali itu semua marilah kita bersyukur kepada Allah atas segala anugerah yang telah diberikan kepada kita. Kita tasarufkan anugerah atau pemberian Allah itu menuju jalan yang diridlai -Nya, terutama dalam hari di mana bagi orang -orang yang berkecukupan diperintahkan untuk melaksanakan udlhiah/menyembelih binatang ternak, hendaklah memenuhi perintah Allah tersebut, yakni berkurban. Rasulullah Saw. bersabda:

مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ فَلَمْ يُضَحِّ فَلْيَمُتْ إِنْ شَآءَ يَهُوْدِيًّا وَإِنْ شَآءَ نَصْرَانِيًّا.

“Barangsiapa mempunyai kelapangan rizki tapi tidak mau berkorban, maka mati sajalah ia, kalau mau sebagai orang Yahudi, dan kalau mau sebagai orang Nasrani”. Dan menurut riwayat lain beliau bersabda:

مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ فَلَمْ يُضَحَّ فَلاَيَقْرَبَنَّ مُصَلاَّنَا.

“Barangsiapa mempunyai kelapangan rizki tapi tidak mau berkorban, maka jangan sekali-kali ia mendekati tempat shalat kita”. Beliau juga bersabda:

أَلاَ إِنَّ اْلأُضِْحِيَةَ مِنَ اْلأَعْمَالِ الْمُنْجِيَةِ تُنْجِى صَاحِبَهَا مِنْ شَرِّ الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ.

“Ketahuilah, bahwasanya korban-korban itu termasuk amal-amal penye lamat, yang menyelamatkan pelakunya dari keburukan dunia dan akhirat”.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah !.

Sehubungan dengan ibadah kurban ini, marilah kita kembali melihat sejarah atau pengorbanan Nabi Ibrahim terhadap putranya yang tercinta, yaitu Nabi Ismail. Betapa besarnya pengorba nan beliau demi pengabdiannya kepada Allah Ta’ala. Tidak hanya korban memotong ternak, tetapi beliau rela menyembelih pu tranya Ismail demi memenuhi perintah Allah. Allah Ta’ala berfirman:

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ (100) فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ (101) فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ (102) فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ (103) وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ (104) قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (105) إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ (106) وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ (107) وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآخِرِينَ (108) سَلَامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ (109) كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (110)

“Ibrahim berdoa; “Ya Tuhanku, anugerahilah aku anak yang termasuk golongan orang-orang shaleh”. Lalu Kami (Allah) sampaikan berita gembira kepadanya yaitu akan memperoleh anak yang sabar. Setelah sampai usia anak itu untuk berusaha, Ibrahim berkata; “Hai anakku, aku melihat dalam mimpi, bahwa engkau kusembelih, sebab itu pikirkanlah, bagaima nakah pendapatmu?” Anaknya (Ismail) menjawab; “Wahai Bapakku, laksanakanlah apa-apa yang diperintah kepada Bapak. Bapak akan menapati aku, Insya Allah, termasuk golongan orang-orang sabar”. Setelah keduanya menyerahkan diri kepada Tuhan, dan Ibrahim membaringkan anaknya pada keningnya (karena hendak disembelih), lalu Kami (Allah) memanggilnya; “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu): Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman”. (Ash-Shaffaat : 100-110).

Demikanlah Allah berkenan membalas pengorbanan Ibrahim yang telah ber serah diri memenuhi perintah Allah. Semoga peristiwa yang sangat bersejarah ini dapat kita jadikan sebagai pelajaran untuk berserah diri kepada Allah dan berkorban menuju ke jalan yang diridhai-Nya.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.

Marilah kita syukuri kedatangan hari mulia ini, sebab hakekat kebesaran ini ialah persatuan umat. Persatuan umat merupakan ajaran Islam, yang harus dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh yang terdekat dan kita saksikan setiap hari ialah pelaksanaan shalat berjama’ah. Sebagai puncak pertemuan besar umat Islam dari segenap penjuru dunia ialah pada bulan Haji seperti sekarang ini. Berkumpulnya umat Islam dari seluruh penjuru dunia di Tanah Haram meru pakan suatu bukti ajaran persatuan dalam Islam dan adat istiadat mereka berkumpul, serentak memenuhi panggilan Allah, bersimpuh dan bersujud di hadapanNya.

Allahu Akbar Walillaahil Hamd.

Hari ini adalah hari perpisahan mereka di Tanah Suci. Berpisah untuk kembali ke negeri masing-masing setelah membersihkan jiwa dan fikiran, dengan membawa oleh-oleh rasa persatuan yang kokoh. Ibadah Haji merupakan kewajiban dan panggilan Allah bagi umat Islam yang telah mampu melaksanakannya, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وَللهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً (آل عمران: 97)

“Dan bagi Allah atas manusia (muslim) untuk melaksanakan ibadah haji, bagi yang mampu melaksanakannya”. (Ali Imran: 97). Sungguh berbahagialah umat Islam yang mampu memenuhi panggilan Allah ini. Dengan niat menyempurnakan rukun Islam yang lima perkara, mereka datang mengharap ridla Allah, mereka sambut seruan Allah dengan gema talbiyah, takbir dan tahmid.

لَبَّيْكَ اللّٰهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لاَشَرِيْكَ لَكَ.

Aku sambut panggilan-Mu wahai Tuhan, aku sambut panggilan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu.

Allahu Akbar Walillahil Hamd.

Kita kaum Muslimin yang sedang tidak melakukan ibadah haji, oleh Allah disyari’atkan shalat Idul Adha seperti sekarang ini, dimana kita bersaf-saf lurus rapat, dipenuhi oleh semangat dan rasa persatuan serta persamaan, ruku’sama ruku’, sujud sama sujud dan duduk sama duduk, dibawah satu komando, satu pimpinan yaitu komando Imam. Itupun mengajak supaya kita dalam usaha dan per juangan menegakkan agama Islam dan menyiarkan agama Islam, membina Negara, umat dan bangsa, teguh bersatu hati bulat bersatu padu, dibawah satu komando pula, tidak bercerai-berai, pantang berpecah belah. Menegaskan kepada kita bahwa rahasia kesengsaraan kita adalah karena perpecahan dan permusuhan sesama kita. Penegasan ini perlu menjadi perhatian kita untuk masa-masa yang akan datang. Untuk itu kita harus bersatu padu dengan menjalankan dan memahamkan Islam sebagai ajaran yang lengkap. Pengalaman kekalahan perang Uhud, harus menjadi pelajaran buar kita. Pra jurit-prajurit yang ditugaskan menjaga pos, lari meninggalkan pos karena memburu ghanimah, tiba-tiba pos yang ditinggalkan diisi musuh seluruhnya. Karena itu wahai kaum Muslimin, tetaplah kita pada tempatnya sesuai dengan fungsinya, Kaum pelajar/mahasiswa, buruh, tani, nelayan, pedagang, politisi, da’wah, pendidikan dan lain-lain, kami anjurkan tekun menghadapi tugasnya. Mental perjuangan harus dipertinggi, semangat berkorban karena Allah harus ditingkatkan. Pengalaman Nabi Ibrahim as. yang merelakan putranya terbunuh demi perintah Allah harus menjadi cermin buat kita bersama. Sifat tamak dan serakah serta mementingkan diri dan golongan harus dilenyapkan dari kehi dupan perjuangan umat Islam.

Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamd.

وَاللهُ تَعَالَى يَقُوْلُ وَبِقَوْلِهِ يَهْتَدِى الْمُهْتَدُوْنَ،أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ، فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ. إِنَّ شَانِئَكَ هُوَاْلأَبْتَرُ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ.

الخطبة الثانية

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ. اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لآ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ. الْحَمْدُ ِللهِ الَّذِى جَعَلَ اْلأَعْيَادَ بِالأَفْرَاحِ وَالسُّرُوْرِ وَضَاعَفَ لِلْمُتَّقِيْنَ جَزِيْلَ اْلأُجُوْرِ، فَسُبْحَانَ مَنْ حَرَّمَ صَوْمَهُ وَأَوْجَبَ فِطْرَهُ وَحَذَّرَ فِيْهِ مِنَ الْغُرُوْرِ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَهُوَ أَحَقُّ مَحْمُوْدٍ وَأَجَلُّ مَشْكُوْرِ. أَشْهَدُ أَنَّ لآ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ شَهَادَةً يَشْرَحُ اللهُ لَهَا لَنَا الصُّدُوْرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِىْ أَقَامَ مَنَارَ اْلإِسْلاَمِ بَعْدَ الدُّثُوْرِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أٰلِهِ وَصَحْبِهِ صَلاَةً وَسَلاَمًا دَائِمَيْنِ مُتَلاَزِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الْبَعْثِ وَالنُّشُوْرِ. أَمَّابَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ هٰذَا يَوْمٌ عَظِيْمٌ. فَأَكْثِرُوْا مِنَ الصَّلاَةِ عَلَى النَّبِىِّ الْكَرِيْمِ. وَقَالَ تَعَالَى فِى كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ؛ إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِىِّ يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تسْلِيْمًا. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى أٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِى التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْهِمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمٍِ الدِّيْنِ. وَارْحَمْنَا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأْ َمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. اللّٰهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَنَا أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُبْتَدِعَةَ وَالْمَشْرِكِيْنَ، وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اللّٰهُمَّ اكْفِنَا شَرَّ الظَّالِمِيْنَ وَاكْفِنَا شَرَّ الْحَاسِدِيْنَ. وَاكْفِنَا شَرَّ مَنْ يُؤْذِيْنَا وَأَهْلِكْ مَنْ أَرَادَنَا بِالسُّوْءِ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَِلإِِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَتَجْعَلْ فِى قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. اللهُ أَكْبَرُ، عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَخْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*