(26) Menggunakan Halaman Masjid Untuk Jalan Umum

Muqorrorot

26.  Halaman milik masjid apakah boleh ditempati jalan umum ?

 

 J.Hukumnya boleh mempergunakan halaman milik masjid untuk jalan umum, menurut selain madzhab syafi’i.

Sehubungan dengan masalah ini pernah diadakan musyawarah ulama tentang hukumnya memakai tanah bekas kuburan disebelah utara Masjid Ampel Surabaya. Musyawarah tersebut terjadi pada tanggal 11 Oktober 1953, bertempat di Masjid Ampel. Diantara yang hadir adalah: KHM Dakhlan Kholiq Peterongan, KHA. Khamid Tambakberas, KHM. Bisri Syansuri Denanyar, KH. Dakhlan Ahyad, KH. Ridwan Abdulloh, K. Abdul Manab Murtadlo, KH. Muhtar Faqih, KH. Misbah masing-masing dari Surabaya.

Musyawarah tersebut memutuskan bahwa penggunaan tanah bekas kuburan disebelah utara Masjid Ampel  untuk perluasan  Masjid Ampel adalah boleh, berdasarkan dalil-dalil yang dipakai oleh Lajnah Fatwa Al Azhar guna membolehkan memakai sebagian masjid atau kuburan untuk membangun jalan di Kuwait. Adapun salinan dari pertanyaan serta jawaban Lajnah Fatwa Al Azhar adalah sebagai berikut:

 

Pertanyaan Kota Praja Kuwait

Permohonan ifta’ dari Kota Praja Kuwait kepada Lajnah Fatwa Al Azhar sebagai berikut:

Kota Praja Kuwait akan membangun jalan di dalam dan di luar kota Kuwait. Untuk itu Kota Praja Kuwait meminta para insinyurnya supaya membuatkan peta, gambar jalan yang akan dibangun yang selaras dengan kemajuan perkembangan kota kuwait. Menurut peta tersebut, salah satu jalan yang akan dibangun diluar kota itu memotong masjid yang baru selesai dibangun. Jikalau menghendaki jalan yang lempeng, maka jalan itu akan memotong sebagian dari masjid tersebut. Sudah barang tentu dan sesungguhnya jalan yang lempeng itu lebih memudahkan lalu lintas dari pada jalan yang berbelok-belok.

Dalam pelaksanaanya, maka Kota Praja Kuwait sanggup memberi ganti sebagian daripada masjid yang digunakan untuk jalan dengan pengganti yang lebih besar dan lebih baik daripada sebagian masjid yang dipergunakan untuk jalan tersebut. Karena pelaksanaan rencana tersebut diatas dan karena dalam hal tersebut diatas timbul perselisihan diantara para alim ulama kuwait, dan oleh karenanya mereka belum dapat menentukan hukumnya. Maka dari itu kami mohon jawaban yang berfaedah.

Bersama ini kami mengharap supaya jawaban itu dapat meliputi hukumnya mempergunakan semua masjid dan kuburan untuk jalan yang dibangun hanya untuk kepentingan umum serta sesuai dengan kemajuan perkembangan Kota Praja Kuwait. Adapun yang mendorong pembangunan jalan tersebut adalah model jalan yang menjamin keamanan dan ketentraman lalu lintas.

 

                                          An. Kepala Kota Praja Kuwait

 

 

Jawaban Lajnah Fatwa Al Azhar

Segenap puji adalah milik Tuhan yang mengatur semesta alam. Semoga rahmat dan keselamatan-Nya dilimpahkan epada pemimpin para utusan, ialah Nabi Muhammad SAW dan para keluarganya, sahabatnya dan pengikut-pengikutnya sampai hari kiamat.

Selain dari pada itu, setelah Lajnah Fatwa Al Azhar mempelajari pertanyaan dari Kota Praja Kuwait tersebut, maka dengan ini kami memberikan jawaban yang berfaedah, ialah sebagai berikut:

a.   Diterangkan dalam kitab Hasyiyah Ibni Abidin ‘Alad Durril Mukhtar dari beberapa kitab Hanafiyah jilid III yang maksudnya sebagai berikut:

Apabila terdapat jalan yang sempit, sedang masjidnya luas, sehingga sebagian dari masjid itu tidak dibutuhkan, maka boleh saja memperluas jalan tersebut dengan memakai sebagian dari pada masjid itu. Karena kedua soal itu untuk kepentingan umum. Demikian itu adalah menurut pendapat yang mu’tamad dan yang menjadi dasarnya mutunul madzhab.

b.   Dan terdapat pula dalam beberapa kitab malikiyyah keterangan yang maksudnya: Sesungguhnya semua milik Tuhan boleh saja sebagian dari padanya dipergunakan untuk menolong sebagian yang lain, artinya: Boleh memperluas jalan dengan memakai sebagian daripada masjid dan kuburan. Sebagaimana diperbo lehkan memperluas masjid dengan memakai sebagian daripada jalan dan kuburan dan memperluas kuburan dengan memakai sebagian daripada jalan dan masjid. Untuk ini haraplah mengulangi menelaah kitab Hasyiyah ‘Adawi ‘Alal Khurusyi ‘ala Matnil Kholil dalam bab waqf.

c.   Tersebut dalam kitab Ikhtiyarot Ibni Taimiyah madzhab Hambali, keterangan yang maksudnya demikian: Sesungguh nya mayoritas ulama membolehkan mengubah bentuknya waqf karena kemaslahatan. Dan apabila hal demikian itu dihajatkan oleh umum, maka yang bersangkutan harus memberikan ganti waqf yang sama. Dan jika tidak dihajatkan, maka harus memberikan ganti waqf yang lebih baik.

Lalu kata Ibnu Taimiyah:  Imam Sholeh mengoper pendapat Imam Akhmad demikian: Diperbolehkan memindahkn masjid untuk kebutuhan manusia.

d.   Berdasarkan beberapa keterangan tersebut diatas, maka jelaslah bahwa sesungguhnya hal tersebut diperbolehkan sewaktu-waktu dihajatkan untuk mempergunakan sebagian daripada masjid untuk memperluas jalan dan melepangkannya, karena memudahkan lalu lintas.

e.   Maka dari itu jika Kota Praja Kuwait sanggup memberikan ganti sebagian daripada masjid yang dipergunakan untuk jalan dengan penggantian yang lebih besar dan lebih baik, hal itu adalah lebih utama.

Maka menurut keterangan-keterangan tersebut diatas jlaslah bahwa mengunakan sebagian masjid untuk membangun jalan adalah diperbolehkan sebagaimana diperbolehkannya, juga mempergunakan kuburan untuk memperluas jalan sesudah memindahkan tulang-tulang mayatnya yang remuk-remuk ke kuburan lain sebagaimana keterangan ulama fiqh.

Demikian itulah hukum syar’ie dalam jawabannya mengenai pertanyaan tersebut diatas menurut beberapa madzhab yang kami kemukakan keterangannya.

Hendaklah Kota Praja Kuwait menentukan kemaslahatan umum yang jelas dan hendaklah melaksanakan ke waqfanyan dengan memandang beberapa masjid, kuburan dan jalan umum.

Dengan ini maka jelaslah jawaban atas pertanyaan tersebut di atas. Hanya Tuham yang lebih mengetahui.

 

6 Jumadal Ula 1372 H

23 Januari 1953 M

 

Atas nama

LAJNAH FATWA AL AZHAR

Terjemahan dari Majalah Al Azhar, 13 Pebroari 1953

 

Sedang aslinya dari pertanyaan dan jawaban Lajnah Fatwa Al Azhar adal sebagai berikut:

 

الفتاوى

     جاء إلى لجنة الفتوى بالجامع الأزهر الإستفتاء الآتي:

     شرعت بلدية الكويت في إنشاء طريق داخل مدينة الكويت وخارجها واستعانت في ذلك بمهندسين وسمو الخرائط التى تنفق مع التقدم العمراني. وقد اعترض أحد الشوارع المراد إنشاؤها خارج الكويت مسجد جديد لم يبنه واقفوه إلا بناء بدائيا، وهذا المسجد يدخل جزء كبير منه في الشارع لو مر على استقامته، ومما لا شك فيه أن الشارع المستقيم يسهل سير المارة والسيارات أكثر من الذى يتخلله انحراف واعواج. وفي إمكان البلدية إذا أزيل هذا الدزء من المسجد أن تصل باقيه بقطعة من الأرض أعظم ساحة من الجزء المزال وتتكفل بعمارته على نظام أحسن مما هو عليه.

     ولما كان الإقدام على مثل هذا العمل يتوقف على العلم بجوازه شرعا، وعلماؤنا مختلفون في ذلك فنرجو إفادتنا.

     وبهذه المناسبة نرجو أن تكون الفتيا عامة فيما يتخذه نحو جميع المساجد والمقابر التى تتعرض الطريق المزمع إنشاؤها مع العلم بأننا لا نهدف إلا المصلحة العامة المتفقة مع تقدم الكويت، والتى تستوجب إنشاء وإصلاح الطرق على هيئة تكفل الأمن والنظام.

مدير بلدية الكويت

 

الجواب:

     الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على سيد المرسلين سيدنا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين.

     أما بعد، فقد اطلعت اللجنة على هذا السؤال وتفيد بأنه قد جاء في الجزء الثالث من حاشية ابن عابدين على الدر المختار من كتب الحنفية أنه إذا كان الطريق ضيقا والمسجد واسعا لا يحتاج إلى بعضه جازت الزيادة في الطريق من المسجد لأن كلا منهما للمصلحة العامة. وهذا هو المعتمد وعليه متون المذهب.

     وجاء في كتب المالكية أن ما كان لله فلا بأس فيه أن يستعان ببعضه في بعض، ومعنى هذا أنه يجوز توسيع الطريق من المسجد والمقبرة كما يجوز توسيع المسجد من الطريق والمقبرة وتوسيع المقبرة من الطريق والمسجد. تراجع حاشية العدوي على الخرشي على متن الخليل فى باب الوقف.

     وجاء فى اختيارات ابن تيمية الحنبلي أن جمهور العلماء جوزوا تغيير صُوَر الوقف للمصلحة، وأنه إذا كانت هناك حاجة فإنه يجب إبدال الوقف بمثله، أما من غير حاجة فإنه يجوز الإبدال بخير منه لظهور المصلحة، ثم قال: ونقل صالح عن أحد أنه ينقل المسجد لممنفعة الناس.

     ومن هذه النصوص يتبين أنه متة كانت الحاجة ماسة إلى أخذ جزء من المسجد لتوسعة الطريق واستقامته تيسيرا على المارة والسيارات فإنه يجوز أن يؤخذ ذلك الجزء من المسجد للطريق العام.

     وإذا كانت إدارة البلدية مع هذا قد التزمت في موضوع السؤال بتعويض المسجد بأكثر مما يؤخذ منه والتزمت أيضا بإعادة بناء المسجد أحسن مما كان عليه فإنه يجوز بالأولى.

     هذا – وكما يجوز ذلك فى المسجد أخذا من هذه النصوص يجوز أن يؤخذ من المقابر ما يوسع به الطريق ولن بعد أن ينقل رفات الموتى إلى المكان الذى يجعل مقبرة كما نص على ذلك الفقهاء.

     هذا هو الحكم الشرعي فى هذه المسئلة على المذاهب التى قدمنا نصوص فقهائها. وعلى ولاة الأمر أن يقدروا هذه المصلحة العامة الواضحة ويعلموا على وفقها بالنظر إلى المساجد والمقابر والطرق العامة. وبهذا علم الجواب عن السؤال. والله أعلم.

 

رئيس لجنة الفتوى

6 جمادى الأولى سنة 1372 هـ

22 يناير سنة 1953 م

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.