Categorized | Kisah Teladan

Kisah Teladan: Rabiah aL Adawiyah

Posted on 21 February 2012 by mus

Rabiah aL Adawiyah

Ia adalah wanita yang datang dari Bashrah. Rabi’ah Al-Adawiyah, seorang sufi wanita yang sangat monumental dalam sejarah persufian dunia. Bahkan sufi-sufi dari kalangan laki-laki, seperti Sufyan Ats-Tsauri sangat mengaguminya, terutama nasehat-nasehat serta lantuna do’a yang keluar dari bibirnya. Ia juga seringkali bertanya dan berpegang teguh dengan pedangannya.
Sufi wanita terkemuka ini terlahir sebagai anak ke empat dari empat bersau dara yang kesemuanya adalah wanita. Oleh karena itu, ia diberi nama Rabi’ah oleh ayahnya. Sebenarnya, ayahnya menghendaki anak laki-laki sebab kehadiran anak laki-laki dapat membantu meringankan keadaan ekonomi keluarga yang serba kekurangan. Setiap hari ayah Rabi’ah bekerja keras demi menghidupi keluar ganya sementara anak-anaknya masih kecil. Dengan adanya kehadiran Rabi’ah kecil, maka beban keluarga semakin berat. Dengan demikian, harapan mendapatkan anak laki-laki muncul karena keinginan untuk meringan beban kerja mencukupi kebutuhan keluarga.

Meskipun demikian, ayah Rabi’ah selalu hidup dalam keshalehan dan hidup zuhud. Demikian pula Rabi’ah kecil yang terbiasa hidup dalam kekurangan hingga dewasanya tidak sedikitpun tergoda oleh kesenangan dunia malah lebih senang tenggelam dalam kenikmatan beribadah kepada Allah. Justru keadaan ekonomi keluarga yang serba kekurangan menjadi pijakan dasar yang kuat untuk memasuki dunia sufi yang akhirnya mengharumkan namanya di deretan sufi-sufi terkemuka dalam Islam.

Yang menunjukkan betapa Rabi’ah kecil telah memiliki sifat-sifat dasar yang memungkinkannya untuk tumbuh dalam lingkungan sufi yang zuhud ditunjukkan oleh percakapanantara dirinya dengan orang tuanya di meja makan tentang usaha menghindarkan diri dari makanan haram.
Suatu ketika, Rabi’ah al-Adawiyah makan bersama dengan keluarganya. Sebelum menyantap hidangan makanan yang tersedia, Rabi’ah memandang ayahnya seraya berkata, “Ayah, yang haram selamanya tak akan menjadi halal. Apalagi karena ayah merasa berkewajiban memberi nafkah kepada kami. “Ayah dan ibunya terperanjat mendengar kata-kata Rabi’ah ini. Makanan yang sudah di mulut akhirnya tak jadi dimakan. Ia pandang Rabi’ah kecil dengan pancaran sinar mata yang lembut, penuh kasih. Sambil tersenyum, si ayah lalu berkata, “Rabi’ah, bagaimana pun dapatmu, jika tidak ada lagi yang bisa kita peroleh kecuali barang yang haram?”. Rabi’ah menjawab, “Biar saja kita menahan lapar di dunia, ini lebih baik daripada kita menahannya kelak di akhirat dalam api neraka. “Ayahnya tentu saja sangat heran mendengar jawaban Rabi’ah, karena jawaban seperti itu hanya didengarnya di majelis-majelis yang dihadiri oleh para sufi atau orang-orang saleh. Tidak terpikir oleh ayahnya, bahwa Rabi’ah yang masih muda itu telah memperlihatkan kematangan pikiran dan memiliki akhlak yang tinggi.

Disebutkan bahwa sewaktu Rabi’ah lahir di malam hari, di rumahnya tidak tersedia minyak untuk penerangan bahkan untuk kain pembungkus bayi untuk Rabi’ah pun tidak ada. Karena tak ada alat penerangan, ibunya lalu meminta sang suami, Ismail, untuk mencari minyak di rumah tetangga. Namun, karena suaminya terlanjur berjanji untuk tidak meminta bantuan pada seorangpun (kecuali pada Tuhan), Ismail pun terpaksa pulang dengan tangan hampa. Saat Ismail tertidur untuk menunggui putra ke empatnya yang baru lahir tersebut, ia kemudian bermimpi didatangi oleh Nabi Muhammad SAW dan bersabda, “Janganlah bersedih hati, sebab anak perempuanmu yang baru lahir ini adalah seorang suci yang agung, yang pengaruhnya akan dianut oleh 7.000 umatku”. Nabi kemudian bersabda lagi : “Besok kirimkan surat kepada Isa Zadzan, Amir kota Basrah, ingatkanlah kepadanya bahwa ia biasanya bershalawat seratus kali untuku dan pada malam Jum’at sebanyak empat ratus kali, tetapi malam Jum’at ini ia melupakanku, dan sebagai hukumannya ia harus membayar denda kepadamu sebanyak empat ratus dinar”.

Ayah Rabi’ah kemudian terbangun dan menangis. Tak lama, ia pun menulis surat dan mengirimkannya kepada Amir kota Basrah itu yang dititipkan kepada pembawa surat pemimpin kota itu. Ketika Amir selesai membaca surat itu, ia pun berkata, “Berikan dua ribu dinar ini kepada orang miskin itu sebagai tanda terima kasihku, sebab Nabi telah mengingatkanku untuk memberi empat ratus dinar kepada orang tua itu dan katakanlah kepadanya bahwa aku ingin agar ia menghadapku supaya aku dapat bertemu dengannya. Tetapi aku rasa tidaklah tepat bahwa orang seperti itu harus datang kepadaku, akulah yang akan datang kepadanya dan mengusap penderitaannya dengan janggutku”.

Kemalangan hidup Rabi’ah tidak sampai di situ. Saat Rabi’ah menginjak dewasa, kedua orang tuanya meninggal dan jadilah ia yatim piatu. Sementara keadaan kota Basrah di landa kelaparan hebat sehingga ia dan saudara-saudaranya harus berpencar mencari penghidupan sendiri-sendiri. Terpak salah beban penderitaan hidup ditanggungnya sendiri.

Kemalangan yang lebih besar justru terjadi ketika ia berjalan-jalan di kota Basrah dan menjumpai seorang laki-laki yang berniat jahat padanya dan menjualnya sebagai budak berharga enam dirham. Maka di mulailah penderitaannya sebagai seorang budak apalagi tuannya tergolong sebagai tuan yang memperlakukan budaknya dengan perlakuan yang kurang manusiawi. Siang malam tenaga Rabi’ah diperas tanpa mengenal istirahat.

Suatu ketika, ada seorang laki-laki asing yang datang dan melihat Rabi’ah tanpa mengenakan cadar. Ketika laki-laki itu mendekatinya, Rabi’ah lalu meronta dan kemudian jatuh terpeleset. Mukanya tersungkur di pasir panas dan berkata : “Ya Allah, aku adalah seorang musafir tanpa ayah dan ibu, seorang yatim piatu dan seorang budak. Aku telah terjatuh dan terluka, meskipun demikian aku tidak bersedih hati oleh kejadian ini, hanya aku ingin sekali ridha-Mu. Aku ingin sekali mengetahui apakah Engkau Ridha terhadapku atau tidak”. Setelah itu, ia mendengar suara yang mengatakan; “Janganlah bersedih, sebab pada saat Hari Perhitungan nanti derajatmu akan sama dengan orang-orang yang terdekat dengan Allah di dalam surga”.

Setelah itu, Rabi’ah kembali pulang pada tuannya dan tetap menjalankan ibadah puasa sambil melakukan pekerjaannya sehari-hari. Konon, dalam menjalankan ibadah itu, ia sanggup berdiri di atas kakinya hingga siang hari.

Ketekunan beribadah Rabi’ah yang luar biasa ternyata di balas oleh Allah dengan karunia yang begitu besar. Pada suatu malam, saat Rabi’ah sedang sujud beribadah dan berdo’a; “Ya Allah, ya Tuhanku, Engkau-lah Yang Maha Mengetahui keinginan dalam hatiku untuk selalu menuruti perintah-perintah-Mu. Jika persoalannya hanyalah terletak padaku, maka aku tidak akan henti-hentinya barang satu jam pun untuk beribadah kepada-Mu, ya Allah. Karena Engkau-lah yang telah menciptakanku”.
Saat berdo’a seperti inilah, muncul keajaiban yang menjadi kehendak-Nya. Muncullah sinar terang di atas kepala Rabi’ah yang berasal dari sebuah lentara yang tergantung tanpa sehelai talipun yang mengikatnya. Melihat peristiwa yang ajaib ini, majikan Rabi’ah menjadi takut dan gemetar. Ia kemudian bangkit dan kembali ketempat tidurnya. Sejenak ia tercenung hingga fajar menyingsing. Tak la ma setelah itu ia memanggil Rabi’ah dan bicara kepadanya dengan baik-baik seraya membebaskan Rabi’ah sebagai budak.
Maka, dengan kebebasan ini dimulailah kehidupan sufi yang menjadi impian Rabi’ah.

Kehidupan Sufi Yang Dijalani

Setelah dibebaskan oleh majikannya, Rabi’ah ingin pergi ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Akhirnya, ia berangkat dengan ditemani seekor keledai sebagai pengangkut barang-barangnya. Namun, di tengah perjalanan keledai itu mati. Kemudian ia berjumpa dengan serombongan kafilah yang menawarkan jasa baiknya dengan membawabarang-barang miliknya. Oleh Rabi’ah, tawaran baik ini ditolak dengan baik-baik sebab ia tidak ingin bantuan kepada bukan selain Tuhannya. Ia hanya percaya pada bantuan Allah dan tidak percaya pada makhluk ciptaan-Nya.

Rombongan kafilah itu memahami keinginan Rabi’ah dan segera meneruskan perjalanannya. Sekarang tinggal Rabi’ah yang duduk terdiam seraya menundukan kepala dan berdo’a kepada Allah, “Ya Allah, apalagi yang akan Engkau lakukan dengan seorang perempuan asing dan lemah ini?. Engkau-lah yang memanggilku ke rumah-Mu (Ka’bah), tetapi di tengah jalan Engkau mengambil keledaiku dan membiarkan aku seorang diri di tengah padang pasir ini”. Keajaiban terjadi. Setelah Rabi’ah’ selesai berdo’a, keledai yang semula mati itu pun hidup kembali. Tentu saja Rabi’ah senang karena bisa meneruskan perjalannya ke Makkah.

Dikisahkan bahwa pada saat dalam perjalanan menuju Mekkah, tiba-tiba di tengah perjalanan, ia melihat Ka’bah datang menghampiri dirinya. Rabi’ah lalu berkata, “Tuhanlah yang aku rindukan, apakah artinya rumah ini bagiku ?. Aku ingin sekali bertemu dengan-Nya yang mengatakan, ‘Barangsiapa yang mendekati Aku dengan jarak sehasta, maka Aku akan berada sedekat urat nadinya. Kabah yang aku lihat ini tidak memiliki kekuatan apapun terhadap diriku, kegembiraan apa yang aku dapatkan apabila Ka’bah yang indah ini dihadapkan pada diriku?” Singkat cerita, sekembalinya Rabi’ah dari menunaikan ibadah haji di Mekkah, ia kemudian menetap di Basrah dan mengabdikan seluruh hidupnya untuk beribadah kepada Allah seraya melakukan perbuatan-perbuatan mulia.

Demi melaksanakan keinginan untuk beribadah secara total kepada Allah, Rabi’ah menolak untuk menikah. Sebab dalam anggapannya tidak menikah adalah tindakan yang tepat untuk melakukan pencarian Tuhan tanpa harus dibebani oleh urusan-urusan keduniawian. Padahal, tidak sedikit laki-laki yang berupaya untuk mendekati Rabi’ah dan bahkan meminangnya. Di antaranya adalah Abdul Wahid bin Zayd, seorang sufi yang zuhud dan wara. Ia juga seorang teolog dan termasuk salah seorang ulama terkemuka di kota Basrah.

Suatu ketika, Abdul Wahid bin Zayd sempat mencoba meminang Rabi’ah. Tapi lamaran itu ditolaknya dengan mengatakan, “Wahai laki-laki sensual, carilah perempuan sensual lain yang sama dengan mereka. Apakah engkau melihat adanya satu tanda sensual dalam diriku?”.

Laki-laki lain yang pernah mengajukan lamaran kepada Rabi’ah adalah Muhammad bin Sulaiman al-Hasyimi, seorang Amir Abbasiyah dari Basrah. Untuk berusaha mendapatkan Rabi’ah sebagai istrinya, laki-laki itu sanggup memberikan mahar perkawinan sebesar 100 ribu dinar dan juga memberitahukan kepada Rabi’ah bahwa ia masih memiliki peatakatan sebanyak 10 ribu dinar tiap bulan. Tetapi dijawab oleh Rabi’ah, “Aku sungguh tidak merasa senang bahwa engkau akan menjadi budakku dan semua milikmu akan engkau berikan kepadaku, atau engkau akan menarikku dari Allah meskipun hanya untuk beberapa saat”.

Laki-laki lain yang juga hendak mengajukan lamaran pada Rabi’ah adalah sahabatnya sendiri yang juga sufi terkemuka yaitu Hasan al Basri. Namun, sebelumnya Rabi’ah mengajukan empat pertanyaan yang harus dijawab oleh Hasan al Basri sebelum bersedia menjadi istrinya. Ini lah percakapan antara keduanya dan Hasan al Basri menyanggupi untuk menjawabnya.
“Pertanyaan pertama”, kata Rabi’ah, “Apakah yang akan dikatakan oleh Hakim dunia ini saat kematianku nanti, akankah aku mati dalam Islam atau murtad?”. Hasan menjawab, “Hanya Allah Yang Maha Mengetahui yang dapat menjawab”.
“Pertanyaan kedua, pada waktu aku dalam kubur nanti, di saat Malaikat Munkar dan Nakir menanyaiku, dapatkah aku menjawabnya?” Hasan menjawab, “Hanya Allah Yang Maha Mengetahui”.
“Pertanyaan ketiga, pada saat manusia dikumpulkan di Padang Mahsyar di Hari Perhitungan (Yaumul Hisab) semua nanti akan menerima buku catatan amal di tangan kanan dan di tangan kiri. Bagaimana denganku, akankah aku menerima di tangan kanan atau di tangan kiri?” Hasan kembali menjawab, “Hanya Allah Yang Maha Tahu”.
“Pertanyaan terakhir, pada saat Hari Perhitungan nanti, sebagian manusia akan masuk surga dan sebagian lain masuk neraka. Di kelompok manakah aku akan berada?” Hasan lagi-lagi menjawab seperti jawaban semula bahwa hanya Allah saja Yang Maha Mengetahui semua rahasia yang tersembunyi itu.

Selanjutnya, Rabi’ah mengatakan kepada Hasan al-Bashri, “Aku telah mengajukan empat pertanyaan tentang diriku, bagaiman aku harus bersuami yang kepadanya aku menghabiskan waktuku dengannya?” Dalam penolakannya itu pula, Rabi’ah lalu menyenandungkan sebuah sya’ir yang cukup indah.
Damaiku, wahai saudara-saudaraku,
Dalam kesendirianku,
Dan kekasihku bila selamanya bersamaku,
Karena cintanya itu,
Tak ada duanya,
Dan cintanya itu mengujiku,
Di antara keindahan yang fana ini,
Pada saat aku merenungi Keindahan-Nya,
Dia-lah “mirabku”, Dia-lah “kiblatku”,
Jika aku mati karena cintaku,
Sebelum aku mendapatkan kepuasaanku,
Amboi, alangkah hinanya hidupku di dunia ini,
Oh, pelipur jiwa yang terbakar gairah,
Juangku bila menyatu dengan-Mu telah melipur jiwa ku,
Wahai Kebahagiaanku dan Hidupku selamanya,
Engkau-lah sumber hidupku,
Dan dari-Mu jua datang kebahagiaanku,
Telah kutanggalkan semua keindahan fana ini dariku,
Harapku dapat menyatu dengan-Mu,
Karena itulah hidup kutuju.

Itulah pilihan hidup Rabi’ah yang memilih sepenuh hati untuk total dalam beribadah kepada Allah sehingga tidak bergeming terhadap godaan kesenangan dunia. Sampai wafatnya, ia hanya lebih memilih Allah sebagai Kekasih sejatinya semata ketimbang harus bercinta dengan sesama manusia. Meskipun demikian, di sebutkan bahwa Rabi’ah memiliki sejumlah sahabat lak-laki, dan sangat sedikit sekali ia bersahabat dengan kaum perempuan. Di antara para sahabat Rabi’ah yang cukup dekat misalnya Dzun Nun al-Mishri, seorang sufi Mesir yang memperkenalkan ajaran doktrin ma’rifat. Sufi ini sempat bersahabat dengan Rabi’ah selama kurang lebih setengah abad. Bahkan ada yang menyebutkan bahwa pertemuanantara Dzun Nun al-Mishri dengan Rabi’ah ini terjadi sejak awal-awal usianya.

Dengan para sahabat sufi-nya, Rabi’ah banyak berdiskusi tentang kebenaran, baik siang dan malam. Salah seorang sahabat Rabi’ah, Hasan al-Bashri, misalnya menceritakan : “Aku lewati malam dan siang hari bersama-sama dengan Rabi’ah, berdiskusi tentang Jalan dan Kebenaran, dan tak pernah terlintas dalam benakku bahwa aku adalah seorang laki-laki dan begitu juga Rabi’ah, tak pernah ada dalam pikirannya bahwa ia seorang perempuan, dan akhirnya aku menengok dalam diriku sendiri, baru kusadari bahwa diriku tak memiliki apa-apa, yaitu secara spiritual aku tidak berharga, Rabi’ah-lah yang sesungguhnya sejati.

Diceritakan bahwa pada suatu hari Rabi’ah melewati lorong rumah Hasan al-Bashri. Hasan melihatnya melalui jendela dan menangis, hingga air matanya jatuh menetes mengenai jubah Rabi’ah. Ia menengadah ke atas, dan berpikir bahwa hari tidaklah hujan, dan ketika ia menyadari bahwa itu air mata sahabatnya, lalu dihampirinya sahabat yang sedang menangis tersebut seraya berkata, “Wahai guruku, air itu hanyalah air mata kesombongan diri saja dan bukan akibat dari melihat ke dalam hatimu, dimana dalam hatimu air itu akan membentuk sungai yang di dalamnya tidak akan engkau dapati lagi hatimu, kecuali ia telah bersama dengan Tuhan Yang Maha Kuasa. “Setelah mendengar kata-kata Rabi’ah itu, Hasan tampak hanya bisa berdiam diri.

Keteguhan niat untuk hanya untuk total dalam beribadah kepada Allah sungguh-sungguh dibuktikan oleh Rabi’ah sepanjang hidupnya bahkan di saat usianya mulai udzur dan kekuatan fisiknya mulai memudar. Sebagaimana manusia, memang Rabi’ah terkadang merasakan fisiknya tidak kuat berlama-lama melaksanakan shalat tahajjud dan mengantikannya dengan menamatkan satu juz Al-Qur’an sebelum tidur. Sebab, menurut hematnya membaca satu juz Al-Qur’a’ sama dengan shalat sepanjang malam.

Kebiasaan ini berlangsung cukup lama. Namun di suatu malam Rabi’ah bermimpi dalam tidurnya. Dalam mimpinya itu, ia seolah-olah berada di antara taman yang luas, teramat luas, dengan pepohonan hijau yang asri tumbuh di sekelilingnya. Di atas tanah yang subur itu, Rabi’ah menyaksikan, sebuah Istana megah berdiri di antara hamparan hijau dan bunga-bunga aneka warna.
Ketika ia sedang asyik menikmati pemandangan sekitar, tiba-tiba Rabi’ah melihat seorang anak kecil tengah mengejar burung hijau yang terbang di atas kepala, sambil berteriak-teriak alangkah gembiranya.

Rabi’ah lalu menegur anak itu, “Untuk apa engkau tangkap burung itu ?. Demi Allah, aku belum pernah melihat burung secantik itu. Biarkan ia terbang kemana ia suka”. “Ya. Benar juga kata-kata ibu”, jawab gadis cilik itu.

Gadis cilik itu lalu datang menghampiri Rabi’ah dan menggamit tangannya, penuh keceriaan, Rabi’ah dan gadis cilik itu berjalan mengitari halaman, sehingga mereka sampai di pintu istana yang alangkah megah, kukuh dan cantiknya. Sambil mengetuk pintu, anak itu berkata: “Tolong bukakan pintu untuk kami !”

Pintu istana itu lalu terkuak lebar. Dari dalam pintu itu terpancar cahaya yang amat terang, sehingga menerangi sekeliling kami.
“Masuklah, Bu. Mari ikut sini” anak itu menggamit lengan Rabi’ah’, dan Rabi’ah-pun mengikuti gadis cilik itu.

Benar dugaan Rabi’ah, dalam istana itu disaksikannya benda-benda serba indah, dengan bangunan dan tempat-tempat cengkerama yang begitu tertata, mewah dan asri.

Bersama anak itu, Rabi’ah kembali mengelilingi ruangan istana dan tak habis-habis dari mengaguminya. Sedang asyiknya Rabi’ah mengamati keadaan sekeliling, dengan tiba-tiba pintu yang menjurus ke arah taman terbuka. Lagi-lagi gadis kecil itu mengajaknya, untuk kembali berhandai-handai di keluasan taman istana.

Dalam kursi-kursi berukir emas yang tersedia didalam taman, tampak para pelayan yang wajahnya cantik mempesona, tak ada bandingannya di antara wanita yang tinggal dimuka bumi. Mereka cantik seperti mutiara berseri-seri, seperti hendak bepergian, sedang di tangan mereka tergenggam berbotol-botol wewangian.
Gadis kecil itu bertanya kepada mereka, “Bibi-bibi ini hendak pergi kemana?”
Salah seorang dari pelayan istana itu menjawab: “Kami hendak pergi menemui seseorang yang terbunuh dalam pertempuran laut. Orang itu telah mati dalam keadaan syahid”.
Anak itu lalu bertanya lagi : “Tidakkah kalian ingin memberi wewangian kepada perempuan ini?”, “Seraya menunjuk kearah Rabi’ah.
“Ia sudah mendapat wewangian, tetapi ia sendiri yang tidak mau memakainya”. Ujar pelayan istana bermata jeli yang sudah bersiap-siap untuk pergi.

Sejurus kemudian gadis kecil itu melepaskan genggaman tangannya dari Rabi’ah. Dan seketika itu, Rabi’ah-pun terjaga dari tidur malamnya.

Mimpi ini begitu membekas dalam hati Rabi’ah sehingga ia menjadi tersadar atas kealphaannya dalam mengerjakan shalat tahajud. Seketika itu pula, sambil menopang tubuhnya yang telah renta dan kulit tipisnya yang sudah tidak kuat menahan hawa dingin malam, Rabi’ah pergi mengambil air wudhu. Berkali-kali Rabi’ah melafadzkan istighfar dan kemudian menunaikan shalat malam dalam suasana hati penuh sesal dan haru. Hingga akhir hayatnya Rabi’ah Al Adawiyyah menyesali, bahwasanya ia pernah melalaikan shalat malam. Maka semenjak mim pinya itu Rabi’ah-pun selalu terjaga dan beribadah di tengah malam.

Ke-zuhud-an Rabi’ah al-Adawiyah

Tidak diragukan lagi betapa besarnya rasa zuhud yang di miliki oleh Rabia’h. Sejak kecil, ia terbiasa tumbuh dalam keadaan serba kekurangan sehingga tidak terlalu sulit baginya untuk membiasakan diri hidup zuhud dalam pilihan hidup sebagai sufi.

Hidupnya sederhana dan sangat besar kehati-hatiannya dalam terhadap makanan yang dimakannya. Bahkan demi menjaga kesucian perutnya dari makanan haram, lebih sering ia menolak bantuan dari sahabatnya. Yang terjadi malah Rabi’ah banyak menghabiskan waktunya dalam beribadah kepada Allah. Ia-pun tinggal di gubuk sederhana di kota Basrah.

Keteguhan sikap untuk menjaga perilaku hidup zuhud ini dijalankan dengan konsisten hingga akhir hayatnya.

Pernah misalnya Al-Jahiz, seorang sufi generasi tua, menceritakan bahwa beberapa dari sahabatnya mengatakan kepada Rabi’ah, “Andaikan kita mengatakan kepada salah seorang keluargamu, pasti mereka akan memberimu seorang budak, yang akan melayani kebutuhanmu di rumah ini”. Tetapi ia menjawab, “Sungguh, aku sangat malu meminta kebutuhan duniawi kepada Pemilik dunia ini, bagaimana aku harus meminta kepada yang bukan memiliki dunia ini ?”. Tiba-tiba terdengar suara mengatakan :
“Jika engkau menginginkan dunia ini, maka akan Aku berikan semua dan Aku berkahi, tetapi Aku akan menyingkir dari dalam kalbumu, sebab Aku tak mungkin berada di dalam kalbu yang memiliki dunia ini. Wahai Rabi’ah, Aku mempunyai Kehendak dan begitu juga denganmu. Aku tidak mungkin menggabungkan dua kehendak itu di dalam satu kalbu”.

Rabi’ah kemudian mengatakan, “Ketika mendengar peringatan itu, kutanggalkan hati ini dari dunia dan kuputuskan harapan duniawiku selama tiga puluh tahun. Aku salat seakan-akan ini terkahir kalinya, dan pada siang hari aku mengurung diri menjauhi makhluk lainnya, aku takut mereka akan menariku dari diri-Nya, maka aku katakana, Ya Tuhan, sibukanlah hati ini dengan hanya menyebut-Mu, jangan Engkau biarkan mereka menarikku dari-Mu”.

Untuk menjalankan keteguhan semacam ini, memang tidak mudah. Ada banyak tantangan disana. Sebab bagai manapun sebagai manusia, Rabi’ah tidak mungkin sepenuhnya bergantung pada Allah atas semua keperluannya. Meski pun demikian, Rabi’ah tetap berusaha untuk menghindari apapun bantuan yang datang selain dari Allah, sehingga sekalipun ia hidup dalam kemiskinan (faqr), namun kemiskinannya dianggap sebagai bagian dari kasih sayang Allah kepada Rabi’ah.

Dikisahkan bahwa sahabatnya, Malik bin Dinar pada suatu waktu mendapati Rabi’ah sedang terbaring sakit di atas tikar tua dan lusuh, serta batu bata sebagai bantal di kepalanya. Melihat pemandangan seperti itu, Malik lalu berkata pada Rabi’ah, “Aku memiliki teman-teman yang kaya dan jika engkau membutuhkan bantuan aku akan meminta kepada mereka”. Rabi’ah mengatakan, “Wahai Malik, engkau salah besar. Bukankah Yang memberi mereka dan aku makan sama?”. Malik menjawab, “Ya, memang sama”. Rabi’ah mengatakan, “Apakah Allah akan lupa kepada hamba-Nya yang miskin dikarenakan kemiskinannya dan akankah Dia ingat kepada hamba-Nya yang kaya dikarenakan kekayaannya?”. Malik menyahut, “Tidak” Rabi’ah lalu kembali mengatakan, “Karena Dia mengetahui keadaanku, mengapa aku harus mengingatkan-Nya? Apa yang diinginkan-Nya, kita harus menerimanya”.

Sikap zuhud yang ditampilkan oleh Rabi’ah terkadang bagi sebagi orang dianggap terlalu berlebihan sesungguhnya hanya usaha agar ia lebih mencintai Allah daripada makhluk-makhluk-Nya. Karena itu, hidup dalam kefakiran baginya bukanlah halangan untuk beribadah dan lebih dekat dengan Tuhannya. Dan, toh, Rabi’ah menganggap bahwa kefakiran adalah suatu takdir, yang karenanya ia harus terima dengan penuh keikhlasan. Kebahagiaan dan penderitaan, demikian menurut Rabi’ah, adalah datang dari Allah. Dan dalam perjalanannya sufistiknya itu, Rabi’ah sendiri telah melaksanakan pesan Rasulullah : “Zuhudlah engkau pada dunia, pasti Allah akan mencintaimu. Zuhudlah pada apa yang ada pada manusia, pasti manusia akan mencintaimu”.

Ajarannya

Rabi’ah al Adawiyah adalah sufi pertama yang mem perkenalkan jenjang atau maqam tertinggi yang harus dilalui oleh seorang pesalik yaitu Mahabatullah (Cinta Allah).

Konsep Mahabatullah (Cinta Ilahi) memiliki makna dan hakikat terdalam dari sekedar cinta itu sendiri. Menurut kaum sufi, Mahabbatullah tak lain adalah sebuah maqam (stasiun, atau jenjang yang harus dilalui oleh para penempuh jalan Ilahi untuk mencapai ridha Allah dalam beribadah) bahkan puncak dari semua maqam. Hujjatul Islam Imam al-Ghazali misalnya mengatakan, “Setelah Mahabbatullah, tidak ada lagi maqam, kecuali hanya merupakan buah dari padanya serta mengikuti darinya, seperti rindu (syauq), intim (uns), dan kepuasan hati (ridla)”.

Memaknai Mahabatullah yang diajarkan oleh Rabi’ah al Adawiyah memang tidak mudah diuraikan. Para sufi sendiri berbeda pendapat tentang makna cinta Ilahi ini tergantung pada tingkat pengalaman spiritual mereka.
Ibnu Qayyim al-Jauziyah membagi cinta menjadi empat bagian :
1. Mencintai Allah. Dengan mencintai Allah seseorang belum tentu selamat dari azab Allah, atau mendapatkan pahala-Nya, karena orang-orang musyrik, penyembah salib, Yahudi, dan lain-lain juga mencintai Allah.
2. Mencintai apa-apa yang dicintai Allah. Cinta inilah yang dapat menggolongkan orang yang telah masuk Islam dan mengeluarkannya dari kekafiran. Manusia yang paling cintai adalah yang paling kuat dengan cinta ini.
3. Cinta untuk Allah dan kepada Allah. Cinta ini termasuk perkembangan dari mencintai apa-apa yang dicintai Allah.
4. Cinta bersama Allah. Cinta jenis ini syirik. Setiap orang mencintai sesuatu bersama Allah dan bukan untuk Allah, maka sesungguhnya dia telah menjadikan sesuatu selain Allah. Inilah cinta orang-orang musyrik.

Pokok ibadah, menurut Ibnu Qayyim, adalah cinta kepada Allah, bahkan mengkhususkan hanya cinta kepada Allah semata. Jadi, hendaklah semua cinta itu hanya kepada Allah, tidak mencintai yang lain bersamaan mencintai-Nya. Ia mencintai sesuatu itu hanyalah karena Allah dan berada di jalan Allah.

Yang tergolong sebagai cinta sejati apabila seseorang menyerahkan seluruh dirinya untuk kekasihnya yang sejati (Allah) hingga tidak tersisa sama sekali untuk dirinya karena telah diberikan seluruhnya pada Allah. Hendaknya pula seseorang cemburu (ghirah) bila ada orang yang mencintai Kekasih Sejati melebihi cinta yang dimilikinya.

Oleh karena itu, setiap cinta yang bukan untuk Allah adalah bathil. Dan setiap amalan yang tidak dimaksudkan karena Allah adalah bathil pula. Maka dunia itu terkutuk dan apa yang ada di dalamnya juga terkutuk, kecuali untuk Allah dan Rasul-Nya.

Sebenarnya tidak ada perbedaan yang mendasar antara yang diajarkan oleh Rabi’ah al Adawiyah tentang mahabatullah dengan Hasan al Basri tentang konsep khauf (takut) dan raja (harapan). Namun perbedaan antara keduanya terletak pada niatnya. Bila konsep khauf dan raja’ lebih didasarkan pada rasa takut masuk neraka dan harapan masuk surga, sementara konsep mahabatullah sebaliknya.Mahabatullah menghendaki seseorang mengabdi kepada Allah bukan karena takut neraka atau berharap surga namun lebih karena cinta kepada Allah. Hal ini tergambar dalam puisi sufistik Rabi’ah al Adawiyah:
Ya Allah, jika aku menyembah-Mu,
Karena takut pada neraka,
Maka bakarlah aku di dalam neraka.
Dan jika aku menyembah-Mu karena mengharapkan surga,
Campakkanlah aku dari dalam surga.
Tetapi jika aku menyembah-Mu, demi Engkau,
Janganlah Engkau enggan memperlihatkan keindahan wajah-Mu, yang Abadi kepadaku.

Cinta Rabi’ah kepada Allah sangat kuat membelenggu hatinya, sehingga hatinyapun tak mampu untuk berpaling kepada selain Allah. Pernah suatu ketika Rabi’ah ditanya, “Apakah Rabi’ah tidak mencintai Rasul ?”. Ia menjawab, “Ya, aku sangat mencintainya, tetapi cintaku kepada Pencipta membuat aku berpaling dari mencintai makhluknya”. “Rabi’ah juga ditanya tentang eksistensi setan dan apakah ia membencinya ?”. Ia menjawab, “Tidak, cintaku kepada Tuhan tidak meninggalkan ruang kosong sedikitpun dalam diriku untuk rasa membenci setan”.

Allah adalah teman sekaligus Kekasih dirinya, sehingga kemana saja Rabi’ah pergi, hanya Allah saja yang ada dalam hatinya. Ia mencintai Allah dengan sesungguh hati dan keimanan. Karena itu, ia sering jadikan Kekasihnya itu sebagai teman bercakap dalam hidup. Dalam salah satu sya’ir berikut jelas tergambar bagaimana Cinta Rabi’ah kepada teman dan kekasihnya itu :
Kujadikan Engkau teman bercakap dalam hatiku,
Tubuh kasarku biar bercakap dengan yang duduk.
Jisimku biar bercengkerama dengan Tuhanku,
Isi hatiku hanya tetap Engkau sendiri.

Tahapan-tahapan ke-sufi-an telah dilalui oleh Rabi’ah hingga sampai pada tahapan tertinggi yaitu maqam mahabbah dan ma’r’fat. Namun, dalam keadaan tertentu, dahaga cinta ilahi itu belum terpuaskan. Karenanya, Rabi’ah tidak henti-hentinya memohon kepada Allah agar ia tetap terus mencintai-Nya dan Dia-pun cinta padanya. Bahkan dalam do’anya itu ia berharap agar tetap mencintai Allah hingga Allah memenuhi ruang hatinya. Do’anya adalah sebagai berikut :
Tuhanku, malam telah berlalu dan
siang segera menampakkan diri.
Aku gelisah apakah amalanku Engkau terima,
hingga aku merasa bahagia,
Ataukah Engkau tolak hingga sehingga aku merasa bersedih,
Demi ke-Maha Kuasaan-Mu, inilah yang akan kulakukan.
Selama Engkau beri aku hayat,
sekiranya Engkau usir dari depan pintu-Mu,
aku tidak akan pergi karena cintaku pada-Mu,
telah memenuhi hatiku.

Cinta bagi Rabi’ah telah mempesonakan dirinya hingga ia telah melupakan segalanya selain Allah. Tapi bagi Rabi’ah, cinta tentu saja bukan tujuan, tetapi lebih dari itu cinta adalah jalan keabadian untuk menuju Tuhan sehingga Dia ridha kepada hamba yang mencintai-Nya. Dan dengan jalan Cinta itu pula Rabi’ah berupaya agar Tuhan ridha kepadanya dan kepada amalan-amalan baiknya. Harapan yang lebih jauh dari cintanya kepada Tuhan tak lain agar Tuhan lebih dekat dengan dirinya, dan kemudian Tuhan sanggup membukakan hijab kebaikan-Nya di dunia dan juga di akhirat kelak. Ia mengatakan, dengan jalan cinta itu dirinya berharap Tuhan memperlihatkan wajah yang selalu dirindukannya. Dalam sya’irnya Rabi’ah mengatakan :
Aku mencintai-Mu dengan dua macam Cinta,
Cinta rindu dan Cinta karena Engkau layak dicinta,
Dengan Cinta rindu,
kusibukan diriku dengan mengingat-ingat-Mu selalu,
Dan bukan selain-Mu.
Sedangkan Cinta karena Engkau layak dicinta,
di sanalah Kau menyingkap hijab-Mu,
agar aku dapat memandangmu.
Namun, tak ada pujian dalam ini atau itu,
segala pujian hanya untuk-Mu dalam ini atau itu.

Abu Thalib al-Makki dalam mengomentari sya’ir di atas mengatakan, dalam cinta rindu itu, Rabi’ah telah melihat Allah dan mencintai-Nya dengan merenungi esensi kepastian, dan tidak melalui cerita orang lain. Ia telah mendapat kepastian (jaminan) berupa rahmat dan kebaikan Allah kepadanya. Cintanya telah menyatu melalui hubungan pribadi, dan ia telah berada dekat sekali dengan-Nya dan terbang meninggalkan dunia ini serta menyibukkan dirinya hanya dengan-Nya, menanggalkan duniawi kecuali hanya kepada-Nya. Sebelumnya ia masih memiliki nafsu keduniawian, tetapi setelah menatap Allah, ia tanggalkan nafsu-nafsu tersebut dan Dia menjadi keseluruhan didalam hatinya dan Dia satu-satunya yang ia cintai. Allah telah membebaskan hatinya dari keinginan duniawi, kecuali hanya diri-Nya, dan dengan ini meskipun ia masih belum pantas memiliki cinta itu dan masih belum sesuai untuk dianggap menatap Allah pada akhirnya, hijab tersing kap sudah dan ia berada di tempat yang mulia. Cintanya kepa da Allah tidak memerlukan balasan dari-Nya, meskipun ia merasa harus mencintai-Nya.

Al-Makki melanjutkan, bagi Allah, sudah selayaknya Dia menampakkan rahmat-Nya di muka bumi ini karena do’a-do’a Rabi’ah (yaitu pada saat ia melintasi jalan itu) dan rahmat Allah itu akan tampak juga di akhirat nanti (yaitu pada saat tujuan akhir itu telah dicapainya dan ia akan melihat wajah Allah tanpa ada hijab, berhadap-hadapan). Tak ada lagi pujian yang layak bagi-Nya disini atau disana nanti, sebab Allah sendiri yang telah membawanya di antara dua tingkatan itu (dunia dan akhirat).

Marilah kita teliti ucapan Rabi’ah sewaktu kesunyian di ketenangan malam ketika bermunajat kepada Allah:
“Ya Allah, ya Tuhanku. Aku berlindung diri kepada Engkau daripada segala yang ada yang boleh memesongkan diri dari pada-Mu, dari pada segala pendinding yang boleh mendinding antara aku dengan Engkau!”
“Tuhanku! Bintang-bintang telah menjelma indah, mata telah tidur nyenyak, semua pemilik telah menutup pintunya dan inilah dudukku dihadapan-Mu”.
“Tuhanku ! Tiada kudengar suara binatang yang mengaum, tiada desiran pohon yang bergeser, tiada desiran air yang mengalir, tiada siulan burung yang menyanyi, tiada nikmatnya teduhan yang melindungi, tiada tiupan angin yang nyaman, tiada dentuman guruh yang menakutkan melainkan aku dapati semua itu menjadi bukti ke-Esaan-Mu dan menunjukkan tiada sesuatu yang menyamai-Mu”.
“Sekalian manusia telah tidur dan semua orang telah lalai dengan asyik masyuknya. Yang tinggal hanya Rabi’ah yang banyak kesalahan di hadapan-Mu. Maka moga-moga Engkau berikan suatu pandangan kepadanya yang akan menahannya daripada tidur supaya dia dapat berkhidmat kepada-Mu”.
Rabi’ah juga pernah meraung memohon belas ihsan Allah:
“Tuhanku ! Engkau akan mendekatkan orang yang dekat di dalam kesunyian kepada keagungan-Mu. Semua ikan di laut bertasbih di dalam lautan yang dalam mengagungkan kebesaran kesucian-Mu, ombak di laut bertepukan. Engkaulah Tuhan yang sujud kepada-Nya malam yang gelap, siang yang terang, falak yang bulat, bulan yang menerangi, bintang yang berkerdipan dan setiap sesuatu disisi-Mu dengan takdir sebab Engkaulah Tuhan Yang Maha Tinggi lagi Maha Perkasa”.
Setiap malam begitulah keadaan Rabi’ah. Apabila fajar menyinsing, Rabi’ah terus juga bermunajat dengan ungkapan seperti:
“Wahai Tuhanku ! yang akan pergi dan siang pula akan mengganti. Wahai malangnya diri !. Apakah Engkau akan menerima malamku ini supaya aku berasa bahagia ataupun Engkau akan menolaknya maka aku diberikan takziah?. Demi kemuliaan-Mu, jadikanlah caraku ini kekal selama Engkau menghidupkan aku dan bantulah aku di atasnya. Demi kemuliaan-Mu, jika Engkau menghalauku daripada pintu-Mu itu, niscaya aku akan tetap tidak bergerak juga dari situ disebabkan hatiku sangat cinta kepada-Mu”.
Seperkara menarik tentang diri Rabi’ah ialah dia menolak lamaran untuk menikah dengan al-Atakan
“Pernikahan itu memang perlu bagi seseorang yang mempunyai pilihan. Ada pun aku tiada mempunyai pilihan untuk diriku. Aku adalah milik Tuhanku dan di bawah perintah-Nya. Aku tidak mempunyai apa-apa pun”.
Rabi’ah seolah-olah tidak mengenali yang lain selain Allah. Oleh itu dia terus-menerus mencintai Allah semata-mata. Dia tidak mempunyai tujuan lain kecuali untuk mencapai keridhaan Allah. Rabi’ah telah mempertalikan akalnya, pemikirannya dan perasaannya hanya kepada akhirat semata-mata. Dia senantiasa meletakan kain kafannya di hadapannya.
Selama 30 tahun dia terus-menerus mengulangi kata-kata ini dalam sembahyangnya :
“Ya Tuhanku ! Tenggelamkanlah aku di dalam kecintaan-Mu supaya tiada suatupun yang dapat memalingkan aku daripada-Mu. “
Antara syairnya yang mahsyur berbunyi:
“Kekasihku tiada menyamai kekasih lain biar bagaimana pun,
Tiada selain Dia di dalam hatiku mempunyai tempat manapun,
Kekasihku ghaib daripada penglihatanku dan pribadiku sekalipun,
Akan tetapi Dia tidak pernah ghaib di dalam hatiku walau sedetik pun”.
Rabi’ah telah membentuk satu cara yang luar biasa di dalam mencintai Allah. Dia menjadikan kecintaan pada Ilahi itu sebagai satu cara untuk membersihkan hati dan jiwa. Dia memulai pemahaman ke-sufi-annya dengan menanamkan rasa takut kepada kemurkaan Allah seperti yang pernah diungkapkanya :
“Wahai Tuhanku ! Apakah Engkau akan membakar dengan api hati yang mencintai-Mu dan lisan yang menyebut-Mu dan hamba yang takut kepada-Mu?”

Hari Kematiannya.
Kehidupan dunia dilalui Rabi’ah al Adawiyah selama 90 tahun. Suatu rentang perjalanan hidup manusia yang panjang dan selama itu pula ia hanya mengandi kepada Allah hingga Allah berkehendak memangilnya.

Pada saat kematiannya, disisi Rabi’ah banyak sekali orang alim duduk mengelilinginya. Rabi’ah lalu meminta kepada mereka : ‘Bangkit dan keluarlah! Berikan jalan kepada pesuruh-pesuruh Allah Yang Maha Agung !’. Maka semua orangpun bangkit dan keluar, dan pada saat mereka menutup pintu, mereka mendengar suara Rabi’ah mengucapkan kalimat syahadat, setelah itu terdengar sebuah suara : “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu, berpuas-puaslah dengan-Nya. Maka masuklah bersama golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku”. (Al-Fajar : 27-30).

Setelah itu tidak terdengar lagi suara apa pun. Pada saat mereka kembali masuk ke kamar Rabi’ah, tampak perempuan tua renta itu telah meninggalkan alam fana. Para dokter yang berdiri dihadapannya lalu menyuruh agar jasad Rabi’ah segera dimandikan, dikafani, disalatkan, kemudian dibaringkan di tempat yang abadi.

Kematian Rabi’ah ini membuat banyak orang yang mengenalnya merasa kehilangan bahwa perempuan suci itu telah meninggalkan dunia ini dan menemui Tuhan yang sangat dicintinya. Dialah perempuan sufi yang telah mendedikasikan seluruh hidupnya hanya untuk mengabdi dan memuja Allah dan meninggalkan selutruh kesenangan duniawi sepanjang hidupnya. Maka, menjadi wajarlah apabila kemudian setelah kematiannya seseorang bercerita telah memimpikannya. Dia mengatakan kepada Rabi’ah, “Ceritakanlah bagaimana keadaanmu disana dan bagaimana engkau dapat lolos dari Munkar dan Nakir?”. Rabi’ah menjawab, “Mereka datang menghampiriku dan bertanya, “Siapakah Tuhanmu?’. Aku katakan : “Kembalilah dan katakan pada Tuhanmu, ribuan dan ribuan sudah ciptaanMu, Engkau tentunya tidak akan lupa pada perempuan tua lemah ini. Aku, yang hanya memiliki-Mu didunia, tidak pernah melupakan-Mu. Sekarang, mengapa Engkau harus bertanya, ‘Siapa Tuhanmu ?”.

Print Friendly

Leave a Reply

*
Advertise Here
Advertise Here