BAB I: ‘Ubudiyah: (01) Jum’atan Dua Gelombang

BMPCNU_2002-2012_Sampul

BAB I

‘UBUDIYYAH

1.   Jum’atan Dua Gelombang[1]

Deskripsi Masalah

Karena keterbatasan tempat dan banyaknya populasi penduduk, maka di sebagian daerah perkotaan daya tampung masjid sangat terbatas, sehingga jamaah merasa kesulitan untuk berjum’atan karena tidak ada tempat atau karena pekerjaan sehingga terlambat.

Pertanyaan :

a.    Bagaimana hukum mendirikan jum’atan dua gelombang dalam satu masjid?

b.   Bagaimana hukum jum’atan dua tempat di satu desa?

Jawaban :

a.     Adapun jum’atan dua shif/angkatan atau lebih (insya’ul Jum’at  ba’dal Jum’at) yang artinya penyelenggaraan shalat Jum’at lebih dari satu di suatu tempat, maka hukumnya tidak sah.

b.    Ta’adud Jum’at berbeda dengan Jum’atan dua shif/angkatan atau lebih (insya’ul Jum’at ba’dal Jum’at). Ta’addud Jum’at ialah berbilangnya penyelenggaraan jama’ah Jum’at dalam satu masa di suatu tempat, dan hukumnya boleh dengan syarat-syarat tertentu sebagaimana keputusan muktamar NU di Situbondo, November 1984.

Keterangan Dari Kitab:

Tanwir al-Qulub[2]:

… حَتَّى اِذَا كَانَ يَوْمُ الْجُمْعَةِ لَمْ يُقِمْهَا إِلاَّ فِي مَسْجِدِهِ صَلَّى اللهُعَلَيْهِ وَسَلَّم وَلَمْ يُرَخِّصْ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ مَعَ فَرَطِ حُبِّهِ لِلتَّيْسِيْرِ عَلَى اُمَّتِهِ فِي أَنْ يُقِيْمُوْهَا فِي مَسَاجِدَ مُتَعَدِّدَةٍ أَوْيُصَلِّي بِمَنْ يَتَيَسَّرُ لَهُ الْحُضُوْرُ اَوَّلَ اْلوَقْتِ وَيَأْذَنَ فِي اَنْ تُقَامَ بَعْدَهُ جُمْعَةٌ وَثَالِثَةُ وَهَكَذَا البَاقِي الَّذِيْنَ لاَيَسْتَطِيْعُ أَنْ يَحْضُرُوْا وَكَانَ ذَلِكَ أَيْسَرُ عَلَيْهِمْ لَوْكَانَ.

Artinya: “Hingga ketika tiba hari jum’at, mereka (para shahabat) tidak melakukan  sholat jum’at kecuali di masjid Nabi. Betapapun sangat senang untuk memberikan kemudahan kepada ummatnya, Nabi tidak memberikan rukhsoh (keringanan) kepada mereka untuk melaksanakan jum’at di beberapa masjid, atau Beliau melakukan sholat jum’at bersama orang yang dapat hadir di awal waktu dan mengizinkan melakukan sholat jum’at lagi dan seterusnya, bagi mereka yang tidak dapat hadir (untuk sholat bersama Nabi.) Padahal, hal itu akan lebih memudahkan mereka andaikata boleh”[3].



[1]Pertanyaan Bahtsul Masail PCNU Jombang ke-V, tanggal 11 Agustus 2004 di Masjid Tegalrejo Pucangsimo Bandarkedung Mulyo Jombang

[2]Muhammad Amin Al-Kurdi al-Irbili,Tanwir al-Qulub Fi Mu’amalati ‘Allamil Ghuyub, Juz:1, (Beirut: Dar al-Fikr, 1414 H/1994 M.), hal:189

[3] Lihat Juga dalam Ibnu Sulaiman al-Kurdi, al-Hawasyi Al-Madaniyyah, Juz:II (Mesir: al-Halabi, 1366 H), hal:76, yang bunyinya sbb:

الحواشي المدينة الجزء الثاني ص 76أَمَّا غَيْرُ اْلمَأْمُوْمِ فَلاَيَجُوْزُ اِسْتِخْلاَفُهُ لأَنَّهُ يُشْبِهُ اِنْشَاءَ جُمْعَةٍ بَعْدَ اُخْرَى وَهُوَ مُمْتَنِعٌ

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.