BAB I: ‘Ubudiyah, (07) Gerhana Bulan Total

BMPCNU_2002-2012_Sampul

7.   Gerhana Bulan Total[1]

Deskripsi Masalah

Pada tanggal 10 Desember 2011 terjadi gerhana bulan total (GBT). Diperhitungkan oleh para ahli, gerhana tersebut mulai terjadi pada pukul 18.34 WIB. Gerhana total mulai pukul 21.06 hingga 21.57 WIB. Setelah itu bulan akan kembali seperti semula (injila’) pada tengah malam sekitar pukul 00.30 WIB. Namun demikian, di beberapa daerah ternyata gerhana tidak bisa dilihat disebabkan hujan atau mendung. Realita yang terjadi di tengah-tengah masyarakat, mereka ada yang tidak melaksanakan shalat gerhana karena gerhana tidak terlihat dan ada yang tetap melaksanakannya meskipun gerhana tidak bisa dilihat karena hujan atau mendung.

Pertanyaan:

a).Disyariatkannya shalat gerhana apakah hanya bagi orang-orang yang melihat sendiri gerhana?

Jawaban:

Shalat gerhana tidak hanya disyariatkan bagi orang yang melihat sendiri, namun juga disyariatkan bagi orang-orang yang mendapat kabar melihat gerhana dari adadut tawatur (sejumlah orang yang menurut tradisi tidak dimungkinkan untuk bersepakat dalam kebohongan).

b).Jika terjadi hujan atau mendung, sehingga gerhana tidak bisa dilihat (terhalang-halangi) apakah masih tetap disyariatkan shalat gerhana?

Jawaban:

Jika terjadi hujan atau mendung, sehingga gerhana tidak bisa dilihat, maka tidak disyariatkan shalat gerhana.

Keterangan Dari Kitab:

Hasyiyata Qolyubi wa Umairoh[2]

 (وَتَفُوتُ صَلاةُ) كُسُوفِ (الشَّمْسِ بِالانْجِلَاءِ) لأَنَّهُ الْمَقْصُودُ بِهَا، وَقَدْ حَصَلَ. وَلَوْ انْجَلَى بَعْضُهَا فَلَهُ الشُّرُوعُ فِي الصَّلاةِ لِلْبَاقِي كَمَا لَوْ لَمْ يَنْكَشِفْ مِنْهَا إلاَّ ذَلِكَ الْقَدْرُ، وَلَوْ حَالَ سَحَابٌ، وَشَكَّ فِي الانْجِلاءِ صَلَّى لأَنَّ الأَصْلَ بَقَاءُ الْكُسُوفِ، وَلَوْ كَانَتْ تَحْتَ غَمَامٍ فَظَنَّ الْكُسُوفَ لَمْ يُصَلِّ حَتَّى يَسْتَيْقِنَ. قَوْلُهُ: (حَتَّى يَسْتَيْقِنَ) يُفِيدُ أَنَّهُ لا يَجُوزُ الشُّرُوعُ فِي الصَّلاةِ مَعَ الشَّكِّ فِي وُجُودِ الْكُسُوفِ، وَأَنَّهُ لا يَكْفِي ظَنُّهُ أَيْضًا بَلْ لا بُدَّ مِنْ مُشَاهَدَتِهِ بِنَفْسِهِ أَوْ بِأَخْبَارِ عَدَدِ التَّوَاتُرِ عَنْ مُشَاهَدَةٍ، وَأَنَّهُ لا يَكْفِي خَبَرُ عَدْلَيْنِ عَنْ مُشَاهَدَةٍ، وَلا عَدَدُ التَّوَاتُرِ عَنْ غَيْرِ مُشَاهَدَةٍ لأَنَّهُ لَيْسَ مِنْ مَحْسُوسٍ. وَمِنْهُ إخْبَارُ الْمُنَجِّمِينَ سَوَاءٌ أَخْبَرُوا بِوُجُودِهِ أَوْ دَوَامِهِ. هَكَذَا عَنْ شَيْخِنَا تَبَعًا لِشَيْخِنَا الرَّمْلِيِّ. وَقَالَ بَعْضُ مَشَايِخِنَا: وَلِيَ بِهِ أُسْوَةٌ أَنَّهُ يَنْبَغِي الاكْتِفَاءُ بِخَبَرِ عَدْلٍ وَلَوْ عَنْ غَيْرِهِ مُشَاهَدَةً بَلْ وَبِخَبَرِ نَحْوِ صَبِيٍّ اعْتَقَدَ صِدْقَهُ، كَمَا فِي صَوْمِ رَمَضَانَ. وَالتَّعْلِيلُ بِعَدَمِ الاكْتِفَاءِ بِذَلِكَ هُنَا لِلاحْتِيَاطِ فِي هَذِهِ الصَّلاةِ الَّتِي لا نَظِيرَ لَهَا مَمْنُوعٌ بِمَا مَرَّ مِنْ جَوَازِ الشُّرُوعِ فِيهَا مَعَ الشَّكِّ فِي الانْجِلَاءِ مَعَ أَنَّهُ يَقْتَضِي عَدَمَ الْمَنْعِ فِيهَا إذَا فَعَلَهَا كَسُنَّةِ الظُّهْرِ فَتَأَمَّلْ.

Artinya: Waktunya shalat gerhana matahari sudah habis karena kondisinya sudah pulih kembali, karena yang demikian itu yang menjadi intinya.Seandainya sebagian matahari pulih kembali, dan seseorang masih disyari’atkan untuk melakukan shalat gerhana karena sisanya. Sebagaimana kondisinya belum kembali hanya sebagian dari sisanya yang lain dan seandainya terhalang oleh mendung, seseorang ragu-ragu apakah sudah pulih kembali atau belum, maka ia boleh shalat gerhana, sebab pola dasarnya masih wujud gerhana dan belum pulih kembali. Seandainya di bawah mendung, kemudian seseorang menyangka ada gerhana, maka ia tidak boleh shalat (gerhana) sampai pada ia yakin betul ada gerhana.

Kata “Hingga YAKIN” memberikan pemahaman bahwa dalam kondisi ragu-ragu adanya gerhana, maka seseorang tidak boleh melaksanakan shalat (gerhana).

Dan memang sebenarnya juga tidak cukup hanya sekedar dhon (menduga-duga), tetapi harus dengan pembuktian diri secara langsung atau dengan berita dari sejumlah orang atau kelompok yang tidak dimungkinkan adanya kebohongan (‘adadut tawatur) lewat persaksian langsung. Dalam hal ini:

a).Tidak cukup lewat beritanya dua orang adil yang menyaksikan langsung wujudnya gerhana.

b).Tidak cukup lewat beritanya sejumlah orang atau kelompok yang tidak dimungkinkan adanya kebohongan (‘adadut tawatur), tetapi tidak menyaksikan langsung wujudnya gerhana.

c).Tidak cukup pula hanya dengan melalui adanya berita para ahli astronomi, baik mereka menginformasikan wujudnya gerhana atau tidak,demikian pendapat yang diambil dari guru kita, mengikuti guru kiita, Syekh Romli[3]


[1]Pertanyaan Bahtsul Masail PCNU Jombang ke-XII, Ahad, 07 Jumadil Akhir 1433 H / 29 April 2012  di Masjid “Ar Ribath”, Jogoroto Jombang

[2]Syihabuddin Ahmad al-Barlisi Umairah, Hasyiyata Qolyubi wa Umairoh,  juz : 1, (Mesir: Mushthofa al-Babi al-Halabi, 1376 H/1956), hal : 363

[3]Baca juga dalam kitab  Hasyiah al-Bujairami:1/436 yang redaksinya sbb:

ومثله ما في حاشية البجيرمي على شرح المنهج: 1/ 436، وحاشية الجمل على شرح المنهج: فَلَوْ حَالَ سَحَابٌ وَشَكَّ فِي الانْجِلاءِ أَوْ الْكُسُوفِ لَمْ يُؤَثِّرْ فَيُصَلِّي فِي الأَوَّلِ؛ لأَنَّ الأَصْلَ بَقَاءُ الْكُسُوفِ وَلا يُصَلِّي فِي الثَّانِي؛ لأَنَّ الأَصْلَ عَدَمُهُ. (قَوْلُهُ فَلَوْ حَالَ سَحَابٌ وَشَكَّ إلَخْ) وَلَوْ شَرَعَ فِيهَا ظَانًّا بَقَاءَهُ ثُمَّ تَبَيَّنَ أَنَّهُ كَانَ انْجَلَى قَبْلَ تَحَرُّمِهِ بِهَا بَطَلَتْ وَلا تَنْعَقِدُ نَفْلا عَلَى قَوْلٍ إذْ لَيْسَ لَنَا نَفْلٌ عَلَى هَيْئَةِ صَلاةِ الْكُسُوفِ فَيَنْدَرِجُ فِي نِيَّتِهَا قَالَهُ ابْنُ عَبْدِ السَّلامِ، وَمِنْهُ يُؤْخَذُ أَنَّهُ لَوْ كَانَ أَحْرَمَ بِهَا بِنِيَّةِ رَكْعَتَيْنِ كَسُنَّةِ الظُّهْرِ انْقَلَبَتْ نَفْلا مُطْلَقًا وَهُوَ ظَاهِرٌ. وَلَوْ قَالَ الْمُنَجِّمُونَ انْجَلَتْ أَوْ انْكَسَفَتْ لَمْ يَعْمَلْ بِقَوْلِهِمْ فَيُصَلِّي فِي الأَوَّلِ إذْ الأَصْلُ بَقَاءُ الْكُسُوفِ دُونَ الثَّانِي إذْ الأَصْلُ عَدَمُهُ وَقَوْلُ الْمُنَجِّمِينَ تَخْمِينٌ لا يُفِيدُ الْيَقِينَ وَلا يَرِدُ عَلَى ذَلِكَ جَوَازُ الْعَمَلِ بِقَوْلِهِمْ فِي دُخُولِ الْوَقْتِ وَالصَّوْمِ لأَنَّ هَذِهِ الصَّلاةَ خَارِجَةٌ عَنْ الْقِيَاسِ فَاحْتِيطَ لَهَا وَلأَنَّ دَلالَةَ عِلْمِهِ عَلَى ذَيْنِك أَقْوَى مِنْهَا هُنَا وَذَلِكَ لِفَوَاتِ سَبَبِهَا اهـ شَرْحُ م ر وَقَوْلُهُ انْقَلَبَتْ نَفْلا مُطْلَقًا هَذَا كَالصَّرِيحِ فِي أَنَّهُ إذَا عَلِمَ بِذَلِكَ فِي أَثْنَائِهَا انْقَلَبَتْ نَفْلا وَهُوَ مُخَالِفٌ لِمَا قَدَّمَهُ فِي صِفَةِ الصَّلاةِ مِنْ أَنَّهُ إذَا أَحْرَمَ بِالصَّلاةِ قَبْلَ دُخُولِ وَقْتِهَا جَاهِلا بِالْحَالِ وَقَعَتْ نَفْلا مُطْلَقًا بِشَرْطِ اسْتِمْرَارِ الْجَهْلِ إلَى الْفَرَاغِ مِنْهَا فَإِنْ عَلِمَ بِذَلِكَ فِي أَثْنَائِهَا بَطَلَتْ فَيُحْمَلُ مَا هُنَا عَلَى مَا هُنَاكَ فَتُصَوَّرُ الْمَسْأَلَةُ بِمَا إذَا لَمْ يَعْلَمْ بِانْجِلائِهَا إلاّ بَعْدَ تَمَامِ الرَّكْعَتَيْنِ وَهُوَ الَّذِي يَظْهَرُ الآنَ اهـ. ع ش عَلَيْهِ (قَوْلُهُ وَلا يُصَلِّي فِي الثَّانِي إلَخْ) هَذَا وَإِنْ كَانَ صَحِيحًا فِي نَفْسِهِ إلا أَنَّهُ لا مَحَلَّ لَهُ هُنَا لأَنَّهُ لَيْسَ مِنْ جُمْلَةِ التَّفْرِيعِ عَلَى مَا قَبْلَهُ كَمَا لا يَخْفَى بَلْ مَحَلُّهُ أَوَّلُ الْبَابِ عِنْدَ قَوْلِهِ صَلاةُ الْكُسُوفَيْنِ سُنَّةٌ بِأَنْ يَقُولَ إذَا تَيَقَّنَ التَّغَيُّرَ فَلَوْ شَكَّ فِيهِ كَانَ حَالَ سَحَابٍ إلَخْ تَأَمَّلْ.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.