BAB I: ‘Ubudiyah, (09) Kebijakan Membangun Marma Baru

BMPCNU_2002-2012_Sampul

09.   Kebijakan Membangun Marma Baru[1]

Deskripsi Masalah :

Seperti kita ketahui bahwa pada musim haji kemarin (tahun 2005), pemerintah Arab Saudi membangun Marma (tempat melempar jumrah) dengan tembok besar dan panjang, dengan harapan bisa mempermudah jama’ah dalam melontar.

Pertanyaan :

a.    Dasar legalitas kebijakan apa yang dilakukan oleh Pemerintah Arab Saudi di dalam membangun marma tersebut?

Jawaban:

Sebenarnya kebijakan pemerintah Saudi bisa dibenarkan jika dilakukan atas dasar mashlahat al-ummah dengan mengikuti kaidah “تصرف الإمام منوط بالمصلحة” dengan tetap memperhatikan keabsahan ibadah.

Keterangan Dari Kitab: 

al-Asybah wa al-Nadlair [2]:

تَصَرُّفُ اْلاِمَامِ عَلَى الرَّعِيَّةِ مَنُوْطٌ بِاْلمَصْلَحَةِ هَذِهِ اْلقَاعِدَةُ نَصَّ عَلَيْهَا اْلاِمَامُ الشَّافِعِيُّ وَقَالَ مَنْزِلَةُ اْلاِمَامِ مِنَ الرَّعِيَّةِ مَنْزِلَةُ اْلوَلِيِّ مِنَ اْليَتِيْمِ

Artinya: “Kebijakan Imam (kepala negara) terhadap rakyatnya harus sesuai dengan asas maslahat. Qaidah ini telah dinyatakan oleh Imam Syafi’i, bahwa beliau berkata: Kedudukan kepala negara terhadap rakyatnya seperti kedudukan wali terhadap anak yatim.”

b.   Sahkah melontar jumrah yang batunya mengenai tembok terlebih dahulu baru kemudian jatuh ke marma ?

Jawaban :

Sah menurut qoul al-ashah.

Keterangan Dari Kitab:

Hasyiah al-Idloh: Ibnu Hajar[3]:

وَلَوْ وَقَعَتْ فِي غَيْرِ اْلمَرْمَى ثُمَّ تَدَحْرَجَتْ إِلَى اْلمَرْمَى أَوْ رَدَتْهَا الرِّيْحُ اِلَيْهِ اعْتُدَّ بِهَا عَلَى اْلأَصَحِّلَوْ وَقَعَتْ عَلَى مَحَلٍّ فَتَدَحْرَجَتْ بِنَفْسِهَا فَوَقَعَتْ فِي اْلمَرْمَى أَجْزَأَهُ بِاْلإِجْمَاعِ نَقَلَهُ العَبْدَرِي قِيْلَ وَمُرَادُهُ بِاْلإِجْمَاعِ إِجْمَاعُ اْلأَكْثَرِيْنَ اهـ

Artinya:“Seandainya batu lemparan jumroh mengenai lokasi selain tempat lemparan (kubangan jumroh) kemudian jatuh ke tempat kubangan jumroh tersebut atau ada tiupan angin yang mengembalikan ke tempat tersebut, maka sudah dianggap cukup menurut qoul ashoh. Seandainya jatuh di salah satu tempat kemudian batu itu menggelinding dengan sendirinya lalu jatuh pada tempat lemparan (kubangan jumroh) juga sudah dianggap cukup berdasarkan ijma’”.



[1]Pertanyaan Bahtsul Masail PCNU Jombang ke-VI, tanggal 03 April 2005 di Masjid Jami’ PP Mambaul Ma’arif  Denanyar Jombang

[2]Jalaluddin Al-Suyuthi, al-Asybah wa al-Nadloir, (Beirut: Dar al-Fikr, tth), hal: 83  

[3]Ibnu Hajar al-Haitami, Hasyiyah ‘Ala al-Idlah, (Beirut: Dar al-Fikr, tth.), hal: 358.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.