BAB I: ‘Ubudiyah, (10) Kasus Thawaf bagi Pasien

BMPCNU_2002-2012_Sampul

10.  Kasus Thawaf bagi Pasien[1]

Deskripsi Masalah

Di dalam pelaksanaan musim haji, kita jumpai misalnya seseorang ketika saatnya akan thawaf ifadlah dia diopname di salah satu rumah sakit di Arab Saudi. Berdasarkan informasi dari tim dokter rumah sakit tersebut, pasien tersebut masih lama waktu penyembuhannya karena terserang stroke parah dan akut, sementara rombongan kloternya telah pulang semua. Ketika ditunggu sampai sembuh yang notabene dia kemungkinan langsung bisa ifadloh, ternyata sampai jamaah haji Indonesia semua kloter sudah berada di tanah air, pasien itu berdasar analisa tim medis rumah sakit Saudi belum berani dipastikan kesembuhannya.

Pertanyaan:

a). Apakah boleh thawaf ifadlah pasien tersebut dibadali ?

Jawaban:

Thawaf Ifadlah pasien tersebut tidak boleh dibadali (dilakukan atau digantikan oleh orang lain).

Keterangan dari Kitab:

Bughyah al-Mustarsyidin[2]:

(مَسْأَلةٌ: ب): لاَ تَجُوْزُ الاسْتِنَابَةُ لإِتْمَامِ أَرْكَانِ الحَجِّ وَلَوْ بِعُذْرٍ كَمَوْتٍ وَمَرَضٍ، بَلْ لاَ يَجُوزُ البِنَاءُ عَلَى فِعْلِ نَفْسِ الشَّخْصِ فِيْمَا لَوْ أُحْصِرَ فَتَحَلَّلَ ثُمَّ زَالَ العُذْرُ فَلاَ يَبْنِى عَلَى فِعْلِهِ.

Artinya: Tidak boleh menggantikan (istinabah) untuk menyempurnakan hukum-hukum Haji, sekalipun karena adanya udzur (alasan yang bisa diterima oleh syara’), misalnya meninggal dunia atau sakit, bahkan tidak boleh melanjutkan untuk mengerjakan perbuatan seseorang (yang digantikan) misalnya seandainya ia terhalang (ihshor) untuk melanjutkan manasiknya, kemudian ia tahallul setelah itu hilanglah udzurnya maka dalam hal ini tidak boleh melanjutkan perbuatannya. [3].

b).Apakah ada qaul atau pendapat yang membolehkan (untuk kasus pasien di atas) untuk diganti dengan dam?

Jawaban:

Tidak ada qaul yang membolehkan tawaf ifadlah diganti dengan dam.

Keterangan dari Kitab

Hasyiyatal Jamal [4]:

(أَرْكَانُ الْحَجِّ) سِتَّةٌ (إحْرَامٌ) بِهِ أَيْ نِيَّةُ الدُّخُولِ فِيهِ لِخَبَرِ: “إنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ” (وَوُقُوفٌ) بِعَرَفَةَ لِخَبَرِ: “الْحَجُّ عَرَفَةَ” (وَطَوَافٌ) لِقَوْلِهِ تَعَالَى: {وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ} – إلى أن قال – (وَلاَ تُجْبَرُ) أَيْ الأَرْكَانُ أَيْ لا دَخْلَ لِلْجَبْرِ فِيهاَ ….

 Artinya: Rukun Haji itu ada enam, yaitu:

i).Ihram Haji, artinya Niat untuk menuynaikan haji berdasarkan hadists إنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

ii).Wuquf di Arofah berdasarkan hadits  الْحَجُّ عَرَفَةَ

iii).Thowaf berdasarkan firman Allah  وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ

Sampai pada perkataan …… artinya makna-makna tersebut di atas tidak boleh diganti  dengan perkataan seperti DAM. Baca selengkapnya di catatan kaki.[5]

c).Bagaimana solusi terbaik bagi pasien di atas agar ada kenyamanan dari ibadahnya?

Jawaban: 

Di dalam melakukan thawaf ifadlah bisa dibantu dengan cara memakai jasa orang yang  mau memikul (menandu), didorong dengan memakai kursi roda dan seterusnya.

Keterangan dari Kitab

Hasyiyatal Jamal [6]:

 (وَلَوْ حَمَلَ شَخْصٌ حَلالٌ أَوْ مُحْرِمٌ) طَافَ عَنْ نَفْسِهِ أَوْ لَمْ يَطُفْ (مُحْرِمًا) بِقَيْدٍ زِدْته بِقَوْلِي (لَمْ يَطُفْ عَنْ نَفْسِهِ) (وَدَخَلَ وَقْتُ طَوَافِهِ وَطَافَ بِهِ) بِقَيْدٍ زِدْته فِي الأَوَّلِيَّيْنِ بِقَوْلِي (وَلَمْ يَنْوِهِ لِنَفْسِهِ أَوْ لَهُمَا) بِأَنْ نَوَاهُ لِلْمَحْمُولِ أَوْ أَطْلَقَ (وَقَعَ) الطَّوَافُ (لِلْمَحْمُولِ) لأَنَّهُ كَرَاكِبِ دَابَّةٍ وَعُمِلَ بِنِيَّةِ الْحَامِلِ وَإِنَّمَا لَمْ يَقَعْ لِلْحَامِلِ الْمُحْرِمِ إذَا دَخَلَ وَقْتُ طَوَافِهِ وَنَوَى الْمَحْمُولُ؛ لأَنَّهُ صَرَفَهُ عَنْ نَفْسِهِ (إلاّ إنْ أَطْلَقَ وَكَانَ كَالْمَحْمُولِ) فِي كَوْنِهِ مُحْرِمًا مَا لَمْ يَطُفْ عَنْ نَفْسِهِ وَدَخَلَ وَقْتُ طَوَافِهِ (فَ) يَقَعُ (لَهُ) لأَنَّهُ الطَّائِفُ وَلَمْ يَصْرِفْهُ عَنْ نَفْسِهِ فَإِنْ طَافَ الْمَحْمُولُ عَنْ نَفْسِهِ أَوْ لَمْ يَدْخُلْ وَقْتُ طَوَافِهِ لَمْ يَقَعْ لَهُ إنْ لَمْ يَنْوِهِ لِنَفْسِهِ وَإِلاّ فَكَمَا لَوْ لَمْ يَطُفْ وَدَخَلَ وَقْتُ طَوَافِهِ، وَإِنْ نَوَاهُ الْحَامِلُ لِنَفْسِهِ أَوْ لَهُمَا وَقَعَ لَهُ، وَإِنْ نَوَاهُ مَحْمُولُهُ لِنَفْسِهِ أَوْ لَمْ يَطُفْ عَنْهَا عَمَلا بِنِيَّتِهِ فِي الْجَمِيعِ؛ وَلأَنَّهُ الطَّائِفُ وَلَمْ يَصْرِفْهُ عَنْ نَفْسِهِ فِيمَا إذَا لَمْ يَطُفْ وَدَخَلَ وَقْتُ طَوَافِهِ وَإِفَادَةُ حُكْمِ الْإِطْلَاقِ فِي مَنْ لَمْ يَطُفْ مِنْ زِيَادَتِي.

Artinya: seandainya seseorang yang sudah melakukan tahallul atau seseorang yang sedang melakukan ihrom, -baik telah melakukan thowaf untuk dirinya atau belum-membawa/ menandu/menggotong seseorang yang ihrom yang belum melakukan thowaf untuk dirinya, sedang waktu thowaf sudah masuk dan ia melakukan thowaf dengannya dan tidak niat untuk dirinya atau untuk keduanya, katakanlah ia niat untuk yang di gotong/ditandu atau secara mutlak, maka jatuhlah amalan thowaf tersebut untuk yang gotong atau ditandu, karena ia statusnya seperti orang naik kendaraan yang dilakukan dengan niatnya orang yang menggotong atau menandu. Thowaf itu tidak bisa jatuh bagi orang yang menandu atau menggotong yang sedang ihrom manakala waktu thowafnya telah masuk, sedangkan yang digotong atau ditandu telah melakukan niat, karena dia telah memalingkan niat darinya.[7]



[1]Pertanyaan Bahtsul Masail PC NU Jombang ke-VIII, Ahad, tanggal 09 Oktober 2011, di PP Sunan Ampel PP Mambaul Ma’arif   Denanyar Jombang

[2]Ba’alawi, Bughyah …….., hal: 198

[3]Zakariyya al-Anshari, Fathul Wahhab, Juz: 1, (Beirut: Dar al-Fikr, tth.), hal: 176, yang redaksi dan terjemahnya sebagai berikut:

(أَرْكَانُ الْحَجِّ) سِتَّةٌ (إحْرَامٌ) بِهِ أَيْ نِيَّةُ الدُّخُولِ فِيهِ لِخَبَرِ: “إنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ” (وَوُقُوفٌ) بِعَرَفَةَ لِخَبَرِ: “الْحَجُّ عَرَفَةَ” (وَطَوَافٌ) لِقَوْلِهِ تَعَالَى: {وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ} – إلى أن قال – (وَلاَ تُجْبَرُ) أَيْ الأَرْكَانُ أَيْ لا دَخْلَ لِلْجَبْرِ فِيهَ.

Artinya: Rukun Haji itu ada enam, yaitu: i).Ihram Haji, artinya Niat untuk menunaikan haji berdasarkan hadits إنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِii).Wuquf di Arafah berdasarkan hadits  الْحَجُّ عَرَفَةَiii).Thawaf berdasarkan firman Allah  وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ. Sampai pada perkataan …… artinya makna-makna tersebut di atas tidak boleh diganti  dengan perkataan seperti DAM. Baca selengkapnya di catatan kaki

[4]Sulaiman bin Manshur al-Mishri,  Hasyiyatal Jamal Ala Syarkhil Manhaj, Juz:II, (Mesir: Maktabah al-Tijariyah, tth.), hal: 488

[5]وَتَقَدَّمَ مَا يُجْبَرُ بِدَمٍ (قَوْلُهُ: وَتَقَدَّمَ مَا يُجْبَرُ بِدَمٍ) وَهُوَ تَرْكُ الإِحْرَامِ مِنْ الْمِيقَاتِ وَتَرْكُ الْمَبِيتِ بِمِنًى

 وَتَرْكُهُ بِمُزْدَلِفَةَ وَتَرْكُ رَمْيِ الْجِمَارِ وَتَرْكُ طَوَافِ الْوَدَاعِ اهـ. ح ل. وَعِبَارَةُ شَرْحِ م روَأَمَّا وَاجِبَاتُهُ فَخَمْسَةٌ أَيْضًا الإِحْرَامُ مِنْ الْمِيقَاتِ وَالرَّمْيُ فِي يَوْمِ النَّحْرِ وَأَيَّامِ التَّشْرِيقِ وَالْمَبِيتُ بِمُزْدَلِفَةَ وَالْمَبِيتُ لَيَالِيَ مِنًى وَاجْتِنَابُ مُحَرَّمَاتِ الإِحْرَامِ، وَأَمَّا طَوَافُ الْوَدَاعِ فَقَدْ مَرَّ أَنَّهُ لَيْسَ مِنْ الْمَنَاسِكِ فَعَلَى هَذَا لا يُعَدُّ مِنْ الْوَاجِبَاتِ فَهَذِهِ تُجْبَرُ بِدَمٍ وَتُسَمَّى بَعْضًا وَغَيْرُهَا يُسَمَّى هَيْئَةً انْتَهَتْ.

[6]Sulaiman,  Hasyiyatal Jamal Ala Syarkhil Manhaj, Juz:II/443

[7]Bandingkan dengan Ibnu Hajar al-Haitami, al-Idloh”, (Beirut: Dar al-Fikr, tth.), hal:  261-263

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.