BAB I: ‘Ubudiyah, (11) Kasus Mengganti Ihram Haji Tamattu’ ke Ihram yang lain karena Faktor Menstruasi

BMPCNU_2002-2012_Sampul

11.   Kasus  Mengganti Ihram Haji Tamattu’ ke Ihram yang lain karena Faktor Menstruasi [1]

Deskripsi Masalah:

Seorang petugas haji putri ketika dari miqat berniat ihram (Haji) tamattu’, tetapi setelah masuk Makkah dia menstruasi dan lumayan lama menstruasinya. Di saat lama menunggu suci itu dia memutuskan untuk mengganti ihramnya (dari tamattu’ ke ifrod atau qiron).

Pertanyaan:

a). Bolehkah mengganti ihram tamattu’ dengan ihram ifrod atau ihrom qiron?

Jawaban:

Mengganti Ihram (haji) tamattu’ ke ifrod tidak boleh. Sedangkan ke qiron boleh, selama belum melaksanakan tawaf Umroh.

Keterangan dari kitab:

al-Majmu’[2]:  

قَالَ الْمُصَنِّفُ رحمه الله تعالى (وَالإِفْرَادُ أَنْ يَحُجَّ ثُمَّ يَعْتَمِرَ، وَالتَّمَتُّعُ أَنْ يَعْتَمِرَ فِي أَشْهُرِ الْحَجِّ ثُمَّ يَحُجَّ مِنْ عَامِهِ، وَالْقِرَانُ أَنْ يُحْرِمَ بِهِمَا جَمِيعًا،

Artinya: Mushonnif berkata: Haji Ifrod ialah melaksanakan haji, kemudian baru melaksanakan umroh, sedangkan Haji Tamattu’ adalah melaksanakan Umroh terlebih dahulu di bulan-bulkan haji, baru kemudian melaksanakan haji tamattu’.

Haji Qiron ialah melaksanakan ihrom haji sekaligus ihrom umroh secara bersamaan. Jika seseorang melaksanakan ihrom, tetapi sebelum thowaf ia memasukkan ihrom haji, maka hukumnya boleh dan ia menjadi haji qiron. Baca lagi lengkapnya pada catatan kaki.[3]

b). Bagaimana teknis pelaksanaanya?

Jawaban:

Cukup dengan melakukan manasik haji qiron, yaitu: melakukan Ihram Haji dan Ihram Umroh bersamaan.

Keterangan dari kitab: idem [4](al-Majmu’:JUz:V/171)

قَالَ الْمُصَنِّفُ رحمه الله تعالى (وَالإِفْرَادُ أَنْ يَحُجَّ ثُمَّ يَعْتَمِرَ، وَالتَّمَتُّعُ أَنْ يَعْتَمِرَ فِي أَشْهُرِ الْحَجِّ ثُمَّ يَحُجَّ مِنْ عَامِهِ، وَالْقِرَانُ أَنْ يُحْرِمَ بِهِمَا جَمِيعًا

Artinya:Mushonnif berkata: Haji Ifrod ialah melaksanakan haji, kemudian baru melaksanakan umroh, sedangkan Haji Tamattu’ adalah melaksanakan Umroh terlebih dahulu di bulan-bulkan haji, baru kemudian melaksanakan haji tamattu’.Haji Qiron ialah melaksanakan ihrom haji sekaligus ihrom umroh secara bersamaan. Jika seseorang melaksanakan ihrom, tetapi sebelum thowaf ia memasukkan ihrom haji, maka hukumnya boleh dan ia menjadi haji qiron. Baca lagi lengkapnya pada catatan kaki…dan lengkapnya sama dengan yang ada pada poin a.

c).Apakah dia dikenakan dam dan berupa apa damnya?

Jawaban:

Ya, jika tidak memenuhi persyaratan-persyaratan yang terkait dengan kewajiban membayar dam bagi haji tamattu’ atau haji qiran. Adapun damnya sebagaimana dam yang berlaku bagi orang-orang yang terkena dam, yaitu kambing yang mencukupi untuk kurban (udhiyah).

Keterangan dari kitab:

Hasyiyatul Idloh[5]:

وَيجِبُ عَلَى القَارِنِ وَالمُتَمَتِّعِ دَمُ شَاةٍ فَصَاعِدًا صِفَتُهَا صِفَةُ الأُضْحِيةِ – إلى أن قال – وَاِنَّمَا يَجِبُ الدَّمُ عَلَى المُتَمِّتِع بِأَرْبَعِة شُرُوْطٍ: أَنْ لاَّ يَعُوْدَ إِلَى مِيْقَاتِ بَلَدِهِ لإِحْرَامِ الحَجِّ، وَأَنْ يَكُوْنَ إِحْرَامُهُ بِالعُمْرَةِ فِى أَشْهُرِ الحَجِّ، وَأَنْ يَحُجَّ مِنْ عَامِهِ، وَأَنْ لاَّ يَكُوْنَ مِنْ حَاضِرِ المَسْجِدِ الحَرَامِ – وَهُمْ أَهْلُ الحَرَامِ وَمَنْ كَانَ مِنْهُ عَلَى أَقَلَّ مِنْ مَرْحَلَتَيْنِ -، فَإِنْ فُقِدَ أَحَدُ هَذِهِ الشُّرُوطِ فَلاَ دَمَ عَلَيْهِ – إلى أن قال – وَاِنَّمَا يَجِبُ الدَّمُ عَلَي القَارِنِ بِشَرْطَيْنِ: أَنْ لاَّ يَعُوْدَ إِلَى المِيْقَاتِ بَعْدَ دُحُوْلِ مَكَّةَ، وَقِيْلَ يَوْمَ عَرَفَةَ، وَأَنْ لاَّ يَكُوْنَ مِنْ حَاضِرِ المَسْجِدِ الحَرَامِ.

Artinya: Pelaku haji qiron dan haji tamattu’ itu wajib membayar DAM berupa kambing yang sudah dianggap cukup untuk dijadikan sebagai qurban (Udlhiyyah), sampai beliau berkata:” pelaku haji tamattu’ wajib membayar DAM dengan empat persyaratan, yaitu:

1).Tidak kembali ke miqot daerahnya untuk berihrom haji

2).Ihrom umrahnya berada di dalam bulan-bulan haji

3).Hajinya pada tahun itu juga

4).Tidak termasuk hadliril masjidi haram, artinya penduduk tanah haram dan orang yang berada di tanah haram yang jaraknya kurang dari dua marhalah.

Jika persyaratan ini tidak terpenuhi, maka baginya wajib membayar DAM



[1]Pertanyaan Bahtsul Masail PCNU Jombang ke-VIII, Ahad, tgl 09 Oktober 2011, di PP Sunan Ampel   Denanyar Jombang

[2]Muhyidin Al-Nawawi, Al-Majmu’ ‘Ala Syarkh al-Muhadzab, Juz: V (Kaero, Maktabah al-‘Ashim, tth.), hal: 171.

[3]        فَإِنْ أَحْرَمَ بِالْعُمْرَةِ ثُمَّ أَدْخَلَ عَلَيْهَا الْحَجَّ قَبْلَ الطَّوَافِ جَازَ وَيَصِيرُ قَارِنًا، لِمَا رُوِيَ ” أَنَّ عَائِشَةَ رضي

الله عنها أَحْرَمَتْ بِالْعُمْرَةِ فَحَاضَتْ فَدَخَلَ عَلَيْهَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَهِيَ تَبْكِي، فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَهِلِّي بِالْحَجِّ وَاصْنَعِي مَا يَصْنَعُ الْحَاجُّ غَيْرَ أَنْ لاَ تَطُوفِي بِالْبَيْتِ وَلاَ تُصَلِّي”، وَإِنْ أَدْخَلَ عَلَيْهَا الْحَجَّ بَعْدَ الطَّوَافِ لَمْ يَجُزْ.

[4]Muhyidin Al-Nawawi, Al-Majmu’ ‘Ala Syarkh al-Muhadzab, Juz: IX (Kaero, Maktabah al-‘Ashim, tth.), hal: 171.

[5]Ibnu Hajar, Hasyiyatal Idloh………….., hal: 170-173

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.