BAB I: ‘Ubudiyah, (13) Status Upacara 40 atau 100 Hari Kematian

BMPCNU_2002-2012_Sampul 

13.   Status Upacara 40 atau 100 Hari Kematian

Pertanyaan:

Bagaimana hukum 40 hari dan 100 hari sebagaimana di atas dengan mempertimbangkan kondisi masyarakat pelaku?

Jawaban :

Boleh

Keterangan Dari Kitab:

Al-Fatawa Al-Fiqhiyah Al-Kubro[1].

وَسُئِلَ أَعَادَ اللَّهُ عَلَيْنَا من بَرَكَاتِهِ عَمَّا يُذْبَحُ من النَّعَمِ وَيُحْمَلُ مع مِلْحٍ خَلْفَ الْمَيِّتِ إلَى الْمَقْبَرَةِ وَيُتَصَدَّقُ بِهِ على الْحَفَّارِينَ فَقَطْ وَعَمَّا يُعْمَلُ يوم ثَالِثِ مَوْتِهِ من تَهْيِئَةِ أَكْلٍ وَإِطْعَامِهِ لِلْفُقَرَاءِ وَغَيْرِهِمْ وَعَمَّا يُعْمَلُ يوم السَّابِعِ كَذَلِكَ وَعَمَّا يُعْمَلُ يوم تَمَامِ الشَّهْرِ من الْكَعْكِ وَيُدَارُ بِهِ على بُيُوتِ النِّسَاءِ اللَّاتِي حَضَرْنَ الْجِنَازَةَ ولم يَقْصِدُوا بِذَلِكَ إلَّا مُقْتَضَى عَادَةِ أَهْلِ الْبَلَدِ حتى إنَّ من لم يَفْعَلْ ذلك صَارَ مَمْقُوتًا عِنْدَهُمْ خَسِيسًا لَا يَعْبَئُونَ بِهِ …… إلخ

فَأَجَابَ بِقَوْلِهِ جَمِيعُ ما يُفْعَلُ مِمَّا ذُكِرَ في السُّؤَالِ من الْبِدَعِ الْمَذْمُومَةِ لَكِنْ لَا حُرْمَةَ فِيْهِ إلَّا إنْ فُعِلَ شَيْءٌ مِنْهُ لِنَحْوِ نَائِحَةٍ أَوْ رِثَاءٍ وَمَنْ قَصَدَ بِفِعْلِ شَيْءٍ مِنْهُ دَفْعَ أَلْسِنَةِ الْجُهَّالِ وَخَوْضِهِمْ في عِرْضِهِ بِسَبَبِ التَّرْكِ يُرْجَى أَنْ يُكْتَبَ لَهُ ثَوَابُ ذَلِكَ ………إلخ

Artinya :Imam Ibnu Hajar ditanya tentang hewan sembelihan yang dibawa beserta garam di belakang orang mati menuju ke kuburan, dan disedekahkan kepada penggali kuburan saja. Dan ditanya tentang kegiatan yang dilakukan pada hari ketiga kematian mayat tersebut, yang berupa penyajian makanan yang diberikan kepada orang faqir dan yang lainnya, dan begitu juga pada hari ketujuh. Dan titanya tentang kue yang dibuat pada hari sempurnanya bulan, dan diputar pada rumah para perempuan yang menghadiri jenazah tersebut, dan mereka melakukannya dengan tujuan hanya mengikuti kebiasaan masyarakat setempat, sehingga orang yang tidak melakukan hal tersebut menjadi orang yang dimurkai dan hina yang tidak diperhatikan menurut mereka.

Imam Ibnu Hajar menjawab dengan perkataannya bahwa semua perkara yang dilakukan pada pertanyaan di atas termasuk bid’ah yang tercela, akan tetapi tidak dihukumi haram kecuali bila dilakukan karena meratapi dan menyebut-nyebut kebaikan mayat. Dan seseorang yang melakukan hal tersebut dengan tujuan menolak omongan orang bodoh dan gunjingan mereka pada harga dirinya sebab tidak melakukan hal tersebut, semoga amalnya mendapat pahala ….



[1]Al-Fatawa Al-Fiqhiyah Al-Kubro, juz :3 hal : 95

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.