BAB II: Aspek Sosial, (01) Janda Menikah Tanpa Iddah

 BMPCNU_2002-2012_Sampul

BAB II

ASPEK SOSIAL

1.   Janda Menikah Tanpa Iddah[1]

Deskripsi Masalah

Dalam Al-Qur’an maupun Hadits bahkan ta’bir-ta’bir Fuqoha’ telah seragam menetapkan bahwa bagi setiap wanita yang ditinggal suaminya harus menjalani masa iddah dengan jumlah waktu yang terhitung cukup lama atau dengan melahirkan bayi (wadl’ul hamli) bagi yang dalam kondisi positif hamil serta sejumlah aturan tambahan yang mengikat bagi seorang wanita karena pertimbangan beberapa hikmah al-tasyri’ yang beragam, di antaranya :

1).Untuk mengetahui apakah dalam rahim si wanita masih menyimpan janin/sperma suami terdahulu, sehingga terhindar dari kekaburan keturunan atau demi kemashlahatan janin dari upaya perusakan suami berikutnya.

2).Pertimbangan sosiologis, yakni sebagai sikap belasungkawa atas kematian suaminya sekaligus penghormatan terhadap keluarga suami, di mana hal itu tidak berlaku bagi seorang suami apabila ditinggal mati istrinya.

Pertanyaan :

Bolehkah, apabila seorang janda yang ditinggal mati suaminya tidak melakukan iddah dan langsung melakukan perkawinan dengan laki-laki lain yang dinikahinya, apabila menurut pemeriksaan dokter ahli kandungan yang benar-benar representatif dan profesional dengan kecanggihan tekhnologinya telah dinyatakan seratus persen dalam kondisi tidak hamil serta si janda tersebut telah diijinkan secara sukarela oleh keluarga suaminya untuk melakukan hal tersebut?

Jawaban :

Tidak diperbolehkan, karena Iddah tidak hanya untuk baraaturrahmi (bersihnya rahim dari benih mantan suami) saja tetapi juga terdapat unsur ta’abbudi (dogmatis irrasional).

Keterangan Dari Kitab:

I’anatuth Tholibin[2]:

(قوله وَإِنْ تَيَقَّنَ بَرَاءَةَ رَحِمٍ) غَايَةٌ فِي وُجُوْبِ اْلعِدَّةِ عَلَى الْمَوْطُوْءَةِ أَيْ تَجِبُ الْعِدَّةُ عَلَيْهَا وَإِنْ تَيَقَّنَ ذَلِكَ وَذَلِكَ لأَنَّ الْعِدَّةَ إِنَّمَا وَجَبَتْ لِعُمُوْمِ اْلأَدِلَّةِ وَلأَنَّ الْمُغلب فِيْهَا جِهَّةُ التعبد كَمَا تَقَدَّمَ (قَوْلُهُ كَمَا فِي صَغِيْرَةٍ وَصَغِيْرٍ) تَمْثِيْلٌ لِلْمُتَيَقِّنِ بَرَاءَة رَحِمِهَا وَكَوْنُ الزَّوْجِ صَغِيْرًا لَيْسَ بِقَيْدٍ فِي تَيَقُّنِ بَرَاءَةِ رَحِمِهَا بَلْ مَتَى كَانَتْ صَغِيْرَةً تَيَقن ذَلِكَ وَلَوْ كَانَ كَبِيْرًا.

Artinya: Jika sudah yakin akan bersihnya rahim dari benih mantan suami yang menceraikannya, maka baginya tetap diwajibkan menunggu sampai habis masa iddah yang sudah menjadi kewajibannya, sebab iddah merupakan satu kewajiban lantaran adanya adanya dalil yang menunjukkannya, dan kewajiban tersebut bersifat ta’abbudiyyah sebagaimana yang dijelaskan di atas. Hal ini seperti kasus iddahnya perempuan yang status umurnya belum dewasa yang diceraikan suami yang juga masih kecil yang diyakini kandungannya sudah bersih setelah diceraikan. Sebab suami yang masih kecil tidak bisa dijadikan rujukan atau pegangan dalam menentukan bersihnya kandungan mantan istri yang masih kecil dari suami kecil tersebut.



[1]Pertanyaan Bahtsul Masail PCNU Jombang ke-VII, tanggal 04 Desember 2005 di Masjid Jami’ al-Khoir Megaluh Jombang

[2]al-Dimyathi, I’anatuth……, Juz: 1, hal : 38-39

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.