BAB II: Aspek Sosial, (03) Menikahi Wanita Hamil Akibat Perzinaan

BMPCNU_2002-2012_Sampul

03.   Menikahi Wanita Hamil Akibat Perzinaan[1]

Deskripsi Masalah :

Seorang laki-laki (A) sebelum menikah dengan seorang perempuan (B) sudah mengadakan hubungan seks lebih dahulu, setelah (B) hamil, baru dilaksanakan pernikahan. Kemudian (B) melahirkan seorang anak perempuan (C), setelah dewasa (C) dikawinkan dengan seorang pemuda (D) sedangkan yang menjadi walinya adalah (A) dan dari perkawinan (C) + (D) itu lahir seorang anak (E).

Pertanyaan :

a)   Apakah perkawinan (C) + (D) sah?

b)   Apakah (E) menjadi anak yang sah bagi (D)?

c)   Apakah (C) menjadi anak yang sah bagi (A)?

Jawaban :

Dalam masalah ini, yang harus dilihat adalah kondisi sebagai berikut:

a).Jika jelas (C) itu berasal dari sperma perzinaan (A) + (B), maka perkawinan (C) dan (D) tidak sah dengan wali (A)

b).Akan tetapi jika tidak berasal dari perzinaan mereka maka yang harus dilihat lagi adalah hal-hal sbb:

i).jika (C) lahir sesudah enam bulan lebih dihitung sejak akad nikah, dengan kemungkinan adanya persetubuhan antara (A) + (B), maka pernikahan (C) + (D), hukumnya sah,

ii).atau tidak diketahui kapan (C) lahir,

iii).atau tidak diketahui adanya kemungkinan persetubuhan antara (A) + (B),

maka menurut qoul yang rajih (pendapat yang kuat) pernikahan (C) + (D) juga sah, sepanjang (C) tidak dinafikan oleh (A) lewat li’an (artinya (C) tetap diakui oleh (A) sebagai anaknya.

Keterangan dari kitab:

a).Kifayatul Akhyar[2]:

َوْنَكَحَ شَخْصٌ اِمْرَأَةً حَامِلاً مِنَ الزِّنَا صَحَّ نِكَاحُهُ بِلاَخِلاَفٍ

Artinya: Jika seorang laki-laki menikah dengan wanita hamil hasil perzinaan, maka status pernikahannya sah tanpa diperselisihkan

b).Bughyah al-Mustarsyidin[3]:

(مسئلة ي ش) يَجُوْزُ نِكَاحُ الحَامِلِ مِنَ الزِّنَا سَوَاءٌ الزَّنِي وَغَيْرُهُ وَوَطْئُهَا حِيْنَئِذٍ مَعَ الْكَرَهَةِ

Artinya: Hukum pernikahan wanita hamil hasil perzinaan itu adalah boleh, baik dengan laki-laki yang menzinainya maupun tidak, dan pada masa hamil ini, hukum melakukan hubungan seksual adalah makruh

c).Bujairomi Iqna’[4]:

تَنْبِيْهٌ : عُلِمَ مِنْ كَلاَمِ اْلمُصَنِّفِ أنَّ اْلبِنْتَ اْلمَخْلُوْقَةَ مِنْ مَاءِ زِنَاهُ سَوَاءٌ تَحَقَّقَ انَّهَا مِنْ مَائِهِ اَمْ لاَ تَحِلُّ لَهُ لأَنَّهَا أَجْنَبِيَةً اِذْ لاَ حُرُمَةَ لِمَاءِ الزِّنَا كَمَا قَالَ اْلمُخَالِفُ وَهُوَ اَبُوْ حَنِيْفَةَ فَإِنَّهُ يَقُوْلُ إِنَّ اْلبِنْتَ اْلمَخْلُوْقَة مِنْ مَاءِ زِنَاهُ لاَ تَحِلّ لَهُ وَمَعَ ذَلِكَ قَالَ لاَ تَرِثُهُ فَقَوْلُهَا لاَ تَحِلُّ لَهُ فِيْهِ اِثْبَاتُ اْلمَحْرَمِيَةِ لَهَا.

Artinya: Tanbih: dari pembicaraan mushanif diketahui bahwa status kenasaban wanita yang dilahirkan dari hasih hubungan perzinaan dengan laki-laki yang menikahi ibunya itu adalah ajnabiyyah, baik spermanya benar-benar berasal dari laki-laki yang menghamili ibunya maupun tidak, sebab hinanya sperma perzinaan, sebagaimana pandangan imam Abu Hanifah yang menyatakan bahwa anak wanita yang dihasilkan dari hubungan seks bebas itu tidak layak untuk diintisabkan nasabnya kepadanya, begitu juga masalah waris-mewaris. Karenanyalah tidak layak baginya penetapan status kemahraman padanya.

d).Ghoyatu Talkhishil Murad[5]:

مَسْأَلَةٌ : نَكَحَ حَامِلاً مِنَ الزِّنَا فَاتَتْ بِوَلَدٍ لِزَمَنِ اِمْكَانِهِ مِنْهُ فَإِنْ وَلَدَتْ لِشِتَّةِ اَشْهُرٍ وَلَحْظَتَيْنِ مِنْ عَقْدِهِ وَاِمْكَانِهِ وَطْئِهِ مِنْهُ لحِقة وَكَذَا إِنْ جَهِلَتْ المُدَّةُ وَلَمْ يُدْرِ هَلْ وَلَدَتْهُ لِمُدَّةٍ الاِمْكَانِ اَوْ لِدُوْنِهَا

Artinya: Seorang laki-laki yang menikah dengan wanita hamil hasil hubungan seks bebas itu, status anak yang dilahirkannya harus menunggu masa yang memungkinkannya wanita tersebut hamil, yaitu: masa 6 bulan dan masa minimal nifas terhitung dari pasca terjadinya proses akad pernikahan, dan kemungkinan dilakukannya hubungan seksual pasca akand pernikahan. Begitu juga kasus tidak diketahuinya secara jelas tentang masa kehamilannya dalam hal apakah memenuhi masa 6 bulan pasca akad nikah ataupun kurang dari 6 bulan[6].



[1]Pertanyaan Bahtsul Masail PCNU Jombang ke-IX, tanggal 10 Desember 2006 di Masjid At-Taqwa Ngoro Jombang dan dilanjutkan lagi di Bahtsul Masail ke-X tanggal 13 Mei 2007 di Masjid Bareng Jombang

[2]Abu Bakar Husaini ad Dimasyqi, Kifayatul Akhyar, Juz: II, (Makkah al-Munawwaroh: Maktabah al-Tijariyah, 1412 H/1991 M), hal: 132.

[3] Ba’alawi, Bughyah al-Mustarsyidin, hal: 201

[4]Bujairomi Iqna’:IV/356

[5]Ibnu Ziyad al-Yamani, Talkhishil Murad, Fi Hamaisyi Abdurrahman Ba’alawi, Bughyah al-Mustarsyidin, (Mesir: al-Babi al-Halabi, tth.), hal:242

[6]Lihat juga dalam Ba’alawi, Bughyah ……, hal: 236, yaitu:

فَالْحَاصِلُ اَنَّ الْمَوْلُوْدَ عَلَى فِرَاشِ الزَّوْجِ لاَحِقٌ فِيْهِ مُطْلَقًا اِنْ اَمْكَنَ كَوْنُهُ مِنْهُ وَلاَيُنْتَفَى عَنْهُ إِلاَّ بِاللِّعَانِ وَالنَّفْيِ تَارَةً يَجِبُ وَتَارَةً يَحْرُمُ وَتَارَةً يَجُوْزُ وَلاَ عِبْرَةَ بِإِقْرَارِ الْمَرْأَةِ بِالزِّنَا وَاِنْ صَدَّقَهَا الزَّوْجُ وَظَهَرَتْ امَارَتُهُ.Artinya: Pada dasarnya, anak yang dilahirkan itu hubungan kenasabannya selalu mengikuti pada laki-laki pemilik sperma secara mutlak, selama dimungkinkan terjadinya dan tidak boleh dinihilkan keculai sebab li’an, dan menihilkannya itu terkadang berstatus hukum wajib, terkadang haram dan terkadang pula menjadi boleh. Dan menetapkan penihilan status kenasaban seorang wanita yang dihasilkan dari hubungan seks bebas dengan laki-laki yang menikahi ibunya itu tidak dijadikan pertimbangan utama selama laki-laki yang menikahi ibunya itu membenarkan terjadinya pernikahan dan adanya publikasi pernikahan jelas terlihat ada dan terjadi.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.