BAB III: Pemberdayaan Ummat, (01) Memotong Gaji Untuk Zakat

BMPCNU_2002-2012_Sampul

BAB III 

PEMBERDAYAAN UMMAT

 01.  Memotong Gaji Untuk Zakat[1]

Deskripsi Masalah :

Ada SK Menag RI No 29/47 tahun 1991 tentang table jenis harta dan ketentuan wajib zakatnya, termasuk gaji pegawai/karyawan DEPAG digolongkan tijaroh, wajib zakat 2,5 %. Dan hal ini baru diterapkan di Jombang pada bulan April 2003 dengan SK Kepala Kandepag tanggal 4 Maret 2003 yang isinya, bahwa semua pegawai/karyawan DEPAG gajinya dipotong 2,5 % dari gaji pokok, berlaku mulai gaji April 2003.

Pertanyaan :

a).Apakah ada dalil syar’i/qiyashi/kitab kuning yang mewajibkan zakat pegawai/karyawan/pekerja tanpa syarat-syarat tertentu. Mohon penjelasan dengan alasan dalil tersebut.

b).Kalau ada, apakah cara zakat 2,5 % dari gaji pokok pegawai/karyawan itu sudah betul menurut dalil tersebut? Mohon penjelasan.

c).Apakah surat al-Baqarah:267 (أَنفقوا من طيبات ما كسبتم) dapat dijadikan dalil wajibnya zakat pegawai/ karyawan yang berarti diqiyaskan tijaroh? Kalau bisa, bagaimana zakatnya? Mohon penjelasan.

d).Begitu juga surat al-An’am:141 (وآتوا حقه يوم حصاده). Apakah bisa dijadikan dalil wajibnya zakat gaji pegawai/ karyawan yang berarti diqiyaskan dengan zuru’. Dan kalau bisa, bagaimana zakatnya?

Jawaban:

a).Tidak ada dalil yang menyatakan tentang kewajiban zakat profesi dengan tanpa adanya syarat-syarat tertentu.

b).Tidak perlu penjelasan terkait dngn pertanyaan A

c).Tidak bisa diqiyaskan dengan tijaroh

d).Tidak bisa diqiyaskan dengan zuru’[2]

Keterangan dari kitab :

a).al-Syarwani[3]:

(وَإِنَّمَا يَصِيْرُ اْلعَرْضُ لِلتِّجَارَةِ إِذَا اقْتَرَنَتْ نِيَّتُهَا بِكَسْبِهِ بِمُعَاوَضَةِ كَشِرَاءٍ) وَإِنْ لَمْ يُجَدِّدْهَا فِي كُلِّ تَصَرُّفٍ سَوَاءٌ أَكَانَ بِعَرَضٍ أَمْ نَقْدٍ أَمْ دَيْنٍ حَالٍّ أَمْ مُؤَجَّلٍ لِانْضِمَامِ قَصْدِ التِّجَارَةِ إِلَى فِعْلِهَا وَمِنْ ذَلِكَ مَا مَلَّكَهُ بِهِبَةٍ ذَاتِ ثَوَابٍ أَوْ صَالَحَ عَلَيْهِ وَلَوْ عَنْ دَمٍ أَوْ عِرْضٍ أَوْ آجَرَ بِهِ نَفْسَهُ أَوْ مَا لَهُ وَمَا اسْتْأْجَرَهُ أَوْ مَنْفَعَةَ مَا اِسْتَأْجَرَهُ بِأَنْ كَانَ يَسْتَأْجِرُ اْلمَنَافِعَ وَيُؤَجِرُهَا بِقَصْدِ التِّجَارَةِ أَمَّا لَوِ اقْتَرَضَ مَالاً نَاوِيًا بِهِ التِّجَارَةَفَلاَ يَصِيْرُ مَالَ تِجَارَةٍ لأَنَّهُ لاَ يُقْصَدُ لَهَا وَإِنَّمَا هُوَ إِرْفَاقٌ قَالَهُ اْلقَاضِي تَفَقُّهًا وَجَزَمَ بِهِ الرُّوْيَانِي وَاْلمُتَوَلِّي وَصَاحِبُ اْلأَنْوَارِ

Artinya: “Harta benda bisa menjadi tijaroh (perdagangan), jika niat perdagangannya disertai dengan proses  tukar menukar seperti jual beli meskipun tidak diperbaharui dalam seluruh proses transaksi baik itu dengan benda/barang atau emas perak, hutang yang kontan atau jatuh tempo sepanjang tujuan dagangnya tergabung dengan perbuatannya (perilakunya), di antaranya seperti apa yang ia miliki dengan cara  hibah berpahala, atau lewat proses perdamaian meskipun perdamaian untuk kasus pembunuhan atau kehormatan diri atau menyewa diri atau hartanya, atau lewat proses persewaan atau manfaat (jasa) persewaan seperti seseorang menyewa manfaat (jasa) kemudian disewakan dengan tujuan perdagangan.

Adapun jika seseorang berhutang uang dengan niat untuk perdagangan, maka itu tidak masuk kategori harta perdagangan, karena tidak diniati untuk perdagangan tetapi hanya sekedar menolong. Demikian apa yang dikatakan Qodhi Husain secara yuridis. Pendapat ini diperkuat oleh Ar-Rauyani, dan Al Mutawalli dan juga pengarang kitab Al-Anwar (Yusuf Al Ardabili)”.

b).I’anatuth Tholibin[4]:

(وَاعْلَمْ) أَنَّ لِزَكَاةِ التِّجَارَةِ شُرُوْطًا سِتَّةً زِيَادَةً عَلَى مَا مَرَّ فِى زَكَاةِ النَّقْدَيْنِ أَحَدُهُمَا أَنْ يَكُوْنَ مِلْكُ ذَلِكَ اْلمَالِ بِمُعَاوَضَةٍ وَلَوْ غَيْرَ مَحْضَةٍ وَذَلِكَ لأَنَّ اْلمُعَاوَضَةَ قِسْمَانِ مَحْضَةٌ وَهِىَ مَا تَفْسُدُ بِفَسَادِ مُقَابِلِهَا كَالْبَيْعِ وَالشِّرَاءِ وَغَيْرُ مَحْضَةٍ وَهِىَ مَا لاَ تَفْسُدُ بِفَسَادِ مُقَابِلِهَا كَالنِّكَاحِ ثَانِيْهَا أَنْ تَقْتَرِنَ نِيَةُ التِّجَارَةِ بِحَالِ اْلمُعَاوَضَةِ فِى صُلْبِ اْلعَقْدِ أَوْ فِى مَجْلِسِهِ وَذَلِكَ لأَنَّ الْمَمْلُوْكَ بِالْمُعَاوَضَةِ قَدْ يُقْصَدُ بِهِ التِّجَارَةُ وَقَدْ يُقْصَدُ بِهِ غَيْرُهَا فَلاَ بُدَّ مِنْ نِيَةٍ مُمَيِّزَةٍ إِنْ لَمْ يُجَدِّدْهَا فِى كُلِّ تَصَرُّفٍ بَعْدَ الشِّرَاءِ بِجَمِيْعِ رَأْسِ الْمَالِ ثَالِثُهَا أَنْ لاَ يُقْصَدَ بِالْمَالِ الْقِنْيَةِ وَهِيَ اْلإِمْسَاكِ لِلاِنْتِفَاعِ رَابِعُهَا مُضِىُّ حَوْلٍ مِنَ اْلمِلْكِ خَامِسُهَا أَنْ لاَ يَنِضَّ جَمِيْعُهُ أَىْ مَالُ التِّجَارَةِ مِنَ الْجِنْسِ نَاقِصًا عَنِ النِّصَابِ فيِ أَثْنَاءِ الْحَوْلِ فَإِنْ نَضَّ كَذَلِكَ ثُمَّ اشْتَرَى بِهِ سِلْعَةً لِلتِّجَارَةِ فَابْتِدَاءُ الْحَوْلِ يَكُوْنُ مِنَ الشِّرَاءِ سَادِسُهَا أَنْ تَبْلُغَ قِيْمَتُهُ آخِرَ الْحَوْلِ نِصَابًا وَكَذَا إِنْ بَلَغَتْهُ دُوْنَ نِصَابٍ وَمَعَهُ مَا يَكْمُلُ بِهِ كَمَا لَوْ كَانَ مَعَهُ مِائََةُ دِرْهَمٍ فَابْتَاعَ بِخَمْسِيْنَ مِنْهَا وَبَلَغَ مَالُ التِّجَارَةَ آخِرَ الْحَوْلِ مِائَةً وَخَمْسِيْنَ فَيُضَمُّ لِمَا عِنْدَهُ وَتَجِبُ زَكَاةُ الْجَمِيْعِ اهـ مُلَخَّصًا مِنَ اْلبُجَيْرَمِى وَقَوْلُهُ قِيْمَةُ اْلعَرْضِ بِفَتْحِ اْلعَيْنِ وَسُكُوْنِ الرَّاءِ اِسْمٌ لِكُلِّ مَا قَابَلَ النَّقْدَيْنِ مِنْ صُنُوْفِ اْلأَمْوَالِ وَيُطْلَقُ أَيْضًا عَلَى مَا قَابَلَ الطُّوْلَ وَبِضَمِّ اْلعَيْنِ مَا قَابَلَ النَّصْلَ فِى السِّهَامِ وَبِكَسْرِهَا مَحَلُّ الذَّمِّ وَالْمَدْحِ مِنَ اْلإِنْسَانِ وَبِفَتْحِ اْلعَيْنِ وَالرَّاءِ مَعًا مَا قَابَلَ الْجَوْهَرَ وَاحْتَرَزَ بِقَوْلِهِ قِيْمَةٌ عَنْ نَفْسِ اْلعَرْضِ فَلاَ يَجُوْزُ إِخْرَاجُ زَكَاتِهِ مِنْهُ (وَاعْلَمْ) أَنَّ مَالَ التِّجَارَةِ يَقُوْمُ آخِرَ الْحَوْلِ بِمَا ملك بِهِ إِنْ مُلِكَ بِنَقْدٍ وَلَوْ فِى ذِمَّتِهِ فَإِنْ مُلِكَ بَغَيْرِ نَقْدٍ كَعَرْضٍ وَنِكَاحٍ وَخُلْعٍ فَبِغَالِبِ نَقْدِ اْلبَلَدِ وَقَوْلُهُ فِى مَالِ تِجَارَةٍ مُتَعَلِّقٌ بِيَجِبُ وَلاَ يَخْفَى مَا فِى عِبَارَتِهِ مِنَ الرَّكَاكَةِ إِذِ اْلعَرْضُ الَّذِى يَجِبُ رُبُعُ عُشُرِ قِيْمَتِهِ هُوَ مَالُ التِّجَارَةِ وَلَوْ حُذِفَ لَفْظُ اْلعَرْضِ ولفظة فِى لَكَانَ أَوْلَى وَأَخْصَرَ وَالتِّجَارَةُ هِىَ تَقْلِيْبُ اْلمَالِ اْلمَمْلُوْكِ بِاْلمُعَاوَضَةِ بِالنِّيَةِ كَشِرَاءٍ سَوَاءٌ كَانَ بِعَرْضٍ أَمْ نَقْدٍ أَمْ دَيْنٍ حَالٍّ أَمْ مَؤَجَّلٍ وَخَرَجَ بِذَلِكَ مَا مُلِكَ بِغَيْرِ مُعَاوَضَةٍ كَإِرْثٍ فَإِذَا تَرَكَ لِوَرَثَتِهِ عُرُوْضَ تِجَارَةٍ  لَمْ تَجِب عَلَيْهِمْ زَكَاتُهَا وَكَهِبَةٍ بِلاَ ثَوَابٍ

Artinya: “Ketahuilah sesungguhnya zakat tijaroh itu mempunyai enam syarat sebagai tambahan  dari keterangan yang telah lalu tentang zakat emas dan perak:

1.   Kepemilikan harta tersebut harus dengan proses tukar menukar itu ada dua macam:

a.    Murni tukar menukar yaitu sesuatu yang bisa rusak karena rusaknya bandingannya. Seperti jual beli.

b.    Tukar menukar yang tidak murni yaitu sesuatu yang tidak bisa rusak karena rusaknya bandingannya.

2.   Ketika proses tukar menukar pada waktu aqad atau di dalam majlis aqad harus disertai niat tijaroh (berdagang). Hal itu karena  sesuatu yang dimiliki karena proses tukar menukar kadang-kadang diniatai tijaroh (berdagang) dan kadang-kadang tidak. Oleh karena itu harus ada niat yang bisa membedakan. Jika setelah pembelian tidak diperbaharuinya dalam setiap transaksi dengan seluruh modalnya.

3.   Harta tersebut tidak untuk ditahan/disimpan sehingga tidak bisa  d ambil manfaatnya.

4.   Sudah mencapai haulnya (satu tahun).

5.   Seluruh jenis harta perdagangan tidak berupa emas perak yang kurang dari nishobnya dalam pertengahan haul. Jika berupa emas perak kemudian digunakan untuk membeli harga perdagangan maka permulaan haulnya terhitung mulai dari pembeliannya.

6.   Nilai harga perdagangan telah mencapai satu nishob di akhir tahun, demikian juga harta perdagangan tersebut telah mencapai satu tahun tetapi kurang dari satu nishob tetapi disertai sesuatu yang menjadi kesempurnaannya sebagaimana seseorang mempunyai 100 dirham, kemudian ia membeli dengan 50 dirham di akhir tahun harta perdagangannya mencapai 150, maka dalam hal ini semuanya dikumpulkan dan wajib dizakati semuanya, demikian keterangan dari kitab al-Bujairomi.

Nilai harga (qimah al arodh) di situ maksudnya adalah nama seluruh harta perdagangan yang bisa dikurs dengan emas perak. Juga bermakna permukaan ranjang, jika ainnya dibaca dhommah (urdh) berarti permukaan busur panah, jika dibaca kasroh ainnya (irdh) berarti bermakna tempat darahnya manusia, dan jika dibaca fathah ain dan ro’nya (aradh) berarti bermakna permukaan mutiara. Dari kata qimah an nafsi al ardhi (nilai harga dari perdagangan murni) mengecualikan tidak wajib mengeluarkan zakat perdagangan dari perdagangan tersebut. Ketahuilah bahwa harta perdagangan di akhir tahun harus dilakukan perhitungan ulang dengan sesuatu yang ia miliki berupa emas perak (dikruskan) meskipun dalam tanggungannya. Jika harta tersebut dimiliki (kurskan) dengan selain emas perak seperti harta benda murni berupa dagangan, nikah, khulu’, maka harus dikruskan dengan kebanyakan mata uang Negara. Kata-kata mal al-tijaroh (harta perdagangan) berkolerasi dengan kata-kata yajibu (wajib) dan tidak samar lagi bahwa apa yang ada pada redaksinya terdapat kelemahan karena harta perdagangan yang wajib dizakati adalah 2,5% dari nilai krusnya dan inilah harta perdagangannya. Seandainya kata al ardh dan kata fi dibuang niscaya lebih utama dan lebih ringkas. Tijaroh (perdagangan) adalah mengembangkan harta yang dimiliki dengan proses tukar-menukar dengan disertai niat. Seperti untuk jual beli baik dengan harta barang atau dengan emas perak, kredit atau cesh kecuali harta yang dimiliki tidak dengan cara tukar menukar seperti dengan cara waris, maka jika seseorang meniggalkan harta perdagangan kepada ahli warisnya maka mereka tidak wajib zakat seperti juga hibah tanpa imbalan”.



[1]Pertanyaan Bahtsul Masail PCNU Jombang ke-II, tanggal 22 Juni 2003 di Masjid Kauman Utara Jombang

[2]CATATAN: Lepas dari ada tidaknya dalil yang melegalkan  zakat di atas, bahwasanya cara zakat seperti ini tidak dianggap benar dengan pertimbangan sbb : a). Proses pengeluaran zakat dalam kasus ini tidak menunggu satu tahun, akan tetapi dikeluarkan setiap bulan melalui pemotongan gaji, padahal kalau mengikuti aturan zakat tijaroh harushaul dan nishab. b). Tidak adanya niat dan serah terima dari muzakki secara langsung,/yang mewakilinya, atau tidak ada pemaksaan dari imam terhadap mumtani’uzzakat (orang yang tidak mau membayar zakat) dalam kasus ini, padahal dalam aturan zakat harus ada niat dari muzakki, atau pemaksaan dari imam, dan khusus untuk pemaksaan itu hanya terbatasi dengan kewajiban zakat mal dlahir, sementara gaji karyawan atau pegawai negeri termasuk mal bathin.

[3]al-Syarwani: IV/360-362

[4]al-Dimyathi, I’anatuth …….., Juz:II, hal : 152

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.