BAB IV: Perekonomian, (01) Jual Beli Sende

BMPCNU_2002-2012_Sampul

BAB: IV

PEREKONOMIAN

 01.Jual Beli Sende [1]

Deskripsi Masalah

Mohon peninjauan ulang tentang hukum jual beli sende (karena jual beli ini masih diragukan oleh masyarakat dan sudah telanjur membudaya di masyarakat) yaitu penjualan barang dengan perjanjian sebelum akad, bahwa barang tersebut akan dibeli lagi dengan harga tertentu.

Pertanyaan :

Sah atau tidak jual beli semacam ini?

Jawaban :

Diperbolehkan apabila persyaratan tersebut dilakukan di luar akad (ghair as-shulb al-aqd).

Keterangan dari kitab: Bughyah al-Mustarsyidin[2]:

(مسألة ب) بَيْعُ اْلعُهْدَةِ اْلمَعْرُوْفُ صَحِيْحٌ جَائِزٌ وَتَثَبَتْ بِهِ الْحُجَّةُ شَرْعًا وَعُرْفًا عَلَى قَوْلِ اْلقَائِلِيْنَ بِهِ وَقَدْ جَرَى عَلَيْهِ اْلعَمَلُ فِى غَالِبِ جِهَاتِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ زَمَنٍ قَدِيْمٍ وَحَكَمَتْ بِمُقْتَضَاهُ الْحُكَّامُ وَاَقَرَّهُ مَنْ يَقُوْلُ بِهِ مِنْ عُلَمَاءِ اْلإِسْلاَمِ مَعَ أَنَّهُ لَيْسَ مِنْ مَذْهَبِ الشَّافِعِىِّ وَاِنَّمَا اِخْتَارَهُ مَنْ اِخْتَارَهُ وَلِفِقْهٍ مِنْ مَذَاهِب لِلضَّرُوْرَةِ الْمَاسَّةِ اِلَيْهِ وَمَعَ ذَلِكَ فَاْلإِخْتِلاَفُ فِى صِحَّتِهِ مِنْ أَصْلِهِ وَفِى التَّفْرِيْعِ عَلَيْهِ لاَيَخْفَى عَلَى مَنْ لَهُ إِلْمَامٌ بِاْلفِقْهِ وَصُوْرَتُهُ اَنْ يَتَّفَقَ الْمُتَبَايِعَانِ عَلَى اَنَّ اْلبَائِعَ مَتَى اَرَادَ رُجُوْعَ الْمَبِيْعَ اِلَيْهِ اَتَى بِمِثْلِ الثَّمَنِ الْمَعْقُوْدِ عَلَيْهِ وَلَهُ اَنْ يُقَيَّدَ الرُّجُوْعَ بِمُدَّةٍ فَلَيْسَ لَهُ اْلفَكُّ اِلاَّبَعْدَ مُضِيِّهَا ثُمَّ بَعْدَ الْمُوَاطَأَةِ يُعْقِدَانِ عَقْدًا صَحِيْحًا بَلاَشَرْطٍ اِذْ لَوْوَقَعَ شَرْطُ اْلعُهْدَةِ الْمَذْكُوْرِ فِى صُلْبِ اْلعَقْدِ اَوْبَعْدَهُ فِى زَمَنِ الْخِيَارِ أَفْسَدَهُ فَلْيَنْتَبَهْ لِذَلِكَ فَإِنَّهُ مِمَّا يَغْفُلُ عَنْهُ ثُمَّ اِذَا اِنْعَقَدَ اْلبَيْعُ الْمَذْكُوْرُ فَلِلْمُتَعَهِّدَ وَوَارِثُهُ التَّصَرُّفُ فِيْهِ تَصَرُّفَ الْملاَكَ بِبَيْعٍ وَغَيْرِهِ وَلَوْ بِأَزْيَدَ مِنَ الثَّمَنِ اْلأَوَّلِ فَإِذَا اَرَادَ الْمُعَهَّدُ اْلفَكَّ اَتَى بِمِثْلِ مَا بَذَلَهُ لِلْمُتَعَهِّدِ وَيَرْجِعُ هَذَا الْمُتَعَهِّدُ عَلَى الْمُتَعَهِّدِ مِنْهُ فَيَبْذُلُ لَهُ مِثْلَ مَا وَقَعَ عَلَيْهِ اْلعَقْدُ بَيْنَهُمَا وَيُفْسَخَ عَلَيْهِ ثُمَّ يُفْسَخُ هُوَ عَلَى الْمُعَهِّدِ اْلأَوَّلِ وَوَارِثِ كُلٍّ كَمُوَرِّثِهِ اهـ

Artinya:“Jual beli bertempo yang sudah jelas hukumnya boleh dan sah dan ini sudah bisa dijadikan ketetapan hujjah secara syara’ maupun secara urfi, pendapat yang mengatakan kebolehannya transaksi ini sudah berlangsung di kebanyakan daerah kaum muslimin sejak zaman dulu dan sudah ditetapkan menjadi keputusan para hakim dan diakui  oleh kebanyakan para ulama’, padahal persoalan ini bukan dari pendapat madhab syafi’i, pada hakekatnya pendapat ini dipilih oleh banyak orang karena dhorurat yang sangat mendesak. Meskipun demikian pada dasarnya perselisihan mengenai keabsahan jual beli sende ini dan segala macam cabangnya tidak samar bagi orang yang sudah menguasai ilmu fiqih. Gambarannya : penjual dan pembeli telah bersepakat apabila penjual sewaktu-waktu ingin menarik kembali barang yang telah dijual maka ia harus menyerahkan harga umumnya (tsaman mitsilnya) ia boleh membatasi untuk penarikan kembali barang yang sudah dijual itu dengan suatu masa tertentu sehingga ia tidak boleh lepas kecuali telah melewati masa itu, kemudian setelah terjadi serah terima kedua penjual dan pembeli itu melakukan transaksi dengan transaksi yang sah tanpa ada satu syarat. Sebab jika terjadi syarat untuk masa tertentu dalam internal aqad atau sesudahnya tetapi masih di dalam masa khiyar, maka transaksi jual beli sende itu di hukumi fasid (tidak sah)”.



[1]Pertanyaan Bahtsul Masail PCNU Jombang ke-III, tanggal 5 Oktober 2003 di Masjid Bogem Diwek Jombang

[2] Ba’alawi, Bughyah………, hal:  133.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.