BAB IV: Perekonomian, (03) Status Hukum Sarang Burung Walet

BMPCNU_2002-2012_Sampul

03.Status Hukum Sarang Burung Walet

Deskripsi Masalah

Sarang burung (walet) jika sudah bertempat dengan tenang di suatu tempat, dapat menghasilkan uang jutaan rupiah.

Pertanyaan :

Bagaimana hukum memelihara burung walet yang sedang bersarang di menara masjid? (NU Ranting Keras Diwek)

Jawaban :

Boleh dengan catatan : a). Burung tersebut ada dengan sendirinya. B). Keadaan burung tersebut tidak sampai mengubah masjid menjadi sarang burung walet.

Keterangan dari kitab:

Fathul Jawad[1]:

قَالَ الْمُصَنِّفُ وَغَيْرُهُ وَلَعَلَّهُ اَرَادَ بِالْإِقْتِنَاءِ أَنَّهَا اِذَا عَاشَتْ فِىْ الْمَسْجِدِ تُرِكَتْ وَلَمْ يَجِبْ تَنْفِيْرُهَا مِنْ خَوْفِ الذَّرْقِ وَأَمَّا اِدْخَالُهَا قَصْدًا وَتَرْكُهَا فِىْ الْمَسْجِدِ فِلَا يَنْبَغِيْ تَجْوِيْزُهُ وَاِنْ قُلْنَا بِطَهَارَةِ بَوْلِهَا وَرَوْثِهَا لِأَنَّ تَنْزِيْهَ الْمَسْجِدِ مِنَ الْمُسْتَقْذَرَاتِ الطَّاهِرَةْ وَاجِبٌ (قَوْلُهُ تُرِكَتْ) قَالَ النَّاظِمُ لَوْ نَزَلَ طَيْرٌ فِىْ مَسْجِدٍ حَرُمَ تَنْفِيْرُهُ وَاِنْ عُلِمَ أَنَّهُ يَبُوْلُ فِيْهِ وَيَذُوْقُ وَلَا يَجِبُ تَنْحِيَةُ فَرَاخِهِ مِنَ الْمَسْجِدِ وَلَا مِنْ غَيْرِهِ

Artinya : Jika terdapat seekor burung yang hidup dalam sebuah bangunan masjid, maka tidak ada sebuah kewajiban untuk mengusirnya karena takut akan kotoran burung tersebut, Adapun menyengaja memelihara burung di dalam masjid, maka hukumnya tidak diperbolehkan, walaupun kita menghukumi suci akan kotorannya, karena hukum membersihkan masjid dari kotoran adalah wajib.



[1]Ibnu Hajar al-Haitami, Fathul Jawad, (Mesir: Maktabah al-Babi al-Halabi, tth.), hal: 30

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.