BAB IV: Perekonomian, (05) Jual-Beli Sistem Tebas (Borongan)

BMPCNU_2002-2012_Sampul

05. Jual-Beli Sistem Tebas (Borongan)

Deskripsi

Pola pikir praktis dan efisien ternyata telah merambah di berbagai komunitas masyarakat, tak terkecuali komunitas petani, di mana di saat padi yang mereka tanam telah menguning dan layak di konsumsi, mereka sering tak memanen dan membawanya pulang untuk ketahanan pangan mereka sendiri, tetapi padi yang telah menguning di sawah tersebut ditebaskan pada para tengkulak dengan alasan tertentu tanpa menyisakan untuk dirinya atau zakat yang harus dikeluarkan sebagimana lazimnya.

Pertanyaan :

a.Bagaimana hukum jual beli dengan sistem tebas sebagaimana di atas?

Jawaban :

Boleh

Keterangan dari kitab:

Hasyiyah Al-Bajuri[1]:

وَلَا يَجُوْزُ بَيْعُ الثَّمْرَةِ الْمُنْفَرِدَةِ عَنِ الشَّجَرَةِ مُطْلَقاًعَنْ شَرْطِ الْقَطْعِ اِلَّا بَعْدَ بُدُوِّ اَيْ ظُهُوْرِ صَلَاحِهَا وَهُوَ فِيْمَا لَا يَتَلَوَّنُ اِنْتِهَاءُ حَالِهَا اِلَى مَا يُقْصَدُ مِنْهَا غَالِبًا كَحَلَاوَةِ قَصْبٍ وَحَمُوْضَةِ رُمَّانٍ وَلِيْنِ طِيْنٍ وَفِيْمَا يَتَلَوَّنُ بِأَنْ يُأْخَذَ فِىْ حُمْرَةٍ اَوْ أَسْوَدَ كَالْعِنَابِ وَالْاِجَّاصِ وَالْبَلْحِ وَأَمَّا قَبْلَ بُدُوِّ الصَّلاّحِ فَلَا يَصِحُّ مُطْلَقًا لَا مِنْ صَاحِبِ الشَّجَرَةِ وَلَا مِنْ غَيْرِهِ اِلَّا بِشَرْطِ الْقَطْعِ اهـ

Artinya :Tidak boleh menjual buah yang terpisah dari pohonnnya tanpa syarat memetik kecuali setelah tampak layak makannya, yaitu mencapai keadaan yang dikehendaki pada umumnya pada sesuatu yang tidak berubah warnanya, seperti manisnya tebu, masamnya delima dan lemasnya tin. Dan pada sesuatu yang berubah warna mencapai warna yang dihehendaki seperti warna merah atau hitam, seperti anggur, dan kurma mentah . Adapun menjual buah sebelum tampak layak makannya tidak sah secara mutlak baik pada pemilik pohon atau orang lain kecuali dengan syarat memetik

b. Apakah petani di atas masih berkewajiban zakat?

Jawaban :

Masih wajib zakat

Keterangan dari kitab:

a). Hasyiyah Al-Jamal[2]:

وَلَوْ اشْتَرَى أَوْ وَرِثَ نَخِيلًا مُثْمِرَةً وَبَدَا الصَّلَاحُ عِنْدَهُ فَالزَّكَاةُ عَلَيْهِ لَا عَلَى مَنْ انْتَقَلَ الْمِلْكُ عَنْهُ لِأَنَّ السَّبَبَ إنَّمَا وُجِدَ فِي مِلْكِهِ ا هـ .

Artinya :Apabila seseorang membeli atau menerima warisan pohon kurma yang berbuah dan tampak layak makannya di tangannya, maka zakat wajib baginya, tidak bagi orang yang kepemilikan pindah kepadanya, karena sebab zakat berada pada miliknya.

b). Ghoyah Al-Talkhish[3]:

اِشْتَرَى نَخْلاً بَعْدَ بُدُوِّ صَلَاحِهِ لَزِمَ الْبَائِعَ زَكَاتُهُ

Artinya :Seseorang membeli pohon kurma setelah tampak layak makannya, maka bagi penjual tersebut wajib mengeluarkan zakat pohon tersebut

c. Bagaimana cara zakat yang dilakukan para petani jika mereka masih berkewajiban zakat?

Jawaban :

Dengan cara mengeluarkan zakat dari salah satu tsamannya, jenis barangnya atau qimah (harga beras)

Keterangan dari kitab:

a).Al-Majmu’[4]:

فَإِنْ صَحَّحْنَا فِيْ الْجَمِيْعِ نُظِرَ إِنْ أَدَّى اْلبَائِعُ الزَّكَاةَ مِنْ مَوْضِعٍ آخَرَ فَذَاكَ وَإِلاَّ فَلِلسَّاعِيْ أَنْ يَأْخُذَ مِنْ غيْرِ الْمَالِ مِنْ يَدِ الْمُشْتَرِيْ قَدْرَ الزَّكَاةِ عَلَى جَمِيْعِ الْأَقْوَالِ بِلَا خِلَافٍ .

Artinya :Apabila kita shahkan jual beli pada seluruhnya, maka diperinci, apabila penjual menggunakan barang lain untuk zakat, maka sudah jelas. Dan apabila tidak, maka bagi pengambil kadar zakat dari selain harta dari penjual  yang berada di tangan pembeli mengikuti semua pendapat tanpa ada perbedaan.

b).Al-Fatawa Al-Kubro[5]:

وَيَجُوزُ إخْرَاجُ الْقِيمَةِ فِي الزَّكَاةِ لِعَدَمِ الْعُدُولِ عَنْ الْحَاجَةِ وَالْمَصْلَحَةِ مِثْلُ أَنْ يَبِيعَ ثَمَرَةَ بُسْتَانِهِ أَوْ زَرْعَهُ فَهُنَا إخْرَاجُ عُشْرِ الدَّرَاهِمِ يُجْزِئُهُ وَلَا يُكَلَّفُ أَنْ يَشْتَرِيَ تَمْرًا أَوْ حِنْطَةً فَإِنَّهُ قَدْ سَاوَى الْفَقِيرَ بِنَفْسِهِ.

Artinya :Boleh mengeluarkan qimah dalam zakat karena tidak memindah unsur kebutuhan dan kemaslahatan, seperti membeli buah pada sebuah kebun atau tanaman, maka dalam permasalahan ini mengeluarkan sepuluh dirham mencukupinya, dan dia tidak diperintah untuk membeli kurma atau gandum, karena ia telah menyamai orang faqir dengan sendirinya[6]

d. Apakah biaya produksi seperti pupuk urea dan obat-obat pertanian lainnya yang semakin mahal berpengaruh pada prosentase zakat padi menjadi nisful usyur (5 %) ?

Jawaban :

Biaya tersebut tidak berpengaruh terhadap kewajiban mengeluarkan zakat sesuai prosentase yang telah ditetapkan syara’, yaitu 10 % bila kebutuhan air tanpa biaya, dan 5 % bila kebutuhan air mengeluarkan biaya, dan 7,5 % bila kadang mengeluarkan biaya, kadang tidak.

Keterangan dari kitab:

a). Fatawa Al ‘Alamah Syekh Muhammad[7]:

(بَابُ زَكَاةِ النَّبَاتِ) سُئِلَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فِىْ أَهْلِ بَلَدٍ يَعْتَادُوْنَ تَسْمِيْدَ أَشْجَارِهِمْ بَدَلَ السِّقَايَةِ وَيَرَوْنَ أَنَّهَا لِنُمُوِّ الثَمْرَةِ مِنَ السِّقَايَةِ لَهَا وَيُخْرِجُوْنَ عَلَى ذَلِكَ خَرْجَ السِّقَايَةِ بَلْ أَكْثَرَ فَهَلْ يَجِبُ عَلَى مَالِكِ الْأَشْجَارِ الْعُشْرُ اَوْ نِصْفُهُ وَأَيْضًا هَلْ يُكْرَهُ أَكْلُ الثَّمْرَةِ مِنْ أَجْلِ التَّسْمِيْدِ أَمْ لَا وَكَذَلِكَ إِذَا كَانُوْا يَعْتَادُوْنَ تَحْرِيْثَ أَشْجَارِهِمْ بَدَلَ السِّقَايَةِ مَا حُكْمُهُ فِىْ وُجُوْبِ الزَّكَاةِ أَفْتُوْنِىْ مَأْجُوْرِيْنَ ؟ فَأَجَابَ عَفَا اللهُ عَنْهُ بِقَوْلِهِ التَّسْمِيْدُ وَالتَّحْرِيْثُ لاَ يُغَيِّرُ حُكْمَ الْوَاجِبِ فَيَجِبُ نِصْفُ الْعُشْرِ اِنْ سُقِيَتْ بِمُؤْنَةٍ وَالِاَّ فَالْوَاجِبُ الْعُشْرُ وَلَا يُكْرَهُ أَكْلُ الثَّمَرِ وَاِنْ ظَهَرَ رِيْحُ النَّجِسِ فِيْهِ وَاللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَعْلَمُ اهـ

Artinya :Syekh Muhammad ditanya tentang penduduk desa yang memupuk tanamannya sebagai pengganti penyiraman, dan mereka meyakini pemupukan tersebut lebih menambah hasil buah daripada penyiraman, merka mengeluarkan biaya pupuk seperti biaya penyiraman bahkan lebih banyak. Apakah wajib bagi pemilik pohon sepersepuluh atau setengahnya, dan apakah juga makruh memakan buah karena pemupukan atau tidak. Dan begitu juga ketika mereka membiasakan menjaga pohon mereka pengganti penyiraman, bagaimana hukumnya dalam kewajiban zakat, berfatwalah kepadaku semoga engkau diberi pahala! Syekh Muhammad menjawab pemupukan dan penjagaan tersebut tidak mengubah kewajiban zakat, maka wajib mengeluarkan setengah dari sepersepuluh (5 %) bila penyiraman menggunakan biaya, dan bila tidak maka yang wajib adalah sepersepuluh, dan tidak makruh memakan buah pohon tersebut meskipun keluar bau najis

b).Tarsyih Al-Mustafidin[8]:

وَعِبَارَةُ شرْحِ الْمَنْهَجِ وَمُؤْنَةُ جَذَاذِ الثَّمَرِ وَتَجْفِيفِهِ وَحَصَادِ

الْحَبِّ وَتَصْفِيَتِهِ مِنْ خَالِصِ مَالِ الْمَالِكِ لَا يُحْسَبُ شَيْءٌ مِنْهَا

مِنْ مَالِ الزَّكَاةِاهـ

 

Artinya :Biaya pemotongan, pengeringan buah dan pemanenan, pemilihan biji murni dari harta pemiliknya tidak dihitung dari harta zakat.

 



[1] al-Bajuri, Hasyiyah Al-Bajuri,  juz : 1…………….., hal : 350.

[2]Sulaiman Ibn al-Manshur al-Mishri, Hasyiyyatul Jamal ‘Ala Fath al-Wahhab, Juz:VII, (Beirut: Dar al-Fikr, tth.), hal: 375.

[3]Ibnu Ziyad, Ghoyah Al-Talkhish…………….., hal : 110

[4]Muhyidin Al-Nawawi, Al-Majmu’ ‘Ala Syarkh al-Muhadzab, Juz: V (Kaero, Maktabah al-‘Ashim, tth.), hal: 468.

[5]Al-Fatawa Al-Kubro, juz 5 hal : 373

[6]Bandingkan dalam kitab  Al-Furu’,  juz : 4 hal : 272, yang redaksinya:

وَإِنْ بَاعَ النِّصَابَ قَبْلَ إخْرَاجِ زَكَاتِهِ وَصَحَّ فِي الْمَنْصُوصِ ( و ) فَعَنْهُ : لَهُ أَنْ يُخْرِجَ مِنْ ثَمَنِهِ وَأَنْ يُخْرِجَ مِنْ جِنْسِ النِّصَابِArtinya :Apabila menjual harta satu nishob sebelum mengeluarkan zakatnya, dan jual belinya sah, maka dia boleh mengeluarkan zakat dari tsamannya, dan boleh dari jenis harta nishob tersebut.

[7]Fatawa Al ‘Alamah Syekh Muhammad, hal :100

[8]‘Alawi al-Syaqofi, Tarsyikh al-Mustafiddin ‘ala Fathul Mu’in, (Beirutr: Dar al-Fikr, tth.), hal: 147

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.