BAB IX: Masail Syatta (Lain-Lain), (03) Nadzar

03.  Nadzar [1]

Deskripsi Masalah :

Ada orang nadzar sebagai berikut : Apabila tujuan saya berhasil, maka saya akan menghajikan kedua orang tua saya, setelah tujuannya berhasil, ternyata orang tuanya tidak mau dihajikan. Karena orang tuanya mau haji sendiri kemudian ia berkata kepada anaknya bahwa uang tersebut sebaiknya dipakai anaknya untuk naik haji sendiri atau dimanfaatkan sebagai modal kerja.

Pertanyaan :

a)   Bagaimana seandainya anaknya naik haji dengan biaya (uang yang telah dipersiapkan untuk biaya haji orang tuanya tersebut)?

b)   Bagaimana pula seandainya uang tersebut dipakai untuk modal kerja anaknya tersebut?

c)   Dan bagaimana pula seandainya uang tersebut dilimpahkan kepada orang lain sebagai ganti nadzar yang semula untuk orang tuanya?

Jawaban :

a)   Boleh, dengan catatan : seyogyanya orang tua mewujudkan nadzar anaknya, jika tidak melaksanakan nadzar maka wajib kafarah.

b)  Boleh

c)   Tidak boleh

Keterangan dari kitab : Fathul Mu’in[2]:

وَلاَ يُشْتَرَطُ قَبُوْلُ اْلمَنْذُوْرِ لَهُ فِي قِسْمَيِ النَّذْرِ وَلاَاْلقَبْضُ بَلْ يُشْتَرَطُ عَدَمُ رَدِّهِ

Artinya: Dalam kasus orang yang bernadzar dengan yang dinadzari itu tidak disyaratkan adanya perkara yang dinadzari itu diserah terimakan oleh keduanya, akan tetapi yang disyaratkan hanyalah tidak adanya penolakan adanya nadzar itu sendiri



[1]Pertanyaan Bahtsul Masail PCNU Jombang ke-II, tanggal 22 Juni 2003 di Masjid Kauman Utara Jombang

[2] al-Mulaibari, Fathul Mu’in, (Beirut: Dar al-Fikr, tth.), hal: 65

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*