BAB V: PIDANA Dan KRIMINALITAS, (01). Hukum Pancung [1]

BMPCNU_2002-2012_Sampul

01.  Hukum Pancung [1]

Deskripsi Masalah :

Dalam realita yang berkembang di negara-negara Arab Saudi dan lainnya, ketika ditemukan kasus tindakan kejahatan kriminal semacam perkosaan dan lain-lain, hukum qishos yang dipraktekkan adalah memenggal kepala pelaku tindak pidana dan ini sudah barang tentu dipandang minor (negatif) oleh beberapa pakar hukum positif bahwa hokum  Islam itu kejam dan lain-lain.

Pertanyaan :

a.    Apakah dalam hukum pancung itu bisa dialihkan dengan misalnya suntikan mematikan?

Jawaban

Menurut keterangan kitab at-Tasyri’ al-Jina’i al-Islami, eksekusi dengan menggunakan suntik dapat menggantikan sanksi qishos, selama metode suntik ini lebih mempercepat dan meminimalisasi rasa sakit lebih efektif dibandingkan dengan eksekusi menggunakan pedang.

Keterangan dari kitab:

al-Tasyri’ al-Jinaiy Fil Islam[2]:

هَلْ يَجُوْزُ اْلاِسْتِيْفَاءُ بِمَا هُوَ أَسْرَعُ مِنَ السَّيْفِ؟: اْلأَصْلُ فِي اخْتِيَارِ السَّيْفِ أَدَاةً لِلْقِصَاصِ أَنَّهُ أَسْرَعُ فِي اْلقَتْلِ وَأَنَّهُ يُزْهِقُ رُوْحَ الْجَانِيْ بِأَيْسَرَ مَا يُمْكِنُ مِنَ اْلأَلَمِ وَاْلعَذَابِ فَإِذَا وُجِدَتْ أَدَاةٌ أُخْرَى أَِسْرَعُ مِنَ السَّيْفِ وَأَقَلُّ إِيْلاَمًاً فَلاَ مَانِعَ شَرْعًاً مِنَ اسْتِعْمَالِهَا “فَلاَ مَانِعَ شَرْعًاً مِنَ اسْتِيْفَاءِ اْلقِصَاصِ بِالْمقصَلةِ وَاْلكُرْسِيِّ اْلكَهْرَبَائِي وَغَيْرِهِمَا مِمَّا يَفْضِيْ إِلَى الْمَوْتِ بِسُهُوْلَةٍ وَإِسْرَاعٍ وَلاَ يَتَخَلَّفُ الْمَوْتُ عَنْهُ عَادَةً وَلاَ يُتَرَتَّبُ عَلَيْهِ تَمْثِيْلٌ بِاْلقَاتِلِ وَلاَ مُضَاعَفَةُ تَعْذِيْبِهِ، أَمَّا الْمقصلَةُ فَلأَنَّهَا مِنْ قَبِيْلِ السّلاَحِ الْمُحَدَّدُ وَأَمَّا اْلكُرْسِيُّ اْلكَهْرَبَائِيُّ فَلأَنَّهُ لاَ يَتَخَلَّفُ الْمَوْتُ عَنْهُ عَادَةً مَعَ زِيَادَةِ السُّرْعَةِ وَعَدَمِ التَّمْثِيْلِ بِاْلقَاتِلِ دُوْنَ أَنْ يَتَرَتَّبَ عَلَيْهِ مُضَاعَفَةُ التَّعْذِيْبِ”

Artinya: “Bolehkah mengeksekusi pidana dengan alat yang bisa mempercepat kematian semacam pedang? Pada dasarnya dalam memilih dan menetapkan pedang sebagai sarana qishos, logika sederhananya karena pedang bisa mempercepat kematian, di samping karena lebih mudah melenyapkan (menghilangkan) nyawa tanpa menyakiti dan menyiksa.

Oleh karena itu apabila ditemukan sarana lain yang lebih bisa mempercepat kematian selain pedang dan lebih sedikit menyakitkan, maka tidak ada halangan dari syara’ untuk menggunakannya (mempraktekkannya). Maka tidak ada halangan dalam syara’ mengeksekusi pidana qishos dengan alat pemenggal kepala atau kursi listrik, atau yang lain berupa sarana apa saja yang bisa mendatangkan kematian secara mudah dan cepat, di samping biasanya kematiannya tidak terlambat (langsung mati)”.

b.    Bolehkah diganti dengan hukum penjara?

Jawaban:

Sedangkan penjara tetap tidak bisa menggantikan qishos karena tidak sesuai dengan maqashid as-Syar’i dalam qishosh.

Keterangan dari kitab:

al-Tasyri’ al-Jinaiy Fil Islam[3]:

شُرُوْطُ اْلعُقُوْبَةِ: يُشْتَرَطُ فِي كُلِّ عُقُوْبَةٍ أَنْ تَتَوَفَّرَ فِيْهَا الشُّرُوْطُ اْلآتِيَةُ لِتَكُوْنَ عُقُوْبَةً مَشْرُوْعَةً: أَوَّلاً: أَنْ تَكُوْنَ اْلعُقُوْبَةُ شَرْعِيَّةً: وَتُعْتَبَرُ اْلعُقُوْبَةُ شَرْعِيَّةً إِذَا كَانَتْ تَسْتَنِدُ إِلَى مَصْدَرٍ مِنْ مَصَادِرِ الشَّرِيْعَةِ، كَأَنْ يَكُوْنَ مُرَدُّهَا اْلقُرْآنُ، أَوِ السَّنَةُ، أَوِ اْلإِجْمَاعُ، أَوْ صَدَرَ بِهَا قَانُوْنٌ مِنَ الْهَيْئَةِ الْمُخْتَصَّةِ، وَيُشْتَرَطُ فِي اْلعُقُوْبَاتِ الَّتِي يُقَرِّرُهَا أُوْلُوْ الأَمْرِ أَنْ لاَ تَكُوْنَ مُنَافِيَةً لِنُصُوْصِ الشَّرِيْعَةِ وَإِلاَّ كَانَتْ بَاطِلَةً وَيُتَرَتَّبُ عَلَى اِشْتِرَاطِ شَرْعِيَّةِ اْلعُقُوْبَةِ أَنَّهُ لاَ يَجُوْزُ لِلْقَاضِي أَنْ يُوْقِعَ عُقُوْبَةً مِنْ عِنْدِهِ وَلَوِ اعْتَقَدَ أَنَّهَا أَفْضَلٌ مِنَ اْلعُقُوْبَاتِ الْمَنْصُوْصِ عَلَيْهَا وَيَظُنُّ اْلبَعْضُ خَطَأً أَنَّ الشَّرِيْعَةَ تَمْنَحُ اْلقَاضِي سُلْطَةَ تَحَكُّمِيَّةَ فِي اْلعِقَابِ، وَهُوَ ظَنٌّ لاَ يَتَّفِقُ مَعَ اْلوَاقِعِ، وَلَيْسَ لَهُ مَصْدَرٌ إِلاَّ الْجَهْلَ بِأَحْكَامِ الشَّرِيْعَةِ، فَاْلعُقُوْبَاتُ فِي الشَّرِيْعَةِ تُقْسَمُ إِلَى حُدُوْدٍ وَقِصَاصٍ وَتَعَازِيْرَ، فَأَمَّا الْحُدُوْدُ وَاْلقِصَاصُ فَهِيَ عُقُوْبَاتٌ مُقَدَّرَةٌ مُعَيِّنَةٌ لَيْسَ لِلْقَاضِي حِيَالُهَا مِنْ سُلْطَانٍ إِلاَّ أَنْ يَحْكُمَ بِتَطْبِيْقِهَا كُلَّمَا كَانَتْ الْجُرَيْمَةُ ثَابِتَةً دُوْنَ أَنْ يَسْتَطِيْعَ تَخْفِيْفَهَا أَوْ تَشْدِيْدَهَا أَوْ اِسْتِبْدَالِ غَيْرِهَا بِهَا فَالسَّرِقَةُ مَثَلاً عُقُوْبَتُهَا القَطْعُ وَلَيْسَ لِلْقَاضِي إَذَا ثَبَتَتْ الجُرَيْمَةُ عَلَى الْجَانِي أَنْ يَحْكُمَ عَلَيْهِ بِغَيْرِ اْلقَطْعِ، إِلاَّ إِذَا كَانَ هُنَاكَ سَبَبٌ شَرْعِيٌّ يَمْنَعُ مِنْ عُقُوْبَةِ اْلقَطْعِ كَسَرِقَةِ اْلأَبِ مِنَ اْلاِبْنِ. وَالزِّنَا مِنْ غَيْرِ مُحْصَنٍ فَعُقُوْبَتُهُ الْجَلْدُ مِائَةً جَلْدَةً؛ فَإِذَا ثَبَتَ الزَّانِيَ حُكْمُ اْلقَاضِي بِالْجِلْدِ مِائَةً جَلْدَة، وَلَيْسَ لَهُ أَنْ يُنْقِصَ مِنْهَا وَاحِدَةً أَوْ يَزِيْدَ عَلَيْهَا وَاحِدَةً، وَلَيْسَ لَهُ أَنْ يَسْتَبْدِلَ بِالْجِلْدِ عُقُوْبَةً أُخْرَى. وَاْلقَتْلُ اْلعَمَدُ عُقُوْبَتُهُ اْلقِصَاصُ أَيِ اْلقَتْلُ, فَإِذَا ثَبَتَتْ الْجَرِيْمَةُ عَلَى الْجَانِي كَانَ عَلَى اْلقَاضِي أَنْ يَحْكُمَ بِاْلقِصَاصِ، وَلَيْسَ لَهُ أَنْ يَحْكُمَ بِعُقُوْبَةٍ أُخْرَى إِلا إِذَا كَانَ هُنَاكَ سَبَبٌ شَرْعِيٌّ يَمْنَعُ مِنَ اْلقِصَاصِ، فَسَلْطََةُ اْلقَاضِيْ فِي الْحُدُوْدِ وَاْلقِصَاصُ مَحْدُوْدَةٌ مُقَيَّدَةً.

Artinya:“Rentetan: persyaratan disyariatkan hukuman adalah: Tidak boleh bagi hakim untuk  berinisiatif menjatuhkan hukuman dari dirinya sendiri meskipun meyakini itu lebih baik dari hukuman yang telah dinash dan menyangka sebagian salah.Syariat memberikan kekuasaan tahkim dalam menentukan jenis hukuman kepada hakim. Ini adalah persangkaan yang tidak sesuai dengan kenyataan, tidak punya sandaran karena bodoh (tidak mengetahui) syariat.

Hukuman dalam syaria Islam terbagi menjadi tiga jenis, yaitu : 1. Had 2. Qishos 3. Ta’zir.

Had dan Qishos adalah jenis hukuman yang sudah ditentukan dalam syara’, lagi pula sudah jelas. Hakim tidak boleh merekayasa, tanpa bisa meringankannya atau memperberat bahkan menggantinya. Mencuri umpamanya hukumannya potong tangan. Dalam hal ini hakim tidak boleh menghukum selain potong tangan kecuali ada sebab syar’i yang menolak hukum potong, seperti kasus ayah mencuri harta anaknya.

Zina ghoiru muhson hukumannya adalah 100x cambukan. Ketika hakim sudah memutuskan kasus perzinahan harus dicambuk 100x, baginya tidak boleh menambah ataau menguranginya, juga tidak boleh diganti dengan hukuman yang lain.Pembunuhan sengaja hukumannya Qishosh (hukum balas) yaitu dibunuh. Ketika sudah ditetapkan kasus kriminalitas (pembunuhan) kepada seseorang, maka bagi hakim harus menghukumnya dengan hukuman qishosh, tidak boleh dialihkan dengan hukuman yang lain, kecuali ada sebab syar’i yang menolak hukum qishosh. Jadi kekuasaan hakim dalam pidana dan qishosh adalah kekuasaan yang terbatas.”

 



[1]Pertanyaan Bahtsul Masail PCNU Jombang ke-V, tanggal 11 Agustus 2004 di Masjid Tegalrejo Pucangsimo Bandarkedung Mulyo Jombang

[2]al-Tasyri’ al-Jinaiy Fil Islam:II/330

[3]al-Tasyri’ al-Jinaiy Fil Islam:II/188

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*