BAB VII: ASPEK SIYASI (POLITIK), (01) Oposisi Dalam Islam

BMPCNU_2002-2012_Sampul

BAB VII

ASPEK SIYASI (POLITIK)

01.  Oposisi Dalam Islam[1]

Deskripsi Masalah

Melihat dan mengamati kasus perpolitikan dewasa ini utamanya di Jawa Timur, mengisyaratkan kepada kita tentang kekecewaan yang sangat mendalam (kasus pilgup Jatim dan pilkada Jombang) ditambah dengan indikasi adanya gerakan oposisi di masa mendatang (menghadapi pemilu 2004)

Pertanyaan:

a.    Adakah wacana oposisi dalam Islam?

Jawaban:

Ada

b.Sahkah menyatakan diri sebagai oposan (baik secara pribadi maupun kelembagaan) menurut pandangan Islam?

Jawaban:

Boleh, selama menentang kebijakan pemerintah yang tidak sesuai dengan syariat Islam.

Keterangan dari kitab: al-Asybah wa al-Nadlair[2]:

وَمِنْهَا الأَمْرُ بِالْمَعْرُوْفِ وَالنَّهْيُ عَنِ الْمُنْكَرِ وَلاَيَخْتَصُّ بِأَرْبَابِ الْوِلاَيَاتِ وَلاَ بِالْعَادَاتِ وَلاَبِالْحُرِّ وَلاَبِالْبَالِغِ وَلاَيَسْقُطُ فِي ظَنِّ اَنَّهُ لاَيُفِيْدُ اَوْعَلِمَ ذَلِكَ عَادَةً مَالَمْ يَخَفْ عَلَى نَفْسِهِ اَوْمَالِهِ اَوْعَلَى غَيْرِهِ مَفْسَدَةً اَعْظَمَ مِنْ ضَرَرِ الْمُنْكَرِ الْوَاقِعِ

Artinya: “Di antaranya lagi adalah amar ma’ruf nahi mungkar, ini tidak hanya khusus bagi para penguasa saja dan juga tidak hanya bagi orang merdeka dan orang dewasa. Amar ma’ruf nahi mungkar ini tidak akan bisa gugur bagi orang yang menyangkanya tidak efektif (tidak berguna) atau dia yakin itu tidak efektif menurut kebiasaannya selagi ia tidak takut terhadap dirinya, hartanya atau lainnya, mafsadah yang lebih besar dari pada bahaya kemungkaran yang terjadi”.

c.    Bagaimana etika oposisi dalam kacamata fiqh?

Jawaban:

Harus dengan beberapa tahapan

1)   At-ta’rif (pemberitahuan,  mengingatkan)

2)   An-nushhu (nasehat),

3)   At-takhsin (bicara keras atau kasar),

Keterangan dari kitab:

a).Raudlatuth Tholibin[3]:

الفَصْلُ الثَّالِثُ فِي أَحْكَامِ الإِمَامِوَفِيْهِ مَسَائِلٌ : اِحْدَاهَا : تَجِبُ الطّاعَةُ الاِمَامِ بِأَمْرِهِ وَنَهْيِهِ مَالَمْ يُخَالِفْ حُكْمَ الشَّرْعِ سَوَاءٌ كَانَ عَادِلاً اَوْجَائِزًا.

Artinya: “Fasal ketiga tentang persoalan penguasa. Di dalamnya terdapat beberapa persoalan, di antaranya, wajib mematuhi penguasa dengan amar ma’rufnya dan nahi mungkarnya selagi tidak bertentangan dengan hukum syara’ baik itu penguasa adil atau penguasa yang menyeleweng”.

b). Ihya’ Ulumud Din[4]:

قَدْ ذَكَرْنَا دَرَجَاتِ اْلأَمْرِ بِالْمَعْرُوْفِ وَأَنَّ أَوَّلَهُ التَّعْرِيْفُ وَثَانِيْهِ الوَعْظُ وَثَالِثُهُ التَّخْشِيْنُ فِى اْلقَوْلِ وَرَابِعُهُ الْمَنْعُ بِاْلقَهْرِ فِى الْحَمْلِ عَلَى الْحَقِّ بِالضَّرْبِ وَاْلعُقُوْبَةِ وَالْجَائِزُ مِنْ جُمْلَةِ ذَلِكَ مَعَ السَّلاَطِيْنِ الرُّتْبَتَانِ الأُوْلَيَانِ وَهُمَا التَّعْرِيْفُ وَاْلوَعْظُ وَأَمَّا الْمَنْعُ بِاْلقَهْرِ فَلَيْسَ ذَلِكَ لآحَادِ الرَّعِيَّةِ مَعَ السُّلْطَانِ فَإِنَّ ذَلِكَ يُحَرِّكُ اْلفِتْنَةَ وَيُهَيِّجُ الشَّرَّ وَيَكُوْنُ مَا يُتَوَلَّدُ مِنْهُ مِنَ الْمَحْظُوْرِ أَكْثَرَ وَأَمَّا التَّخْشِيْنُ فِى اْلقَوْلِ كَقَوْلِهِ: يَا ظَالِمُ يَا مَنْ لاَ يَخَافُ اللهَ وَمَا يَجْرِى مَجْرَاهُ فَذَلِكَ إِنْ كَانَ يُحَرَّكُ فِتْنَةً يَتَعَدَّى شَرَّهَا إِلَى غَيْرِهِ لَمْ يَجُزْ وَإِنْ كَانَ لاَ يَخَافُ إِلاَّ عَلَى نَفْسِهِ فَهُوَ جَائِزٌ بَلْ مَنْدُوْبٌ إِلَيْهِ فَلَقَدْ كَانَ مِنْ عَادَةِ السَّلَفَ التَّعَرُّضُ لِلاَخْطَارِ وَالتَّصْرِيْحُ بِاْلإِنْكَارِ  مِنْ غَيْرِ مُبَالاَةٍ بِهَلاَكِ الْمَهِجَّةِ وَالتَّعْرِضُ لأَنْوَاعِ اْلعَذَابِ لِعِلْمِهِمْ بِأَنَّ ذَلِكَ شَهَادَةٌ

Artinya: “Telah kita terangkan tingkatan-tingkatan amar ma’ruf nahi mungkar : 1. Dengan pengenalan atau pemberitahuan, 2. Dengan nasehat, 3. Dengan ucapan kasar/keras, 4. Mencegah paksa untuk kembali kepada jalan kebenaran dengan cara memukul dan menghukum/menyiksa, tetapi kebolehan itu bagi para penguasa hanya sebatas peringatan dan nasehat. Sedangkan mencegah paksa tidak boleh dilakukan bagi setiap individu masyarakat, karena akan menimbulkan fitnah dan bisa menggerakkan kejahatan, karena dampak yang ditimbulkan berupa kekhawatiran lebih banyak. Adapun ucapan keras seperti : wahai dholim, wahai orang yang tidak takut Allah dan kata-kata lain yang sepadan. Itu akan menimbulkan fitnah, kejahatannya bisa menular kepada yang lain, semua itu (ucapan-ucapan keras) tidak diperbolehkan. Jika ia tidak khawatir kecuali kepada dirinya sendiri hukumnya boleh bahkan sunnah. Dan itu menjadi kebiasaan orang-orang salaf untuk memperingatkan. Jika terjadi bahaya/kekhawatiran, ucapan shoreh/terang-terangan dengan mengingkari tanpa mempedulikan akan hilangnya nyawa, dan mendatangkan berbagai macam adzab dan siksaan, karena mereka tahu bahwa itu benar terjadi sampai menghilangkan nyawa, dianggap mati syahid”.



[1]Pertanyaan Bahtsul Masail PCNU Jombang ke-III, tanggal 5 Oktober 2003 di Masjid Bogem Diwek Jombang

[2] Al-Suyuthi, al-Asybah wa al-Nadloir, (Beirut: Dar al-Fikr, tth), hal: 269.

[3]Muhyiddin al-Nawawi, Raudlotuth Tholibin Wa ‘Umdatul Matin, Juz: VIII, (Mesir, Maktabah al-Tijariyyah, al-Kubra, tth.), hal: 364.

[4]al-Ghozali, Ihya’ Ulum ………., Juz:II, hal: 237

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*