BAB VII: ASPEK SIYASI (POLITIK), (02) Ahmadiyah Golongan Sesat

BMPCNU_2002-2012_Sampul

01.  Ahmadiyah Golongan Sesat [1]

Deskripsi Masalah :

Dalam menyikiapi beragam ormas di Indonesia, misalnya Ahmadiyah, berbagai ormas lain dan MUI telah mengklaim bahwa Ahmadiyah adalah golongan “sesat dan menyesatkan”

Pertanyaan :

Bagaimana menurut hukum Islam, sahkah seseorang atau organisasi mengklaim sesat menyesatkan pada ormas tersebut?

Jawaban :

Sah atau boleh ketika aliran tersebut sudah memenuhi kriteria sebagai aliran sesat menyesatkan.

Keterangan dari kitab:

Al-Mizan al-Kubra[2]:  

فَإِنْ قُلْتَ فَمَا حَدُّ اْلقَوْلِ اَّلذِي لاَ يَرْضَاهُ اللهُ وَرَسُوْلُهُ فَالْجَوَابُ حَدُّهُ أَنْ يَخْرُجَ عَنْ قَوَاعِدِ الشَّرِيْعَةِ الثَّابِتَةِ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم فَكُلُّ مَا شَهِدَتْ لَهُ الشَّرِيْعَةُ بِالصِّحَّةِ وَمُوَافِقَةُ القَوَاعِد فَهُوَ مَعْدُوْدٌ مِنَ الشَّرِيْعَةِ وَإِنْ لَمْ يُصَرِّحْ بِهِ الشَّارِعُ وَعِبَارَةُ اْلبَيْهَقِي فِي بَابِ اْلقَضَاءِ مِنْ سُنَنِهِ اْلكُبْرَى اِعْلَمْ أَنَّ الرَّأْيُ الْمَذْمُوْمَ هُوَ كُلُّ مَا لاَ يَكُوْنُ مُشَبِّهًا بِأَصْلٍ قَالَ وَعَلَى ذَلِكَ يُحْمَلُ كُلُّ مَا جَاءَ فِي ذَمِّ الرَّأْيِ

Artinya:“Jika anda bertanya : Apa batas ucapan yang tidak diridhoi oleh Allah dan Rasulnya? Jawabannya: kriteria atau batasannya adalah ucapan yang keluar dari kaidah-kaidah syari’at yang datang dari Rasulullah. Jadi setiap ucapan yang bisa diakui kebenarannya oleh syari’at dan cocok dengan kaidah-kaidah yang baku, maka itu terhitung dari syari’at. Tetapi jika tidak diakui oleh syari’at maka itu tidak terhitung dari syari’at. Redaksi Imam Baihaqi di dalam bab Qodho’ (peradilan) dalam kitab Sunan Kubro sebagai berikut: “Ketahuilah bahwa pendapat, ide, ajaran yang tercela adalah setiap yang tidak mempunyai kemiripan dengan ajaran dasar”. Beliau berkata :Berdasarkan keterangan di atas, setiap sesuatu yang datang untuk mencela ide, ajaran berarti tangguhkan”.[3]

 



[1]Pertanyaan Bahtsul Masail PCNU Jombang ke-VIII, tanggal 22 Juni 2005 Di Aula Kantor PCNU Jombang

[2]Abdul Wahhab al-Sya’roni, al-Mizanul Kubro, Juz:II, (Beirut: Dar al-Fikr, tt.), hal: 55

[3]Bandingkan di dalam kitab Ihya’ Ulumuddin:Juz:II/237, yaitu sbb :

إحياء علوم الدين الجزء الثانى ص : 237قَدْ ذَكَرْنَا دَرَجَاتِ اْلأَمْرِ بِالْمَعْرُوْفِ وَأَنَّ أَوَّلَهُ التَّعْرِيْفُ وَثَانِيْهِ الوَعْظُ وَثَالِثُهُ التَّخْشِيْنُ فِى اْلقَوْلِ وَرَابِعُهُ الْمَنْعُ بِاْلقَهْرِ فِى الْحَمْلِ عَلَى الْحَقِّ بِالضَّرْبِ وَاْلعُقُوْبَةِ وَالْجَائِزُ مِنْ جُمْلَةِ ذَلِكَ مَعَ السَّلاَطِيْنِ الرُّتْبَتَانِ الأُوْلَيَانِ وَهُمَا التَّعْرِيْفُ وَاْلوَعْظُ وَأَمَّا الْمَنْعُ بِاْلقَهْرِ فَلَيْسَ ذَلِكَ لآحَادِ الرَّعِيَّةِ مَعَ السُّلْطَانِ فَإِنَّ ذَلِكَ يُحَرِّكُ اْلفِتْنَةَ وَيُهَيِّجُ الشَّرَّ وَيَكُوْنُ مَا يُتَوَلَّدُ مِنْهُ مِنَ الْمَحْظُوْرِ أَكْثَرَ وَأَمَّا التَّخْشِيْنُ فِى اْلقَوْلِ كَقَوْلِهِ: يَا ظَالِمُ يَا مَنْ لاَ يَخَافُ اللهَ وَمَا يَجْرِى مَجْرَاهُ فَذَلِكَ إِنْ كَانَ يُحَرَّكُ فِتْنَةً يَتَعَدَّى شَرَّهَا إِلَى غَيْرِهِ لَمْ يَجُزْ وَإِنْ كَانَ لاَ يَخَافُ إِلاَّ عَلَى نَفْسِهِ فَهُوَ جَائِزٌ بَلْ مَنْدُوْبٌ إِلَيْهِ فَلَقَدْ كَانَ مِنْ عَادَةِ السَّلَفَ التَّعْرِضُ لِلاَخْطَارِ وَالتَّصْرِيْحُ بِاْلإِنْكَارِ  مِنْ غَيْرِ مُبَالاَةٍ بِهَلاَكِ الْمَهِجَّةِ وَالتَّعَرُّضُ لأَنْوَاعِ اْلعَذَابِ لِعِلْمِهِمْ بِأَنَّ ذَلِكَ شَهَادَةٌ

Artinya:“Telah kita terangkan tingkatan-tingkatan amar ma’ruf nahi mungkar: 1. Dengan pengenalan, 2. Dengan nasehat, 3. Dengan ucapan kasar/keras, 4. Mencegah paksa untuk kembali kepada jalan kebenaran dengan cara memukul dan menghukum/menyiksa, tetapi kebolehan itu bagi para penguasa hanya sebatas peringatan dan nasehat. Sedangkan mencegah paksa tidak boleh dilakukan bagi setiap individu masyarakat, karena akan menimbulkan fitnah dan bisa menggerakkan kejahatan, karena dampak yang ditimbulkan berupa kekhawatiran lebih banyak. Adapun ucapan keras seperti : wahai dholim, wahai orang yang tidak takut Allah dan kata-kata lain yang sepadan. Itu akan menimbulkan fitnah, kejahatannya bisa menular kepada yang lain, semua itu (ucapan-ucapan keras) tidak diperbolehkan. Jika ia tidak khawatir kecuali kepada dirinya sendiri hukumnya boleh bahkan sunnah. Dan itu menjadi kebiasaan orang-orang salaf untuk memperingatkan. Jika terjadi bahaya/kekhawatiran, ucapan shoreh/terang-terangan dengan mengingkari tanpa mempedulikan akan hilangnya nyawa, dan mendatangkan berbagai macam adzab dan siksaan, karena mereka tahu bahwa itu benar terjadi sampai menghilangkan nyawa, dianggap mati syahid”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*