BAB VIII: ASPEK KEKINIAN, (03) Pengobatan Dengan Urine

BMPCNU_2002-2012_Sampul

3. Pengobatan Dengan Urine[1]

Deskripsi Masalah :

Dalam sebuah tabloid yang terbit di Surabaya, akhir Oktober 2000 dituturkan wawancara Prof. dr. Iwan T. Budiarto mengenai terapi medis dengan urine. Beliau memaparkan bahwa urine (air kencing) bisamenyembuhkan berbagai penyakit seperti koreng, diabetes, jantung, ginjal, kanker, aids dan impotensi. Bahkan menurut pengalaman pribadinya bahwa ia dulu pernah loyo dan kejantanannya nyaris mati (impotensi). Namun kemudian menjadi greng lagi setelah minum air kencingnya. Juga terjadi di luar negeri menjual belikan urine dan pembelinya adalah perusahaan farmasi atau kosmetika raksasa.

Pertanyaan :

a).Bagaimana hukumnya terapi medis dengan urine?

b).Bolehkah kita menjadikan urine manusia atau binatang sebagai campuran obat-obatan?

Jawaban:

a. Diperbolehkan bila tidak ditemukan obat yang suci serta adanya rekomendasi dari dokter ahli.

b. Diperbolehkan ketika urine tersebut sudah mengalami proses istihlak (larut dalam obat yang lain dan tidak mungkin terpisah) serta memenuhi syarat-syarat sbb :

ØTidak ada obat suci lain yang bisa menggantikan.

ØDengan rekomendasi dokter ahli.

Keterangan dari kitab:

al-Majmu’: [2]

وَأَمَّا التَّدَاوِيْ بِالنَّجَاسَاتِ غَيْرَ الْخَمْرِ فَهُوَ جَائِزٌ سَوَاءٌ فِيْهِ جَمِيْعُ النَّجَاسَاتِ غَيْرِ الْمُسْكِرِ هَذَا هُوَ الْمَذْهَبُ وَالْمَنْصُوْصُ وَبِهِ قَطَعَ الْجُمْهُوْرُ إِلَى أَنْ قَالَ … قَالَ أَصْحَابُنَا وَإِنَّمَا يَجُوْزُ التَّدَاوِيْ بِالنَّجَاسَةِ إِذَا لَمْ يَجِدْ طَاهِرًاً يَقُوْمُ مَقَامَهَا فَإِنْ وَجَدَهُ حَرُمَتْ النَّجَاسَاتُ بِلاَ خِلاَفٍ وَعَلَيْهِ يُحْمَلُ حَدِيْثُ “إِنَّ اللهَ لَمْ يَجْعَلْ شِفَاءَكُمْ فِيْمَا حُرِّمَ عَلَيْكُمْ” فَهُوَ حَرَامٌ عِنْدَ وُجُوْدِ غَيْرِهِ وَلَيْسَ حَرَامًـاً إَذَا لَمْ يَجِدْ غَيْرَهُ قَالَ أَصْحَابُنَا وَإِنَّمَا يَجُوْزُ ذَلِكَ إِذَا كَانَ الْمُتَدَاوِيْ عَارفًاً بِالطِّبِّ يَعْرِفُ أَنَّهُ لاَ يَقُوْمُ غَيْرَ هَذَا مَقَامَهُ أَوْ أَخْبَرَهُ بِذَلِكَ طَبِيْبٌ مُسْلِمٌ عَدْلٌ وَيِكْفِي طَبِيْبٌ وَاحِدٌ صَرَّحَ بِهِ اْلبَغَوِي وَغَيْرُهُ فَلَوْ قَالَ الطَّبِيْبُ يُتَعَجِّلُ لَكَ بِهِ الشِّفَاءُ وَإِنْ تَرَكَتْهُ تَأَخذَرَ فَفِي إِبَاحَتِهِ وَجْهَانِ حكَاهُمَا البَغَوِي وَلَمْ يُرَجِّحْ وَاحِدًاً مِنْهُمَا وَقِيَاسُ نَظِيْرِهِ فِي التَّيَمُّمِ أَنْ يَكُوْنَ اْلأَصَحُّ جَوَازُهُ اهـ

Artinya: “Berobat dengan sesuatu yang najis selain khamer (arak) hukumnya boleh….Ashhab kita berkata : berobat dengan sesuatu yang najis itu hanya diperbolehkan jika tidak menemukan obat suci sebagai pengganti, namun apabila ditemukan obat suci, haram berobat dengan benda najis tanpa ada khilaf. Berdasarkan keterangan hadits ini :”sesungguhnya Allah tidak menjadikan obat kalian dari hal-hal yang diharamkan” harus ditangguhkan. Dalam arti jika ditemukan (obat suci) selain najis maka hukumnya haram tetapi jika tidak menemukan obat suci selain najis hukumnya tidak haram. Ashab kita berkata : kebolehan itu apabila orang yang berobat mengetahui dari sisi  medis (kodokteran) bahwa tidak ada obat suci yang  bisa menggantikannya, atau informasi dari seorang dokter muslim yang adil meskipun hanya dari satu orang dokter. Demikianlah penjelasan Imam Baghowi dan Imam lainnya”.

c).Bagaimana dengan hokum menjualbelikannya?

Jawaban :

Boleh

Keterangan dari kitab:

Hassyiyah al-Jamal ‘ala al-Manhaj[3]:

وَقَدْ قَالَ إِمَامُنَا الشَّافِعِىُّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ إِذَا ضَاقَ اْلأَمْرُ اِتَّسَعَ وَالْجُبْنُ الْمَعْمُوْلُ بِاْلأنْفِخَةِ الْمُتَنَجِّسَةِ مِمَّا عَمَّتْ بِهِ اْلبَلْوَى اَيْضًا فَيُحْكَمُ بِطَهَارَتِهِ وَيَصِحُّ بَيْعُهُ وَأَكْلُهُ.

Artinya: “Imam kita As-Syafi’i r.a. berkata: jika sesuatu itu menjadi sempit maka sesuatu itu bisa menjadi longgar/luas. Sekedar contoh : keju yang terbuat dari sesuatu yang najis, termasuk sesuatu yang masuk kategori umumul balwa, maka keju itu dihukumi suci, boleh dijual serta boleh dimakan”.



[1]Pertanyaan Bahtsul Masail PCNU Jombang ke-IV, tanggal 07 Maret 2004 di Masjid PP Darus Salam Tegalsari Mojowarno Jombang

[2] Al-Nawawi, Al-Majmu’ …….., Juz: IX , hal: 51.

[3]Hassyiyah al-Jamal ‘ala al-Manhaj: I/190

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*