Category Archives: Bahtsul Masail

(07) Batasnya masa boleh menyalati mayyit

Muqorrorot

07.  Sampai kapan batasnya masa boleh menyalati mayyit yang sudah dikubur ?

 J. Boleh menyalati mayyit yang sudah dikubur baik hadir maupun ghoib selain Nabi, dan tidak ada batas masanya, asal orang yang akan menyalati itu ketika matinya mayyit tersebut memenuhi syarat-syarat menjadi orang yang shah mengerjakan sholat, yaitu Islam, mukallaf dan suci (sunyi dari hadas dan nifas) Continue reading (07) Batasnya masa boleh menyalati mayyit

(06) Hukum Menyalati, membaca tahlil dan al Quran untuk Mayit yang meninggalkan Shalat Fardlu

Muqorrorot

06.  Bagaimana hukumnya menyalati, menahlilkan dan membacakan Al Qur’an kepada mayyitnya orang yang meninggalkan sholat fardlu dengan sengaja ?

J. Hukumnya fardlu kifayah, kalau memang dia nyata-nyata tidak melakukan sesuatu perbuatan yang merusak islamnya dan juga boleh ditahlilkan serta dibacakan Al Qur’an. Continue reading (06) Hukum Menyalati, membaca tahlil dan al Quran untuk Mayit yang meninggalkan Shalat Fardlu

(05) Hukum menjadi imam sholat jama’ah di tempat yang sudah ada imam ratibnya.

Muqorrorot

05. hukumnya orang menjadi imam sholat jama’ah di tempat yang sudah sudah ada imam ratibnya, sedang dia tidak mendapat izin dari imam ratib yang bersangkutan ?

J. Makruh, kalau tempat jama’ah itu tidak bersifat umum yang biasa diadakan berkali-kali jama’ah oleh orang yang datang ditempat itu, karena hal itu dapat menyinggung dan mengurangi kedudukan imam ratib, kecuali kalau imam ratib sedang tidak ada dengan ketentuan: Continue reading (05) Hukum menjadi imam sholat jama’ah di tempat yang sudah ada imam ratibnya.

(04) Hukum dehem-dehem atau batuk-batuk pada waktu sholat.

Muqorrorot

04. Bagaimana hukumnya dehem-dehem atau batuk-batuk pada waktu sholat. Batalkah sholatnya atau tidak ?

J. Dehem-dehem atau batuk-batuk dan sesamanya pada waktu shalat itu:

–  Kalau sampai menimbulkan dua huruf, dan

   Tidak karena terhalngnya pembacaan yang wajib, dan

   Tidak karena terpaksa

Maka batallah sholatnya. Continue reading (04) Hukum dehem-dehem atau batuk-batuk pada waktu sholat.

(03) Hukum merendahkan suara bacaan “ats tsana” dalam do’a qunut

Muqorrorot

03. Bagaimana hukumnya merendahkan suara bacaan “ats tsana” dalam do’a qunut (yang permulaannya “Fainnaka Taqdli”) bagi imam atau orang yang sholat sendirian (munfarid) ?

 j. Bagi imam sunnat mengeraskan suara, dan bagi makmum atau munfarid sunnat merendahkan suara. Akan tetapi menurut Imam Al Asnawi bagi imam boleh merendahkan dan mengeraskan suara. Continue reading (03) Hukum merendahkan suara bacaan “ats tsana” dalam do’a qunut

(02) Hukum shalatnya orang yang membaca huruf “Ain” dibaca dengan “Ngain”.

Muqorrorot

02.  Shahkah sholatnya orang yang membaca huruf “Ain” dibaca dengan “Ngain” ? dan shahkah makmum kepadanya?

J. Kalau mengganti huruf itu dari orang yang dapat menbaca huruf dengan baik, atau dari orang yang tidak dapat membaca, akan tetapi dapat belajar membaca huruf dengan baik, sedang dia mengganti huruf itu dengan sengaja dan tahu keharamannya, maka sholatnya tidak shah. Continue reading (02) Hukum shalatnya orang yang membaca huruf “Ain” dibaca dengan “Ngain”.

(01) Hukum Shalatnya Orang yang lupa Syarat Rukunnya Shalat

مُقَرَّرَاتُ الشُّوْرَى

من علماء جمبانج

KEPUTUSAN

MUSYAWARAH ULAMA

JOMBANG

( 1 )

Penerbit

Imaroh Masjid “Kauman Utara”

Jombang Jatim

Muqorrorot

بسم الله الرحمن الرحيم

     الحَمْدُ للهِ الَّذِى بِهِدَايَتِهَ يَهْتَدِى المُهْتَدُوْن، وبتوفيقه يتقدم العلماء العارفون، وبحمايته يرتقى الناهضون، وبشريعته فاز العاملون وخاب المهملون. نحمده أن وفقنا على النهوض إلى إيجاد المشاورة لاهتمام الأمور التى لا يستغنى عنها المسلمون حتى تقررت منا أجوبة المسائل الدينية التى لا يتخلص منها المبتدئون والمنتهون. أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له الملك الجبار يوم لا تنفع فيه الأموال والبنيان والبنون، وأشهد أن سيدنا محمدا عبده ورسوله صاحب اللواء الذى تحته يوم القيامة نحن مستظلون. اللهم صل وسلم على سيدنا محمد ختم به الأنبياء والمرسلون، وعلى آله وأصحابه الذين بذلوا جهدهم لنيل السعادة الأبدية التى هم فيها متنافسون، والتابعين وتابعيهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد:

     Sejak beberapa lama telah kumpul masalah-masalah diniyyah yang diajukan oleh masyarakat kepada sebagian ulama Ahli Sunnah Wal Jama’ah wilayah Jombang secara perorangan, agar supaya mendapatkan jawaban menurut hukum agama. Masalah-masalah itu oleh ulama ditampung/ diperhatikan dan akan diberi jawaban sesuai dengan kehendak penanya. Berhubung banyaknya kesibukan bagi ulama, karena banyaknya persoalan yang dihadapi maka kesempatan untuk memberi jawaban itu sangat terbatas, sehingga timbullah pikiran akan mengadakan musyawarah ulama untuk membicarakan masalah-masalah diniyyah dan soal-soal lain yang ada sangkut pautnya dengan agama.

     Tidak antara lama pikiran itu dapat diwujudkan dengan bentuk musyawarah ulama se kabupaten Jombang yangt ditangani oleh pengurus Imaroh Masjid Jami’ Kauman Utara Jombang. Musyawarah dipimpin langsung oleh Alm.K.H.M. Bisri Syansuri dengan beberapa anggota Ulama Jombang, diantaranya: Bapak K.H. Adlan Aly, K.H. Mahfudz Anwar, K.H. Cholil, K.H. Mansur Anwar, K.H. Syansuri Badawi, Alm. K.H. Abdul Fattah Hasyim, Alm. K.H. Syansun, K. Muhdlor dan lain-lain.

     Banyak permintaan dari sana sini, baik dalam forum musyawarah maupun dari luar agar supaya kami mengabadikan hasil musyawarah Ulama dalam dalam sebuah buku, tetapi sayang sekali waktu itu belum bisa dilaksanakan sebab kesulitan-kesulitan tehnis.

     Agar supaya faedahnya bertambah luas, maka hasil musyawarah Ulama ini kami himpun menjadi sebuah buku yang bernama “MUQORROROTUSY SYURO MIN ULAMAI JOMBANG” (Keputusan Musyawarah Ulama Jombang).

     Dengan terbitnya buku jilid pertama yang berisikan 50 (lima puluh) masalah agama ini, berarti sebagian harapan dari pengurus Imaroh Masjid Jami’ Kauman Utara Jombang sudah mulai bisa direalisir.

     Walaupun usaha maksimal sudah dilakukan, namun kami tetap menyadari kemungkinan adanya kekurangan atau kesalahan yang tidak disengaja. Oleh sebab itu segala kritik dan saran yang positip masih sangat diharapkan dari manapun datangnya.

     Demikianlah isi muqoddimah buku ini, semoga Muqorrorot Syuro ini dapat diterima disisih Allah sebagai amal jariah para Ulama yang dengan keridloan hati berkenan mencurahkan tenaga dan waktunya untuk kepentingan Musyawarah Ulama.

     Juga kepada pencetak dan penerbit yang sudah bersedia mencetak dan menerbitkan buku ini kami sampaikan ucapan terima kasih. Mudah mudahan mendapat pahala yang berlipat ganda dari Allah dan semoga buku menambah khazanah perpustakaan kita dan ada manfaatnya bagi Agama, Nusa dan Bangsa. Amin

Jombang, 10/06/1401 H. / 15/04/1981 M.

Musyawarah Ulama Jombang

   Ketua                                                              Sekretaris

   (K.H. Mahfudz Anwar)                                (H. Ah. Azis Masyhuri)

01. Orang yang sudah mengerti syarat rukunnya sholat, ketika mengerjakan sholat dia lupa pada satu persatunya syarat rukun sholat itu. Shahkah sholatnya atau tidak ?

J. Kalau ketika mengerjakan sholat itu dengan memenuhi syarat rukunnya, maka shah sholatnya.

Ambil Keterangan dari kitab-kitab  Fiqh.

Adat Atau Tradisi Dalam Beribadah

Adat atau Tradisi dalam Beribadah
Setiap komunitas selalu mempunyai adat dan tradisi khas sesuai dengan peradaban dan falsafah hidup mereka. Adat dan tradisi tersebut lahir sebagai akibat dari dinamika dan interaksi yang berkembang di suatu komunitas lingkungan masyarakat. Oleh karenanya, bisa dikatakan, adat dan tradisi merupakan identitas dan ciri khas suatu komunitas.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, adat atau tradisi bermakna kebiasaan perilaku yang dijumpai secara turun-temurun. Karena bermula dari kebiasaan dan itu merupakan warisan dari pendahulu, maka akan terasa sangat ganjil ketika hal itu tidak boleh dilakukan atau dilakukan tapi tidak sesuai dengan kebiasaan yang berlaku.
Allah SWT menciptakan manusia dalam kemajemukan yang terdiri atas suku, bangsa dan tersebar di berbagai tempat. Kemajemukan tersebut melahirkan adat dan tradisi yang sangat beragam. Namun demikian manusia dibekali software yang tidak diberikan kepada makhluk lain, yaitu akal. Dengan akal inilah manusia menjadi makhluk yang sangat terhormat dan diharapkan bisa menjadi khalifah di muka bumi serta mampu menciptakan kreasi-kreasi baru yang membawa kemaslahatan bagi sesama. Dengan kesempurnaan yang dimilikinya, Allah SWT ‘menaruh harapan’ bahwa mereka mampu melakukan yang terbaik di muka bumi. Semua itu sebagai amanah Allah SWT yang harus kita manifestasikan untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah Yang Maha Esa.
Masyarakat Indonesia memiliki beragam adat dan tradisi yang berbeda dengan negara-negara lain, bahkan dari satu daerah ke daerah yang lain. Beragamnya agama, bahasa dan budaya adalah keniscayaan dalam konteks keindonsiaan.
Ketika masuk ke Indonesia lewat Walisongo, Islam begitu ramah menyapa umat. Tidak ada tindakan anarkis dan frontal melawan tradisi. Kelihaian Walisongo mengakomodasi budaya setempat ke dalam ajaran-ajaran Islam, menampakkan hasil yang luar biasa. Para masyarakat yang sebelumnya menjadi penganut kuat ajaran dinamisme dan animisme, pelan-pelan berbondong-bondong menghadiri majelis-majelis yang diselenggarakan Walisongo. Mereka hadir bukan karena dipaksa, tapi karena sadar bahwa ajaran Islam sangat simpatik dan ‘patut’ diikuti.
Itu hasil kreasi yang patut diapresiasi. Islam adalah agama yang mampu berakumulasi, bahkan hampir bisa dikatakan tak pernah bermasalah dengan budaya setempat. Bahkan budaya bisa didesain ulang atau dimodifikasi dengan tampilan yang elegan menurut syara’ dan lebih berdayaguna demi meningkatkan kasejahteraan hidup. Dengan demikian, kehadiran Islam di tengah masyarakat, dimanapun dan sampai kapanpun, akan selalu menjadi rahmatan lil alamin.
    
Islam Mengakomodasi Adat
Adat atau tradisi yang dimaksud di sini adalah adat yang tumbuh dan berkembang disuatu komunitas dab hal itu –secara prinsip- tidak terdapat dalam ritual syariah Islam, baik pada masa Rasulullah SAW.
Adat atau tradisi semacam ini adalah sah-sah saja dan tak masalah. Tentunya dengan catatan, adat atau tradisi tersebut tidak bertentangan dengan nilai-nilai luhur Islam, mempunyai tujuan mulia dan disertai niat ibadah karena Allah SWT. Dalam Kaidah fikih dikatakan, “al-Adah Muhakkamah ma lam yukhalif al-Syar’” (Tradisi itu diperbolehkan selama tidak bertentangan dengan dasar-dasar syariah).
Sahabat Abdullah bin Abbas mengatakan: Setiap sesuatu yang umat Islam menganggap baik, maka menurut Allah baik juga, dan yang mereka anggap buruk, maka buruk juga manurut Allah” (Diriwayatkan Al-Hakim)
Ia juga berpesan: Sesungguhnya Allah melihat hati hambanya, selalu ditemukan hati Muhammad SAW, sebaik-baiknya hati hambanya, lalu memilihnya untuk-Nya, dan mengutusnya. Lalu melihat hati hambanya selain Muhammad, dan ditemukan beberapa hati sahabatnya, lalu menjadikannya menteri bagi nadi-Nya. Setiap suatu yang umat Islam menganggap baik, maka menurut Allah baik juga, dan yang mereka anggap buruk, maka buruk juga menurut Allah” (Diriwayatkan oleh Ahmad)
Dalam Hasiyah as-Sanady disebutkan, “Bahwa sesungguhnya sesuatu yang mubah (tidak ada perintah dan tidak ada larangan) bisa menjadi amal ibadah selama disertai niat baik. Pelakunya mendapatkan imbalan pahala atas amal tersebut sebagaimana pahalanya orang-orang yang beribadah”. (Hasiyah as-Sanady, Jilid 4, hal.368)
Imam Syafi’i memberikan batasan ideal tentang adat atau tradisi ini, menurutnya, selama adat atau tradisi itu tidak bertentangan dengan dasar-dasar syariat, itu hal terpuji. Artinya, agama memperbolehkannya. Sebaliknya, jika adat atau tradisi tersebut bertentangan dengan dasar-dasar syariat, hal itu dilarang dalam Islam.
Menurut Imam Syafi’i yang dinukil oleh Baihaqi dalam kitabnya Manakip As Syafi’i lil Baihaqi:  Hal baru (bid’ah) terbagi menjadi 2 (dua) macam. Adakalanya hal baru itu bertentangan dengan Al-Qur’an, as-Sunnah, al-Atsar, atau ijma Ulama. Itulah bid’ah yang tercela. Sedangkan hal baru yang tidak bertentangan dengan dasar-dasar agama tersebut adalah bid’ah yang terpuji. (Fathul Bari, karya Ibn Hajar, jilid 20, hal:330)
Adat atau Tradisi dalam Beribadah (2) Al-Qur’an dan Hadits merupakan rujukan pamungkas bagi syariat Islam. Keduanya mengandung ajaran global yang akan menjawab berbagai problematika umat, di manapun dan sampai kapan pun. Namun demikian, itu bukan berarti tidak menutup kemungkinan ada masalah yang ’tidak ada’ dalam Al-Qur’an dan Hadits. Dalam artian, rujukan dalam Al-Qur’an atau Hadits tidak merinci semua kejadian yang dialami manusia. Hal ini mengingat bahwa fenomena akan terus berlangsung seiring dengan laju zaman, sedangkan nash-nash yang ada terbatas’.
Banyak sekali hal-hal yang sudah dilegimitasi syara’, di antaranya shalat. Nash mana pun akan mengatakan bahwa shalat hukumnya wajib. Hal ini sesuai dengan perintah Allah dalam Al-Qur’an QS. An-Nur : 56: ”Tunaikanlah Shalat!”
Banyak sekali ayat-ayat dan hadits Rasulullah SAW yang menyerukan wajibnya shalat. Ini menunjukkan bahwa shalat adalah bagian terpenting dalam Islam. Bahkan, Allah SWT menegaskan, tidak ada hukuman mati bagi siapapun yang tidak menunaikan bagian dari rukun Islam, baik karena malas atau lainnya, kecuali shalat. Jika seseorang maninggalkannya karena benci akan perintah Allah, atau tidak percaya atas wajibnya shalat, hukumnya murtad.
Setiap muslim berkewajiban manunaikan shalat lima kali dalam sehari semalam. Ketentuan-ketentuanya telah diatur secara gamblang dalam syara.
Rasulullah SAW telah memberikan suri tauladan dalam tata cara shalat ini. Dalam suatu hadits, Rasulullah SAW bersabda : ”Shalatlah sebagaimana kalian mlihat cara shalatku” – H.R  Bukhari
Contoh lain adalah hukum mamakan bangkai, Allah SWT juga menegaskan larangan mamakan bangkai, darah dan daging babi. Allah SWT berfirman : ”Diharamkan atas kamu (memakan) bangkai, darah, daging babi, binatang yang disembelih atas nama selain allah SWT, binatang yang mati tercekik, dipukul, jatuh, tertanduk dan mati karena terkaman binatang buas.” QS. Al-Ma’idah: 3.
Itulah contoh perkara yang sudah mendapatkan legimitasi hukum secara jelas. Ketika kita ditanya; Apa hukumnya shalat? Tentu jawabannya adalah wajib. Apa hukum memakan bangkai? Tentunya haram.
Yang menjadi persolaln sekarang; bagaimana dengan hal-hal belum ada ketentuannya, baik perintah atau larangan adalah mubah. Dalam kaidah Fikih disebutkan: ”Asal dari segala sesuatu adalah mubah”
Dalam masalah ini, Allah SWT pun berfirman: ”Dan tidaklah Jibril turun membawa wahyu, kecuali (itu) karena kehendak Tuhanmu. Apa-apa yang ada di hadapan dan belakang kita serta apa yang belum pernah terjadi adalah atas kehandak-Nya. Dan tidaklah Tuhanmu melupakan hal itu”. QS. Maryam: 64
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA: ”Saya bersama Kholid bin wahid sedang menemani Rasulullah berkunjung ke rumah Maemunah. Dihilangkan kepadanya seekor biawak. Rasulullah SAW kemudian penasaran dan memegangnya. Lalu sebagian dari (perempuan) berkata kepada sebagian sahabat untuk memberitahukan kepada Rasulullah SAW, bahwa ini hewan biawak ya Rasulullah SAW, lalu beliau mengangkat tangannya. Lalu saya menanyakan”Apakah (binatang) itu diharamkan wahai Rasulullah?” Rasulullah SAW menjawab, ”Tidak. Tetapi tidak pernah ada di lingkungan kami, maka segala sesuatu yang aku belum menemuinya, kami mentolerir”. Khalid pun kemudian memakannya dan Rasulullah SAW malihatnya” (HR. Bukhari & Muslim)
Tidak semua fenomena-fenomena itu baru tersurat dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits. Namun demikian, Al-Qur’an dan Hadits sudah memberikan pedoman umum berkaitan dengan hal itu, di antaranya ketentuan bahwa sesuatu yang belum mendapatkan legimitasi hukum dari Al-Qur’an dan Al-Hadits hukumnya mubah. Artinya tidak diperintahkan dan tidak dilarang. Hukumnya diserahkan kepada maslahat manusia. Jika hal itu memberikan implikasi positif, maka dianjurkan. Sebaliknya, jika memberikan Implikasi negatif, maka dilarang.
Diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, ”Sesungguhnya Allah SWT telah menetapkan beberapa kewajiban. Janganlah kalian lalaikan. Allah SWT pun telah menentukan larangan. Jangan kalian terjang. Allah WST pula telah memberikan batasan-batasan atas segala sesuatu. Jangan sampai kalian sebagai rahmat dan keringanan bagi kamu-dan itu bukan lalai-, maka hendaknya kalian jangan mencari-cari hukumnya.” (HR Daruquthni)
Dari Salman RA Berkata, ”Allah SWT telah menghalalkan yang halal dan mangharamkan yang haram. Jadi yang halal hukumnya halal dan yang haram hukumnya haram. Adapun sesuatu yang belum mendapatkan legimitasi hukum, maka (bisa) ditolerir – (HR Baihaqi)
Dalam kesempatan lain Rasulullah SAW bersabda: Dari Salman Al-Farisi ra. “Kami telah bertanya kepada Rasulullah SAW tentang minyak samin, keju dan kedelai, lalu baliau menjawab: yang halal adalah yang telah dihalalkan Allah di dalam kitab-Nya, yang haram adalah yang telah di haramkan di dalam kitab-Nya, adapun sesuatu yang didiamkan hukumnya dima’fu (ditolerir)”. (HR Baihaqi)
“Sahabat Ali bertanya: Wahai Rasulullah, bagaimanakah bila datang kepada kami sesuatu yang tidak turun di dalam Al-Qur’an, juga tidak ada dijelaskan dalam Sunah Tuan? Rasulullah SAW menjawab; Musyawarahkan hal itu bersama orang-orang yang ahli ibadah dan orang-orang yang mu’min, jangan engkau memutuskan sesuatu itu hanya dengan akal saja.” (HR. At-Thabrani)
Imam Ghazali juga memberikan sikap yang sangat cantik dalam menyikapi sesuatu tindakan yang belum dikenal pada masa Rasulullah SAW, dengan mengembalikan kapada pendapatnya ulama. Di bawah ini kutipan Ghazali pada atsar:
“Ketika dikatakan kepada Rasulullah SAW, “Apa yang harus kami perbuat manakala ada perintah dan kami menemukan (hukum)nya baik dalam Al;-Qur’an atau Al-Hadis? “Rasulullah SAW menjawab, “bertanyalah kepada orang-orang shaleh yang telah dijadikan sebagai petunjuk di antara mereka”. Dalam riwayat lain, “Ulama dhahir adalah perhiasan bumi dan langit . Sedangkan ulama bathin penghias langit dan alam malakut”. (Ihya’ Ulumuddin, jilid1, hal. 22)
Ibnu Ajibah, dalam tafsirnya al-Bahrul Madid, mengutip atsar yang senada dengan sikapnya imim Ghazali, yaitu bila datang pada kita sesuatu yang belum mendapat legalitas Al-Kitab dan As-Sunnah, maka hendaknya dikembalikan kepada para ulama’ sebagai bahan musyawarah untuk mencari solusi terbaik dan kemaslahatan bagi masyarakat setempat.
“Para sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW, Bagaimana kalau terjadi perselisihan pada kami setelah tuan ada dan tidak kami ketemukan di kitab Allah, tidak juga Sunah Rasulullah? Beliau menjawab: “Kembalikanlah permasalahan kepada pendapat orng-orng shaleh dan jangan melanggar pendapatnya.” (Al-Bahrul Madid, Jilid 2, hal. 194).
Dengan demikian segala sesuatu yang belum terdapat dalam Al-Quran dan Al-hadis, hukumnya ‘deserahkan’ kepada ulama untuk bahan ijtihad, mencari hukum yang sesuai dengan keadaan dan maslahat bagi masyarakat setempat. Bukan malah di jauhi dan diklaim bid’ah, karena mengada-ada yang tidak di temukan dalam Al-Qur’an dan hadits. Orang-orang shaleh yang dimaksud adalah ulama-ulama mujtahidin yang mempunyai kompetensi keilmuan yang mumpuni.
Adat atau Tradisi dalam Beribadah (3-habis) Dalam berijtihad masing-masing ulama mempunyai blue print yang berbeda. Namun, secara substansial, para ulama tetap melandaskan ijtihad kepada dasar-dasar yang telah digariskan oleh Al-Qur’an dan Al-Hadis.
Dalam hal tidak adanya legimitasi syara’, amalan-amalan yang tidak dijalankan atau bahkan ditinggalkan Rasulullah SAW tidak berarti otomatis dilarang, baik bersifat makruh atau haram. Coba kita menerungi sejenak fenomena kontemporer yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari dan beberapa riwayat tentang kehidupan Nabi berikut ini:
Di era global yang serba canggih ini, kita tentu menemukan banyak sekali hal-hal baru yang belum pernah terjadi pada zaman Rasulullah SAW, sahabat tabi’in atau bahkan tabi’it tabi’in. Apakah kemudian kita akan mengatakan bahwa semua yang belum pernah ada pada zaman mereka harus kita tinggalkan?
Kalau kita katakan bahwa sesuatu yang ditinggalkan Rasulullah SAW harus kita tinggalkan juga, berada juta hal ‘haram’ yang sudah kita lakukan, baik dari segi ibadah ataupun non-ibadah? Misalnya, pada zaman Rasulullah SAW, fenomena shalat tarawih tidak dikemas seperti yang sekarang kita lihat di masjidil haram. Pelaksanaan shalat tarawih di sana sekarang kita lihat menggunakan sesuatu yang serba elektronik; pengeras suara, listrik, pendingin ruangan (AC), dan lain-lain.
Contoh lain pada sisi non-ibadah. Bukanlah Rasulullah SAW terkenal dengan kesahajaan dan kesederhanaannya? Beliau tidak baju mahal dan elegan. Sekarang, berapa ratus juta muslim di dunia yang mengenakan baju-baju bermerk? Apakah akan kita katakan juga bahwa itu sebuah perilaku haram yang telah manjadi budaya? Tentu saja tidak.
Kalau kita cermati dalil-dalil baik dari Al-Quran dan Al Hadis, pendapat ulama tampak sekali bahwa Allah SWT tidak pernah menghitamputihkan legimitasi sebuah hukum. Silahkan kita kaji persoalan yang ada sesuai dengan kaidah-kaidah fikih yang telah ditetapkan semenjak lama. Jadi, janganlah kita membelanggu diri dalam beragama dengan mengharamkan semua persoalan-persoalan yang belum dilegimitasi syara’.
Marilah kita telisik beberapa sebab; kenapa Rasulullah SAW meninggalkan perkara tertentu? Apakah seluruhnya karena diharamkan Allah SWT atau karena alasan tertentu, misalnya Rasulullah SAW tak mau makan makanan tertentu karena memang tak selera dan sama sekali bukan karena haram –seperti orang Indonesia disuruh makanan mukhalil (makanan khas Mesir) yang agak gimana gitu rasanya. Mari kita perhatikan beberapa riwayat berikut ini:
  1. Adakalanya, Rasulullah SAW meninggalkan sesuatu karena hal itu belum pernah ia makan atau mencicipi sebelumnya. Maka ketika dihidangkan dihadapinya dan dipersilahkan untuk dimakan beliau tak berselera. Misalnya tentang penolakan Rasulullah SAW makan daging dhab (nama binatang). Hal ini sebagaimana diceritakan oleh Ibnu Abbas RA.
  2. Adakalanya, Rasulullah SAW meninggalkan sesuatu karena beliau terlupa. Hal ini pernah terjadi dalam kasus Rasulullah SAW lupa melakukan sujud sahwi sebagaimana diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud RA.
  3. Adalakanya, Rasulullah SAW meninggalkan sesuatu dikarenakan beliau takut –jika itu dilakukan secara terus-menerus umat akan menyangka bahwa aktifitas Rasulullah SAW itu sebuah kewajiban- yang harus dikerjakan umatnya. Hal ini sebagaimana diriwayatkan Bukhari dan Muslim bahwa Rasulullah melakukan jamaah sholat taraweh hanya 4 (empat) kali di bulan Ramadhan. Lainnya beliau lakukan sendiri di rumah.
Dan masih banyak lagi hal-hal yang ditinggalkan Rasulullah SAW yang tidak karena diharamkan Allah, tapi lebih karena, misalnya lupa, khawatir atau tak selera karena tak terbiasa.
Olah karena itu merilah kita tunaikan ibadah ajaran-ajaran Islam secara proporsional. Hal-hal yang sudah jelas-jelas wajib, harus ditunaikan yang haram, harus ditinggalkan; yang sunah lebih utama ditunaikan dan yang makhruh lebih baik ditinggalkan; yang mubah boleh ditunaikan dan boleh di tinggalkan. Ketentuan tentang ini semua telah diatur secara rapi dalam Al-Qur’an, Al-Hadis dan ketentuan-ketentuan detil yang dihasilkan dari ijtihad para ulama.
Sedangkan fenomena-fenomena baru, yang belum mendapatkan legimitasi hukum dari Al-Qur’an atau Al-hadis hukumnya mubah. Artinya, tidak diperintahkan dan tidak dilarang. Lantas bagaimana ? Hukumnya diserahkan kepada maslahat manusia. Jika hal itu memberikan implikasi positif, maka dianjurkan. Sebaiknya, jika memberikan implikasi negatif, maka dilarang. Dalam hal ini dikembalikan kepada ijtihad ulama yang berkompeten dan beberapa ulama mengkatagorikan hal ini sebagai tindakan bid’ah yang hasanah atau hal baru yang baik.
H Fadlolan Musyaffa’ Mu’thi, MA
Rais Syuriyah PCNU Mesir
Sunber: NU Online