Category Archives: Buku

(19) Nahdlatul Ulama “Go Warga”

Tabayun_Sampul

NAHDLATUL ULAMA “GO WARGA”

 (Tempo, 9 Juni 1990)

  Kini berat tubuhnya 93 kilogram, kacamatanya minus 15. Toh Abdurrahman Wahid, 50 tahun, cucu pendiri NU K. H. Hasyim Asy’ari ini, tetap lincah dan ulet. Dan penggemar nonton bola ini tetap suka membikin terobosan-terobosan. Kali ini soal bank   Berikut petikan wawancara dengan wartawan TEMPO Wahyu Muryadi, di rumahnya, di kawasan Jagakarsa, Jakarta, Ahad pagi pekan ini. (Ia memang tak hadir dalam silaturahmi warga NU di rumah  K.H. Masjkur, sesepuh NU, di Jakarta pagi itu). Continue reading (19) Nahdlatul Ulama “Go Warga”

(18) Politik Sebagai Moral, Bukan Institusi

Tabayun_Sampul

  Anda termasuk salah seorang perintis gerakan pembaruan pemikiran Islam di Indonesia. Bagaimana Anda melihat gerakan itu dalam kacamata sekarang? 

Gerakan pembaruan pemikiran Islam 25 tahun yang lalu merupakan respons terhadap perubahan sosial, sedangkan gerakan itu sekarang adalah respons terhadap perubahan politik. Respons itu berbentuk pemunculan gerakan politik Islam. Organisasi sosial politik dan kemasyarakatan yang secara tegas menyebutkan dirinya Islam kini makin menjadi politis. Continue reading (18) Politik Sebagai Moral, Bukan Institusi

(17) Wong Saya Enggak Pernah Berubah

Tabayun_Sampul

  Jangan sembarangan, Gus Dur masih mermimpin umat. Itulah setidaknya menurut pengurus Nahdlatul Ulama (NU) Cabang Lampung yang datang ke kantor PBNU di Kramat Raya, Jakarta Pusat. “Akan hadir sedikitnya 50.000 umat kalau Gus Dur bisa datang,” bisik salah seorang di antara tombongan itu, yang mengundang Abdurrahman Wahid untuk hadir dalam sebuah pertemuan umat di Lampung, nanti.  Continue reading (17) Wong Saya Enggak Pernah Berubah

Gus Dur, NU Dan Masyarakat Sipil

PDF Ambil Disini

 GUS DUR, NU DAN MASYARAKAT SIPIL

Gus Dur & Masyarakat Sipil

Editor: Ellyasa KH. Dharwis

Makna apakah yang telah dihadirkan oleh Nahdlatul Ulama untuk sebuah eksperimen kebangsaan yang telah disebut Indonesia? Bagaimana anarki pemaksaan sosial-politik seperti itu menjadi mungkin? Para peneliti dalam antologi ini, menyadarkan kita bahwa di tengah belitan sistem politik serba negara yang hampir tidak memberikan peluang sedikitpun kepada warga masyarakat untuk turut memaknai proses kebangsaannya, Continue reading Gus Dur, NU Dan Masyarakat Sipil

(16) Kalau Melihat NU Dari Saya, Itu Salah Baca

Tabayun_Sampul

  Kiprah Abdurrahman Wahid alias Gus Dur sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, kini menjadi bahan spekulasi. Para pendukungnya ingin mempertahankan Gus Dur karena ia adalah tokoh yang sanggup dan telah berhasil mengamankan Khittah 1926. Namun para penantangnya melihat Gus Dur selalu melawan arus dan “membingungkan umat” Bahkan Kampanye mengungkapkan “dosa-dosa” Gus Dur pun kini semakin meningkat. Sementara Gus Dur sendiri tidak mau pusing memikirkan soal itu. “Sudah waktunya mikirin yang lain,” katanya.  Continue reading (16) Kalau Melihat NU Dari Saya, Itu Salah Baca

(14) Perlu Re-Edukasi Konglomerat

Tabayun_Sampul

Seorang kiai terperanjat ketika pada suatu siang mendapat Abdurrahman Addakhil, seorang santri kecil, yang masih belajar di SMEP (Sekolah Menengah Ekonomi Tingkat Pertama), telah membaca tuntas buku Das Kapital. Kisah tersebut terjadi 30-an tahun yang lalu. Santri itu tak lain adalah Abdurrahman Wahid (50). Tokoh wawancara utama kita kali ini. Secara sederhana kisah itu juga menggambarkan betapa akrabnya Gus Dur dengan pergolakan pemikiran dunia ini bahkan sejak usia yang masih amat muda. Continue reading (14) Perlu Re-Edukasi Konglomerat