Doa Bulan Sya’ban

Malam Nishfu Sya’ban bahkan seluruh malam bulan Sya’ban, merupakan waktu agung dan kesempatan istimewa untuk bergegas melakukan berbagai kebaikan, dan berlomba-lomba melakukan sebab-sebabnya dari berbagai pintunya. Ia merupakan waktu yang utama dan penuh berkah. Begitu pula dalam setiap waktu yang utama dan penuh berkah, semestinya seorang muslim memperbanyak kebaikan, kebijakan dan aktifitas yang dinilai baik oleh agama.

Doa merupakan pintu solusi terbesar, kunci pemenuhan hajat, tempat nyaman orang-orang yang terjerat kemiskinan, pengungsian orang-orang yang terdesak dan peristirahatan orang-orang yang sedang mumpunyai hajat. Allah telah memerintahkan pelaksaanaan doa, Ia berfirman: 

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ [الأعراف: 55]

“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut.” (QS. al-A’raf: 55)

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ [غافر: 60]

Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepadaKu, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.”  (QS. Ghafir: 60)

Nabi Saw telah membawa kabar bagi seseorang yang diilhami untuk mau berdoa dengan dikategorikan sebagai orang-orang yang mendapat rahmat. Beliau Saw bersabda:

     مَنْ فُتِحَ لَهُ مِنْكُمْ بَابُ الدُّعَاءِ فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الرَّحْمَةِ، وَمَا سُئِلَ اللهُ شَيْئًا -يَعْنِي أَحَبَّ إِلَيْهِ- مِنْ أَنْ يُسْأَلَ الْعَافِيَةَ(رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَالْحَاكِمُ)

     Siapa dari kalian yangpintu doa dibukakan baginya maka pintu-pintu rahmat terbuka banginya. Allah tidak dimintai sesuatu yang lebih Ia sukai dari pada permintaan kesehatan.” (HR. at-Tirmidzi dan al-Hakim)

Nabi Saw juga membawa kabar gembira bahwa seseorang yang berdoa itu sungguh dijaga dengan penjagaan Allah, dan dilindungi dengan perlindungan khusus yang ada di sisiNya, laksana pedang yang digunakan untuk  memerangi dan melawan musuh dalam rangka membela diri. Beliau Saw bersabda:

الدُّعَاءُ سِلاَحُ الْمُؤْمِنِ، وَعِمَادُ الدِّينِ، وَنُورُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ (رَوَاهُ الْحَاكِمُ، وَقَالَ: صَحِيحُ الْإِسْنَادِ) 

     “Doa itu senjata orang mukmin, tiang agama, dan cahaya langit dan bumi.” (HR. al-Hakim, beliau berkata: “Shahih sanadnya.”)

Nabi Saw bersabda:

     لاَ تَعْجِزُوا في الدُّعَاءِ فَإِنَّهُ لَنْ يَهْلِك مَعَ الدُّعَاءِ أَحَدٌ(رَوَاهُ ابْنُ حِبَّانَ فِي صَحِيحِهِ، وَالْحَاكِمُ)

     Janganlah kalian lebah dalam berdoa, sebab sungguh seseorang tidak akan binasa besertaan (kemauan) berdoa.”  (HR. Ibn Hibban, dalam Shahihnya, dan al-Hakim)

Beliau Saw bersabda pula:

     أَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يُنَجِّيكُمْ مِنْ عَدُوِّكُمْ وَيُدِرُّ لَكُمْ أَرْزَاقَكُمْ؟ تَدْعُونَ اللهَ فِي لَيْلِكُمْ وَنَهَارِكُمْ، فَإِنَّ الدُّعَاءَ سِلاَحُ الْمُؤْمِنِ (رَوَاهُ أَبُو يَعْلَى)

     “Ingatlah! Aku tunjukkan perkara yang dapat menyelamatkan kalian dari musuh kalian dan memperlancar rezki kalian. Berdoalah kepada Allah di malam dan siang hari kalian, sebab sungguh doa merupakan senjata bagi orang mukmin.” (HR. Abu Ya’la)

Nabi Saw juga membawa berita gembira bagai orang yang berdoa bahwa doanya dikabulkan dan menghadapnya kepada Allah diterima. Beliau Saw bersabda:

     إِنَّ اللهَ تَعَالَى حَيِيٌ كَرِيمٌ، يَسْتَحِي إِذَا رَفَعَ الرَّجُلُ إلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا خَائِبَتَيْنِ (رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ وَحَسَّنَهُ، وَابْنُ مَاجَهْ وَابْنُ حِبَّانَ فِي صَحِيحِهِ وَالْحَاكِمُ، وَقَالَ صَحِيحُ عَلَى شَرْطِ الشَّيْخَيْنِ)

     “Sungguh Allah itu laksana orang pemalu yang Maha Pemurah, Ia meninggalkan tindakan yang membuat malu.[1] Bila ada seseorang menengadahkan kedua tangannya maka ia tolak dengan kondisi kosang dan merugi.” (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibn Hibban dalam Shahihnya, dan al-Hakim, ia berkata: “Sesuai standar Imam al-Bukhari dan Muslim.”)

Nabi Saw bersabda:

     أَنَّ اللهَ حَيٌّ كَرِيمٌ، يَسْتَحِي مِنْ عَبْدِهِ أَنْ يَرْفَعَ إِلَيْهِ يَدَيْهِ ثُمَّ لاَ يَضَعُ فِيهِمَا خَيْرًا (رَوَاهُ الْحَاكِمُ، وَقَالَ: صَحِيحُ الإِسْنَادِ)

     “Sungguh Allah Dzat yang Maha Penyayang dan Maha Pemurah, Ia meninggalkan tindakan yang membuat malu dari hambanya yang menengadahkan kedua tangannya kepadaNya, kemudian Ia letakkan kebaikan pada kedua tangan itu.”(HR. al-Hakim, beliau berkata: “Shahih sanadnya.”)

Nabi Saw juga menjelaskan cara pengabulan doa ini dan semuanya menjadi kebaikan bagi orang yang berdoa, yang terkadang ia peroleh seketika atau di waktu kemudian. Maka segala kondisi orang yang berdoa merupakan kondisi yang baik. Baik ia ketahui ataupun tidak. Beliau Saw bersabda:

     مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلَا قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلَّا أَعْطَاهُ اللهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ: إِمَّا أَنْ يُعَجَّلَ لَهُ بِدَعْوَتُهُ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ، وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنْ السُّوءِ مِثْلَهَا، قَالُوا: إِذًا نُكْثِرُ قَالَ: اللهُ أَكْثَرُ (رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالْبَزَّارُ وَأَبُو يَعْلَى بِأَسَانِيدَ جَيِّدَةٍ، وَالْحَاكِمُ، وَقَالَ: صَحِيحُ الإِسْنَادِ)

     “Tidaklah seorang muslim yang berdoa dengan suatu doa yang tidak mengandung dosa dan pemutusan silaturrahim melainkan dengan doa tersebut Allah akan memberinya salah satu dari tiga hal; yaitu adakalanya Allah mempercepat (pengabulan) doanya itu baginya, menyimpan doa itu untuknya sampai di akhirat, dan mencegah kesialan seukuran doanya.” Para sahabat berkata: “Jika begitu kami memperbanyak doa wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Allah lebih banyak mengabulkan dari pada doamu.”  (HR. Ahmad, al-Bazzar, Abu ya’la dengan beberapa sanad yang bagus, dan al-Hakim, beliau berkata: “Shahih sanadnya.”)

Nabi Saw telah mengabarkan, bahwa doa bisa mencegah datangnya bencana dan meringankan takdir Allah dengan takdirNya. Beliau Saw bersabda:

     لَا يُغْنِي حَذَرٌ مِنْ قَدَرٍ, وَالدُّعَاءُ يَنْفَعُ مِمَّا نَزَلَ وَمَا لَمْ يَنْزِلْ. وَإِنَّ الْبَلَاءَ لَيَنْزِلُ فَيَلْقَاهُ الدُّعَاءُ فَيَعْتَلِجَانِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ (رَوَاهُ الْبَزَّارُ وَالطَّبَرَانِيُّ وَالْحَاكِمُ، وَقَالَ: صَحِيحُ الإِسْنَادِ)

      “ Suatu usaha (berobat, menjaga kesehatan dan semisalnya) tidak bisa mencegah qadha` yang telah ditakdirkan oleh Allah, sedangkan doa bisa bermanfaat bagi qadha` yang telah turun dan yang belum turun. Sungguh cobaan akan turun kemudian dihadang oleh doa, kemudian keduanya berperang sampai hari kiamat.”[2]  (HR. al-Bazzar, ath-Thabarani dan al-Hakim, beliau berkata: “Shahih sanadnya.”)

Nabi Saw bersabda:

     لَا يَرُدُّ الْقَضَاءَ إلَّا الدُّعَاءُ، وَلَا يَزِيدُ فِي الْعُمْرِ إلَّا الْبِرُّ(رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ ، وَقَالَ:صَحِيحُ الإِسْنَادِ)

     Tidak ada yang bisa menolak qadha` kecuali doa dan tidak ada yang bisa menambah umur kecuali kebaikan.” (HR. at-Tirmidzi, beliau berkata: “Ini hadits hasan gharib.”)

Beliau Saw telah memberi petunjuk kepada kita bahwa jalan dikabulkannya doa adalah kontinyu dan terus-menerus memohon kepada Allah disetiap waktu. Beliau Saw bersabda:

     مَن سَرَّهُ أَنْ يَسْتَجِيبَ اللهُ لَهُ عِنْدَ الشَّدَائِدِ فَليُكْثِرِ مِنَ الدُّعَاءِ في الرَّخَاءِ (رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَالْحَاكِمُ، وَقَالَ كُلٌّ مِنْ هُمَا:صَحِيحُ الإِسْنَادِ)

     Siapa saja yang senang Allah mengabulkan doanya di waktu banyaknya kesusahan hendaklah memperbanyak doa di waktu kelapangan.” (HR. at-Tirmidzi, dan al-Hakim, beliau berdua berkata: “Shahih sanadnya.”)

Beliau Saw bersabda pula:

     لَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَمَ عَلَى اللهِ مِنْ الدُّعَاءِ (رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَابْنُ مَاجَهْ وَابْنُ حِبَّانَ فِي صَحِيحِهِ وَالْحَاكِمُ وَقَالَ: صَحِيحُ الإِسْنَادِ)

     “Tiada sesuatu yang lebih mulia menurut Allah dari pada doa di waktu kelapangan.” (HR. at-Tirmidzi, Ibn Majah, Ibn Hibban dalam Shahihnya, dan al-Hakim, beliau berdua berkata: “Shahih sanadnya.”)

Maka hadits-hadits tersebut dan selainnya menujukkan bahwa doa termasuk sebab terkuat dalam menolak perkara yang dibenci. Doa menjadi musuh cobaan yang melawan dan memeranginya, mencegah turunnya, dan menghilangkan atau meringankannya ketika sudah turun seperti yang telah dijelaskan dalam hadits tadi, yang memberikan kesimpulan bahwa doa mempunyai  tiga tingkat kualitas di hadapan suatu cobaan, yaitu;

1.   Lebih kuat dari pada cobaan, maka bisa menolaknya.

2.   Lebih lemah dari pada cobaan, maka cobaan mengalahkannya dan seseorang menderita cobaan tersebut. Namun terkadang doa tetap bisa meringankannya meski lemah.

3.   Sama kuatnya, sehingga keduanya saling bersaing dan mencegah satu sama lain. Namun terkadang ekses negatif cobaan tersebut masih dirasakan karena kelemahan seseorang, yaitu adakalanya disebabkan dirinya melakukan kezaliman yang tidak disukai oleh Allah. Adakalanya disebabkan kelemahan hatinya dan tidak benar-berar menghadap Allah dan merasa berkumpul dengannya saat berdoa, maka dirinya laksana busur panah yang sangat kendor sehingga anak panah yang melesat darinya juga sangat lemah. Adakalanya karena terdapat penghalang dikabulkannya doa seperti makanan haram, kotoran dosa di hati, dominasi dan unggulnya kelalaian, sahwat, gurauan  pada  dirinya, seperti diterangkan suatu hadits dalam Mustadrik al-Hakim riwayat Abu Hurairah ra:

     اُدْعُوا الله وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالْإِجَابَةِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ لَا يَسْتَجِيبُ دُعاءً مِنْ قَلْبٍ غافِلٍ لَاهٍ

Dari Nabi Saw beliau bersabda: “Berdoalah kepada Allah dengan kondisi yakin dikabulkan. Ketahuilah sungguh Allah tidak menerima doa dari hati ang lalai dan terkuasai urusan dunia.”

Maka doa merupakan obat yang berfungsi menghilangkan penyakit, namun kelalaian hati dari Allah melemahkan kekuatannya. Begitu pula makanan haram menghilangkan kekuatan dan melemahkannya, seperti dijelaskan dalam hadits shahih Muslim riwayat Abu Hurairah ra: 

     أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا، وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ المُرْسَلِينَ. فَقَالَ:يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا،[3] فَقَالَ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ.[4] ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إلَى السَّمَاءِ: يَا رَبِّ … يَا رَبِّ … وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، ومَلْبَسُهُ حَرَامٌ ، وَغُذِّيَ بالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِهُ؟

     “Rasulullah Saw bersabda: “Wahai manusia! Sungguh Allah adalah Dzat Yang Baik dan tidak menerima kecuali kebaikan. Sungguh Allah memerintah kamu mukminin dengan perkara yang telah diperintahkan kepada para Rasul.” Lalu beliau membaca: “Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal saleh. Sesungguhnya aku Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” Dan membaca: “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepada kalian dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kalian menyembah.” Kemudian beliau mengisahkan seorang lelaki yang melakukan perjalanan jauh yang kusut rambutnya dan berdebu badannya, yang menengadahkan kedua tangannya ke langit (merintih berdoa): “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku! Sementara makanan, minuman, pakaian dan (di waktu kecil) disuapi dengan barang haram.  Maka bagaimana bisa diabulkan (doa)nya?”

 Abdullah bin Imam Ahmad dalam kitab az-Zuhd karya ayahnya meriwayatkan:

     “Bani Isra`il terkena cobaan dan paceklik. Mereka keluar dan berteriak-teriak, lalu Allah memberi wahyu kepada salah seorang Nabi dari para nabi mereka untuk memberi kabar kepada mereka: Kalian keluar ke tanah yang tinggi dengan badan najis, mengangkat telapak-telapak tangan yang telah kalian gunakan untuk melakukan pembunuhan dan untuk memenuhi keharaman di rumah-rumah kalian. Sekarang tiba saatnya murkaKu memuncak dan kalian hanya akan bertambah jauh dari rahmatKu.”[5]

Abu Dzar ra berkata:

“Cukupnya doa disertai kebaikan laksana cukupnya makanan dibumbui garam.”[6]

Doa Nishfu Sya’ban

Tidak terdapat riwayat doa tertentu dari Rasulullah Saw yang khusus dibaca di malam Nishfu Sya’ban. Begitu pula tidak ada shalat tertentu yang khusus dilaksanakan di malam harinya. Yang ada  hanyalah anjuran secara mutlak untuk menghidupkannya dengan berbagai macam doa dan ibadah tanpa ketentuan. Maka siapa saja yang membaca al-Qur’an, berdoa, shalat, bersedekah, dan melakukan amal saleh yang mudah dilakukannya dari berbagai ibadah, berarti ia telah menghidupkannya dan memperoleh pahalanya. Insyaallah.

Dalam hadits riwayat Aisyah -radhiyallahu ‘anha- tentang kisah yang cukup panjang, beliau berkata:

      دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَوَضَعَ عَنْهُ ثَوْبَيْهِ، ثُمَّ لَمْ يَسْتَتِمَّ أَنْ قَامَ، فَلَبِسَهُمَا، فَأَخَذَتْنِي غَيْرَةٌ شَدِيدَةٌ، ظَنَنْتُ أَنَّهُ يَأْتِي بَعْضَ صُوَيْحِبَاتِي، فَخَرَجْتُ فَأَدْرَكْتُهُ بِالْبَقِيعِ الْغَرْقَدِيَسْتَغْفِرُ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالشُّهَدَاءِ. فَقُلْتُ[7] بِأَبِي وَأُمِّي أَنْتَ فِي حَاجَةِ رَبِّكَ وَأَنَا فِي حَاجَةِ الدُّنْيَا، فَانْصَرَفَتُ فَدَخَلْتُ حُجْرَتِي وَلِي نَفَسٌ عَالٍ وَلَحِقَنِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: مَا هَذَا النَّفَسُ يَا عَائِشَةُ؟ فَقُلْتُ: بِأَبِي وَأُمِّي أَتَيْتَنِي فَوَضَعْتَ عَنْكَ ثَوْبَيْكَ ثُمَّ لَمْ تَسْتَتِمَّ أَنْ قُمْتَ فَلَبِسْتَهُمَا فَأَخَذَتْنِي غَيْرَةٌ شَدِيدَةٌ، ظَنَنْتُ أَنَّكَ تَأْتِي بَعْضَ صُوَيْحِبَاتِي، حَتَّى رَأَيْتُكَ بِالْبَقِيعِ تَصْنَعُ مَا تَصْنَعُ، فَقَالَ: يَا عَائِشَةُ أَكُنْتِ تَخَافِينَ أَنْ يَحِيفَ اللهُ عَلَيْكِ وَرَسُولُهُ؟ أَتَانِي جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ، فَقَالَ: هَذِهِ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ وَلِلهِ فِيهَا عُتَقَاءُ مِنِ النَّارِ بِعَدَدِ شُعُورِ غَنَمِ كَلْبٍ لَا يَنْظُرُ اللهُ فِيهَا إِلَى مُشْرِكٍ وَلَا إلَى مُشَاحِنٍ وَلَا إِلَى مُسْبِلٍ وَلَا إلَى عَاقٍّ لِوَالِدَيْهِ وَلَا إلَى مُدْمِنِ خَمْرٍ، قَالَتْ: ثُمَّ وَضَعَ عَنْهُ ثَوْبَيْهِ، فَقَالَ لِي: يَا عَائِشَةُ، تَأْذَنِينَ لِي فِي قِيَامِ هَذِهِ اللَّيْلَةِ؟ قُلْتُ: نَعَمْ بِأَبِي وَأُمِّي فَقَامَ فَسَجَدَ لَيْلًا طَوِيلًا حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ قَدْ قُبِضَ، فَقُمْتُ أَلْتَمِسُهُ وَوَضَعْتُ يَدِي عَلَى بَاطِنِ قَدَمَيْهِ، فَتَحَرَّكَ، فَفَرِحْتُ وَسَمِعْتُهُ يَقُولُ فِي سُجُودِهِ: أَعُوذُ بِعَفْوِكَ مِنْ عِقَابِكَ، وَأَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ جَلَّ وَجْهُك، لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ. فَلَمَّا أَصْبَحَ ذَكَرْتُهُنَّ لَهُ قَالَ: يَا عَائِشَةُ تَعَلَّمِيهُنَّ، قُلْتُ: نَعَمْ، فَقَالَ: تَعَلَّمِيهُنَّ وَعَلِّمِيهِنَّ، فَإِنَّ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلَامُ عَلَّمَنِيهِنَّ وَأَمَرَنِي أَنْ أُرَدِّدَهُنَّ فِي السُّجُودِ  (قَالَ فِي التَّرْغِيبِ: رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ)

     “Rasulullah Saw masuk menemuiku dan menanggalkan kedua pakaiannya. Kemudian sebelum beliau sempurna berdiri, beliau memakainya lagi. Maka aku sangat cemburu, ku kira beliau pergi mendatangi sebagian beberapa maduku. Kemudian aku keluar mengikutinya dan kutemukan beliau berada di (kuburan) al-Baqi’ al-Gharqad memohonkan ampunan bagi mukminin, mukminat dan para syuhada`.” Lalu aku berkata: “Demi ayah dan ibuku, anda sedang berhajat pada Tuhan anda, sedangkan saya dalam hajat dunia. Aku masuk ke kamarku dan nafasku meninggi, kemudian Rasulullah Saw menyusulku.” Beliau bertanya: “Mengapa nafasmu begini wahai ‘Aisyah?” Aku menjawab:  “Demi ayah dan ibuku, anda mendatangiku kemudian menanggalkan kedua pakaian anda dan sebelum sempurna berdiri anda memakainya lagi sehingga aku sangat cemburu. Ku kira anda pergi mendatangi sebagian beberapa maduku. Sampai aku melihat anda berada di (kuburan) al-Baqi’ melakukan yang anda lakukan.” Beliau kemudian bersabda: “Wahai Aisyah! Apakah engkau menyangka Allah dan Rasulnya menzalimimu (dengan menjadikan malam giliranmu untuk istri yang lain)?” Jibril As telah mendatangiku dan berkata: “Ini adalah malam Nishfu Sya’ban. Sungguh di dalamnya Allah memiliki orang-orang yang dibebaskan dari neraka sejumlah bulu domba milik bani Kalb. Pada saat itu Allah tidak melihat (merahmati) orang musyrik, provokator, pemutus silaturrahim, orang yang memanjangkan pakain sampai ke tanah (karena takabur), orang yang mendurhakai kedua orang tuanya, dan orang yang selalu minum khamr.” Aisyah lalu berkata: “Kemudian Nabi Saw menanggalkan kedua pakaiannya dan bersabda kepadaku: “Wahai Aisyah! Apakah kamu mengizinkanku untuk qiyam (beribadah) pada malam ini?” Aku menjawab: “Ya, demi ayah dan ibuku.” Lantas Nabi Saw beranjak dan melakukan sujud lama sekali, sehingga ku sangka beliau meninggal dunia. Aku beranjak menyentuhnya dan ku letakkan tanganku di bagian dalam kedua telapak kaki beliau, kemudian beliau bergerak-gerak. Maka bahagialah diriku dan ku dengar dalam sujudnya beliau berdoa: “Dengan ampunanMu aku berlindung dari siksaMu, dengan ridhaMu aku berlindung dari kemarahanMu, aku berlindung dariMu Yang Maha Agung DzatMu. Tidak ku batasi puji bagimu seperti halnya Engkau memuji diriMu.” Lalu setelah subuh aku ingatkan doa itu kepada beliau dan beliau bersabda: “Wahai Aisyah! Pelajarilah dan ajarkanlah doa tadi. Sebab, sungguh Jibril As telah mengajarkannya padaku dan memerintahku untuk mengulang-ulanginya dalam sujud.” (Dalam at-Targhib al-Mundziri berkata: “Al-Baihaqi telah meriwayatkannya.”)

Dalam riwayat lain dari Aisyah -radhiyallahu ‘anha- beliau berkata: 

     كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ لَيْلَتِي وَكَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدِِي، فَلَمَّا كَانَ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ فَقَدْتُهُ، فَأَخَذَنِي مَا يَأْخُذُ النِّسَاءَ مِنَ الْغِيرَةِ، فَتَلَفَّعْتُ بِمُرْطِي. فَطَلَبْتُهُ فِي حِجْرِ نِسَائِهِ فَلَمْ أَجِدْهُ فَانْصَرَفْتُ إِلَى حُجْرَتِي، فَإِذًا أَنَا بِهِ كَالثَّوْبِ السَّاقِطِ وَهُوَ يَقُولُ فِي سُجُودِهِ: سَجَدَ لَكَ خِيَالِي وَسَوَادِي وَ آمَنَ بِكَ فُؤَادِي، فَهٰذِهِ يَدِي وَمَا جَنَيْتُ بِهَا عَلَى نَفْسِي، يَا عَظِيمُ يُرْجَى لِكُلِّ عَظِيمٍ، يَا عَظِيمُ اغْفِرِ الذَّنْبَ الْعَظِيمَ، سَجَدَ وَجْهِيَ لِلَّذِي خَلَقَهُ وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ. ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ ثُمَّ عَادَ سَاجِدًا، فَقَالَ: أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ وَأَعُوذُ بِعَفْوِكَ مِنْ عِقَابِكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ، أَقُولُ كَمَا قَالَ أَخِي دَاوُدَ: أَعْفِرُ وَجْهِي فِي التُّرَابِ لِسَيِّدِي، وَحَقٌّ لَهُ أَنْ يَسْجَدَ. ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ، فَقَالَ: اَللهم ارْزُقْنِي قَلْبًا تَقِيًا مِنَ الشِرْك نَاقِيًا لَا حَافِيًا وَلًا شَقِيًّا. ثُمَّ انْصَرَفَ فَدَخَلَ مَعِي فِي الْخَمِيلَةِ وَلِي نَفَسٌ عَالٍ، فَقَالَ: مَا هٰذَا النَّفَسُ يَا حُمَيْرَاءُ؟ فَأَخْبَرْتُهُ فَطَفِقَ يَسْمَحُ بِيَدِهِ عَلَى رُكْبَتَيَّ وَيَقُولُ: وَيحْ هَاتَيْنَ الرُّكْبَتَيْنَ مَا لَقِيتَا هٰذِهِ اللَّيْلَةَ؟ هٰذِهِ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ يَنْزِلُ اللهُ فِيهَا إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيَغْفِرُ لِعِبَادِهِ إِلَّا الْمُشْرِكَ وَ الْمُشَاحِنَ (وهٰذَانِ الحَدِيثَانِ ضَعِيفَانِ)

     “Malam Nishfu Sya’ban bertepatan dengan malam(giliran)ku, dan Rasulullah Saw sudah berada di sisiku. Menjelang tengah malam aku kehilangan beliau. Maka aku dilanda rasa cemburu yang sering dialami para wanita. Kemudian aku menutupi (diriku) dengan kain sarungku dan mencari beliau di kamar para istrinya (yang lain), dan kemudian kembali lagi ke kamarku. Tiba-tiba aku (lunglai) seperti baju yang terjatuh, sementara beliau Saw dalam sujudnya sedang berdoa: “Kepala dan pengliahatanku sujud kepadaMu, hatiku aman bersamaMu, inilah tanganku dan kealpaan yang kulakukan dengannya yang merugikanku. Wahai Dzat Yang Maha Agung yang menjadi harapan setiap perkara agung, wahai Dzat Yang Maha Agung ampunilah dosa yang agung. Wajahku sujud kepada Dzat yang menciptanya, yang melobangi telinga dan penglihatannya. Beliau kemudian mengangkat kepalanya dan kemudian kembali sujud seraya berdoa: “Dengan ridhaMu aku berlindung dari murkaMu, dengan ampunanMu aku berlindung dari siksaMu, denganMu aku berlindung dariMu, Engkau sebagaimana memuji pada diriMu sendiri, aku berdoa seperti halnya saudaraku Dawud berdoa: “Ku lesakkan wajahku ke tanah kepada TuanKu, Tuanku yang berhak disujudi.” Beliau mengangkat kepalanya dan berdoa: “Ya Allah! Berilah diriku rezki hati yang bersih dan terjaga dari kesyirikan, tidak keras dan tidak celaka. Lantas beliau beranjak dan masuk ke khamilah (kain beludru) bersamaku sementara nafasku meninggi. Beliau bertanya: “Mengapa nafasmu ini wahai Humaira`? Lalu aku mengabarkan kisah tadi. Kemudian dengan tangannya beliau mulai mengelus-elus kedua lututku seraya berkata: “Aduhai dua lutut (Aisyah)! Apa yang engkau jumpai malam ini? Malam ini adalah malam Nishfu Sya’ban yang di dalamnya (rahmat)Allah turun ke langit dunia, lalu Allah memberi ampunan bagi para hambanya kecuali orang musyrik dan provokator.” (Kedua hadits ini dha’if)

Diriwayatkan pula dari Aisyah -radhiyallahu ‘anha- beliau berkata:

     قَامَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ اللَّيْلِ، فَصَلَّى فَأَطَالَ السُّجُودَ حَتَّى ظَنَنْت أَنَّهُ قَدْ قُبِضَ، فَلَمَّا رَأَيْتُ ذَلِكَ قُمْتُ حَتَّى حَرَّكْتُ إِبْهَامَهُ فَتَحَرَّكَ فَرَجَعْتُ، فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ فِي سُجُودِهِ: أَعُوذُ بِعَفْوِكَ مِنْ عِقَابِكَ وَأَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ إِلَيْكَ، لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ. فَلَمَّا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ السُّجُودِ وَفَرَغَ مِنْ صَلَاتِهِ قَالَ : يَا عَائِشَةُ -أَوْ يَا حُمَيْرَاءُ- أَظَنَنْتِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ خَاسَ بِكَ؟ قُلْتُ: لَا وَاللهِ يَا رَسُولَ اللهِ، وَلَكِنِّي ظَنَنْتُ أَنَّك قَدْ قُبِضْتَ لِطُولِ سُجُودِك. فَقَالَ: أَتَدْرِينَ أَيُّ لَيْلَةٍ هَذِهِ؟ قُلْت : اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: هٰذِهِ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَطَّلِعُ عَلَى عِبَادِهِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِلْمُسْتَغْفِرَيْنِ وَيَرْحَمُ الْمُسْتَرْحِمِينَ وَيُؤَخِّرُ أَهْلَ الْحِقْدِ كَمَا هُمْ (رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّمِنْ طَرِيقِ الْعَلَاءِ بْنِ الْحَارِثِ عَنْهَا، وَقَالَ: هٰذَا مُرْسَلٌ جَيِّدٌ. يَعْنِي أَنَّ الْعَلَاءَ لَمْ يَسْمَعْ مِنْ عَائِشَةَ. وَاللهُ أَعْلَمُ)

     “Rasulullah Saw bangun malam, lalu shalat dan memanjangkan sujud, sehingga aku menduga ruh beliau telah dicabut. Maka ketika aku melihat hal itu, aku beranjak berdiri sehingga ku gerak-gerakkan ibu jari beliau. Kemudian ibu jari beliau bergerak-gerak. Lalu aku kembali. Setelah beliau mengangkat kepala dan selesai dari shalatnya, beliau bersabda: “Wahai Aisyah -atau Wahai Humaira`- Apakah kamu menyangka bahwa Nabi Saw telah menghianatimu (lalu tidak memenuhi hakmu)? Aku menjawab: “Tidak wahai Rasulullah, akan tetapi aku menyangka engkau telah dicabut nyawanya karena lamanya sujudmu. Beliau bertanya: “Tahukah kamu, malam apakah ini?” Aku menjawab: “Allah dan RasulNya lebih mengetahui.” Beliau bersabda: “Ini adalah malam Nishfu Sya’ban. Sungguh pada malam Nishfu Sya’ban Allah Swt menampakkan (rahmatNya) kepada para hambaNya, kemudian Ia mengampuni orang-orang yang memohon ampunan, mengasihi orang-orang yang memohon belas kasih, dan menunda para pendendam seperti halnya mereka.” (HR. Al-Baihaqi, dari jalur al-‘Ala` bin al-Harits. Beliau berkata: “Ini hadits mursal jayyid.” Maksudnya al- Ala` tidak mendengar (langsung) dari Aisyah. Waallahu subhanau a’lam.)

Dikatakan:خَاسَ بِهِ ketika seseorang mengkhianati dan tidak memenuhi hak orang lain. Sedangkan makna hadits tersebut adalah:

     “Apakah engkau mengira aku telah mengkhianatimu dan di malam (giliran bersama)mu aku pergi kepada (istriku) yang lain?”

Kata tersebut menggunakan huruf خَاءْdan سِينْ.

Doa Populer dan Mujarab

Sungguh telah mentradisi pembacaan doa Nishfu Sya’ban disertai pembacaan surat yasin secara berurutan, yaitu doa;

     بِسْمِ اللهِالرَحْمٰنِ الرَّحِيمِ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَـحْبِهِ وَسَـلَّمَ. اَللهميَا ذَا الْمَنِّ وَلَا يُمَنُّ عَلَيْهِ، يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ، يَا ذَا الطُّولِ وَالْإِنْعَامِ، لَاإله إِلَّا أَنْتَ ظَهْرُ اللَّاجِئِينَ، وَجَارُ الْمُسْتَجِيرِينَ، وَمَأْمَنُ الْخَائِفِينَ. اَللهم  إِنْكُنْتَ كَتَبْتَنِي عِنْدَكَ (فِي أُمِّ الْكِتَابِ) شَـقِـيًا أَوْ مَحْـرُومًـا أَوْ مَطْرُودًا أَوْمُقْتَرًا عَلَيَّ فِي الرِّزْقِ، فَامْحُ اللهم بِفَضْلِكَ شَقَاوَتِي وَحِرْمَانِي وَطَرْدِي وَإِقْتَارَ رِزْقِي،وَأَثْبِتْنِي عِنْدَكَ فِي أُمِّ الْكِتَابِ سَعِيدًا مَرْزُوقًا مُوَفَّقًا لِلْخَيْرَاتِ، فَإِنَّكَ قُلْتَ وَقَوْلُكَالْحَقُّ فِي كِتَابِكَ الْمُنَـزَّلِ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّكَ الْمُرْسَلِ: ﴿يَمْحُو اللهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ﴾.[8]إِلٰهِي بِالتَّجَلِّي الْأَعْظَمِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَهْرِ شَعْبَانَ الْمُكَرَّمَ الَّتِي يُفْرَقُ فِيهَا كُلُّأَمْرٍ حَكِيمٍ وَيُبْرَمُ، أَسْأَلُكَ أَنْ تَكْشَفَ عَنَّا مِنَ الْبَلَاءِ مَا نَعْلَمُ وَمَا لَا نَعْلَمُ ، وَمَاأَنْتَ بِهِ أَعْلَمُ ، إِنَّكَ أَنْتَ الْأَعَزُّ الْأَكْرَمُ.وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . اِنْتَهَى

     “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Semoga Allah mencurahkan rahmat pengagungan dan keselamatan kepada Sayyidina Muhammad, para keluarga dan sahabatnya. Ya Allah, Wahai Dzat Pemilik anugerah dan Yang tidak dianugerahi (pihak lain), wahai Pemilik Keagungan dan Kemuliaan, wahai Pemilik Karunia dan Kenikmatan, tiada Tuhan selain Engkau tempat para pengungsi, tetangga para pencari tetangga, dan keamanan orang-orang yang ketakutan. Ya Allah, bila Engkau telah mencatatku di sisiMu (dalam Umm al-Kitab) sebagai orang yang celaka, terhalangi dari rahmat, tertolak, rejekiku tidak lancar, maka wahai Allah dengan kemurahanMu hapuslah celakaku, terhalangiku (dari rahmat), tertolakku dan ketidaklancaran rezkiku. Tetapkanlah diriku di sisiMu dalam Umm al-Kitab sebagai orang yang beruntung, diberi (kelancaran) rezki dan tertolong (melakukan) berbagai kebaikan. Sebab sungguh Engkau sudah berfirman dalam kitabMu yang diturunkan lewat perantara lisan NabiMu yang diutus: Allah menghapuskan dan menetapkan apa yang Dia kehendaki, dan di sisiNya terdapat Umm al-Kitab. Wahai Tuhanku dengan tajalli (penampakan rahmat) yang teragung dalam malam nishfu sya’ban yang dimuliakan, yang di dalamnya setiap perkara kokoh dibagi dan dikokohkan, aku memohon kepadaMu Engkau bukakan  dariku cobaan yang ku ketahui dan yang tidak ku ketahui, dan yang Engkau lebih ketahui. Sungguh Engkau Dzat Yang Maha Agung dan Maha Mulia. Semoga Allah mencurahkan rahmat pengagungan dan keselamatan kepada Sayyidina Muhammad, para keluarga dan sahabatnya.”

 Saya berpendapat, redaksi dalam doa tersebut yang berupa:

اللهم إِنْكُنْتَ كَتَبْتَنِي عِنْدَكَ … إلخ

“Ya Allah, bila Engkau telah mencatatku di sisiMu …”

itulah yang benar, bila diteliti dan dicarikan rujukannya. Sedangkan dalam mayoritas kitab-kitab populer yang beredar menggunakan tambahan redaksi فِي أُمِّ الْكِتَابِ, Redaksi tersebut salah dan kemungkinan merupakan distorsi para penyalinnya. Sebab, catatan dalam Ummul Kitab sudah tidak bisa dihapus dan ditetapkan (gantinya), sesuai firman Allah Swt:

يَمْحُو اللهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ

“Allah menghapuskan menetapkan apa yang Dia kehendaki, dan di sisiNya terdapat Ummul Kitab.”

Saya telah menyampaikan kesimpulan ini kepada sejumlah guru saya, para ahli hadits, dan fiqh, dan mereka membenarkannya.

Sebagian kalimat dalam doa ini diriwayatkan dari Ibn Mas’ud ra. Sementara dalam al-Mushannaf, Ibn Syaibah dan dalam ad-Du’a`, Ibn Abi ad-Dunya telah mentakhrijnya dari beliau dan beliau berkata:

     مَا دَعَا عَبْدٌ قَطُّ بِـهٰذِهِالدَّعَوَاتِ إِلَا وَسَّـعَ اللهُ لَهُ فِي مَعِيشَتِهِ: يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ، لَاإله إِلَّا أَنْتَ ظَهْرُ اللَّاجِئِينَ، وَجَارُ الْمُسْتَجِيرِينَ، وَمَأْمَنُ الْخَائِفِينَ. إِنْكُنْتَ كَتَبْتَنِي عِنْدَكَ فِي أُمِّ الْكِتَابِ اُمْحُ عَنِّي اسْمَ الشَّقَاءِ وَأَثْبِتْنِي سَعِيدًا، وَإِنْ كُنْتَ كَتَبْتَنِي عِنْدَكَ فِي أُمِّ الْكِتَابِ مَحْـرُومًـا مُقْتَرًا عَلَيَّ رِزْقِي فَامْحُ حِرْمَانِيوَيَسِّرْ رِزْقِي سَعِيدًا مُوَفَّقًا لِلْخَيْرِ، فَإِنَّكَ تَقُولُ فِي كِتَابِكَ الَّذِي أُنْزِلَتْ: ﴿يَمْحُو اللهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ﴾.

     “Tidaklah seorang hamba berdoa dengan doa-doa ini melainkan Allah akan melapangkan kehidupannya; “Ya Allah, Wahai Dzat Pemilik Anugerah dan Yang Tidak Dianugerahi (pihak lain), wahai Pemilik Keagungan dan Kemuliaan, wahai Pemilik Karunia, tiada Tuhan selain Engkau, tempat para pengungsi, tetangga para pencari tetangga, dan tempat aman bagi orang-orang yang ketakutan. Bila Engkau telah mencatatku di sisiMu dalam Umm al-Kitab sebagai orang yang celaka, maka hapuslah nama selaka dariku dan tetapkanlah diriku sebagai orang yang beruntung di sisiMu, bila Engkau telah mencatatku di sisiMu dalam Umm al-Kitab sebagai orang yang terhalangi (dari rahmat) dan rezkiku dipersulit, maka hapuslah keterhalanganku (dari rahmat) dan mudahkanlah rezkiku serta tetapkanlah diriku sebagai orang yang beruntung di sisiMu dan tertolong (melakukan) kebaikan. Sebab sungguh Engkau berfirman dalam kitabMu telah Engkau: “Allah menghapuskan dan menetapkan apa yang Dia kehendaki, dan di sisiNya terdapat Ummul Kitab.”

Doa Riwayat Para Salaf

Telah wurud beberapa doa ma`tsurat dari para ulama salaf –radhiyallahu ‘anhum- yang tidak khusus dibaca pada malam nisfhu sya’ban, namun sebagian ahli makrifat menilai baik doa tersebut dibaca pada malam nishfu sya’ban ini, bakkan pada setiap malam ketika ada kesempatan sesuai kemampuan seseorang. Di antaranya adalah doa lailah al-qadr:

     اَللهم إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي. اَللهمّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ وَالْمُعَافَاةَ الدَّائِمَةَ فِي الدِّينِ وَالدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ

     “Ya Allah! Sungguh Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Mulia yang suka memaafkan, maka maafkanlah diriku. Ya Allah! Sungguh aku memohon ampunan dan kesejahteraan abadi kepadaMu dalam urusan agama, dunia dan akhirat.”

Mengingat doa ini wurud dalam lailah al-qadr, sementara malam nishfu sya’ban merupakan malam yang paling utama setelahnya.

Doa Nabi Adam As

Termasuk doa yang utama dibaca pula adalah doa yang diriwayatkan segolongan ulama dengan sanad la ba`sa bih dari Abu Barzah ra, beliau berkata:

     قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:لَمَّا هُبِطَ آدَمُ إِلَى الْأَرْضِ طَافَ بِالْبَيْتِ أُسْبُوعًا وَصَلَّى خَلْفَ الْمَقَامِ رَكْعَتَيْنِ، ثُمَّ قَالَ: اَللهم إِنَّكَ تَعْلَمُ سِرِّي وَعَلَانِيَتِي فَاقْبِلْ مَعْذِرَتِي، وَتَعْلَمُ حَاجَتِي فَأَعْطِنِي سُؤْلِي، وَتَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي ذُنُوبِي.اَللهم إِنِّي أَسْأَلُكَ إِيمَانًا يُبَاشِرُ قَلْبِي، وَيَقِينًا صَادِقًا حَتَّى أَعْلَمُ أَنَّهُ لَا يُصِيبُنِي إِلَّا مَا كَتَبْتَ لِي، وَرَضِنِي بِقَضَائِكَ.فَأَوْحَى اللهُ إِلَيْهِ: يَا آدَمُ، إِنَّكَ دَعَوْتَنِي بِدُعَاءٍ فَاسْتَجَبْتُلَكَ فِيهِ، وَلَنْ يَدْعُوَنِي بِهِ أَحَدٌ مِنْ ذُرِّيَّتِكَ إِلَّا اسْتَجَبْتُ لَهُ وَغَفَرْتُ لَهُ ذَنْبَهُ وَفَرَجْتُ هَمَّهُ وَغَمَّهُ وَاتَّجَرْتُ لَهُ مِنْ وَرَاءِ كُلِّ تَاجِرٍ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا رَاغِمَةً وَإِنْ كَانَ لَا يُرِيدُهَا. اِنْتَهَى

     “Rasulullah Saw bersabda: “Saat Adam diturunkan ke bumi, maka beliau thawaf di Baitullah tujuh kali, shalat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim, dan kemudian berdoa: “Ya Allah! Sungguh Engkau mengetahui rahasia dan lahirku, maka terimalah udzurku. Engkau mengetahui hajatku, maka berilah permintaanku. Engkau mengetahui isi hatiku, maka ampunilah dosaku. Ya Allah! Sungguh aku memohon kepada Mu iman yang menyatu dalam hati, keyakian yang benar sehingga aku yakin sungguh tidak akan menimpaku melainkan perkara yang telah ditetapkan bagiku, dan dan jadikan diriku rela dengan qadha`Mu.” Kemudian Allah menurunkan wahyu kepadanya: “Wahai Adam! Sungguh engkau telah berdoa kepadaKu dengan suau doa,maka aku meluluskannya untukmu, dan tidak ada seorang pun dari keturunanmu detelah kematianmu yang berdoa dengannya kecuai Aku luluskan, Aku ampuni dosanya, Aku bebaskan keprihatinan dan kesusahannya. Aku perjualbelikan untuknya dari balik setiap pedagang dan dunia akan mendatanginya secara pasti, meski ia tidak menghendainya. Demikian sabda Rasulullah Saw.

Doa al-Jilani

Doa berikut ini dinisbatkan kepada al-Imam asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani. Doa ini bagus dibaca pada malam Nishfu Sya’ban dan semisalnya, yaitu:

     اَللهم إِذْ أَطْلَعْتَ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ عَلَى خَلْقِكَ، فَعُدْ عَلَيْنَا بِمَنِّكَ وَعِتْقِكَ، وَقَدِّرْ لَنَا مِنْ فَضْلِكَ وَاسِعَ رِزْقِكَ، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ يَقُومُ لَكَ فِيهَا بِبَعْضِ حَقِّكَ. اَللهم مَنْ قَضَيْتَ فِيهَا بِوَفَاتِهِ فَاقْضِ مَعَ ذٰلِكَ لَهُ رَحْمَتَكَ، وَمَنْ قَدَّرْتَ طُولَ حَيَاتِهِ فَاجْعَلْ لَهُ مَعَ ذٰلِكَ نِعْمَتَكَ، وَبَلِّغْنَا مَا تَبْلُغُ الْآمَلُ إِلَيْهِ، يَا خَيْرَ مَنْ وَقَفَتِ الْأَقْدَامُ بَيْنَ يَدَيْهِ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ خَلْقِهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

     “Ya Allah. Saat Engkau tampakkan(rahmat) di malam Nishfu Sya’ban pada makhlukMu, maka kembalikanlah karunia dan pembebasan dariMu pada kami, takdirkanlah kelapangan rezkiMu bagi kami,dan jadikanlah kami tergolong orang yang beribadah kepadaMu pada malam tersebut dengan (memenuhi) sebagian hakMu. Ya Allah! Orang yang Engkau pastikan wafatnya di malam tersebut maka besertaan itu pastikan (pula) rahmatMu baginya, orang yang ditakdirkan panjang usianya maka besertaan itu jadikanlah nikmatMu baginya, dan sampaikanlah kami pada pencapaian angan-angan, wahai Dzat Yang Terbaik kaki-kaki berhenti di hadapannya, wahai Tuhan Semesta Alam, demi kasihMu wahai Dzat Yang Maha Pengasih dari segala dzat yang pengasih. Semoga rahmat ta’dzim Allah Ta’ala senantiasa terlimpah bagi Sayyidina Muhammad, makhluk terbaikNya, para keluarga dan sahabat, semuanya.” 

Doa al-Hadad

Al-Imam al-Habib Hasan bin Syaikh al-Islam al-Habib Abdullah bin ‘Alawi al-Hadad telah mengumpulkan doa penuh berkah berikut ini;

     بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ. يَا ذَا الْمَنِّ وَلَا يُمَنُّ عَلَيْكَ، يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ، يَا ذَا الطُّولِ وَالْإِنْعَامِ، لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ ظَهْرَ اللَّاجِينَ، وجَارَ الْمُسْتَجِيرِينَ، وَمَأْمَنَ الْخَائِفِينَ. اَللهم إِنْ كُنْتَ كَتَبْتَنِي عِنْدَكَ فِي أُمِّ الْكِتَابِ شَقِيًّا أَوْ مَحْرُومًا أَوْ مَطْرُودًا أَوْ مُقَتَّرًا عَلَيَّ فِي الرِّزْقِ فَامْحُ شَقَاوَتِي وَحِرْمَانِي وَطَرْدِي وَتَقْتِيرِ رِزْقِي، وَأَثْبِتْنِي عِنْدَكَ سعيدًا مَرْزُوقًا مُوَفَّقًا لِلْخَيْرَاتِ. فَإِنَّكَ قُلْتَ وَقَوْلُكَ الْحَقُّ فِي كِتَابِكَ الْمُنَزَّلِ عَلَى نَبِيِّكَ الْمُرْسَلِ: ﴿يَمْحُو اللهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ﴾.[9]إِلٰهِي بِالتَّجَلِّي الْأَعْظَمِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ الْمُكَّرمِ الَّتِي يُفْرَقُ فِيهَا كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ وَيُبْرَمُ، اِكْشِفْ عَنِّي مِنَ الْبَلَاءِ مَا أَعْلَمُ، وَاغْفِرْ لِي مَا أَنْتَ بِهِ أَعْلَمُ. اَللهم اجْعَلْنِي مِنْ أَعْظَمِ عِبَادِكَ حَظًّا وَنَصِيبًا فِي كُلِّ شَـيْءِ قَسَمْتَهُ فِي هٰذِهِ اللَّيْلَةِ مِنْ نُورٍ تَهْدِي بِهِ، أَوْ رَحْمَةٍ تُنْشِرُهَا، أُوْ رِزْقٍ تَبْسُطُهَ، أَوْ فَضْلٍ تَقْسَمُهُ عَلَى عِبَادِكَ الْمُؤْمِنِينَ، يَا اللهُ لاَ إِلهَ إلآ أنت . اَللهم هَبْ لِي قَلْبًا نَقِيًّا مِنَ الشِّرْكِ بَرِيًّا وَلَا شَقِيًّا، وَقَلْبًا سَلِيمًا خَاشِعًا ضَارِعًا. اَللهم امْلَأْ قَلْبِي بِنُورِكَ وَأَنْوَارِ مُشَاهَدَتِكَ، وَجَمَالِكَ وَكَمَالِكَ وَمَحَبَّتِكَ، وَعِصْمَتِكَ وَقُدْرَتِكَ وَعِلْمِكَ، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

     “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Semoga Allah mencurahkan rahmat pengagungan dan keselamatan kepada Sayyidina Muhammad, para keluarga dan sahabatnya. Ya Allah, Wahai Dzat Pemilik anugerah dan Yang tidak dianugerahi (pihak lain), wahai Pemilik Keagungan dan Kemuliaan, wahai Pemilik Karunia dan Kenikmatan, tiada Tuhan selain Engkau tempat para pengungsi, tetangga para pencari tetangga, dan keamanan orang-orang yang ketakutan. Ya Allah, bila Engkau telah mencatatku di sisiMu (dalam Umm al-Kitab) sebagai orang yang celaka, terhalangi dari rahmat, tertolak, rejekiku tidak lancar, maka wahai Allah dengan kemurahanMu hapuslah celakaku, terhalangiku (dari rahmat), tertolakku dan ketidaklancaran rezkiku. Tetapkanlah diriku di sisiMu dalam Umm al-Kitab sebagai orang yang beruntung, diberi (kelancaran) rezki dan tertolong (melakukan) berbagai kebaikan. Sebab sungguh Engkau sudah berfirman dalam kitabMu yang diturunkan lewat perantara lisan NabiMu yang diutus: Allah menghapuskan dan menetapkan apa yang Dia kehendaki, dan di sisiNya terdapat Umm al-Kitab. Wahai Tuhanku dengan tajalli (penampakan rahmat) yang teragung dalam malam nishfu sya’ban yang dimuliakan, yang di dalamnya setiap perkara kokoh dibagi dan dikokohkan, aku memohon kepadaMu Engkau bukakan  dariku cobaan yang ku ketahui, dan ampuni diriku atas dosa yang lebih Engkau ketahui. Ya Allah, jadikanlah diriku tergolong hambamu yang paling besar jatah dan bagian dari setiap perkara yang Engkau bagikan dalam malam ini, yaitu dari cahayaMu, cahaya musyahadahMu, cahaya keindahanMu, cahaya kesempurnaanMu, cahaya cintaMu, cahaya penjagaanMu, cahaya qudrahMu dan cahaya ilmuMu, wahai Dzat Yang  Maha Pengasih dari para pengasih. Semoga Allah Ta’ala senantiasa melimpah kan rahmat ta’zhim dan keselamatan bagi Sayyidina Muhammad, para keluarga dan sahabatnya.”       

Demikian doa minimalnya. Sedangkan doa yang paling sempurna adalah;

     إِلٰهِي تَعَرَّضَ لَكَ فِي هٰذِهِ اللَّيْلَةِ الْمُتَعَرِّضُونَ، وَقَصَدَكَ وَأَمَلَ مَعْرُوفَكَ وَفَضْلَكَ الطَّالِبُونَ، وَرَغِبَ إِلَى جُودِكَ وَكَرَمِكَ الرَّاغِبُونَ، وَلَكَ فِي هٰذِهِ اللَّيْلَةِ نَفْحَاتٌ وَعَطَايَا وَجَوَائِزُ وَمَوَاهِبُ وَهِبَاتٌ تَمُنُّ بِهَا عَلَى مَنْ تَشَاءُ مِنْ عِبَادِكَ، وَتَخُصُّ بِهَا مَنْ أَحْبَبْتَهُ مِنْ خَلْقِكَ، وَتَمْنَعُ وَتَحْرُمُ مَنْ لَمْ تَسْبِقْ لَهُ الْعِنَايَةُ مِنْكَ، فَأَسْأَلُكَ يَا اللهُ بِأَحَبِّ الْأَسْمَاءِ إِلَيْكَ وَأَكْرَمِ الْأَنْبِيَاءِ عَلَيْكَ، أَنْ تَجْعَلَنِي مِمَّنْ سَبَقَتْ لَهُ مِنْكَ الْعِنَايَةُ، وَاجْعَلْنِي مِنْ أَوْفَرِ عِبَادَكَ وَأَجْزَلِ خَلْقِكَ حَظًّا وَنَصِيبًا وَقِسْمًا وَهِبَةً وَعَطِيَةً فِي كُلِّ خَيْرٍ تَقْسَمُهُ فِي هٰذِهِ اللَّيْلَةِ أَوْ فِيمَا بَعْدَهَا مِنْ نُورٍ تَهْدِي بِهِ، أَوْ رَحْمَةٍ تُنْشِرُهَا، أَوْ رِزْقٍ تَبْسُطُهُ، أَوْ ضَرٍّ تَكْشُفُهُ، أَوْ ذَنْبٍ تَغْفِرُهُ، أَوْ شِدَّةٍ تَدْفَعُهَا، أَوْ فِتْنَةٍ تُصْرِفُهَا، أَوْ بَلَاءٍ تَرْفَعُهُ، أَوْ مُعَافَاةٍ تَمُنُّ بِهَا، أَوْ عَدُوٍّ تَكْفِيهِ، فَاكْفِنِي كُلَّ شَرٍّ، وَوَفِّقْنِيَ اللهم لِمَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ، وَارْزُقْنِي الْعَافِيَةَ وَالْبَرَكَةَ وَالسَّعَةَ فِي الْأَرْزَاقِ، وَسَلِّمْنِي مِنَ الرِّجْزِ وَالشِّرْكِ وَالنِّفَاقِ .

     “Wahai TuhanKu, para orang yang menghadap telah mengadap kepadamu, para peminta telah menujuMu dan mengharap kebaikan dan anugerahMu, para pecinta telah mencintai kedermawanan dan kemurahanMu, di malam ini Engkau mempunyai kedermawanan-kedermawanan, pemberian-pemberian, karunia-karunia, dan hibah-hibah, yang dengannya Engkau menganugerahi kepada seseorang dari hamba-hambamu yang Engkau kehendaki, dengannya Engkau khususkan seseorang dari makhlukMu yang Engkau cintai, Enkau cegah den Engkau halangi orang yang tidak terdahului oleh pertolonganMu. Dan jadikanlah diriku termasuk segolongan hambaMu  yang sempurnya, termasuk segolongan makhlukMu yag paling besar jatah, nasib dan bagian dari nur yang dengannya Engkau memberi petunjuk, dari rahmat yang Engkau sebarkan, dari rezki yang Engkau lapangkan, dari mara bahaya yang Engkau berikan jalan keluar, dari dosa yang Engkau ampuni, dari kesulitan yang Engkau tolak, dari fitnah yang Engkau redam, dari dari cobaan yang engkau hilangkan, dari ampunan yang engkau Anugerahkan, atau dari musuh yang Engkau hadang, lalu cegahlah diriku dari setiap keburukan, dan berilah taufik diriku ya Allah Swtuntuk mudah menjalankan) akhlak-akhlak yang mulia, berilah diriku rezki kesehatan, berkah dan kelapangan rezki, serta selamatkanlah diriku dari kekejian, kemusyrikan dan kemunafikan.”

     اَللهم إِنَّ لَكَ نَسَمَاتِ لُطْفٍ إِذَا هَبَّتْ عَلَى مَرِيضِ غَفْلَةٍ شَفَتْهُ، وَإِنَّ لَكَ نَفْحَاتِ عَطْفٍ إِذَا تَوَجَّهَتْ إِلَى أَسِيرِ هَوَى أَطْلَقَتْهُ، وَإِنَّ لَكَ عِنَايَاتٍ إِذَا لَاحَظَتْ غَرِيقًا فِي بَحْرِ ضَلَالَةٍ أَنْقَذَتْهُ، وَإِنَّ لَكَ سَعَادَاتٍ إِذَا أَخَذَتْ بِيَدِ شَقِيٍّ أَسْعَدَتْهُ، وَإِنَّ لَكَ لَطَائِفِ كَرَمٍ إِذَا ضَاقَتِ الْحِيلَةُ لِمُذْنِبٍ وَسَعَتْهُ، وَإِنَّ لَكَ فَضَائِلَ وَنِعَمًا إِذَا تَحَوَّلَتْ إِلَى فَاسِدٍ أَصْلَحَتْهُ، وَإِنَّ لَكَ نَظَرَاتِ رَحْمَةٍ إِذَا نَظَرَتَ بِهَا إِلَى غَافِلٍ أَيْقَظَتَهُ، فَهَبْ لِيَ اللهم مِنْ لُطْفِكَ الْخَفِي نَسَمَةً تَشْفِي مَرَضَ غَفْلَتِي، وَانْفَحْنِي مِنْ عَطْفِكَ الْوَفِي نَفْحَةً طَيِّبَةً تُطْلِقُ بِهَا أَسْرِي مِنْ وَثَاقِ شَهْوَتِي، وَالْحِظْنِي وَاحْفِظْنِي بِعَيْنِ عِنَايَتِكَ مُلَاحَظَةً تُنْقِذُنِي بِهَا وَتُنْجِينِي بِهَا مِنْ بَحْرِ الضَّلَالَةِ، وَآتِنِي مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ تُبْدِلُنِي بِهَا سَعَادَةً مِنْ شَقَاوَةٍ، وَاسْمَعْ دُعَائِي، وَعَجِّلْ إِجَابَتِي، وَاقْضِ حَاجَتِي وَعَافِنِي، وَهَبْ لِي مِنْ كَرَمِكَ وَجُودِكَ الْوَاسِعِ مَاتَرْزُقَنِي بِهِ الْإِنَابَةَ إِلَيْكَ مَعَ صِدْقِ اللَّجَاءِ وَقَبُولِ الدُّعَاءِ، وَأَهِّلْنِي لِقَرْعِ بَابِكَ لِلدُّعَاءِ يَاجَوَادُ حَتَّى يَتَّصِلَ قَلْبِي بِمَا عِنْدَكَ، وَتُبَلِّغْنِي بِهَا إِلَى قَصْدِكَ. يَاخَيْرَ مَقْصُودٍ وَأَكْرَمَ مَعْبُودٍ، أَبْتَهِلُ وَأَتَضَرَّعُ إِلَيْكَ فِي طَلَبِ مَعُونَتِكَ وَأَتَّخِذُكَ يَا إِلٰهِي مَفْزَعًا وَمَلْجَأً، أَرْفَعُ إِلَيْكَ حَاجَتِي وَمَطَالِبِي وَشَكَوَايَ، وَأَبْدِي إِلَيْكَ ضَرِّي، وَأَفُوضَ إِلَيْكَ أَمْرِي وَمُنَاجَاتَي، وَأَعْتَمِدُ عَلَيْكَ فِي جَمِيعِ أُمُورِي وَحَالَاتِي .

     “Ya Allah, sungguh Engkau memiliki hembusan-hembusan kelembutan yang ketika berhembus pada orang yang menderita lupa (dariMu) maka ia akan menyembuhkannya. Sungguh Engkau mempunyai pemberian-pemberian kelembutan yang bila mengarah pada orang yang ditahan hawa nafsu, maka ia akan membebaskannya. Sungguh Engkau mempunyai pertolongan-pertolongan yang ketika melirik pada seseorang yang tenggelam dalam lautan kesesatan maka ia akan menyelamatkannya. Sungguh Engkau mempunyai keberuntungan-keberuntungan yang ketika diperoleh orang yang celaka maka ia akan membuatnya beruntung. Sungguh Engkau memiliki kelembutan-kelembutan kemurahan yang ketika muslihat seorang pendosa menjadi sempit maka ia akan melapangkankannya. Sungguh engkau mempunyai augerah-anugerah dan kenikmatan-kenikmatan ketika berpindah kepada seseorang yang fasik maka ia akan membuatnya menjadi baik. Sungguh Engkau mempunyai penglihatan rahmat yang ketika dengannya Engkau melihat kepada seseorang yang lupa maka Engkau akan menyadarkannya. Maka berilah diriku, ya Allah, dari kelembutanMu yang samar, hembusan yang menyembuhkan derita lupaku (dari Mu), berilah diriku dari kelembutanMu yang sempurna pada suatu pemberian yang baik yang dengannya Engkau bebaskan diriku dari penawanan belenggu sahwatku, perhatikan dan jagalah diriku dengan penglihatan pertolongaMu dengan perhatian yang dengannya Engkau menyelamatkanku dari lautan kesesatan, berilah diriku rahmat dari sisiMu di dunia dan akhirat yang dengannya Engkau ganti keberuntungan dari kesialan, dengarkanlah doaku, segerakanlah pengijabahanku, penuhilah hajatku, ampunilah diriku, berilah hal yang dengannya engkau memberi rezki diriku kembali kepadamu dari kedermawanan dan kemurahanMu disertai pengungsian yang tepat dan penerimaan doa, jadikanlah diriku ahli mengetuk pintuMu karena berdoa wahai Dzat Yang Maha Pemurah, sehingga hatiku bersambung dengan apa yang ada di sisiMu, dan dengan kembali padaMu Engkau sampaikan diriku pada maksudMu. Wahai Dzat Yang Terbaik Maksudnya dan Dzat Termulia Yang Disembah, aku berdoa dengan sepenuh hati dan merendahkan diri kepadaMu dalam mencari pertolonganMu, aku jadikan diriMu wahai Tuhanku sebagai tempat meminta pertolongan dan mengungsi, aku adukan kepadamu hajat, permintaan dan keluahanku, aku beberkan padaMu keprihatianku, aku pasrahkan kepadaMu urusan dan munajatku, dan aku berpegang padaMu dalam segela urusan dan kondisiku.”

     اَللهم إِنَ هٰذِهِ اللَّيْلَةَ خَلْقٌ مِنْ خَلْقِكَ فَلَا تُبْلِنِي فِيهَا وَلَا بَعْدَهَا بِسُوءٍ وَلَا مَكْرُوهٍ، وَلَا تَقْدِرْ عَلَيَّ فِيهَا مَعْصِيَةً وَلَا زَلَّةً تُثْبِتُ عَلَيَّ فِيهَا ذَنْبًا، وَلَا تُبْلِنِي فِيهَا إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ، وَلَا تُزَيِّنْ لِي جَرَاءَةً عَلَى مَحَارِمِكَ، وَلَا تَرْكًا لِطَاعَتِكَ، وَلَا اسْتِخْفَافًا بِحَقِّكَ وَلَا شَكًّا فِي رِزْقِكْ، فَأَسْأَلُكَ اللهم نَظْرَةً مِنْ نَظْرَاتِكَ وَرَحْمَةً مِنْ رَحْمَاتِكَ وَعَطِيَةً مِنْ عَطَيَاتِكَ اللَّطِيفَةِ، وَارْزُقْنِي مِنْ فَضْلِكَ، وَاكْفِنِي شَرَّ خَلْقِكَ وَاحْفِظْ عَلَيَّ دِينُ الْإِسْلَامِ، وَانْظُرْ إِلَيْنَا بِعَيْنِكَ الَّتِي لَا تَنَامُ، وَآتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ-ثَلَاثا-.

     “Ya Allah, sungguh malam ini merupakan suatu makhluk dari makhlukMu, maka jangan Engkau beri cobaa diriku di dalamnya dan sesudahnya dengan keburukan dan perkara yang dibenci, jangan Engkau takdirkan maksiat padaku dan kesalahan yang menetapkan dosa bagiku di dalamnya, jangan Engkau beri cobaan diriku di dalamnya kecuali cobaan yang terbaik, jangan engkau hiasi diriku dengan kenekatan menerjang keharaman-keharamanMu, meninggalkan ketaatan kepadaMu, meremehkan hakMu dan merakukan rezkiMu, maka aku memohon kepadaMu ya Allah, penglihatan dari penglihatan-penglihatanMu, rahmat dari rahmat-rahmatMu, pemberian dari pemberian-pemberianMu yang lembut, berilah rezki diriku dari anugerahMu, cegahlah dariku keburukan makhlukMu, jagalah agama Islam bagiku, lihatlah diriku dengan penglihatanMu yang tiada pernah terlelap, berilah diriku kebaikan di dunia dan di akhirat serta jagalah diriku dari neraka, -3 x-.”

     إِلٰهِي بِالتَّجَلِّي الْأَعْظَمِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ الشَّهْرِ الْأَكْرَمِ الَّتِي يُفْرَقُ فِيهَا كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ وَيُبْرَمْ، اِكْشِفْ عَنَّا مِنَ الْبَلَاءِ مَا نَعلَمُ وَمَا لَا نَعْلَمْ، وَاغْفِرْ لَنَا مَا أَنْتَ بِهِ أَعْلَمُ-ثَلَاثًا-. اَللهم إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا تَعْلَمُ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا تَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ مِنْ كُلِّ مَا تَعْلَمُ، إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ. اَللهم إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا تَعْلَمُ وَمَا لَا أَعْلَمُ. اَللهم إِنَّ الْعِلْمَ عِنْدَكَ وَهُوَ عَنَّا مَحْجُوبٌ، وَلَا نَعْلَمُ أَمْرًا نَخْتَارَهُ لِأَنْفُسِنَا، وَقَدْ فَوَّضْنَا إِلَيْكَ أُمُورَنَا، وَرَفَعْنَا إِلَيْكَ حَاجَاتِنَا، وَرَجَوْنَاكَ لِفَاقَاتِنَا وَفَقْرِنَا، فَأَرْشِدْنَا يَا اللهُ، وَثَبِّتْنَا وَوَفِّقْنَا إِلَى أَحَبِّ الْأُمُورِ إِلَيْكَ، وَأَحْمَدُهَا لَدَيْكَ، فَإِنَّكَ تَحْكُمُ بِمَا تَشَاءُ وَتَفْعَلُ مَا تُرِيدُ، وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٍ. وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ، سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. اِنْتَهَى دُعَاءُ شَعْبَانَ

     “Wahai Tuhanku dengan tajalli (penampakan rahmat) yang teragung dalam malam nishfu sya’ban bulan termulia yang di dalamnya setiap perkara kokoh dibagi dan dikokohkan, aku memohon kepadaMu Engkau bukakan dariku cobaan yang ku ketahui dan yang tidak ku ketahui, dan ampunilah dosa yang lebih Engkau ketahui, -3 x-. Ya Allah sungguh aku memohon kepadaMu dari kebaikan perkara yang Engkau ketahui dan tidak aku ketahui. Ya Allah, sunggh ilmu itu ada di sisiMu dan terhijab dari kami. Kami tidak mengetahui perkara yang kami pilih bermanfaat bagi diri kami, sungguh telah kami pasrahan kepadaMu, aku memujiMu di hadapanMu, sebab sungguh Engkau menghukumi dengan hukum yang Engkau mau dan melakukan perbuatan yang Engkau kehendaki, Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu, tiada kemampuan (menghindari maksiat) dan tiada kekuatan (beribadah) melainkan dengan (taufik) Allah Yang Maha Luhur lagi Maha Agung. Mahasuci Tuhanmu, Tuhan Yang Maha Mulia dari (teman dan anak) yang disifatkan oleh orang-orang musyrik. Keselamatan semoga terimpah bagi para utusan. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Semoga Allah mencurahkan rahmat pengagungan dan keselamatan kepada Sayyidina Muhammad, para keluarga dan sahabatnya. Demikian doa Sya’ban (dari al-Hadad).”

 



[1]Asal rasa malu adalah keengganan jiwa dari hal-hal buruk karena takut akan aib yang menimpa dirinya. Sedangkan ghayah (ujung)nya adalah menghindari tindakan yang menyebabkan rasa malu. Kaidah dalam redaksi hadits semacam ini haris dipahami pada ghayah (ujungnya) bukan permulaannya. Maksudnya Allah Swt mustahil bersifat malu, namun Ia menghindari tindakan yang bisa membuat malu. Baca, Al-Munawi, Faidh al-Qadir, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1415 H/1994 M), Juz II, h. 288. (Penerjemah).

[2]Maksudnya takdir yang tertulis dalam lauh al-mahw wa al-itsbat (papan penghapusan  dan penetapan) atau yang ada dalam catatan malaikat. Bukan yang terkait ilmu azali, sebab dalam takdir ini tidak ada penambahan dan pengurangan. Maka seseorang dianjurkan untuk berikhtiar dengan berbagai sebab, melakukan pengobatan penyakit dan menghindari bahaya, namun bukan bermaksud menolak takdir yang telah ditentukan, akan tetapi hanya bermaksud menolak penyakit dan semisalnya. Baca, al-Munawi, Faidh al-Qadir, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1415 H/1994 M), Juz II, h. 105 dan Juz VI, h. 584. (Penerjemah).

[3]QS. Al-Mu’minun: 51. 

[4]QS. Al-Baqarah: 172. 

[5]Kisah Isra`Iliyat ini diriwayatkan dari seorang tabi’in Malik bin Dinar. Baca, Ibn Rajab, Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, (Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1408 H), h. 107-108. (Penerjemah).

[6]Abwab al-Faraj.

[7]أَيْ قُلْتُ فِي نَفْسِ maksudnya: “Aku berkata dalam hatiku.”

[8]QS. Ar-Ra’d: 39.

[9]QS. Ar-Ra’d: 39.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*