Hibah Berbeda Dengan Hadiah Dan Sedekah

Hibah adalah memberi hak milik yang bersifat sunnah, bukan karena kepentingan, bukan untuk mengharap pahala dan bukan pula sebagai wujud apresiasi. Berbeda dengan sedekah dan hadiah. Kalau sedekah adalah pemberian yang mengharap pahala. Sementara Hadiah adalah pemberian sebagai wujud apresiasi.


Dalil yang menunjukkan disyariatkannya hibah (sebelum adanya ijmak ulama) adalah:

  1. Firman Allah Qs. An Nisa ‘ayat 4: “فَإِنْ طِبْنَ لَكُمْ عَنْ شَيْءٍ مِنْهُ نَفْسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَرِيئًا”, Jika mereka memberikan maskawin itu dengan suka rela, maka nikmatilah dan manfaatkanlah (maskawin) itu dengan senang hati.
  2. لا تحقرن جارة لجارتها ولا فرسن شاة اي ظلفها, Jangan sampai seorang tetangga menghina tetangganya yang lain, walaupun hanya sebesar kuku kambing saja. (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Rukun-rukannya hibah itu sama dengan rukun-rukunnya jual beli, yaitu ada tiga.

  1. Pelaku hibah / wahib dan mauhub lah (pemberi dan penerima hibah)
  2. Kalimat transaksi / shighat (ijab dan qabul)
  3. Barang yang dihibahkan / mauhub.

Jika dalam pemberian hibah menggunakan sighat yang di dalamnya menyertakan kehadiran iwadh (Penukar) yang jelas yang harus diserahkan oleh penerima hibah, maka hibah di sini disebut jual beli, karena melihat dari maknanya. Jika memberikan hibah, menggunakan sighat yang di dalamnya tanpa menyertakan iwadh (penukar), maka itulah yang disebut hibah, karena di dalam hibah memang tidak mensyaratkan adanya iwadh (penukar). Jika Pemberian hibah menggunakan sighat yang di dalamnya menyertakan iwadh (penukar) yang tidak jelas, maka dianggap batal, karena tidak dapat di katakan jual beli apalagi hibah.

Jika seseorang telah menghibahkan sesuatu yang menjadi miliknya kepada orang lain, maka dia tidak boleh mengambilnya lagi. Kecuali jika penerima hibah adalah orang tuanya si penerima hibah. Adapun dalil mengenai kasus ini adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan Imam Hakim.

لا يحل لرجل ان يعطي عطية او يهب هبة فيرجع فيها الا الولد فيما يعطي ولده. رواه الترمذي والحاكم وصححاه

Tidak dihalalkan bagi seseorang yang memberikan atau menghibahkan seseorang kepada orang lain untuk mengambilnya, kecuali jika dia orang tuanya si penerima hibah. (HR. Tirmidzi dan Hakim)

Ada beberapa kasus yang ditemukan mengenai hibah, yaitu ‘umra dan ruqba. ‘Umra dan ruqba adalah dua bentuk akad pada masa jahiliyah yang merupakan pemberian yang bersifat khusus. ‘Umra diambil dari kata ‘umru yang berarti berumur, karena seseorang menjadikan umurnya sebagai hibah. Sementara ruqba diambil dari kata ruqub, karena masing-masing dari pelaku hibah menunggu kematian rekannya. Adapun contoh pemberian yang bersifat ‘umra adalah seperti ucapan seseorang yang mengatakan, “Saya memberikan rumah ini kepadamu selama hidup kamu, ketika kamu meninggal, maka rumah ini kembali kepada saya”. Sementara contoh pemberian yang bersifat ruqba, adalah seperti ucapan seseorang yang mengatakan, “Aku memberikan rumah ini kepadamu, jika kamu meninggal sebelum saya, maka rumah ini kembali ke saya, tetapi jika saya meninggal sebelum kamu, maka rumah ini tetap menjadi milikmu.”

Masing-masing syarat dari ‘umra dan ruqba ini menjadi gugur. Maksudnya persyaratan-persyaratan yang diberikan oleh pelaku ‘umra dan ruqba di sini dianggap tidak berlaku.

Sekian. Semoga bermanfaat

Referensi: Kitab Tuhfah al Tullab

Dibahas dalam Syawir K3 ( Kajian Kitab Kuning), oleh siswi kelas 6 Madrasah Muallimin Muallimat, yang dipimpin oleh salah satu santri senior.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.