KEPUTUSAN POLITIK ITU BISA BIKIN NGAJI TENANG

Sekembali dari belajar di Mekkah, KH Abdul Wahab Chasbullah, Pendiri dan Penggerak Nahdlatul Ulama, memberikan pengajaran di Pondok Pesantren yang didirikan oleh kakek buyutnya di Tambakberas Jombang. Namun, Kiyai Wahab yang memiliki jiwa aktifis tidak hanya memberikan pengajaran di Pondok Pesantren. Kiyai Wahab justru banyak menghabiskan waktunya di luar Pondok, untuk menggerakkan organisasi yang didirikan bersama guru-nya Hadratus Syech KH Hasyim Asy’ari.

Kiyai Wahab tidak mengenal lelah dalam menawarkan dan mengenalkan organisasi Nahdlatul Ulama yang baru didirikan ke jaringan ulama-ulama di Jawa dan Luar Jawa. Aktifitas Kiyai Wahab ini sangat menyita waktu, dan hampir tidak memiliki waktu untuk memberikan pengajaran di Pondok-nya. Bahkan aktifitas Kiyai Wahab tidak hanya dalam upaya membangun organisasi NU secara internal. Aktifitas Kiyai Wahab juga banyak menyentuh wilayah politik. Banyak kebijakan-kebijakan politik era Soekarno dipengaruhi oleh pikiran-pikiran Kiyai Wahab. Salah satunya keputusan menyelenggarakan kegiatan Halal Bi Halal, sebagai upaya untuk meredam situasi politik yang sangat panas.

Hal ini berbeda dengan adik kandungnya, KH Abd. Hamid Chasbullah, yang sangat aktif dan istiqomah dalam memberikan pengajaran ke santri di Pondok Tambakberas, dan hampir tidak mengenal hiruk pikuk politik di luar. Santri Pondok Tambakberas saat itu, yang datang dari berbagai daerah di Jawa dan Luar Jawa berada di bawah bimbingan langsung Kiyai Hamid, yang dikenal sangat wira’i ini.

Melihat aktifitas politik kakaknya yang cukup padat di luar Pondok, Kiyai Hamid sangat menyayangkan. Karena itu, pada suatu saat Kiyai Hamid menyampaikan isi hatinya ke Kiyai Wahab, “Kang, sampean iku mulang wae ono kene. Ora usah lungo-lungo ngurusi politik (Kak, kamu mengajar saja di sini. Tidak usah pergi-pergi ngurus politik)”.

Mendapat nasehat dari adiknya seperti itu, Kiyai Wahab menjawab: “Mid, koen iku iso mulang kanti penak, tentrem, tenang lan bebas iku mergo keputusan politik. Lamuno keputusan politik iku sewalik’e, ko-en ora bakal iso mulang kepenak, tentrem, tenang lan bebas koyo mengkene (Mid, kamu bisa mengajar dengan enak, tentram, tenang dan bebas itu karena keputusan politik. Kalau keputusan politik sebaliknya, kamu tidak akan bisa mengajar dengan enak, tentram, tenang dan bebas seperti sekarang)”.

Mendengar jawaban Kiyai Wahab seperti itu, lalu Kiyai Hamid berkata: “Yo wes yen ngunu. Sampean urusi wae politik iku, ben ngajine kepenak, ayem, tentrem lan leluasa (Ya sudah kalau begitu, sampeyan urusi saja politik, biar bisa ngaji dengan enak, tenterm, ayem dan laluasa”.

(KH Abd Nashir Fattah)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*