Mengurai Tuduhan Bid’ah Dalam Tema Nishfu Sya’ban

Dalam syara’ term bid’ah kadang diungkapkan untuk menunjukkan makna perkara yang berlawanan dengan sunnah. Maka dalam konteks ini bid’ah yang dimaksud merupakan bid’ah madzmumah. Ketika dimutlakkan kata bid’ah juga bermakna demikian.

Namun  terkadang kata bid’ah juga diungkapkan untuk menunjukkan perkara baru yang diadakan setelah masa kenabian, masuk dalam dalil umum, dan dinilai baik menurut syara’. Dalam konteks seperti ini bid’ah yang dimaksud merupakan bid’ah hasanah mamduhah (baik dan terpuji).

Dalam kitab Adab al-Akl dari Ihya ‘Ulum ad-Din al-Ghazali berkata:

     “Tidak setiap pembarun yang terjadi pasca Rasululah ra menjadi larangan. Yang menjadi larangan adalah pembaruan yang bertentangan dengan sunnah yang resmi dan menghilangkan suatu perkara dalam syara’ sementara ‘illatnya masih ada. Bahkan pembaruan itu terkadang bisa menjadi wajib bila sebab-sebabnya telah berubah.” Demikian kata beliau.

Dalam Fath al-Bari al-Hafizh Ibnu Hajar berkata:

     “Pada faktanya, sungguh bila bid’ah tercakup dalam suatu asal yang dinilai baik oleh syara’ maka merupakan bid’ah hasanah, sedangkan bila tercakup dalam suatu asal yang dinilai jelek oleh syara’ maka merupakan bid’ah mustaqbahah (yang dinilai jelek). Bila tidak demikian maka termasuk kategori bagian perkara yang diperbolehkan.” Dan  bid’ah itu dapat terbagi menjadi lima hukum.” Begitu kata beliau.

Termasuk ulama yang membagi bid’ah dalam lima hukum adalah Imam al-Qarafi karena mengikuti gurunya, yaitu al-‘Izz bin Abdissalam seperti dikutip oleh Imam asy-Syathibi dalam al-I’tisham.

Maka ulama yang memilih pendapat pertama menghukumi  menghidupkan malam Nishfu Sya’ban bukan sebagai bid’ah madzmumah, namun sebagai bid’ah mustahsanah (yang dinilai baik). Mugkin saja karena masuk dalam cakupan asal yang dinilai baik oleh syara’, yaitu dzikir dan doa yang keduanya disyari’atkan, baik sendirian maupun berjamaah di masjid-masjid dan selainnya dan dalam setiap waktu dan kondisi. Sedangkan ulama yang memilih pendapat kedua menilai menghidupkan malam Nishfu Sya’ban sebagai bid’ah madzmumuah (yang dinilai tercela) karena kemakruhan terus-menerus melakukan ibadah tertentu dalam waktu tertentu yang syara’ tidak menganjurkannya secara wajib.

Imam al-Qarafi berkata:

     “Sungguh menentukan hari-hari fadhilah atau selainnya dengan suatu macam ibadah adalah bid’ah makruhah (yang dimakruhkan).” Demikian hemat beliau.

Sedangkan asy-Syathibi berpendapat:

     “Sungguh terus-menerus melakukan puasa pada hari Nishfu Sya’ban dan qiyam al-lail di malam harinya adalah bid’ah madzmumah.” Demikian beliau berpendapat.

Dalam kitab al-I’tisham terdapat kajian mendalam yang lugas dan sempurna terkait tema bid’ah, definisi dan batas-batasnya. Kitab al-I’tisham termasuk kitab hukum yang sangat penting, maka rujuklah.

Dalam kitab Tuhfah al-Ikhwan, al-‘Allamah Syihabuddin Ahmad bin Hijazi al-Fasyani menilai kesunahan menghidupkan malam Nishfu Sya’ban dengan mengikuti Hujjah al-Islam al-Ghazali secara mutlak, Ibn Rajab secara sendirian, dan para Imam generasi tabi’in serta para ulama yang sepakat dengan mereka yang memilih kesunahan menghidupkan malam Nishfu Sya’ban baik secara sendirian maupun berjamaah. Kemudian beliau berkata:

     “Kesimpulannya, sungguh hukum menghidupkan malam Nishfu Sya’ban itu disunahkah karena hadits-hadits yang menerangkannya. Caranya bisa dengan melaksanakan shalat tanpa hitungan rakaat tertentu, membaca al-Qur’an sendirian, dzikir kepada Allah Swt, berdoa, membaca tasbih, bershalawat bagi Nabi Saw secara berjamaah atau sendirian, membaca hadits dan mendengarkannya, mengadaan kajian dan majlis tafsir al-Qur’an dan penjeasan hadits, membicarakan keutamaan malam Nishfu Sya’ban, menghadiri majelis tersebut, dan mendengarkannya, serta ibadah selainnya.” Begitulah kesimpulan beliau.

Keutamaan Dzikir Sendirian dan Berjamaah

Dzikir kepada Allah Swt dalam setiap waktu dan segala kondisi merupakan amal terbaik dan tersuci menurutNya. Dalam hadits diterangkan:

مَا عَمِلَ ابْنُ آدَمَ عَمَلًا أَنْجَى لَهُ مِنْ عَذَابِ اللهِ مِنْ ذِكْرِ اللهِ[1]

     “Tidaklah seorang anak adam melakukan suatu amal yang lebih menyelamatkannya dari siksa Allah dari pada dzikir kepada Allah Ta’ala.”

Perkumpulan dzikir juga merupakan perkara yang disyari’atkan dan dianjurkan seperti penjelasa dalam hadits qudsi:

     أنا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي، فإنْ ذَكَرَنِي في نَفْسِهِ، ذَكَرْتُهُ في نَفْسِي، وإنْ ذَكَرنِي في مَلَأٍ ذَكرتُهُ في مَلَأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ[2]

      Aku (Allah Swt mampu merealisasikan) dugaan hambaKu padaKu, dan (pengetahuan)Ku bersamanya ketika ia mengingatKu. Maka bila ia mengingatKu (dengan menyucikanKu) dalam dirinya (saat sendirian) maka Aku mengingatnya dalam DzatKu (dengan pahala dan rahmat), dan bila ia mengingatKu dalam suatu perkumpulan maka Aku mengingatnya dalam perkumpulan (malaikat) yang lebih baik dari pada mereka.” 

 Begitu pula ditunjukkan dalam hadits riwayat Imam Muslim:

     لَا يَقْعُدُ قَومٌ يَذكُرُونَ اللهَ تَعَالَى إِلاَّ حَفَّتْهُمُ الْمَلائِكَةُ وغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

      Tidaklah suatu kaum mengingat Allah Ta’ala melainkan para malaikat akan mengelilingi, rahmat akan menaungi,ketenangan akan turun kepada mereka dan Allah pun akan mengingatnya (dalam rangka membanggakan) pada malaikat yang bersamanya.”

Dari dua hadits tersebut dapat dipahami keutamaan berkumpul untuk mengkaji ilmu, tadarus al-Qur’an, mempelajari tafsir, hadits, fiqh dan untuk tarhib wa targhib (memotifasi ibadah dan memperingatkan bahaya dosa). Sebab semuanya merupakan dzikrullah dan perkumpulannya mempunyai keutamaan yang besar.[3]

Pendapat Ulama Salaf

Sungguh telah diriwayatkan dari Umar bin Abdul Aziz, beliau berkirim surat kepada pegawainya di kota Bashrah:

     Perhatikanlah empat malam dari setahun. Sebab sungguh Allah memberikan rahmat secara sempurna di dalamnya. Yaitu malam permulaan bulan Rajab, malam Nishfu Sya’ban, malam hari raya Fitri dan Adha.”

Namun keabsahan riwayat ini berasal dari beliau masih perlu dikaji ulang. Imam Syafi’i ra berkata:

     “Telah sampai kepadaku sungguh doa itu dikabulkan pada lima malam, yaitu malam Jum’at, dua hari raya, permulaan ulan rajab dan Nishfu Sya’ban.”

Diriwayatkan dari Ka’b, beliau berkata:

     “Sungguh Allah Ta’ala pada malam Nisfu Sya’ban mengutus Jibril As ke surga untuk memerintahkannya berhias, dan ia berkata: “Sungguh Allah Ta’ala pada malammu ini telah memerdekakan sejumlah bintang langit, sejumlah hari dan malam dunia, sejumlah daun pepohonan, seberat gunung-gunung dan sejumlah pasir.”

Diriwayatkan dari Sa’id bin Manshur, beliau berkata:

     “Abu Ma’syar bercerita padaku, dari Abu Hazm dan Muhammad bin Qais, dari ‘Atha` bin Yasar, beliau berkata: “Tiada malam setelah lailah al-Qadr yang lebih utama dari pada malam Nishfu Sya’ban yang (pada malam ini rahmat) Allah Tabaraka wa Ta’ala tutun ke langit dunia, kemudian Ia memberi ampuna kepada para semua hambanya kecuali orang musyrik, provokator atau pemutus silaturrahim.”

Pendapat Ibn Taimiyah Tentang Malam Nishfu Sya’ban

Syaikh Ibn Taimiyah berkata:

     “Dan adapun malam Nishfu Sya’ban, maka terkait keutamaannya telah diriwayatkan beberapa hadits dan atsar,  serta telah dikutip dari generasi salaf bahwa mereka melaksanakan shalat pada malam tersebut. Maka dalam hal shalat seseorang secara sendirian, ia sudah didahului oleh ulama salaf dalam hal tersebut dan itu menjadi hujjah baginya. Kenyataan semacam ini tidak boleh diingkari. Sedangkan shalat secara berjamaah dalam malam Nishfu Sya’ban, berdasarkan pada kaidah umum tentang berkumpul untuk melaksanakan ketaatan dan ibadah, maka ada dua macam:

Pertama; ritual sunnah ratibah. Ada yang wajib dan ada pula yang sunnah, seperti shalat lima waktu, shalat Jum’at, shalat dua hari raya shalat gerhana matahari, shalat istisqa` dan shalat tarawih. Semua ini adalah sunnah ratibah yang semestinya dijaga dan selalu dilakukan.

Kedua; ritual yang bukan sunnah ratibah. Berkumpul untuk melakukan shalat sunnah semisal qiam al-lail, membaca al-qur’an, dzikrullah, atau berdoa. Maka hal iti tidak apa-apa bila tidak dijadikan (sunnah) yang ditradisikan. Sebab sungguh Nabi Saw pernah melakukan shalat sunnah secara berjamaah dalam beberapa kali kesempatan dan tidak melanggengkannya kecuali shalat yang telah disebutkan. Para sahabatnya pun ketika berkumpul mereka memerintahkan salah seorang dari mereka untuk membeca al-Qur’an dan yang lain mendengarkannya. Umar bin al-Khaththab  berkata kepada Abu Musa: “Kami melakukan dzikir kepada Tuhan kami, kemudian seseorang membaca al-Qur’an dan mereka mendengarkannya.” Karena telah diriwayatkan, bahwa Nabi Saw keluar mendatangi ahli shuffah. Dari mereka ada seseorang yang membaca al-Qur’an, kemudian beliau duduk bersama mereka. Telah diriwayatkan pula tentang malaikat yang berkeliling mencari majelis dzikir al-hadits yang cukup terkenal. Bila suatu kaum berkumpul pada sebagian malam untuk melaksanakan shalat sunnah tanpa menjadikannya sebagai tradisi yang terus-menerus yang menyerupai ritual sunnah ratibah maka tidak dimakruhkan. Namun menjadikannya sebagai tradisi yang terus dilakukan bersamaan dengan perputaran waktu maka hukumnya makruh sebab di dalamnya terdapat pengubahan syariat dan menyerupakan perkara yang tidak disyari’atkan pada perkara yang disyari’atkan. Andaikan hal tersebut diperbolehkan niscaya akan diperbolehkan melakukan shalat lain di waktu dhuha, antara dhuhur dan ashar, waktu tarawih, adzan dalam dua hari raya, haji ke batu besar di Bait al-Muqaddas. Maka hal ini merupakan pengubahan dan penggantian agama Allah. Demikian pula pembahasan dalam malam mauludan dan selainnya.

Dan bid’ah makruhah merupakan perkara yang tidak disukai dalam syari’at, yaitu mensyari’atkan sesuatu yang tidak diizini oleh Allah. Maka siapa saja yang menjadikan suatu perkara menjadi ajaran agama dan ibadah tanpa syariat dari Allah, ia merupakan seorang pembuat bid’ah yang tersesat. Dialah yang Nabi Saw maksudkan dengan sabdanya:

كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Setiap kesesatan adalah bid’ah.”

     Maka bid’ah bertentangan dengan syari’ah. Sedangkan syari’ah adalah perkara yang diperintahkan Allah dan RasulNya dengan perintah wajib atau sunnah meskipun belum pernah dilakukan pada masa beliau, seperti berkumpul untku shalat tarawih dengan dipimpin seorang imam, mengumpulkan al-Qur’an dalam satu mushaf, memerangi golongan murtad dan khawarij, dan semisalnya. Sesuatu yang tidak disyari’atkan Allah dan RasulNya maka merupakan bid’ah dan kesesatan. Seperti mengkhususkan suatu tempat atau waktu dengan berkumpul untuk beribadah di dalamnya sebagaimana syari’at mengkhususkan waktu-waktu shalat, hari-hari haji dan hari raya. Begitu pula sewperi mengkhususkan Makkah dengan kemulaannya, tiga masjid (Baitullah, an-Nabawi dan al-Aqsha) dan masjid selainnya dengan berbagai shalat dan macam ibadah yang disyari’atkan di dalammnya. Dengan penjelasan ini maka tampaklah jami’ (kompromi) antara berbagai dalil  syariat dari beberapa nash dan ijma’. Maka yang dikehendaki dengan bid’ah adalah perkara yang berlawanan dengan syari’at. Yaitu perkara yang tidak disyari’atkan dalam agama. Maka bila dengan dasar nash atau ijma’ telah tetap suatu perbuatan yang disenangi Allah dan RasulNya, maka dengan hal itu perbuatan tersebut keluar dari kebid’ahannya. Saya telah menetapkan permasalahan tersebut dalam suatu kaidah besar dari berbagai kaidah besar.”[4]

ATSAR TENTANG MALAM NISHFU SYA’BAN

Adapun atsar maka sebagiannya adalah atsar yang berasal dari Nauf al-Bikali,[5] sungguh Ali ra[6] pada malam Nishfu Sya’ban beliau keluar (dari rumah) dan mengulanginya berkali-kali seraya melihat ke langit. Beliau berkata:

     إِنَّ هٰذِهِ السَّاعَةَ مَا دَعَا اللهُ أَحَدٌ إِلَّا أَجَابَهُ، وَلَا اسْتَغْفَرَهُ أَحَدٌ فِي هٰذِهِ اللَّيْلَةِ إِلَّا غَفَرَ لَهُ، مَا لَمْ يَكُنْ عَشَّارًا أَوْ سَاحِرًا أَوْ شَاعِرًا أَوْ كَاهِنًا أَوْ عَرِيفًا أَوْ شَرْطِيًّا أَوْ جَابِيًا أَوْ صَاحِبَ كُوبَةٍ أَوْ غَرْطَبَةٍ. قَالَ نَوْفٌ: اَلْكَوْبَةُ الطَّبْلُ وَالْغَرْطَبَةُ الطَّنْبُورُ. اَللهم رَبَّ دَاوُدَ اغْفِرْ لِمَنْ دَعَاكَ فِي هٰذِهِ اللَّيْلَةِ وَلِمَنِ اسْتَغْفَرَكَ فِيهَا.

     “Sungguh saat ini tidaklah seseorang berdoa kepada Allah melainkan akan Ia kabulkan, tidaklah seseorang memohon ampunan kepadaNya dalam malam ini menlainkan Ia akan mengampuninya, selama ia bukan seorang ‘asysyar (penarik pungutan liar), tukang sihir, tukang syair, tukang ramal, pengurus pemerintahan suatu daerah, tentara pilihan penguasa, penarik zakat, pemukul at-kaubah atau al-gharthabah. Nauf berkata: “Al-Kaubah adalah genderang, sedangkan al-gharthabah adalah tambur.” Ya Allah, Tuhan Nabi Dawud, berilah ampunan bagi orang yang berdoa dan memohon ampunan kepadaMu malam ini.”

Begitu pula atsar riwayat Sa’id bin Manshur dalam Sunannya, beliau berkata:

     مَا مِنْ لَيْلَةٍ بَعْدَ لَيْلَةِ الْقَدْرِ أَفْضَلُ مِنْ لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، يَنْزِلُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيَغْفِرُ لِعِبَادِهِ كُلِّهِمْ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ أَوْ قَاطِعِ رَحِمٍ

     “Abu Ma’syar bercerita padaku, dari Abu Hazm dan Muhammad bin Qais, dari ‘Atha` bin Yasar, beliau berkata: “Tiada malam setelah lailah al-Qadr yang lebih utama dari pada malam Nishfu Sya’ban yang (pada malam ini rahmat) Allah Tabaraka wa Ta’ala tutun ke langit dunia, kemudian Ia memberi ampuna kepada para semua hambanya kecuali orang musyrik, provokator atau pemutus silaturrahim.”

Maka dari beberapa hadits dan atsar ini diambil kesunahan qiyam al-lail, bersungguh-sungguh membaca al-Qur’an, dzikir, dan berdoa pada malam Nishfu Sya’ban untuk menjemput pemberian rahmat Allah seperti dijelaskan dalam hadits riwayat ath-Thabarani dan selainnya dari Muhammad bin Maslamah ra dengan status marfu’:

     إِنَّ لِلهِ فِي أَيَّامِ الدَّهْرِ نَفْحَاتٍ، فَتَعْرُضُوا لَهَا لَعَلَّ أَحَدُكُمْ أَنْ تُصِيبَهُ نَفْحَةٌ فَلَا يَشْقَى بَعْدَهَا أَبَدًا

     Sungguh di beberapa hari dalam setahun Tuhan kalian mempunyai banyak pemberian, maka jemputlah pemberian tersebut, mungkin salah seorang dari kalian akan memperoleh satu pemberian kemudian setelah itu ia tidak akan mengalami kesialan selamanya.”

Begitu indah syair seseorang yang mulia:

فَأَشْـرَفُ هٰـــذَا الشَّــهْرُ لَيْلَةُ نِصْفِهِ

$

فَقُمْ  لَيْلَـــةَ النِّصْــــفِ الشّـــــَرِيفِ  مُصَــلِّيَا

وَقَـدْ نُسِـخَتْ فِيهِ صَحِـــيفَةُ حَتْفِهِ

$

فَكَمْ مِنْ فَتَى قَدْ بَاتَ فِي النِّصْفِ آمِنَا

وَحَاذِرْ هُجُومَ الْمَوْتِ فِيهِ بِصَرْفِهِ

$

فَبَادِرْ  بِفِعْـــلِ الْخَــــــيْرِ  قَـــــــبْلَ انْقِضَـــــائِـــــــهِ

لِتَظْــفَرَ عِـــنْدَ الْكَــــرْبِ مِنْهُ  بِلُطْفِهِ[7]

$

وَصُـــمْ  يَوْمَـــــهَا  لِلهِ وَ أَحْــــــــسِنْ رَجَـــــــاءَهْ

Maka bangunlah di malam Nishfu Sya’ban yang mulia untuk melaksanakan shalat, sebab yang termulia bulan ini adalah malam tanggal setengahnya.

Banyak pemuda yang pada malam itu dalam kondisi sentosa, sementara buku catatan kematiannya sudah disalin.

Maka bersegeralah melakukan kebajikan sebellum habisnya, dan takutlah mendadak datangnya kematian dengan pengaturanNya.

Dan puasalah pada siang harinya karena Allah dan perbaikilah asamu padaNya, supaya anda memperoleh kasih sanyangNya saat menderita kesusahan.

Perintah Kenabian; Memperhatikan Malam Nishfu Sya’ban

Nabi Saw telah memberi perintah untuk memperhatikan malam Nishfu Sya’ban dan meraup berkah amal saleh di dalamnya. Diriwayatkan dari Sayyidina Ali ra, dari Nabi Saw, beliau bersabda:

     إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَقُومُوا لَيْلَهَا وَصُومُوا يَوْمَهَا، فَإِنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَنْزِلُ فِيهَا لِغُرُوبِ الشَّمْسِ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا، فَيَقُولُ: أَلَا مِنْ مُسْتَغْفِرٍ فَأَغْفِرَ لَهُ، أَلَا مِنْ مُسْتَرْزِقٍ فَأَرْزُقَهُ، أَلَا مِنْ مُبْتَلَى فَأُعَافِيَهُ، أَلَا كَذَا أَلَا كَذَا حَتَّى يَطَّلِعَ الْفَجْرَ(رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهَ بِسَنَدٍ فِيهِ أَبُو بَكْرِ بْنِ أَبِي سَبْرَةَ. قَالَ فِي التَّقْرِيبِ: رَمَوْهُ بِالْوَضْعِ، وَفِي الْخُلَاصَةِ: ضَعَّفَهُ الْبَاقُونَ)

     “Ketika malam Nishfu Sya’ban tiba, maka beribadahlah di malam harinya dan puasalah di siang harinya. Sebab, sungguh (rahmat) Allah turun ke langit dunia saat tenggelamnya matahari. Kemudian Ia berfirman: “Ingatlah orang yang memohon ampunan kepadaKu maka Aku ampuni, ingatlah orang yang meminta rezki kepadaKu maka Aku beri rezki, ingatlah orang yang meminta kesehatan kepadaKu maka Aku beri kesehatan, ingatlah begini, ingatlah begini, sehingga fajar tiba.” (HR. Ibn Majah, di dalam sanadnya terdapat Abu Bakar bin Abdullah bin Abi Sabrah. Dalam at-Taqrib Ibn Hajar al-‘Asqalani berkata: “Para ulama mengkritiknya dengan pemalsuan hadits.” Sedangkan dalam al-Khulashah terdapat komentar: “Ulama lain menilainya dha’if.”)  

Maka hadits ini dan berbagai syahidnya bisa menjadi pertimbangan dalam fadha`il al-a’mal. Para ulama muhaqqiqin (yang pakar mengkaji masalah sampai ke dalil-dalilnya) juga telah menyebutkannya dalam kitab-kitab fadha`il mereka, seperti al-Mundziri dalam at-Targhib wa Tarhib, asy-Syaraf  ad-Dimyathi dalam al-Muttajir ar-Rabih, dan Ibn Rajab dalam Latha’if al-Ma’arif.

Kesimpulannya, sungguh permasalahan mengagungkan malam Nishfu Sya’ban ini mempunyai asal yang dengannya bisa permasalahan ini legal untuk diamalkan karena mengharap pahala dan balasan. Sungguh karunia Allah sangat luas.

 

 

 

 

 



[1]HR. Ibn Abi Syaibah dan ath-Thabarani dengan sanad hasan. Baca Ibn Hajar al-‘Asqalani, Bulugh al-Maram, h. 595. (Penerjemah.)

[2]Mutafaq ‘Alaih. Baca, an-Nawawi, Riyadh ash-Shalihin, juz II, h. 137 (Penerjemah.)

[3]Al-Kalimat al-Hassan fi Fadha`il Lailah Nishf Sya’ban, karya Syaikh Hasanain Muhammad Ali Makhluf al- Adawi, h. 9.

[4] Demikian kutipan dari al-Fatawa, Juz XXIII, h. 132.

[5]Seorang tabi’in yang hidup semasa sahabat Ali ra. Baca, al-Qalqasyandi, Nihayah al-Arab, h. 63. (Penerjemah).

[6]Demikian yang tertulis dalam kitab ini. Mungkin kesalahan penulisan, sedangkan dalam kitab lain dengan redaksi Dawud as. Baca Ibn Rajab al-Hanbali, Latha’if al-Ma’arif, h. 151. (Penerjemah).

[7]Husn al-Bayan, karya Abdullah bin Muhammad bin ash-Shadiq al-Ghumari, h. 16.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*