Adat Atau Tradisi Dalam Beribadah

Adat atau Tradisi dalam Beribadah
Setiap komunitas selalu mempunyai adat dan tradisi khas sesuai dengan peradaban dan falsafah hidup mereka. Adat dan tradisi tersebut lahir sebagai akibat dari dinamika dan interaksi yang berkembang di suatu komunitas lingkungan masyarakat. Oleh karenanya, bisa dikatakan, adat dan tradisi merupakan identitas dan ciri khas suatu komunitas.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, adat atau tradisi bermakna kebiasaan perilaku yang dijumpai secara turun-temurun. Karena bermula dari kebiasaan dan itu merupakan warisan dari pendahulu, maka akan terasa sangat ganjil ketika hal itu tidak boleh dilakukan atau dilakukan tapi tidak sesuai dengan kebiasaan yang berlaku.
Allah SWT menciptakan manusia dalam kemajemukan yang terdiri atas suku, bangsa dan tersebar di berbagai tempat. Kemajemukan tersebut melahirkan adat dan tradisi yang sangat beragam. Namun demikian manusia dibekali software yang tidak diberikan kepada makhluk lain, yaitu akal. Dengan akal inilah manusia menjadi makhluk yang sangat terhormat dan diharapkan bisa menjadi khalifah di muka bumi serta mampu menciptakan kreasi-kreasi baru yang membawa kemaslahatan bagi sesama. Dengan kesempurnaan yang dimilikinya, Allah SWT ‘menaruh harapan’ bahwa mereka mampu melakukan yang terbaik di muka bumi. Semua itu sebagai amanah Allah SWT yang harus kita manifestasikan untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah Yang Maha Esa.
Masyarakat Indonesia memiliki beragam adat dan tradisi yang berbeda dengan negara-negara lain, bahkan dari satu daerah ke daerah yang lain. Beragamnya agama, bahasa dan budaya adalah keniscayaan dalam konteks keindonsiaan.
Ketika masuk ke Indonesia lewat Walisongo, Islam begitu ramah menyapa umat. Tidak ada tindakan anarkis dan frontal melawan tradisi. Kelihaian Walisongo mengakomodasi budaya setempat ke dalam ajaran-ajaran Islam, menampakkan hasil yang luar biasa. Para masyarakat yang sebelumnya menjadi penganut kuat ajaran dinamisme dan animisme, pelan-pelan berbondong-bondong menghadiri majelis-majelis yang diselenggarakan Walisongo. Mereka hadir bukan karena dipaksa, tapi karena sadar bahwa ajaran Islam sangat simpatik dan ‘patut’ diikuti.
Itu hasil kreasi yang patut diapresiasi. Islam adalah agama yang mampu berakumulasi, bahkan hampir bisa dikatakan tak pernah bermasalah dengan budaya setempat. Bahkan budaya bisa didesain ulang atau dimodifikasi dengan tampilan yang elegan menurut syara’ dan lebih berdayaguna demi meningkatkan kasejahteraan hidup. Dengan demikian, kehadiran Islam di tengah masyarakat, dimanapun dan sampai kapanpun, akan selalu menjadi rahmatan lil alamin.
    
Islam Mengakomodasi Adat
Adat atau tradisi yang dimaksud di sini adalah adat yang tumbuh dan berkembang disuatu komunitas dab hal itu –secara prinsip- tidak terdapat dalam ritual syariah Islam, baik pada masa Rasulullah SAW.
Adat atau tradisi semacam ini adalah sah-sah saja dan tak masalah. Tentunya dengan catatan, adat atau tradisi tersebut tidak bertentangan dengan nilai-nilai luhur Islam, mempunyai tujuan mulia dan disertai niat ibadah karena Allah SWT. Dalam Kaidah fikih dikatakan, “al-Adah Muhakkamah ma lam yukhalif al-Syar’” (Tradisi itu diperbolehkan selama tidak bertentangan dengan dasar-dasar syariah).
Sahabat Abdullah bin Abbas mengatakan: Setiap sesuatu yang umat Islam menganggap baik, maka menurut Allah baik juga, dan yang mereka anggap buruk, maka buruk juga manurut Allah” (Diriwayatkan Al-Hakim)
Ia juga berpesan: Sesungguhnya Allah melihat hati hambanya, selalu ditemukan hati Muhammad SAW, sebaik-baiknya hati hambanya, lalu memilihnya untuk-Nya, dan mengutusnya. Lalu melihat hati hambanya selain Muhammad, dan ditemukan beberapa hati sahabatnya, lalu menjadikannya menteri bagi nadi-Nya. Setiap suatu yang umat Islam menganggap baik, maka menurut Allah baik juga, dan yang mereka anggap buruk, maka buruk juga menurut Allah” (Diriwayatkan oleh Ahmad)
Dalam Hasiyah as-Sanady disebutkan, “Bahwa sesungguhnya sesuatu yang mubah (tidak ada perintah dan tidak ada larangan) bisa menjadi amal ibadah selama disertai niat baik. Pelakunya mendapatkan imbalan pahala atas amal tersebut sebagaimana pahalanya orang-orang yang beribadah”. (Hasiyah as-Sanady, Jilid 4, hal.368)
Imam Syafi’i memberikan batasan ideal tentang adat atau tradisi ini, menurutnya, selama adat atau tradisi itu tidak bertentangan dengan dasar-dasar syariat, itu hal terpuji. Artinya, agama memperbolehkannya. Sebaliknya, jika adat atau tradisi tersebut bertentangan dengan dasar-dasar syariat, hal itu dilarang dalam Islam.
Menurut Imam Syafi’i yang dinukil oleh Baihaqi dalam kitabnya Manakip As Syafi’i lil Baihaqi:  Hal baru (bid’ah) terbagi menjadi 2 (dua) macam. Adakalanya hal baru itu bertentangan dengan Al-Qur’an, as-Sunnah, al-Atsar, atau ijma Ulama. Itulah bid’ah yang tercela. Sedangkan hal baru yang tidak bertentangan dengan dasar-dasar agama tersebut adalah bid’ah yang terpuji. (Fathul Bari, karya Ibn Hajar, jilid 20, hal:330)
Adat atau Tradisi dalam Beribadah (2) Al-Qur’an dan Hadits merupakan rujukan pamungkas bagi syariat Islam. Keduanya mengandung ajaran global yang akan menjawab berbagai problematika umat, di manapun dan sampai kapan pun. Namun demikian, itu bukan berarti tidak menutup kemungkinan ada masalah yang ’tidak ada’ dalam Al-Qur’an dan Hadits. Dalam artian, rujukan dalam Al-Qur’an atau Hadits tidak merinci semua kejadian yang dialami manusia. Hal ini mengingat bahwa fenomena akan terus berlangsung seiring dengan laju zaman, sedangkan nash-nash yang ada terbatas’.
Banyak sekali hal-hal yang sudah dilegimitasi syara’, di antaranya shalat. Nash mana pun akan mengatakan bahwa shalat hukumnya wajib. Hal ini sesuai dengan perintah Allah dalam Al-Qur’an QS. An-Nur : 56: ”Tunaikanlah Shalat!”
Banyak sekali ayat-ayat dan hadits Rasulullah SAW yang menyerukan wajibnya shalat. Ini menunjukkan bahwa shalat adalah bagian terpenting dalam Islam. Bahkan, Allah SWT menegaskan, tidak ada hukuman mati bagi siapapun yang tidak menunaikan bagian dari rukun Islam, baik karena malas atau lainnya, kecuali shalat. Jika seseorang maninggalkannya karena benci akan perintah Allah, atau tidak percaya atas wajibnya shalat, hukumnya murtad.
Setiap muslim berkewajiban manunaikan shalat lima kali dalam sehari semalam. Ketentuan-ketentuanya telah diatur secara gamblang dalam syara.
Rasulullah SAW telah memberikan suri tauladan dalam tata cara shalat ini. Dalam suatu hadits, Rasulullah SAW bersabda : ”Shalatlah sebagaimana kalian mlihat cara shalatku” – H.R  Bukhari
Contoh lain adalah hukum mamakan bangkai, Allah SWT juga menegaskan larangan mamakan bangkai, darah dan daging babi. Allah SWT berfirman : ”Diharamkan atas kamu (memakan) bangkai, darah, daging babi, binatang yang disembelih atas nama selain allah SWT, binatang yang mati tercekik, dipukul, jatuh, tertanduk dan mati karena terkaman binatang buas.” QS. Al-Ma’idah: 3.
Itulah contoh perkara yang sudah mendapatkan legimitasi hukum secara jelas. Ketika kita ditanya; Apa hukumnya shalat? Tentu jawabannya adalah wajib. Apa hukum memakan bangkai? Tentunya haram.
Yang menjadi persolaln sekarang; bagaimana dengan hal-hal belum ada ketentuannya, baik perintah atau larangan adalah mubah. Dalam kaidah Fikih disebutkan: ”Asal dari segala sesuatu adalah mubah”
Dalam masalah ini, Allah SWT pun berfirman: ”Dan tidaklah Jibril turun membawa wahyu, kecuali (itu) karena kehendak Tuhanmu. Apa-apa yang ada di hadapan dan belakang kita serta apa yang belum pernah terjadi adalah atas kehandak-Nya. Dan tidaklah Tuhanmu melupakan hal itu”. QS. Maryam: 64
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA: ”Saya bersama Kholid bin wahid sedang menemani Rasulullah berkunjung ke rumah Maemunah. Dihilangkan kepadanya seekor biawak. Rasulullah SAW kemudian penasaran dan memegangnya. Lalu sebagian dari (perempuan) berkata kepada sebagian sahabat untuk memberitahukan kepada Rasulullah SAW, bahwa ini hewan biawak ya Rasulullah SAW, lalu beliau mengangkat tangannya. Lalu saya menanyakan”Apakah (binatang) itu diharamkan wahai Rasulullah?” Rasulullah SAW menjawab, ”Tidak. Tetapi tidak pernah ada di lingkungan kami, maka segala sesuatu yang aku belum menemuinya, kami mentolerir”. Khalid pun kemudian memakannya dan Rasulullah SAW malihatnya” (HR. Bukhari & Muslim)
Tidak semua fenomena-fenomena itu baru tersurat dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits. Namun demikian, Al-Qur’an dan Hadits sudah memberikan pedoman umum berkaitan dengan hal itu, di antaranya ketentuan bahwa sesuatu yang belum mendapatkan legimitasi hukum dari Al-Qur’an dan Al-Hadits hukumnya mubah. Artinya tidak diperintahkan dan tidak dilarang. Hukumnya diserahkan kepada maslahat manusia. Jika hal itu memberikan implikasi positif, maka dianjurkan. Sebaliknya, jika memberikan Implikasi negatif, maka dilarang.
Diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, ”Sesungguhnya Allah SWT telah menetapkan beberapa kewajiban. Janganlah kalian lalaikan. Allah SWT pun telah menentukan larangan. Jangan kalian terjang. Allah WST pula telah memberikan batasan-batasan atas segala sesuatu. Jangan sampai kalian sebagai rahmat dan keringanan bagi kamu-dan itu bukan lalai-, maka hendaknya kalian jangan mencari-cari hukumnya.” (HR Daruquthni)
Dari Salman RA Berkata, ”Allah SWT telah menghalalkan yang halal dan mangharamkan yang haram. Jadi yang halal hukumnya halal dan yang haram hukumnya haram. Adapun sesuatu yang belum mendapatkan legimitasi hukum, maka (bisa) ditolerir – (HR Baihaqi)
Dalam kesempatan lain Rasulullah SAW bersabda: Dari Salman Al-Farisi ra. “Kami telah bertanya kepada Rasulullah SAW tentang minyak samin, keju dan kedelai, lalu baliau menjawab: yang halal adalah yang telah dihalalkan Allah di dalam kitab-Nya, yang haram adalah yang telah di haramkan di dalam kitab-Nya, adapun sesuatu yang didiamkan hukumnya dima’fu (ditolerir)”. (HR Baihaqi)
“Sahabat Ali bertanya: Wahai Rasulullah, bagaimanakah bila datang kepada kami sesuatu yang tidak turun di dalam Al-Qur’an, juga tidak ada dijelaskan dalam Sunah Tuan? Rasulullah SAW menjawab; Musyawarahkan hal itu bersama orang-orang yang ahli ibadah dan orang-orang yang mu’min, jangan engkau memutuskan sesuatu itu hanya dengan akal saja.” (HR. At-Thabrani)
Imam Ghazali juga memberikan sikap yang sangat cantik dalam menyikapi sesuatu tindakan yang belum dikenal pada masa Rasulullah SAW, dengan mengembalikan kapada pendapatnya ulama. Di bawah ini kutipan Ghazali pada atsar:
“Ketika dikatakan kepada Rasulullah SAW, “Apa yang harus kami perbuat manakala ada perintah dan kami menemukan (hukum)nya baik dalam Al;-Qur’an atau Al-Hadis? “Rasulullah SAW menjawab, “bertanyalah kepada orang-orang shaleh yang telah dijadikan sebagai petunjuk di antara mereka”. Dalam riwayat lain, “Ulama dhahir adalah perhiasan bumi dan langit . Sedangkan ulama bathin penghias langit dan alam malakut”. (Ihya’ Ulumuddin, jilid1, hal. 22)
Ibnu Ajibah, dalam tafsirnya al-Bahrul Madid, mengutip atsar yang senada dengan sikapnya imim Ghazali, yaitu bila datang pada kita sesuatu yang belum mendapat legalitas Al-Kitab dan As-Sunnah, maka hendaknya dikembalikan kepada para ulama’ sebagai bahan musyawarah untuk mencari solusi terbaik dan kemaslahatan bagi masyarakat setempat.
“Para sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW, Bagaimana kalau terjadi perselisihan pada kami setelah tuan ada dan tidak kami ketemukan di kitab Allah, tidak juga Sunah Rasulullah? Beliau menjawab: “Kembalikanlah permasalahan kepada pendapat orng-orng shaleh dan jangan melanggar pendapatnya.” (Al-Bahrul Madid, Jilid 2, hal. 194).
Dengan demikian segala sesuatu yang belum terdapat dalam Al-Quran dan Al-hadis, hukumnya ‘deserahkan’ kepada ulama untuk bahan ijtihad, mencari hukum yang sesuai dengan keadaan dan maslahat bagi masyarakat setempat. Bukan malah di jauhi dan diklaim bid’ah, karena mengada-ada yang tidak di temukan dalam Al-Qur’an dan hadits. Orang-orang shaleh yang dimaksud adalah ulama-ulama mujtahidin yang mempunyai kompetensi keilmuan yang mumpuni.
Adat atau Tradisi dalam Beribadah (3-habis) Dalam berijtihad masing-masing ulama mempunyai blue print yang berbeda. Namun, secara substansial, para ulama tetap melandaskan ijtihad kepada dasar-dasar yang telah digariskan oleh Al-Qur’an dan Al-Hadis.
Dalam hal tidak adanya legimitasi syara’, amalan-amalan yang tidak dijalankan atau bahkan ditinggalkan Rasulullah SAW tidak berarti otomatis dilarang, baik bersifat makruh atau haram. Coba kita menerungi sejenak fenomena kontemporer yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari dan beberapa riwayat tentang kehidupan Nabi berikut ini:
Di era global yang serba canggih ini, kita tentu menemukan banyak sekali hal-hal baru yang belum pernah terjadi pada zaman Rasulullah SAW, sahabat tabi’in atau bahkan tabi’it tabi’in. Apakah kemudian kita akan mengatakan bahwa semua yang belum pernah ada pada zaman mereka harus kita tinggalkan?
Kalau kita katakan bahwa sesuatu yang ditinggalkan Rasulullah SAW harus kita tinggalkan juga, berada juta hal ‘haram’ yang sudah kita lakukan, baik dari segi ibadah ataupun non-ibadah? Misalnya, pada zaman Rasulullah SAW, fenomena shalat tarawih tidak dikemas seperti yang sekarang kita lihat di masjidil haram. Pelaksanaan shalat tarawih di sana sekarang kita lihat menggunakan sesuatu yang serba elektronik; pengeras suara, listrik, pendingin ruangan (AC), dan lain-lain.
Contoh lain pada sisi non-ibadah. Bukanlah Rasulullah SAW terkenal dengan kesahajaan dan kesederhanaannya? Beliau tidak baju mahal dan elegan. Sekarang, berapa ratus juta muslim di dunia yang mengenakan baju-baju bermerk? Apakah akan kita katakan juga bahwa itu sebuah perilaku haram yang telah manjadi budaya? Tentu saja tidak.
Kalau kita cermati dalil-dalil baik dari Al-Quran dan Al Hadis, pendapat ulama tampak sekali bahwa Allah SWT tidak pernah menghitamputihkan legimitasi sebuah hukum. Silahkan kita kaji persoalan yang ada sesuai dengan kaidah-kaidah fikih yang telah ditetapkan semenjak lama. Jadi, janganlah kita membelanggu diri dalam beragama dengan mengharamkan semua persoalan-persoalan yang belum dilegimitasi syara’.
Marilah kita telisik beberapa sebab; kenapa Rasulullah SAW meninggalkan perkara tertentu? Apakah seluruhnya karena diharamkan Allah SWT atau karena alasan tertentu, misalnya Rasulullah SAW tak mau makan makanan tertentu karena memang tak selera dan sama sekali bukan karena haram –seperti orang Indonesia disuruh makanan mukhalil (makanan khas Mesir) yang agak gimana gitu rasanya. Mari kita perhatikan beberapa riwayat berikut ini:
  1. Adakalanya, Rasulullah SAW meninggalkan sesuatu karena hal itu belum pernah ia makan atau mencicipi sebelumnya. Maka ketika dihidangkan dihadapinya dan dipersilahkan untuk dimakan beliau tak berselera. Misalnya tentang penolakan Rasulullah SAW makan daging dhab (nama binatang). Hal ini sebagaimana diceritakan oleh Ibnu Abbas RA.
  2. Adakalanya, Rasulullah SAW meninggalkan sesuatu karena beliau terlupa. Hal ini pernah terjadi dalam kasus Rasulullah SAW lupa melakukan sujud sahwi sebagaimana diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud RA.
  3. Adalakanya, Rasulullah SAW meninggalkan sesuatu dikarenakan beliau takut –jika itu dilakukan secara terus-menerus umat akan menyangka bahwa aktifitas Rasulullah SAW itu sebuah kewajiban- yang harus dikerjakan umatnya. Hal ini sebagaimana diriwayatkan Bukhari dan Muslim bahwa Rasulullah melakukan jamaah sholat taraweh hanya 4 (empat) kali di bulan Ramadhan. Lainnya beliau lakukan sendiri di rumah.
Dan masih banyak lagi hal-hal yang ditinggalkan Rasulullah SAW yang tidak karena diharamkan Allah, tapi lebih karena, misalnya lupa, khawatir atau tak selera karena tak terbiasa.
Olah karena itu merilah kita tunaikan ibadah ajaran-ajaran Islam secara proporsional. Hal-hal yang sudah jelas-jelas wajib, harus ditunaikan yang haram, harus ditinggalkan; yang sunah lebih utama ditunaikan dan yang makhruh lebih baik ditinggalkan; yang mubah boleh ditunaikan dan boleh di tinggalkan. Ketentuan tentang ini semua telah diatur secara rapi dalam Al-Qur’an, Al-Hadis dan ketentuan-ketentuan detil yang dihasilkan dari ijtihad para ulama.
Sedangkan fenomena-fenomena baru, yang belum mendapatkan legimitasi hukum dari Al-Qur’an atau Al-hadis hukumnya mubah. Artinya, tidak diperintahkan dan tidak dilarang. Lantas bagaimana ? Hukumnya diserahkan kepada maslahat manusia. Jika hal itu memberikan implikasi positif, maka dianjurkan. Sebaiknya, jika memberikan implikasi negatif, maka dilarang. Dalam hal ini dikembalikan kepada ijtihad ulama yang berkompeten dan beberapa ulama mengkatagorikan hal ini sebagai tindakan bid’ah yang hasanah atau hal baru yang baik.
H Fadlolan Musyaffa’ Mu’thi, MA
Rais Syuriyah PCNU Mesir
Sunber: NU Online


Kesinambungan Ulama

Kesinambungan Ulama*
* Artikel ini diambil dari ceramah K.H. Maimoen Zubair pada saat pembacaan sanad kitab Fathul Mu’in dan Fathul Qorib.
Sungguh ada kebahagiaan yang sangat mendalam jika masih ada umat Islam yang berpegang teguh pada ajaran Ahlusunnah Waljamaah. Yaitu golongan yang mengikuti sunnah Nabi dan yang mengikti kelompok sahabat Rosulullah SAW yang mengembalikan sesuatu kepada asalnya, Al-Quran dan Al-Hadis. Sebab keduanya itu saling berkaitan.
Sebaik-baiknya zaman adalah zaman Rosulullah SAW, terus zaman setelahnya dan setelahnya. Masa kenabian itu berjumlah 23 tahun.. 13 tahun Rosulullah berada di Makkah dan 10 tahun berada di Madinah. Di masa ini merupakan masa pokok keislaman. Banyak sahabat yang menyertai Rosulullah SAW, padahal Al-Quran belum ditulis, yang hanya di hati dan bibir. Setelah Rosulullah SAW wafat. Kekuasaan Islam pindah pada masa Asrorus shohabat. Islam terus berkembang, sehingga banyak seseuatu yang belum ada di zaman Rosulullah SAW diadakan oleh para sahabat. Pembuatan baitul mal (zaman Abu Bakar), penyatuan sholat tarawih ( sahabat Umar bin Khottob) dan pembukuan Al-Quran (zaman Usman bin Affan). Pembaharuan ini dijalankan karena menangapi suatu kebutuhan yang tidak bisa ditinggalkan. Ini bukanlah bid’ah sebagaimana yang dianggap oleh orang-orang awam, bahwa bid’ah itu menyesatkan.
Pada masa Abu Bakar, Al-Quran itu dikembangkan menjadi tulisan, yang kemudian disempurnakan oleh Kholifah yang ke tiga, Usman bin Affan. Pada zaman sahabat ini, Al-Quran masih berbentuk tiga kategori, Al-Quran yang masih di hati sanubari, Al-Quran yang berupa bacaan, dan Al-Quran yang sudah berbentuk tulisan. Namun di sini yang paling banyak dikerjakan sahabat adalah Al-Quran yang di hati, Sehingga dari prestasi ini membuat masanya adalah masa yang baik setelah zaman Rosulullah SAW . Sedikit sekali pada zaman sahabat yang hafal Al-Quran secara utuh. Yang hafal secara awal sampai akhir cuma enam orang. Kebanyakan dari mereka adalah hafal surat-suratan. Namun perlu diketahui, bahwa hafal Al-Quran itu tidak harus hafal semuanya . Sebab Al-Quran itu pembahasan sering diulang-ulang dengan gaya bahasa yang berbeda-beda. Isinya ada tujuh pembahasan,
1. Mentauhidkan Allah
2. Memberi kabar gembira,
3. Memberi kabar ancaman,
4. Perintah untuk menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangann-Nya,
5. Nasehat- nasehat.
6. Cerita-cerita,
7. Petunjuk.
Zaman 100H ke atas, masa Islam pindah dari zaman sahabat menuju zaman tabi’in. Di era ini kemajuan islam terus berkembang terutama dalam ilmu pengetahuannya. Ide-ide cemerlang terus berdatangan. Hingga pada masa Umar bin Abdul Aziz timbullah suatu gagasan yang berlian, yaitu pembukuan Hadis Nabawi. Dalam hal ini Umar memberi mandat kepada imam Az-Zuhri untuk menjadi pelopornya.
Tahun 200H ke atas, tongkat Islam berpindah lagi, dari zaman tabi’in menuju zaman tabi’it tabi’in. Di asar ini perkembangan Islam bertambah lagi, yang asalnya cuma ada pembukuan Al-Quran dan Al-Hadis. Sekarang timbul iman-imam madhab yang menyusun kitab Fiqih sedemikian rapi.
Masa 300 H ke atas, masa ini merupakan zaman di mana pemikiran akal semakin berkembang. Hingga suatu ketika, muncullah kaum Mu’tazilah yang selalu mengedepankan akal dari pada dalil naqli. Maka dari permasalahan ini, oleh imam As’ariyah dan Maturidayah mengawinkan antara nash dan akal hingga muncul dalil yang namanya dalil naqli dan aqli.  Era 400 H ke atas, ini adalah sanah yang dipelopori oleh Imam Abu Bakar Al-Bakilani. Di masa ini pembukuan kitab Fiqih terus disempurnakan. Muncul Madrasah Nizhamiyah yang mengeluarkan pemikir-pemikir Islam yang handal . Selain itu, muncul pula fitnah, berupa adanya kaum Syiah Qororiroh yang sangat kejam, menjadi baksil kemajuan Islam. Mereka mencuri Hajar Aswad yang di Makkah dan membantu orang-orang kafir untuk menguasai Baitul Maqdis dari tangan umat Islam. Tahun 500 H ke atas. Ketika umat Islam sebelum tahun ini terkena guncangan fitnah yang besar. Maka Allah meredakan fitnah tersebut lewat imam Al-ghozali, salah satu pengajar di Madrasah An-Nizhamiyah yang mempunyai salah satu murid yang “malang-malang putung rawe-rawe rantas”, Sholahuddin Al-Ayyubi. Kelak ditangannya kejayaan Islam kembali. Beliau merebut Masjidil Aqsho dari tangan-tangan kafir, dan mengembalikan Hajar Aswad yang asalnya dicuri oleh orang Syi’ah ke tempat asalnya. Dimasanya juga, muncul pensyi’aran tentang acara Mauludiyah, yang merupakan bukti kecintaan terhadap Rosulullah SAW. Dan tidak kalah hebohnya, setelah imam Ghozaly, muncul imam Nawawi dan Rof’ii yang mena keduanya mengemas kitab karangan imam Ghozali.
Tahun 600 H ke atas Islam kembali diguncangkan oleh fitnah yang sangat besar, pelakunya tidak lain adalah orang Syi’ah yang membantu orang-orang Mongol untuk menjatuhkan Kerajaan Arab, Abbasiyyah. Di saat penaklukan semenanjung Arab ini, banyak ulama, seperti imam Ibnu Daqiqil Id yang lari dari Bagdad menuju Syam Namun atas izin Allah, ada pembesar Mongol yang masuk Islam, Timur Leng, yang menyebarkan Islam bagi rakyat mongol.
Tahun 800 H ke atas telah lahir ulama, Imam Al-Bulqini. Kemudian setelahnya, muncul ulama yang agung, yang menghasilkan beberapa ilmu pengetahuan Islam yang dipelopori oleh imam Suyuti 1000 H ke atas, kitab-kitab Islam mengalami perkembangan. Sebab di masa ini muncul kitab Hasiyah yang dipelopopri sebagian ulama. Diantaranya Imam Zamzami dan kawan-kawannya. Kitab Hasiyah merupakan suatu kebutuhan untuk menjabarkan ilmu-ilmu yang ada pada kitab Matan dan Syarah. 1100 H ke atas, perkembangan ilmu pengetahuan Islam maju lagi, yaitu munculnya kitab Al-Barjanji yang mensyiarkan tentang rasa cinta kepada Rosulullah SAW. Janganlah kalian melupakan kitab asal ini meskipun sudah ada kitab-kitab yang memuji terhadap Rosul yang lain yang dikarang oleh ulama’ selain imam Al-Barjanji.
1200 H ke atas, lahir ulama yang bermadhab Hanafi. Tapi dia juga cinta Madhab Syafii, beliau tidak lain adalah Sayyid Murtadho, ulama yang mensyarahi kitab Ihya’ karangan imam Ghozali yang merupakan pegangan Madhab Syafii. Percanpuran yang menyebabkan peralihan juga terjadi pada keturunan Syaikh Baker Al-Jugjawi yang kebanyakan keturunaannya menjadi Muhammadiyah yang menganut Organisasi Ahmad Dahlan. Dan Ahmad Dahlan itu sendiri menjadi Muhammadiyah karena gurunya, Syaikh As-Syukati itu berpaham Muhammadiyah. Karena sejarah yang bercampur ini K.H Maimoen tidak berani membenci orang Muhammidayahm sebab banyak keturunan gurunya yang menjadi pengikut Muhammdiyah. Namun beliau juga tidak mau mengikuti Muhammadiyah. Beliau tetap pada Nahdhotul Ulama’. Yang beraliran Ahlusunnah Waljamaah. Tapi sekarang banyak orang yang NU ngakunya. Tapi tidak memenuhi ajaran Ahlusunnah Waljamaah. Orang yang seperti ini lebih jelek dari orang-orang yang menganut Muhammdiyah.
Pada abad ke 13, Islam mencapai perkembangan ilmu pengetahuan lagi lewat ulamanya yang handal. Beliau tidak lain adalah Sayyid Zaini Dahlan. Sosok yang alim yang tersegani di Makkah dan luar Makkah. Beliau banyak mengarang kitab yang kini tersebar di belahan dunia.
Sekitar tahun 1400 H telah lahir ulama yang menjadi panutan umat Nabi Muhammad SAW. Namanya sesuai dengan nama Rosulullah SAW. Sosok itu adalah Sayyid Muhammad bin Alawy Al-Maliki. Beliau dikabarkan menjadi mujaddid yang menempati tahun ini, banyak ulama’ yang terdidik dari tangan beliau, seperti halnya Sarang, banyak Masyayeh yang pergi belajar ke Makkah, ke pondok Sayyid Muhammad. Adapun K.H. Maimoen sendiri itu adalah orang yang hidup pada masa 1300H dan 1400 H.  Yang terpenting bagi kita adalah mengikuti ajaran Ahlusunnah Waljamah yang berpendapat bahwa Al-Quran itu qodim (dahulu) bukan hadis (baru) sebagaimana yang yang dikemukakan oleh orang Mu’tazilah.
Keistimewaan Al-Quran itu bersinar pada diri Rosulullah SAW. Dulu pada zaman sahabat jika memandang Rosululah SAW mereka bisa menjadi alim sebab keberkahan yang dibawa oleh Rosulullah SAW. Dan sumber utama kelaiman itu juga berasal dari Rosulullah SAW yang ilmunya tidak dapat dibayangkan karena saking banyaknya.
Ajaran Islam yang dibawa oleh Rosululah SAW pada awal dekade sangatlah asing, dan kelak akan kembali asing lagi. Selain asing juga aneh. Mengapa?. Karena ketika Islam itu besar, sebab diperjuangkan oleh Bani Hasyim dan Bani Mutholib. Tapi orang yang pertama kali masuk Islam bukan dari kalangan mereka, tetapi Abu Bakar. Islam juga besarnya di daerah pedesaan, yaitu Yasrib bukan Makkah, yang menjadi tempat lahirnya. Aneh lagi, meskipun Abu Bakar adalah orang yang pertama kali masuk Islam, tapi ketika kita membaca Sholawat itu hanya diperuntukan kepada Rosulullah SAW dan keluarganya bukan Abu bakar.
Sarang, 20 juli 2010 M

Keutamaan Bulan Sya’ban

Keutamaan Bulan Sya’ban
Oleh: H. Ahsan Ghozali
 Sya’ban adalah salah satu bulan yang mulia. Bulan ini adalah pintu menuju bulan Ramadlan. Siapa yang berupaya membiasakan diri bersungguh-sungguh dalam beribadah di bulan ini, ia akan akan menuai kesuksesan di bulan Ramadlan.
 Dinamakan Sya’ban, karena pada bulan itu terpancar bercabang-cabang kebaikan yang banyak (yatasya’abu minhu khairun katsir). Menurut pendapat lain, Sya’ban berasal dari kata Syi’b, yaitu jalan di sebuah gunung atau jalan kebaikan. Dalam bulan ini terdapat banyak kejadian dan peristiwa yang patut memperoleh perhatian dari kalangan kaum muslimin. Continue reading Keutamaan Bulan Sya’ban

Ikhtiar Menata Organisasi NU (1)

Oleh: KH. Abd. Nashir Fattah (Rais Syuriah PCNU Jombang)

Sebagai sebuah jam’iyah yang bergerak dalam bidang kemasyarakatan dan keagamaan (jam’iyah diniyah itjima’iyah) yang telah berdiri sejak 85 tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 1926, Nahdlatul Ulama seharusnya sudah matang dalam pengelolaannya. Kematangan organisasi ditandai dengan kuatnya internal kelembagaan dan baiknya hubungan eksternal. Dua tanda kematangan ini merupakan sesuatu yang harus terus diupayakan pencapaiannya agar Nahdlatul Ulama (NU) betul-betul menjadi organisasi yang mampu memberikan manfaat bagi umat.
Kekuatan internal organisasi berkaitan dengan: pertama, bagaimana perekrutan dilakukan; kedua, bagaimana sistem dibuat; ketiga bagaimana program disusun; serta yang terakhir bagaimana pendanaan digali. Sedangkan kekuatan eksternal meliputi kemampuan organisasi dalam bergaul dan mempengaruhi orang atau organisasi lain.
Yang pertama, dalam perekrutan harus betul-betul berdasarakan kemampuan seseorang. Namun, disamping memiliki kemampuan, juga yang perlu dipertimbangkan adalah amanah dalam menjalankan kepengurusan. Karena dengan kriteria amanah dan memiliki kemampuan, maka orang tersebut akan betul-betul menjalankan kepengurusan dengan penuh tanggungjawab serta bisa bekerja dengan baik.
Memang agak sulit mengukur tingkat ke-amanah-an seseorang. Karena ke-amanah-an merupakan sesuatu yang abstrak. Hal ini bisa diselesaikan dengan melihat track record selama ini ketika aktif di NU atau di lembaga lain. Amanah ini penting, karena tanpa amanah akan sulit memberikan pertanggungjawaban.
Sedangkan dari segi memiliki kemampuan, adalah kemampuan untuk menjalankan (action) kegiatan-kegiatan, tidak hanya sekedar bicara. Bicara penting, tetapi jika hanya bicara, maka tidak akan ada sesuatu yang dilakukan. Karena itu, yang paling penting dari segi kemampuan ini adalah kemauan untuk merencanakan dan melaksanakan. Merencanakan itu penting, tetapi jika perencanaan itu tidak dijalankan, maka tidak ada sesuatu yang dihasilkan.
Karena itu, ikhtiar itu tidak saja membuat rencana, tetapi juga bagaimana melaksanakan rencana tersebut. Sedangkan hasil dari membuat dan melaksanakan rencana itu, meskipun bisa kita perhitungkan, tetapi tidak mesti kita dapatkan. Yang palig penting kita sudah ikhtiar, persoalan berhasil dan tidak itu kita serahkan pada Yang Maha Membuat Rencana.
Perekrutan ini harus dilakukan secara terbuka bagai siapa saja yang memenuhi kriteria itu. Karena dengan keterbukaan, maka akan bisa ditemukan kader yang betul-betul sesuai dengan yang diharapkan, disamping itu yang perlu dijadikan acuan adalah bagaimana membangun tim dalam kepengurusan, karena dengan itu kekompakan akan bisa diwujudkan.
Yang kedua berkaitan dengan pembuatan sistem atau aturan main dalam organisasi. Pembuatan sistem atau aturan main ini harus betul-betul dirancang dengan baik. Tentu, dalam membuat sistem ini harus melibatkan orang yang akan terlibat dalam pelaksanaan, agar mudah dipahami. Dengan sistem dan aturan main ini, fungsi dan wewenang diatur agar tidak saling tumpang tindih dan bisa saling mendukung, serta tidak terjadi tabarakan antara satu dengan yang lain.
Selanjutnya, untuk membuat organisasi kuat secara internal adalah pembuatan program kerja yang baik. Secara umum program adalah untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi organisasi. Organisasi yang dimaksud di sini adalah pengurus dan seluruh anggota atau warganya. Karena itu sebelum menyusun program harus dilihat dulu persoalan-persoalan apa yang dirasakan oleh organisasi, kemudian dicarikan cara untuk menyelesaikannya, selanjutnya disusunlah program itu.
Agar program tidak sekedar program, maka perlu ada pekerja yang menjalankan program tersebut. Orang ini bekerja secara penuh untuk menjalankan program. Karena dalam organisasi keanggotaan yang semua pengurusnya memiliki kesibukan, maka tidak bisa diandalkan untuk menjalankan program secara penuh. Dari sini pengurus harus mempercayakan kepada orang di luar struktur kepengurusan yang secara khusus menjalankan program dengan kewenangan yang diberikan sebatas persoalan menjalankan program.
Yang terakhir adalah bagaimana organisasi bisa menggali pendanaan secara mandiri, tidak tergantung dengan siapapun dengan berusaha mencari dana sendiri. Untuk organisasi perkumpulan yang memiliki anggota, pendanaan harus diperoleh dari anggota. Hal ini karena organisasi adalah alat perjuangan untuk mencapai tujuan semua orang yang bergabung dalam organisasi. Karena itu, dalam membiayai organisasi ini harus dibiayai oleh anggota organisasi.
Namun kemandirian ini bukan berarti menolak sumbangan dari pihak-pihak lain, karena sumbangan dari pihak lain merupakan salah satu wujud kepercayaan dari pihak lain. Tetapi yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai sumbangan dari pihak lain ini akan mencengkeram kita, kemudian mengendalikan kita, sehingga kita tidak lagi bebas menentukan arah kita gerak sendiri. Pengendalian bisa melalui berbagai cara. Bisa saja kita dibebaskan untuk menggunakan dana yang telah disumbangkan, tetapi disisi lain kita diwajibkan membuat laporan secara khusus tentang apa yang telah disumbangkan, padahal laporan kita, harus secara khusus dibuat untuk anggota atau warga organisasi yang memberi amanah kepada kita, bukan yang lainnya. Karena pengurus dipilih oleh anggota atau warga, bukan pihak yang memberi bantuan.
Adapun yang berkaitan dengan menjaga hubungan dan mempengaruhi pihak lain secara eksternal, kita harus upayakan dengan selalu menjaga hubungan baik. Dengan hubungan yang baik, maka akan dengan mudah kita bisa mempengaruhi pihak luar agar bisa mendukung atau tidak menghambat pencapaian tujuan organisasi.
Itulah kondisi yang harus terjadi jika NU ingin menjadi organisasi yang memiliki kematangan. Karena itu, sebagai i’tibar bagi kita semua, marilah kita lihat organisasi NU mengikuti tanda-tanda di atas. Apakah tanda-tanda di atas sudah kita jalankan atau kita alami, sehingga kita bisa dikatakan sebagai organisasi yang matang di usia yang sudah cukup tua, jika dinisbatkan dengan umur manusia. Dalam prosesnya tanda-tanda di atas (kekuatan internal dan kemampuan eksternal) bisa dibolak-balik, tidak harus sesuai dengan urutan seperti di atas. Misalnya, perekrutan bisa saja dilakukan setelah program selesai disusun. Karena kebutuhan orang (personalia) sesungguhnya adalah untuk memenuhi kebutuhan program. Bukan menentukan orang dulu, kemudian mencari-carikan programnya.
Marilah kita lihat secara bersama-sama, bagaimana kondisi yang terjadi. Yang pertama berhubungan dengan perekrutan. Selama ini, seperti yang kita lihat dan alami, dari sisi perekrutan, kita masih belum memperhatikan faktor kemampuan dan ke-amanah-an seseorang, yang terjadi justru sebaliknya, perekrutan banyak didasari oleh faktor kedekatan seseorang dengan pengurus inti, bahkan tidak bisa kita hindari ada juga yang berdasarkan lobi-lobi agar bisa duduk di kepengurusan NU serta untuk mengakomodir kepentingan-kepentingan. Karena misalnya, ketika seseorang duduk menjadi pengurus, maka bisa mudah aksesnya ke kekuasaan atau karena gengsi tertentu. Kondisi ini, jika kita ingin benar-benar melakukan kritik secara internal, bisa kita lihat terjadi hampir merata di semua tingkatan. Mulai tingkatan yang paling bawah sampai tingkat yang paling atas.
Serta yang cukup parah yang kita saksikan terjadi di NU, terutama di cabang-cabang yang banyak warga NU-nya seperti di Jombang adalah upaya memaksakan diri untuk mengisi personalia semua lembaga/lajnah yang ada, padahal lembaga dan lajnah tersebut belum tentu dibutuhkan, atau lembaga dan lajnah tersebut secara pekerjaan memiliki fungsi yang hampir sama satu dengan yang lain. Kondisi seperti ini terjadi, salah satunya karena keinginan untuk memasukkan lebih banyak orang menjadi bagian dari kepengurusan NU. Padahal ketika dipaksakan masuk menjadi pengurus, tidak pernah menjalankan kegiatan.
Disamping itu, pembentukan lembaga/lajnah NU yang tidak disertai dengan petunjuk atau pedoman pelaksanaannya (sistemnya) menjadikan lembaga/lajnah berjalan tergantung kreatifitas dari pengurus yang telah dipilih. Jika pengurus memiliki kemampuan maka lembaga/lajnah itu bisa jalan, tetapi sebaliknya jika pengurusnya tidak memiliki kemampuan, maka lembaga/lajnah itu tidak berjalan. Akibat yang selama ini kita rasakan adalah lembaga/lajnah yang berjalan karena kreatifitas pengurusnya merasa bahwa mereka bisa berjalan bukan karena pengurus inti NU tetapi karena kemampuan mereka sendiri, sehingga pengurus inti NU jangan ikut campur. Ini sangat fatal. Bagaimana mungkin, lembaga/lajnah yang menjadi departemen pelaksana pengurus inti NU tidak boleh dicampuri oleh pengurus lembaga/lajnah.
Pembuatan petunjuk atau pedoman ini harus dibicarakan secara bersama-sama dengan orang yang akan menjalankan lembaga/lajnah. Karena ketika tidak dilibatkan dalam pembuatannya dikhawatirkan orang yang akan mengisi kepengurusan itu tidak memahami pedoman yang dibuat.
Selanjutnya, yang berkaitan dengan pembuatan program adalah belum sinkronnya antara program satu lembaga dengan lembaga lain. Sehingga terjadi kondisi dimana satu lembaga/lajnah menjalankan program yang dibutuhkan oleh lembaga/lajnah tersebut, padahal program tersebut tidak menjadi wewenang serta tidak sesuai fungsinya. Ini karena tidak adanya program yang dibuat secara menyeluruh dan secara bersama-sama.
Selama ini pembuatan program dilakukan oleh pengurus yang sudah ditetapkan terlebih dulu. Sehingga seperti yang dikatakan di atas, rumusnya adalah mengangkat orang dulu, baru kemudian menyusun (mencarikan) programnya. Rumus seperti ini mengakibatkan, pertama, banyaknya tumpang tindih antara lembaga/lajnah, karena sulit mengontrol kegiatan satu lembaga/lajnah dengan lembaga/lajnah lainnya.
Kedua, pengurus lembaga/lajnah akan mencari-cari kegiatan/program sesuai dengan kemauannya sendiri. Padahal ketika seluruh program/kegiatan lembaga/lajnah dikumpulkan menjadi satu, maka akan terjadi banyak kesamaan kegiatan antara satu lembaga/lajnah dengan lembaga/lajnah yang lain. Hal ini menjadi alamat tidak akan jalannya rencana kegiatan yang dibuat
Karenanya penentuan siapa orang yang akan duduk di dalam kepengurusan inti atau dalam kepengurusan lembaga/lajnah dilakukan setelah seluruh program selesai dibuat. Karena dengan seperti ini, kita bisa tepat menentukan siapa orang yang memiliki kemampuan untuk menjalankan program tersebut.
Kemudian, yang berkaitan dengan pendanaan. Selama ini, di NU mulai pusat sampai cabang belum bisa menggali dana dari warga/anggota sesuai yang diatur dalam AD/ART tentang i’anah (iuran anggota). Padahal NU adalah organisasi yang berlatar belakang keanggotaan, yang seharusnya bisa dibiayai oleh anggota. Berjalan dan tidaknya organisasi tergantung anggota. Karena itu i’anah anggota itu adalah salah satu syarat seseorang menjadi anggota NU. Seseorang dikatakan sebagai anggota NU, syaratnya: pertama, menjalankan amaliah Aswaja Annahdliyah; kedua, membayar iuran.
Namun, karena selama ini anggota kurang mendapat perhatian dan bahkan pengurus seringkali memakai NU (dalam hal ini tentu yang dimaksud adalah anggota NU) untuk kepentingan pribadi, terutama yang berbau politik praktis, maka porsi terbesar yang berkepentingan terhadap NU adalah pengurus. Penguruslah yang susah jika NU secara organisasi tidak berjalan. Sedangkan anggota/warga seolah-seolah tidak memiliki kepentingan, apakah NU berjalan atau tidak. Hal ini karena anggota/warga tidak pernah diperhatikan kepentingan-kepentingannya. Padahal seharusnya, anggota/wargalah yang memiliki porsi kepentingan terbesar, dan karena itu harus didahulukan kepentingannya.
Jika anggota/warga betul-betul diperhatikan oleh pengurus, dimana kepentingan anggota/warga akan selalu diperjuangkan oleh pengurus, maka anggota/warga tidak akan keberatan untuk memberikan sumbangsihnya kepada NU. Misalnya dalam hal ikhwal ekonomi, pengurus mampu untuk membantu anggota dengan mendirikan lembaga keuangan, atau pengurus NU memperjuangkan kepada pemerintah agar anggota NU (ingat, bukan pengurus) mendapat kemudahan dalam berusaha dan mencari modal, maka anggota akan dengan mudah untuk memberikan bantuan ke NU.
Jika kita di sini bicara tentang anggota, maka yang dimaksud adalah anggota yang terdaftar, yang ada di ranting-ranting, bukan anggota yang hanya diklaim. Misalnya di Jombang, sebagaian besar umat Islam adalah orang yang menjalankan amaliah NU, tetapi tidak semuanya terdaftar sebagai anggota. Karena itu, kita tidak bisa mengatakan telah memperjuangkan orang NU ketika kita memperjuangkan orang Jombang, karena kita menganggap semua orang Jombang itu NU. Ini namanya mengklaim orang Jombang sebagai anggota NU semua. Padahal kenyataannya tidak, karena di Jombang ada organisasi Islam lain selain NU.
Ada yang mengatakan anggota/warga jama’ah dan jam’iyah NU itu berbeda. Jama’ah NU adalah semua orang yang menjalankan amaliah NU, sedangkan anggota jam’iyah NU adalah yang terdafar sebagai anggota jam’iyah NU. Pendataan keanggotaan ini, melalui pembuatan kartu NU saat ini terus dilakukan oleh PBNU, meskipun saat ini masih ada daerah yang belum berjalan dengan baik dalam pendataan.
Dalam menggali pendanaan ini tidak saja datang dari anggota/warga, meskipun dana dari anggota adalah yang utama. Kita tidak bisa menolak bantuan dari pihak lain. Selama ini bantuan-bantuan tersebut sudah kita peroleh. Namun, yang perlu diperhatikan jangan sampai bantuan-bantuan dari pihak luar tersebut membelenggu NU, sehingga NU kesulitan dalam bergerak. NU sebagai jam’iyah diniyah itjima’iyah harus tetap bebas menjalankan kegiatan-kegiatan sesuai dengan yang menjadi visi-misinya.
Itulah ikhtiar-ikhtiar yang harus kita lakukan secara bersama-sama, jika kita berkehendak untuk menjadikan NU sebagai jam’iyah yang memiliki kematangan di usianya yang sudah cukup tua. Dengan ikhtiar-ikhtiar ini diharapkan kita bisa mengemban amanah dari para pendahulu kita, para mu’assis jam’iyah Nahdlatul Ulama serta seluruh warga Nahdlatul Ulama. Wallahu ’alam.

Gerakan seribu Terong

Dalam rangka memenuhi kebutuhan pangan keluarga, PC IPNU Jombang melalui departemen pengembangan lingkungan melakukan gerakan tanam seribu terong. Gerakan penanaman ini di lakukan diseluruh tempat yang bisa ditanami, terutama di tanah-tanah milik keluarga pengurus dan anggota PC IPNU Jombang. Penanaman bahkan juga dilakukan di Kantor PCNU Jombang dan rumah-rumah pengurus.
Lebih jauh gerakan ini adalah untuk mengurangi pengeluaran keluarga, dan dalam rangka memenuhi kebutuhan sayuran organik dan sebagai salah satu kegiatan untuk memberikan akses bagi keluarga anggota PC IPNU Jombang dalam pemenuhan kebutuhan pangan, sekaligus dalam rangka memperingati hari tanah sedunia.
Sedangkan capaian yang lebih jauh lagi adalah untuk membuka kesadaran bagi anggota IPNU Jombang serta seluruh warga NU bahwa persoalan pangan dapat kita selesaikan sendiri. Diharapakan dari kesadaran ini, melalui gerakan tanam seribub terong, kekompakan anggota IPNU Jombang dan warga NU secara keseluruhan bisa terbangun.
Menurut Choirul Anam, Wakil Ketua Bidang Pengembangan Lingkungan, gerakan menanam ini merupakan langkah untuk awal. “Menanam belum tentu memanen, kalau tidak pernah menanam tidak akan pernah memanen” tuturnya. Lebih lanjut dia mengatakan: ”maka sebaiknya kita memberi manfaat kepada manusia sebanyak-banyaknya. Tentang apakah kita dibalas atau tidak bukan mennjadi urusan, kalau tidak pernah berbuat baik jangan sampai berharap dibalas dengan baik”.
“Menaman merupakan kebaikan yang harus kita tanamkan di hati kita semua, dengan terbiasa menanam secara tidak langsung kita melakukan pendidikan kepada diri kita untuk selalu berkomunikasi dengan alam, sehingga alam juga akan memberi kebaikan kepadaa kita berupa buahnya”, pungkasnya. (ulum)

RSNU Jombang Adalah Milik Umat

RSNU Jombang Adalah Milik Umat
Oleh: H. Abdul Nashir Fattah

Pada tahun ini, warga Nahdlatul Ulama Jombang telah memiliki rumah sakit baru. Sebuah badan khusus yang berbentuk Perseroan Terbatas (PT) yang digagas dan direalisasikan oleh PCNU Jombang untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada warga NU Jombang khususnya dan, kepada masyarakat Jombang umumnya. Gagasan pendirian rumah sakit tersebut sudah dilakukan sejak tahun 2008 yang lalu, dan baru bisa direalisasikan pada akhir tahun 2010. Realisasi pembangunan ini terkait dengan berbagai persoalan, baik yang bersifat teknis maupun persoalan yang bersifat strategis.

Sedangkan pemilihan bentuk badan hukum Perseroan Terbatas dilakukan setelah melalui kajian yang cukup panjang, dengan berbagai pertimbangan. Untuk memantapkan bentuk badan hukum RSNU, PCNU Jombang melakukan langkah-langkah yang cukup cermat. Langkah-langkah yang dilakukan antara lain melakukan study banding ke berbagai rumah sakit yang sudah berdiri, terutama yang dimiliki oleh organisasi masyarakat seperti NU, kemudian melakukan kajian berkaitan dengan kelebihan dan kelemahan masing-masing bentuk badan hukum (Yayasan, Perkumpulan dan Perseroan Terbatas), dilanjutkan dengan melakukan konsultasi dengan struktur NU, baik yang ada di Pengurus Beasr Nahdlaltul Ulama’ (PBNU), Pengurus Wilayah Nahdlaltul Ulama’ (PWNU) Jawa Timur, serta dengan Majlis Wakil Cabang Nahdlaltul Ulama’ (MWC-NU) yang ada di kecamatan seluruh Jombang. Hasil dari semua langkah-langkah tersebut, terakhir ditetapkan dalam Rapat Pleno PCNU Jombang.

Pembangunan rumah sakit yang diberi nama Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (RSNU) ini bisa dilakukan berkat kerja secara bersama-sama semua unsur, terutama warga Nahdlatul Ulama Jombang yang dengan ikhlas menyumbangkan sejumlah uang yang digunakan untuk pembelian tanah yang selanjutnya diwakafkan untuk pembangunan rumah sakit.
Disamping sumbangan dari warga Nahdlatul Ulama, pembangunan rumah sakit ini juga disumbang oleh pemerintah, baik pemerintah pusat, provinsi maupun pemerintah kabupaten. Juga yang tidak kalah besar sumbangannya adalah dari warga NU yang aktif di partai politik. Semua sumbangan itu menjadikan rumah sakit betul-betul menjadi milik masyarakat, khususnya masyarakat Nahdlatul Ulama.

Karena itu, pernyataan bahwa, “RSNU ini adalah milik umat NU, tidak boleh berpindah tangan ke pihak diluar NU dan, tidak boleh dimiliki atau dikuasai oleh perorangan”, harus selalu kita dengungkan dan sebarluaskan. Sehingga pernyataan atau slogan tersebut akan tertanam dalam kesadaran umum atau kesadaran seluruh warga Nahdlatul Ulama’, yang akhirnya seluruh warga NU akan menjaga aset tersebut benar-benar menjadi milik umat, tidak dipindah tangankan kepada pihak-pihak lain diluar Nahdlatul Ulama, serta tidak dikuasai oleh orang perorang baik pengurus NU sendiri, warga NU atau orang-orang di luar Nahdlatul Ulama’.

Hal ini penting kami nyatakan disini, karena berdasarkan pengalaman, banyak sekali aset yang seharusnya menjadi milik Nahdlatul Ulama’ berpindah tangan menjadi milik organisasi lain atau badan lain, dan juga tidak sedikit yang ‘dikuasai’ oleh orang per-orang. Pengalaman ini jangan sampai terulang di masa-masa yang akan datang. Karena apa yang kita pegang saat ini di Jam’iyah Nahdlatul Ulama’ adalah amanah dari para pendiri dan para pendahulu kita. Amanah untuk menjaga dan melestarikan, baik tradisi-nya maupun seluruh hal yang ada di dalam organisasi, termasuk aset yang dimiliki.

Uraian di atas adalah prinsip dasar yang harus kita pegang secara bersama-sama berkaitan dengan posisi RSNU di tengah-tengah masyarakat yang menyatakan dengan tegas bahwa RSNU adalah milik umat dengan berbagai penjelasannya. Selanjutnya yang tidak kalah pentingnya adalah menetapkan prinsip-prinsip dasar dalam pengelolaan RSNU ke depan. Dengan prinsip-prinsip dasar ini kita berikhtiyar untuk betul-betul menjaga agar kelangsungan RSNU bisa berjalan dengan baik, tanpa dibebani oleh persoalan-persoalan pola hubungan antara PCNU dengan RSNU, serta persoalan-persoalan manajerial (pengelolaan) RSNU itu sendiri.

Yang pertama, berkaitan dengan pola hubungan antara PCNU dengan RSNU, adalah “tidak boleh ada rangkap jabatan di PCNU dan RSNU”. Semua unsur dalam PCNU tidak boleh merangkap jabatan atau terikat pekerjaan dalam RSNU. Ini artinya: jika ada person PCNU yang berkehendak untuk menjadi direksi atau pengelola atau pegawai RSNU, maka yang bersangkutan harus mundur atau diberhentikan dari PCNU, begitu juga sebaliknya, jika ada jajaran direksi atau pengelola atau pegawai RSNU yang berkehendak menjadi salah satu unsur di PCNU, maka yang bersangkutan harus mundur dari jabatan atau ikatan pekerjaan di RSNU.

Prinsip yang pertama ini penting untuk ditegaskan sedari dini, karena jangan sampai ada konflik kepentingan antara PCNU dengan RSNU. Konflik kepentingan yang dimaksud di sini adalah terjadinya konflik dalam diri seseorang berkaitan dengan kepentingan yang berbeda mengenai persoalan yang sama dalam organisasi yang berbeda. Seseorang yang menjabat/bekerja untuk PCNU sekaligus juga untuk RSNU, maka ketika ada kepentingan yang berbeda antara PCNU dan RSNU, maka orang tersebut akan mengalami konflik dalam dirinya. Misalnya, ketika Direksi RSNU melaporkan hasil kerjanya kepada Komisaris RSNU (dimana PCNU adalah salah satu unsurnya), maka seseorang yang merangkap jabatan akan melakukan: satu sisi mempertahankan laporan pekerjaannya, dan di sisi lain mempertanyakan laporan pekerjaannya.

Termasuk dalam prinsip ini adalah: unsur-unsur PCNU selain yang diberi amanah menjadi Komisaris RSNU tidak boleh terlibat dalam berbagai hal yang berkaitan dengan proyek-proyek atau kegiatan-kegiatan yang akan dijalankan oleh RSNU, baik kegiatan atau proyek yang berkaitan dengan perekrutan pegawai atau direksi, proyek yang berkaitan dengan pengadaan sarana dan pra-sarana atau apapun yang menjadi kewenangan komisaris dan direksi beserta jajarannya.

Yang kedua, penetapan Komisaris RSNU dari unsur PCNU harus dilakukan melalui Rapat Pleno PCNU. Sebagaimana yang kita ketahui, Rapat Pleno PCNU adalah alat organisasi dalam mengambil kpeutusan-keputusan di bawah Konferensi Cabang (Konfercab) dan Musyawarah Kerja Cabang (Musykercab). Pengurus yang terlibat dalam Rapat Pleno PCNU diatur dalam Anggaran Dasar Nahdlatul Ulama’ Pasal 13 Ayat (3) Point (f), yang menyatakan bahwa unsur PCNU terdiri Mustasyar, Syuriah dan Tanfidziyah dan unsur gabungan yang dinamakan Pengurus Cabang Pleno.

Unsur PCNU dalam Komisaris RSNU adalah orang yang ditetapkan dalam Rapat Pleno Cabang, karena itu tidak secara otomatis komisaris dari unsur PCNU tersebut adalah Ro’is Syuriah atau Ketua Tanfidziyah. Rapat Plenolah yang akan menggodok dan menguji tentang kemampuan dan kepatutan seseorang dari unsur PCNU yang akan menjadi komisaris. Hal ini patut dilakukan karena belum tentu Ro’is Syuriah PCNU memiliki kemampuan dan kepatutan dalam mengawasi jalannya pengelolaan rumah sakit.

Konsekuensi dari prinsip ini adalah: Ro’is Syuriah bukanlah pengambil keputusan tertinggi dan terakhir dalam RSNU. Pengambil keputusan tertinggi dalam RSNU adalah Komisaris yang salah satunya adalah unsur dari PCNU. Dalam menjalankan tugas sebagai komisaris, unsur dari PCNU membawa mandat dari Rapat Pleno Cabang. Karena itu Rapat Pleno Cabang bisa memberhentikan komisaris dari unsur PCNU jika dirasa tidak bisa membawa mandat Rapat Pleno Cabang.
Hal ini penting untuk ditegaskan di sini, karena menurut Anggaran Dasar (AD) Nahdlatul Ulama, Syuriah adalah pimpinan tertinggi Nahdlatul Ulama, dan tentu juga sebagai pengambil keputusan tertinggi. Karena jika tidak ditegaskan di sini, dikhawatirkan nantinya Syuriah PCNU sebagai pimpinan tertinggi PCNU, tanpa melalui Rapat Pleno Cabang membuat keputusan-keputusan yang menyimpang dari prinsip-prinsip yang tertulis di atas.
Itulah prinsip-prinsip dasar yang harus kita jalankan dalam mengelola RSNU. Prinsip-prinsip tersebut dibuat berdasarkan pengalaman kita sebagai warga Nahdliyin, baik yang ada di jombang maupun di wilayah-wilayah lain, yang banyak mengelola berbagai badan atau unit pendidikan. Pengalaman-pengalaman tersebut digali kemudian disesuaikan dengan berbagai peraturan yang berlaku. 

Saat ini proses menyusun konsep pengelolaan RSNU sedang dipersiapkan oleh ahlinya: oleh orang-orang yang memiliki pengalaman cukup dalam hal pengelolaan rumah sakit serta badan hukum perseroan terbatas. Proses ini dilakukan agar pengelolaan RSNU nantinya bisa berjalan sesuai dengan prinsip-prinsip di atas.
Selanjutnya konsep tersebut harus dikritisi oleh panitia yang selama ini dibentuk, kemudian dibicarakan dan ditetapkan dalam Rapat Pleno Cabang. Proses ini harus dilewati dengan penuh kehati-hatian dan membutuhkan kritik dari semua pihak. Jangan sampai ada yang terlewatkan, sehingga bisa menjadi konsep yang cukup matang untuk ditetapkan. Setelah proses itu dilalui, maka selanjutnya konsep yang sudah matang tersebut baru disahkan secara hukum dengan di-aktanotaris-kan.
Kami berharap, konsep yang sudah disiapkan secara matang dan disahkan secara hukum tersebut, bisa dijalankan dengan baik. Untuk menjalankan konsep tersebut perlu dukungan dari seluruh PCNU dan pengelola RSNU, serta yang tidak kalah pentingnya adalah dukungan dan pengawasan dari seluruh warga NU, khususnya yang ada di Jombang. Semua itu perlu dilakukan agar RSNU Jombang betul-betul menjadi milik umat. 

Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi

Sejarah Berdarah Sekte 
Salafi Wahabi
“Mereka memerangi orang Islam dan membiarkan para penyembah berhala”
 (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, Nasai, dan Ahmad)
Penulis: Syaikh Idahram
Penerbit: Pustaka Pesantren (Grup LKIS)
Tahun Terbit: 2011
Ketika akan memulai menulis review buku ini saya sedikit ragu. Ada sedikit ragu untuk bersiap menghadapi serangan atau bahkan hujatan dari kelompok Salafi yang kebakaran jenggot melihat kelompok mereka dikritik sedemikian rupa. Saya kira sudah jadi identitas bagi kelompok Salafi untuk ringan lisan mengkafirkan, membid’ahkan dan menyesatkan orang/kelompok yang tidak sejalan dengan pemikiran mereka.
Buku ini saya temui di pameran buku di Jogja Expo Center beberapa hari lalu. Ditulis oleh seorang penulis Syaikh Idahram (yang saya sayangkan, biografi singkat penulis tidak dijelaskan sedikitpun di buku ini. Sepertinya ini nama pena). Selain penulis tersebut, buku ini juga di-endorser oleh beberapa tokoh kompeten yaitu: KH. Arifin Ilham (Pimpinan Majelis Dzikir Adz Zikra), KH. DR. Ma’ruf Amien (Ketua MUI) dan Prof. Said Agil Siraj (Ketua Umum PBNU).
KH. Ma’ruf Amien misalnya menyatakan bahwa “Buku ini layak dibaca oleh siapa pun. Saya berharap setelah membaca buku ini, seorang muslim meningkat kesadarannya, bertambah kasih-sayangnya, rukun dengan saudaranya, santun dengan sesama umat, lapang dada dalam menerima perbedaan dan adil dalam menyikapi permasalahan.”
Ringkasan, Sangat Ringkas
Adapun buku ini terbagi ke dalam 6 bab pembahasan.
Bab pertama, bercerita tentang seluk beluk Salafi. Saya mencatat bahwa berdirinya kelompok (atau sekte menurut penulis buku) tidak lepas pula dari kepentingan ekonomi-politik duet Muhammad bin Saud dan Muhammad bin Abdul Wahab untuk melepaskan diri dari Kekhalifahan Turki Utsmani dan mendirikan negara/pemerintahan baru. Terbukti hari ini, dinasti Raja Saudi didukung pewaris madzhab Salafi Wahabi bergandengan tangan duduk satu meja dengan pihak barat dalam banyak hal.
Bab kedua, bercerita tentang sejarah kejahatan Salafi. Susah untuk dipercaya, dan mungkin memang harus dikonfirmasi terlebih lebih lanjut. Tapi, data dan fakta yang disampaikan penulis cukuplah kuat untuk membuktikan tuduhan kejahatan ini. Beberapa peristiwa terkini, seperti pembantaian jamaah haji dari Yaman (tahun 1921) sejumlah hampir 1000 orang. Juga jamaah haji dari Iran (tahun 1986), sedikitnya 329 orang tewas dan ribuan lainnya terluka. Anda tahu kenapa jamaah Iran dibantai? Jawabannya karena mereka berdemo melaknat negeri-negeri barat. Bagaimana pendapat anda? Kalau anda tidak merasa aneh dan miris, justru saya akan mempertanyakan ke-Islaman anda…
Bab ketiga, bercerita tentang hadits-hadits Rasul tentang Salafi. Ada beberapa hadits yang diangkat, akan tetapi Hadits Bukhari, Muslim, dan Hakim sepertinya cukup mewakili: “Akan terjadi di tengah umatku perbedaan dan perpecahan. Akan muncul suatu kaum yang membuatmu kagum, dan mereka juga kagum terhadap diri mereka sendiri. Namun orang-orang yang membunuh mereka lebih utama di sisi Allah daripada mereka. Mereka baik perkataannya, namun buruk perbuatannya. Mereka mengajak kepada kitab Allah, tetapi tidak mewakili Allah sama sekali. Jika kalian menjumpai mereka, maka bunuhlah.”
Saya kira kalau kelompok umat Islam lain konsisten bertindak secara tekstual (seperti yang dipraktekkan Salafi), bisa jadi kelompok Salafi sudah dibunuh sejak dulu –tidak akan ada yang rugi saya kira. Akan tetapi, saya kira sebagian umat Islam lebih cerdas dan arif dalam melihat perbedaan sehingga tidak gegabah dan bodoh dalam bertindak.
Bab keempat, bercerita tentang fatwa-fatwa yang menyimpang dari Salafi Wahabi. Seperti biasa yang kita tahu, bahwa fatwa-fatwa mereka seringkali otoriter dan bila tidak dilaksanakan lalu kuasa bahasa bermain (sesat, kafir, bid’ah, boikot sampai halal darahnya). Saya heran hari seperti ini sempat-sempatnya memfatwakan haramnya belajar bahasa selain bahasa arab, gila bukan? Menurut Salafi belajar bahasa selain arab adalah bentuk tasyabbuh kuffar (menyerupai orang-orang kafir). Entah dimana akal sehat ditaruh pada fatwa ini. Padahal bahasa adalah ilmu alat yang amat penting, tanpa bahasa ilmu tidak akan pernah menyebar luas, dakwah pun hanya akan terjepit di lokal tertentu.
Selain fatwa aneh haram belajar bahasa lain, ada juga fatwa-fatwa janggal lain seperti: haram membawa jenazah dengan mobil, ucapan hari raya adalah bid’ah dan sesat, dsb.
Bab kelima, bercerita tentang kerancuan konsep dan manhaj Salafi. Inti dari bab ini kurang lebih senada dengan buku Prof. Said Ramadhan Al Buthi Assalafiyyah Marhalatun Zamaniyyatun mubârakatun lâ Madzhabun Islâmiyyun yang menyatakan bahwa Salafi pada dasarnya hanyalah sebuah fase sejarah bukan madzhab. Ada dua argumen yang harusnya dijadikan catatan: Pertama, bahwa kaum Salaf pun ketika itu tidak selalu seragam dalam menghadapi permasalahan. Adalah suatu kejanggalan ketika sekarang harus diseragamkan, atau jangan-jangan keseragaman ini bukan muncul dari kaum Salaf tapi justru dari pemaksaan ajaran Muhammad ibnu Abdul Wahab?  Kedua,  kelompok Salafi begitu gencar mengkampanyekan anti taqlid dan madzhabiyah (Syafii, Hanbali, Hanafi dan Malik). Sayangnya, mereka tidak konsisten! Justru mereka sendiri sangat taqlid terhadap ulama mereka seperti Syekh bin Baz, Syekh bin Utsaimin, Syekh bin Fauzan, dll. Lucu bukan?? Lucu sekali…
Epilog
Hari ini perbedaan yang sifatnya furuiyah seharusnya tidak dihadapi dengan semangat bid’ah-membid’ahkan atau bahkan kafir-mengkafirkan. Itu terlalu jauh dan kasar terhadap sesama umat Islam. Kalau konsisten dengan Salaf, seharusnya akhlak Rasul mereka junjung tinggi, bukan justru akhlak Khawarij yang gemar menuduh kafir, bid’ah dan sesat.
Pada akhirnya, hari ini sudah jelas siapa musuh Islam. Sudah jelas siapa yang harus kita lawan bersama-sama. Jangan sampai kelompok anti Islam, dari Zionis maupun barat terus menertawai umat Islam yang lebih senang ribut di internal alih-alih mensolidkan diri. Dan tolong dicatat: saya adalah salah seorang yang paling sakit hati melihat ada kelompok yang begitu keras dan kasar terhadap sesama muslim, namun begitu acuh dan toleran terhadap imperalisme bangsa barat.

Ketika Kitab-Kitab Dipolitisasi

Ketika Kitab-Kitab Dipolitisasi
Judul :  Mereka Memalsukan Kitab-Kitab Karya Ulama Klasik: Episode Kebohongan Publik Sekte Salafi Wahabi
Penulis: Syaikh Idahram
Tebal: 306 hlm
ISBN: 978-602-8995-01-6
Terbit: Cetakan I, 2011
Penerbit: Pustaka Pesantren, Yogyakarta.
Peresensi: M. Ajie Najmuddin*
Buku ini merupakan lanjutan dari Trilogi Data dan Fakta Penyimpangan Salafi Wahabi, sebuah kelompok yang namanya dinisbatkan dari nama pendidinya, yakni Muhammad ibnu Abdul Wahhab. Dalam buku pertama Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi, sang penulis buku, Syaikh Idahram, telah memaparkan beberapa kekejaman dan tindakan kekerasan yang dilakukan oleh Sekte Salafi Wahabi. Sedangkan dalam buku kedua ini, ia membahas kembali episode kebohongan Sekte Salafi Wahabi, yang memalsukan kitab dan menyelewengkan teks agama guna memuluskan kepentingan/kekuasaan (politisasi) kelompok mereka.
Kitab atau buku, bagi kaum muslim merupakan salah satu media utama dalam mencari kebenaran. Setelah Al-Qur’an dan hadist, kitab-kitab klasik karya ulama-ulama besar menjadi referensi setelah keduanya. Kitab-kitab seperti kitab Shahih Bukhari (Imam Bukhari), Ihya’ Ulumuddin (Imam Ghozali) dan kitab-kitab dari ulama besar lain, merupakan hujjah yang isinya banyak dijadikan sandaran bagi umat Islam. Lalu, apa jadinya jika kitab-kitab para ulama yang mewarisi ilmu dan petunjuk itu dikotori, diselewengkan, dan bahkan diselewengkan?
Barangkali anda akan terperanjat, ketika di dalam buku ini banyak dipaparkan sejumlah fakta kasus-kasus penyelewengan kitab yang dilakukan oleh Salafi Wahabi. Mulai dari pemusnahan dan pembakaran buku; sengaja meringkas, men-tahkik (penelitian secara mendalam terhadap sebuah manuskrip sebelum mencetak/menerbitkannya), men-takhrij (penelitian terhadap suatu hadist untuk menunjukkan atau menisbatkan hadist tersebut kepada sumber-sumbernya yang asli) kitab-kitab hadist yang jumlah halamannya besar untuk menyembunyikan hadist-hadist yang tidak mereka sukai; menghilangkan hadist-hadist tertentu yang tidak sesuai dengan faham mereka;
Sekte Salafi Wahabi sangat menyadari bahwa buku merupakan salah satu media yang paling efektif untuk ‘mengarahkan’ umat kepada faham yang mereka inginkan. Karenanya, tidak aneh jika mereka sangat concern dalam ranah perbukuan, penerbitan, dan penerjemahan. Beragam jenis buku-baik buku kertas maupun e-book/digital-mereka cetak untuk dibagikan secara gratis maupun dengan harga murah. Anda mungkin tidak percaya, tapi inilah di antara buktinya.
Modus Penyelewengan dan Pemalsuan
Salafi Wahabi menggunakan segala usaha untuk menghadapi orang-orang yang tidak sesuai dengan akidah mereka. Lebih dari itu, para pendukung kelompok Salafi Wahabi bahkan berani melakukan pengubahan dan pemalsuan pada kitab-kitab ulama terdahulu maupun ulama saat ini, yang mana kitab-kitab tersebut menjadi rujukan dan tumpuan umat Islam dalam mengklarifikasi kebenaran.
Untuk memperkokoh ajaran mereka yang rapuh secara dalil (naqli) maupun secara ilmiah (aqli) apapun mereka lakukan. Diantara modusnya adalah, Pertama, dengan menyelewengkan isi kitab-kitab turats dan makhtuthat (manuskrip) dari teks aslinya, baik dengan menghapus, menambah dan mengubah tulisannya, ataupun membelokkan maksud dan artinya dalam edisi cetakan mereka. Atau dengan sengaja mentahkik, mentakhrij, atau menyembunyikan hadist-hadist yang tidak mereka sukai.
Sebagai contoh, kasus hilangnya beberapa hadist dari kitab Shahih Bukhari, Shahih Muslim dan lainnya, yang diringkas dengan alasan untuk memudahkan dalam membacanya. Padahal dalam ringkasan tersebut, banyak hadist-hadist penting yang mereka buang karena tidak sesuai dengan faham mereka. Seperti yang terjadi pada kitab Syarh Shahih Muslim, dimana mereka membuang hadist-hadist tentang sifat Allah. Juga, sebagaimana hilangnya 49 kalimat dalam kitab Shahih Bukhari.
Kedua, mereka memotong-motong dan mencuplik pendapat ulama terkenal sehingga menjadi tidak sempurna, untuk kemudian diselewengkan maksud dan tujuannya. Hal ini sebagaimana yang terjadi pada pendapat Imam Syatibi dan Ibnu Hazm. Salafi Wahabi mengklaim bahwa Ibnu Hazm mengatakan, “Taqlid (mengikuti dan mencontoh ulama dalam beragama) itu haram.” Padahal, kalimat Ibnu Hazm itu sengaja mereka potong dan belum sampai titik. Adalah benar Ibnu Hazm mengharamkan taklid. Akan tetapi, keharaman taklid itu hanya bagi umat Islam yang mampu berijtihad dalam hukum, bukun bagi setiap orang Islam seperti yang diklaim oleh Salafi Wahabi. (Hal. 41)
Selain kedua modus itu, masih banyak lagi cara yang mereka lakukan dalam rangka memalsukan dan menyelewengkan teks. Diantaranya mereka juga aktif dalam hal pembajakan kitab. Pembajakan ini tidak hanya dilakukan oleh penerbit Darul Kutub al-Ilmiyah di Lebanon terhadap kitab Sirajut Thalibin karya Syaikh Ihsan Jampes (Kediri). Belakangan juga diungkap beberapa manipulasi dalam kitab terbitan Timur Tengah yang beredar di Indonesia.
Pengasuh Ponpes Denanyar Jombang, KH Aziz Masyhuri, mengungkapkan bahwa dalam kitab al-Adzkar terbitan Saudi Arabia, salah satu bagian penting yang menjelaskan tentang ajaran tawasul (berdoa dengan perantara) sengaja dihapus, karena bertentangan dengan ajaran Salafi Wahabi. Padahal kitab yang dikaji di berbagai pesantren itu ditulis oleh ulama Sunni yang dikenal menganjurkan tawasul.
Bahaya (Laten) Wahabisme di Nusantara
Meski banyak gambaran yang serba negatif tentang pemikiran dan gerakan Wahabiyyah, menurut Prof Azyumardi Azra, ironisnya sampai sekarang paham ini merupakan aliran keagamaan yang dianut dan diterapkan Kerajaan Arab Saudi. Oleh karena itu, pemerintah dan lembaga-lembaga di dalamnya berusaha melakukan penyebaran Wahabisme lewat pemberian dana dan bantuan lainnya kepada institusi, organisasi, dan kelompok muslim di berbagai wilayah dunia. Mereka juga membagi-bagikan Al-Qur’an dan literatur Islam, khususnya buku-buku karya Syaikh Muhammad Ibnu Abdul Wahhab dan Ibnu Taymiyyah, yang merupakan sumber pokok Wahabisme dan Salafisme.
Di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Wahabisme tidak pernah populer. Gerakan yang bertujuan untuk ‘pemurnian’ Islam ini menemukan momentumnya di Nusantara sejak awal abad ke-20 berkat pengaruh tokoh semacam Syaikh Muhammad Abduh dan Syaikh Muhammad Rasyid Ridha. Dengan karakter Islam Nusantara yang secara tradisional sangat dipengaruhi tasawuf dan tarekat, Wahabisme sejatinya sulit mendapat pijakan yang kuat di Indonesia dan wilayah-wilayah lain di Asia Tenggara.
Namun, bila kita melihat sejarah dari aliran ini, seperti beberapa kekejaman yang pernah dilakukan terhadap para ulama (Lihat Buku pertama) dan sejumlah penyelewengan/pemalsuan terhadap teks-teks agama Islam seperti yang telah dipaparkan dalam buku ini, maka kita juga mesti tetap mewaspadai keberadaannya. Cukup dilematis memang, orang bijak yang mengatakan seratus musuh di luar lebih baik daripada musuh di dalam. Dalam konteks ini, di satu sisi kita mesti tetap memperkuat ukhuwah terhadap sesama umat Islam untuk menghadapi musuh di luar, namun ketika mendapati fakta-fakta yang demikian, maka kita juga lebih hati-hati dan waspada akan bahaya (laten) Salafi Wahabi,yang bisa diibaratkan sebagai musuh dari dalam.
*Penulis adalah Aktivis PMII Solo, tinggal di Sukoharjo.

http://www.nu.or.id/page/id/dinamic_detil/12/32137/Buku/Ketika_Kitab_Kitab_Dipolitisasi.html

Tambakberas Jombang