Pentingnya Memulyakan Guru

Alfathimiyyah.net

Sudah selayaknya bagi seorang santri yang masih dalam proses mencari ilmu sangat dianjurkan untuk memulyakan guru atau kyai. Karena memang seorang guru merupakan wasilah disampaikannya ilmu kepada santrinya. Santri pun akan merasa kesulitan jika ia harus belajar sendiri tanpa didampingi oleh guru.

Agar proses dalam mencari ilmu menjadi lancar dan diharapkan barokahnya, hendaknya antara guru dan santri mempunyai rasa saling menyayangi. Guru menyayangi santrinya, dan santrinya pun harus menyayangi sekaligus memulyakan gurunya. Terkadang, jika seorang santri sudah saking cintanya kepada guru, orangtua pun kalah. Satu hari saja pengajian gurunya itu libur, dia merasa bingung. Merasa ada waktu yang tersia-siakan. Ibarat seorang kekasih yang sudah saling menyayangi, yang suatu hari ada janjian mau ketemu, tapi kok diurungkan, hatinya pasti murung.

Lalu, apakah yang harus dilakukan seorang murid agar bisa dikatakan dia telah memulyakan gurunya? Salah satu di antaranya adalah memperhatikan guru saat menerangkan, tidak ditinggal tidur atau sibuk sendiri. Terkadang ada yang merasa bosan dengan keterangan yang disampaikan oleh guru, karena keterangan tersebut sudah diulang sampai berkali-kali, akan tetapi murid harus tetap memperhatikan gurunya, sekalipun keterangan itu diulang sampai seribu kali.

Selain itu, sudah sepatutnya bagi santri itu tidak gegabah dalam menentukan pilihannya sendiri. Hendaknya ia bermusyawarah dengan kyainya saat ingin menentukan pilihan . Contoh yang sering terjadi, biasanya santri itu bimbang dalam menentukan kemana dia harus melanjutkan langkahnya setelah lulus dari pesantren. Kelihatannya remeh, tapi bertanya kepada kyai mengenai hal itu adalah penting. Karena sang kyai sudah mempunyai berbagai pengalaman dan biasanya kyai itu paham dengan karakter santrinya, sehingga sang kyai bisa mengarahkan santrinya untuk ke mana harus melangkah.

Santri dulu berbeda dengan santri sekarang. Santri dulu sering bermusyawarah dengan kyainya mengenai urusannya, dan rata-rata mereka berhasil mencapai tujuannya. Sedangkan santri sekarang jarang yang mau memusyawarahkan urusannya kepada kyainya dengan alasan wedi gak oleh boyong. Padahal arahan sang kyai yang seperti itu adalah tidak lain demi kebaikan santrinya.

Intinya, santri itu ya…apa kata kyai. Karena santri yang berhasil adalah santri yang manut apa kata kyai.

Seperti itulah seharusnya, gambaran seorang santri yang menyayangi dan memulyakan gurunya.

Pengajian ta’limulmuta’allim oleh Gus Ahmad Rofi’an (Pengasuh PP. Al Hikmah)

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.