Surat Yasin Untuk Memenuhi Hajat

Surat Yasin Untuk Memenuhi Hajat

Membaca surat Yasin dengan niat memperoleh kebaikan duniawi dan ukhrawi, atau membaca semua al-Qur’an untuk tujuan seperti ini tidaklah berdosa dan tidak pula tercegah. Sebagian orang ada yang mengklaim bahwa hal itu haram, tercegah, bid’ah sayyiah sampai ujung klaim-klaim yang popuer dalam bab ini dan propaganda vonis mutlak yang kita dengar dalam setiap hal baru tanpa syarat, pengecualian dan batasan. Inilah kejelasan ungkapan mereka:

     “Ritual tradisi membaca surat Yasin 3 kali yang dilakukan oleh masyarakat awam, pertama dengan niat panjang umur serta mendapat taufik untuk menjalankan ketaatan, kedua niat menjaga diri dari mara bahaya, penyakit-penyakit dan niat melapangkan rezki, ketiga untuk meraih kekayaan hati  dan khusnul khatimah, serta shalat yang mereka lakukan di sela-sela doa, shalat dengan niat memenuhi hajat tertentu, semuanya itu batil dan tidak ada asalnya. Shalat itu tidak sah kecuali dengan niat yang murni karena Allah Ta’ala, bukan karena suatu tujuan dari berbagai tujuan. Allah Ta’ala telah berfirman:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ [البينة: 5]

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan         ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama.” (QS. Al-Bayyinat: 5)

Demikian ini kata orang-orang yang mengingkari. Sedangkan saya berpendapat, bahwa klaim-klaim inilah yang sebenarnya batil. Sebab klaim mereka berdasarkan pada pendapat yang tidak ada dalilnya. Di dalamnya terdapat vonis hukum dan pengekangan atas karunia dan rahmat Allah.

Yang benar adalah selama tidak ada dalil yang melarang menggunakan al-Qur’an, dzikir dan doa untuk meraih kepentingan duniawi, kepentingan pribadi, hajat, cita-cita dan berbagai tujuan setelah memurnikan niat karena Allah dalam hal tersebut. Yang menjadi syarat adalah keikhlasan niat dalam beramal karena Allah Ta’ala. Keikhlasan ini diperintahkan dalam menjalankan setiap shalat, zakat, haji, jihad, berdoa dan membaca al-Qur’an. Dalam keabsahan suatu amal harus terdapat keikhlasan niat karena Allah Ta’ala. Itulah yang diperintahkan dan tidak diperselisihkan lagi. Bahkan suatu amal bila tidak murni karena Allah Ta’ala maka amal tersebut tertolak. Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ [البينة: 5]

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan        ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama.” (QS. Al-Bayyinat: 5)

Meski begitu, tidak ada dalil yang mencegah seseorang menambahkan permintaan, hajat agama dan hajat duniawi, yang kasat mata maupun yang tidak, yang lahir maupun yang batin, pada amal serta keikhlasannya. Seseorang yang membaca surat Yasin atau selainnya dari al-Qur’an karena Allah Ta’ala dalam rangka mencari keberkahan umur, keberkahan harta, keberkahan kesehatan, maka tidak ada dosa baginya. (Justru) ia telah menempuh jalan kebaikan (dengan syarat tidak menyakini disyariatkannya hal tersebut secara khusus). Maka hendaklah ia membaca surat Yasin 3, 30, atau 300 kali, bahkan hendaklah ia baca semua al-Qur’an karena Allah Ta’ala secara ikhlas untukNya disertai memohon dipenuhi hajat-hajatnya, diluluskan permintaan-permintaannya, diberikan solusi atas keprihatinannya, dibebaskan dari kesusahannya, disembuhkan sakitnya, dan dilunasi hutangnya. Maka, dosa apa yang ada dalam hal seperti itu? Allah sendiri mencintai permintaan hambaNya kepadaNya pada segala sesuatu, sehingga permintaan garam makanan dan menyambung tali sandalnya yang putus, dan sebelumnya hamba tersebut terlebih dahulu membaca surat Yasin, atau bershalawat bagi Nabi Saw. Tidaklah hal itu kecuali termasuk tawassul dengan amal saleh dan al-Qur’an, serta disepakati masyru’iyyah(legalitas)nya. Dalam kitab al-Mafahim[1] kami telah berkata:

     “Tidak ada satu ulama pun yang tidak menyetujui tentang masyru’iyyah tawassul kepada Allah Swt dengan amal saleh. Sebab itu, bila ada seseorang yang berpuasa, shalat, membaca al-Qur’an atau bersedekah, pada hakikatnya dia melakukan tawasul dengan puasa, shalat, bacaan al-Qur’an dan sedekahnya.Bahkan tawasul tersebut paling diharapkan diterima dan paling manjur untuk memperoleh tujuan yang tidak lagi diperselisihkan. Dalil atas hal ini adalah hadits tiga orang yang terjebak dalam goa. Orang pertama bertawassul kepada Allah dengan kebaktiannya kepada kedua orang tua, yang kedua bertawassul dengan dirinya menghindari zina setelah sebenarnya mampu melakukannya, dan yang ketiga bertawassul dengan amanah dan penjagaannya pada harta orang lain serta mengembalikan semuanya kepada si pemilik. Lalu Allah pun membebaskan mereka dari gua tersebut.”

Tawasssul semacam inilah yang telah diperinci, diterangkan dalil-dalilnya, diperdalam berbagai masalahnya oleh Syaikh Ibn Taimiyah -rahimahullah- dalam berbagai kitabnya, khususnya dalam risalah beliau yang berjudul Qa’idah Jalilah fi at-Tawassul wa al-Wasilah (Kaidah Agung tentang Tawassul dan Wasilah).

Shalat Karena Allah Semata

Shalat merupakan ibadah dan hukum asal dalam ibadah adalah hanya dilakukan karena Allah Swt semata. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ [البينة: 5]

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama dan istiqamah pada agama tersebut, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinat: 5)

Diriwayatkan dari adh-Dhahak bin Qais ra, beliau berkata: 

     قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:إِنَّ اللهَ تَبَارَك وَتَعَالَى يَقُولُ: أَنَا خَيْرُ شَرِيكٍ، فَمَنْ أَشْرَكَ مَعِي شَيْئًا فَهُوَ لِشَرِيكِي. يَا أَيُّهَا النَّاسُ، أَخْلِصُوا أَعْمَالَكُمْ، فَإِنَّ اللهَ لَا يَقْبَلُ مِنَ الْأَعْمَالِ إلَّا مَا خُلِصَ لَهُ. وَلَا تَقُولُوا: هٰذِهِ لِلهِ وَلِلرَّحِمِ، فَإِنَّهُ لِلرَّحِمِ وَلَيْسَ لِلهِ مِنْهَا شَيْءٌ (رَوَاهُ الْبَزَّارُ بِإِسْنَادٍ لَا بَأْسَ بِهِ وَالْبَيْهَقِيُّ)

     “Rasulullah Saw bersabda: “Sungguh Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: “Aku adalah teman terbaik (yang tidak memerlukan teman/pihak lain), maka seseorang yang menyekutukan bersamaku (dalam suatu perkara) pada teman yang lain, maka (perkara) itu untuk temanKu itu. Wahai manusia, murnikanlah amal-amal kalian, sebab Allah Tabaraka wa Ta’ala tidak menerima amal-amal kecuali amal yang murni untukNya, dan janganlah berkata: “Ini untuk Allah dan untuk saudaraku.” Sebab hal itu akan menjadi millik si saudara, dan Allah tidak mendapatkan sesuatupun darinya. Dan jangan berkata: “Ini untuk Allah dan diri kalian.” Dan Allah tidak mendapatkan sesuatupun darinya. (HR. al-Bazzar, dengan sanad yang tidak bermasalah, dan al-Baihaqi)

Diriwayatkan dari Rubaikh bin Abdirrahman bin Abi Sa’id al-Khudri, dari ayahnya, dari kakeknya, beliau berkata:

     خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ نَتَذَاكَرُ الْمَسِيحَ الدَّجَّالَ، فَقَالَ: أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ عِنْدِي مِنْ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ؟ قُلْنَا: بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ. قَالَ: اَلشِّرْكُ الْخَفِيُّ أَنْ يَقُومَ الرَّجُلُ فَيُصَلِّي فَيُزَيِّنُ صَلَاتَهُ لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ (رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ وَالْبَيْهَقِيُّ)

     Rasulullah Saw mendatangi kami di saat kami sedang membicarakan al-Masih ad-Dajjal. Lalu beliau bersabda: “Bagaimana bila aku memberi tahu kalian dengan sesuatu yang lebih aku khawatirkan bagi kalian dari pada al-Masih ad-Dajjal?” Kami menjawab: “Silahkan, wahai Rasulullah Saw.” Lalu Rasulullah Saw bersabda: “Yaitu Syirik yang samar, yakni seseorang beranjak shalat lalu memperindah shalatnya karena dilihat orang lain.”  (HR. Ibn Majah dan al-Baihaqi)

Kata Rubaih dengan dhammah huruf ra’, fathah huruf ba’, setelahnya huruf ya’ dan yang terakhir adalah ha’ tanpa titik. Insyaallah akan ada penjelasan lebih lanjut tentangnya.

Diriwayatkan dari Mahmud bin Labid, ia berkata:

     خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ:أَيُّهَا النَّاسُ، إِيَّاكُمْ وَشِرْكَ السَّرَائِرِ. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، وَمَا شِرْكُ السَّرَائِرُ؟ قَالَ: يَقُومُ الرَّجُلُ فَيُصَلِّيَ فَيُزَيِّنَ صَلَاتَهُ جَاهِدًا لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ النَّاسِ إلَيْهِ فَذَلِكَ شِرْكُ السَّرَائِرِ (رَوَاهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ فِي صَحِيحِهِ)

     “Rasulullah Saw keluar lalu berbersabda: “Wahai sekalian manusia, takutlah kalian kepada syirik yang samar.” Para sahabat bertanya: “Apakah syirik yang samar itu?” Beliau menjawab: “Seseorang beranjak melaksanakan shalat, kemudian ia memperindah shalatnya secara serius karena dilihat orang lain.” Maka itulah syirik yang samar.” (HR. Ibn Khuzaimah dalam Shahihnya)

Niat Tambahan

Tidaklah tercela niat seserong yang melakukan shalat selama ia telah meniatinya ikhlas karena Allah, kemudian menambahkan niat lain padanya. Telah ada sunnah nabawiyyah yang menunjukkan kebolehannya, bahkan ada pula hadits yang mendorong, mensupport, mengajak dan menyemangati untuk mempraktikkannya.

Yang tershahih dalam tema ini adalah hadits tentang shalat istikharah. Ada pula shalat hajat dan shalat-shalat lain dengan niat yang bervariasi, untuk kepentingan pribadi, hajat, maslahat, dan kebaikan duniawi. Berikut ini kami sebutkan bebarapa buktinya.

Shalat Karena Allah Lalu Untuk Istikharah

Diriwayatkan dari Jabir ra, beliau berkata:   

     إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالْأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ، ثُمَّ لِيَقُلْ: اَللهم إِنِّيْ أَسْتَخِيْرُكَ بِعِلْمِكَ وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوْبِ. اَللهم إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هٰذَا الأَمْرَ خَيْرٌ لِيْ فِيْ دِينِيْ وَمَعَاشِيْ وَعَاقِبَةِ أَمْرِيْ (أَوْ قَالَ: فِيْ عَاجلِ أَمْرِيْ وَآجِلِهِ) فَاقْدِرْهُ لِيْ. وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هٰذَا الأَمْرَ شَرٌّ لِيْ فِى دِينِيْ وَمَعَاشِيْ وَعَاقِبَةِ أَمْرِيْ (أَوْ قَالَ فِيْ عَاجِلِ أَمْرِيْ وَآجِلِهِ)، فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِيْ عَنْهُ وَاقْدِرْ لِيَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ رَضِّنِيْ بِهِ (وَيُسَمَّى حَاجَتَهُ). كَذَا فِي صَحِيحِ الْبُخَارِيُّ.

     “Nabi mengajari kami istikharah (meminta pilihan kebaikan kepada Allah) dalam semua perkara, sebagaimana (beliau mengajari kami) suatu surat dari al-Qur’an. Beliau bersabda: Ketika salah seorang dari kalian menghendaki suatu hal maka shalatlah dua rakaat yang bukan fardhu (shalat sunnah.) Kemudian berdoa (dengan membaca):  “Ya Allh! Sungguh aku istikharah (mencari kebaikan) kepadaMu dengan pengetahuanMu, memohon kuasa kepadaMu dengan kekuasaanMu dan memohon kepadaMu dari karuniaMu yang agung. Sebab, sungguh Engkau kuasa sementara aku tidak berkuasa, Engkau mengetahui sementara aku tidak mengetahui, dan Engkau adalah Dzat yang mengetahui hal-hal samar. Ya Allah! Bila engkau tahu bahwa hal ini baik bagiku dalam agamaku, kehidupanku dan akhir perkaraku (atau berkata: “Di masa kini dan masa kemudianku.”), maka kuasakanlah hal itu bagiku. Ya Allah! Bila Engkau tahu bahwa hal itu buruk bagiku dalam agamaku, kehidupanku dan akhir perkaraku, (atau berkata: “Di masa kini dan masa kemudianku.”) maka hindarkanlah hal itu dariku dan hindarkanlah diriku darinya, kemudian Engkau kuasakan kebaikan bagiku di mana saja kebaikan itu berada dan engkau jadikan diriku rela dengannya.  (Kemudian orang tersebut menyebutkan hajatnya.)” Demikian dalam Shahih al-Bukhari.

Kemudian sebagian ulama memilih dengan jalan berijtihad agar dalam shalat istikharah hendaknya dibacakan surat Yasin (separonya saat rakaat pertama, dan sisanya di rakaat kedua). Ulama lain memilih surat al-Kafirun untuk rakaat pertama dan al-Ikhlas untuk rakaat kedua. Ulama yang lain lagi memilih Ayat Kursi untuk rakaat pertama dan beberapa ayat terakhir surat al-Baqarah untuk rakaat kedua, dan ada pula versi yang memilih bacaan rakaat pertama pada ayat:

     فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا [النساء: 65]

     “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. an-Nisa`: 65)

dan untuk bacaan rakaat kedua dengan ayat:

     وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا [الأحزاب: 36]

     “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah Dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. al-Ahzab: 36)

Nabi Saw bersabda:

     قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ثُمَّ لِيَقُلْ-أَيْ بَعْدَ الصَّلَاةِ-: اَللهم إِنِّيْ أَسْتَخِيْرُكَ بِعِلْمِكَ وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوْبِ. اَللهم إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هٰذَا الأَمْرَ (وَيَجُوزُ أَنْ يُسَمِّيَ حَاجَتَهُ أَوْ يَكْتَفِيَ بِنِيَّتِهِ فَهُوَ أَعْلَمُ بِهَا) خَيْرٌ لِيْ فِيْ دِينِيْ وَمَعَاشِيْ وَعَاقِبَةِ أَمْرِيْ (أَوْ عَاجلِ أَمْرِيْ وَآجِلِهِ) فَاقْدِرْهُ لِيْ وَيَسِّرْهُ لِي ثُمَّ بَارِكْ لِي فِيهِ. وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هٰذَا الأَمْرَ شَرٌّ لِيْ فِى دِينِيْ وَمَعَاشِيْ وَعَاقِبَةِ أَمْرِيْ (أَوْ عَاجِلِ أَمْرِيْ وَآجِلِهِ)، فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِيْ عَنْهُ وَاقْدِرْ لِيَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ رَضِّنِيْ بِهِ.

     “Kemudian hendaklah ia mengucapkan doa berikut -maksudnya setelah shalat- dengan posisi masih dalam keadaan  duduknya, menghadap ke kiblat, dan menghadirkan hajatnya kepada Allah:  Ya Allah! Sungguh aku istikharah (mencari kebaikan) kepadaMu dengan pengetahuanMu, memohon kuasa kepadaMu dengan kekuasaanMu dan memohon kepadaMu dari karuniaMu. Sebab, sungguh Engkau kuasa sementara aku tidak berkuasa, Engkau mengetahui sementara aku tidak mengetahui, dan Engkau adalah Dzat yang mengetahui hal-hal samar. Ya Allah! Bila engkau tahu bahwa hal ini baik bagiku dalam agamaku, kehidupanku dan akhir perkaraku (atau di masa kini dan masa kemudianku), maka kuasakanlah dan mudahkanlah hal itu bagiku, lalu berkahilah diriku padanya. Ya Allah! Bila Engkau tahu bahwa hal itu buruk bagiku dalam agamaku, kehidupanku dan akhir perkaraku, (atau di masa kini dan masa kemudianku) maka hindarkanlah hal itu dariku dan hindarkanalah diriku darinya, kemudian Engkau kuasakan kebaikan bagiku di mana saja kebaikan itu berada dan Engkau jadikan diriku rela dengannya.”

Diperbolehkan pula mengulang-ulang doa ini dalam duduk sehabis shalat tersebut. Sebab Nabi Saw senang dengan 3 kali pengulangan doa, sampai ketika hatinya merasakan kelapangan maka berarti ia telah menjumpai nama Allah dan berkahnya.

Shalat Karena Allah Lalu Berniat Mencari Solusi dan Memenuhi Hajat

Tidak diragukan lagi bahwa shalat merupakan pintu terbesar bagi solusi berbagai masalah. Allah Ta’ala telah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ [البقرة: 153]

     “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. al-Baqarah: 153)

Allah Ta’ala berfirman pula:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى [طه: 132]

     “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, kamilah yang memberi rezki kepadamu, dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Thaha: 132)

Maka bisa disimpulkan bahwa shalat mempunyai pengaruh besar untuk menjaga kesehatan jasmani dan hati, memperkokoh keduanya dan menolak unsur-unsur kotor darinya. Maka tidaklah dua orang diberi cobaan dengan suatu ancaman bahaya, penyakit, fitnah dan petaka kecuali yang mau shalat dari  kedua orang tersebut cobaannya lebih ringan dan urusan akhirnya lebih selamat.

Shalat mempunyai pengaruh besar dalam menolak petaka dunia, apalagi bila disempurnakan secara lahir batin. Maka tiada hal yang bisa menolak kesialan dan menciptakan kemaslahatan dunia dan akhirat seperti halnya shalat. Rahasianya adalah shalat merupakan hubungan kedekatan kepada Allah Swt. Maka seberapa besar hubungan kedekatan seorang hamba dengan Tuhannya, sebanyak itu pula baginya pintu-pintu kebaikan dibuka, sebab-sebab keburukan ditutup, aliran taufik dari Tuhannya dilimpahkan, segala kesejahteraan, kesehatan, kejayaan, kekayaan, kenyamanan, kenikmatan, kebahagiaan dan suka cita diberikan dan dimudahkan baginya.[2]  

Shalat Karena Allah dan Karena Memohon Ampunan

Diriwayatkan dari Ikrimah, dari Ibn Abbas -radhiyallahu ‘anhuma-, beliau berkata:

     قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ: يَا عَبَّاسُ يَا عَمَّاهُ، أَلاَ أُعْطِيكَ أَلاَ أَمْنَحُكَ أَلاَ أَحْبُوكَ أَلاَ أَفْعَلُ بِكَ عَشْرَ خِصَالٍ، إِذَا أَنْتَ فَعَلْتَ ذَلِكَ غَفَرَ اللهُ لَكَ ذَنْبَكَ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ قَدِيمَهُ وَحَدِيثَهُ خَطَأَهُ وَعَمْدَهُ صَغِيرَهُ وَكَبِيرَهُ سِرَّهُ وَعَلاَنِيَتَهُ، عَشْرَ خِصَالٍ أَنْ تُصَلِّىَ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ تَقْرَأُ فِى كُلِّ رَكْعَةٍ فَاتِحَةَ الْكِتَابِ وَسُورَةً، فَإِذَا فَرَغْتَ مِنَ الْقِرَاءَةِ فِى أَوَّلِ رَكْعَةٍ وَأَنْتَ قَائِمٌ قُلْتَ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ خَمْسَ عَشْرَةَ مَرَّةً، ثُمَّ تَرْكَعُ فَتَقُولُ وَأَنْتَ رَاكِعٌ عَشْرًا، ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنَ الرُّكُوعِ فَتَقُولُهَا عَشْرًا، ثُمَّ تَهْوِي سَاجِدًا فَتَقُولُهَا وَأَنْتَ سَاجِدٌ عَشْرًا، ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنَ السُّجُودِ فَتَقُولُهَا عَشْرًا، ثُمَّ تَسْجُدُ فَتَقُولُهَا عَشْرًا، ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنَ السُّجُودِ فَتَقُولُهَا عَشْرًا، فَذٰلِكَ خَمْسٌ وَسَبْعُونَ فِى كُلِّ رَكْعَةٍ، تَفْعَلُ ذٰلِكَ فِي أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ، إِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ تُصَلِّيَهَا فِى كُلِّ يَوْمٍ مَرَّةً فَافْعَلْ، فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِي كُلِّ جُمُعَةٍ مَرَّةً، فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِي كُلِّ شَهْرٍ مَرَّةً، فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِي كُلِّ سَنَةٍ مَرَّةً، فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِى عُمُرِكَ مَرَّةً(رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَابْنُ مَاجَهْ وَابْنُ خُزَيْمَةَ فِي صَحِيحِهِ، وَقَالَ: إِنْ صَحَّ الْخَبَرُ فَإِنَّ فِي الْقَلْبِ مِنْ هٰذَا الْإِسْنَادِ شَيْئًا، فَذَكَرَهُ. ثُمَّ قَالَ: وَرَوَاهُ إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْحَكَمِ بْنِ أَبَانَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عِكْرِمَةَ مُرْسَلًا لَمْ يَذْكُرِ ابْنَ عَبَّاسٍ)

     “Rasulullah Saw bersabda kepada al-Abbas bin Abdul Muthallib: “Wahai Abbas, wahai pamanku, ingatlah aku memberimu suatu pemberian, ingatlah aku menganugerahimu suatu anugerah, ingatlah aku mengaruniaimu suatu karuni, ingatlah aku melakukan (kebaikan) padamu pada sepuluh perkara. Bila engkau melakukannya maka Allah akan mengampuni dosamu, dosa yang awal dan akhirnya, yang tidak segaja dan yang sengaja, yang kecil dan yang besar, yang samara dan yang terang-terangan. Sepuluh perkara tadi adalah engkau shalat empat rakaat dengan membaca al-Fatihah dan satu surat lainnya di setiap rakaatnya. Ketika engkau selesai membaca al-fatihah pada rakaat pertama dan masih dalam kondisi berdiri, bacalah subhanallah wal hamdulillah wa laa ilaaha illallahu wallahu akbar 15 kali. Lalu ruku’lah, dan kemudian bacalah kalimat tersebut 10 kali dalam kondisi kamu masih ruku’. Angkatlah kepalamu dari ruku’, lalu bacalah kalimat tersebut 10 kali. Turunlah untuk sujud, lalu bacalah kalimat tersebut 10 kali dalam kondisi kamu masih sujud. Angkatlah kepalamu dari sujud, kemudian bacalah kalimat tersebut 10 kali. Lalu sujudlah, dan kemudian bacalah kalimat tersebut 10 kali. Angkatlah kepalamu dari sujud, lalu bacalah kalimat tersebut 10 kali. Maka semuanya berjumlah 75 kali bacaan dalam setiap rakaat. Lakukanlah seperti itu dalam 4 rakaat. Bila engkau mampu memlakukan shalatlah seperti itu sekali dalam sehari maka lakukanlah. Bila kamu tidak melakukannya, maka lakukan dalam setiap jum’at (seminggu) sekali. Bila kamu tidak melakukannya, maka lakukan dalam setiap sebulan sekali. Bila kamu tidak melakukannya, maka lakukan dalam setiap setahun sekali. Bila kamu tidak melakukannya, maka lakukan dalam setiap.” (HR. Abu Dawud, Ibn Majah dan Ibn Khuzaimah dalam Shahihnya. Beliau berkata: “Bila bila hadits ini shahih, maka dalam sanadnya ada sesuatu (yang mengganjal) di hati.” Kemudian beliau menyebutkannya. Beliau berkata: “Ibrahim ibn al-Hakam bin Abban meriwayatkannya dari ayahnya, dari Ikrimah dengan status mursal tanpa menyebut Ibn Abbas.”)

Al-Hafizh al-Mundziri berkata: 

“Ath-Thabarani meriwayatkannya dan di bagian akhirnya berkata:

فَلَوْ كَانَتْ ذُنُوبَكَ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ أَوْ رَمَلِ عَالِجٍ غَفَرَ اللهُ لَكَ

     Maka andaikan dosam sebanyak busa lautan atau pasir suatu tempat yang banyak pasirnya, maka Allah memaafkanmu.”

Hadits seperti ini telah diriwayatkan dari banyak jalur, dari segolongan sahabat. Yang terbaik adalah hadits Ikrimah ini yang telah dishahihkan oleh segolongan ulama, di antaranya adalah al-Hafizh Abu Bakar al-Aajurri, Syaikhuna Abu Muhammad Abdurrahim al-Mishri, dan Syaikhuna al-Hafizh Abu al-Hasan al-Maqdisi -rahimahumullah-. Abu Bakar bin Abi Dawud berkata: “Aku mendengar ayahku berkata: “Tidak ada hadits shahih tentang shalat tasbih kecuali ini.” Demikian diterangkan dalam at-Targhib wa at-Tarhib.

Shalat Karena Allah dan Karena Bertobat

Diriwayatkan dari Abu Bakar ra, beliau berkata: “Saya mendengar Rasulullah Saw bersabda:

     مَا مِنْ رَجُلٍ يُذْنِبُ ذَنْبًا ثُمَّ يَقُومُ فَيتَطَهَّرُ وَيُصَلِّي، ثُمَّ يَستَغْفِر اللهَ إِلَّا غَفَرَ اللهُ لَهُ. ثُمَّ قَرَأَ هٰذِهِ الْآيَةَ: وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَة أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللهَ[3] إِلَى آخِرِ الْآيَةَ (رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَقَالَ: حَدِيثٌ حَسَنٌ وَأَبُو دَاوُدَ وَالنَّسَائِيُّ وَابْنُ مَاجَهْ وَابْنُ حِبَّانَ فِي صَحِيحِهِ وَالْبَيْهَقِيُّ وَقَالَا: ثُمَّ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ. وَذَكَرَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ فِي صَحِيحِهِ بِغَيْرِ إِسْنَادٍ، وَذَكَرَ فِيهِ: الرَّكْعَتَيْنِ)

     “Tidaklah seseorang melakukan suatu dosa, lalu beranjak bersuci dan melaksanakan shalat, kemudian memohon ampunan kepada Allah kecuali Allah mengampuninya. Dan orang tersebut memaca ayat: “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau Menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah &  sampai akhir ayat.” (HR. at-Tirmidzi, beliau berkata: “Ini hadits hasan.”, Abu Dawud, an-Nasa`i, Ibn Majah, Ibn Hibban dalam Shahihnya, al-Baihaqi, beliau berdua berkata: “Kemudian ia shalat dua rakaat.” Ibn Khuzaimah menyebutkannya dalam Shahihnya tanpa sanad, dan di sana beliau menyebutkan: “Dua rakaat.”)

Diriwayatkan dari al-Hasan al-Bashri ra, beliau berkata:

     قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا أَذْنَبَ عَبْدٌ ذَنْبًا ثُمَّ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى بِرَازٍ مِنَ الْأَرْضِ فَصَلَّى فِيهِ رَكْعَتَيْنِ وَاسْتَغْفَرَ اللهَ مِنْ ذٰلِكَ الذَّنْبِ إِلَّا غَفَرَهُ اللهُ لَهُ(رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ مُرْسَلًا)

     “Rasulullah Saw bersabda: “Tidaklah seorang hamba melakukan suatu dosa kemudian wudhu dan melakukannya secara baik, keluar ke tanah lapang, shalat melakukan dua rakaat di situ, dan memohon ampunan kepada Allah, kecuali Allah akan mengampuninya.” (HR. al-Baihaqi, dengan status mursal)

Sabda Nabi Saw: اَلْبِرَازُ dibaca kasrah huruf ba’nya, setelahnya huruf ra’, kemudian alif dan zaiy, maknanya adalah tanah yang lapang.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Baridah ra, dari ayahnya, beliau berkata:

     أَصْبَحَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا فَدَعَا بِلَالًا فَقَالَ يَا بِلَالُ، بِمَ سَبَقَتْنِي إِلَى الْجَنَّةِ؟ إِنِّي دَخَلْتُ الْجَنَّةَ الْبَارِحَةَ فَسَمِعْتُ خَشْخَشَتَكَ أَمَامِي. فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَا أَذْنَبْتُ قَطُّ إِلَّا صَلَّيْتُ رَكْعَتَيْنِ، وَمَا أَصَابَنِي حَدَثٌ قَطُّ إِلَّا تَوَضَّأْتُ عِنْدَهَا وَصَلَّيْتُ رَكْعَتَيْنِ (رَوَاهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ فِي صَحِيحِهِ) وَفِي رِوَايَةٍ: مَا أَذْنَبْتُ). كَذَا فِي التَّرْغِيبِ والتَّرْهِيبِ.

     “Rasulullah Saw ada di pagi hari, kemudian memanggil Bilal dan bersabda: “Wahai Bilal, dengan amal apa kamu mendahului diriku di surga? Sungguh aku masuk surga di saat waktu masih pagi sekali, kemudian aku mendengarkan gerakan bersuaramu (suara sandalnya) di depanku.” Bilal mennjawab: “Wahai Rasulullah, tidaklah aku melakukan suatu dosa sama sekali melainkan (setelahnya) aku shalat dua rakaat, dan tidaklah diriku hadats sama sekali melainkan aku wudhu seketika itu dan shalat dua rakaat.” (HR. Ibn Khuzaimah dalam Shahihnya. Dalam riwayat lain dengan redaksi: “Tidaklah aku melakukan suatu dosa?”) Demikian diuraikan dalam at-Targhib wa at-Tarhib.

Shalat Karena Allah dan Karena Hajat

Yaitu shalat yang digunakan seorang hamba untuk bertawassul kepada Tuhannya dalam hal yang menurutnya penting, supaya Allah mengabulkan hajatnya atas karuniaNya dan menyediakan suatu jalan yang tepat dan bisa ditempuh manusia karena dan atas kekuasaanNya.

At-Tirmidzi meriwayatkan hadits dengan sanadnya dari Utsman bin Hunaif:

     عَنْ عُثْمَانَ بْنِ حُنَيْفٍ أَنَّ رَجُلًا أَعْمَى أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: إِنِّي أَصَبْتُ فِي بَصَرِي، فَادْعُ اللهَ لِي. قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِذْهَبْ فَتَوَضَّأْ وَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ، ثُمَّ قُلْ: اَللهم إِنِّي أَسْأَلُكَ وَأَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبِىِّ الرَّحْمَةِ، يَا مُحَمَّدُ إِنِّي أَسْتَشْفِعُ بِكَ إِلَى رَبِّي فِي بَصَرِي. قَالَ: فَمَا لَبِثَ الرَّجُلُ أَنْ رَجَعَ كَأَنَّ لَمْ يَكُنْ بِهِ ضَرٌّ  قَطُّ. ثُمَّ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنْ كَانَ لَكَ حَاجَةً فَافْعَلْ مِثْلَ ذٰلِكَ

     “Diriwayatkan dari Utsman bin Hunaif, sungguh seorang lelaki yang buta menghadap Nabi Saw, kemudian berkata: “Aku mendapat cobaan di mataku, maka doakanlah kepada Allah untuk diriku. Nabi Saw bersabda: “Pergilah, lalu wudhu, shalat dua rakaat dan kemudian berdoalah: “Wahai Allah! Aku memohon dan memohon pertolongan denganmu kepada Tuhanku untuk (menyembuhkan) mataku. Utsman bin Hunaif berkata: “Orang tersebut tidaklah diam (terlalu lama) untuk kembali (menghadap Nabi Saw) dalam kondisi seolah tidak pernah mengalami kebutaan sama sekali.” Kemudian Nabi Saw bersabda: “Bila kamu punya hajat, maka lakukanlah ritual seperti itu.”

 Dalam beberapa riwayat hadits tersebut terdapat sedikit perbedaan redaksi yang tidak menjadi masalah. Dalam riwayat lain disebutkan:

     اَللهم إِنِّى أَسْأَلُكَ وَأَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبِىِّ الرَّحْمَةِ، إِنِّي تَوَجَّهْتُ إِلَى رَبِّي بِكَ

     “Wahai Allah! Aku memohon dan menghadap kepadaMu, dengan (menyebut) NabiMu Muhammad Saw, Nabi pembawa rahmat. Wahai Muhammad Saw! Sungguh aku menghadap kepada TuhanMu dengan (menyebut)mu.”

Shalat SelainShalat-Shalat di Atas

Diriwayatkandari Abdullah bin Abi Aufa ra, beliau berkata:

     قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَن كَانَتْ لَهُ إِلى اللهِ حَاجَةٌ، أَوْ إِلَى أَحَدٍ مِنْ بَنِي آدَمَ فَلْيَتَوَضَّأ وَلْيُحْسِنِ الْوُضُوءَ، وَلْيُصَلِّ رَكْعَتَيْنِ، ثم لِيُثْنِ عَلَى اللهِ تَعَالَى، وَلْيُصلِّ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ثُمَّ لِيَقُلْ: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ الْحَلِيمُ الْكَرِيمُ، سُبْحَانَ اللهِ رَبِّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. أَسْأَلُكَ مُوجِبَاتِ رَحْمَتِكَ، وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ، وَالْغَنِيمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ، وَالسَّلَامَةَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، لَا تَدَعْ لِي ذَنْبًا إِلَّا غَفَرْتَهُ، وَلَا هَمًّا إِلَّا فَرَّجْتَهُ، وَلَا حَاجَةً هِيَ لَكَ رِضَا إِلَّا قَضَيْتَهَا يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ (رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَغَيْرُهُ)

     “Rasulullah Saw bersabda: “Siapa saja yang mempunyai hajat kepada Allah atau kepada seseorang dari keturunan Adam, maka berwudhulah, kemudian hendaklah ia melakukannya secara baik, shalatlah dua rakaat, kemudian hendaklah memuji kepada Allah dan bershalawat kepada Nabi Saw. Kemudian hendaklah mengucapkan doa (yang artinya): “Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Dermawan. Maha suci Allah Tuhan ‘arsy yang agung, segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Aku memohon kepadaMu sebab-sebab  rahmatMu, sebab-sebab ampunanMu, kesuksesan dari setiap ketaatan dan keselamatan dari segala dosa. Jangan Engkau tinggalkan bagiku suatu dosa kecuali Engkau ampuni, suatu kesusahan kecuali Engkau berikan jalan keluarnya, dan suatu hajat yang Engkau ridhai kecuali Engkau penuhi,wahai Dzat Yang Maha Pengasih dari para pengasih.” (HR. at-Tirmidzi dan Selainnya)



[1]Mafahim Yajib an Tushahhah, karya penulis, h. 116.

[2]Zad al-Ma’ad, karya Ibn Qayyim al-Jauziyah, Juz IV/h. 270.

[3]QS. Ali Imran: 135.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*