Sya’ban Bulan Bershalawat

     Termasuk keistemewaan bulan Sya’ban adalah sungguh Sya’ban merupakan bulan yang di dalamnya diturunkan ayat tentang memohonkan rahmah ta’zhim (shalawat) dan keselamatan bagi Rasulullah Saw, yaitu firman Allah Swt:

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا [الأحزاب: 56]

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”

     Sungguh Ibnu ash-Shaif al-Yamani pernah menyebutkan:

“Niscaya pernah dikatakan: “Bulan Sya’ban merupakan bulan bershalawat bagi Nabi Saw, karena ayat:

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا [الأحزاب: 56]

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”

Turun pada bulan tersebut.”[1]

     Imam Syihabuddin al-Qisthalani pernah menyebutkan pendapat sebagian ulama yang menyatakan, bahwa bulan Sya’ban adalah bulan bershalawat bagi Nabi Saw, karena ayat:

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا [الأحزاب: 56]

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”

Turun pada bulan tersebut.[2]

     Al-Hafizh Ibnu Hajar –rahimahullah- pernah menuturkan riwayat dari Abu Dzar al-Harawi yang menyatakan, bahwa sungguh perintah bershalawat bagi Nabi Saw, yakni firman Allah Swt:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا [الأحزاب: 56]

“Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”

Itu turun pada tahun kedua Hijriyah, dan menurut versi lain turun pada malam Isra’ Mi’raj.

Hikmah Shalawat Bagi Nabi SAW

     Allah Swt berfirman:

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا [الأحزاب: 56]

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”

     Allah Swt telah memerintahkan semua orang mukmin setelah memanggil mereka dengan pola panggilan dialog agar bershalawat dan memohonkan keselamatan bagi Nabi Saw, seraya mendasarinya bahwa Allah dan malaikatNya telah melakukannya. Artinya, Allah memerintahkan kalian untuk melakukan hal tersebut bukan karena kebutuhan Allah padanya, namun bertujuan memuliakan keimanan kalian dengan perkara yang menjadikan kalian menjadi serasi dengan Allah Swt, Tuhan sekalian malaikat Yang Maha Agung, khawash khawas hambaNya yang saleh dan mulia, besertaan dengan Nabi Saw, yang dengan beliau Saw Allah memberi petunjuk kepada kalian untuk menuju kepadaNya, dan dengan ajakannya menunjukkan kalian pada setiap hal yang bisa mendekatkan kepadaNya.

     Syaikh ‘Izzuddin bin Abdissalam -rahimahullah- berkata:

     “Bershalawat bagi Rasulullah Saw bukan merupakan pertolongan kita bagi beliau. Sebab, orang seperti kita tidak bisa memberi pertolongan kepada orang seperti beliau Saw. Hanya saja, Allah Swt memerintahkan kita agar memberi balasan yang setimpal pada orang yang telah memberi nikmat dan berbuat baik kepada kita. Bila tidak mampu, maka kita dianjurkan berdoa agar Allah memberi balasan yang setimpal kepada orang tersebut sebagai ganti dari kita. Dan ketika kita tidak mampu membalas jasa Nabi Muhammad Saw, maka Allah Swt memerintahkan kita untuk mencintainya dan membacakan shalawat baginya agar bacaan shalawat itu menjadi balas jasa yang setimpal atas kebaikan dan pemprioritasan beliau kepada kita. Tiada kebaikan yang lebih utama dari pada kebaikan Nabi Saw. Beliau Saw bersabda:

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْراً

     “Siapa saja yang bershalawat bagiku satu shalawat, maka sebab shalawatnya tersebut Allah akan bershalawat baginya dengan sepuluh shalawat.”[3] (HR. Muslim)

     Al-Qadhi ‘Iyadh -rahimahullah- berpendapat:

     Makna sabda Nabi Saw:

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْراً

     “Siapa saja yang bershalawat bagi ku satu shalawat, maka sebab shalawatnya tersebut Allah akan bershalawat baginya dengan sepuluh shalawat.”

adalah rahmat Allah dan kelipatan pahalanya, seperti halnya firman Allah Swt:

مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا[الأنعام: 160]

     “Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya.”

     Al-Qadhi ‘Iyadh berkata pula:

     “Terkadang bacaan shalawat secara lahiriyah menjadi kemuliaan di antara malaikat, seperti keterangan dalam hadits:

وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلإٍ ذَكَرْتُهُ فِى مَلإٍ خَيْرٍ مِنْهُ[4]

 Dan bila hambaKu (Allah Swt) mengingatKu di suatu perkumpulan, maka aku mengingatnya di perkumpulan (malaikat) yang lebih baik dari mereka.”

Wallahu A’lam.

     Dari Ubai bin Ka’b Ra, ia berkata:

قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إنِّي أُكْثِرُ الصَّلاَةَ عَلَيْكَ، فَكَمْ أَجْعَلُ لَكَ مِنْ صَلاَتِي؟ فَقَالَ: مَا شِئْتَ، قُلْتُ: الرُّبُعَ، قَالَ: مَا شِئْتَ، فَإنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ، قُلْتُ: فَالنِّصْفَ؟ قَالَ : مَا شِئْتَ، فَإنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ، قُلْتُ: فالثُّلُثَيْنِ؟ قَالَ: مَا شِئْتَ، فَإنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ، قُلْتُ: أجعَلُ لَكَ صَلاَتِي كُلَّهَا؟ قَالَ: إذاً تُكْفِى هَمَّكَ، وَيُغْفَر لَكَ ذَنْبكَ (رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ، وَقَالَ: حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ)

Saya berkata: Wahai Rasulullah! Sungguh saya memperbanyak bacaan shalawat bagi anda, maka saya jadikan berapakah untuk anda dari bacaan shawawat saya?” Lalu beliau menjawab: “Semaumu.” Saya bertanya: “Apakah seperempat?” Beliau menjawab: “Semaumu. Bila engkau tambahkan, maka hal itu baik (bagimu).” Saya bertanya: “Apakah separonya?” Beliau menjawab: “Semaumu. Bila engkau tambahkan, maka hal itu baik (bagimu).” Saya menegaskan: Saya jadikan untuk anda semua shalawat saya?” Beliau bersabda: “Maka (bila demikian, shalawat tersebut akan mencegah kesusahanmu, dan dosamu dimaafkan.” (HR. At-Tirmidzi, ia berkata: “Hadits tersebut adalah hadits hasan shahih.”)

     An-Nawawi berkata:

     Makna ucapan Ubai bin Ka’b Ra:

إنِّي أُكْثِرُ الصَّلاَةَ عَلَيْكَ، فَكَمْ أَجْعَلُ لَكَ مِنْ صَلاَتِي؟

“Sungguh saya memperbanyak bacaan shalawat bagi anda, maka saya jadikan berapakah untuk anda dari bacaan shalawat saya?”

adalah Saya memperbanyak doa, maka saya jadikan berapakah untuk anda dari doa saya menjadi (diganti dengan) bacaan shalawat bagi anda?”

     Abu al-Laits as-Samarqandi -rahimahullah- berpendapat:

“Andaikan tidak ada pahala dari bacaan shalawat bagi Nabi Saw selain harapan syafaat, niscaya yang menjadi kewajiban bagi orang yang berakal sempurna adalah tidak lalai darinya. Maka, bagaimana bisa dilupakan, padahal di dalamnya terdapat ampunan berbagai dosa dan rahmat Allah Swt?”

     Abu al-Laits berkata pula:

     “Bila amda ingin mengetahui bahwa membaca shalawat bagi Nabi Saw merupakan ibadah yang paliang utama dibandingkan dengan ibadah-ibadah selainnya, maka renungkanlah firman Allah Swt:

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا [الأحزاب: 56]

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”

Sebab, semua ibadah selain shalawat Allah Swt perintahkah bagi hamba-hambaNya, sedangkan membaca shalawat bagi Nabi Saw Allah Swt lakukan sendiri, lalu baru memerintahnya kepada orang-orang mukmin. Maka dengan renungan ini dapat disimpulkan, bahwa membaca shalawat bagi Nabi Saw merupakan ibadah yang paling utama.

     An-Nawawi berkata:

     “Bila seseorang membaca shalawat bagi Nabi Saw, maka hendaknya ia sekaligus memintakan keselamatan (taslim) bagi beliau Saw dan tidak mencukupkan diri dengan salah satunya.”

     Dalam Ihya` ‘Ulum ad-Din Imam al-Ghazali menghikayatkan kisah seorang ulama:

     “Aku menulis hadits, dan ku tuliskan doa shalawat bagi Nabi Saw di dalamnya, namun tidak ku cantumkan doa keselamatan baginya. Kemudian aku mimpi bertemu Nabi Saw, beliau bersabda:

أَمَا تَتِمُّ الصَّلَاةَ عَلَيَّ فِي كِتَابِكَ؟

 Tidakkah engkau sempurnakan doa shalawat bagiku dalam bukumu?”

Maka tidaklah aku menulis suatu tulisan setelah peristiwa tersebut melainkan ku tuliskan doa shalawat dan keselamatan (bagi beliau Saw.”

     An-Nawawi -rahimahullah- berpendapat:

     “Bagi orang yang akan membaca hadits atau semisalnya ketika menyebut Rasulullah Saw disunahkan mengeraskan suara dengan bacaan shalawat dan salam bagi beliau Saw, dan tidak perlu mengeraskannya secara berlebihan dan tanpa etika.”

     Ia berpendapat pula:

     “Termasuk ulama yang secara jelas menyunahkan bacaan shalawat dan salam secara keras adalah al-Imam al-A’dzam al-Hafizh Abu Bakar al-Khathib al-Baghdadi dan beberapa ulama selainnya.”

     Diriwayatkan dari Abu Bayan al-Ashbihani -rahimahullah-, ia berkata:

     “Aku mimpi bertemu Rasulullah Saw, lalu aku berkata: “Hendaklah engkau memberi manfaat kepada anak pamanmu, asy-Syafi’i (Imam asy-Syafi’i R,a) atau engkau khususkan apa saja untuk dia!” Beliau menjawab: “Ya! Aku mohonkan kepada Tuhanku agar Ia tidak menghisabnya.” Lalu ku tanyakan: “Dengan sebab apa?” Beliau menjawab: “Sebab niscaya ia telah memohonkan shalawat bagiku dengan redaksi shalawat yang belum pernah dibacakan orang lain untukku.” Ku tanyakan: Redaksi seperti apa?” Beliau menjawab: “Asy-Syafi’i pernah mengucapkan:

اللهم صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ كُلَّمَا ذَكَرَهُ الذَّاكِرُوْنَ وَغَفَلَ عَن ذِكْرِهِ الْغَافِلُوْنَ

     Ya Allah! Semoga Engkau beri rahmat ta’zhim bagi Muhammad ketika orang-orang yang ingat mengingatnya, dan semoga engkau beri rahmat ta’zim bagi Muhammad ketika orang-orang yang lupa lalai mengingatnya.”

     Dari Ibnu Abdilhakkam, ia berkata:

     Aku pernah mimpi bertemu asy-Syafi’i, lalu ku tanyakan: “Apa yang Allah perbuat padamu?” Ia menjawab: “Allah memberiku nikmat, mengampuniku, memberi kesempatan padaku berbulan madu di surga seperti halnya sepasang pengantin berbulan madu, dan menaburiku seperti halnya sepasang pengantin ditaburi.[5] Lalu akau bertanya: “Sebab apakah engkau mencapai derajat seperti itu?” Ia menjawab: “Dengan sebab doaku di kitab ar-Risalah, yaitu:

وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ عَدَدَ مَا ذَكَرَهُ الذَّاكِرُوْنَ وَعَدَدَ مَا غَفَلَ عَن ذِكْرِهِ الْغَافِلُوْنَ[6]

     Dan semoga Allah melimpahkan rahmat ta’dzim pada Muhammad sejumlah bilangan ingatnya orang-orang yang ingat, dan sejumlah bilangan lalainya orang orang yang lalai.”

Keutamaan Shalawat Nabi SAW

     Keutamaan shalawat Nabi Saw sungguh sangat banyak, tinta pena  tidak mungkin mengurai semuanya, lembar-lembar buku pun tidak mampu memuat seluruhnya. Kami hanya menuturkan bagian pokoknya saja:

1.    Siapa saja yang membaca shalawat bagi Nabi Saw sekali, maka Allah Swt  akan bershalawat (memberi rahmat dan melipatgandakan pahala) baginya sepuluh kali.

Imam Muslim dan Ashab as-Sunan meriwayatkan dari Abu Hurairah Ra, ia berkata: Rasulullah Saw telah bersabda:

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً وَاحِدَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ عَشْرًا

“Siapa saja yang membacakan shalawat bagiku satu kali, maka Allah akan bershalawat baginya sepuluh kali.”

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abdurrahman bin ‘Auf Ra, ia berkata:

خَرَجَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَاتَّبَعْتُهُ حَتَّى دَخَلَ نَخْلًا، فَسَجَدَ فَأَطَالَ السُّجُودَ حَتَّى خِفْتُ أَوْ خَشِيتُ أَنْ يَكُونَ اللهُ قَدْ تَوَفَّاهُ أَوْ قَبَضَهُ، قَالَ: فَجِئْتُ أَنْظُرُ، فَرَفَعَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأْسَهُ، فَقَالَ: مَا لَكَ يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ؟ قَالَ: فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لَهُ، فَقَالَ: إِنَّ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلَام قَالَ لِي: أَلَا أُبَشِّرُكَ إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ لَكَ: مَنْ صَلَّى عَلَيْكَ صَلَّيْتُ عَلَيْهِ وَمَنْ سَلَّمَ عَلَيْكَ سَلَّمْتُ عَلَيْهِ

Rasulullah Saw keluar, lalu ku ikuti beliau sehingga masuk ke kebun kurma. Beliau lalu sujud dan memanjangkan sujudnya sehingga aku khawatir atau takut Allah benar-benar mewafatkannya atau mencabut nyawanya. Abdurrahman Abdurrahman bin ‘Auf Ra berkata: “Lalu aku mendatangi beliau untuk melihatnya. Lalu beliau Saw mengangkat kepalanya dan bertanya: “Ada apa denganmu wahai Abdurrahman?” Abdurrahman Ra berkata: “Maka ku utarakkan kepada beliau kekhawatiranku tadi. Lalu beliau bersabda: “Jibril As  telah berkata padaku: “Ingatlah! Aku beri kabar gembira, sungguh Allah Azza wa Jalla telah berfirman untukmu: “Siapa saja yang bershalawat bagimu maka Aku (Allah Swt) bershalawat baginya, dan siapa saja yang mendoakan keselamatan bagimu maka Aku memberinya keselamatan.

Dalam riwayat lain ditambahkan:   

فَسَجَدْتُ لِلهِ شُكْرًا[7]

 Lalu Aku (Rasulullah Saw) bersujud kepada Allah karena menyukurinya.”

Dan nanti akan disebutkan semua jalur lain periwayatan hadits tersebut.

2.    Siapa saja yang bershalawat bagi Nabi Saw, maka beliau Saw akan membalas shalawat baginya.

Dari Anas bin Malik Ra diriwayatkan, ia berkata:

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً وَاحِدَةً بَلَغَتْنِي صَلَاتُهُ وَصَلَيْتُ عَلَيْهِ وَكُتِبَ لَهُ سِوَى ذَلِكَ عَشْرُ حَسَنَاتٍ(رَوَاهُ الطَّبَرَانِي فِي الْأَوْسَطِ بِإِسْنَادٍ لَا بَأْسَ بِهِ)

“Rasulullah Saw telah bersabda: “Siapa saja yang bershalawat bagiku, maka shalawatnya sampai kepadaku, aku (membalas) bershalawat baginya, dan selain itu dituliskan baginya sepuluh kebaikan. (HR. Ath-Thabarani, dalam al-Mu’jam al-Ausath dengan sanad yang tidak bermasalah)

Demikian kutipan dari kitab at-Targhib wa at-Tarhib karya al-Mundziri.

3.    Siapa saja yang bershalawat bagi Nabi Saw, maka para malaikat akan bershalawat baginya.

Dari Anas bin Malik Ra diriwayatkan, ia berkata:

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَكْثِرُوا الصَّلَاةَ عَلَيَّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، فَإِنَّهُ أَتَانِي جِبْرِيلُ آنِفًا عَنْ رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَقَالَ: مَا عَلَى الْأَرْضِ مِنْ مُسْلِمٍ يُصَلِّي عَلَيْكَ مَرَّةً وَاحِدَةً إِلَّا صَلَّيْتُ أَنَا وَمَلَائِكَتِي عَلَيْهِ عَشْرًا  (قَالَ الْحَافِظُ الْمُنْذِرِيُّ: رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ)

Rasulullah Saw telah bersabda: “Kalian perbanyaklah shalawat bagiku pada hari Jum’at. Sebab, sungguh jibril barusan mendatangiku dari Allah Azza wa Jalla, lalu Allah berfirman: “Tidaklah seorang muslim di bumi yang bershalawat bagiku satu kali kecuali Aku dan malaikatKu bershalawat baginya sepuluh kali. (Al-Hafizh al-Mundziri berkata: Ath-Thabarani  telah meriwayatkan hadits tersebut.”)

Dari Abdullah bin Umar -radhiyallahu ‘anhuma-, ia berkata:

مَنْ صَلَّى عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاةً وَاحِدَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَمَلائِكَتُهُ سَبْعِينَ صَلَاةً  (قَالَ الْمُنْذِرِيُّ: رَوَاهُ أَحْمَدُ بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ)

Siapa saja yang bershalawat bagi Nabi Saw satu kali, maka Allah dan malaikatNya bershalawat baginya 70 kali. (Al-Mundziri berkata: Imam Ahmad meriwayatkan hadits tersebut dengan sanad hasan.)

Dalam ad-Dur al-Mandhud Ibnu Hajar al-Haitami berkata:

 Hukum hadits tersebut adalah marfu’, sebab termasuk kategori la majal li ar-ra’yi fih (isi hadits bukan materi yang menjadi wilayah operasional akal).” Demikian pendapat Ibnu Hajar.

Diriwayatkan dari ‘Amir bin Rabi’ah, dari ayahnya Ra, ia berkata:

سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ وَيَقُولُ: مَنْ صَلَّى عَلَيَّ لَمْ تَزَلْ الْمَلَائِكَةُ تُصَلِّي عَلَيْهِ مَا صَلَّى عَلَيَّ(رَوَاهُ أَحْمَدُ وَابْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَابْنُ مَاجَهْ، وَالسَّنَدُ حَسَنٌ كَمَا قَالَ الْهَيْثَمِيُّ)

 Rasulullah Saw pernah berkhotbah dan bersabda:Siapa saja bershalawat bagiku, maka tidak henti-hentinya malaikat bershalawat baginya selama ia masih bershalawat padaku. (HR. Ahmad, Ibnu Syaibah dan Ibnu Majah, sanadnya hasan seperti hemat Nurrudin al-Haitsami)

Dalam riwayat lain disebutkan:

مَا مِنْ عَبْدٍ يُصَلِّي عَلَيَّ إِلاَّ صَلَّتْ عَلَيْهِ المَلاَئِكَةُ مَادَامَ يُصَلِّي عَلَيَّ فَلْيُقِلَّ الْعَبْدُ مِنْ ذلِكَ أَوْ لِيُكْثِرْ (كَمَا فِي الْفَتْحِ مَعْزُوًّا لِأَحْمَدَ وَابْنِ مَاجَهْ وَالضِّيَاءِ)

Tidaklah seorang hamba bershalawat bagiku melainkan para malaikat bershalawat baginya selama ia sedang bershalawat bagiku. Oleh sebab itu, hendaklah seorang hamba mempersedikit atau memperbanyak shalawatnya. (Seperti disebutkan dalam Fath al-Bari dengan dinisbatkan pada riwayat Imam Ahmad, Ibnu majjah dan adh-Dhiya`)

4.    Siapa saja yang bershalawat bagi Nabi Saw, maka diangkat derajatnya, ditambahkan kebaikannya dan dihapus kejelekannya.

An-Nasa`i, ath-Thabarani  meriwayatkan dari Abu Buraidah bin Niyar Ra, ia berkata: 

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:مَنْ صَلَّى عَلَيَّ مِنْ أُمَّتِي صَلاَةً مُخْلِصًا مِنْ قَلْبِهِ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرَ صَلَوَاتٍ، وَرَفَعَهُ بِهَا عَشْرَ دَرَجَاتٍ، وَكَتَبَ لَهُ بِهَا عَشْرَ حَسَنَاتٍ، وَمَحَا عَنْهُ عَشْرَ سَيِّئَاتٍ (كَمَا فِي التَّرْغِيبِ لِلْمُنْذِرِيِّ)

Rasulullah Saw bersabda: “Siapa saja yang bershalawat bagiku dari umatku dengan keikhlasan dari hatinya, maka karena shalawat tersebut Allah bershalawat baginya sepuluh kali, mengangkatnya sepuluh derajat, menulis baginya sepuluh kebaikan, dan melebur sepuluh kejelekan. (Seperti dalam kitab at-Targhib karya al-Mundziri)

Diriwayatkan dari Thalhah al-Anshari Ra, ia berkata:

أَصْبَحَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم يَوْمًا طَيِّبَ النَّفْسِ، يُرَى فِي وَجْهِهِ الْبِشْرُ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، أَصْبَحْتَ الْيَوْمَ طَيِّبَ النَّفْسِ، يُرَى فِي وَجْهِكَ الْبِشْرُ، فَقَالَ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم: أَجَلْ، أَتَانِي آتٍ مِنْ رِبِّي عَزَّ وَجَلَّ، فَقَالَ: مَنْ صَلَّى عَلَيْكَ مِنْ أُمَّتِكَ صَلاَةً كَتَبَ اللهُ لَهُ بِهَا عَشْرَ حَسَنَاتٍ، وَمَحَا عَنْهُ عَشْرُ سَيِّئَاتٍ، وَرَفَعَ لَهُ عَشْرُ دَرَجَاتٍ، وَرَدَّ عَلَيْهِ مِثْلَهَا (قَالَ فِي التَّرْغِيبِ لِلْمُنْذِرِيِّ: رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالنَّسَائِيُّ)

Suatu hari Rasulullah Saw merasakan kenyamanan hati dan tampak kegembiraan di wajahnya. Para Sahabat berkata: “Wahai Rasulullah! Hari ini anda merasakan kenyamanan hati dan tampak kegembiraan di wajah anda.” Lalu beliau berkata: “Ya, telah datang kepadaku seorang malaikat yang datang dari Tuhanku Azza wa Jallah, lalu ia berkata: “Siapa saja yang bershalawat bagimu dari umatmu dengan satu shalawat, maka sebab shalawatnya tersebut Allah mencatat baginya sepuluh kebaikan, melebur darinya sepuluh kejelekan, mengangkatnya sepuluh derajat, dan membalas shalawat seperti shalawatnya. (Dalam at-Targhib, al-Mundziri berkata:  Ahmad dan an-Nasa`i telah meriwayatkannya.)

Dalam riwayat Imam Ahmad disebutkan:

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم جَاءَ ذَاتَ يَوْمٍ وَالسُّرُورُ يُرَى فِي وَجْهِهِ، فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّا نَرَى السُّرُورَ فِي وَجْهِكَ، فَقَالَ: إِنَّهُ أَتَانِي الْمَلَكُ، فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، أَمَا يُرْضِيكَ أَنَّ رَبَّكَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ: إِنَّهُ لاَ يُصَلِّي عَلَيْكَ أَحَدٌ مِنْ أُمَّتِكَ إِلاَّ صَلَّيْتُ عَلَيْهِ عَشْرًا ، وَلاَ يُسَلِّمُ عَلَيْكَ أَحَدٌ مِنْ أُمَّتِكَ إِلاَّ سَلَّمْتُ عَلَيْهِ عَشْرًا قَالَ : بَلَى (قَالَ الْمُنْذِرِيُّ: رَوَاهُ ابْنُ حِبَّانَ فِيصَحِيحِهِ بِنَحْوِ هَذَا)

Sungguh Rasulullah Saw telah datang pada suatu hari dalam kondisi terlihat kebahagian di wajahnya. Lalu para sahabat berkata: Wahai Rasulullah! Kami  sungguh melihat kebahagiaan di wajahmu.” Beliau menjawab: “Sungguh sesosok malaikat telah mendatangiku, lalu ia berkata: “Wahai Muhammad! Tidakkah kamu setuju Tuhanmu Azza wa Jalla berfirman: “Sungguh tidaklah seseorang dari umatmu bershalawat bagimu melainkan Aku bershalawat baginya sepuluh kali, dan tidaklah seseorang dari umatmu memohonkan keselamatan bagimu melainkan aku memberi sepuluh keselamatan baginya.” (Al-Mundziri berkata: “Ibnu Hibban telah meriwayatkannya dalam kitab Shahihnya dengan redaksi seperti ini.)

Demikian kata al-Mundziri.

Al-Qadhi ‘Iyadh -rahimahullahu Ta’ala- telah berpendapat tentang maksud shalawat Allah Swt bagi orang yang bershalawat bagi NabiNya Saw:

“Allah merahmati dan melipatgandakan pahalanya, seperti halnya firman Allah Swt:

مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا[الأنعام: 160]

“Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya.”

Terkadang secara lahiriyahnya shalawat -maksudnya dengan makna pujian dan pengagungan- merupakan ucapan yang didengar oleh para malaikat karena mengagungkan dan memuliakan orang yang mengucapkannya, seperti keterangan dalam hadits qudsi:

وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٌ مِنْهُ

“Dan bila hambaKu (Allah Swt) mengingatKu di suatu perkumpulan, maka aku mengingatnya di perkumpulan (malaikat) yang lebih baik dari mereka.”

Beberapa hadits tadi memberi pengertian, bahwa sungguh Allah Swt benar-benar bershalawat sepuluh kali bagi orang yang bershalawat bagi NabiNya Saw.

Dan sungguh ingatnya Allah Swt kepada seorang hamba itu lebih agung berkali-kali lipat dari pada kebaikan hamba tersebut. Hal demikian karena ketika Allah Swt tidak memberi balasan dari ingatnya seorang hamba kepadaNya, melainkan dengan ingatnya Allah Swt kepada hamba tersebut, seperti firmanNya:

وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي، وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٌ مِنْهُ

“Maka bila hambaku mengingatKu dalam hatinya, maka aku mengingatnya dalam diriKu. Dan bila hambaKu mengingatKu di suatu perkumpulan, maka aku mengingat mereka di perkumpulan (malaikat) yang lebih baik darinya.”

Begitu pula Allah menjadikan balasan ingat kepada Nabi dan kekasihNya Saw dengan ingatnya Allah Swt kepada hamba tersebut. Oleh sebab itu, siapa saja yang bershalawat bagi NabiNya Saw, maka Allah Swt bershalawat baginya, kemudian mengingatnya dengan rahmat (belas kasih), pujian, kemulian dan kebaikanNya bagi orang tersebut.

Al-‘Allamah Syaikh Burhanuddin bin Abu Syarif -rahimahullah- berkata:

“Siapa saja yang mencurahkan pikirannya, fockus berkosentrasi melakukan perenungan, maka malaikat-malaikat pembawa kebahagiaan akan silih berganti mendatanginya dengan membawa kebaikan dan rahasiaNya yang dihadiahkan Tuhannya Swt. Wahai pikiran yang penuh kebahagiaan, yang menembus dari urat-urat yang membentang seperti jalan, di manakah posisi shalawat seorang hamba dibandingkan shalawat Allah Yang Maha Merajai para Raja? Maka bagaimana bisa dibandingkan, sementara kenyataannya seorang hamba bershalawat bagi Nabi Saw sekali dan Allah Swt membalasnya dengan shalawat sepuluh kali. Maka cukup banyak sekali Tuhannya memberi pahala dan balasan yang luas.” Dikutip dari Syarh al-Adzkar karya Ibnu ‘Allan.

Diriwayatkan dari Anas Ra:

أنَّ النَّبِيَّ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم قَالَ: مَا مِنْ عَبْدٍ يَذْكُرُنِي فَيُصَلِّي عَلَيَّ إِلَّا كَتَبَ اللهُ لَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ وَمَحَا عَنْهُ عَشْرَ سَيِّئَاتٍ وَرَفَعَ لَهُ عَشْرَ دَرَجَاتٍ

 Sungguh Nabi Saw bersabda: “Tidaklah seorang hamba mengingatku, lalu bershalawat bagiku, melainkan Allah akan menulis sepuluh kebaikan baginya, menghapus sepuluh kesalahan darinya, dan mengangkatnya sepuluh derajat.”

Dalam pahala agung, balasan besar, dilipatgandakannya shalawat dan doa keselamatan bagi orang yang bershalawat pada Nabi Saw, terdapat pemberitahuan dari Allah, bahwa Ia memuliakan kekasihNya Saw dan pendeklarasian keutamaannya di atas semua nabi dan rasul -shalawatullahi Ta’ala ‘alaihi wa ‘alaihim ajma’in-. Oleh sebab itu, ketika malaikat Jibril As menyampaikan kabar gembira dengan hal tersebut, maka Rasulullah Saw bersujud kepada Allah Swt karena menyukuri nikmat istimewa dan hadiah agung ini.

Imam Ahmad dan al-Hakim telah meriwayatkan suatu hadits, dan ia menilai shahih sanadnya, dari Abdurrahman bin ‘Auf Ra, ia berkata:

خَرَجَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَاتَّبَعْتُهُ حَتَّى دَخَلَ نَخْلًا –أَيْ بُسْتَانَ نَخْلٍ-، فَسَجَدَ فَأَطَالَ السُّجُودَ حَتَّى خِفْتُ أَوْ خَشِيتُ أَنْ يَكُونَ اللهُ قَدْ تَوَفَّاهُ أَوْ قَبَضَهُ، قَالَ: فَجِئْتُ أَنْظُرُ، فَرَفَعَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأْسَهُ، فَقَالَ: مَا لَكَ يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ؟ قَالَ: فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لَهُ، فَقَالَ: إِنَّ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلَام قَالَ لِي: أَلَا أُبَشِّرُكَ إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ لَكَ: مَنْ صَلَّى عَلَيْكَ صَلَّيْتُ عَلَيْهِ وَمَنْ سَلَّمَ عَلَيْكَ سَلَّمْتُ عَلَيْهِ

“Rasulullah Saw keluar, lalu ku ikuti beliau sehingga masuk ke kebun kurma. Beliau lalu sujud dan memanjangkan sujudnya sehingga aku khawatir atau takut Allah benar-benar mewafatkannya atau mencabut nyawanya. Abdurrahman Abdurrahman bin ‘Auf Ra berkata: “Lalu aku mendatangi beliau untuk melihatnya. Lalu beliau Saw mengangkat kepalanya dan bertanya: “Ada apa denganmu wahai Abdurrahman?” Abdurrahman Ra berkata: “Maka ku utarakkan kepada beliau kekhawatiranku tadi. Lalu beliau bersabda: “Jibril As  telah berkata padaku: “Ingatlah! Aku beri kabar gembira, sungguh Allah Azza wa Jalla telah berfirman untukmu: “Siapa saja yang bershalawat bagimu maka Aku (Allah Swt) bershalawat baginya, dan siapa saja yang mendoakan keselamatan bagimu maka Aku memberinya keselamatan.

Dalam riwayat lain Imam Ahmad menambahkan:

فَسَجَدْتُ لِلهِ شُكْرًا

Lalu Aku (Rasulullah Saw) bersujud kepada Allah karena menyukurinya.”

Al-Hafizh al-Mundziri berkata:

Ibnu Abi ad-Dunya dan Abu Ya’la telah meriwayatkannya, redaksinya berupa:

كَانَ لاَ يُفَارِقُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وسَلَّم مِنَّا مِنْ خَمْسَةٍ أَوْ أَرْبَعَةٍ مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم، يَنُوبُهُ مِنْ حَوَائِجِهِ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ، قَالَ: فَجِئْتُهُ وَقَدْ خَرَجَ، فَاتَّبَعْتُهُ فَدَخَلَ حَائِطًا مِنْ حِيطَانِ الْأَشْرَافِ، فَصَلَّى فَسَجَدَ فَأَطَالَ السُّجُودَ، فَقُلْتُ: قَبَضَ اللهُ رُوحَهُ، قَالَ: فَرَفَعَ رَأْسَهُ فَدَعَانِي، فَقَالَ: مَا لَكَ؟ فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَطَلْتَ السُّجُودَ، قُلْتُ: قَبَضَ اللهُ رُوحَ رَسُولِهِ لاَ أَرَاهُ أَبَدًا، فَقَالَ: سَجَدْتُ شُكَرًا لِرَبِّي فِيمَا أَبْلاَنِي[8] فِي أُمَّتِي، مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً مِنْ أُمَّتِي كَتَبَ اللهُ لَهُ عَشْرَ حَسَنَاتِ، وَمَحَا عَنْهُ عَشْرَ سَيِّئَاتٍ

“Empat atau lima sahabat RasulullahSaw tidak pernah berpisah dengan beliau untuk menyiapkan berbagai kebutuhanya di malam dan siang hari. Abdurrahman bin ‘Auf ra berkata: “Lalu aku mendatanginya dan beliau sudah keluar (rumah). Lalu aku mengikutinya. Beliau masuk ke salah satu tembok dari beberapa tembok pasar. Kemudian beliau shalat dan sujud. Beliau memanjangkan sujudnya, kemudian aku menangis dan berkata: “Allah telah mencabut ruh beliau saw. Abdurrahman bin ‘Auf ra berkata (lagi): “Lalu beliau mengangkat kepalanya dan menegurku. Beliau bersabda: “Ada pada denganmu?” Aku menjawab: “Wahai Rasulullah! Anda memanjangkan sujud dan aku telah berkata: “Allah telah mencabut ruh RasulNya, (sehingga) aku tidak akan melihatnya (lagi) selamanya.” Beliau bersabda: “Aku bersujud karena bersyukur kepada Tuhanku atas nikmat yang diberikanNya kepadaku dalam umatku. Siapa saja dari umatku yang bershalawat bagiku dengan satu kali shalawat, maka Allah akan menuliskan baginya sepuluh kebaikan  dan melebur darinya sepuluh kejelekan.”

5.    Siapa saja yang bershalawat bagi Nabi Saw, maka sebanding dengan memerdekakan sepuluh orang budak karena mengharap ridha Allah Swt.

Diriwayatkan dari Barra` bin ‘Azib ra, ia berkata:

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ مَرَّةً كَتَبَ اللهُ لَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ وَمَحَا عَنْهُ عَشْرَ سَيِّئَاتٍ وَرَفَعَهُ بِهَا عَشْرَ دَرَجَاتٍ وَكُنَّ لَهُ عَدْلُ عَشْرِ رِقَابٍ(قَالَ الْمُنْذِرِيُّ: رَوَاهُ ابْنُ أَبِي عَاصِمٍ فِي كِتَابِ الصَّلَاةِ عَنْ مَوْلَى لِلْبَرَّاءِ لَمْ يُسَمِّهِ عَنْهُ)

“Nabi Saw sungguh bersabda: Siapa saja yang bershalawat bagiku dengan satu kali, maka Allah Ta’ala akan menuliskan baginya sepuluh kebaikan, melebur darinya sepuluh kejelekan, mengangkatnya sepuluh derajat dan shalawat itu sebanding dengan memerdekakan sepuluh budak baginya.” (Al-Mundziri berkata: “Ibnu Abi ‘Ashim telah meriwayatkannya dalam kitab ash-Shalah, dari seorang budak yang dimerdekakan oleh al-Barra` dengan tidak ia sebutkan darinya.”)

6.    Shalawat Nabi Saw merupakan sebab pengampunan dosa yang mana hal itu sesuai dengan kadar keimanan, rasa cinta dan keikhlasan seorang mukmin dalam membacakan shalawat bagi Nabi Saw.

Ibnu Abi ‘Ashim dan ath-Thabarani telah meriwayatkan hadits dari Abu Kahil ra, ia berkata:

قَالَ لِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وسَلَّم: يَا أَبَا كَاهِلٍ، مَنْ صَلَّى عَلَيَّ كُلَّ يَوْمٍ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ وَكُلَّ لَيْلَةٍ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ حُبًّا وَشَوْقًا اِلَيَّ كَانَ حَقًّا عَلَى اللهِ أَنْ يَغْفِرَ لَهُ ذُنُوبَهُ تِلْكَ اللَّيْلَةَ وَذٰلِكَ الْيَوْمَ (وقد أَوْرَدَهُ الْمُنْذِرِيُّ بِصِيغَةِ –رُوِيَ-وَذَكَرَهُ فِي جَلَاءِ الْأَفْهَامِ)

Rasulullah Saw telah bersabda kepadaku: “Wahai Abu Kahil, siapa saja yang bershalawat bagiku setiap hari tiga kali dan setiap malam tiga kali karena mencintai dan merindukanku, maka hak Allah adalah mengampuni dosa-dosanya pada malam dan siang hari tersebut.” (Al-Mundziri telah merilis hadits tersebut dengan kata “diriwayatkan” dan Ibnu Qayyim al-Jauziyah menyebutkannya dalam kitab Jala` al-Afham dengan sanad (lengkap)nya.”)

7.    Shalawat Nabi Saw dapat memohonkan ampunan dan menemani pembacanya dalam kuburnya.

فَعَنِ السِّيِّدَةَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا مِنْ عَبْدٍ يُصَلِّي عَلَّيَّ صَلَاةً إِلَّا خَرَجَ بِهَا مَلَكٌ حَتَّى يَجِىءَ بِهَا وَجْهَ الرَّحْمٰنِ فَيَقُولُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى: اِذْهَبُوا بِهَا إِلَى قَبْرِ عَبْدِي تَسْتَغْفِرُ لِقَائِلِهَا وَتَقِرُّ بِهَا عَيْنُهُ[9] 

Lalu dari Sayyidah ‘Aisyah -radhiyallahu ‘anha-, ia berkata: Rasulullah Saw bersabda: Tidaklah seorang hamba yang bershalawat bagiku dengan satu kali shalawat melainkan ada malaikat yang keluar membawanya sampai dia mendatangi Ar-Rahman (Allah Dzat Yang Maha Pengasih). Lalu Tuhanku -Tabaraka wa Ta’ala- berfirman: Pergilah kalian dengan membawa shalawat tersebut ke kuburan hambaku, yang mana shalawat itu akan memohonkan ampunan bagi pembacanya dan dengan sebab shalawat itu hatinya akan tenang.

8.    Termasuk keistimewaan Shalawat Nabi Saw adalah beliau akan menyafaati para pembacanya.

Sungguh Ibnu Abi Dawud telah meriwaytkan hadits dari Abu Bakar ash-Shiddiq ra, beliau berkata:

فَقَدْ رَوَى ابْنُ أَبِي دَاوُدَ عَنْ أَبِي بَكْرِ الصِّدِّيقِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ يَقُولُ: إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ وَهَبَ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ عِنْدَ الاسْتِغْفَارِ، فَمَنِ اسْتَغْفَرَ بِنِيَّةٍ صَادِقَةٍ غَفَرَ لَهُ، وَمَنْ قَالَ لآ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ رَجَحَ مِيْزَانُهُ، وَمَنْ صَلَّى عَلَيَّ كُنْتُ شَفِيعَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ[10]

Saya mendengar Rasulullah Saw saat haji wada’ bersabda: Allah Swt sungguh telah menerima dosa-dosa kalian ketika istighfar. Oleh sebab itu, siapa saja yang memohon ampunan dengan niat yang benar, maka ia akan diampuni. Siapa saja yang mengucapkan (kalimah) laa ilaaha illAllah (tiada Tuhan selain Allah), maka timbangan (amal baiknya) akan unggul (dari pada amal jeleknya). Dan siapa saja yang bershalawat bagiku, maka aku akan menjadi orang yang mensyafaati(menolong)nya  di hari kiamat.

9.    Termasuk keistimewaan Shalawat Nabi Saw adalah dapat menghilangkan kefakiran dan melapangkan kebaikan dan keberkahan.

Terkait hal itu terdapat banyak riwayat dengan beberapa sanad yang sebagiannya menguatkan sebagian yang lain. Abu Na’im telah meriwayatkan hadits dari Samurah bin Jundub ra, beliau berkata:

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَا أَقْرَبُ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ؟ قَالَ: صِدْقُ الْحَدِيثِ وَأَدَاءُ الْأَمَانَةِ، قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ زِدْنَا، قَالَ: صَلَاةُ اللَّيْلِ وَصَوْمُ الْهَوَاجِرِ، قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ زِدْنَا، قَالَ: كَثْرَةُ الذِّكْرِ وَالصَّلَاةِ عَلَيَّ تُنْفِي الْفَقْر، قُلْتُ: زِدْنَا يَا رَسُولَ اللهِ، قَالَ: مَنْ أَمَّ فَلْيُخَفِّفْ فَإِنَّ فِيهِمِ الْكَبِيرَ وَالْعَلِيلَ وَالضَّعِيفَ وَذَا الْحَاجَةِ[11] 

“Telah datang seseorang kepada Rasulullah Saw, lalu ia bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah amal yang paling mendekati (ridha) Allah?” Beliau menjawab: “Perkataan jujur dan melaksanakan amanah.” Saya berkata: “Wahai Rasulullah, tambahkanlah bagi kami!” Beliau menjawab: “Shalat malam dan puasa di siang hari yang sangat panas.” Saya berkata: “Wahai Rasulullah, tambahkanlah bagi kami!”  Beliau berkata: “Banyak berdzikir dan bershalawat bagiku itu dapat menghiangkan kefakiran.” Saya berkata: “Wahai Rasulullah, tambahkanlah bagi kami!” Beliau menjawab: “Siapa saja yang mengimami (suatu jamaah shalat) maka hendaklah memperingan (mempercepat). Sebab, di antara mereka ada orang yang sudah berusia lanjut, orang sakit, orang lemah dan orang yang sedang mempunyai hajat.”  

Al-Hafizh Abu Musa al-Madini telah meriwayatan hadits dengan sanadnya dari Sahl bin Sa’d ra, beliau berkata:

 جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَشَكَا إِلَيْهِ الْفَقْرَ وَضَيْقِ الْعَيْشِ أَوِ الْمَعَاشِ، فَقَالَ: لَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا دَخَلْتَ مَنْزِلَكَ فَسَلِّمْ، إِنْ كَانَ فِيهِ أَحَدٌ أَوْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ أَحَدٌ، ثُمَّ سَلِّمْ عَلَيَّ وَاقْرَأْ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ (اَلْإِخْلَاصُ: 1) مَرَّةً وَاحِدَةً. فَفَعَلَ الرَّجُلُ، فَأَدَرَّ اللهُ عَلَيْهِ الرِّزْقَ حَتَّى أَفَاضَ عَلَى جِيرَانِهِ وَقَرَابَاتِهِ[12]

Telah datang seseorang kepada Nabi Saw, lalu ia mengadukan kefakiran dan sempitnya penghidupan atau kehidupan, kemudian Rasulullah Saw bersabda kepadanya: “Bila kamu memasuki rumahmu, maka ucapkanlah salam bila ada seseorang di dalamya atau (pun) bila tidak ada seseorang di dalamnya. Lalu ucapkanlah salam (doakanlah keselamatan) bagiku dan bacalah قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ satu kali. Kemudian orang tersebut melaksanakannya dan Allah mencurahkan rejeki kepadanya sampai melimpah ruah kepada para tetangga dan sanak kerabatnya.”

10.    Termasuk keistimewaan Shalawat Nabi Saw adalah siapa saja yang memperbanyak membacanya, maka Rasulullah Saw akan menjadi orang yang paling utama baginya.

Sungguh at-Tirmidzi telah meriwayatkan hadits dan menilainya hasan, dari Anas ra:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِنَّ أَوْلَى اَلنَّاسِ بِي يَوْمَ اَلْقِيَامَةِ أَكْثَرُهُمْ عَلَيَّ صَلَاةً

Nabi Saw sungguh telah bersabda: “Manusia yang paling utama (yang terdekat dan paling berhak mendapat syafaat)[13] bagiku adalah yang terbanyak shalawatnya bagiku.”

Ibnu Hibban berkata:

“Dalam hadits ini terdapat dalil yang menyatakan, bahwa manusia yang paling utama (yang paling dekat) dengan Rasulullah Saw pada hari kiamat adalah Ashab al-Hadits (orang-orang yang menekuni hadits). Sebab, dari sekian umat Islam tidak ada yang lebih banyak shalawatnya bagi Nabi Saw dari pada mereka.” Demikian kata beliau.

Ibnu Hajar al-Haitami dan begitu pula para ulama selainnya berkata:

“Dalam hadits tersebut terdapat kabar gembira yang sangat agung bagi Ashab al-Hadits. Sebab, mereka bershalawat bagi Nabi Saw dengan ucapan dan perbuatan, siang dan malam, serta ketika membaca dan menulis hadits. Maka merekalah yang paling banyak shalawatnya. Oleh sebab itu, mereka menjadi istimewa dengan kebajikan ini dari berbagai kalangan ulama lain.” Demikian kata mereka.

11.    Termasuk keistimewaan Shalawat Nabi Saw adalah sungguh berkah dan kebaikannya akan menemui pembacanya, anak dan cucunya.

Seperti keterangan dalam atsar yang diriwayatkan dari Hudzaifah ra, beliau telah berkata:

اَلصَّلَاةُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تُدْرِكُ الرَّجُلَ وَوَلَدَهُ وَوَلَدَ وَلَدِهِ[14]

 Shalawat (bagi Rasulullah Saw) akan menemui seseorang (yang membacanya), anak dan cucunya.”

     Ya Allah! Berilah rahmat ta’zhim kepada Sayyidina Muhammad, seperti anda memerintah kami untuk bershalawat baginya, seperti engkau senang dia dishalawati, seperti perkara yang dia menjadi ahlinya di sisiMu, dan berilah rahmat kepada para keluarga, sahabat dan sahabatnya, dan beri pula keselamatan, dan  (juga) bagi kami bersama mereka semua.

Wanginya Majelis dengan Shalawat Nabi Saw

    Al-Hakim telah meriwayatkan hadits dengan sanadnya, dari Abu Hurairah ra, beliau berkata:

مَا مِنْ قَوْمٍ جَلَسُوا مَجْلِسًا وَتَفَرَّقُوا مِنْهُ لَمْ يَذْكُرُوا اللهَ فِيهِ إِلَّا كَأَنَّمَا تَفَرَّقُوا عَنْ جِيفَةِ حِمَارٍ، وَكَانَ عَلَيْهِمْ حَسْرَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Rasulullah Saw bersabda: “Tidaklah suatu kaum duduk dalam suatu majlis dan mereka berpisah darinya tanpa mengingat Allah di dalamnya, melainkan niscaya mereka seperti beranjak dari bangkai busuk keledai, dan mereka mendapat kerugian (penyesalan dan kesedian) di hari kiamat.”

     Dalam kitab at-Targhib wa at-Targhib al-Mundziri meriwayatkannya dan berkata:

     “Abu Dawud dan al-Hakim telah meriwayatkannya, dan ia berkata: “Hadits itu adalah hadits shahih sesuai standart Imam Muslim.”

     “An-Nawawi telah menilainya shahih sanadnya dalam kitab al-Adzkar dan Riyadh ash-Shalihin.”

     Dalam kitab al-Bustan[15] Ibnu al-Jauzi berkata:

     “Bila para jamaah suatu majelis yang di dalamnya tidak dibacakan shalawat Nabi Saw seperti beranjak dari bangkai busuk seekor keledai, maka tidak mengherankan bila orang-orang yang bershalawat Nabi Saw (dalam suatu majelis) beranjak dari majlis yang lebih wangi dari pada gudang wewangian. Sebab Nabi Saw adalah wewangian yang paling wangi dan kesucian yang paling suci. Ketika beliau Saw berbicara, maka aroma wangi misik memenuhi majelis. Begitu pula suatu majelis yang di dalamnya dituturkan Nabi Saw, maka majelis itu akan mengeluarkan aroma wangi secara terus-menerus yang menembus tujuh langit sehingga berhenti di ‘Arsy. Setiap makhluk selain manusia dan jin yang diciptakan Allah Swt di bumi mencium aroma wanginya. Lalu sungguh andaikan mereka dapat mencium aroma wangi itu, niscaya setiap orang akan sibuk menikmatinya dan mengabaikan urusan dunianya. Tidaklah malaikat atau makhluk Allah Swt yang mencium aroma wanginya melainkan akan memohonkan ampun bagi orang yang menghadiri majelis itu, dan bagi mereka akan dicatatkan kebaikan sebanyak jumlah malaikat dan makhluk tersebut, serta akan diangkat derajatnya sebanyak jumlah mereka, baik di majelis itu hanya ada satu orang ataupun seratus ribu orang. Setiap orang memperoleh pahala seperti jumlah pahala tadi, dan pahala yang di sisi Allah lebih banyak lagi. Dikatakan:  

أَخْبَارُهُ فِي الْمَجْلِسِ الْعَطَرِ

 

تَتَعَطَّرَ الْأَنْفَاسُ مَا ذُكِرَتْ

نُورًا تَصَــوَّرَ أَجْــــمَلَ الصُّـــــوَرِ

 

سُـــــــــــبْحَانَ بَارِيــــــهِ وَخَـــالِقِهِ

Nafas-nafas mewangi selama kisah-kisahnya dituturkan dalam majelis wangi semerbak,

Maha Suci Sang Penciptanya dari ketiadaan dan Sang Penciptanya tanpa misal terdahulu, menjadi cahaya dengan wajah yang terindah

     Dihikayatkan suatu kisah dari al-Kawaz al-Bisthami, sungguh beliau bercerita:

     “Aku memohon kepada Allah Swt agar dapat mimpi bertemu Abu Shalih Si Muadzin. Lalu aku bermimpi melihatnya dalam kondisi yang sangat sejahtera. Aku bertanya: “Wahai Abu Shalih, ceritalah kepadaku apa yang kamu alami. Ia menjawab: “Aku tergolong orang-orang binasa andaikan tidak banyak shalawatku bagi Rasul Saw.”

     Dihikayatkan suatu kisah dari asy-Syibli -rahimahullah-, sungguh beliau bercerita:

     “Seorang tetanggaku meninggal dunia, lalu aku berjumpa dengannya dalam mimpi. Aku bertanya keadaannya, dan ia menjawab: “Wahai Syibli, Aku telah melewati prahara besar, yakni saat diriku ditanyai malaikat, mulutku gagap tidak bisa menjawabnya. Maka ketika dua malaikat mendatangiku dan salah satunya akan bersegera menyiksaku, seketika aku dihadapanku ada seseorang yang sangat elok wajahnya, aku belum pernah melihat orang yang wajahnya lebih elok dari padanya. Lalu ia menghalang-halangi antara diriku dan dua malaikat tadi. Setelah ia mengajariku hujjah (untuk menjawab pertanyaan kedua malaikat itu),  aku menanyainya: “Siapa Anda?” Lalu ia menjawab: “Aku malaikat yang diciptakan Allah dari pahala shalawatmu bagi Nabi Muhammad Saw saat masih hidup di dunia. Lalu engkau memperbanyak shalawat bagi Nabi Muhammad Saw, kemudian Allah Swt menjadikanku bagimu karena shalawatmu bagi Nabi Muhammad Saw sebagai malikat gagah untuk menyelamatkanmu atas seizin Allah Swt dari segala kesedihan dan siksa neraka, sehingga ku masukkan dirimu ke surga dengan kasih sayang Allah.”

     Maka wahai saudara-saudaraku, janganlah kalian bosan bershalawat bagi Nabi Muhammad Saw.[16]

 



[1]Tuhfah al-Ikhwan, karya Imam Ahmad bi Hijazi al-Fasyani, h. 74.

[2]Syarh az-Zarqani ‘ala al-Mawahib, Juz VI, h. 328.

[3]Maksudnya dengan sekali bacaan shalawat bagi Nabi Saw, seseorang akan Allah beri sepuluh rahmat. Al-Mubarakfuri, Tuhfah al-Ahwadzi, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah, tt.), Juz X, h. 59. (Penerjemah).

[4]Muttafaq ‘Alaih.

[5]Maksudnya ditaburi dengan semacam buah pala, gula dan semisalnya yang menjadi tradisi resepsi pernikahan tempo dulu. Lihat, asy-Syafi’i, al-Umm, (ttp.: Dar al-Ma’rifah, tt.), Juz VIII, h. 286. (Penerjemah).

[6] Dari kitab Nuzhah an-Nazhirin fi al-Akhbar al-Marwiyah ‘an al-Anbiya` wa ash-Shalihin, h. 29-30.

[7]Hadis ini diriwayatkan pula oleh al-Hakim dan dinilai sebagai hadis shahih. Baca, al-Mundziri, at-Targhib wa at-Tarhib, (Beirut: dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1417 H), Juz II, h. 324. (Penerjemah.) 

[8]Maksud kata أَبْلاَنِي adalah فِيمَا أَنْعَمَ عَلَيَّAtas nikmat yang diberikanNya kepadaku.” Lihat, al-Mundziri, at-Targhib wa at-Tarhib, (Beirut: dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1417 H), Juz II, h. 324. (Penerjemah.) 

[9]Lihat, Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Jala` al-Afham, (Kuwait: Dar al-‘Arubah, 1407 H/ 1987 M), Juz I, h. 124. (Penerjemah).

[10]Lihat, Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Jala` al-Afham, (Kuwait: Dar al-‘Arubah, 1407 H/ 1987 M), Juz I, h. 123. (Penerjemah).

[11]Lihat, Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Jala` al-Afham, (Kuwait: Dar al-‘Arubah, 1407 H/ 1987 M), Juz I, h. 421. (Penerjemah).

[12]Lihat, Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Jala` al-Afham, (Kuwait: Dar al-‘Arubah, 1407 H/ 1987 M), Juz I, h. 427. (Penerjemah).

[13]Lihat, al-Munawi, Faidh al-Qadir, (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1415 H/1994 M), Jus II, h. 560. (Penerjemah).

[14]Lihat, Ibnu ‘Asakir, Tabyin Kadzb al-Muftari, (Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi, 1404 H), h. 73. (Penerjemah).

[15]Maksud al-Bustan adalah Bustan al-Wa’izhin wa Riyadh as-Sami’in karya Ibnu al-Jauzi (508 – 597 H/ 1114 – 1201 M). Bernama asli Abdurrahman bin Ali bin Muhammad al-Jauzi al-Qurasyi al-Baghdadi dan terkenal dengan sebutan Abu al-Faraj. Bukan Ibnu al-Qayyim al-Jauzi (691 – 751 H/1292 – 1350 M) murid Ibnu Taimiyah. Abu al-Faraj Ibnu al-Jauzi adalah seorang sejarawan dan pakar hadits pada masanya. Produktif menulis dan berhasil menorehkan lebih dari 300 buku dalam berbagai disiplin  ilmu, seperti sejarah, hadits, ilmu hadits, ilmu al-Qur’an dan tafsirnya, nasehat-nasehat dan lain sebagainya. Sebagian warisan ilmiahnya tersebut antara lain Shaid al-Khathir, Zad al-Masir fi ‘Ilm at-Tafsir, Natijah al-Ihya’, Syarh Musykil ash-Shahihain dan Daf’ Syubhah at-Tasybih wa ar-Radh ‘ala al-Mujassimah. Lihat Nuruddin az-Zarkali, al-A’lam, Juz III, h. 316 dan Juz VI, h . 65. (Penerjemah).

[16]Tuhfah al-Ikhwan fi Qira`ah al-Mi’ad fi Rajab wa Sya’ban wa Ramadhan, karya Imam Ahamd bin Hijazi al-Fasyani, h. 76.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.