Tag Archives: Berita

Menguatkan Asawaja di Bulan Ramadhan

NU Jombang Online,
Ketika sholat taroweh selesai dikerjakan, dari berbagai tempat di wilayah Jombang, sekitar 100-an orang secara berangsur mendatangi sebuah rumah tua ber-arsitektur kolonial yang terletak di Jalan K.H. Wahid Hasyim, sebuah jalan utama tengah kota yang cukup terkenal di kabupaten Jombang. Rumah tersebut adalah warisan Kiyai Nawawi, salah satu tokoh NU di Jombang. Continue reading Menguatkan Asawaja di Bulan Ramadhan

Kang Said: Hentikan Penyebaran SMS Kabar Wafatnya Kiai Sahal

Jakarta, NU Online

Ketua Umum PBNU KH. Said Aqil Siroj kembali menegaskan, kabar yang beredar dimasyarakat dan menyebutkan Rais Am PBNU KH. MA. Sahal Mahfudh wafat adalah tidak benar. Selain meminta masyarakat, khususnya warga NU untuk tidak mempercayainya, Kang Said, demikian Kiai Said biasa disapa, juga meminta agar penyebarluasan SMS tersebut dihentikan. Continue reading Kang Said: Hentikan Penyebaran SMS Kabar Wafatnya Kiai Sahal

PWNU Jatim: Hebatnya NU, Bisa Menghitung tapi Tetap Tawadlu’

PENENTUAN AWAL RAMADHAN 1432 H
PWNU Jatim: Hebatnya NU, Bisa Menghitung tapi Tetap Tawadlu’
Surabaya, NU Online
Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur akan melakukan standar kegiatan rukyatul hilal penentuan awal Ramadhan seperti pada tahun-tahun sebelumnya. Rukyat kali ini akan diselenggarakan di sedikitnya 11 titik. Ke-11 titik itu berada di Surabaya, Gresik, Lamongan, Blitar, Bangkalan, Malang, Probolinggo dan Pamekasan.
Observasi lapangan sudah dilakukan sejak Sabtu (30/7), sedangkan pelaksanaan rukyat dilakukan Ahad sore. “Ini sudah kegiatan rutin tahunan, mereka yang di lapangan sampai hafal dengan lokasi itu,” kata H Masyhudi Mukhtar, Sekretaris PWNU Jawa Timur kepada NU Online di kantornya.
Menurut Pak Hudi, sapaan akrabnya, tiap tim terdiri dari ahli falak, ahli fiqih dan operator peralatan rukyat. Di lapangan biasanya mereka akan menyatu dengan tim dari departemen agama. Untuk yang daerah pantai biasanya juga melibatkan para nelayan setempat yang sudah terbiasa dengan alam, sekadar sebagai pemandu arah tempat munculnya bulan.
“Alhamdulillah, cabang-cabang kita umumnya sudah memiliki perangkat untuk ‘mengintip’ bulan, meski ukurannya tidak semua sama, ada yang panjang, ada pula yang pendek,” tutur Pak Hudi.
Soal adanya Ormas lain yang telah mengumumkan kepastian awal Ramadlan tanggal 1 Agustus lusa, Pak Hudi tampak tenang-tenang saja. “Insya Allah (awal puasa) kita juga tanggal 1 Agustus, tapi menunggu rukyat dulu,” jawabnya enteng.
Menurut alumnus Pesantren Tebuireng itu, memang banyak ahli falak yang menyatakan, kemungkinan besar awal Ramadlan adalah tanggal 1 Agustus. Tapi itu baru menurut hitungan, masih menunggu pembuktian lebih lanjut. “Di sinilah hebatnya orang NU, meski juga sudah dapat menghitung, namun masih tetap menunggu pembuktian. Ada tawadlu’nya (rendah hati. red),” ujarnya sambil terkekeh.
Menurut rencana, sikap PWNU Jawa Timur akan diumumkan besok usai shalat maghrib, setelah dilaporkan terlebih dahulu kepada PBNU.
Redaktur : A. Khoirul Anam
Kontributor : Muhammad Subhan

Lajnah Falakiyah: Secara Teoritis Hilal Sudah Bisa Dirukyat

PENENTUAN AWAL RAMADHAN 1432 H
Lajnah Falakiyah: Secara Teoritis Hilal Sudah Bisa Dirukyat
Jakarta, NU Online
Ketua Lajnah Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH A. Ghazalie Masroeri menegaskan, penentuan awal bulan dalam penanggalan bulan (qamariyah) harus berdasarkan rukyatul hilal bil fi’li atau pengamatan bulan sabit secara langsung di lapangan. Rukyat dapat dilakukan dengan menggunakan alat bantu.
“Rukyat bisa menggunakan peralatan yang paling tradisional sampai yang paling modern. Lajnah Falakiyah PBNU sendiri sudah telah mengembangkan NUMO (NU Mobile Observatory) untuk menunjang pelaksanaan rukyat. Peralatan yang dimiliki NUMO tidak hanya dapat mendeteksi hilal tetapi juga benda laingit lainnya,” katanya kepada NU Online di Jakarta, Sabtu (30/7).
Ditegaskannya, penentuan awal bulan qamariyah tidak cukup hanya berdasar pada hisab atau perhgitungan astronomis. Data hisab hanya berfungsi sebagai pemandu pelaksanaan rukyat agar lebih akurat.
Hal ini disampaikannya terkait pelaksanaan rukyatul hilal untuk penentuan tanggal 1 Ramadhan 1432 H. Menurutnya, pada saat diadakan rukyatul hilal pada hari Ahad, tanggal 29 Sya’ban 1432 H, 31 Juni 2011, menunjukkan bahwa hilal sudah sangat mungkin dirukyat.
“Secara teoritis hilal sudah bisa dirukyat. Namun teori saja atau hisab saja belum cukup, harus dibuktikan di lapangan,” tambahnya.
Data hisab dalam Almanak PBNU yang diterbitkan oleh Lajnah Falakiyah untuk markaz Jakarta menunjukkan bahwa ijtima’ awal bulan atau konjungsi terjadi pada Ahad, pukul 01.36. Tinggi hilal atau bulan sabit pada saat pelaksanaan rukyatul hilal sudah mencapai 6 derajat di atas ufuk dalam posisi miring ke utara, dan hilal akan berada di atas ufuk selama 33 menit. Berdasarkan hisab, hilal sudah sangat mungkin dilihat dan tanggal 1 Ramadhan akan jatuh pada Senin, 1 Agustus 2011.
Penulis : A. Khoirul Anam

Menag: Satu Ramadhan Tunggu Hasil Rukyat

28/07/2011 14:28
Menag: Satu Ramadhan Tunggu Hasil Rukyat
Kendari, NU Online
Menteri Agama, Surya Dharma Ali, mengatakan jatuhnya satu Ramadhan 1432 Hijriah masih menunggu hasil rukyat atau pengamatan bulan yang dilakukan pemerintah pada malam 31 Juli 2011.
“Mudah-mudahan pada malam tanggal 31 Juli 2011 ini langit dalam keadaan cerah sehingga bulan bisa terlihat dengan jelas,” katanya di Kendari, Rabu.
Menurut Menag, pemerintah akan melakukan rukyat bulan pertama Ramadhan di 14 titik lokasi di Indonesia.
Jika dalam proses rukyat itu telah terlihat posisi bulan pertama kali, kata dia, maka pemerintah akan segera menggelar sidang Hizbat untuk mengumumkan kepastian tentang awal Ramadhan.
“Sidang Hizbat untuk menetapkan awal 1 Ramadhan 1432 Hijriah nanti akan dihadiri seluruh ormas Islam,” katanya.
Menurut Menteri Agama, Muhammadiyah di Indonesia telah menetapkan jatuhnya awal Ramadhan pada 1 Agustus 2011.
Diharapkan kata dia, hasil rukyat yang akan dilakukan pemerintah pada 31 Juli 2011 di 14 titik lokasi di tanah air, tidak lagi terdapat perbedaan jatuhnya awal Ramadhan versi pemerintah dengan kelompok Muhammadiyah.
“Kalau pun nanti jatuhnya awal puasa atau lebaran terdapat perbedaan lagi antara pemerintah dengan ormas Islam yang lain, semua pihak harus saling menghormati perbedaan itu,” katanya.
Toh ujar Menteri Agama, selama ini perbedaan itu sudah seringkali terjadi dan selama itu pula tidak pernah ada masalah.
“Sepanjang kita saling menghormati dalam perbedaan, apa pun perbedaan di antara kita tidak akan menjadi masalah bagi yang lain,” katanya.
Yang terpenting kata dia di kalangan umat beragama harus selalu menjaga harmonisasi sehingga bisa hidup rukun damai dalam perbedaan.
Redaktur: Mukafi Niam
Sumber   : Antara