Fiqh Ziaroh

Download Versi PDF Disini

 Prof. DR. Sayyid Muhammad Bin Alwi

Al-maliki Al-hasani 

PAHAM-PAHAM YANG HARUS DILURUSKAN

 Terjemah Mafahim Yajibu An-Tushohhaha

Ziarah 

 Oleh : Ibnu A. Ayyub Nu’man HM

KATA PENGANTAR

             Segala puji hanya bagi Allah SWT sang raja diraja, penguasa alam semesta raya yang meninggikan langit tanpa tiang ,yang menghamparkan bumi tanpa menggantungkan, yang memberi warna kehayatan yang syarat akan ragam dan budaya.

            Untaian shalawat dan butiran mutiara salam semoga tercurah kan kepada sang revolusioner akbar Muhammad SAW. Yang kehadiranya laksana bintang gemintang yang berkerlip indah di kepekatan malam, laksana mentari yang mengusir malam keperaduanya.

Buku yang ada di hadapan anda adalah sebuah buku yang lahir dari seorang ulama yang’alim ‘allamah dan kesohor dari Makkah, yaitu Sayyid Muhammad Bin Alwi Bin Abbas Al-Maliki Al-Hasani Al-Maliki Al-Asy’ari. Buku ini di tulis oleh beliau guna meluruskan doktrin-doktrin rekan-rekan senegaranya yaitu kaum Salafi-Wahabi yang dinilai melenceng dari syari’at yang telah di ajarkan oleh Rasulullah SAW,yang menarik dari buku ini adalah,beliau Sayyid Muhammad mencoba meluruskan doktrin-doktrin yang dinilai bengkok dari kaum Wahabi dengan menggunakan sumber-sumber dalil dari mereka sendiri, mulai dari masalah aqidah, kenabian, kehidupan alam barzah,ziarah qubur dan masalah –masalah agama lainya yang dinilai dari kelompok mereka adalah hal-hal yang berbau kurafat,bid’ah dan sesat. Dengan menggunakan dalail-dalil dari qur’an, hadits dan fakta-fakta Historis, Sayyid Muhammad begitu cerdas, halus dan terarah dalam meluruskan pemahaman-pemahaman dari kaum Wahabi.

Untuk keberanian intelektualnya ini, beliau dikucilkan dan dituduh sesat, beliaupun di cekal dari kedudukanya sebagai pengajar di Masjidil Haram,kitab-kitab beliau di larang, bahkan kedudukannya sebagai professor di Ummul Qura pun di cabut, meskipun begitu beliau tidak memperlihatkan kepahitan dan keluh kesah, bahkan beliau menanggapinya dengan sabar dan tidak beramarah. Kedengkian mereka sebenarnya di dorong oleh fakta bahwa ulama madzhab Maliki ini jauh lebih unggul untuk di jadikan tandingan mereka.

Akhirnya, semoga terjemah buku  ini bisa menjadi pegangan bagi kita pengikut Ahlussunah Wal Jama’ah untuk membentengi dari serangan aliran-aliran yang membahayakan bagi kita. Tak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu terselesesainya buku ini. Tak lupa kami memohon kritik dan saran  yang konstruktif dari pembaca sekalian demi sempurnanya terjemahan ini. Semoga buku ini bermanfaat. Amin.

 

 

                                                                                 Lirboyo, Maret 2011

                                                                         Ibnu A. Ayyub Nu’man HM

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KATA  PENGANTAR PENERBIT

PIMPINAN  CABANG LAJNAH TA’LIF WAN NASYR

NAHDLATUL ULAMA KABUPATEN JOMBANG

 

Segala puji milik Alloh Tuhan Semesta alam, Sholawat dan salam semoga selalu tercurahkan pada mahluk pilihan, Nabi Muhammad,keluarga dan para sahabatnya.

 

 Lajnah Ta’lif Wan Nasyr ( LTN) adalah devisi pembukuan dan pendistribusian yang ada dilingkungan Nahdlatul Ulama, Salah satu dari program  Pimpinan Cabang LTNNU Kabupaten Jombang, selain menerbitkan Majalah Nahdlah, Media Pencerahan Umat, adalah menerbitkan buku yang menjelaskan dasar-dasar amaliyah Nahdlatul Ulama’, yang selama ini disalah pahami dan dituduhkan oleh mereka mengandung syirik,bid’ah dan khurafat. Selain itu menerbitkan buku yang seperti itu , merupakan satu masukan dari hasil turba Pengurus cabang ke tingkat MWC NU dan  ranting dan merupakan program kerja PC LTN NU Jombang.

 

 Al-Hamdulillah,  PC LTN NU Jombang Setelah menerbitkan buku Landasan Amaliyah NU, Buku Pendamping siswa ASWAJA untuk kelas 4,5 dan 6 semester ganjil  , atas rahmat dan taufiqNya, PC LTN NU Jombang bisa menerbitkan  terjemahan kitab Mafahim Yajibu an Tushohhaha, karya Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki Al-Hasani,terjemahan kitab ini kami terbitkan menjadi 4 buku , dengan judul;  

1. Awas  bahaya, mengkafirkan sesama muslim

2. Fiqh tawassul

3. Fiqh Barokah

4. Ziaroh makam Nabi, para wali dan situs-situs sejarah

 

Dipilihnya Kitab Mafahim yajibu An-Tushohhaha, memiliki beberapa alasan, diantaranya;

1.     Ingin bertabarruk ( ngalap barokah ) dengan mushonnifnya, yang merupakan seorang ulama, sayyid ( keturunan beliau rosululloh) yang sangat getol memperjuangkan aqidah ahlus sunnah wal jama’ah dan membentengi dari serangan faham wahabi.

2.     Pembahasan dan topic dalam kitab tersebut sesuai dengan kebanyakan amaliyah yang dilakukan oleh warga nahdliyyin

3.     Dalam menyampaikan permasalahan disertai dalil- dalil yang sangat komprehensip, mulai dari Al-qur’an , hadits beserta takhrijnya  serta pendapat dari para ulama, termasuk dari para tokoh wahabi sendiri.

 

Terbitnya buku ini memiliki tujuan,

Pertama:

Agar para warga nahdliyyin yang selama ini mengamalkan amaliyah mereka, bahkan sudah berakar urat dan menjadi tradisi, yang ( mungkin) selama ini mereka melakukan karena hanya mengikuti dengan tanpa mengetahui dalil dalilnya  , atau  mungkin selama ini mereka sudah mengetahui dengan cara mendengarkan saja ,bisa mengetahui secara tertulis bahwa amaliyah yang mereka lakukan memiliki dasar yang kuat dan kokoh dari Al-Qur’an dan hadits serta pendapat para ulama’ yang ahli dibidangnya, agar yang selama ini masih ragu ( khususnya kalangan muda) menjadi mantap, dan yang sudah mantap menjadi lebih mantap dan kokoh.

 

Kedua:

Sebagai bentuk jawaban terhadap anggapan mereka, yang memandang  perilaku keagamaan warga nahdliyyin menyimpang jauh dari tuntunan dan ajaran Islam, mereka seolah-olah meragukan landasan teologis , bahkan cenderung meragukan kemurnian ajaran Islam yang tumbuh berkembang dikalangan warga Nahdliyyin.

 

Ahirnya, kami mengucapkan terimakasih pada semua pihak yang telah membantu atas terbitnya buku ini, khususnya pada KH. Drs. Isrofil Amar M.Ag ( ketua Tanfidziyah PCNU Jombang) dan KH. Abdul Nashir Fattah ( Rois Syuriyah PCNU Jombang) atas Sambutan dan dukungannya . Semoga buku ini bermanfaat dan bisa menjadi benteng aqidah ahlus sunnah wal jama’ah an-Nahdliyah, amin.

 

Jombang ,01 April  2011

 

 

M. Sholihuddin Shofwan

Ketua

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SAMBUTAN KETUA TANFIDZIYAH

PENGURUS CABANG NAHDLATUL ULAMA’

KABUPATEN JOMBANG.

 

Assalamu’alaikum wr.wb.

 

 

 أَلْحَمْدُ لِلَّهِ فَاطِرِ الْحَلْقِ وَمُوْجِدِهِ – وَمُظْهِرِ الْحَقِّ وَمُنْجِدِهِ –الّذِيْ جَعَلَ الْحَقَّ وَزَرًا لِمَنْ اعْتَقَدَهُ- وَعُمْرًا لِمَنْ اعْتَمَدَهُ- وَجَعَلَ الْبَاطِلَ مُزِلاًّ لِمَنْ ابْتَغَاهُ –ومَُذِلاًّ لِمَنْ اقْتَنَاهُ – وَالصّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى الصَّفْوَةِ الصَّافِيَةِ- وَالْقُدْوَةِ الْهَادِيَّةِ- مُحَمَّدٍ وَأَلِهِ خِيَارِ الْوَرَى وَمَنَارِ الْهُدَى- أَمَّا بَعْدُ

 Kami merasa bersyukur dan bangga atas terbitnya 4 buku yang berjudul  ;

        Awas Bahaya, mengkafirkan sesama muslim

        Fiqh Tawassul

        Fiqh tabarruk

        Ziaroh Makam Nabi, para wali dan situs-situs bersejarah

 yang diterbitkan Lajnah Ta’lif Wan Nasyr Nahdlatul Ulama(LTNNU) ,karena apa yang ada didalam buku ini sangatlah penting untuk dimengerti oleh khalayak umum, khususnya warga nahdliyyin.

 

 

 Terbitnya buku seperti tersebut diatas, yang menjelaskan  Landasan Amaliyah Nahdlatul Ulama’ , sudah lama dinantikan dan ditunggu-tunggu, karena setiap PCNU turba ketingkat MWC NU dan ranting, selalu ada masukan dan usulan agar PCNU menerbitkan buku yang seperti itu, hal ini seiring maraknya faham dan aliran-aliran yang faham dan pemahaman keagamaannya bertolak belakang dengan NU, bahkan tuduhan TBC (Tahayyul, syirik, Bid’ah dan Churafat) tanpa segan mereka lontarkan, yang tentunya hal seperti itu , ditataran arus bawah warga nahdliyyin, terkadang menimbulkan keresahan.

Semoga kehadiran buku ini dapat bermanfaat dan memberikan barokah pada khalayak umum, khusus warga nahdliyyin, serta menjadi benteng faham ahlus sunnah wal jama’ah An-Nahdliyyah .Amin Ya robbal Alamin.

 

Wassalamu’alaikum wr.wb.

Jombang, 01 April  2011

 

 

KH. DR. Isrofil Amar M,Ag.

Ketua Tanfidziyyah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SAMBUTAN ROIS SYURIYAH

PENGURUS CABANG NAHDLATUL ULAMA’

KABUPATEN JOMBANG.

 

Assalamua’laikum Wr.Wb.

 

أَلْحَمْدُ لِلَّهِ أَظْهَرَ الْحَقَّ حَقًّا – وَبِهِ زَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوْقًا –  وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى مَنْ أَرْسَلَهُ اللهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ الْأبْلَجِ  – عَلَى الْبَاطِلِ الَّذِيْ مَا زَالَ عَلَى الَّجْلَجِ – نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ الْمُطَهِّرِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ وَعِتْرَتِهِ الَّذِيْنَ فِيْ هَذِهِ الْأَوْنَةِ الْاَخِيْرَةِ مِثْلُ السَّفِيْنَةِ لِلنَّجَاةِ وَسَائِرِ أَصْحَابِهِ النُّجُوْمِ الزَّاهِرَةِ – أَمَّا بَعْدُ

 

Merupakan suatu keniscayaan bagi lembaga-lembaga Islam , Khususnya Nahdlatul Ulama untuk selalu peka terhadap perkembangan masyarakat yang majemuk dizaman yang semakin canggih dan maju ini. Perubahan dunia yang berputar dan melaju tanpa henti ini telah memberikan dampak terhadap perubahan-perubahan dalam segala dimensi sosial masyarakat. Seperti fenomena munculnya berbagai paham baru yang cenderung bertolak belakang dengan manhaj salaf ash-sholih, bahkan keluar dari akidah ahli sunnah wa aL Jama’ah yang membingungkan umat sehingga tidak tahu harus kemana mereka berkiblat.

Fenomena demikian mengharuskan kita untuk menjawab tantangan zaman dengan tetap berpedoman pada prinsip;

 

أَلْمُحَافَظَةُ عَلَى الْقَدِيْمِ الصَّالِحِ وَالْأخْدُ بِالْجَدِيْد الْأَصْلَحِ

“ Mempertahankan konsep lama yang maslahat dan mengadopsi konsep baru yang lebih maslahat”

 

Imam Malik, salah satu  imam madzhab dalam fiqih mengatakan:

 

لاَ يَصْلُحُ أَمْرُ هَذِهِ الْأُمَّةِ إِلاَّ بِمَا صَلُحَ بِهِ أَوَائِلُهَا

“Tidak akan pernah jaya suatu umat, kecuali dengan melakukan sesuatu yang mengantarkan para pendahulunya pada puncak kejayaan”

           

 Selain berdakwah dengan menggunakan lisan, tidak kalah pentingnya adalah berdakwah menggunakan tulisan, karena berdakwah dengan cara seperti ini bisa menutupi dan melengkapi kekurangan pada dakwah dengan lisan.

            Budaya tulis menulis itu sangatlah penting dan terkadang hukumnya wajib, budaya ini dimulai setelah kurun sahabat dan telah mengantarkan generasi terdahulu mencapai pada puncak kejayaannya, Imam Ibnu Hajar Al-Haitami berkata:

 

أَلتَّأْلِيْفُ فِيْ العُلُوْمِ الْوَاجِبَةِ مِنَ الْبِدَعِ الْوَاجِبَةِ الَّتِيْ حَدَثَتْ بَعْدَ عُصْرِ الصًّحَابَةِ

وَإِذَا وَجَبَتْ كِتَابَةُ الْوَثَائِقِ لِحِفْظِ الْحُقُوْقِ فَالْعِلْمُ أَوْلَى

“Tulis menulis, karang mengarang yang berkenaan dengan ilmu-ilmu yang wajib adalah termasuk dari bagian dari bid’ah yang dihukumi wajib yang terjadi setelah kurun para sahabat.Jika menulis surat-surat bukti kepemilikan saja wajib dilakukan demi menjaga hak-hak perorangan, apalagi menulis ilmu pengetahuan.

            Dengan terbitnya buku empat buku yang menjelaskan dasar –dasar amaliyah NU, yang berjudul;

        Awas Bahaya, mengkafirkan sesama muslim

        Fiqh Tawassul

        Fiqh tabarruk

        Ziaroh Makam Nabi, para wali dan situs-situs bersejarah

 

 yang diterbitkan Pimpinan Cabang Lajnah Ta’lif Wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU) Jombang, kami merasa bersyukur dan bangga atas terbitnya buku tersebut. Disaat   banyaknya faham dan aliran yang menyimpang, serta maraknya buku-buku yang menggugat amaliya NU ( seperti buku Mantan Kyai NU  menggugat tahlilan, istighotsah dan ziaroh para wali, Mantan Kyai NU menggugat Sholawat dan Dzikir Syirik, dan buku –buku lainnya yang senada) masih ada kader dan tokoh NU yang memperhatikan serta peduli , dengan meluangkan waktunya, mencurahkan fikiran dan tenaganya menjawab tantangan tersebut, kiranya kehadiran buku ini bisa menjadi benteng faham ahlus sunnah wal jama’ah an-Nahdliyyah, serta menjadi pendorong bagi para kader dan tokoh NU untuk gemar menulis.

           

Kami berharap, semoga semangat dan tradisi tulis menulis dikalangan NU terus berkibar, sebab seiring perputaran zaman , NU dituntut untuk bisa menyuguhkan ilmu agama dalam kemasan yang bisa menarik minat masyarakat luas.

      Semoga kehadiran buku ini dapat bermanfaat dan memberikan barokah pada khalayak umum, khusus warga nahdliyyin, serta menjadi benteng faham ahlus sunnah wal jama’ah An-Nahdliyyah .Amin Ya robbal Alamin.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Jombang, 01 April  2011.

 

KH. Abdul Nashir Fattah

 KEHIDUPAN BARZAKH ADALAH KEHIDUPAN YANG NYATA

Kehidupan barzakh adalah kehidupan dalam arti sesungguhnya. Fakta ini adalah kesimpulan yang ditunjukkan oleh ayat-ayat yang jelas dan hadits-hadits populer yang shahih. Kehidupan nyata ini tidak kontradiksi dengan status para makhluk yang telah mati sebagaimana dijelaskan dalam Al Qur’an dalam firman Allah : 

وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِنْ قَبْلِكَ الْخُلْدَ

Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu ( Muhammad).”(Q.S.Al.Anbiyaa`:34)

إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُمْ مَيِّتُونَ
Sesungguhnya kamu akan mati dah sesungguhnya mereka aka mati ( pula ). “(Q.S.Az.Zumar:30)

Pengertian dari pandangan kami tentang kehidupan barzakh sebagai kehidupan nyata maksudnya adalah bukan bentuk kehidupan imajinatif atau fantasi sebagaimana digambarkan sebagian orang kafir yang akal mereka tidak percaya kecuali terhadap hal-hal yang kasat mata, dan menolak hal-hal gaib yang berada di luar kapasitas akal manusia untuk menjelaskannnya dan menyerahkan bentuknya kepada kekuasaan Allah. Berhenti dalam waktu yang pendek untuk berfikir merenungkan pandangan kami mengenai kehidupan barzakh bahwasanya kehidupan ini adalah kehidupan nyata, tidak akan menyisakan sedikitpun kejanggalan hingga bagi orang yang rendah kapasitas pemahaman dan daya rasanya dalam meresapi makna-makna yang terkandung dalam kalimat. Kalimat haqiqiyyah ( yang nyata / sesungguhnya ) tidak lain digunakan untuk menolak yang salah, menepis khayalan dan menyingkirkan fantasi yang kerap kali muncul dalam benak orang yang masih memiliki keraguan tentang situasi kehidupan di alam barzakh, alam akhirah dan alam – alam kehidupan lain seperti pada saat nasyr, dibangkitkan, dikumpulkan dan dihisab.

Pengertian ini dapat dipahami oleh orang Arab yang lugu yang mengetahui bahwa kalimat haqiqi yang dimaksud adalah haqiqah lawan dari angan-angan, fantasi dan imajinasi. Kalimat haqiqiyyah ( yang nyata / sesungguhnya ) berarti bukanlah wahmiyyah ( fantasi ). Inilah maksud sesungguhnya dari pengertian haqiqi dan ini juga pemahaman dan definisi kami menyangkut persoalan kehidupan barzakh. Terdapat banyak hadits dan atsar yang saling menguatkan yang menetapkan bahwa mayit bisa mendengar, merasakan dan mengenal. Baik ia mayit mu’min atau mayit kafir. 

Salah satunya adalah hadits Al Qalib yang terdapat dalam Shahih Al Bukhari dan Shahih Muslim lewat jalur yang bervariasi dari Abu Thalhah, ‘Umar dan putranya, ‘Abdullah :


  أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِأَرْبَعَةٍ وَعِشْرِيْنَ رَجُلاً مِنْ صَنَادِيْدِ قُرَيْشٍ فَأَلْقَوْا فِي طوى مِنْ أَطْوَاِء بَدْرٍ فَنَادَاهُمْ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَسَمَّاهُمْ يَا أَبَا جَهْلٍ بْنَ هِشَامٍ !يَا أُمَيَّةَ بْنِ خَلَفٍ ! يَا عَتَبَةَ بْنَ رَبِيْعَةَ ! يَا شَيْبَةَ بْنَ رَبِيْعَةَ , يَا فُلاَنٍ بْنِ فُلاَنٍ ! أَلَيْسَ قَدْ وَجَدْتُمْ مَا وَعَدَكُمْ رَبُّكُمْ حَقًّا ؟ فَاِنِّيْ قَدْ وَجَدْتُ مَا وَعَدَنِيْ رَبِّّيْ حَقًّا , فَقَالَ عُمَرُ : يَارَسُوْلَ اللهِ ! مَا تَكَلَّمَ مِنْ أَجْسَادٍ لاَ أَرْوَاحَ فِيْهَا ؟ فَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ : وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ مَا أَنْتُمْ بِأَسْمَعَ لِمَا أَقُوْلُ مِنْهُمْ وَلَكِنَّهُمْ لاَ يُجِيْبُوْنَ

 Sesungguhnya Nabi Saw menyuruh mengubur 24 lelaki pembesar Qurays. Mereka dimasukkan ke dalam salah satu lembah yang terdapat di Badar. Lalu beliau memanggil nama-nama mereka. “Wahai Abu Jahl ibnu Hisyam !, wahai Umayyah ibnu Khalaf !, wahai ‘Utbah ibnu Rabi’ah !, wahai Syaibah ibnu Rabi’ah !, wahai fulan ibnu fulan ! Tidakkah kalian dapatkan janji Tuhan terhadap kalian itu benar ? Karena aku sungguh telah mendapatkan janji Tuhanku terhadapku benar adanya.” ‘Umar ibnu Khaththab bertanya, “Wahai Rasulullah !, bukankah jasad-jasad tak bernyawa tidak bisa berbicara ?” “Demi Dzat yang nyawaku berada di tangannya. Kalian tidak lebih mampu mendengar terhadap ucapanku dari pada mereka. Namun mereka tidak mampu menjawab,” jawab Nabi.
Demikianlah hadits ini diriwayatkan oleh Al Bukhari dan Muslim dari haditsnya Ibnu ‘Umar, Al Bukhari dari haditsnya Anas dari Abu Thalhah, dan oleh Muslim dari haditsnya Anas dari ‘Umar. Juga diriwayatkan oleh Al Thabarani dari haditsnya Ibnu Mas’ud dengan isnad shahih dan dari haditsnya ‘Abdullah ibnu Sidan semisal haditsnya Ibnu ‘Umar yang di dalamnya terdapat redaksi sebagai berikut : Para sahabat bertanya :

 
يَارَسُوْلَ اللهِ ! وَهَلْ يَسْمَعُوْنَ ؟ قَالَ : يَسْمَعُوْنَ كَمَا تَسْمَعُوْنَ وَلَكِنْ لاَ يُجِيْبُوْنَ


“Wahai Rasulullah !, apakah mereka bisa mendengar ?” “Mereka bisa mendengar sebagaimana kalian. Tetapi mereka tidak mampu menjawab,” jawab Nabi. Di antaranya lagi adalah hadits yang diriwayatkan oleh Al Bazzar dan dikategorikan shahih oleh Ibnu Hibban dari jalur Isma’il ibnu ‘Abdirrahman Al Sudi dari ayahnya dari Abu Hurairah :


عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وآله وسلم : إِنَّ الْمَيِّتَ لَيَسْمَعُ خِفْقَ نِعَالِهِمْ إِذَا وَلَّوْا مُدْبِرِيْنَ


Dari Nabi Saw : ”Sesungguhnya mayit mampu mendengar suara sandal mereka ketika mereka pergi meninggalkan kuburan.”


Ibnu Hibban juga meriwayatkan dari jalur Muhammad ibnu ‘Amr dari Abu Salamah dari Abu Hurairah dari Nabi Saw semisal hadits di atas dalam hadits yang panjang.  Al Bukhari dalam kitab Shahihnya mengatakan “Baabu Al Mayyiti Yasma’u Khafqa Al Ni’aali”. Selanjutnya ia meriwayatkan dari Anas dari Nabi Saw, beliau bersabda

اَلْعَبْدُ إِذَا وُضِعَ فِيْ قَبْرِهِ وَتَوَلَّى وَذَهَبَ أَصْحَابُهُ حَتَّى إِنَّهُ لَيَسْمَعُ قَرْعَ نِعَالِهِمْ أَتَاهُ مَلَكَانِ فَأَقْعَدَاهُ


Jika seorang hamba sudah diletakkan dalam kuburannya dan para sahabatnya telah meniggalkan kuburan hingga ia mendengar bunyi sandal mereka maka akan datang kepadanya dua malaikat lalu keduanya mendudukkannya dst…

Al Bukhari menyebutkan hadits ini dalam Su’aali Al Qabri ( pertanyaan qubur ). Muslim juga meriwayatkan hadits ini. Keterangan bahwa mayit bisa mendengar suara sandal terdapat dalam beberapa hadits. Di antaranya beberapa hadits yang menjelaskan pertanyaan kubur yang jumlahnya banyak dan tersebar. Dalam beberapa hadits ini terdapat keterangan yang jelas akan adanya pertanyaan kedua malaikat terhadap mayit dan jawaban mayit dengan jawaban sesuai yang dengan keadaannya; bahagia atau celaka. Di antaranya lagi ajaran yang disyari’atkan Nabi untuk ummatnya yaitu memberi salam dan berdialog dengan penghuni kubur dengan ungkapan : Assalamu’alaikum, wahai para penghuni kawasan kaum mu’minin. 

Dalam pandangan Ibnu Al Qayyim ungkapan di atas ditujukan untuk orang yang mendengar dan berakal. Seandainya tidak demikian berarti ungkapan ini sama dengan berbicara dengan obyek yang tidak ada dan benda mati. Para ulama generasi salaf sendiri telah menetapkan konsensus bahwa mayit bisa mendengar. Terdapat atsar-atsar mutawatir yang bersumber dari mereka bahwa mayit mengetahui kunjungan orang hidup dan merasa berbahagia karenanya. Selanjutnya Ibnu Al Qayyim menyebutkan sejumlah atsar dalam Kitaburruh. Maka tela`ahlah!

 Saya katakan bahwa dalam topik ini ‘Abdu Al Razaq telah meriwayatkan sebuah hadits dari Zaid ibnu Aslam, ia berkata, “Abu Hurairah dan kawannya berjalan melewati kuburan.” “Berikan salam,” kata Abu Hurairah. “Apakah saya memberi salam kepada kuburan,” sanggah kawannya. “Jika mayit dalam kuburan ini pernah sekali melihatmu suatu hari di dunia maka sesungguhnya ia mengenalmu sekarang.” HR Abdu Al Razaq dalam Al Mushannaf vol. III hlm. 577.

Apa yang telah saya kemukakan di atas adalah aqidah generasi salaf shalih semoga Allah meridloi mereka semua. Yaitu golongan Ahlussunnah wal jama’ah. Maka saya tidak mengerti mengapa mereka yang mengklaim pengikut madzhab salaf lupa akan kenyataan ini.
Dalam Kitaburruh, Al Syaikh Ibnu Al Qayyim berbicara panjang lebar mengenai kehidupan mayit dengan keterangan yang memuaskan dan memadai. Dan di sini kami akan mengutip fatwa agung Syaikhil Islam Al Imam Ibnu Taimiyyah mengenai topik ini sebagaimana tercantum dalam Al Fataawaa Al Kubraa.

 Ibnu Taimiyyah ditanya mengenai orang-orang yang masih hidup jika berziarah kepada orang-orang mati. Apakah mereka ini mengetahui orang-orang yang masih hidup menziarahi mereka ? Dan apakah mereka mengetahui jika ada anggota keluarganya atau orang lain yang mati?

Ibnu Taimiyyah menjawab, “Alhamdulillah. Betul mereka mengetahui. Dalam beberapa atsar dijelaskan bahwa mereka saling bertemu dan saling bertanya dan amal perbuatan orang-orang yang masih hidup disampaikan kepada mereka. Sebagaimana riwayat Ibnu Al Mubarak dari Abu Ayyub Al Anshari, ia berkata, “Jika nyawa seorang mu’min dicabut maka rahmat dari para hamba Allah akan menyambutnya sebagaimana mereka menyambut pemberi kabar suka cita di dunia. Mereka akan mendatanginya dan bertanya kepadanya. Sebagian berkata kepada yang lain, “Lihatlah saudara kalian sedang beristirahat karena ia sebelumnya mengalami penderitaan yang berat.” “Kemudian mereka mendatangi yang baru mati tersebut dan menanyakan apa yang dilakukan fulan dan apa yang dikerjakan fulanah dan apakah ia sudah menikah dst…”
Adapun bukti bahwa mayit mengenal orang hidup yang menziarahi kuburnya maka terdapat dalam haditsnya Ibnu Abbas, ia berkata, “Rasulullah Saw bersabda

 
مَا مِنْ أَحَدٍ يَمُرُّ بِقَبْرِ أَخِيْهِ الْمُؤْمِنِ كَانَ يَعْرِفُهُ فِي الدُّنْيَا فَيُسَلِّمُ عَلَيْهِ ِإلاَّ عَرَفَهُ وَرَدَّ عَلَيْهِ السَّلاَمَ

 .
Tidak seorang pun yang melewati kuburan saudaranya yang mu’min yang dikenalnya semasa di dunia lalu ia memberi salam kepada saudaranya itu kecuali kecuali saudaranya tersebut mengenalnya dan membalas salamnya.”

 Ibnu Al Mubarak mengatakan bahwa hadits ini terbukti dari Nabi dan dikategorikan shahih oleh ‘Abdul Haqq penyusun Al Ahkaam. ( Majmuu’u Al Fataawaa Al Syaikhi Ibnu Taimiiyah vol. XXIV hlm. 331 ).

Pada kesempatan lain, Ibnu Taimiyyah ditanya “apakah mayit bisa mendengar suara orang yang berziarah kepadanya dan dapat melihat sosoknya ? Apakah ruh mayit pada saat itu dikembalikan ke dalam jasadnya atau ruh itu terbang di atas kuburan pada saat itu dan saat yang lain ? “

Beliau menjawab : “Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Betul, secara umum mayit mampu mendengar sebagaimana ditetapkan dalam Shahil Al Bukhari dan Shahih Muslim dari Nabi Saw bahwa beliau bersabda :


يَسْمَعُ قَرْعَ نِعَالِهِمْ حِيْنَ يُوَلُّوْنَ عَنْهُ


Mayit mendengar suara sandal mereka saat mereka pergi meninggalkan kuburan.”

Selanjutnya Ibnu Taimiyyah menyebutkan beberapa hadits dalam konteks ini kemudian berkata, “Nash-nash ini dan yang semisalnya menjelaskan bahwa secara umum mayit dapat mendengar suara orang hidup. Kemampuan mendengar ini tidak harus selamanya tapi pada satu kesempatan ia mendengar dan dalam kesempatan lain tidak. Sebagaimana dialami orang yang hidup di mana terkadang ia mendengar ucapan orang yang mengajaknya berbicara dan terkadang tidak mampu mendengarnya karena ada sesuatu yang menghalangi pendengaran. Kemampuan mendengar ini adalah kemampuan mendengar yang bersifat kognitif ( sam’a idraak ) yang tidak ada konsekuensi mendapat balasan dan juga bukan kemampuan mendengar yang ditiadakan dengan ayat :


إ
إِنَّكَ لا تُسْمِعُ الْمَوْتَى وَلا تُسْمِعُ الصُّمَّ الدُّعَاءَ إِذَا وَلَّوْا مُدْبِرِينَ
”Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang yang mati mendengar dan ( tidak pula ) menjadikan orang-orang yang tuli mendengar panggilan, apabila mereka telah berpaling membelakang. ” ( Q.S.An.Naml : 80 )

Karena yang ditiadakan dalam ayat ini adalah mendengar dalam arti menerima dan mematuhi apa yang didengar. Sebab Allah telah menjadikan orang kafir seperti mayit yang tidak mampu menjawab orang yang memanggilnya dan seperti binatang ternak yang mendengar suara tapi tidak mampu memahami maksudnya. Mayit meskipun ia mendengar ucapan dan mengerti maksudnya namun ia tidak mampu menjawab panggilan orang yang memanggil dan tidak bisa mematuhi perintah dan larangannya karena ia tidak memperoleh manfaat dengan adanya perintah dan larangan. Demikian pula orang kafir, ia tidak memperoleh manfaat dengan adanya perintah dan larangan meskipun ia mendengar seruan ( khithab ) dan mengerti maksudnya sebagaimana firman Allah :

 وَلَوْ عَلِمَ اللَّهُ فِيهِمْ خَيْرًا لأسْمَعَهُمْ


Kalau kiranya Allah mengetahui kebaikan ada pada mereka, tentulah Allah menjadikan mereka dapat mendengar. ” ( Q.S.Al.Anfaal : 23 )

 Mengenai masalah penglihatan mayit maka dalam hal ini telah diriwayatkan beberapa atsar dari ‘Aisyah dan sumber lain.

 Adapun pertanyaan seseorang apakah ruh mayit pada saat itu dikembalikan ke dalam jasadnya atau ruh itu terbang di atas kuburan pada saat itu dan saat yang lain ? Maka jawabannya adalah bahwa ruh tersebut pada saat itu dikembalikan ke dalam badannya sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits dan ruh itu juga bisa dikembalikan ke dalam jasad pada saat lain.

 Saat ruh dikembalikan ke dalam jasad maka ia bersatu dengan jasad tersebut pada waktu yang telah dikehendaki Allah. Bersatunya ruh dengan jasad dalam waktu sekejap itu seperti turunnya malaikat, munculnya sinar matahari dan terjaganya orang yang tidur.
Dalam beberapa atsar disebutkan bahwa ruh-ruh itu berada di halaman kuburan. Mujahid mengatakan bahwa ruh-ruh itu berada di halaman kuburan selama tujuh hari sejak mayit dikubur dan selama waktu itu pula ruh-ruh itu tidak meninggalkan mayit. Hal ini terjadi tidak setiap waktu hanya kadang-kadang. Malik ibnu Anas menyatakan, “Sampai kepadaku informasi bahwa ruh-ruh itu bergerak bebas pergi ke manapun suka.” Wallahu a’lam. ( Majmu’u fataawaa Al Syaikhi Ibni Taimiyyah vol. XXIV hlm 362 ).

Dalam keterangan lain Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Adapun keterangan yang disampaikan Allah bahwa orang yang mati syahid itu hidup dan mendapat rizki dan keterangan yang terdapat dalam hadits bahwa arwah para syuhada’ itu masuk surga maka beberapa kelompok ulama berpendapat bahwa hal itu berlaku khusus untuk para syuhada’ bukan para shiddiqin dan yang lain. Pendapat shahih yang menjadi pegangan para imam dan mayoritas ahlussunnah waljamaa’ah bahwa hidup, mendapat rizki dan masuknya arwah ke dalam surga tidak hanya berlaku untuk para syuhada’ sebagaimana ditunjukkan oleh nash-nash yang ada. Para syuhada’ disebut secara khusus karena orang mengira mereka mati akhirnya ia menolak untuk berjihad. Maka Allah mengabarkan hidupnya para syuhada’ agar faktor penghalang untuk maju berjihad dan mencari mati syahid tidak ada. Sebagaimana Allah melarang membunuh anak-anak dengan alasan khawatir jatuh miskin. Karena alasan inilah yang mendorong terjadinya pembunuhan anak-anak pada era jahiliyyah, meskipun pembunuhan ini tidak diperbolehkan walaupun alasan akan jatuh miskin tidak ada. ( Majmu’u fataawaa Al Syaikhi Ibni Taimiyyah vol. XXIV hlm 332 ).

 

 

 

 

 

JANGAN MENYAKITI MAYIT AGAR KAMU TIDAK DISAKITI OLEHNYA :

Rasulullah Saw melihat seorang lelaki duduk bersandar di atas kuburan lalu beliau menegur lelaki tersebut

 :
لاَ تُؤْذِ صَاحِبَ الْقَبْرِ

Jangan engkau sakiti penghuni kuburan.”

Hadits ini disebutkan oleh Al Majd Ibnu Taimiyyah dalam Al Muntaqaa ( vol II hlm 104 ) dan menisbatkannya kepada Ahmad dalam Al Musnad. Al Hafid Ibnu Hajar juga menyebut hadits ini dalam Fathul Bari vol III hlm 187 dan mengatakan bahwa isnadnya shahih.

 Al Thahawi meriwayatkan hadits ini dalam Ma’aani Al Aatsaar ( vol I hlm 296 ) dari haditsnya Ibnu ‘Amr ibnu Hazm dengan redaksi :

 
رَآنِيْ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم عَلَى قَبْرٍ , فَقَالَ : اِنْزِلْ عَنِ اْلَقْبِر لاَ تُؤْذِ صَاحِبَ اْلقَبْرِ وَلاَ يُؤْذِيْكَ

 .
Rasulullah Saw melihatku berada di atas kuburan lalu beliau berkata, “Turunlah dari kuburan. Jangan engkau sakiti penghuni kubur agar ia tidak menyakitimu.” Majma’u Al Zawaid vol III hlm 61. 

 

 

ARTI KEHIDUPAN BARZAKH :

Perlu kami jelaskan kepada semua orang arti dari kehidupan orang mati bahwa kehidupan ruh ini adalah kehidupan barzakh yang tidak sama dengan kehidupan kita ini. kehidupan orang mati adalah kehidupan khusus yang layak dengan kondisi mereka dan dengan alam yang menjadi tempat mereka. Namun harus kami jelaskan kepada semua orang bahwa kehidupan tersebut tidak seperti kehidupan kita. Karena kehidupan kita sangat kurang, sangat hina, sangat sempit dan sangat lemah.

 Dalam kehidupan dunia aktivitas manusia itu berkisar antara ibadah, melakukan kebiasaan, mematuhi perintah Allah, berbuat maksiat, dan mengerjakan kewajiban-kewajiban yang beragam untuk dirinya, keluarganya dan Tuhannya. Dalam kehidupan dunia manusia terkadang dalam kondisi suci dan terkadang sebaliknya. Kadang berada di masjid dan kadang berada di kamar mandi. Dan ia tidak mengetahui dalam kondisi apa akhir dari kehidupannya. Jarak antara surga dan dirinya terkadang cuma satu hasta kemudian berubah drastis menjadi penghuni neraka dan kadang yang terjadi sebaliknya. Adapun dalam kehidupan barzakh maka jika manusia itu termasuk orang yang beriman maka ia telah berhasil melewati jembatan ujian yang tidak mampu bertahan di atasnya kecuali orang yang beriman. Selanjutnya ia sudah terlepas dari taklif dan berubah menjadi ruh yang bercahaya, suci, berfikir dan bebas menjelajahi kerajaan besar Allah. Mereka tidak pernah mengalami kesusahan, kesedihan, penderitaan dan kegelisahan. Karena di alam barzakh tidak ada dunia, pekarangan, emas dan perak. Juga tidak ada rasa dengki, jahat dan dendam. 

Jika manusia itu bukan manusia yang beriman maka nasibnya berlawanan dengan manusia yang mu’min

 

KEISTIMEWAAN-KEISTIMEWAAN PARA NABI DI ALAM BARZAKH

Dalam alam barzakh para nabi memiliki keistimewaan-keistimewaan yang tidak dimiliki manusia lain. Seandainya selain para nabi memeliki persamaan dalam sebagian keistimewaan tersebut dengan para nabi maka persamaan ini bersifat relatif. Dan keistimewaan tetap hanya dimiliki para nabi dipandang dari dua aspek : Pertama, dari aspek keaslian atau orisinilitas dan kedua, dari aspek kesempurnaan.
Berikut sebagian keistimewaan para nabi AS :

KESEMPURNAAN KEHIDUPAN MEREKA AS

 

Telah kami sebutkan sebelumnya bahwa kehidupan barzakh adalah kehidupan nyata dan bahwa mayit mampu mendengar, merasakan, dan mengenal baik ia mu’min atau kafir. Telah kami sebutkan pula bahwa hidup, rizqi dan masuknya para arwah ke surga tidak hanya berlaku untuk orang yang mati syahid sebagaimana ditunjukkan oleh nash-nash yang ada. Pandangan ini adalah pandangan shahih yang dipegang oleh para imam dan mayoritas ahlussunnah. Berangkat dari fakta ini maka mengatakan para nabi hidup itu termasuk terlalu banyak berbicara karena hal ini sudah jelas sebagaimana keberadaan matahari, yang tidak memerlukan penetapan. Justru yang benar adalah kita menetapkan bahwa kehidupan para nabi lebih lengkap, lebih agung, lebih sempurna dan lebih mulia. Demikian pula kehidupan manusia di atas permukaan bumi ini yang memiliki derajat, status, dan level yang berlainan. Sebagian mereka ada yang hidup tetapi seperti mayat. Allah telah berfirman dalam menggambarkan golongan ini :


  لَهُمْ قُلُوبٌ لا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالأنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

 .”….mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami ( ayat-ayat Allah ) dan mereka mempunyai mata ( tetapi ) tidak dipergunakannya untuk melihat ( tanda-tanda kekuasaan Allah ) dan mereka mempunyai telinga ( tetapi ) tidak dipergunakannya untuk mendengar ( ayat-ayat Allah ). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi.Mereka itulah orang-orang yang lalai. ” (Q.S.Al.A`raaf : 179 )

 Sebagian disebutkan Allah sebagai berikut :

أَلا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ
Ingatlah, sesungguhnya wali-wali llah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak ( pula ) mereka bersedih hati. ” ( Q.S.Yunus : 62)
Sebagian lagi :

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ
Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman.”

 ( Q.S.Al.Mu minuun : 1 )

Sebagian lagi :


  إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَلِكَ مُحْسِنِينَكَانُوا قَلِيلا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ وَبِالأسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
Sesungguhnya mereka sebelum itu ( di dunia ) adalah orang-orangyang berbuat baik; mereka sediki sekali tidur di waktu malam; Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun ( kepada Allah ). ” ( Q.S.Adz.Dzaariyaat : 16-18 )

Demikianlah kehidupan barzakh yang memilki derajat, level dan status yang bervariasi.


وَمَنْ كَانَ فِيْ هَذِهِ أَعْمَى فَهُوَ فِي اْلآخِرَةِ أَعْمَى وَأَضَلُّ سَبِيْلاً


Dan barangsiapa yang buta ( hatinya ) di dunia ini, niscaya di akhirat ( nanti ) ia akan lebih buta ( pula ) dan lebih tersesat dari jalan ( yang benar ).”

 Adapun para nabi AS maka sesungguhnya kehidupan, rizqi, pengetahuan, pendengaran, persepsi, dan perasaan mereka lebih sempurna,lebih lengkap dan lebih tinggi melebihi yang lain. Dalilnya adalah firman Allah tentang orang-orang yang mati syahid :

وَلا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ

Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki.( Q.S.Ali Imran : 169)

Jika arti kehidupan adalah kekekalan nyawa yang tidak sirna dan tidak hancur maka tidak ada kelebihan yang layak disebut dan dipopulerkan untuk orang mati syahid. Karena semua nyawa anak cucu Adam itu kekal tidak akan sirna dan hancur. Ini adalah pandangan yang benar yang menjadi pegangan para ulama muhaqqiqun sebagaimana dijelaskan secara mendalam oleh Al Syaikh Ibnu Al Qayyim dalam Kitaburruh. Berarti harus ada keistimewaan menonjol yang membuat para syuhada’ mengungguli selain mereka. Jika tidak demikian, maka menyebutkan kehidupan mereka tidak ada gunanya sama sekali. Apalagi Allah sendiri melarang kita mengatakan bahwa mereka telah mati :

وَلا تَقُولُوا لِمَنْ يُقْتَلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتٌ بَلْ أَحْيَاءٌ وَلَكِنْ لا تَشْعُرُونَ
Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, ( bahwa mereka itu ) mati; bahkan ( sebenarnya ) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya. “

( Q.S.Al.Baqarah : 154 )

Karena itu kami katakan bahwa kehidupan mereka harus lebih sempurna dan lebih mulia dari pada yang lain. Pandangan ini adalah pandangan yang didukung oleh nash-nash literal. Arwah para syuhada’ itu mendapat rizqi bisa mendatangi sungai-sungai surga dan menyantap buah-buahan surga sebagaimana dijelaskan Allah :
عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُوْنَ

Perasaan mereka terhadap makanan, minuman dan kenikmatan adalah perasaan yang sempurna dengan kesadaran sempurna dan kelezatan yang juga sempurna serta kesenangan yang sesungguhnya sebagaimana disebutkan dalam hadits :

“Ketika mereka merasakan enaknya makanan dan minuman mereka serta bagusnya tempat istirahat mereka, mereka berkata, “Mudah-mudahan saudara-saudara kami mengetahui perlakukan Allah terhadap kami.” Ibnu Katsir mengatakan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad.

Arwah para syuhada’ memiliki aktivitas yang lebih besar dan luas dibanding arwah lain. Arwah tersebut bebas menjelajahi surga sesuka mereka kemudian pulang untuk tinggal di dalam lampu-lampu yang terletak di bawah ‘arsy. ( Demikian dikutip dari Hadits Shahih ).

Arwah para syuhada’ mampu mendengar ucapan dan memahami pembicaraan. Dalam Hadits Shahih disebutkan :

 “Sesungguhnya Allah bertanya kepada mereka, “Apa yang kalian inginkan ?” Mereka menjawab ingin ini dan itu. Pertanyaan pun diajukan kembali yang dijawab mereka lagi. Selanjutnya mereka meminta untuk bisa kembali ke dunia untuk berjihad kemudian meminta agar Allah menyampaikan pesan dari mereka untuk saudara-saudara mereka, yang berisi informasi mengenai penghormatan yang diberikan Allah untuk mereka. “Aku akan menyampaikannya dari kalian.” Jawab Allah. 

Jika kehidupan semacam ini dialami para syuhada’ maka secara otomatis dialami pula oleh para nabi dilihat dari dua aspek :

 Pertama, kehidupan seperti di atas adalah level mulia yang diberikan kepada orang yang mati syahid sebagai bentuk kemuliaannya padahal tidak ada level yang lebih tinggi dari level para nabi. Tidak disangsikan lagi bahwa keadaan para nabi lebih tinggi dan sempurna dari pada keadaan semua syuhada’. Maka mustahil jika kesempurnaan diperoleh para syuhada’ tapi tidak didapat oleh para nabi. Lebih-lebih kesempurnaan kehidupan seperti ini yang menetapkan bertambahnya kedekatan, kenikmatan dan kesenangan dengan Dzat Yang Maha Tinggi. 

Kedua, level ini diperoleh para syuhada’ sebagai balasan dari jihad mereka dan pengorbanan jiwa mereka kepada Allah SWT sedang nabi adalah orang yang menetapkan kita untuk berjihad, mengajak dan membimbing kita untuk melakukannya atas izin dan taufik Allah. Beliau bersabda :


مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ


“Barangsiapa menetapkan perilaku yang baik maka ia memperoleh pahala darinya dan pahala orang yang melakukannya sampai hari kiamat.”


Beliau bersabda

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ اْلأَجْرِ مِثْلَ أُجُوْرِ مَنْ يَتَّبِعُهُ لاَ يَنْقُصُهُ ذَلِكَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ
شَيْئًا , وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ اْلاِثْمِ مِثْلَ آثَامِ مَنْ يَتَّبِعُهُ لاَ يَنْقُصُهُ ذَلِكَ مِنْ آثَاِمِهَم شَيْئًا


“Barangsiapa yang mengajak menuju hidayah maka ia memperoleh pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya. Pahala itu tidak mengurangi sedikitpun pahala mereka yang mengikutinya. Barangsiapa mengajak menuju kesesatan maka ia menanggung dosa seperti dosa-dosa orang yang menirunya. Dosa itu itu tidak mengurangi sedikitpun dosa-dosa mereka.”

 Hadits-hadits shahih tentang kedua hal ini ( kandungan dua hadits di atas ) banyak dan populer. Setiap pahala yang diraih oleh orang yang mati syahid otomatis diraih oleh nabi karena melakukan apa yang dilakukan orang yang mati syahid. Kehidupan barzakh yang khusus untuk orang yang mati syahid adalah menambah memuliakannya dengan pahala seperti ini sebagai imbalan dari amal perbuatannya di bawah panji Nabi Saw dan kematiannya secara syahid di jalan Allah dan Nabi. Maka nabi juga memperoleh kehidupan seperti yang didapat orang yang mati syahid. Malah kehidupan yang diperoleh nabi lebih agung karena keunggulannya atas orang yang mati syahid. 

 


            Kehidupan barzakh yang hakiki yang dialami para nabi khususnya Nabi Muhammad Saw terlalu tinggi dan sempurna untuk dibayangkan orang yang bodoh atau tolol. Yaitu kita membayangkan mereka hidup sebagaimana kita. Mereka makan dan minum karena membutuhkan makanan dan minuman, dan mereka kencing dan berak karena terdesak untuk melakukannya, dan keluar dari kuburan mereka untuk menghadiri majlis-majlis dzikir dan tempat-tempat berkumpul untuk membaca Al Qur’an serta berpartisipasi beserta ummat dalam kebahagiaan, kesedihan, dan perayaannya lalu mereka kembali ke dalam kuburan mereka yang berada di dalam bumi pada liang sempit yang di atasnya adalah tanah itu. Jika kehidupan para nabi dideskripsikan seperti ini maka tidak ada sedikitpun kemuliaan atau keutamaan malah deskripsi semacam ini adalah penghinaan sesungguhnya yang seseorang tidak rela hal itu melekat untuk pengikut atau pelayannya lebih-lebih jika Allah memberikannya kepada makhluk terbaik dan hamba-Nya yang paling agung. Hal ini jelas mustahil seribu kali mustahil.

            Kehidupan barzakh hakiki adalah kesadaran sempurna, persepsi sempurna dan pengetahuan yang benar. Kehidupan barzakh hakiki adalah kehidupan yang suci dan shalih : berdo’a, bertasbih, mengesakan Allah, mengumandangkan pujian dan sholat. 

 

 

 

 

SHALAT PARA NABI DI DALAM KUBURAN MEREKA DAN AKTIVITAS IBADAH LAIN

Salah satu buah kehidupan hakiki dalam alam barzakh adalah para nabi melakukan sholat di dalam kuburan mereka dengan shalat yang sesungguhnya bukan bersifat fantasi atau imajinasi. Ada beberapa hadits mengenai topik ini : 


Dari Anas ibnu Malik, ia berkata, “Rasulullah Saw bersabda :

َاْلأَنْبِيَاءُ أَحْيَاءٌ فِيْ قُبُوْرِهِمْ يُصَلُّوْنَ


“Para nabi itu hidup dalam kuburan mereka dalam keadaan mengerjakan sholat.”

HR Abu Ya’la dan Al Bazzaar. Para perawi Abu Ya’la tsiqat. Demikian dalam Majma’ Al Zawaaid vol. VIII hlm. 211.


Dalam bagian khusus menyangkut topik ini Al Imam Al Hafidh Al Baihaqi berkata :
Dalam salah satu riwayat dari Anas ra dari Nabi Saw, beliau bersabda : 


إِنَّ اْلأَنْبِيَاءَ لاَ يُتْرَكُوْنَ فِي قُبُوْرِهِمْ بَعْدَ أَرْبَعِيْنَ لَيْلَةً , وَلَكِنَّهُمْ يُصَلُّوْنَ بَيْنَ يَدَيِ اللهِ تَعَالَى حَتَّى  يُنْفَخُ فِي الصُّوْرِ

 .
“Sesungguhnya para nabi tidak dibiarkan dalam kuburan mereka setelah empat puluh malam. Namun mereka melaksakan shalat menghadap Allah sampai sangkakala ditiup.” 


            Al Baihaqi mengatakan bahwa jika hadits ini shahih dengan redaksi demikian maka yang dimaksud adalah – wallahu a’lam – tidak dibiarkan tidak mengerjakan sholat kecuali selama masa 40 malam kemudian selanjutnya mereka shalat menghadap Allah. Menurut Al Baihaqi banyak bukti dari hadits-hadits shahih yang menunjukkan para nabi itu hidup sesudah kematian mereka.
            Kemudian Al Baihaqi menyebutkan sebuah hadits dengan sanad-sanadnya yang shahih :


مَرَرْتُ بِمُوْسَى وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّيْ فِي قَبْرِهِ


“Saya melewati Musa saat ia berdiri mengerjakan sholat di dalam kuburannya.”
Dan hadits :


قَدْ رَأَيْتُنِيْ فِيْ جَمَاعَةٍ مِنَ اْلأَنْبِيَاءِ فَإِذًا مُوْسَى قَائِمٌ يُصَلِّى وَإِذًا رَجُلٌ ضَرْبٌ جَعْدٌ كَأَنَّهُ مِنَ رِجَالِ شَنُوْءَةَ , وَإِذًا عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ قَائِمٌ يُصَلِّى أَقْرَبُ النَّاسِ بِهِ شِبْهًا عُرْوَةُ بْنُ مَسْعُوْدٍ الثَّقَفِيْ , وَإِذًا إِبْرَاهِيْمُ قَائِمٌ يُصَلِّى أَشْبَهُ النَّاسِ بِهِ صَاحِبُكُمْ يَعْنِىْ نَفْسَهُ فَحَانَتِ الصَّلاَةُ فَأَمَّمْتُهُمْ فَلَمَّا فَرَغْتُ مِنَ الصَّلاَةِ قَالَ قَائِلٌ لِيْ : يَامُحَمَّدُ ! هَذَا مَالِكٌ صَاحِبُ النَّارِ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ , فَاْلتَفَتُّ إِلَيْهِ فَبَدَأَنِيْ بِالسَّلاَمِ


“Sungguh saya telah melihat diri saya dalam rombongan para nabi. Tiba-tiba bertemu Nabi Musa yang sedang berdiri mengerjakan sholat dan ternyata ia seorang lelaki berbadan kurus ( dlorbun ) dan berambut keriting seperti lelaki Arab. Tiba-tiba bertemu Nabi Isa yang sedang berdiri mengerjakan sholat. Orang yang paling mirip dengannya adalah ‘Urwah ibnu Mas’ud Al Tsaqafi. Dan tiba-tiba bertemu Nabi Ibrahim yang sedang berdiri mengerjakan sholat. Orang yang paling mirip dengannya adalah teman kalian – maksudnya beliau sendiri -. Saat waktu sholat tiba saya menjadi imam mereka. Ketika saya selesai sholat seseorang berkata kepadaku, “Wahai Muhammad !, ini adalah malaikat Malik penjaga nereka. Berilah salam kepadanya ! Saya pun menoleh kepadanya namun ia mendahului saya memberikan salam.”
Saya katakan, “Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim dari Anas vol. II hlm. 268 dan oleh Abdul Razq dalam Al Mushannaf vol. III hlm. 577.


Kata dlorbun dalam hadits berarti berbadan kurus.
Dalam Dalaa’ilu Al Nubuwwah Al Baihaqi mengatakan bahwa dalam hadits shahih dari Sulaiman Al Taimi dan Tsabit Al Bunani dari Anas ibnu Malik bahwa Rasulullah Saw bersabda :

 
أَتَيْتُ عَلَى مُوْسَى لَيْلَةَ أُسْرِىَ بِيْ عِنْدَ الْكَثِيْبِ اْلأَحْمَرِ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِيْ قَبْرِهِ


“Saya datang menemui Musa pada malam saat aku diisra’kan di dekat bukit pasir merah. Saat itu ia sedang berdiri melakukan sholat di dalam kuburnya.”

Saya katakan bahwa hadits ini shahih dan diriwayatkan oleh Muslim vol. II hlm 268.
            Adalah fakta yang tidak bisa disangkal bahwa faktor diringankannya shalat yang diwajibkan kepada kita dari 50 shalat menjadi 5 shalat adalah Nabi Musa yang nota bene seorang mayit yang telah menyampaikan risalah Tuhannya dan telah berada di sisi-Nya dalam golongan Rafiq A’la ( sahabat yang memiliki derajat yang tinggi, Syuhada’, shalihin dan shiddiqin). Meskipun demikian, ia menjadi penyebab sampainya kebaikan terbesar untuk ummat Muhammad saat ia meminta agar Nabi Muhammad memohon pertimbangan kepada Tuhannya.

“Mintalah keringanan pada Tuhanmu karena ummatmu tidak akan mampu mengerjakannya,” saran Musa.

Apakah permintaan pertimbangan ini hal yang nyata atau cuma imajinasi ? Apakah dilakukan saat terjaga atau di waktu tidur ? Apakah permintaan pertimbangan ini fakta yang benar atau kebohongan ? Apakah Musa sudah wafat atau beliau masih hidup hingga waktu permintaan pertimbangan itu ? 


Al Hakim meriwayatkan sebuah hadits dan menilainya sebagai hadits shahih, dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: 


أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ عَلَى ثَنِيَةٍ فَقَالَ : مَا هَذَا ؟ قَالُوْا : ثَنِيَّةُ كَذَا وَكَذَا , قَالَ :كَأَنِّيْ أَنْظُرُ إِلَى يُوْنُسَ عَلَى نَاقَةٍ خُطَامُهَا لَيْفٌ وَعَلَيْهِ جُبَّةُ مِنْ صُوْفٍ وَهُوَ يَقُوْلُ : لَبَّيْكَ الَّلهُمَّ لَبَّيْكَ


“Sesungguhnya Rasulullah Saw melintasi jalan di bukit. “Jalan apakah ini ? “ tanya beliau. “Jalan ini dan ini, “ jawab para sahabat. “Saya seperti melihat Yunus sedang naik unta yang tali kekangnya terbuat dari sabut dan ia mengenakan jubah dari bulu sembari berkata, “Aku sambut panggilan-Mu dan siap menerima perintah-Mu ya Allah.”
( Al Durr Al Mantsur vol. IV hlm. 234 ). 


Dalam sebuah hadits lain sebagai berikut : 


أَرَانِيْ لَيْلَةً عِنْدَ الْكَعْبَةِ فَرَأَيْتُ رَجُلاً آدَمَ كَأَحْسَنِ مَا أَنْتَ رَاءٍ مِنْ آدَمِ الرِّجَالِ , لَهُ لَمَّةٌ كَأَحْسَنِ مَا أَنْتَ رَاءٍ مِنَ اللَّمَمِ قَدْ رَجَّلَهَا فَهِيَ تُقَطِّرُ مَاءً مُتَّكِئًا عَلَى رَجُلَيْنِ أَوْ عَلَى عَوَاتِقِ رَجُلَيْنِ يَطُوْفُ بِالْبَيْتِ فَسَأَلْتُ مَنْ هَذَا فَقِيْلَ : هَذَا الْمَسِيْحُ بْنُ مَرْيَمَ .

 

 “Suatu malam ketika berada di dekat Ka’bah saya melihat seorang lelaki berkulit sawo matang. Sepertinya ia adalah lelaki berkulit sawo matang yang pernah engkau lihat. Ia memiliki rambut yang panjang sampai melewati cuping telinga. Sepertinya rambut itu adalah rambut yang panjang sampai melewati cuping telinga yang paling indah yang pernah engkau lihat. Ia menyisir rambut yang panjang sampai melewati cuping telinga tersebut. Rambut itu seperti tetesan-tetesan air. Ia mengelilingi ka’bah ( thawaf ) dengan bersandar pada dua orang lelaki atau pada pundak dua orang lelaki. “Siapakah ia,” tanyaku. Terdengar sebuah jawaban “Ia adalah Al Masih ibnu Maryam.” 

 

Dalam salah satu hadits :  

 

 إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ مَرَّ بَوَادِيَ اْلأَزْرَقِ فَقَالَ : كَأَنِّيْ أَنْظُرُ إِلَى مُوْسَى هَابِطًا مِنَ الثَّنِيَّةِ , وَلَهُ جُؤَارٌ إِلَى اللهِ بِالتَّلْبِيَّةِ ثُمَّ أَتَى عَلَى ثَنِيَّةِ هَرْشَى فَقَالَ : كَأَنِّيْ أَنْظُرُ إِلَى يُوْنُسَ بْنِ مَتَى عَلَى نَاقَةٍ حَمْرَاءَ جَعْدَةٍ عَلَيْهِ جُبَّةٌ مِنْ صُوْفٍ خطام ناقته خلبة وهو يلبي .

 

Nabi melintasi jurang Al Azraq lalu berkata, “Sepertinya saya melihat Musa turun dari jalan bukit. Ia membaca talbiah dengan keras. Kemudian Nabi mendatangi jalan bukit Harsya lalu berkata, ”Sepertinya saya melihat Nabi Yunus bin Mata naik diatas unta merah, ia mengenakan jubah dari bulu, tali kekang untanya…, dan ia membaca talbiyyah ”

 

Dalam hadits yang lain;

َأَنِّيْ أَنْظُرُ إِلَى مُوْسَى وَاضِعًا أُصْبُعَيْهِ فِيْ أُدُنَيْهِ

” Sepertinya saya melihat Nabi Musa meletakkan kedua jarinya pada kedua telinganya”

 

 Semua hadits di atas termaktub dalam Al Shahih dan hadits mengenai Nabi Musa, Nabi ‘Isa, dan shalat para nabi dengan berdiri dengan diimami oleh nabi Muhammad telah disebutkan sebelumnya. Tidak bisa dikatakan bahwa apa yang dialami Nabi Saw cuma sebuah mimpi dan bahwa kalimat ” Araanii ” menunjukkan terjadi pada saat tidur. Karena peristiwa israa’ dan kejadian yang terjadi dalam peristiwa itu menurut pendapat yang shahih yang menjadi acuan jumhur salaf dan khalaf terjadi pada saat terjaga bukan tidur. Seandainya peristiwa israa’ terjadi pada saat tidur pun maka mimpi para nabi adalah sebuah kebenaran. Kalimat Araanii tidak menunjukkan terjadi pada saat tidur dengan bukti kalimat “Raaitunii fi Al Hajar” yang terjadi pada saat terjaga sebagaimana ditunjukkan oleh rangkaian kalimat berikutnya.

 

 

KEKALNYA JASAD PARA NABI AS :

 

Dalam sebuah hadits dari Aus ibnu Aus, Beliau berkata, “Rasulullah Saw bersabda :  

 

 إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمُ الْجُمْعَةِ فِيْهِ خُلِقَ آدَمُ , وَفِيْهِ قُبِضَ , وَفِيْهِ النَّفْخَةُ , وَفِيْهِ الصَّعْقَةُ   فَأَكْثِرُوْا عَلَيّ مِنَ الصَّلاَةِ فِيْهِ , فَإِنَّ صَلاَتَكُمْ مَعْرُوْضَةٌ عَلَيّ َ, قَالُوْا : وَكَيْفَ تُعْرَضُ صَلاَتُنَا عَلَيْكَ وَقَدْ أَرِمْتَ يَقُوْلُوْنَ بَلَيْتَ فَقَالَ : إِنَّ اللهَ حَرَّمَ عَلَى اْلأَرْضِ أَنْ تَأْكُلَ أَجْسَادَ اْلأَنْبِيَاءِ .

 

“Sesungguhnya di antara hari-hari kalian yang paling utama adalah hari Jumu’at. Pada hari itu Adam diciptakan dan wafat, terjadinya tiupan sangkakala dan kematian semua makhluk seusai ditiupnya sangkakala. Maka perbanyaklah membaca shalawat untukku pada hari itu. Karena shalawat kalian disampaikan kepadaku. “Bagaimana mungkin shalawat kami disampaikan kepadamu padahal jasadmu telah hancur?,” tanya para sahabat. “Sesungguhnya Allah mengharamkan bumi untuk menelan jasad para nabi.”

 

Hadits ini diriwayatkan oleh Sa’id ibnu Manshur, Ibnu Abi Syaibah, Ahmad dalam Musnadnya, Ibnu Abi ‘Ashim dalam kitab Al Shalat, Abu Dawud, Al Nasa’i, dan Ibnu Majah dalam  masing-masing Sunan mereka bertiga, Al Thabarani dalam Al Mu’jamnya, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Al Hakim dalam masing-masing Kitab Shahih mereka berlima dan Al Baihaqi dalam Hayaatu Al Anbiyaa’, Syu’abul Iman dan kitab lain karyanya. 

Ketahuilah bahwa hadits “Sesungguhnya Allah mengharamkan bumi untuk menelan jasad para nabi” berasal dari banyak sumber yang dikumpulkan oleh Al Hafidh Al Mundziri dalam sebuah risalah khusus. Dalam Al Targhib wa Al Tarhib ia berkata, “Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dengan isnad yang baik, Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Hibban dalam shahihnya, dan oleh Al Hakim yang menilainya sebagai shahih. Dalam Kitab Al Ruh, mengutip dari Abu ‘Abdillah Al Qurthubi, Ibnu Al Qayyim mengatakan, “Shahih dari Nabi Saw bahwa bumi tidak menelan jasad para nabi dan bahwa beliau Saw berkumpul bersama para nabi pada malam isra’ di Baitul Maqdis dan bersama Nabi Musa secara khusus di langit. Nabi sendiri menyatakan : 

 

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُسَلِّمُ عَلَيْهِ إِلاَّ رَدَّ اللهُ عَلَيْهِ رُوْحَهُ حَتَّى يَرُدُّ عَلَيْهِ السَّلاَمَ

 

“Tidak seorang muslimpun yang memberi salam kepada Nabi Saw kecuali Allah akan mengembalikan nyawa beliau sehingga beliau menjawab salam.”

 

Dan hadits-hadits lain yang secara keseluruhan menyimpulkan kepastian bahwa kematian para nabi dimaksudkan bahwa mereka disamarkan dari pandangan kita meskipun mereka ada dalam keadaan hidup. Seperti halnya para malaikat yang hidup namun kita tidak bisa melihatnya. Pandangan Al Qurthubi telah dikutip dan disetujui oleh Al Syaikh Muhammad Al Safarini Al Hanbali dalam syarh ‘Aqidatu Ahlissunnah sebagai berikut : 

Abdullah Al Qurthubi berkata, “Guru kami Ahmad ibnu ‘Umar Al Qurthubi penyusun Al Mufhim syarh Muslim mengatakan, “Yang menghilangkan kemusykilan ini adalah bahwa kematian bukanlah ketiadaan murni. Kematian adalah peralihan dari satu kondisi ke kondisi lain, dengan bukti bahwa para syuhada’ setelah kematian dan terbunuh, mereka hidup di sisi Allah mendapat rizki dan berbahagia.

 Sedangkan keadaan seperti ini adalah kehidupan mereka yang hidup di dunia. Apabila keadaan kehidupan para syuhada’ seperti di atas, maka para nabi lebih berhak dan lebih utama dengan kehidupan seperti itu. Al Qurthubi mengatakan bahwa jasad para nabi tidak akan hancur. Terdapat informasi shahih dari Jabir bahwa ayahnya dan ‘Umar ibnu Al Jamuh RA yang nota bene termasuk syuhada’ Uhud dan dikuburkan dalam satu liang, bahwa kuburan tersebut terseret banjir namun jasad keduanya ditemukan tetap utuh. Salah satu dari keduanya mengalami luka dan tangannya diletakkan di atas luka tersebut lalu dikubur dalam kondisi demikian. Tangan tersebut lalu disingkirkan dari luka dan dibiarkan terlepas namun tangan itu kembali ke posisi semula. Jarak waktu antara perang Uhud dan ditemukannya jasad keduanya adalah 46 tahun. Saat Mu’awiyah mengalirkan sumber air yang digali di Madinah sekitar 50 tahun seusai perang Uhud dan memindahkan para jenazah, sekop mengenai telapak kaki Hamzah yang membuatnya berdarah dan Abdullah ibnu Haram ditemukan seakan-akan baru dikubur kemarin. Semua penduduk Madinah meriwayatkan bahwa pada masa kekuasaan Al Walid saat tembok maqam Nabi Saw roboh ditemukan kaki ‘Umar ibnu Al Khaththab yang telah terbunuh sebagai syahid. 

 

Al Syaikh Ibnu Taimiyyah menyebutkan bahwa ketika dinding maqam Nabi Saw roboh tampak oleh penduduk Madinah kaki dengan betis dan lutut yang membuat kaget ‘Umar ibnu ‘Abdil Aziz. Kemudian ‘Urwah datang kepadanya dan berkata, “Ini adalah betis dan lutut ‘Umar ibnu Al Khaththab.” Akhirnya ucapan ‘Urwah membuat kesedihan ‘Umar ibnu Abdil Aziz hilang.

Al Imam Al Hujjah Abu Bakr ibnu Al Husain Al Baihaqi telah menyusun risalah khusus mengenai topik ini yang berisi sejumlah hadits yang menunjukkan hidupnya para nabi dan utuhnya jasad mereka. Demikian pula Al Hafidh Al Jalal Al Suyuthi telah menyusun risalah khusus dengan topik serupa.

 

 

KEHIDUPAN KHUSUS NABI MUHAMMAD SAW

Telah nyata bahwa Nabi Muhammad Saw memiliki kehidupan barzakh yang lebih sempurna dan lebih agung melebihi orang lain. Fakta ini diceritakan sendiri oleh beliau. Kehidupan barzakh beliau ini menunjukkan adanya relasi beliau dengan ummat, beliau mengetahui keadaan mereka, melihat amal perbuatan mereka, mendengar ucapan mereka dan menjawab salam mereka. Hadits-hadits menyangkut topik ini banyak jumlahnya.

Di antaranya :– Dari Abdullah ibnu Mas’ud RA dari Nabi Saw :

 إِنَّ لِلَّهِ مَلاَئِكَةً سَيَّاحِيْنَ فِي اْلأَرْضِ يُبَلِّغُوْنِيْ مِنْ أُمَّتِيْ السَّلاَمَ

 

“Sesungguhnya Allah memiliki para malaikat menjelajahi bumi untuk menyampaikan salam ummatku untukku.”

 

Al Mundziri mengatakan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Al Nasa’I dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya. ( dari Al Targhib wa Al Tarhib vol. II hlm. 498 ).

Saya katakan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Isma’il Al Qadli dan perawi lain dari jalur yang beragam dengan sanad-sanad yang tidak diragukan keshahihannya yang sampai kepada Sufyan Al Tsauri dari Abdillah ibnu Al Sa’ib dari Zadan dari Abdullah ibnu Mas’ud. Al Tsauri menjelaskan bahwa ia mendengar langsung, ia berkata, “Menceritakan kepadaku Abdullah ibnu Al Sa’ib. Demikian tercantum dalam kitab Al Qadli Isma’il. Abdullah ibnu Sa’ib dan Zadan adalah dua perawi yang Muslim meriwayatkan dari mereka dan Ibnu Ma’in menilai mereka sebagai perawi yang tsiqah. Dari uraian ini berarti isnad hadits ini shahih.

 

 

 

 

 

 

Diantaranya – Dari Ibnu Mas’ud Ra dari Nabi Saw, beliau berkata :  

 

 حَيَاتِيْ خَيْرٌ لَكُمْ تُحَدِّثُوْنَ وَيُحَدَّثُ لَكُمْ , وَوَفَاتِيْ خَيْرٌ لَكُمْ تُعْرَضُ أَعْمَالُكُمْ عَلَيّ فَمَا رَأَيْتُ مِنْ خَيْرٍ حَمِدْتُ الله َ, وَمَا رَأَيْتُ مِنْ شَرٍّ اِسْتَغْفَرْتُ اللهَ لَكُمْ

 

“Hidupku lebih baik buat kalian. Kalian menyampaikan hadits dan diberi hadits. Dan wafatku lebih baik buat kalian. Amal perbuatan kalian disampaikan kepadaku. Maka jika aku melihat amal baik aku memuji Allah. Jika melihat amal buruk aku memohonkan ampunan kepada Allah untuk kalian.”

 

 Al Hafid Al ‘Iraqi menyatakan dalam Kitab Al Janaa’izi min Tharhi Al Tatsribi fi Syarhi Al Taqribi bahwa isnad hadits ini baik.

Al Hafidh Al Haitsami dalam Majma’u Al Zawaaid vol IX hlm 24 menyatakan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Al Bazzaar dan para perawinya memenuhi kriteria perawi hadits shahih. Al Suyuthi menilai hadits ini shahih dalam Al Mu’jizatu wa Al Khashaisu. Demikian pula Al Qasthalani pensyarah kitab Al Bukhari. Dalam Faidlu Al Qadir vol III hlm 4015, Al Munawi menegaskan bahwa hadits ini shahih. Begitu pula Al Zurqani dalam syarh Al Mawaahib karya Al Qasthalani, dan Al Syihab Al Khafaaji dalam syarh Al Syifaa vol I hlm. 102.

Begitu pula Al Mala Al Qari dalam syarh Al Syifaa vol I hlm 102. ia mengatakan hadits ini diriwayatkan pula oleh Al Harits ibnu Abi Usamah dalam Musnadnya dengan sanad shahih.

Ibnu Hajar menyebutkan hadits ini dalam Al Mathalib Al ‘Aaliyah vol. IV hlm 22. Hadits ini datang dari sumber lain dengan status mursal dari Bakr ibnu Abdillah Al Muzani. Al Hafidh Isma’il Al Qadli meriwayatkan hadits ini dalam Juz’u Al Shalat ‘ala Al Nabi Saw. Al Syaikh Nashiruddin Al Albani menyatakan bahwa status hadits ini mursal shahih.

Al Hafid Abdul Hadi yang keras kepala dan kaku menilai hadits ini shahih dalam kitabnya Al Sharim Al Munki fi Al Radd ‘ala Al Subki.

 Hadits di atas ini statusnya shahih dan tidak mengandung cacat. Ia menunjukkan bahwa Nabi Saw mengetahui amal perbuatan kita sebab amal perbuatan tersebut diperlihatkan kepad beliau, dan memohonkan ampun kepada Allah untuk kita atas perbuatan yang buruk. Apabila faktanya adalah demikian maka kita diperbolehkan untuk bertawassul dengan beliau kepada Allah dan memohon syafaat dengan beliau di sisi Allah. Hal ini dikarenakan beliau mengetahui adanya tawassul lalu memberi syafaat kepada kita dan mendoakan kita. Beliau adalah orang yang memberi syafaat dan yang diterima syafaatnya. Semoga Allah memberi shalawat dan salam serta menambahkan kemuliaan kepada beliau Saw. Dalam Al Qur’an Allah telah mengabarkan bahwa Nabi Muhammad menjadi saksi atas ummatnya. Hal ini menetapkan bahwa amal perbuatan mereka diperlihatkan kepada beliau agar beliau bisa menyaksikan apa yang dilihat dan diketahui.

Ibnu Al Mubarak berkata, “Seorang lelaki dari Anshar menceritakan kepadaku dari Al Minhal ibnu ‘Amr bahwa ia mendengar Sa’id ibnu Musayyib berkata, “Tidak berlalu seharipun kecuali diperlihatkan pada saat itu kepada Nabi Saw ummatnya; pada pagi dan sore hari. Beliau mengetahui nama dan perbuatan mereka. Karena itu beliau menjadi saksi atas mereka.” Allah SWT berfirman :

فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلاءِ شَهِيدًا

“Maka bagaimanakah ( halnya orang kafir nanti ), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi ( Rasul ) dari tiap-tiap ummat dan Kami mendatangkan kamu ( Muhammad ) sebagai saksi atas mereka itu ( sebagai ummatmu ).” ( Q.S.An.Nisaa` : 41 )

 

 Diantaranya– Dari ‘Ammar ibnu Yasir Ra, ia berkata, “Rasulullah Saw bersabda :  

 

إِنَّ اللهَ وَكَّلَ بِقَبْرِيْ مَلَكًا أَعْطَاهُ اللهُ أَسْمَاءَ الْخَلاَئِقِ , فَلاَ يُصَلِّى عَلَيّ َأَحَدٌ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِإِلاَّ أَبْلَغَنِيْ بِاسْمِهِ وَاسْمِ أَبِيْهِ , هَذَا فُلاَنٌ ابْنُ فُلاَنٍ قَدْ صَلَّى عَلَيْكَ .

 

“Sesungguhnya Allah mewakilkan seorang malaikat di kuburanku yang diberikan kepadanya nama semua makhluk. Tidak ada seorang pun yang menyampaikan shalawat untukku sampai hari kiamat kecuali malaikat itu akan menyampaikan kepadaku dengan namanya dan nama ayahnya. Ini si fulan anak fulan menyampaikan shalawat kepadamu.” Diriwayatkan oleh Al Bazzaar

 

Abu Al Syaikh Ibnu Hibban meriwayatkan dengan redaksi :  

Rasulullah SAW bersabda : 

 

 إِنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَكَّلَ مَلَكًا أَعْطَاهُ أَسْمَاءَ الْخَلاَئِقِ فَهُوَ قَائِمٌ عَلَى قَبْرِيْ إِذَا مِتُّ , فَلَيْسَ أَحَدٌ يُصَلِّي عَلَيَّ صَلاَةً إِلاَّ قَالَ : يَامُحَمَّدُ ! صَلَّى عَلَيْكَ فُلاَنٌ ابْنُ فُلاَنٍ قَالَ : فَيُصَلِّي الرَّبُّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَلَى ذَلِكَ الرَّجُلِ بِكُلِّ وَاحِدَةٍ عَشْرًا .

 

“Sesungguhnya Allah mewakilkan seorang malaikat yang diberikan kepadanya nama makhluk. Ia akan berdiri di atas kuburanku jika saya mati. Tidak ada seorang pun yang memberi shalawat kepadaku kecuali ia berkata, “ Ya Muhammad!, Fulan anak Fulan menyampaikan shalawat untukmu.” “Allah akan membalas setiap satu kali shalawatnya dengan sepuluh kali,” lanjut beliau.

 Al Thabarani dalam Al Kabir meriwayatkan hadits serupa. Al Targhib vol II hlm 500.

 

Diantaranya – Dari ‘Amr ibnu Al Harits dari Sa’id ibnu Abi Hilal dari Zaid ibnu Aiman dari ‘Ubadah ibnu Nusai dari Abi Darda’, ia berkata, “Rasulullah Saw bersabda :  

 

 أَكْثِرُوا الصَّلاَةَ عَلَيَّ يَوْمَ الْجُمْعَةِ فَاِنَّهُ مَشْهُوْدٌ تَشْهَدُهُ الْمَلاَئِكَةُ وَإِنَّ أَحَدًا لَنْ يُصَلِّيَ عَلَيَّ إِلاَّ عُرِضَتْ عَلَيَّ صَلاَتُهُ حَتَّى يَفْرُغَ مِنْهَا . قَالَ : قُلْتُ : وَبَعْدَ الْمَوْتِ ؟ قَالَ : وَبَعْدَ الْمَوْتِ , إِنَّ اللهَ حَرَّمَ عَلَى اْلأَرْضِ أَنْ تَأْكُلَ أَجْسَادَ اْلأَنْبِيَاءِ فَنَبِيُّ اللهِ حَيٌّ يُرْزَقُ .

 

“Perbanyaklah bershalawat kepadaku pada hari Jumu’at . karena hari Jumu’at adalah hari yang disaksikan para malaikat. Sesungguhnya tidak seorang pun yang menyampaikan shalawat kepadaku kecuali shalawat itu akan disampaikan kepadaku sampai ia selesai bershalawat.” Abu Darda’ berkata, “Saya bertanya, “Apakah itu terjadi setelah kematian ?” “Setelah kematian, “jawab beliau, “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan bumi untuk menelan jasad para nabi. Maka Nabiyallah itu hidup dan diberi rizqi.” Lanjutnya. “ HR Ibnu Majah dalam Al Sunan.

Dalam Al Zawaaid sebagai berikut : “Hadits ini statusnya shahih hanya saja terputus ( munqathi’ ) pada dua tempat. Karena riwayat ‘Ubadah dari Abu Darda’ berstatus mursal sebagaimana dikatakan Al ‘Ala’i. Zaid ibnu Aiman dari ‘Ubadah juga mursal sebagaimana dinyatakan Al Bukhari.” Dari Sunan Ibnu Majah hlm 524.  

 

Diantaranya – Dari Abu Hurairah RA bahwasanya Rasulullah Saw bersabda :

 مَا مِنْ أَحَدٍ يُسَلِّمُ عَلَيَّ ِإلاَّ رَدَّ اللهُ عَلَيَّ رُوْحِيْ حَتَّى أَرُدُّ عَلَيْهِ السَّلاَمَ

“Tidak seorang pun yang memberi salam kepadaku kecuali Allah akan mengembalikan nyawaku hingga aku menjawab salamnya.”

HR Abu Dawud dalam Al Targhib vol II hlm 499.

 

Al Syaikh Ibnu Taimiyyah mengatakan bahwa hadits ini sesuai dengan kriteria Muslim. ia berkata, “Dari Musnad Ibnu Abi Sayaibah dari Abu Hurairah, ia berkata, “Rasulullah Saw bersabda :

 مَنْ صَلَّى عَلَيَّ سَمِعْتُهُ , وَمَنْ صَلَّى عَلَيَّ نَائِيًا بَلَغْتُهُ 

“Siapa yang menyampaikan shalawat kepadaku maka aku mendengarnya. Siapa yang menyampaikan shalawat kepadaku dari jarak jauh maka shalawat itu disampaikan kepadaku.” HR Al Daruquthni. Dalam Al Nasa’i dan yang lain dari Nabi Saw, beliau berkata ;

إِنَّ اللهَ وَكَّلَ بِقَبْرِيْ مَلاَئِكَةً يُبَلِّغُوْنِيْ عَنْ أُمَّتِي السَّلاَمَ 

 “Sesungguhnya Allah mewakilkan di kuburanku malaikat yang menyampaikan kepadaku salam dari ummatku.”

 

Masih banyak hadits-hadits lain mengenai topik ini. ( Iqtidlaau Al Shirath Al Mustaqiim hlm. 324 ).

NABI SAW MENJAWAB ORANG YANG MEMANGGIL BELIAU

Nabi Saw menjawab orang yang memanggil nama beliau, “Ya Muhammad !”Dalam hadits Abu Hurairah RA versi Abu Ya’la saat menceritakan ‘Isa, “Sungguh jika ‘Isa berdiri di dekat kuburanku lalu memanggil, “Ya Muhammad”, niscaya aku akan menjawab panggilannya.” Disebutkan oleh Al Hafidh Ibnu Hajar dalam Al Mathalib Al ‘Aliyah vol. IV hlm 23 dengan judul Hayaatuhu Saw fi Qabrihi.

MENGIRIM SALAM VIA POS KEPADA NABI SAW

Dari Yazid Al Mahdi, ia berkata, “Ketika saya berpamitan kepada ‘Umar ibnu Abdul Aziz ia berkata, “Saya ada keperluan denganmu.” “Wahai amirul mu’minin !, apa keperluanmu yang bisa saya bantu, “kataku. “Jika engkau tiba di Madinah maka engkau akan melihat kuburan Nabi, sampaikan salamku untuk beliau,” jawab ‘Umar.

Dari Hatim ibnu Wardan ia berkata, “’Umar ibnu Abdil Aziz menugaskan petugas pos dari Syam menuju Madinah untuk menyampaikan salam kepada Nabi Saw.” Al Qadli ‘Iyadl menyebutkan hal ini dalam Al Syifa dalam Babu Al Ziyaarah vol. II hlm 83.

Al Khafaji dan Al Mala ‘Ali Qari dalam Syarh Al Syifa menyebutjkan bahwa atsar di atas diriwayatkan oleh Ibnu Abi Al Dunya dan Al Baihaqi dalam Syu’ab Al Iman. Al Khafaji berkata, “Salah satu tradisi generasi salaf yaitu mereka mengirimkan salam kepada Rasulullah Saw dan Ibnu ‘Umar melakukan hal ini. ia mengirimkan salam kepada Nabi Saw, Abu Bakar, dan ‘Umar. Meskipun salam dari orang yang memberi salam kepada beliau akan sampai kepada beliau meskipun dari jarak yang jauh, namun mengirimkan salam lewat kurir ada keutamaan percakapan kurir di dekat beliau dan jawaban oleh beliau sendiri.”

Dari Nasim Al Riyadl vol III hlm 516.

Al Fairuzabadi menyebutkannya dalam Al Shalat wa Al Basyar hlm 153.

SUARA, SALAM DAN ADZAN YANG TERDENGAR DARI KUBURAN NABI :

Al Imam Al Hafidh Abu Muhammad ‘Abdullah Al Darimi dalam kitabnya, Al Sunan yang dikategorikan sebagai salah satu kitab pokok hadits yang berjumlah enam meriwayatkan : Menceritakan kepadaku Marwan ibnu Muhammad dari Sa’id ibnu ‘Abdul ‘Aziz, ia berkata, “Pada saat terjadinya perang Al Harrah ( penyerbuan pasukan Yazid ke Madinah ), masjid Nabi Saw tidak dikumandangkan adzan dan iqamah selama tiga hari dan Sa’id ibnu Al Musayyib senantiasa berada dalam masjid tersebut. Ia tidak mengetahui waktu shalat kecuali lewat suara lembu atau gajah yang ia dengar keluar dari kuburan Nabi Saw. Sa’id kemudian menyebutkan makna suara yang ia dengar.

Atsar di atas dari Sunan Al Darimi vol I hlm 44 dan dikutip oleh Al Syaikh Muhammad ibu ‘Abdil Wahhab dalam hukum-hukum mengharap kematian ( Ahkaami Tamannii Maut ) dari kumpulan karyanya vol III hlm 47.

Riwayat ini juga dikutip oleh Al Imam Majduddin Al Fairuzabadi penyusun Al Qamus dalam Al Shilaatu wa Al Basyaru hlm 154. Ibrahim ibnu Syaiban mengatakan, “Saya melaksanakan haji lalu saya datang ke Madinah dan menuju kuburan Nabi. Saya menyampaikan salam kepada beliau lalu terdengar  dari dalam kamar jawaban ; ‘Alaika Al Salam.

DUKUNGAN IBNU TAIMIYYAH TERHADAP KEJADIAN-KEJADIAN DI ATAS

Al Syaikh Ibnu Taimiyyah menyebutkan kejadian-kejadian di atas di sela-sela komentarnya tentang praktik menjadikan kuburan sebagai masjid atau arca yang disembah. Selanjutnya ia berkata, “Tidak termasuk dalam masalah ini apa yang diriwayatkan bahwasanya ada kaum yang mendengar jawaban salam dari kuburan Nabi Saw atau kuburan-kuburan lain dari orang-orang shalih dan bahwasanya Sa’id ibnu Al Musayyib mendengar suara adzan dari kuburan Nabi Saw pada malam-malam terjadinya penyerbuan tentara Yazid ke Madinah dan sebagainya. ( Iqtidlaau Al Shirath Al Mustaqim hlm 373 ).

Selanjutnya dalam kesempatan lain Ibnu Taimiyyah berkata, “Demikian pula kejadian yang disebutkan dari karomah dan hal-hal yang di luar kebiasaan yang terjadi di kuburan para nabi dan orang-orang shalih seperti turunnya cahaya dan malaikat di kuburan tersebut, setan dan binatang menjauhi tempat itu, api terhalang untuk membakar kuburan dan orang yang berada di dekatnya, sebagian dari para nabi dan orang-orang shalih memberi syafaat kepada orang-orang mati yang menjadi tetangga mereka, kesunnahan mengubur jenazah di dekat kuburan mereka, memperoleh kedamaian dan ketenteraman saat berada di dekatnya, dan turunnya adzab atas orang yang menghina kuburan tersebut, maka hal-hal seperti ini adalah nyata dan benar adanya dan tidak termasuk dalam topik bahasan kami tentang diharamkannya menjadikan kuburan sebagai masjid. Apa yang terjadi pada kuburan para nabi dan orang-orang shalih berupa kemuliaan dan rahmat Allah dan apa yang diperoleh di sisi Allah dari kehormatan dan kemuliaan itu berada di atas anggapan banyak orang. Namun kitab ini bukanlah tempat untuk menjelaskan hal itu secara detail. ( Iqtidlaau Al Shirath Al Mustaqim ).

 

ADANYA SEBAGIAN KAROMAH DI ATAS UNTUK SELAIN PARA NABI AS

Para ulama telah meriwayatkan sedikit dari karomah-karomah yang telah disampaikan di atas yang dialami oleh sebagian generasi al salaf al shalih yang terjadi setelah mereka wafat. Karomah-karomah itu diriwayatkan oleh para perawi yang kuat dan dari para perawi yang kuat juga yang menyaksikan karomah-karomah itu dengan mata kepala mereka sendiri. Sebagian karomah ini akan kami kutip di sini dari Al Syaikh Muhammad ibnu ‘Abdil Wahhab. Dalam kitabnya “Ahkaamu Tamanni Al Maut” beliau mengatakan dalam kumpulan karya-karyanya yang disebarkan oleh Universitas Al Imam Muhammad ibnu Su’ud sebagai berikut :

 

SHOLAT DI DALAM KUBUR :

 

Hadits riwayat Ahmad dari ‘Affan dari Hammad dari Tsabit bahwasanya ia berkata, “Ya Allah, jika Engkau memberikan kesempatan seseorang untuk melaksanakan sholat dalam kuburannya maka berilah aku kesempatan untuk melaksanakannya dalam kuburanku.”

Hadits riwayat Abu Nu’aim dari Jubair ia berkata,

“Saya – demi Allah yang tiada Tuhan melainkan Dia – memasukkan Tsabit Al Bunani ke dalam liang lahatnya. Saya melakukannya bersama Hamid Al Thawil. Ketika kami meratakan batu bata di atas kuburan, sebuah batu bata jatuh. Ternyata saya melihat Tsabit sedang sholat di dalam kuburannya.

 

 

MEMBACA AL QUR’AN :

 

Hadits riwayat Ahmad dan Ibnu Jarir dari Ibrahim ibnu Al Muhallabi ia berkata, “Menceritakan kepadaku mereka yang melewati Al Jash di waktu sahur, ”Jika kami melewati kuburan Tsabit Al Bunani maka kami mendengar bacaan Al Qur’an.”

Hadits riwayat Al Turmudzi yang dinailainya shahih dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, “Sebagian sahabat Nabi Saw mendirikan kemah di atas kuburan. Ia tidak mengira bahwa lokasi itu adalah kuburan. Tiba-tiba ia mendengar dari dalam kuburan seseorang yang membaca surat Al Mulk sampai selesai. Lalu ia mendatangi Nabi dan menceritakan pengalaman yang dialaminya. Maka Rasulullah Saw bersabda :

 

هِيَ الْمَانِعَةُ , هِيَ الْمُنْجِيَةُ ,تُنْجِيْهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ

 

“Surat Al Mulk adalah penolak siksa kubur dan penyelamat yang menyelamatkan mayit dari adzab kubur,” jawab beliau.

 

 Hadits riwayat Al Nasa’i dan Al Hakim dari ‘Aisyah, ia berkata, Rasulullah Saw bersabda :  

 

  نَمْتُ فَرَأَيْتُنِيْ فِي الْجَنَّةِ وَلَفْظُ النَّسَائِيْ : دَخَلْتُ الْجَنَّةَ فَسَمِعْتُ صَوْتَ قَارِئٍ يَقْرَأُ , فَقُلْتُ : مَنْ هَذَا ؟ قَالُوْا : حَارِثَةُ بْنُ النُّعْمَانُ , فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ : كَذَاكَ الْبِرُّ , كَذَاكَ الْبِرُّ , كَذَاكَ الْبِرُّ , وَكَانَ أَبَرَّ النَّاسِ بِأُمِّهِ .

 

 “Saya tidur lalu bermimpi berada di surga.” Redaksi Al Nasa’i berbunyi : – Saya masuk ke dalam surga -. Lalu saya mendengar seseorang membaca Al Qur’an. “Siapakah orang yang membaca Al Qur’an ini ? “tanyaku. Mereka menjawab, “Haritsah ibnu Nu’man.” “Demikianlah kebajikan, Demikianlah kebajikan, Demikianlah kebajikan,”ujar beliau Saw. Haritsah ibnu Nu’man adalah orang yang paling berbakti pada ibunya.

Hadits riwayat Ibnu Abi Al Dunya dari Al Hasan, ia mengatakan, “Sampai kepadaku bahwa seorang mu’min jika ia mati dan tidak mampu membaca Al Qur’an maka para malaikat hafadhah diperintahkan untuk mengajarkan Al Qur’an kepadanya di dalam kuburan sehingga ia dibangkitkan Allah di hari kiamat beserta orang-orang yang mampu membacanya.” Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Al Dunya dari Yazid Al Raqqasyi semisal hadits dari Al Hasan. Al Silafi meriwayatkan kandungan hadits Al Hasan dari hadits-hadits mursal ‘Athiah Al ‘Aufi.

PENGHUNI KUBUR SALING MENGUNJUNGI

:Hadits riwayat Ibnu Abi Syaibah dari Ibnu Sirin, ia ( Ibnu Abi Syaibah ) berkata, “Ibnu Sirin senang akan kafan yang baik.” “Para penghuni kubur itu saling berkunjung dengan mengenakan kafan masing-masing,” jawab Ibnu Sirin.

Makna atsar ini juga terdapat dalam Musnad Ibnu Abi Syaibah dari Jabir dengan status marfu’. Di dalamnya terdapat redaksi : “Mereka saling membangga-banggakan dan saling berkunjung dalam kuburan mereka.”

 Hadits riwayat Muslim dari haditsnya sendiri sebagai berikut : “Jika salah seorang dari kalian mengurusi jenazah saudaranya maka hendaklah membungkusnya dengan kafan yang baik.”

Hadits riwayat Al Turmudzi, Ibnu Majah dan Muhammad ibnu Yahya Al Hamdani dalam shahihnya dari Abi Qatadah dengan status marfu’ sebagai berikut :

“Jika salah seorang dari kalian mengurusi jenazah saudaranya maka hendaklah membungkusnya dengan kafan yang baik. Karena mereka saling berkunjung di dalam kuburan mereka”

 

RISALAH ( KIRIMAN ) DARI DUNIA KE BARZAKH BERSAMA MAYIT :

Ibnu Abi Al Dunya meriwayatkan dengan sanad yang tidak perlu dipersoalkan dari Rasyid ibnu Sa’ad bahwa isteri seorang lelaki meninggal dunia lalu lelaki itu melihat beberapa wanita dalam mimpi. Tapi ia tidak melihat isterinya bersama mereka. Akhirnya ia menyakan keberadaan isterinya kepada para wanita itu. “Kamu memberinya kafan yang pendek. Ia malu untuk keluar bersama kita, “ jawab mereka.

Kemudian lelaki itu datang kepada Nabi dan mengabarkan mimpinya. “Perhatikan !, apakah ada yang dapat dipercaya yang bisa memberi solusi ?” ujar beliau.

Lalu lelaki ini mendatangi seorang laki-laki dari golongan Anshar yang akan dijemput ajal. Ia mengabarkan peristiwa yang dialami kepadanya. “Jika seseorang bisa menyampaikan sesuatu kepada orang-orang yang telah mati maka saya akan menyampaikannya, “jawab laki-laki dari golongan Anshar ini.

 Kemudian laki-laki Anshar ini meninggal dunia dan suami wanita yang telah meninggal itu datang dengan membawa dua pakaian yang diberi parfum za’faran. Ia meletakkan kedua pakaian itu dalam kafan laki-laki Anshar. Ketika malam tiba suami wanita itu bermimpi melihat para wanita yang di dalamnya ada juga isterinya yang mengenakan dua pakaian berwarna kuning.

 

Ibnu Al Jauzi meriwayatkan dari Muhammad ibnu Yusuf Al Firyabi kisah seorang perempuan yang bermimpi melihat ibunya mengadukan kain kafan kepadanya. Lalu keluarga perempuan itu menceritakan hal ini kepada Muhammad dan meminta solusi kepadanya. Dalam kisah ini diceritakan sebagai berikut :

Bahwa Ibu dari perempuan itu berkata, “Belilah kafan untukku dan kirimkan beserta fulanah.” Al Firyabi berkata, “Lalu saya menyebutkan sebuah hadits bahwasanya para penghuni kubur saling berkunjung dengan mengenakan kain kafan mereka. Kemudian saya berkata, “Belilah kafan untuk Ibu !”

Perempuan yang bermimpi itu akhirnya mati pada hari yang telah saya sebutkan dan keluarganya meletakkan kain kafan bersama jenazahnya.

CAHAYA DI ATAS KUBURAN :

Hadits riwayat Ibnu Abi Al Dunya dari Abi Ghalib – sahabat Abu Umamah – bahwasanya seorang pemuda di Syam hendak dijemput ajal. Ia bertanya kepada pamannya, “Bagaimana menurutmu jika Allah menyerahkan diriku kepada Ibuku. Apa yang akan dia lakukan padaku ?” “Jika demikian, demi Allah Ibumu akan memasukkanmu ke dalam surga. “Demi Allah, Allah lebih sayang kepadaku melebihi Ibuku, “ lanjut sang pemuda. Akhirnya pemuda itu meninggal dunia. Lalu Ibunya beserta pamannya masuk ke dalam kubur. “Dengan batu bata mentah,” kata kami. Lalu kami meratakan batu bata itu di atas kuburannya. Tiba-tiba sebuah batu bata jatuh. Sang paman lalu melompat dan mundur. “Apa yang terjadi ?, “ tanyaku. “Kuburannya dipenuhi cahaya dan dilapangkan sejauh pandangan matanya,” jawab sang paman.

Dan di dalam hadits riwayat Abi Dawud dan perawi lain dari ‘Aisyah, ia berkata, “Ketika Najasyi wafat kami bercakap-cakap bahwa dari dalam kuburnya senantiasa terlihat cahaya.”

Dalam Tarikh Ibnu Asakir dari Abdurrahman ibnu ‘Umarah, ia berkata, “Saya menyaksikan jenazah Al Ahnaf ibnu Al Qais. Saya adalah salah satu orang yang turun masuk dalam kuburannya. Ketika kuburan itu kami ratakan, saya melihat kuburan itu dilapangkan sejauh mata memandang. Saya menceritakan hal ini kepada para sahabat namun mereka tidak melihat apa yang telah saya lihat.

Dari Ibrahim Al Hanafi, ia berkata, “Saat Mahan Al Hanafi disalib di atas pintu rumahnya, kami melihat cahaya di dekat pintu itu di waktu malam.”

Tela`ahlah kitab Ahkaamu Tamannil Maut yang telah dikoreksi sesuai naskah fotokopi 771/86 di Al Maktabah Al Su’udiyyah ( perpustakaan Su’ud ) di Riyadl kajian dari Al Syaihk Abdirrahman Al Sadhan dan Al Syaikh Abdullah Al Jabrin, dalam bagian fiqih nomor dua.

Pada bagian awal buku koleksi, orang-orang menyebut pengesahan naskah dan pembenaran bahwa karangan itu benar milik Al Syaikh. Universitas Al Imam Muhammad ibnu Su’ud di Riyadl denga menyebarkan buku koleksi ini secara lengkap setelah dilakukan penelitian terlebih dahulu di bawah pengawasan Universitas dalam pekan Al Syaikh Muhammad ibnu Abdil Wahhab.

 

 JANGAN MEMASANG PELANA

 

Banyak orang keliru dalam memahami hadits :

 

لاَ تَشُدُّ الرِّحَالُ إِلاَّ إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ : اَلْمَسْجِدِ الْحَرَامِ , وَمَسْجِدِيْ هَذَا , وَالْمَسْجِدِ اْلأَقْصَى

 

“Tidak boleh dipasang pelana ( tidak boleh pergi melakukan perjalanan ) kecuali hendak menuju ke tiga masjid ; al masjid al haram, masjidku ini, dan al masjid al aqsha.”

 

Mereka menjadikan hadits ini sebagai dalil atas diharamkannya memasang pelana untuk berziarah kepada Nabi Saw dan menilai bahwa bepergian dengan tujuan berziarah kepada nabi sebagai tindakan maksiat. Argumentasi ini ditolak karena dibangun di atas persepsi yang salah. Hadits ini sebagaimana yang Anda lihat berada dalam konteks yang berbeda dengan argumentasi ini.

Penjelasannya adalah sebagai berikut : “Bahwasanya sabda Nabi Saw, “Jangan dipasang pelana kecuali hendak menuju ke tiga masjid,” menggunakan pola bahasa yang dikenal oleh para ahli bahasa sebagai pola pengecualian. Hal ini otomatis mengharuskan adanya yang dikecualikan dan yang mendapat pengecualian. Yang dikecualikan adalah kalimat yang jatuh setelah illaa sedang yang mendapat pengecualian adalah kalimat sebelum illaa. Kedua hal ini harus ada. Baik secara konkret atau rekaan. Keharusan adanya yang dikecualikan dan yang mendapat pengecualian adalah hal yang telah ditetapkan dan dikenal dalam literatur-literatur nahwu yang paling sederhana pun.

Jika kita memperhatikan hadits ini kita akan menemukan bahwa hadits ini menyebut dengan jelas adanya obyek yang dikecualikan yaitu “Ilaa Tsalatsati Masaajid” ( menuju tiga masjid ) yang jatuh setelah illaa namun tidak menyebut obyek yang mendapat pengecualian yaitu jatuh sebelum illaa. Tidak disebutkannya obyek yang mendapat pengecualian ini berarti ia harus diandaikan keberadaannya.

Jika kita mengandaikan bahwa obyek yang mendapat pengecualian adalah Qabrun ( kuburan ) maka ungkapan yang dinisbnatkan kepada Rasulullah berbunyi “Laa Tusyaddu Al Rihaal ilaa Qabrin Illaa ilaa Tsalatsati Masaajid” ( Jangan dipasang pelana ketika hendak menuju ke kuburan kecuali saat hendak ke tiga masjid ). Rangkaian kalimat semacam ini jelas tidak serasi dan tidak pantas dengan balaghah nabawiyyah ( retorika kenabian ). Karena obyek yang dikecualikan tidak sejenis dengan obyek yang mendapat pengecualian, padahal yang asal obyek yang dikecualikan harus sejenis dengan obyek yang mendapat pengecualiaan. Tidaklah akan merasa tenang hati cendekiawan yang merasa berdosa dari tindakan menisbatkan ungkapan kepada sabda Nabi Saw, yang tidak pernah beliau ucapkan, dengan menisbatkan kalimati qabrin yang tidak relevan dengan yang asal dalam pola pengecualian, kepada beliau. Kalimat qabrin tidak pantas menjadi obyek yang mendapat pengecualian. Kita coba andaikan kalau kalimat yang menjadi obyek yang mendapat pengecualian adalah kalimat makaan (tempat). Selanjutnya ungkapan beliau menjadi berbunyi “Laa Tusyaddu Al Rihaal ilaa Makaanin Illaa ilaa Tsalatsati Masaajid” (Jangan dipasang pelana ketika hendak menuju ke tempat kecuali saat hendak ke tiga masjid). Pengandaian ini berarti mengandung pengertian “janganlah engkau bepergian dengan tujuan berdagang, mencari ilmu atau meraih kebaikan…..”. Pengertian ini sejenis kegilaan yang pasti salah.

 

Hadits di atas memuat obyek yang dikecualikan namun tidak mengandung obyek yang mendapat pengecualian. Karena itu obyek yang mendapat pengecualian harus diandaikan sesuai konsensus pakar bahasa. Pengandaiannya sendiri tidak lebih dari tiga kemungkinan saja.

Pertama, dengan mengandaikan kalimat qabr yang kemudian mengandung pengertian “Laa Tusyaddu Al Rihaal ilaa Qabrin Illaa ilaa Tsalatsati Masaajid” ( Jangan dipasang pelana ketika hendak menuju ke kuburan kecuali saat hendak ke tiga masjid ).Pengandaian ini didasarkan atas pandangan orang yang menggunakan hadits sebagai argumen larangan bepergian dengan tujuan berziarah. Anda lihat sendiri bahwa pengandaian semacam ini adalah pengandaian lemah yang harus dibuang dan tidak ditoleransi oleh orang yang memiliki pengetahuan paling rendah tentang bahasa Arab. Pengandaian ini tidak pantas dialamatkan kepada Nabi Muhamad ,sosok paling fasih dalam melafalkan huruf dlodl. Maka sungguh mustahil orang sekaliber beliau Saw sepakat dengan gaya bahasa yang rendah ini.

 

Kedua, pengandaian obyek yang mendapat pengecualian dalam hadits menggunakan kalimat yang umum yaitu makaan ( tempat ). Pengandaian ini sebagaimana diuraikan dimuka adalah pengandaian yang disepakati salah dan tidak ada yang menggunakan pengandaian ini. 

 

Ketiga, obyek yang mendapat pengecualian dalam hadits diandaikan dengan kalimat masjid yang kemudian rangkaian kalimatnya berbunyi “Laa Tusyaddu Al Rihaal ilaa Masjidin Illaa ilaa Tsalatsati Masaajid” ( Jangan dipasang pelana ketika hendak menuju ke masjid kecuali saat hendak ke tiga masjid ). Kita lihat bahwa ungkapan ini telah selaras dan berjalan sesuai dengan gaya bahasa fasih dan kerancuan arti dari dua bentuk pengandaian lain telah tersingkirkan. Cahaya kenabian juga terlihat dalam ungkapan ketiga ini dan hati orang yang bertakwa merasa tentram menisbatkan pengandaian ini kepada Rasulullah Saw. Dipilihnya bentuk pengandaian ketiga ini jika dipastikan tidak ditemukan riwayat lain yang menjelaskan obyek yang mendapat pengecualian. Namun jika riwayat lain ini ditemukan maka haram bagi orang yang beragama Islam untuk berpindah dari riwayat ini dengan memilih pengandaian semata yang tidak memiliki pijakan pada bahasa yang fasih. 

 

Alhamdulillah, kami telah menemukan dalam Assunnah Annabawiyyah dari jalur riwayat yang mu’tabar hadits yang menjelaskan obyek yang mendapat pengecualian. Di antaranya adalah riwayat Al Imam Ahmad dari jalur Syahr ibnu Hausab, ia berkata, aku mendengar Abu Said berkata, Rasulullah Saw bersabda :  

 

 لاَ يَنْبَغِي لِلْمَطِيِّ أَنْ يُشَدَّ رِحَالُهُ إِلَى مَسْجِدٍ تَبْتَغِي فِيْهِ الصَّلاَةُ غَيْرِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ , وَالْمَسْجِدِ اْلأَقْصَى , وَمَسْجِدِيْ .

 

“Tidak selayaknya unta tunggangan dipasang pelananya menuju masjid yang didalamnya hendak dikerjakan sholat selain al masjid al haram, al masjid al aqsha dan masjidku ini.”

Menurut Al Hafid Ibnu Hajar Syahr adalah perawi yang baik haditsnya ( hasanul hadits ) meskipun memiliki sebagian kelemahan. ( Fathul Baari vol III hlm 65 ). 

Dalam riwayat lain redaksinya berbunyi : 

 

 لاَ يَنْبَغِي لِلْمَطِيِّ أَنْ تُشَدَّ رِحَالُهُ إِلَى مَسْجِدٍ يَبْتَغِيْ فِيْهِ الصَّلاَةَ غَيْرِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامَ وَالْمَسْجِدِ اْلأَقْصَى وَ مَسْجِدِيْ هَذَا .

 

“Tidak selayaknya unta tunggangan dipasang pelananya menuju masjid yang didalamnya hendak dikerjakan sholat selain masjid al aqsha dan masjidku ini.”

Al Hafidh Al Haitsami mengatakan bahwa dalam sand hadits ini terdapat Syahr yang mendapat komentar pakar hadits dan status haditnya baik ( hasan ). ( Majma’u Al Zawaaid vol IV hlm 3 ). 

 

Di antaranya lagi adalah hadits yang bersumber dari ‘Aisyah, ia berkata, “Rasulullah Saw bersabda :  

 

 أَنَا خَاتِمُ اْلأَنْبِيَاءِ وَمَسْجِدِيْ خَاتِمُ مَسَاجِدِ اْلأَنْبِيَاءِ أَحَقُّ اْلَمَسَاجِدِ أَنْ يُزَارَ وَتُشَدُّ إِلَيْهِ الرَّوَاحِلُ :اَلْمَسْجِدُ الْحَرَامُ وَمَسْجِدِيْ , صَلاَةٌ فِي مَسْجِدِيْ أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيْمَا سِوَاهُ مِنَ الْمَسَاجِدِ ِإلاَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَام.

 

 “Saya adalah penutup para nabi dan masjidku adalah penutup masjid-masjid para nabi. Masjid yang paling berhak diziarahi dan dipasang pelana untuk menuju kepadanya adalah al masjid al haram dan masjidku. Melaksanakan sholat di masjidku lebih utama daripada seribu kali sholat yang dilakukan di masjid-masjid lain selain al masjid al haram.” HR Al Bazzaar

( Majma’u Al Zawaaid vol IV hlm 3 ).

 

Statemen beliau Saw mengenai masjid-masjid itu untuk menjelaskan kepada ummat bahwa masjid-masjid di luar tiga masjid ini setara dalam keutamaan. Maka tidak ada gunanya bersusah payah pergi ke selain tiga masjid ini. Adapun tiga masjid ini maka ia memiliki keutamaan yang lebih. Kuburan-kuburan tidak masuk dalam hadits ini. Memasukkan kuburan ke dalam hadits ini dikategorikan sebagai bentuk kebohongan terhadap Rasulullah. Fakta ini perlu diperhatikan meskipun ziarah kubur itu sebuah anjuran. Bahkan banyak ulama yang menyebutkannya dalam kitab-kitab manasik dengan dikategorikan sebagai hal-hal yang disunnahkan. Kategori sunnah ini diperkuat oleh banyak hadits yang diantaranya kami sebutkan di bawah ini :

 

 – Dari Ibnu ‘Umar Ra dari Nabi Saw, beliau berkata :

 

مَنْ زَارَ قَبْرِيْ وَجَبَتْ لَهُ شَفَاعَتِيْ

“Siapa yang menziarahi kuburanku maka ia wajib mendapat syafa’atku.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Al Bazzaar.

 

Dalam sanad hadits ini ada ‘Abdullah ibnu Ibrahim al Ghifari yang statusnya lemah. Ibnu Taimiyyah juga mengutip hadits ini dan menyatakan statusnya adalah dlo’if. Ia tidak memvonis hadits ini sebagai hadits palsu atau bohong. ( Al Fatawaa vol XXVII hlm 30 ) di tempat ini. Jika dalam keterangan lain ada penilaian yang berbeda dari Ibnu Taimiyyah berarti ia merasa ragu untuk menetapkan status hadits ini atau penilaiannya berubah dan kita tidak mengetahui manakah penilaian yang dahulu dan yang terakhir. Jika memang demikian berarti salah satunya tidak bisa dijadikan acuan.

 

 – Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, “Rasulullah Saw bersabda :

 من جاءني زائرا لا يعلم له حاجة إلا زيارتي كان حقا عليّ أن أكون له شفيعا يوم القيامة 

 

“Barangsiapa yang datang semata-mata untuk berziarah kepadaku, tidak ada maksud lain, maka wajib bagiku untuk memberi syafaat kepadanya di hari kiamat.”

 HR Al Thabarani dalam Al Awsath dan Al Kabir.

 

Dalam sanad hadits ini terdapat Maslamah ibnu Salim yang statusnya lemah. (Majma’u Al Zawaaid vol I hlm. 265).

 Al Hafidh Al ‘Iraqi mengatakan bahwa hadits ini dikategorikan shahih  oleh Ibnu Al Sakkan. (Al Mughni vol I hlm 265). 

 

– Dari Ibnu ‘Umar dari Nabi Saw, beliau bersabda :

مَنْ حَجَّ فَزَارَ قَبْرِيْ فِيْ مَمَاتِيْ كَانَ كَمَنْ زَارَنِيْ فِي حَيَاتِيْ

 

“Barangsiapa yang melaksanakan haji lalu berziarah ke kuburanku pada saat aku telah wafat maka ia seperti orang yang berziarah kepadaku saat aku masih hidup.”

 HR Al Thabarani dalam Al Kabir dan Al Awsath.

 

Dalam sanad hadits ini terdapat Hafsh ibnu Abi Dawud Al Qari’ yang dinilai kuat oleh Ahmad namun dianggap lemah oleh sekelompok para imam. 

 

– Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, “Rasulullah Saw bersabda :

 

مَنْ زَارَ قَبْرِيْ بَعْدَ مَوْتِيْ كَانَ كَمَنْ زَارَنِيْ فِيْ حَيَاتِيْ

“Barangsiapa menziarahi kuburanku setelah aku wafat maka ia seperti orang yang berziarah kepadaku saat aku masih hidup.” 

 

Al Haitsami berkata, “Hadits ini diriwayatkan oleh Al Turmudzi dalam Al Shaghir dan Al Awsath. Di dalam sanadnya terdapat ‘Aisyah binti Yunus. Saya tidak menemukan orang yang menulis biografi Yunus.” Demikian dikutip dari Majma’ Al Zawaaid vol IV hlm 2. 

 

 Walhasil, bahwasanya hadits-hadits yang menjelaskan berziarah ke kuburan Nabi Saw memiliki banyak jalur periwayatan yang sebagian menguatkan sebagian yang lain sebagaimana dikutip oleh Al Munawi dari Al Hafidh Adz Dzahabi dalam Faidl Al Qadir vol VI hlm 140 secara khusus, dan bahwa sebagian ulama telah menilai shahih hadits-hadits tersebut atau mengutip penilaian shahihnya seperti Al Subki, Ibnu Al Sakkan, Al ‘Iraqi, Al Qadli ‘Iyadl dalam Al Syifaa, Al Mula ‘Ali Al Qari dalam syarh Al Syifaa dan Al Khafaji juga dalam syarh Al Syifaa pada Nasiim Al Ryadli vol III hlm 511. Semua nama yang telah disebutkan ini adalah para huffadhul hadits dan aimmah yang dijadikan acuan. Cukuplah bahwa para imam empat dan para ulama besar yang menjadi pilar agama telah menyatakan disyari’atkannya ziarah kepada Nabi Saw sebagaimana dikutip oleh murid-murid mereka dalam literatur-literatur fiqh mereka yang dijadikan acuan. Kesepakatan para imam dan para ulama besar ini cukup untuk menilai shahih dan menerima hadits-hadits yang menjelaskan ziarah. Karena hadits dlo’if bisa menjadi kuat dengan praktik dan fatwa sebagaimana dikenal dalam kaidah-kaidah pakar ushul fiqih dan pakar hadits.

 

 ZIARAH KUBUR ADALAH ZIARAH KE MASJID DALAM PENILAIAN AL SYAIKH IBNU TAIMIYYAH

Ibnu Taimiyyah memiliki pandangan yang menarik yang terdapat di sela-sela pembicaraanya tentang ziarah. Sesudah berbicara bahwa memasang pelana untuk berziarah ke kuburan Nabi Saw semata bukan masjid sebagai tindakan bid’ah, ia kembali berkata :

Orang yang menentang ini dan yang sependapat dengannya menjadikan bepergian menuju kuburan para nabi sebagai bentuk ibadah. Selanjutnya setelah mereka mengetahui pendapat ulama menyangkut disunnahkannya berziarah ke kuburan Nabi Saw, maka mereka mengira bahwa kuburan-kuburan lain pun bisa dijadikan tujuan berpergian sebagaimana kuburan beliau Saw. Akhirnya mereka sesat ditinjau dari beberapa aspek di bawah ini :

 

Pertama,

bahwa pergi ke kuburan Nabi Saw sejatinya adalah pergi ke masjid beliau yang status hukumnya sunnah berdasarkan nash dan ijma’.

 

Kedua,

pergi ke kuburan beliau Saw adalah pergi ke masjid pada saat beliau masih hidup dan sesudah dikubur serta sebelum dan sesudah kamar masuk dalam bagian masjid. Berarti pergi ke kuburan beliau Saw adalah pergi ke masjid baik di situ ada kuburan atau tidak. Maka bepergian ke kuburan yang tidak ada masjidnya tidak bisa disamakan dengan bepergian ke kuburan Nabi Saw.

 

 Selanjutnya Ibnu Taimiyyah mengatakan :

Keenam :

“Bepergian menuju masjid Nabi Saw – yang disebut bepergian untuk berziarah kepada kuburan beliau – adalah kesepakatan ulama dari generasi ke generasi. Adapun bepergian untuk berziarah ke kuburan-kuburan lain maka tidak ada status hukum yang dikutip dari para sahabat, bahkan dari atba’u attabi’in.

 

 Kemudian Ibnu Taimiyyah berkata, “Maksudnya adalah bahwa kaum muslimin tidak henti-hentinya pergi menuju masjid Nabi Saw akan tetapi mereka tidak pergi ke kuburan para nabi seperti kuburan Nabi Musa dan Nabi Ibrahim Al Khalil. Tidak ada informasi dari salah seorang sahabat bahwa ia bepergian ke kuburan Nabi Ibrahim meskipun mereka seringkali pergi ke Syam dan Baitul Maqdis. Maka bagaimana mungkin pergi ke masjid Rasulullah Saw yang disebut sebagian orang dengan ziarah ke kuburan beliau, sama dengan pergi ke kuburan para nabi ?”

Dari pandangan Ibnu Taimiyyah di atas bisa ditarik sebuah faidah penting. Yaitu bahwasanya tidak dapat dimengerti bahwa orang yang berziarah bertujuan melakukan perjalanan untuk berziarah kubur semata, lalu tidak masuk masjid dan melaksanakan sholat di dalamnya untuk mendapatkan keberkahan, pelipatgandaan pahala sholatnya dan Al Raudlah Al Syarifah yang ada di dalamnya. Sebaliknya selamanya tidak logis jika orang yang berziarah pergi semata-mata untuk ziarah ke masjid kemudian tidak melakukan ziarah dan berhenti di kuburan mulia untuk memberi salam kepada Nabi dan dua sahabat beliau RA.

Karena itu Anda akan melihat Ibnu Taimiyyah dalam statemennya mengisyaratkan akan hal ini dengan ucapannya :

– “Maka bagaimana mungkin pergi ke masjid Rasulullah Saw yang        disebut sebagian orang dengan ziarah ?”

– “Pergi ke kuburan Nabi Saw sejatinya adalah pergi ke masjid   beliau.”

– “Bepergian menuju masjid Nabi Saw – yang disebut bepergian untuk berziarah kepada kuburan beliau – adalah konsensus ulama.”

 

 Pandangan Ibnu Taimiyyah yang menarik ini mampu menyelesaikan problem besar yang memecah belah kita, umat Islam dan membuat sebagian kita mengkafirkan sebagian yang lain dan mengeluarkannya dari lingkaran agama Islam. Seandainya orang yang mengklaim pengikut salaf mengikuti cara yang ditempuh Ibnu Taimiyyah, imamussalaf pada masanya dan menuntut kepada orang-orang alasan akan tujuan-tujuan mereka serta berprasangka positif kepada mereka, niscaya sejumlah besar orang akan selamat dari masuk neraka dan beruntung masuk surga tempat tinggal abadi.

Berprasangka positif kepada ummat Islam adalah sikap yang benar yang sesuai dengan agama Allah yang kita yakini kebenarannya dengan sepenuh hati. Baik kita mengungkapkan hal ini secara transparan atau tidak. Apabila seseorang dari kita mengatakan, “Saya hendak pergi untuk ziarah kepada Nabi Saw atau kuburan beliau,” maka pada dasarnya ia hendak berziarah ke masjid yang mulia. Seandainya ia mengatakan, “Saya pergi untuk berziarah ke masjid,” maka pada dasarnya ia berziarah ke kubur. Dalam hal ini, inti permasalahannya ia tidak sempat menyatakan dengan terbuka apa yang menjadi tujuannya dan yang diniatkannya karena ada relasi kuat antara masjid dengan kuburan yang sejatinya adalah simbol yang mengarah kepada sosok Nabi Saw. Karena orang yang pergi untuk berziarah ke kuburan Nabi Saw sejatinya adalah berziarah kepada Nabi Saw sendiri.

Adapun sosok kuburan itu sendiri maka ia bukan tempat yang menjadi tujuan musafir / orang yang bepergian. Kami hanyalah menghadap Nabi, melakukan perjalanan untuk berziarah kepada beliau dan mendekatkan diri kepada Allah dengan ziarah tersebut. Karena itu kewajiban bagi ummat Islam yang berziarah adalah menyusun ungkapan-ungkapan yang tepat untuk menjauhi syubhat dan mengatakan, “Kami berziarah kepada Rasulullah dan pergi untuk mendatangi beliau Saw.” Karena kewajiban ini, Imam Malik berkata, “Saya anggap makruh seseorang yang berkata, “Saya berziarah ke kuburan Rasulullah Saw.”

 

Para ulama dari kalangan aimmah Malikiyyah menginterpretasikan pendapat Imam Malik bahwa pendapat beliau adalah bagian dari sopan santun dalam menggunakan ungkapan verbal. Seandainya orang yang bepergian untuk ziarah kubur tidak punya niat kecuali hanya ziarah kubur semata maka engkau tidak akan melihat situasi berdesak-desakkan yang parah di Al Raudlah Al Syarifah ini dan engkau tidak akan melihat orang-orang saling berebut dan saling mendorong ketika pintu-pintu masjid nabawi dibuka, hingga mereka nyaris saling membunuh. Mereka yang bersemangat melaksanakan sholat di masjid Nabawi dan berebutan menuju Al Raudlah Al Syarifah adalah mereka yang datang dalam rangka ziarah Nabi Muhammad ibnu ‘Abdillah Saw dan melakukan perjalanan menuju beliau Saw.

KAJIAN MENDALAM YANG BERFAIDAH

Kajian mendalam Al ‘Allamah Al Syaikh ‘Athiyyah Muhammad Salim Pengarang Takmilatu Adlwaai Al Bayaan

 

Al Syaikh ‘Athiyyah Muhammad Salim, Qadli di Madinah Munawwarah telah menyebutkan persoalan ziarah kuburan Nabi di atas dalam kitabnya yang merupakan penyempurna kitab tafsir populer bernama Adlwaau Al Bayaan karya mufassir Al Syaikh Muhammad Al Amin Al Syinqithi, ia berkata :“Saya yakin bahwa persoalan ini ( ziarah kuburan Nabi Saw ) jika tidak ada perselisihan antara orang-orang yang sezaman dengan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dengannya, Syaikh sendiri dalam persoalan lain, niscaya persoalan ini tidak memiliki tempat dan konteks. Tetapi mereka mendapatkan bahwa persoalan ini adalah persoalan yang sensitif dan menyentuh emosi serta rasa cinta kepada Rasulullah Saw. Akhirnya mereka menggelorakan persoalan ini dan memvonis Syaikh dengan kepastian perkataannya saat ia berkata :

“Pemasangan pelana – pergi melakukan perjalanan – itu bukan semata-mata untuk tujuan ziarah. Tapi bertujuan ke masjid dalam rangka berziarah, karena mempraktekkan atau menjalankan teks hadits. Akhirnya mereka mengatakan apa yang jelas-jelas tidak pernah dikatakan Ibnu Taimiyyah sebagai perkataannya. Jika ucapan Ibnu Taimiyyah dipahami sebagai peniadaan sebagai ganti pelarangan niscaya hal ini sesuai. Maksudnya ziarah ke kuburan Nabi tanpa mengunjungi masjid adalah hal yang tidak mungkin terjadi. Sebab Syaikh sendiri tidak pernah melarang ziarah dan memberi salam kepada beliau. Bahkan beliau mengkategorikannya sebagai keutamaan dan hal-hal yang dapat mendekatkan diri kepada Allah. Ibnu Taimiyyah hanyalah konsisten dengan teks hadits dalam hal memasang pelana – melakukan perjalanan – menuju masjid dan hal-hal apa saja yang di antaranya adalah memberi salam kepada beliau, sebagaimana ia jelaskan dalam kitab-kitabnya.” Demikian ucapan Al Syaikh ‘Athiyyah dalam Adlwaau Al Bayaan ( vol VIII hlm 586 ).

 

 Selanjutnya Syaikh ‘Athiyyah mengutip dari tulisan-tulisan Ibnu Taimiyyah statemen yang kami kutip darinya. Lalu ia berkata :“Statemen Ibnu Taimiyyah mengindikasikan bahwa ziarah ke kuburan Nabi Saw dan mengerjakan sholat di masjid beliau adalah dua hal yang saling berkaitan. Siapapun yang mengklaim keduanya terpisah dalam praktek maka ia telah menentang fakta. Jika terbukti ada keterkaitan antara keduanya maka lenyaplah perselisihan dan sirna faktor penyebab persengketaan. Walhamdulillahi Rabbil ‘Alamin.

Di tempat lain halaman 346 pada pembahasan mengqashar sholat dalam perjalanan dalam rangka ziarah ke kuburan orang-orang sholih, Syaikh ‘Athiyyah menjelaskan empat pendapat dari murid-murid Ahmad : Yang ketiga, sholat dapat diqashar dalam perjalanan ziarah ke kuburan Nabi kita Saw. Adlwaa’u Al Bayaan vol VIII hlm 590.

Selanjutnya Syaikh ‘Athiyyah berkata, “Statemen Ibnu Taimiyyah ini adalah ungkapan yang telah mencapai batas dalam kejelasan darinya bahwa antara ziarah kuburan Nabi dan sholat di masjid beliau tidak bisa dipisahkan di mata para ulama.”

Menyangkut orang bodoh, Syaikh ‘Athiyyah menyatakan, “Adapun orang yang tidak mengetahui keterkaitan ini maka ia terkadang tidak punya tujuan kecuali pergi ke kuburan. Kemudian ia pasti melaksanakan sholat di masjid Nabi yang akhirnya ia mendapat pahala karenanya. Larangan yang ia kerjakan namun ia tidak mengetahui bahwa hal itu dilarang membuatnya tidak berhak disiksa. Berarti ia memperoleh pahala dan tidak mendapat dosa.”

Adlwaa’u Al Bayaan vol VIII hlm 590.

Dari statemen Syaikh ‘Athiyyah menjadi jelas bagi Anda bahwa orang menuju kuburan dalam kondisi apapun tidak terhalang untuk mendapat pahala. Maka apakah bisa dikatakan kepadanya bahwa ia berbuat bid’ah, sesat atau musyrik ?

Subhaanaka Hadza Buhtaanun ‘Adhim.

 

PANDANGAN AL IMAM AL HAFIDH AL DZAHABI MENYANGKUT MEMASANG PELANA UNTUK ZIARAH NABI SAW

Dari Hasan ibnu Hasan ibnu ‘Ali bahwasanya ia melihat seorang lelaki berdiri di dalam rumah yang terdapat kuburan Nabi Saw seraya berdo’a dan mendo’akan sholawat untuk beliau. Lalu Hasan berkata kepadanya, “Jangan kau lakukan ini, karena Rasulullah telah bersabda :

 لاَ تَتَّخِذُوْا بَيْتِيْ عِيْدًا , وَلاَ تَجْعَلُوْ بُيُوْتَكُمْ قُبُوْرًا , وَصَلُّوْا عَلَيَّ حَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَإِنَّ صَلاَتَكُمْ تُبَلَّغُنِيْ

 

“Jangan jadikan rumahku sebagai perayaan, jangan jadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan dan sampaikan sholawat kepadaku di manapun kalian berada. Karena sholawat kalian disampaikan kepadaku.”

Status hadits di atas adalah mursal dan Hasan sendiri dalam fatwanya tidak berargumentasi dengan dalil yang berarti. Siapa pun yang berdiri dekat Al Hujrah Al Muqaddasah ( kamar yang suci ) dengan rendah hati seraya memberi salam serta mendoakan shalawat kepada Nabi Saw – oh, betapa beruntungnya ia – maka ia telah berziarah dengan baik dan menunjukkan rasa rendah diri serta rasa cinta yang indah. Ia telah melakukan ibadah melebihi orang yang mendo’akan sholawat kepada beliau di tanah ia berpijak atau pada saat sholat. Karena orang yang melakukan ziarah ke kuburan Nabi Saw akan mendapat pahala berziarah dan pahala mendo’akan sholawat kepada beliau. Sedang orang yang mendo’akan sholawat kepada beliau di tempat lain hanya mendapat pahala bersholawat saja. Barangsiapa yang mendoakan shalawat kepada beliau satu kali maka Allah akan membalas sepuluh kali sholawat. Tetapi orang yang berziarah ke kuburan Nabi Saw dengan mengabaikan etika ziarah, bersujud pada kuburan atau melakukan tindakan yang tidak disyari’atkan maka ia telah melakukan perbuatan yang baik dan buruk di mana ia harus diberi pengertian dengan arif karena Allah Adalah Dzat Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Demi Allah, kegelisahan, teriakan histeris, menciumi tembok dan banyaknya tangisan yang dialami dan dilakukan seorang muslim tidak lain karena ia mencintai Allah dan Rasul-Nya. Rasa cintanya ini adalah tolok ukur dan garis batas antara penghuni surga dan neraka. Berziarah ke kuburan Nabi Saw adalah salah satu ibadah untuk paling utama untuk mendekatkan diri kepada Allah. Sedang memasang pelana hendak pergi ke kuburan para nabi dan para wali jika kita mengakui bahwa hal itu tidak diperintahkan berdasarkan sifat umum dari sabda beliau Saw, “Tidak boleh dipasang pelana – tidak boleh melakukan perjalanan – kecuali hendak menuju ke tiga masjid,” maka pergi ke kuburan Nabi Saw otomatis pergi ke masjid beliau Saw , di mana semua sepakat bulat bahwa hal ini adalah tindakan yang disyari’atkan. Karena tidak mungkin sampai ke kamar beliau kecuali setelah masuk ke dalam masjid. Ketika  masuk, hendaklah yang dilakukan pertama kali adalah shalat tahiyyatul masjid lalu menghormati pemiliknya. Semoga Allah menganugerahkan kita dan kalian ziarah ke kuburan nabi Saw setelah mengunjungi masjid. Amin,

Siyaru A’lami Al Nubalaai vol IV hlm 348 – 385.

AL IMAM MALIK DAN ZIARAH

Al-Imam Malik adalah salah satu figur yang sangat kuat dalam menghormati sosok kenabian. Dia lah sosok yang tidak berjalan di Madinah Munawwarah dengan memakai sandal dan naik kendaraan serta tidak membuang kotorannya di kota tersebut semata-mata memuliakan, menghormati dan menghargai tanah Madinah yang Rasulullah pernah berjalan di atasnya. Simaklah ucapannya dalam masalah ini terhadap amirul mu’minin Al Mahdi ketika datang di Madinah. “Engkau kini sedang memasuki kota Madinah. Engkau akan berjalan bertemu dengan penduduk dari arah kanan dan kirimu. Mereka adalah anak cucu sahabat muhajirin dan anshar. Berilah salam kepada mereka. Karena di muka bumi ini tidak ada bangsa yang lebih baik dari pada penduduk Madinah dan tidak ada daerah yang lebih baik melebihi Madinah.”

 “Dari mana engkau sampai berpendapat demikian, wahai Aba ‘Abdillah ? “ tanya amirul mu’minin.

“Karena di muka bumi ini sekarang tidak ada kuburan nabi yang diketahui selain kuburan Nabi Saw. Dan masyarakat yang kuburan beliau berada didekatnya maka selayaknya keutamaan mereka diketahui,” jawab Al Imam Malik.

( Al Madaarik, karya Al Qadli ‘Iyadl )

 

 Salah satu indikator kuatnya penghargaan Al Imam Malik terhadap Madinah, ia tidak suka jika diucapkan : Kami ziarah ke kuburan Nabi Saw. Karena Al Imam Malik seakan-akan menghendaki agar orang mengatakan : “Kami berziarah kepada Nabi secara langsung”, tanpa embel-embel kalimat kuburan. Sebab kuburan itu tempat yang ditelantarkan dengan bukti sabda Nabi Saw :

صَلُّوْا فِيْ بُيُوْتِكُمْ وَلاَ تَجْعَلُوْهَا قُبُوْرًا

 

“Shalatlah di rumah-rumah kalian dan jangan jadikan rumah kalian seperti kuburan.”

 

 Al Hafidh Ibnu Hajar mengatakan bahwa Al Imam Malik tidak suka mengatakan ungkapan “kami ziarah ke kuburan Nab Saw” semata-mata pertimbangan etika bukan tidak suka kepada aktivitas ziarah itu sendiri. Karena ziarah kubur itu salah satu amal yang paling utama dan ibadah yang paling agung untuk mengantar menuju ridlo Allah Yang Maha Agung. Dan disyari’atkannya ziarah kubur sudah ditetapakan sebagai ijma’, tidak ada perselisihan pendapat dalam hal ini. ( Fathul Baari, syarhu Shahih Al Bukhari vol III hlm 66 ).

Al Imam Al Hafidh Ibnu ‘Abdi Al Barr menyatakan bahwa Al Imam Malik tidak suka ucapan ”keliling berziarah” dan “kami ziarah ke kuburan Nabi” karena masyarakat menggunakan kedua ungkapan ini jika berhubungan dengan sesama mereka. Maka Al Imam Malik tidak mau menyamakan Nabi dengan dengan masyarakat umum dengan ungkapan ini dan ingin mengkhususkan nabi dengan ungkapan “Kami sampaikan salam kepada Nabi Saw”.

Di samping itu ziarah kubur sesama manusia hukumnya mubah dan wajib memberangkatkan kendaraan menuju kuburan Rasulullah. Al Imam Malik mengatakan wajib ini dalam arti wajib yang bersifat anjuran, dorongan dan tekanan bukan wajib dalam arti fardlu. Di mata saya, penolakan dan ketidaksukaan Al Imam Malik terhadap ungkapan “kami ziarah ke kuburan Nabi Saw” adalah karena ada kalimat kuburan Nabi Saw dan seandainya yang digunakan adalah ungkapan “kami ziarah ke Nabi Saw” niscaya beliau menerima berdasarkan hadits beliau Saw :

 

اَلَّلهُمَّ لاَ تَجْعَلْ قَبْرِيْ وَثَنًا يُعْبَدُ بَعْدِيْ , اِشْتَدَّ غَضَبُ اللهِ عَلَى قَوْمٍ اِتَّخَذُوْا قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

 

”Ya Allah, janganlah Engkau jadikan kuburanku arca yang disembah sesudah wafatku. Allah sangat murka kepada kaum yang menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai masjid.”

 

Al Imam Malik menghindarkan penyandaran kalimat zurna “kami ziarah” ke kalimat al qabru “kuburan” sekaligus menghindari keserupaan dengan tindakan mereka yang menjadikan kuburan sebagai masjid, dengan tujuan menutup akses terjadinya hal-hal yang diharamkan.

Menurut saya jika yang dimaksud adalah ketidaksenangan Al Imam Malik terhadap ziarah ke kuburan Nabi niscaya beliau akan mengatakan : “Saya tidak suka seorang lelaki ziarah ke kuburan Nabi Saw.” Namun ucapan beliau : “Saya tidak suka seorang lelaki mengatakan, “Kami akan ziarah ke kuburan Nabi Saw”, dhahirnya menunjukkan bahwa beliau tidak menyukai ungkapan tersebut .

KESUNNAHAN ZIARAH NABI VERSI ULAMA PENGIKUT AHMAD IBNU HANBAL ( HANABILAH ) DAN YANG LAIN

Ziarah Nabi Saw adalah hal yang disyari’atkan. Hal ini telah disebutkan oleh banyak ulama dan para imam salaf. Penyebutan Hanabilah secara spesifik di atas maksudnya adalah untuk membantah kebohongan orang yang mengatakan bahwa para imam Hanabilah tidak mengatakan disyari’atkannya ziarah Nabi Saw. Karena alasan demikian, maka Hanabilah disebut secara spesifik untuk membantah kebohongan tersebut. Jika bukan karena alasan ini, maka semua literatur fiqh madzhab-madzab dalam Islam sarat dengan muatan masalah ini. Jika anda berkenan, tela`ahlah literatur fiqh Al Hanafi, Al Maliki, Al Syafi’i, Al Hanbali, Al Zaidiyyah, Al Abadli, dan Al Ja’far, maka Anda akan menemukan para ulama telah membuat bab khusus mengenai ziarah Nabi setelah bab-bab tentang Al Manaasik.

 

STATEMEN PARA IMAM SALAF MENYANGKUT DISYARI’ATKANNYA ZIARAH KEPADA SAYYIDINA RASULULLAH DAN MELAKUKAN PERJALANAN MENUJU KUBURAN BELIAU

1) Al Qadli ‘Iyadl

Di sini kami menyebutkan statemen Al Qadli ‘Iyadl menyangkut disyari’atkannya ziarah nabawiyyah menurut ulama-ulama generasi salaf dalam komentarnya terhadap hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari Ibnu ‘Umar dari Nabi Saw, beliau bersabda :

 

  إِنَّ اْلاِسْلاَمَ بَدَأَ غَرِيْبًا وَسَيَعُوْدُ غَرِيْبًا كَمَا بَدَأَ , وَهُوَ يَأْرُزُ بَيْنَ الْمَسْجِدَيْنَ كَمَا تَأْرُزُ الْحَيَّةُ فِي حِجْرِهَا . “

 

 Sesungguhnya pada awal kedatangannya islam terasingkan, begitupun kelak ia akan terasingkan dan diasingkan sebagaimana awal kemunculannya. Islam berlindung di antara dua masjid, seperti halnya seekor ular berlindung di dalam sebuah lubang. ”

Dalam riwayat Abu Hurairah redaksinya berbunyi, “Laya’rizu ila al Madiinati ( Sungguh Islam berlindung ke Madinah ) ………dst.”

 

 Menurut Al Qadli ‘Iyadl ungkapan Laya’rizu ila al Madiinati, artinya adalah keimanan pada masa awal dan akhir bersifat demikian. Karena pada masa awal Islam setiap orang yang tulus keislamannya dan sahih keimanannya datang ke Madinah baik sebagai imigran yang tinggal menetap atau karena sangat rindu melihat Rasulullah untuk belajar dan dekat dengan beliau. Selanjutnya setelah beliau mangkat, pada zaman para khalifah, orang muslim yang tulus dan memiliki iman yang sahih juga datang ke Madinah untuk belajar, menyerap perilaku adil dari para khalifah dan meneladani mayoritas sahabat yang tinggal di Madinah. Kemudian pasca generasi para khalifah, para ulama yang menjadi pelita masa dan pemimpin yang memberi petunjuk datang ke Madinah untuk mengambil hadits-hadits yang tersebar pada warga di kota tersebut. Maka setiap orang yang kokoh imannya dan lapang dadanya berkat keimanan tersebut pergi ke Madinah setiap waktu sampai zaman kita sekarang untuk ziarah kuburan Nabi Saw dan memohon berkah dengan lokasi-lokasi yang pernah didiami beliau dan jejak-jejak para sahabat beliau yang mulia. Tidak ada yang datang ke Madinah kecuali orang mu’min.Inilah statemen Al Qadli ‘Iyadl. Wallahu A’lam bi Al Shawab.

Syarh Shahih Al Muslim li Al Nawawi hlm 177.

2) Al Imam Al Nawawi

Imam Al Hafidh Syarafuddin Al Nawawi penyusun syarh Shahih Muslim dalam kitabnya yang populer mengenai manasik yang bernama Al Iidlah membuat pasal khusus tentang ziarah nabawiyyah. Pada pasal ini beliau mengatakan,

“Apabila para jamaah haji dan umrah berangkat dari Makkah maka datanglah ke Madinaturrasulullah Saw untuk ziarah ke kuburan beliau. Karena ziarah ini termasuk salah satu qurbah ( aktifitas untuk mendekatkan diri kepada Allah ) yang utama dan upaya yang dinilai paling sukses.”

Silahkan juga baca statemen Al Imam Al Nawawi dalam syarh Shahih Muslim saat membicarakan hadits : “Laa Tusyaaddu Al Rihaal” vol IX hlm 106.

3) Al Imam Ibnu Hajar Al Haitami

Al Hafid Ibnu Hajar Al Haitami dalam hasyiyahnya ( komentar / kritik ) atas Al Idlah karya Al Nawawi saat memberikan komentar ucapan Al Nawawi : “Al Bazzar dan Al Daruquthi telah meriwayatkan dengan isnad mereka dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, “Rasulullah Saw bersabda :

مَنْ زَارَ قَبْرِيْ وَحَبَتْ لَهُ شَفَاعَتِيْ

 

“Siapapun yang menziarahi kuburanku maka ia pasti mendapat syafaatku.”

 

 “Hadits di atas ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya dan telah dikategorikan shahih oleh sekelompok ulama seperti ‘Abdu Al Haqq dan Al Taqi Al Subki. Penilaian shahih ini tidak bertentangan dengan ucapan Al Dzahabi :”Jalur-jalur periwayatan hadits ini seluruhnya lemah dimana sebagian menguatkan sebagiannya yang lain.”Hadits ini juga diriwayatkan oleh Al Daruquthni, Al Thabarani dan Ibnu Al Subki yang sekaligus menilainya sebagai hadits shahih dengan redaksi :

 

 مَنْ جَاءَنِيْ زَائِراً لاَ تَحْمِلُهُ حَاجَةٌ إِلاَّ زِيَارَتِيْ كَانَ حَقًّا عَلَيَّ أَنْ أَكُوْنَ لَهُ شَفِيْعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ

 

“Siapa yang datang kepadaku dalam rangka berziarah, tidak ada dorongan kepentingan kecuali hanya untuk ziarah kepadaku maka wajib atasku untuk memberinya syafaat kelak di hari kiamat.”

 

Dalam riwayat lain :

كَانَ لَهُ حَقًّا عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ أَكُوْنَ لَهُ شَفِيْعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ

 

“Wajib atas Allah untuknya agar aku memberi syafaat kepadanya di hari kiamat.”

 

Yang dimaksud dengan kalimat “Laa tahmiluhu hajatun illa ziyarati” ( tidak ada dorongan kepentingan kecuali hanya untuk ziarah kepadaku ) adalah : menghindari tujuan yang tidak ada kaitannya dengan ziarah. Adapun sesuatu yang masih terkait dengannya seperti tujuan beri’tikaf di masjid nabawi, memperbanyak ibadah di dalamnya, ziarah ke kuburan para sahabat dan sebagainya yang berkaitan dengan aktivitas-aktivitas yang disunnahkan bagi peziarah maka hal-hal ini tidak menghalangi diperolehnya syafaat baginya. Sahabat kami dan yang lain mengatakan disunnahkan bagi peziarah disamping niat taqarrub dengan berziarah juga niat taqarrub dengan pergi menuju masjid nabawi dan melaksanakan sholat di dalamnya sebagaimana disebutkan Al Mushannif ( Sayyid Muhammad bin Alawy Al Maliki ).

Kemudian hadits di atas mencakup berziarah kepada beliau Saw baik waktu masih hidup atau sesudah wafat dan juga mencakup peziarah lelaki dan wanita yang datang dari tempat yang dekat atau jauh. Hadits ini bisa dijadikan dalil atas keutamaan pergi dengan tujuan ziarah kuburan beliau dan disunnahkannya bepergian demi ziarah tersebut, karena perantara itu status hukumnya sama dengan yang menjadi tujuan.

Abu Dawud telah meriwayatkan sebuah hadits dengan sanad shahih sebagai berikut :

مَا مِنْ أَحَدٍ يُسَلِّمُ عَلَيَّ إِلاَّ رَدَّ اللهُ عَلَيَّ رُوْحِيْ حَتَّى أَرُدُّ عَلَيْهِ السَّلاَمَ

 

“Tidak ada seorangpun yang menyampaikan salam kepadaku kecuali Allah akan mengembalikan nyawaku hingga aku menjawab salamnya.”

 

 Renungkanlah keutamaan agung ini yaitu jawaban beliau kepada orang yang menyampaikan salam kepadanya. Karena beliau hidup di dalam kuburan sebagaimana para nabi yang lain. Berdasarkan sebuah hadits yang berstatus marfu’ :

َاْلأَنْبِيَاءُ أَحْيَاءٌ فِيْ قُبُوْرِهِمْ يُصَلُّوْنَ

 

”Para nabi itu hidup dalam kuburan mereka dalam keadaan melaksanakan shalat.”

 

Yang dimaksud dengan mengembalikan nyawa beliau yang mulia adalah mengembalikan kekuatan berbicara pada saat itu untuk menjawab salam. Al Idlah hlm 488.

4) Al Imam Al Hafidh Ibnu Hajar Al ‘Asqilani

Al Imam Ibnu Hajar dalam syarhnya atas Al Bukhari mengatakan ketika mengomentari hadits :

لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ ِإلاَّ إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ

 

“Tidak boleh dipasang pelana – tidak boleh pergi melakukan perjalanan – kecuali hendak menuju ke tiga masjid,”

 

 Kalimat “kecuali hendak menuju ke tiga masjid” obyek yang mendapat pengecualian ( almustatsana minhu ) dibuang. Pembuangan ini mungkin analogi obyek yang mendapat pengecualian yang bersifat umum kemudian ungkapannya menjadi : “Tidak boleh dipasang pelana – tidak boleh pergi melakukan perjalanan – menuju ke sebuah tempat dengan tujuan apapun kecuali hendak menuju ke tiga masjid,” atau obyek yang mendapat pengecualian itu lebih spesifik dari “tempat”. Analogi yang pertama tidak bisa diterima karena berkonsekuensi menutup pintu bepergian untuk berdagang, silaturrahim, mencari ilmu dan sebagainya. Berarti analogi kedua adalah satu-satunya alternatif. Yang baik adalah analogi obyek yang mendapat pengecualian yang paling banyak relevansinya. Yaitu “Tidak boleh dipasang pelana – tidak boleh pergi melakukan perjalanan – untuk ziarah ke masjid dalam rangka melaksanakan sholat di dalamnya kecuali hendak menuju ke tiga masjid.” Dengan analogi ini berarti batallah pandangan orang yang melarang pergi menuju ziarah kuburan Nabi Saw yang mulia dan kuburan lain dari kuburan orang-orang shalih. Wallahu A’lam.

 

Al Subuki Al Kabir mengatakan, “Persoalan di atas belum bisa dipahami dengan baik oleh sebagian orang. Mereka menganggap bahwa memasang pelana untuk berziarah di selain tiga masjid di atas masuk dalam kategori larangan. Pandangan ini keliru. Karena pengecualian hanya terjadi dari obyek yang mendapat pengecualian yang sejenis. Berarti pengertian hadits adalah sbb : “Jangan dipasang pelana menuju ke salah satu masjid atau ke salah satu tempat karena tempat tersebut kecuali ke tiga masjid di atas. Sedang melakukan perjalanan hendak ziarah atau mencari ilmu, tempat bukanlah tujuan tapi orang yang berada di tempat itu yang menjadi tujuan.

Wallahu a’lam.

( Fathul Baari vol III hlm 66 )

 

5) Al Imam Al Syaikh Al Kirmani Pensyarh Al Bukhari

Al Syaikh Al Kirmani dalam syarh Al Bukhari memberikan komentar terhadap sabda Nabi “kecuali tiga masjid”, “Pengecualian dalam kalimat ini bersifat mufarragh ( tidak menyebut obyek yang mendapat pengecualian ). Jika Anda berpendapat bahwa pengandaian ungkapan ini adalah “tidak boleh dipasang pelana – tidak boleh pergi melakukan perjalanan – kecuali hendak menuju ke suatu tempat” berarti otomatis tidak diperkenankan bepergian ke tempat selain tempat yang mendapat pengecualian hingga bepergian untuk ziarah ke Nabi Ibrahim Al Khalil dan semisalnya juga dilarang. Karena obyek yang mendapat pengecualian dalam pengecualian yang bersifat mufarragh harus mengandaikan obyek yang mendapat pengecualian yang bersifat sangat umum ( a’ammu al a’maam ).  

Menurut penulis ( Sayyid Muhammad ) yang dimaksud dengan a’ammu al a’maam adalah kalimat yang relevan dengan obyek yang mendapat pengecualian dalam aspek jenis dan sifat.

Seperti ucapan Anda : “Saya tidak melihat kecuali Zaid”,

yang perkiraannya adalah “saya tidak melihat lelaki atau seseorang kecuali Zaid” bukan “saya tidak melihat sesuatu atau binatang kecuali Zaid”. Maka hadits di atas perkiraannya adalah : “tidak boleh dipasang pelana – tidak boleh pergi melakukan perjalanan – menuju masjid kecuali hendak ke tiga masjid.”

Dalam menyikap perkiraan hadits ini banyak terjadi polemik di negara-negara Syam dan beberapa risalah juga disusun dari kedua kubu. Namun sekarang kami tidak akan menjelaskannya.

( Syarh Al Kirmani vol VII hlm 12 ).

6) Al Syaikh Badruddin Al ‘Aini

Dalam syarh Al Bukhari, Al Syaikh Badruddin Al ‘Aini menyatakan, “Al Rafi’i Menceritakan dari Al Qadli Ibnu Kajin bahwa ia berkata, “Jika seseorang bernazar akan ziarah kuburan Nabi Saw maka menurut pendapat saya ia wajib memenuhi nazarnya ini. Tidak ada pilihan lain. “Namun jika ia nazar untuk ziarah kuburan lain maka ada dua pendapat dalam masalah ini,” lanjut Ibnu Kajin.

Al Qadli ‘Iyadl dan Abu Muhammad Al Juwaini dari kalangan pengikut madzhab Syafi’i mengatakan, “Diharamkan berpergian menuju selain tiga masjid sebab ada faktor larangan.”

Al Imam Al Nawawi menyatakan bahwa pandangan Al Qadli ‘Iyadl dan Al Juwaini itu keliru. “Yang benar menurut pendapat ulama pengikut madzhab syafi`i adalah pendapat yang dipilih oleh Imam Al Haramain dan para muhaqqiqun. Yaitu bahwa hal itu tidak haram dan tidak makruh,” lanjut Al Nawawi.

            Al Khaththabi berkata, “Laa Tusyaddu ( tidak boleh memasang pelana ) adalah kalimat berita yang maksudnya adalah mewajibkan apa yang dinazarkan seseorang dari sholat di tempat-tempat yang diharapkan keberkahannya. Maksudnya tidak wajib memenuhi nazar di atas di tempat manapun sampai pelana terpasang dan telah ditempuh perjalanan menuju tempat itu kecuali hendak menuju tiga masjid yang merupakan masjid para nabi AS.

  Adapun jika seseorang nazar melaksakan sholat di luar tiga masjid ini maka ia memiliki alternatif untuk memilih sholat di luar tiga masjid ini atau sholat di tempat di mana ia tinggal serta tidak perlu pergi menuju ke selain tiga masjid tersebut.

Syaikhuna Zainuddin mengatakan, “Salah satu interpretasi paling baik dari hadits di atas adalah bahwa yang dimaksud adalah hukum masjid-masjid saja dan bahwasanya tidak boleh pelana dipasang – berpergian – menuju salah satu masjid kecuali tiga masjid di atas. Adapun jika yang menjadi tujuan adalah bukan masjid seperti pergi untuk mencari ilmu, berdagang, berwisata, mengunjungi orang-orang shalih, ziarah kubur dan mengunjungi kawan-kawan dan sebagainya maka semua hal ini tidak dikategorikan larangan. Hal ini tercantum dengan jelas dalam sebagian jalur periwayatan hadits dalam Musnad Ahmad ; bercerita kepadaku Hasyim bercerita kepadaku Abdul Hamid bercerita kepadaku Syahr “Saya mendengar Abu Sa’id Al Khudri Ra dan di dekatnya disebut sholat di gunung Sinai lalu ia berkata, “Rasulullah Saw bersabda :

   لاَ يَنْبَغِيْ لِلْمُصَلِّي أَنْ يَشُدَّ رِحَالَهُ إِلَى مَسْجِدٍ يَبْتَغِيْ فِيْهِ الصَّلاَةَ غَيْرِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ , وَالْمَسْجِدِ اْلأَقْصَى , وَمَسْجِدِي هَذَا .

 

“Tidak selayaknya sebuah kendaraan dipasang pelananya menuju masjid yang ingin dilaksanakan shalat di dalamnya kecuali masjid haram, masjid aqsha, dan masjidku ini.”

 

Isnad hadits ini berstatus hasan dan Syahr ibnu Al Hausyab dinilai adil oleh sekelompok imam.

( ‘Umdatu Al Qari vol VII hlm 254 ).

7) Al Syaikh Abu Muhammad Ibnu Qudamah  

Pengikut Madzhab Hanafi dan Penyusun Kitab Al Mughni   Al Syaikh Abu Muhammad Muwaffaq Al Din Abdullah Ibnu Qudamah mengatakan, “Disunnahkan ziarah kubur Nabi Saw berdasarkan hadits riwayat Al Daruquthni dengan sanadnya dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, “Rasulullah Saw bersabda :

 

مَنْ حَجَّ فَزَارَ قَبْرِيْ بَعْدَ وَفَاتِيْ فَكَأَنَّمَا زَارَنِيْ فِيْ حَيَاتِيْ

 

”Barangsiapa yang melaksanakan haji lalu berziarah ke kuburanku setelah wafatku maka seolah-olah ia menziarahiku sewaktu aku masih hidup.”

 

 Dalam riwayat lain :

مَنْ زَارَ قَبْرِيْ وَجَبَتْ لَهُ شَفَاعَتِيْ

“Barangsiapa berziarah ke kuburanku maka ia wajib mendapat syafaatku.”

 

Hadits di atas dengan menggunakan redaksi pertama diriwayatkan oleh Sa’id. Menceritakan kepadaku Hafsh ibnu Sulaiman dari Laits dari Mujahid dari Ibnu ‘Umar dan Ahmad berkata dalam riwayat Abdullah dari Yazid ibnu Qusait dari Abu Hurairah bahwasanya Nabi Saw bersabda :

مَا مِنْ أَحَدٍ يُسَلِّمُ عَلَيَّ عِنْدَ قَبْرِيْ ِإلاَّ رَدَّ اللهُ عَلَيَّ رُوْحِيْ حَتَّى أَرُدَّ عَلَيْهِ السَّلاَمَ

 

“Tidak ada seorang pun yang memberi salam kepadaku di dekat kuburanku kecuali Allah akan mengembalikan nyawaku hingga aku menjawab salamnya.”

 

Jika orang yang sama sekali belum pernah melaksanakan haji pergi haji tidak melalui rute Syam maka ia tidak boleh mengambil rute Madinah karena saya takut terjadi sesuatu yang menimpa dirinya. Sebaiknya ia menuju Makkah melalui rute terpendek dan jangan sibuk dengan hal lain.

           

 Diriwayatkan dari Al ‘Utbi, ia berkata, “Saya duduk di dekat kuburan Nabi Saw lalu datang seorang A’rabi ( warga pedalaman ). “Assalamu ‘alaika Ya Rasulallah, “katanya. “Saya mendengar Allah berfirman :

  وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا

“Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”

 ( Q.S.An.Nisaa` : 64 )

 

dan saya datang kepadamu seraya memohon agar engkau memohonkan ampunan atas dosaku dan memohon syafaat dengamu kepada Allah, “ lanjutnya. Kemudian ia mengucapkan syair :

 

يَاخَيْرَ مَنْ دُفِنَتْ بِالْقَاعِ أَعْظُمُهُ        فَطَابَ مِنْ طِيْبِهِنَّ الْقَاعُ وَاْلأَكُمُ

نَفْسِي الْفِدَاءُ لِقَبْرٍ أَنْتَ سَاكِنُهُ         فِيْهِ الْعَفَافُ وَفِيْهِ الْجُوْدُ وَاْلكَرَمُ

 

Wahai orang yang tulang belulangnya dikubur di tanah datar

Berkat keharumannya, tanah rata dan bukit semerbak mewangi

Diriku jadi tebusan untuk kuburan yang Engkau tinggal di dalamnya

Di dalam kuburmu terdapat sifat bersih dan kedermawanan

 

Kemudian A’rabi itu pergi. Lalu mata saya terasa berat dan akhirnya saya tidur. Dalam tidur saya bermimpi bertemu Nabi Saw. “Wahai ‘Utbi ! kejarlah si A’rabi dan berilah kabar gembira untuknya bahwa Allah telah mengampuninya.”

(Al Mughni karya Ibnu Qudamah vol III hlm 556).

8) Al Syaikh Abu Al Faraj Ibnu Qudamah Imam Al      

     Hanabilah dan Penyusun Al Syarh Al Kabir

 

Al Syaikh Syamsu al Din Abu al Faraj ibnu Qudamah al Hanbali dalam kitabnya Al Syarh Al Kabir mengatakan :

( Masalah ) : Jika seorang jamaah haji selesai melakukan prosesi haji maka disunnahkan baginya ziarah kuburan Nabi dan kedua sahabat beliau.

Selanjutnya Al Syaikh Ibnu Qudamah menyebutkan ungkapan yang diucapkan untuk memberi salam kepada Nabi Saw. Di dalam ungkapan itu terdapat ucapan : “Ya Allah sesungguhnya Engkau telah berfirman dan firman-Mu itu benar :

 

  وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا

“Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”

 ( Q.S.An.Nisaa` : 64 )

 

saya datang kepadamu ( Nabi Muhammad ) memohonkan ampunan atas dosaku juga memohon syafaat denganmu kepada Tuhanmu. Saya memohon kepada-Mu ya Tuhan agar Engkau menetapkan ampunan untukku sebagaimana engkau tetapkan ampunan untuk orang yang datang kepada Nabi sewaktu beliau masih hidup. Ya Allah, jadikanlah Nabi Muhammad pemberi syafaat pertama, pemohon paling berhasil dari orang-orang awal dan akhir paling mulia berkat rahmat-Mu, wahai Dzat Yang Maha Penyayang .

 

 Kemudian Syaikh Ibnu Qudamah melanjutkan, “Tidak disunnahkan mengusap-usap dan mencium dinding kuburan Nabi Saw. Ahmad mengatakan, “Saya tidak mengetahui hal ini ( mengusap dan mencium dinding kuburan Nabi ).”

Kata Atsram, “Saya melihat kalangan terpelajar Madinah tidak mengusap-usap kuburan Nabi Saw. Mereka berdiri pada satu tempat lalu memberi salam.”

Abu Abdillah berkata, “Demikianlah praktik yang dikerjakan Ibnu ‘Umar.”

 

 Adapun masalah mimbar maka terdapat hadits riwayat Ibrahim ibnu Abdillah ibnu Abdil Qari’ bahwasanya ia melihat Ibnu ‘Umar meletakkan tangannya di atas bagian mimbar yang diduduki Nabi kemudian menempelkannya pada wajah.”

( Al Syarh Al Kabir vol III hlm 495 ).

 

9) Al Syaikh Manshur ibnu Yunus Al Bahuti Al Hanbali

Al Syaikh Manshur ibnu Yunus al Bahuti dalam kitabnya Kisyafu al Qinaa’ ‘an Matni al Iqna’ mengatakan,

“Jika seorang jamaah haji selesai melakukan prosesi haji maka disunnahkan baginya ziarah kuburan Nabi dan kedua sahabat beliau Abu Bakar dan ‘Umar berdasarkan hadits riwayat Al Daruquthni dari Ibnu ‘Umar, ”Barangsiapa yang melaksanakan haji lalu berziarah ke kuburanku setelah wafatku maka seolah-olah ia menziarahiku sewaktu aku masih hidup.”

Dalam riwayat lain,

“Barangsiapa berziarah ke kuburanku maka ia wajib mendapat syafaatku.”

Hadits di atas dengan redaksi yang pertama diriwayatkan oleh Sa’id.

 

 Catatan :

Ibnu Nashrillah mengatakan, “Yang tidak bisa dipisahkan dari kesunnahan ziarah kuburan Nabi Saw adalah kesunnahan memasang pelana – melakukan perjalanan – dengan tujuan ziarah. Karena ziarah kuburan beliau tidak mungkin dilakukan orang yang pergi haji tanpa memasang pelana. Hal ini seakan-akan menjelaskan disunnahkannya memasang pelana untuk ziarah kuburan beliau Saw.” ( Kisyafu Al Qinaa’ vol II hlm 598 ).

10) Al Syaikh Al Islam Muhammad Taqi Al Din Al Futuhi Al Hanbali Al Syaikh Al Fatuhi mengatakan,

“Disunnahkan ziarah kubur Nabi dan kedua sahabat beliau. Peziarah hendaknya memberi salam dengan menghadap kuburan beliau lalu menghadap kiblat. Hujrah ( kamar ) diposisikan di sebelah kiri dan berdoa. Diharamkan melakukan thawaf terhadap hujrah dan makruh mengusap dan mengeraskan suara di dekat hujrah.”

 

11) Al Syaikh Mar’i Ibnu Yusuf Al HanbaliAl Syaikh Mar’i   

      ibnu Yusuf

Dalam kitabnya Dalilu Al Thalib menyatakan,

“Disunnahkan ziarah ke kuburan Nabi dan kedua sahabat beliau Ra, dan disunnahkan pula shalat di masjid beliau yang nilainya sama dengan seribu kali sholat di masjid lain, di masjid haram sama dengan seratus ribu kali dibanding sholat di masjid lain dan di masjid Aqsha sama dengan lima ratus kali.

( Dalilu Al Thalib hlm 88 ).

12) Al Imam Syaikhu Al Islam Majd Al Din Muhammad ibnu Ya’qub Al Fairuzabadi Penyusun Al Qamus

 

 berkata dalam kitabnya Al Shilaat wa Al Basyar; Ketahuilah

Bahwasanya shalawat kepada Nabi Saw di dekat kubur beliau lebih dianjurkan. Oleh karenanya disunnahkan menjalankan kendaraan untuk meraih keberuntungan dengan kemuliaan yang agung dan derajat yang mulia ini.

Al Qadli Ibnu Kajin ( Al Qadli ibnu Yusuf Ahmad ibnu Kajin ) mengatakan sesuai informasi dari Al Rafi’i, “Jika seseorang nazar untuk ziarah kuburan Nabi Saw maka menurutku ia wajib menunaikan nazarnya ini. Tidak ada pilihan lain. Tapi kalau ia nazar untuk ziarah kuburan lain maka dalam hal ini menurutku ada dua pendapat. Dan telah diketahui bahwa tidak ada kewajiban menunaikan sesuatu yang dinazarkan kecuali jika sesuatu itu dikategorikan ibadah. Salah satu ulama yang menjelaskan kesunnahan ziarah dan status hukumnya yang sunnah dari kalangan ashhabuna adalah Al Rafi’i pada bagian-bagian akhir dari Babu A’maali al Hajj, Al Ghazali dalam Ihyaa’ ‘Ulumuddin, Al Baghawi dalam Al Tahdzib, Al Syaikh ‘Izzuddin ibnu ‘Abdissalam dalam Al Manasik, Abu ‘Amr ibnu Al Shalah dan Abu Zakaria Al Nawawi.

Dari kalangan pengikut madzhab Ahmad Ibnu Hanbal (Hanabilah) Al Syaikh Muwafaqaddin, Al Imam Abu Al Faraj AL Baghdadi dan lain sebagainya.

Dari kalangan Hanafiah adalah penyusun Al Ikhtiyar fi Syarhil Mukhtar yang membuat pasal tentang ziarah dan mengkategorikannya sebagai salah satu kesunnahan yang paling utama.

Adapun dari kalangan Malikiyyah maka Al Qadli ‘Iyadl menginformasikan dari mereka adanya konsensus atas disunnahkannya ziarah kuburan Nabi Saw.

 

 Dalam kitab Tahdzibul Mathaalib karya ‘Abdul Haqq Al Shaqalli dari Al Syaikh Abi ‘Imran Al Maliki bahwasanya ziarah kuburan Nabi Saw itu hukumnya wajib. “Yakni salah satu sunnah yang wajib,” kata Abdul Haqq. Dalam statemen Al ‘Abdi Al Maliki pada syarh Al Risalah dinyatakan bahwa berjalan ke Madinah dalam rangka ziarah kuburan Rasulullah Saw itu lebih utama dari pada Ka’bah dan Baitul Maqdis.

 

Statemen para fuqaha’ penganut madzhab kebanyakan menetapkan adanya perjalanan untuk ziarah. Sebab mereka mensunnahkan kepada orang yang pergi haji setelah selesai melakukan prosesi haji untuk berziarah dan hal yang tidak bisa dihindarkan dari ziarah adalah adalah melakukan perjalanan menuju tempat ziarah. Adapun esensi ziarah itu sendiri maka dalil atas ziarah itu sendiri banyak. Salah satunya adalah firman Allah :

 

  وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا

“Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”

 ( Q.S.An.Nisaa` : 64 )

 

Tidak diragukan lagi bahwa Rasulullah Saw itu hidup dan amal perbuatan ummat beliau diperlihatkan kepadanya.

Selanjutnya Syaikh Fairuzabadi menyebutkan sejumlah hadits tentang ziarah. Sekian kutipan dari kitab Al Shilaat wa al Basyar fi Al Shalat ‘la Khairi Al Basyar Saw karya Syaikhul Islam Majduddin Muhammad ibnu Ya’qub Al Fairuz Abadi hlm 148.

13) Al Imam Al Syaikh Muhammad ibnu ‘Allaan Al Shiddiqi Al Syafi’i Pensyarah Al AdzkarAl Syaikh Muhammad ibnu ‘Allaan mengomentari ucapan Al Nawawi :

( Karena ziarah ini termasuk salah satu qurbah ( aktifitas untuk mendekatkan diri kepada Allah ) yang utama dan upaya yang dinilai paling sukses), “Bagaimana tidak, Nabi Saw telah memberi janji kepada peziarah bahwa ia wajib mendapat syafaat beliau. Dan syafaat ini tidak wajib kecuali untuk orang yang beriman. Janji Nabi ini berarti kabar gembira bahwa ia mati membawa iman di samping beliau sendiri tanpa mediator mendengar salam dari orang yang memberi salam.”

Abu Al Syaikh meriwayatkan : “Barangsiapa yang mendoakan shalawat kepadaku di samping kuburanku maka saya mendengarnya dan barangsiapa yang mendoakan sholawat kepadaku dari tempat yang jauh maka saya diberi tahu akan sholawat itu.”

Al Hafidh menyatakan bahwa sanad hadits ini perlu dikaji. Abu Dawud dan perawi lain meriwayatkan dari Abu Hurairah dari Nabi Saw bahwa beliau bersabda :

 

 ما من أحد يسلم عليّ إلا رد الله عليّ روحي حتى أرد عليه السلام

 

“Tidak seorang muslim pun yang memberi salam kepadaku kecuali Allah akan mengembalikan nyawaku hingga aku menjawab salamnya.”

 

Al Hafidh Ibnu Hajar Al ‘Asqilani mengatakan bahwa hadits dari Abu Hurairah ini statusnya hasan yang diriwayatkan oleh Ahmad, Al Baihaqi dan perawi-perawi lain. Dan saya dikabari dari Al Subuki dalam Al Syifaa’ Al Siqaam bahwa ia berkata, “Sekelompok imam berpedoman dengan hadits ini dalam menetapkan kesunnahan ziarah kuburan Nabi Saw. Sikap para imam ini adalah sikap yang benar karena jika peziarah memberi salam kepada Nabi maka jawaban dari beliau terjadi seketika dan hal ini adalah keutamaan yang dicari.”

 

 Menurut saya ( Sayyid Muhammad ) jawaban seketika Nabi tanpa mediator kepada yang memberi salam itu jika peziarah tidak mendapat suguhan kecuali jawaban dari Nabi kepadanya ini niscaya hal ini cukup baginya. Bagaimana tidak, jawaban beliau mengandung syafaat agung dan dilipatgandakannya sholat di tanah haram yang luhur.

 Al Taqi Al Subuki telah menyebutkan sejumlah hadits mengenai ziarah kubur Nabi Saw dalam Al Syifaa’ Al Siqaam, Ibnu Hajar dalam Al Jauhar Al Munadhdham dan muridnya Al Fakihi dalam Husnul Isyarah fi Aadabizziarah.

Al Futuhat Al Rabbaniyyah ‘ala Al Adzkar Al Nawaawiyyah vol V hlm 31.

 

 

ZIARAH NABI VERSI SALAF

Sudah maklum bahwa yang dimaksud dengan ziarah di sini adalah ziarah dalam kacamata syara’ yang etika dan hal-hal yang sepatutnya dikerjakan oleh peziarah telah dijelaskan oleh Al Sunnah. Al Syaikh Ibnu Taimiyyah berkata dalam rangka menjelaskan antara ziarah yang dilakukan mereka yang meyakini keesaan Allah ( ahluttauhid ) dan orang-orang musyrik, “Ziarah yang dilakukan oleh ahluttauhid terhadap kuburan-kuburan kaum muslimin berisi penyampaian salam dan mendoakan kepada penghuni kuburan tersebut. Hal ini sama dengan menshalati jenazah mereka. Sedang ziarah yang dilakukan oleh orang-orang musyrik berisi aktivitas mereka yang menyerupakan makhluk dengan Khaliq. Mereka bernazar untuk mayit, bersujud dan mendoakannya serta mencintainya seperti mencintai Sang Khaliq. Berarti mereka telah menjadikan sekutu buat Allah dan menyamakan sekutu itu dengan Tuhan semesta alam. Padahal Allah SWT telah melarang Dia dipersekutukan dengan malaikat, para nabi dan yang lain. Allah berfirman :

 

مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُؤْتِيَهُ اللَّهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِي مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ وَلا يَأْمُرَكُمْ أَنْ تَتَّخِذُوا الْمَلائِكَةَ وَالنَّبِيِّينَ أَرْبَابًا أَيَأْمُرُكُمْ بِالْكُفْرِ بَعْدَ إِذْ أَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

 Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia : “hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembah-ku bukan penyembah Allah. ” Akan tetapi ( dia berkata ) : “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajar Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajari-nya. Dan ( tidak wajar pula baginya ) menyuruhmu menjadikan malaikat dan paa nabi sebagai tuhan. Apakah ( patut ) dia menyuruhmu berbuat kekafiran di waktu kamu sudah ( menganut agama ) islam ?” ( Q.S.Ali Imran : 79-80 )

 

dan firman Allah : 

 

 قُلِ ادْعُوا الَّذِيْنَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُوْنِهِ فَلاَ يَمْلِكُوْنَ كَشْفَ الضُّرِّ عَنْكُمْ وَلاَ تَحْوِيْلاً , أُولَئِكَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ يَبْتَغُوْنَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيْلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُوْنَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُوْنَ عَذَابَهُ , إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُوْرًا

 

 Katakanlah : “pangillah mereka yang kamu anggap ( tuhan ) selain Allah, maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya dar ipadamu dan tidak pula memindahkannya. Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat ( kepada Allah ) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan adzab-Nya; sesungguhnya adzab Tuhanmu adalah suatu yang ( harus ) ditakuti. ”

 

Sekelompok kalangan salaf mengatakan, “Terdapat bangsa-bangsa yang menyembah para nabi seperti Al Masih dan ‘Uzair serta menyembah malaikat. Maka akhirnya Allah mengabarkan kepada bangsa-bangsa ini bahwa Al Masih, ‘Uzair dan lain sebagainya adalah hamba-hamba-Nya yang memohon rahmat-Nya, takut akan adzab-Nya, dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan amal perbuatan.

( Al Jawaab Al Baahir fi Zuwwaari Al Maqaabir karya Syaikh Al Islam Taqi Al Din Ahmad Ibnu Taimiyyah hlm 21 ).

 

  Saya katakan bahwa bukankah ziarah yang kita lakukan ke kuburan Nabi Saw tidak lain mengikuti cara yang benar yang telah ditetapkan syara’ seperti di atas ?Allah, para malaikat, para pembawa ‘arsy, dan penduduk langit dan bumi menjadi saksi bahwa dalam berziarah ke Nabi Saw kami tidak meyakini kecuali bahwa beliau adalah manusia yang mendapat wahyu, salah satu hamba Allah terbaik, yang mengharap rahmat-Nya, takut akan siksa-Nya dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan amal perbuatan. Malah beliau adalah orang yang paling menaruh perhatian menyangkut tiga hal terakhir ini. Beliau adalah orang yang paling bertakwa di antara kami, paling takut kepada Allah, paling mengetahui dan mengenal-Nya. Kami tidak menyerupakan beliau dengan Sang Khaliq, tidak nazar untuknya, tidak sujud kepadanya, tidak berdoa kepadanya, tidak menjadikannya sekutu bagi Allah, tidak menyamakannya dengan Tuhan semesta alam, dan kami mencintainya melebihi cinta kami kepada diri, harta dan anak kami.

AL SYAIKH IBNU AL QAYYIM DAN ZIARAH NABAWIYYAH

Al Syaikh Ibnu Al Qayyim dalam qashidahnya yang dikenal dengan Qashidah Nuniyyah menyebutkan bagaimana semestinya berziarah dan etika apa yang dituntut di dalam berziarah, bagaimana selayaknya perasaan peziarah saat ia berdiri dalam tatap muka yang mulia ini dan apa yang selayaknya ia rasakan saat berada di depan penghuni kubur Saw ? Dalam bagian akhir bait-bait qashidahnya, Ibnu Al Qayyim menyebutkan bahwa ziarah dengan perasaan demikian dan dengan cara tersebut adalah termasuk salah satu amal perbuatan yang paling utama. Berikut Qashidah Nuniyyah Ibnu Al Qayyim :

 

فَإِذَا أَتَيْنَا الْمَسْجِدَ النَّبَوِىِّ صَلَّ      يْنَا التَّحِيَّةَ أَوَّلاً ثِنْتَانِ

بِتَمَامِ أَرْكَانٍ لَهَا وَ خُشُوْعِهَا        وَحُضُوْرِ قَلْبٍ فِعْلِ ذِي اْلإِحْسَانِ

ثُمَّ اَنْثَنْينَا لِلزِّيَارَةِ نَقْصِدُ الْ         قَبْرَ الشَّرِيْفَ وَلَوْ عَلَى اْلأَجْفَانِ

فَنَقُوْمُ دُوْنَ الْقَبْرِ وَقْفَةً خَاضِعٌ       مُتَذَلِّلٌ فِي السِّرِّ وَ اْلإِعْلاَنِ

فَكَأَنَّهُ فِي الْقَبْرِ حَيٌّ نَاطِقٌ      فَالْوَاقِفُوْنَ نَوَاكِسُ اْلأَذْقَانِ

مَلَكَتْهُمْ تِلْكَ الْمَهَابَةُ فَاعْتَرَتْ      تِلْكَ الْقَوَائِمُ كَثْرَةَ الرَّجْفَانِ

وَ تَفَجَّرَتْ تِلْكَ الْعُيُوْنُ بِمَائِهَا     وَلَطَالَمَّا غَاضَتْ عَلَى اْلأَزْمَانِ

وَ أَتَى الْمُسْلِمُ بِالسَّلاَمِ بِهَيْبَةٍ       وَوَقَارٍ ذِيْ عِلْمٍ وَ ذِيْ إِيْمَانٍ

لَمْ يَرْفَعِ اْلأَصْوَاتَ حَوْلَ ضَرِيْحِهِ     كَلاَّ وَ لَمْ يَسْجُدْ عَلَى اْلأَذْقَانِ

كَلاَّ وَ لَمْ يَرَ طَاِئفًا بِالْقَبْرِ أُسْ       بُوْعًا كَأَنَّ الْقَبْرَ بَيْتٌ ثَانٍ

ثُمَّ اِنْثَنَى بِدُعَائِهِ مُتَوَجِّهًا          ِللهِ نَحْوَ الْبَيْتِ ذِي اْلأَرْكَانِ

هَذِيْ زِيَارَةُ مَنْ غَدَا مُتَمَسِّكًا       بِشَرِيْعَةِ اْلإِسْلاَمِ وَ اْلإِيْمَانِ

مِنْ أَفْضَلِ اْلأَعْمَالِ هَاتِيْكَ الزِّيَا     رَةُ وَهِيَ يَوْمَ الْحَشْرِ فِي الْمِيْزَانِ

 

·       Jika kita telah tiba di masjid nabawi

     Maka kita shalat tahiyyat dulu dua raka’at

·       Dengan seluruh rukunnya dan dengan penuh kekhusyu’an

Dengan sepenuh hati, layaknya sikap orang yang memiliki sifat ihsan ( merasakan kehadiran Allah )

·       Kemudian kami mulai berziarah menuju

kuburan mulia meskipun berada di pelupuk mata

·       Kami berdiri di hadapannya dengan merendahkan diri

 dalam sepi dan keramaian

·       Seolah-olah di dalam kubur beliau hidup dan mampu berbicara

Sedang orang-orang yang berdiri merendahkan dagunya

·       Para peziarah diliputi rasa segan

hinga kaki-kaki mereka sering bergetar

·       Air mata mereka menetes deras,

 padahal sudah sangat lama kering

·       Dengan penuh hormat dan ketenangan

orang yang berilmu dan beriman memberi salam

·       Ia memelankan suara di dekat kuburan beliau

dan tidak bersujud meletakkan dagunya

·       Ia tidak pernah mengelilingi kuburan selama seminggu,

 seolah-olah kuburan itu rumah kedua

·       Lalu ia beralih, berdo`a kepada Allah

dengan menghadap kiblat yang memiliki beberapa sudut

·       Inilah ziarah

orang yang memegang teguh syariat islam

·        Ziarah ini adalah amal paling utama

 yang akan ditimbang kelak di alam mahsyar

 

KUBURAN MULIA NABI SAW

Sebagian orang – semoga Allah membuat mereka menjadi baik dan membimbing mereka ke jalan lurus – memandang kuburan Nabi Saw dari aspek kuburan semata. Karena itu tidak aneh bila dalam benaknya ada asumsi-asumsi keliru. Dan tidak aneh pula jika ada prasangka-prasangka buruk dalam hati mereka terhadap kaum muslimin dan mereka yang berziarah kepada Nabi Saw, datang kepada beliau dan berdo’a di sisi kuburan beliau.

Anda akan melihat ia berargumentasi : “Tidak boleh dipasang pelana menuju kuburan Nabi Saw dan tidak boleh berdoa di sisi kuburan beliau.”

Bahkan sikap ekstrim mereka sampai berani mengatakan bahwa berdoa di sisi kuburan Rasulullah adalah tindakan syirik dan kufur, menghadap kuburan beliau adalah tindakan bid’ah dan sesat, memperbanyak wukuf dan bolak-balik ke kuburan beliau adalah tindakan syirik atau bid’ah atau orang yang mengatakan, “Sesungguhnya kuburan Nabi Saw adalah tempat paling utama dibanding tempat manapun termasuk Ka’bah”, maka ia telah musyrik atau sesat.

 

 Tindakan pengkafiran dan penilaian sesat demikian secara serampangan tanpa sikap hati-hati atau berfikir matang itu bertentangan dengan sikap generasi assalaf asshalih. Ketika kami berbicara tentang kuburan Nabi Saw, ziarah kuburan beliau, mengunggulkannya, memasang pelana menuju tempat tersebut, atau berdo’a dan memohon kepada Allah di depannya maka obyek yang dituju yang tidak diperselisihkan siapapun adalah penghuni kubur dan dua sahabat beliau. Penghuni kubur ini adalah junjungan generasi awal dan akhir dan makhluk paling utama yang menjadi nabi yang paling agung dan rasul paling mulia Saw. Tanpa beliau, kuburan, masjid Nabawi, Madinah bahkan kaum muslimin seluruhnya tidak ada harganya sama sekali. Tanpa beliau, kerasulan beliau, iman dan cinta kepada beliau, serta mengakui kesaksian ( syahadat ) dimana syahadat ini tidak sah kecuali menyertakan kesaksian akan kenabian beliau, maka mereka tidak akan ada dan tidak akan beruntung dan selamat.

 

 Berangkat dari paparan di atas maka ketika Ibnu ‘Aqil Al Hanbali ditanya mengenai perbandingan keunggulan antara Hujrah ( kamar Nabi ) dan Ka’bah beliau menjawab, “Jika yang Anda maksud kamar semata, maka Ka’bah lebih utama. Tapi jika yang dimaksud adalah kamar beserta Nabi yang dikubur di dalamnya maka demi Allah, ‘arsy dan para malaikat yang memikulnya, surga dan benda-benda langit yang beredar pada orbitnya tidak bisa melebihi keutamaannya. Karena jika kamar yang nabi berada di dalamnya itu ditimbang dengan dengan langit dan bumi maka ia akan lebih unggul. ( Badai’ Al Fawaaid karya Ibnu Al Qayyim ).

Inilah yang dimaksud dengan kuburan Nabi, keutamaannya, menziarahinya dan menyiapkan kendaraan untuk menuju kepadanya ( memasang pelana ). Berangkat dari pandangan ini para ulama berkata, “Sesungguhnya tidaklah layak jika seseorang mengucapkan, “Saya ziarah kuburan Nabi Saw.” Yang benar adalah : “Saya ziarah kepada Nabi Saw.” Inilah pandangan yang ditetapkan oleh para ulama dalam menafsirkan statemen Al Imam Malik : “Saya tidak suka seseorang berkata : “Saya ziarah ke kuburan Nabi Saw.” Sebab orang yang ia ziarahi adalah orang yang mampu mendengar ucapannya, merasakan kehadirannya, mengetahuinya dan menjawab salamnya.

Masalah ini bukan sekedar persoalan kuburan semata tapi lebih besar dan lebih tinggi dari sekedar dilihat dari aspek kuburan semata. Jika kita melihatnya dari sisi kuburan saja tanpa memandang sosok penghuninya maka kita akan menemukan arwah suci yang kita kelilingi dari segala penjuru dan kita akan menemukan jembatan malaikat yang membentang dari al mala’ al a’la sampai kuburan Nabi Muhammad Saw, dan konvoi yang bersambung dengan bilangan dan tambahan yang tidak terputus-putus yang hanya Allah yang mengetahui jumlahnya.

Dalam Al Sunannya Al Darimi meriwayatkan, “menceritakan kepadaku Abdullah ibnu Shalih, menceritakan kepadaku Al Laits, menceritakan kepadaku Khalid yaitu Ibnu Yazid dari Sa’id yaitu Ibnu Abi Hilal dari Nubaih ibnu Wahb bahwasanya Ka’ab masuk bertemu ‘Aisyah lalu mereka menyebut Rasulullah Saw.

“Tidak ada hari kecuali turun tujuh puluh ribu malaikat hingga mereka mengelilingi kuburan Rasulullah. Mereka mengepakkan sayap mereka dan mendoakan shalawat untuk beliau hingga ketika tiba waktu sore mereka naik dan jumlah yang sama turun menggantikan mereka. Para malaikat pengganti juga melakukan apa yang dikerjakan malaikat pertama hingga ketika bumi merekah memunculkan Nabi, beliau akan pergi diiringi 70.000 malaikat .” Demikian dalam Sunan Al Darimi vol I hlm 44.

 

 Saya katakan bahwa atsar ini juga diriwayatkan oleh Al Hafidh Ismail Al Qadli dengan sanadnya yang dikategorikan bagus untuk mutabi’, syahid, manaqib, dan keutamaan-keutamaan amaliah.Jika kita melihat lingkungan di sekitar kuburan Nabi Saw dari raudloh yang notabene salah satu bagian surga, mimbar yang memperoleh kemuliaan tertinggi sebab beliau Saw yang mana kelak di hari kiamat ia akan berada di atas telaga agung beliau, batang kurma yang merintih seperti perempuan yang kehilangan anaknya yang kelak di hari kiamat ada di sorga di tengah pepohonannya. Ada informasi yang menyatakan bahwa batang pohon itu dipendam di tempatnya yang terdapat dalam masjid. Maka saya tidak menduga bahwa orang yang berakal yang bersemangat mengejar kebaikan menghindar dari berdoa di lokasi-lokasi tersebut.

 

 

 

KUBURAN NABI DAN BERDO’A

Para ulama menuturkan bahwa disunnahkan berdiri bagi orang yang ziarah kuburan Nabi Saw untuk berdo’a. Ia bisa meminta kebaikan dan karunia apa saja yang ia kehendaki kepada Allah. Ia tidak diwajibkan menghadap kiblat. Tindakan berdiri yang dilakukan peziarah bukanlah berarti ia melakukan bid’ah, melakukan kesesatan atau kemusyrikan sebagaimana telah ditetapkan para ulama. Bahkan sebagian ulama menyatakan bahwa status hukumnya adalah sunnah.

Dalil yang digunakan dalam persoalan ini adalah hadits yang diriwayatkan Al Imam Malik ibnu Anas saat ia berdiskusi dengan Abu Ja’far Al Manshur di masjid nabawi.

“Wahai amirul mu’minin,” kata Al Imam Malik,

“jangan engkau keraskan suaramu di dalam masjid karena sesungguhnya Allah telah mengajarkan etika kepada sebuah kaum : ( لاترفعوا أصواتكم) dan mengecam kepada kaum lain :  

 

  إِنَّ الَّذِينَ يَغُضُّونَ أَصْوَاتَهُمْ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ أُولَئِكَ الَّذِينَ امْتَحَنَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ لِلتَّقْوَى لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ عَظِيمٌ

 

“Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertaqwa, Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar. ” ( Q.S.Al.Hujuraat : 3 )

 

إِنَّ الَّذِينَ يُنَادُونَكَ مِنْ وَرَاءِ الْحُجُرَاتِ أَكْثَرُهُمْ لا يَعْقِلُونَ

 

“Sesungguhnya orang-orang yang memanggil kamu dari luar kamar ( mu ) kebanyakanmereka tidak mengerti. ”

( Q.S.Al.Hujuraat : 4 )

 

 Sesungguhnya penghormatan kepada beliau di saat telah meninggal sama dengan penghormatan kepada beliau saat masih hidup. Setelah mendengar argumentasi Al Imam Malik, Abu Ja’far pun diam.

“Wahai Abu Abdillah !, apakah saya harus menghadap kiblat dan berdo’a atau menghadap Rasulullah Saw ?, “tanya Abu Ja’far.

 “Mengapa engkau memalingkan wajahmu dari Nabi padahal beliau adalah perantaramu dan perantara Bapakmu Adam AS kepada Allah SWT di hari kiamat ? Maka menghadaplah kepada Nabi dan mohonlah syafaat kepada beliau maka Allah akan menerima syafaat beliau,” kata Al Imam Malik. Allah berfirman :

 

  وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا

“Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”

 ( Q.S.An.Nisaa` : 64 )

 

Kisah di atas diceritakan oleh Al Qadli ‘Iyadl dengan sanadnya dalam kitabnya “Al Syifaa fi Al Ta’riif bi Huquuqi Al Mushthafaa” pada salah satu bab tentang ziarah. Dalam Al Majmu’ kisah ini juga disebutkan.

Al Syaikh Ibnu Taimiyyah berkata, “Ibnu Wahb berkata dalam informasi yang bersumber dari Malik : “Jika peziarah memberi salam kepada Nabi Saw maka hendaklah ia berdiri dengan muka menghadap kuburan bukan menghadap kiblat, mendekat, memberi salam, memanggil dan jangan menyentuh kuburan dengan tangannya.”

( Iqtidlou Al Shirath Al Mustaqiim hlm 396 ).

 

  Dalam kitabnya yang populer Al Adzkar, Al Nawawi juga menjelaskan hal serupa di atas pada bab-bab tentang ziarah. Demikian pula dalam Al Idlaah pada bab ziarah dan dalam Al Majmu’ vol VIII hlm 272.

Al Khafaji, pensyarah Al Syifaa mengatakan, “Al Subuki berkata : “Ashhabuna menegaskan bahwa disunnahkan untuk datang ke kuburan beliau, menghadap dan membelakanginya lalu memberi salam kepada beliau kemudian kepada Abu Bakar dan ‘Umar lalu kembali ke posisi semula, berdiri kemudian berdo’a.”

 Syarh Al Syifaa karya Al Khafaji vol III hlm 398.

 

 

PANDANGAN AL SYAIKH IBNU TAIMIYYAH

Setelah mengutip statemen para ulama, Ibnu Taimiyyah mengemukakan pendapatnya sekitar tema ziarah kuburan Nabi Saw, “Mereka ( para ulama ) sepakat mengenai menghadap kiblat dan berselisih pendapat mengenai membelakanginya saat berdo’a.”Ini adalah ringkasan dari pandangan Al Syaikh Ibnu Taimiyyah menyangkut persoalan ziarah kuburan Nabi Saw. Ringkasan pandangannya ini mengindikasikan dengan jelas bahwa orang yang berdiri di hadapan kuburan Nabi Saw seraya berdo’a kepada Allah dan memohon sesuatu kepada-Nya dari karunia-Nya sebagaimana telah disyari’atkan, itu berpijak di atas fondasi kokoh yang diakui dan dikuatkan oleh statemen para imam dari generasi assalaf asshalih.

Jika orang yang obyektif yang menggunakan akalnya mau merenungkan pendapat Ibnu Taimiyyah – para ulama berselisih pendapat mengenai membelakangi kubur beliau Saw saat berdo’a – niscaya ia akan memiliki pemahaman yang menenteramkan hatinya, memuaskan dirinya dan membahagiakannya bahwasanya mereka yang berdiri setelah memberi salam kepada Rasulullah untuk berdoa di sisi kuburan beliau tidak terlepas dari tauhid (mengesakan Allah) dan tetap termasuk golongan yang beriman. Dan karena persoalan ini adalah persoalan yang diperselisihkan generasi salaf dan perselisihan ini menyangkut apakah statusnya sunnah atau bukan maka apakah kondisi ini sampai harus melontarkan tuduhan syirik dan sesat ? Subhanaka Hadza Buhtaanun ‘Adhim. 

 

 

 

URAIAN STATEMEN AL SYAIKH IBNU TAIMIYYAH

Yang dipahami dari statemen Ibnu Taimiyyah adalah bahwa obyek yang dilarang sesungguhnya adalah sengaja memilih berdoa di dekat kuburan atau menjadikan kuburan sebagai tujuan untuk berdoa di dekatnya dan mengharap doa dikabulkan jika berdoa di tempat tersebut, atau memiliki perasaan bahwa berdoa di dekat kuburan lebih berpeluang dikabulkan dibanding tempat lain. Adapun jika seseorang berdoa kepada Allah di jalan yang ia tempuh dan kebetulan ia melewati kuburan kemudian berdoa di dekatnya atau ia ziarah ke kuburan lalu memberi salam kepada penghuninya kemudian berdoa di tempatnya berada maka ia tidak harus berpindah arah menghadap kiblat dan ia tidak bisa dianggap musyrik atau orang yang sesat.

 

Silahkan dibaca tulisan-tulisan Ibnu Taimiyyah dalam persoalan ini. Ia berkata dalam Iqtidloou Al Shirath Al Mustaqiim halaman 336 : “Salah satu yang masuk kategori bid’ah adalah sengaja ke kuburan dengan tujuan berdoa di dekatnya atau datang ke kuburan semata-mata karena kuburan tersebut. Karena berdoa di dekat kuburan dan tempat lain itu terbagi menjadi dua :

Pertama, do’a terjadi di sebuah lokasi secara kebetulan, tidak ada rencana berdoa di tempat tersebut, seperti orang yang berdoa kepada Allah di jalan yang ia tempuh dan kebetulan ia melewati kuburan atau seperti orang yang ziarah kubur lalu ia memberi salam kepadanya dan memohon kepada Allah keselamatan untuknya dan para mayit sebagaimana telah dijelaskan dalam Al Sunnah, maka hal ini dan yang semisalnya tidak perlu dipersoalkan.

 

 Kedua, sengaja membuat rencana berdoa di lokasi tersebut sekiranya ia merasa bahwa berdoa di lokasi tersebut lebih berpeluang dikabulkan dibanding tempat lain. Yang semacam inilah yang dilarang, entah larangan ini bersifat tahrim atau tanzih. Namun larangan ini lebih dekat ke larangan yang bersifat tahrim ( diharamkan ). Sedang perbedaan antara kedua istilah ini adalah hal yang telah jelas diketahui.

 

 Seandainya seseorang sengaja merencanakan berdoa di dekat arca, salib atau gereja dengan harapan doanya dikabulkan di tempat tersebut maka sungguh hal ini termasuk salah satu dosa besar. Bahkan jika ia sengaja menuju rumah, toko di pasar atau sebagian tiang di jalanan untuk berdoa di tempat itu dengan harapan doanya dikabulkan di tempat tersebut maka sungguh hal ini termasuk kemunkaran yang diharamkan karena berdoa di tempat-tempat tersebut tidak memiliki keutamaan. Kesengajaan datang ke kuburan untuk berdoa di tempat itu termasuk kategori ini malah ia lebih berat dari sebagian yang masuk kategori ini karena Nabi Saw melarang memfungsikan kuburan sebagai masjid dan juga melarang mengadakan perayaan di kuburan dan sholat di sekitarnya. Berbeda dengan banyak lokasi-lokasi lain di atas.

Selanjutnya dalam halaman 338 Ibnu Taimiyyah mengatakan bahwa sengaja datang ke kuburan untuk berdoa di dekatnya dan mengharap terkabulnya doa di tempat itu melebihi harapan terkabulnya doa di tempat-tempat lain adalah ajaran yang tidak disyari’atkan Allah dan rasul-Nya dan juga tidak dipraktekkan salah seorang sahabat, tabi’in, para imam kaum muslimin, dan tidak disebutkan pula oleh salah seorang ulama yang shalih dari masa lalu.

Dalam halaman 339 ia menyatakan bahwa barangsiapa mengkaji literatur-literatur atsar dan mengetahui sikap generasi salaf maka ia akan meyakini dengan tegas bahwa orang-orang tidak memohon pertolongan di dekat kuburan dan tidak sengaja merencanakan berdoa di dekatnya sama sekali. Malah mereka melarang orang-orang bodoh melakukan tindakan tersebut sebagaimana telah saya sebutkan sebagian dari keterangan ini. Dari Iqtidloo’u al Shirath al Mustaqim.

 

PANDANGAN AL SYAIKH MUHAMMAD IBNU ABDIL WAHHAB MENYANGKUT BERDOA DI DEKAT KUBURAN

 

Berdoa di dekat kuburan bukanlah tindakan bid’ah atau syirik  As Syaikh Muhammad ibnu Abdil Wahhab ditanya mengenai pendapat para ulama dalam sholat istisqa’ : “Tidak apa-apa bertawassul dengan orang-orang sholih”, pendapat Ahmad : “Hanya Nabi Saw yang bisa dijadikan obyek tawassul”, bersamaan dengan ucapan mereka : “Sesungguhnya makhluk tidak bisa dimintai pertolongan”.Ia menjawab : “Perbedaan di antara tiga ungkapan ini telah jelas dan tidak masuk kategori topik yang kami bicarakan.

Sebagian ulama memperbolehkan tawassul dengan orang-orang shalih dan sebagian lain membolehkan khusus dengan Nabi Saw. Mayoritas ulama melarang dan tidak berkenan dengan tawassul ini. Persoalan ini adalah persoalan fiqh meskipun yang benar di mata kami adalah pendapat jumhur bahwasanya tawassul itu makruh. Kami tidak ingkar kepada orang yang mempraktikkan tawassul sebab tidak boleh ada pengingkaran dalam hal-hal yang masuk wilayah ijtihad.

Namun keingkaran kami adalah kepada orang yang berdoa kepada makhluk melebihi ketika ia berdoa kepada Allah. Juga kepada orang yang sengaja mendatangi kuburan untuk mengiba di sisi kuburan Syaikh Abdul Qadir Al Jailani atau tokoh lain seraya memohon dihilangkannya kesusahan diberi pertolongan menghadapi kesulitan dan dikarunia hal-hal yang diinginkan kepada penghuni kuburan itu. Dimanakah posisi orang ini berada di kalangan orang – orang yang berdoa murni kepada Allah dan hanya berdoa kepada-Nya saja tidak melibatkan pihak lain, tetapi ia berkata dalam doanya : “Saya memohon kepada-Mu lewat nabi-Mu, atau lewat parta rasul atau para hamba-Mu yang shalih.” Atau sengaja datang ke kuburan Syaikh Ma’ruf Al Karkhi atau syaikh lain untuk berdoa di dekatnya tetapi ia tidak berdoa kecuali murni kepada Allah. Maka di manakah posisi orang ini dalam topik yang sedang kami bicarakan ?”

 ( Dikutip dari fatwa-fatwa Al Syaikh Al Imam Muhammad ibnu Abdil Wahhab dalam koleksi karangan bagian ketiga hlm 68 yang disebarkan oleh Universitas Al Imam Muhammad Ibnu Su’ud Al Islamiyah dalam pekan Al Syaikh Muhammad ibnu Abdil Wahhab).

KUBURAN NABI DAN MEMOHON BERKAH DENGAN MENYENTUHNYA ATAU MENYENTUH JENDELA BESI DAN MENCIUMNYA

Ketahuilah bahwa selayaknya peziarah tidak boleh mencium kuburan mulia, menyentuh dengan kedua tangannya, dan tidak boleh menempelkan perut dan punggungnya ke dindingnya, pagar yang ditutupi dengan kiswah atau jendela. Karena semua tindakan ini hukumnya makruh sebab mengandung unsur melakukan hal yang berlawanan dengan etika di hadapan Nabi Saw. Tujuan mencari keberkahan tidak bisa meniadakan status makruh karena tujuan seperti ini adalah sebuah kebodohan akan etika yang sepatutnya. Dan jangan tertipu oleh apa yang dilakukan orang-orang awam karena yang benar adalah apa yang dikatakan para ulama dan mereka sepakat berlawanan dengan sikap orang awam sebagaimana dijelaskan oleh Al Nawawi dalam Al Idlahnya.

 

Dalam Al Minah dan Al Jawhar, Ibnu Hajar secara panjang lebar menguatkan pandangan ulama di atas.

Dalam Al Ihyaa’, Al Ghazali mengatakan, “Menyentuh dan mencium kuburan adalah tradisi golongan Yahudi dan Nashrani.”

Al Fudlail ibnu ‘Iyadl mengatakan sesuatu yang artinya sebagai berikut : “Ikutilah jalan-jalan menuju hidayah dan jangan pedulikan sedikitnya mereka yang menempuh jalan tersebut. Jauhilah jalan-jalan menuju kesesatan dan jangan terpengaruh oleh banyaknya mereka yang menuju kehancuran. Barangsiapa yang terbersit dalam hatinya bahwa mengusap dengan tangan dan semisalnya lebih besar dalam memberikan keberkahan maka anggapan ini adalah karena kebodohan dan kelalaiannya. Karena keberkahan hanya ada pada hal-hal yang sesuai dengan syari’at. Maka bagaimana mungkin layak adanya keutamaan dalam hal yang berlawanan dengan kebenaran.” Al Majmu’ vol VIII hlm 275

PANDANGAN AL IMAM AHMAD IBNU HANBAL

Terdapat banyak riwayat dari Ahmad ibnu Hanbal menyangkut topik di atas. Dimana sebagian riwayat itu ada yang memperbolehkan mengusap dan mencium kuburan Nabi Saw dan sebagian menunjukkan keraguan dalam menentukan hukumnya. Sebagian lagi ada yang membedakan antara mimbar Nabi dan kuburan beliau dengan memperbolehkan yang pertama dan tidak memberikan kepastian hukum pada yang kedua atau membolehkan. Betapapun perbedaan ini terjadi namun situasinya tidak sampai pada taraf memvonis pelakunya telah kufur, sesat, keluar dari agama, atau berbuat bid’ah dalam agama. Paling jauh ia dianggap melakukan sesuatu yang diperselisihkan hukumnya atau status hukumnya makruh. Yang dimaksudkan adalah agar mengusap kuburan beliau dan menciumnya tidak dijadikan sebagai tradisi yang membuat orang awam terpengaruh dan mereka menyangka bahwa tindakan itu termasuk salah satu keharusan dan etika berziarah.

 

Silahkan kita simak statemen Al Imam Ahmad sebagai berikut :Al Imam Ahmad berkata dalam Khulaashatul Wafaa sebagai berikut : “Dalam kitab Al ‘Ilaal dan Al Su’aalaat karya Abdullah ibnu Ahmad ibnu Hanbal, sang pengarang berkata,

“Saya bertanya kepada ayah tentang seorang lelaki yang mengusap kuburan Nabi Saw dengan tujuan mengharap keberkahan dengan mengusap dan menciumnya dan ia juga melakukan hal yang sama terhadap mimbar beliau dengan harapan mendapat pahala Allah SWT.”

 “Tidak apa-apa,” jawab ayahku.

 

 Abu Bakar Al Atsram berkata, “Saya bertanya kepada Abu Abdillah – Ahmad ibnu Hanbal – , “Apakah kuburan Nabi Saw boleh disentuh dan diusap-usapkan ?” “Saya tidak bisa menjawab,” jawabnya. “Kalau mimbar ?” tanyaku lagi. “Kalau mimbar, betul boleh disentuh dan diusap-usapkan. Karena ada riwayat perihal mimbar.” Jawab Abu Abdillah.

“Ada informasi yang diriwayatkan para perawi dari Ibnu Fudaik dari Abi Dzi’b dari Ibnu ‘Umar: “Sesungguhnya Ibnu ‘Umar menyentuh mimbar.” Abu Abdillah berkata, “Para perawi meriwayatkan atsar tadi dari Sa’id ibnu Al Musayyib mengenai hiasan mimbar.” Saya ( Abu Bakar Al Atsram ) katakan, “ Para perawi juga meriwayatkan atsar tersebut dari Yahya ibnu Sa’id bahwasanya ketika Yahya ibnu Sa’id ingin pergi ke Iraq ia datang ke mimbar kemudian mengusapnya dan berdoa. Saya melihat bahwasanya Yahya menilai positif tindakan mengusap mimbar.” “Barangkali dalam keadaan mendesak mengusap kuburan tidak ada konsekuensi apapun,” lanjut Abu Abdillah.

Ada pertanyaan yang disampaikan kepada Abu Abdillah bahwa para peziarah itu menempelkan perut mereka ke dinding kuburan dan saya juga berkata kepadanya, “Saya melihat para ulama warga Madinah tidak mengusap-usap kuburan Nabi Saw. Mereka hanya berdiri pada sebuah sisi lalu memberi salam.” “Betul, memang begitulah yang dilakukan Ibnu ‘Umar,” jawab Abu Abdillah. “Ayah dan ibuku menjadi tebusan Rasulullah Saw,” lanjutnya.

Al Syaikh Ibnu Taimiyyah berkata, “Ahmad dan perawi lain meriwayatkan perihal mengusap-usap mimbar dan hiasannya yang nota bene tempat duduk dan tangan Nabi. Namun mereka tidak memberi toleransi perihal mengusap-usap kuburan beliau Saw. Sebagian Ashhabuna menceritakan riwayat perihal mengusap kuburan Nabi Saw karena Ahmad mengantar sebagian jenazah lalu ia meletakkan tangannya di atas kuburan jenazah itu seraya mendoakannya. Perbedaan antara mengusap kuburan dan meletakkan tangan di atasnya seraya mendoakan itu jelas.”

( Dari Iqtidloo’u al Shirath al Mustaqim hlm 367 dan dinukil oleh Ibnu Muflih dari Al Imam Ahmad dalam Al Furu’ vol III hlm 524 ).

KUBURAN NABI SAW TERLINDUNGI DARI SYIRIK DAN KEBERHALAAN

Allah Swt telah melindungi kuburan ini dengan sang kekasih paling agung dan nabi termulia. Oleh karena itu di lingkungan kuburan beliau tidak terdapat kemusyrikan dan salah satu bentuk dari bentuk ibadah yang tidak boleh ditujukan kecuali kepada Allah SWT. Tidak terlintas dalam benak siapapun bahwa kuburan beliau adalah arca yang disembah atau kiblat yang menjadi arah untuk ibadah. Hal ini terjadi berkat barokah do’a Rasulullah Saw yang memang berdoa demikian. Allah pun mengabulkan doa beliau dan mewujudkan harapan beliau.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Dalam Muwaththa’ Malik Ra dari Nabi Saw, beliau berkata :

اَلَّلهُمَّ لاَ تَجْعَلْ قَبْرِيْ وَثَنًا يُعْبَدُ , اِشْتَدَّ غَضَبُ اللهِ عَلَى قَوْمٍ اِتَّخَذُوْا قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

 

“Ya Allah janganlah Engkau jadikan kuburanku sebagai arca yang disembah. Besar murka Allah terhadap kaum yang menjadikan kuburan nabi mereka sebagai masjid.”

 

Sungguh Allah telah mengabulkan doa Nabi Saw. Oleh karena itu – alhamdulillah – kuburan beliau tidak dijadikan arca sebagaimana kuburan lain. Bahkan tidak ada seorang pun yang bisa memasuki kamar yang di dalamnya terdapat kuburan beliau setelah kamar itu dibangun. Sebelumnya orang-orang tidak membolehkan siapapun untuk masuk ke lokasi kuburan dengan maksud berdoa di dekatnya, sholat dan berbagai aktivitas pada kuburan lain. Namun sebagian orang bodoh ada yang sholat menghadap kamar Nabi, mengeraskan suaranya atau berbicara dengan perkataan yang dilarang. Semua ini dilakukan di luar kamar Nabi Saw bukan di dekat kuburan beliau. Jika dilakukan di dekat kuburan beliau, maka Allah telah mengabulkan doa beliau Saw hingga tidak seorang pun berkesempatan masuk ke kuburan beliau lalu sholat di dekatnya, berdoa atau menjadikannya sekutu sebagaimana perlakuan yang diterima kuburan lain yang dijadikan arca.

 

 Pada zaman ‘Aisyah Ra tidak seorang pun yang masuk kecuali karena ingin bertemu dengan istri beliau ini dan ‘Aisyah pun tidak memperbolehkan siapa pun melakukan hal-hal yang dilarang di dekat kuburan beliau. Setelah wafatnya ‘Aisyah, kamar yang di dalamnya terdapat kuburan Nabi itu ditutup hingga dimasukkan dalam area masjid lalu pintu kamar itu ditutup dan dibangun di atasnya tembok lain. Hal ini seluruhnya dilakukan untuk menjaga jangan sampai rumah beliau dijadikan tempat perayaan dan kuburannya dijadikan arca.

Kalau bukan karena alasan demikian maka sudah diketahui bahwa semua penduduk Madinah adalah orang muslim dan tidak akan datang ke kuburan Nabi kecuali orang muslim. Mereka semua juga mengagungkan Rasulullah Saw. Beberapa kuburan ummat Nabi di beberapa negara juga diagungkan. Maka apa yang dilakukan kaum muslimin dengan menutup kuburan Nabi bukanlah untuk merendahkannya. Tapi mereka melakukannya agar kuburan itu tidak dijadikan arca yang disembah dan rumahnya tidak dijadikan lokasi perayaan serta agar kuburan beliau tidak mendapat perlakuan sebagai ahlul kitab memperlakukan kuburan para nabi mereka.

Kuburan Nabi yang berada dalam kamar beliau diatasnya hanya terhampar pasir kasar, tidak ada batu atau kayu. Juga tidak diplester sebagaimana kuburan-kuburan lain. nabi melarang semua ini semata-mata untuk menutup jalan terjadinya kemungkaran. Sebagaimana beliau melarang sholat dilakukan saat terbit dan terbenamnya matahari agar hal itu tidak mengantar pada perbuatan syirik. Nabi berdoa kepada Allah agar kuburannya tidak dijadikan arca yang disembah lalu Allah mengabulkan doanya. Sehingga kuburan beliau tidak seperti kuburan mereka yang dijadikan sebagai masjid. Karena tidak ada orang yang bisa masuk ke dalam kuburan beliau.

Para nabi sebelum Rasulullah Saw jika ummat mereka melakukan bid’ah maka Allah mengutus nabi untuk melarang tindakan bid’ah itu. Tapi Nabi Muhammad Saw adalah nabi terakhir yang tidak ada lagi nabi sesudah beliau. Makanya Allah pun melindungi ummat Rasulullah Saw untuk bersepakat dalam kesesatan dan menjaga kuburan mulia beliau dari dijadikan sebagai arca yang disembah. Karena – na’udzu billah – seandainya terjadi hal semacam ini maka sepeninggal beliau tidak lagi ada nabi yang melarang tindakan terlarang itu, padahal mereka yang melakukannya akan menjadi mayoritas ummat dan beliau mengkhabarkan bahwa sekelompok ummatnya akan senantiasa membela kebenaran. Mereka tidak akan terganggu oleh pihak yang menentang dan menelantarkan mereka hingga tiba hari kiamat. Makanya para pembuat bid’ah tidak memiliki jalan untuk melakukan pada kuburan Nabi Saw sebagaimana yang dilakukan kuburan lain.

Dari Al Jawaab Al Baahir fi Zuwwaaril Maqaabir hlm 13 karya Al Syaikh Ibnu Taimiyyah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BERULANG-ULANG MENUJU / BOLAK-BALIK KE LOKASI-LOKASI PENINGGALAN KENABIAN, TEMPAT-TEMPAT KEAGAAMAAN DAN MEMOHON BERKAH DENGAN MENZIARAHINYA

Dalam topik ini Al Syaikh Ibnu Taimiyyah menulis pandangan yang sangat positif yang saya kutip dari tulisan faidah-faidah pentingnya di bawah ini :

Adapun maqaamatul Anbiyaa’ washshoolihin yaitu lokasi-lokasi di mana para nabi dan orang-orang shalih pernah menetap, tinggal atau beribadah kepada Allah di dalamnya namun mereka tidak menjadikannya sebagai masjid maka ada dua pendapat dari para ulama ternama yang sampai kepada saya :

Pertama,

 larangan dan kemakruhan merencanakan datang ke lokasi-lokasi tersebut dan sesungguhnya tidak disunnahkan mendatangi sebuah tempat untuk beribadah kecuali jika tujuan ke tempat itu untuk beribadah sesuai dengan ajaran syara’ seperti Nabi Saw pernah sengaja datang ke sebuah tempat untuk beribadah semisal tujuan untuk sholat di maqam Ibrahim dan sebagaimana beliau sengaja untuk sholat di dekat tiang. Juga seperti beliau sengaja datang ke masjid untuk sholat dan menempati shaf awal dan lain sebagainya.

 

Kedua,

tidak apa-apa melakukan sedikit dari hal-hal di atas sebagaimana dikutip dari Ibnu ‘Umar bahwasanya ia sengaja mendatangi tempat-tempat yang pernah dilewati Nabi meskipun beliau Saw melewatinya cuma kebetulan bukan kesengajaan.

 

 Al Sanadi Al Khawatimi berkata, “Saya bertanya kepada Abu Abdillah ( Ahmad ibnu Hanbal ) perihal seorang lelaki yang pergi mendatangi lokasi-lokasi yang diharapkan mendapat keberkahan. “Apa pendapatmu ?” tanyaku. “Adapun sesuai dengan hadits Ibnu Ummi Maktum bahwasanya ia memohon kepada Nabi agar beliau sholat di rumahnya hingga tempat sholat beliau dijadikan musholla dan sesuai dengan tindakan Ibnu ‘Umar mengamati tempat-tempat yang pernah didatangi Nabi dan jejak-jejak peninggalan beliau maka mendatangi tempat-tempat yang diharapkan memberi keberkahan tersebut tidak apa-apa. Hanya saja orang-orang telah bersikap melewati batas dan terlalu banyak melakukannya,” jawab Abu Abdillah.

Sebagaimana Al Sanadi, Ahmad ibnu Al Qasim juga mengutip dari Abu Abdillah bahwasanya Abu Abdillah ditanya perihal seorang lelaki yang pergi mendatangi lokasi-lokasi yang diharapkan mendapat keberkahan di atas yang berada di Madinah Munawwarah dan sebagainya. Abu Abdillah menjawab, “Adapun sesuai dengan hadits Ibnu Ummi Maktum bahwasanya ia memohon kepada Nabi agar datang ke rumahnya dan sholat di tempat tersebut hingga tempat itu dijadikan musholla atau sesuai dengan tindakan Ibnu ‘Umar yang mengamati tempat-tempat yang dilewati beliau hingga terlihat ia menumpahkan air di tempat berair lalu ia ditanya tentang tindakannya ini. “Dulu Nabi Saw pernah menumpahkan air di tempat ini,” jawab Ibnu ‘Umar. “Adapun sesuai dengan tindakan Ibnu ‘Umar maka mendatangi tempat-tempat yang diharapkan mendapat keberkahan di atas maka hal ini tidak apa-apa,” jawab Abu Abdillah.

Kata Al Sanadi Abu Abdillah memperbolehkan mendatangi tempat-tempat yang diharapkan memberi keberkahan. “Hanya saja orang-orang bersikap terlalu berlebihan dan terlalu sering melakukan hal ini,” lanjut Abu Abdillah. Kemudian Abu Abdillah menyebut kuburan Al Husain dan aktivitas yang dilakukan orang-orang di tempat itu. Kedua hadits di atas diriwayatkan oleh Al Khallaal dalam Kitabul Adab.

 

 

 

 

 

STATEMEN IBNU TAIMIYYAH :

Menyangkut Masyaahid yaitu lokasi-lokasi di mana terdapat jejak-jejak peninggalan para nabi dan orang-orang shalih yang statusnya bukan masjid bagi mereka seperti beberapa tempat yang ada di Madinah, Abu Abdillah menjelaskan secara rinci antara minoritas yang tidak menjadikannya sebagai tempat perayaan dan mayoritas yang menjadikannya sebagai tempat perayaan sebagaimana telah disebutkan. Dalam perincian ini Abu Abdillah memadukan antara beberapa atsar dan statemen-statemen para sahabat.

Al Bukhari dalam Shahihnya meriwayatkan dari Musa ibnu ‘Uqbah, ia berkata, “Saya melihat Salim ibnu Abdillah mengamati beberapa lokasi jalan dan sholat di tempat itu. Ia menceritakan bahwa ayahnya melakukan hal yang sama dan ayahnya juga melihat Nabi Saw sholat di tempat-tempat tersebut.”

Musa berkata, “Nafi’ menceritakan kepadaku bahwa Ibnu ‘Umar sholat di tempat-tempat tersebut.”Rincian di atas adalah tindakan yang mendapat dispensasi dari Ahmad ibnu Hanbal.Adapun yang dinilai makruh oleh dia adalah sebuah Informasi yang diriwayatkan oleh Sa’id ibnu Manshur dalam Sunannya, “Menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah, menceritakan kepada kami Al A’masy dari Al Ma’ruf ibnu Suwaid dari ‘Umar Ra, Al Ma’ruf berkata, “Saya keluar bersama ‘Umar dalam sebuah perjalanan haji yang dilakukannya. Dalam sholat Shubuh ia membacakan surat Al Fiil pada rakaat pertama dan surat Al Qurays pada rakaat kedua kepada kami. Tatkala ia pulang dari haji ia melihat banyak orang segera mendatangi masjid. “Ada apa ini ? “tanya ‘Umar.

“Masjid itu adalah masjid yang Rasulullah Pernah sholat didalamnya, “jawab mereka.

  هَكَذَا هَلَكَ أَهْلُ الْكِتَابِ قَبْلَكُمْ : اِتَّخَذُوْا آثاَرَ أَنْبِيَائِهِمْ بِيَعًا مَنْ عَرَضَتْ لَهُ مِنْكُمْ الصَّلاَةُ فِيْهِ فَلْيُصَلِّ وَمَنْ لَمْ تَعْرَضْ لَهُ الصَّلاَةُ فَلْيَمْضِ .

 

“Demikianlah ahlul kitab sebelum kalian binasa. Mereka menjadikan jejak-jejak peninggalan para nabi mereka sebagai biara. Barangsiapa yang kebetulan berada di masjid saat tiba waktu sholat maka sholatlah di situ dan barangsiapa yang kebetulan tidak bertemu waktu sholat di situ maka hendaklah ia berlalu, “lanjut ‘Umar.

 

‘Umar sungguh tidak setuju tempat sholat Nabi Saw dijadikan tempat perayaan dan ia menjelaskan bahwa ahlul kitab binasa karena melakukan hal demikian.

Al Syaikh Ibnu Taimiyyah menyatakan bahwa para ulama berselisih pendapat perihal mendatangi Masyaahid.

Muhammad ibnu Wadldlaah mengatakan, “Malik dan ulama lain dari kalangan ulama Madinah tidak senang mendatangi masjid-masjid dan jejak-jejak peninggalan yang ada di Madinah kecuali Quba’ dan Uhud.

Sufyan Al Tsauri pernah datang ke Baitul Maqdis dan shalat di dalamnya, namun ia tidak mengamati jejak-jejak peninggalan beliau Saw dan shalat di dalamnya.”

Para ulama di atas secara mutlak menilai makruh tindakan mengamat-amati jejak-jejak peninggalan Nabi Saw berdasarkan hadits yang bersumber dari `Umar tersebut dan karena tindakan ini mirip dengan shalat di dekat kuburan, sebab bisa dijadikan perantara untuk menjadikan masyaahid sebagai lokasi-lokasi perayaan serta menyerupai ahlul kitab.

Di samping itu, tindakan yang dilakukan ibnu `Umar tidak sesuai dengan pendapat salah seorang sahabatpun. Tidak ada kutipan baik dari khulafaurrasyidin atau sahabat lain dari kalangan Muhajirin dan Anshar bahwasanya salah seorang dari mereka sengaja mendatangi lokasi-lokasi yang pernah disinggahi Nabi Saw. 

 Selanjutnya Muhammad ibnu Wadldlaah menyatakan, “Para ulama mutaakhkhirin lain menilai sunnah mendatangi masyahid dan sekelompok ashabuna ( para pengikut madzhab Ahmad ibnu Hanbal ) serta para tokoh ulama lain dalam Al Manaasik menyebutkan kesunnahan berziarah ke masyahid di atas dan mereka menghitung beberapa lokasi masyahid sekaligus menyebut namanya. “Sedang Imam Ahmad memberi dispensasi atas beberapa masyahid sesuai dengan informasi yang disebutkan oleh atsar kecuali jika masyahid itu dijadikan lokasi perayaan, seperti jika tempat itu didatangi untuk mencari berkah dan menjadi tempat berkumpulnya orang-orang pada waktu tertentu, sebagaimana ia juga memberi dispensasi kepada kaum wanita untuk shalat berjamaah di masjid meskipun shalat di rumah mereka itu lebih baik kecuali jika mereka bersolek mempertontonkan aurat. Dengan memberikan dispensasi dan pengecualian, Imam Ahmad memadukan antar beberapa atsar dan ia juga berargumentasi dengan hadits yang bersumber dari Ibnu Ummi Maktum.

( Iqtidllou Al Shiraath Al Mustaqiim fi Mukhaalafati Ashhaabi Al Jahiim hlm 387 ).

 

 Kesimpulan secara literal dari statemen Al Imam Ahmad bahwasanya ia memperbolehkan berulang-ulang mendatangi jejak-jejak peninggalan para nabi dan orang shalih, masyahid dan lokasi-lokasi yang dikaitkan dengan para nabi dan orang-orang shalih. Ia juga menilai mengamat-amati hal-hal tersebut serta memberikan perhatian kepadanya memiliki dalil dalam sunnah nabawiyyah dan tidak bisa dikategorikan bid`ah atau sesat apalagi dianggap sebuah kemusyrikan atau kekufuran. Hanya saja Imam Ahmad mengkritik tindakan berlebihan dalam melakukan aktivitas tersebut serta menyibukkan diri dengannya tidak sesuai dengan proporsi yang semestinya. ( Ini adalah ringkasan dari pandangan Al Imam Ahmad Ra ).

Adapun Syaikh Ibnu Taimiyyah maka ia memahami dari statemen Imam Ahmad adanya perincian dalam persoalan ini antara sedikit dan banyak melakukannya. Ia memahami jika aktivitas di atas seringkali dilakukan maka hukumnya makruh menurut Imam Ahmad. Hanya makruh tidak diberi tambahan apapun. Ibnu Taimiyyah telah menjelaskan definisi “banyak” yang mengakibatkan datang berulang-ulang dan mengamat-amati jejak-jejak peninggalan beliau Saw menjadi makruh. Yaitu jika lokasi-lokasi tadi dan jejak-jejak tersebut dijadikan tempat perayaan di mana orang-orang berkumpul di tempat tersebut dan seringkali mendatanginya pada waktu-waktu khusus.

 

Dari statemen Ibnu Taimiyyah di atas dapat dipahami juga bahwa jejak-jejak peninggalan dan masyahid yang terbukti bahwa para nabi menjadikannya sebagai masjid atau melaksanakan shalat di dalamnya itu adalah pengecualian dari perincian di atas. Berpijak dari pengecualian ini berarti tempat-tempat dan jejak-jejak peninggalan yang terbukti para nabi pernah shalat di dalamya itu memiliki keistimewaan atas yang lain dan ia boleh didatangi untuk beribadah dan shalat. Ini adalah kesimpulan yang dapat ditarik dengan jelas dari statemen Ibnu Taimiyyah saat ia berkata dalam awal pembahasan : “tetapi mereka tidak menjadikan masyahid sebagai masjid” dan saat mengatakan : “Berkenaan dengan perihal masyaahid yaitu lokasi-lokasi di mana terdapat jejak-jejak peninggalan para nabi dan orang-orang shalih yang statusnya bukan masjid bagi mereka seperti beberapa tempat yang ada di Madinah, Abu Abdillah menjelaskan secara rinci antara minoritas yang tidak menjadikannya sebagai tempat perayaan dan mayoritas yang menjadikannya sebagai tempat perayaan sebagaimana telah disebutkan. ”

( Iqtidldlaau Al Shirath Al Mustaqim hlm 385 ).

 

MAKNA PERAYAAN YANG DILARANG DALAM HADITS :

Ibnu Taimiyyah telah memberi batasan makna `ied ( perayaan ) yang dilarang dalam hadits yang berbunyi :

 

لاَ تَتَّخِذُوْا قَبْرِيْ عِيْدًا

“Janganlah kalian menjadikan kuburanku tempat perayaan. “

 

 Secara umum, kata Ibnu Taimiyyah apa yang dilakukan dekat kuburan-kuburan itu sesungguhnya adalah sesuatu yang dilarang oleh Rasulullah melalui sabda beliau, “janganlah kalian menjadikan kuburanku tempat perayaan. ” Karena membiasakan datang ke tempat tertentu pada waktu tertentu secara berulang setiap tahun, bulan atau minggu sejatinya adalah makna dari `ied.

 Selanjutnya membiasakan perayaan ini secara kecil-kecilan atau besar-besaran itu dilarang. Pandangan ini adalah keingkaran Imam Ahmad yang telah disebutkan terdahulu. Dia berkata : “Orang-orang sudah sangat melampaui batas dan memperbanyak mendatangi masyaahid. ” Imam Ahmad menyebutkan aktivitas yang dilakukan di dekat kuburan Al Husain.

Dalam kesempatan lain Ibnu Taimiyyah mengatakan. “Adapun menjadikan kuburan para nabi sebagai tempat perayaan maka ia termasuk salah satu hal yang diharamkan Allah dan Rasulullah Saw. Membiasakan mendatangi kuburan-kuburan tersebut pada waktu tertentu dan mengadakan pertemuan umum di dekatnya pada waktu tertentu berarti menjadikannya sebagai tempat perayaan sebagaimana telah dijelaskan. Dan saya tidak menemukan para ulama berselisih pendapat dalam masalah ini. Jangan sampai terpedaya oleh banyaknya tradisi-tradisi negatif, karena menjadikan kuburan sebagai tempat perayaan termasuk meniru sikap ahlul kitab yang telah dikabarkan Nabi Saw bahwa hal tersebut akan terjadi pada ummat ini.

( Iqtidldlaau Al Shirath Al Mustaqim hal 377 )

AQIDAH PENGARANG :

 Apa yang disebutkan oleh Ibnu Taimiyyah di atas, berkat karunia Allah, sesungguhnya adalah apa yang kami yakini dalam masalah ini. Keyakinan inilah yang saya dakwahkan dan saya propagandakan kepada semua orang dalam segala kesempatan dan acara. Kami melarang orang-orang untuk menjadikan kuburan Nabi Saw, jejak-jejak peninggalan para Nabi dan orang-orang shalih dan masyaahid sebagai tempat perayaan dan kami melarang mereka untuk mengkhususkan tempat-tempat itu dengan bentuk ibadah apapun yang tidak boleh ditujukan kecuali untuk Allah SWT. Ini adalah keyakinan kami yang dengannya kami taat kepada Allah. Keyakinan ini bukan muncul hari ini atau kemarin. Tapi keyakinan khalaf ( generasi pengganti ) dari salaf ( generasi pendahulu ) dan anak cucu dari leluhur, berkat karunia Allah SWT.

Kewajiban kita adalah meresapi beberapa pendapat dan uraian ilmiah yang lembut di atas yang mengindikasikan pemahaman yang baik dalam mencicipi ilmu, tidak tergesa-gesa mengkafirkan kaum muslimin atau memvonis mereka sesat dan bid`ah hanya karena mereka mengamat-amati jejak-jejak peninggalan nabi dan menaruh perhatian terhadap maqaamat ( tempat-tempat yang pernah diajdikan tempat tinggal nabi ), masyaahid tempat-tempat yang pernah dilewati / disinggahi nabi ), dan lokasi-lokasi yang dinisbatkan kepada para nabi dan orang-orang shalih, dan berprasangka positif terhadap mereka serta mengetahui bahwa maksud sesungguhnya adalah Allah SWT.

Jejak-jejak peninggalan para nabi, maqaamat, masyahid dan lokasi-lokasi yang dinisbatkan kepada para nabi dan orang-orang shalih seluruhnya adalah faktor penyebab dan media yang dapat meningkatkan keimanan dalam hati, dan mengambil pelajaran, mengingat-ingat serta menghubungkan batin dengan mereka yang terlibat dengan hal-hal di atas dan sejarah mereka. Mereka adalah teladan yang baik untuk manusia di samping dalam mendatangi hal-hal diatas terdapat unsur mengharap akan anugerah dan keberkahan yang turun di tempat-tempat kebaikan dan tempat sumbernya hidayah. Karena lokasi-lokasi yang ditempati oleh orang-orang baik dan shalih akan senantiasa menjadi tempat keridloan.

Sedangkan lokasi-lokasi yang didiami oleh orang-orang jahat dan rusak adalah tempat kemurkaan. Karena itu Nabi Saw memerintahkan para sahabat untuk tidak memasuki daerah kaum Tsamud kecuali dengan menangis dan melarang minum airnya. Bahkan beliau menyuruh mereka untuk menumpahkan air yang telah mereka ambil dan tidak megkonsumsi makanan yang dimasak dengan air tersebut. Demikian pula, Nabi menyuruh mereka untuk berjalan cepat jika memasuki lembah Muhassir yang dikenal dengan lembah api. Kami telah membahas secara spesifik tema di atas dalam kajian khusus berjudul mengharap berkah dengan jejak-jejak peninggalan Nabi Saw.

 

PERHATIAN TERHADAP JEJAK-JEJAK PENINGGALAN BERSEJARAH DAN LOKASI-LOKASI YANG DIDIAMI ORANG-ORANG SHALIH

Memelihara jejak-jejak peninggalan Nabi adalah kewajiban agung, ia adalah warisan berharga dan bernilai sejarah. Ia adalah sejarah bangsa yang menimbulkan kebanggaan dan menunjukkan kemuliaan bangsa tersebut, kemuliaan tokoh-tokohnya dan para imam yang membangun keagungannya, menegakkan kemuliaannya dan yang membuatnya menjadi bangsa yang memimpin dan memandu dalam segala aspek kehidupan. Karena itu menelantarkan jejak-jejak peninggalan beliau berarti menyia-nyiakan bukti-bukti peradaban islam yang konkret dan menghapus dasar-dasar alami yang tersisa dari warisan Islam serta sebuah tindakan kriminal terhadap harta paling berharga yang dimiliki ummat Islam dalam bidang bidang ini.

Menelantarkan jejak-jejak peninggalan Nabi adalah tindakan mencoreng muka sendiri dan menyakiti mata yang membuat pandangan menjadi buram mengaburkan obyek yang diihat, serta membuat kita kehilangan kebaikan besar yang tidak bisa diganti dan dikejar kembali. Karena tanda-tanda jejak itu akan berubah serta bekas-bekasnya akan terhapus hingga tidak tersisa sedikitpun. Selanjutnya mereka yang mengetahui jejak-jejak itupun tidak akan tersisa.

Jika dikatakan bahwa sebagian orang menjadikan tempat-tempat tersebut sebagai lokasi perayaan dan mempersekutukan Allah dengan menyembahnya, mengelilinginya, mengikat tali, menaburkan dedaunan atau menyembelih binatang sebagai persembahan kepadanya, maka saya jawab bahwa semua tindakan tersebut tidak saya restui dan tidak saya setujui. Justru kami melarang aktivitas tersebut dan memperingatkan orang agar menjauhi hal tersebut. Praktek-praktek tersebut adalah termasuk kebodohan yang wajib diperangi. Sebab mereka yang melakukannya adalah orang-orang yang beriman kepada Allah, mengakui keesaan-Nya, dan bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Dia. Hanya saja mereka melakukan perbuatan yang salah dan tidak mengetahuai cara yang benar. Maka adalah sebuah kewajiban mengajarkan dan membimbing mereka. Hanya saja semua praktek-praktek keliru tersebut tidak membuat tempat-tempat itu ditelantarkan, dilenyapkan dan dihapus eksistensinya.

Berargmentasi dengan praktek-praktek menyimpang di atas adalah argumentasi tabu dan alasan yang lemah yang tidak bisa diterima di mata kalangan ulama dan cendikiawan. Karena hal itu bisa dihilangkan dengan larangan, pengawasan, amar ma`ruf nahi munkar, dan dakwah karena Allah dengan cara yang bijak, tutur kata yang baik dan perilaku terpuji dengan tetap mempertahankan jejak-jejak peninggalan kita, melestarikannya, dan memberikan perhatian kepadanya semata-mata untuk menjaga orisinalitas ummat, menunaikan hak sejarah dan melaksanakan amanah yang dibebankan kepada kita dan yang tidak lain adalah bagian orisinil dari sejarah kita yang agung dan sejaran Nabi Muhammad Saw.

Dalam era modern ini para intelektual melestarikan peninggalan-peninggalan yang telah rusak milik bangsa-bangsa terkutuk, dimurkai dan ditimpa siksa dari bangsa-bangsa sebelum kita seperti kaum Tsamud dan Aad. Maka apakah pantas kita melestarikan dan menaruh perhatian terhadap peninggalan-peninggalan bangsa terkutuk itu, dan berjuang mempertahankan eksistensinya namun kita menelantarkan peninggalan-peninggalan makhluk Allah paling mulia yang berkat beliau negara-negara dan hamba-hamba mendapat kemuliaan, Allah memuliakan ummat, meninggikannya dan memberinya kedudukan tinggi dan derajat luhur yang tidak bisa digapai siapapun kecuali dengan cara berafiliasi dengan Nabi Muhammad ibnu Abdillah Saw, figure pemberi kebahagiaan dan keagungan.

PERHATIAN AL QURAN TERHADAP PENINGGALAN-PENINGGALAN PARA NABI DAN ORANG-ORANG SHOLIH

Dalam Al Quran Allah menyebutkan kisah tabut bani Israil yang Dia jadikan pertanda akan keabsahan Thalut sebagai raja mereka :

  وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ آيَةَ مُلْكِهِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ التَّابُوتُ فِيهِ سَكِينَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَبَقِيَّةٌ مِمَّا تَرَكَ آلُ مُوسَى وَآلُ هَارُونَ تَحْمِلُهُ الْمَلائِكَةُ   

 

 “Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka : “Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun ; tabut itu dibawa oleh malaikat….”

 

Tabut ini memiliki kedudukan yang tinggi dan status yang mulia. Ia berada di tangan mereka dan ditempatkan di depan saat mereka mengadakan peperangan. Dengan keberkahan tawassul kepada Allah dengannya dan dengan isinya mereka mendapat kemenangan. Mereka selalau membawa tabut saat memerangi musuh manapun. Dalam ayat Al Qur`an Allah mengabarkan isi-isi tabut yaitu kedamaian ilahiyyah dan peninggalan-peninggalan Nabi sebagaimana disebutkan Allah : وَبَقِيَّةٌ مِمَّا تَرَكَ آلُ مُوسَى وَآلُ هَارُونَ تَحْمِلُهُ الْمَلائِكَةُ  

Baqiyyah ini adalah harta peninggalan Nabi Harun yaitu tongkat Nabi Musa, tongkat dan pakaian Nabi Harun, sepasang sandal dan dua papan Taurat. Demikian informasi yang bersumber dari tafsir Ibnu Katsir vol. I hlm. 313. Dalam tabut itu juga terdapat mangkok emas yang fungsinya untuk membasuh dada para nabi sebagaimana dikutip dari Al Bidayah wal Nihayah vol. II hlm. 8.

Berkat peninggalan-peninggalan agung yang dinisbatkan kepada para hamba Allah terpilih ini, Allah meninggikan status tabut, meluhurkan derajatnya, menjaga dan merawatnya secara khusus saat bani Israil kalah akibat kemaksiatan dan pelanggaran yang mereka lakukan. Kekalahan ini karena mereka tidak mementingkan menjaga tabut. Maka Allah menghukum mereka dengan mencabut tabut dari tangan mereka lalu Dia menjaga dan mengembalikan kembali kepada mereka agar menjadi bukti keabsahan Thalut sebagai raja mereka. Allah telah mengembalikan tabut kepada mereka dengan penuh kemuliaan dan penghargaan saat ia datang dibawa para malaikat.

Adakah perhatian yang lebih besar melebihi perhatian terhadap peninggalan tersebut, pelestarian terhadapnya dan mengingatkan akal terhadap urgensi perkara tersebut, keagungan dan nilai kesejarahan, keagamaan dan peradabannya

PELESTARIAN KHULAFAURRASYIDIN TERHADAP CINCIN NABI SAW

 

 Al Imam Al Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibnu `Umar Ra, ia berkata :


اِتَّخَذَ رَسُوْلُ اللهِ صَلّى الله عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّم خَاتَمًا مِنْ وَرَقٍ وَكَانَ فِيْ يَدِهِ ثُمَّ كَانَ بَعْدُ فِيْ يَدِ أَبِيْ بَكْرٍ ثُمَّ كَانَ بَعْدُ فِيْ يَدِ عُمَرُ ثُمَّ كَانَ بَعْدُ فِيْ يَدِ عُثْمَانَ حَتَّى وَقَعَ بَعْدُ فِيْ بِئْرِ أَرِيْسَ نَقْشُهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ

 

 “Rasulullah Saw memakai cincin dari perak yang dikenakan di tangan. Selanjutnya sepeninggal beliau cincin itu melekat pada tangan Abu Bakar kemudian `Umar lalu di tangan `Utsman sampai cincin itu jatuh di sumur Ariis. Pada cincin itu terdapat ukiran bertuliskan Muhammad Rasulullah. “

 

 Hadits ini diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam Kitabullibas bab Khatamul Fidldlah.

 

 Al Hafid Ibnu Hajar berkata, “Dalam riwayat Al Nasa`i terdapat redaksi : “Sesungguhnya `Utsman mencari cincin itu namun tidak menemukannya. ” Dalam riwayat Ibnu Sa`d terdapat redaksi : “Sesungguhnya cincin itu melekat di tangan `Utsman selama 6 tahun. ” Fathul Bari vol. X hlm. 313.

 

Al `Aini mengatakan bahwa sumur Ariis terletak disebuah kebun dekat masjid Quba`. Umdatul Qaari vol. XXII hlm. 31.

 Saya berkata, “Sumur ini sekarang dikenal sebagai sumur Al Khatam ( cincin ) yakni cincin Rasulullah Saw yang jatuh kedalamnya pada masa kekhalifahan `Utsman. `Utsman sendiri telah berusaha sekuat tenaga untuk mengeluarkan cincin itu dengan segala cara namun gagal menemukannya.

( lihat Al Maghaanim Al Muthaabah fi Ma`aalimi Thabah karya Fairuz Abaadi hlm. 26).

PELESTARIAN KHULAFAURRASYIDIN TERHADAP TOMBAK MILIK NABI SAW

 

Al Imam Al Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya kepada Al Zubair, ia berkata :


لَقَيْتُ يَوْمَ بَدْرٍ عُبَيْدَةَ بْنَ سَعِيْدٍ بْنَ الْعَاصِ وَهُوَ مُدَجِّجٌ لاَ يُرَى مِنْهُ إِلاَّ عَيْنَاهُ وَهُوَ يُكْنَى أَبَا ذَاتِ الْكِرْشِ فقال : أَنَا أَبُوْ ذَاتِ الْكِرْشِ فَحَمَلْتُ عَلَيْهِ بِالْعَنَزَةِ فَطَعَنْتُهُ فِيْ عَيْنِهِ فَمَاتَ , قَالَ هِشَامٌ : فَأَخْبَرْتُ أَنَّ الزُّبَيْرَ قَالَ : لَقَدْ وَضَعْتُ رِجْلِيْ عَلَيْهِ ثُمَّ تَمَطَّأْتُ فَكَانَ الْجَهْدُ أَنْ نَزَعْتُهَا وَقَدْ اِنْثَنَى طَرَفَاهَا, قَالَ عُرْوَةُ: فَسَأَلَهُ إِيَّاهَا رَسُوْلُ اللهِ فَأَعْطَاهُ , فَلَمَّا قُبِضَ رَسُوْلُ اللهِ أَخَذَهَا ثُمَّ طَلَبَهَا أَبُوْ بَكْرٍ فَأَعْطَاهُ إِيَّاهَا , فَلَمَّا قُبِضَ أَبُوْ بَكْرٍ سَأَلَهُ إِيَّاهَا عُمَرُ , فَأَعْطَاهُ إِيَّاهَا , فَلَمَّا قُبِضَ عُمَرُ أَخَذَهَا , ثُمَّ طَلَبَهَا عُثْمَانُ مِنْهُ فَأَعْطَاهُ إِيَّاهَا , فَلَمَّا قُتِلَ عُثْمَانُ وَقَعَتْ عِنْدَ آلِ عَلِيٍّ فَطَلَبَهَا عَبْدُ اللهِ بْنُ الزُّبَيْرِ فَكَانَتْ عِنْدَهُ حَتَّى قُتِلَ.

 

“Pada saat perang Badar saya bertemu dengan `Ubaidah ibnu Sa`id ibnu Al`Ash yang mengenakan pakaian tempur lengkap hingga yang terlihat Cuma matanya. `Ubaidah memiliki julukan Abu Djatil Kirsy. “Saya Abu Djatil Kirsy,” katanya. Lalu saya menyerang dia dengan tombak dan berhasil menusuk matanya hingga ia pun tewas. ” Hisyam berkata, \”Saya dikabari bahwa Al Zubair berkata, “Sungguh saya telah menginjakan kaki saya di atas tubuh Abu Djatil Kirsy lalu saya berjalan dengan angkuh. Kemudian dengan susah payah saya mencabut tombak dari tubuh Abu Djatil Kirsy yang ternyata telah bengkok kedua sisinya. ” Urwah berkata, “Rasulullah meminta tombak tersebut kepada Al Zubair dan dia pun menyerahkannya. Sepeninggal beliau, Al Zubair mengambil kembali tombak itu. Abu Bakar kemudian meminta tombak itu dan Al Zubair pun memberikannya. Saat Abu Bakar meninggal, `Umar memintanya dan Al Zubair pun mengabulkannya. Wakti `Umar meninggal dunia tombak itu diambil oleh Al Zubair lalu diminta oleh `Utsman dan Al Zubair pun menyerahkannya. Ketika `Utsman terbunuh tombak itu jatuh ke tangan keluarga Ali dan Abdullan ibnu Al Zubair memintanya. Akirnya tombak itu berada di tangan Al Zubair sampai ia meninggal dunia. “

 HR Al Bukhari dalam kitab Al Maghazi Bab Syuhudu Al Malaikat Badran.

 

Ungkapan “Fahamaltu `alaihi bi al-`Anazah”, al-`Anazah itu mirip Al Harbah. Sebagian ulama mengatakan bahwa al-`Anazah itu mirip `Ukkaaz yaitu tongkat besi.

Intisari dari kisah di atas adalah bahwa Al Zubair telah membunuh `Ubaidab ibnu Sa`id ibnu Al `Ash pada waktu perang Badar. Ia menusuk matanya dengan tombak. Lalu Nabi meminta tombak yang digunakannya itu dan ia pun menyerahkannya kepada beliau. Sepeninggal beliau Saw, Al Zubair mengambilnya lagi kemudian Abu Bakar meminjamnya sampai wafat lalu kembali lagi kepada Al Zubair selanjutnya diminta oleh `Umar dan ia pun menyerahkannya hingga `Umar wafat dan kembali lagi ke tangan Al Zubair. Lalu `Utsman meminta tombak itu dan diberikan oleh Al Zubair. Saat `Utsman mati terbunuh tombak itu jatuh ke tangan Ali kemudian Al Zubair mengambilnya kembali dan tetap di tangannya sampai ia terbunuh.

Fathul Bari vol. VII hlm. 314 dan `Umdatul Qaari vol. XVII hlm. 107.

Kami bertanya-tanya ada apa dibalik perhatian besar terhadap tombak di atas padahal ada banyak tombak-tombak lain yang barangkali ada yang lebih baik dan bagus. Dari siapakah perhatian besar ini ? Sesungguhnya perhatian ini berasal dari empat figur khulafa` yang bijak yang menjadi pemimpin agama, pilar-pilar tauhid dan sosok-sosok terpercaya dalam aspek agama.



 

PELESTARIAN UMAR IBNU AL KHATTAB TERHADAP TALANG MILIK AL `ABBAS KARENA RASULULLAH SAW YANG MEMASANGNYA

Dari Abdullah Ibnu Abbas Ra, ia berkata, “Abbas memiliki talang yang berada di jalannya `Umar Ra. Lalu pada hari jum`at `Umar memakai pakaiannya. Kebetulan Abbas menyembelih dua ekor anak burung. Ketika Abbas naik ke talang, ia menumpahkan ke dalamnya darah dua ekor anak burung itu. Darah itu ternyata menimpa `Umar yang kemudian menyuruh untuk mencopot talang itu. `Umar kemudian kembali pulang untuk mengganti baju. Lalu ia datang lagi dan shalat menjadi imam. Lantas Abbasdatang kepadanya dan berkata, “Demi Allah, talang yang dicopot itu adalah talang yang dipasang oleh Rasulullah Saw. ” “Aku ingin engkau naik di atas punggungku untuk memasang talang di tempat yang dulu beliau memasangnya. ” ujar `Umar. Abbas pun lalu melakukan apa yang diinginkan `Umar.

( Al Kanzu vol.VII hlm 66 ).

Al Imam Abu Muhammad Abdullah ibnu Ahmad ibnu Muhammad ibnu Qudamah dalam kitabnya Al Mughni menyatakan, Pasal : Tidak diperbolehkan mengeluarkan talang-talang ke jalan besar / raya dan ke lorong yang tembus kecuali atas seizin penghuni sekitarnya.

 Abu Hanifah, Malik dan Al Imam Al Syafi`i mengatakan, “Diperbolehkan mengeluarkan talang-talang itu ke jalan karena `Umar melewati rumah Abbas yang telah memasang talang mengarah ke jalan lalu `Umar mencopotnya. “Engkau mencopotnya padahal Rasulullah Saw lah yang memasangnya ? ” kata Abbas. “Demi Allah, Engkau tidak boleh memasangnya kecuali naik di atas punggungku, ” ujar `Umar. `Umar lalu membungkuk hingga Abbas naik ke atas punggungnya untuk memasang talang. ”

Al Mughni karya Ibnu Qudamah vol. IV hlm. 554.

IBNU `UMAR BUKAN SATU-SATUNYA SAHABAT YANG MENARUH PERHATIAN TERHADAP JEJAK PENINGGALAN NABI SAW

 

Ibnu `Umar populer sebagai sahabat yang menaruh perhatian besar terhadap jejak-jejak peninggalan Nabi Saw dan melestarikannya. Al Syaikh Ibnu Taimiyyah berkata, “Al Imam Ahmad ibnu Hanbal ditanya perihal seorang laki-laki yang mengunjungi beberapa masyahid ini lalu dia menjawab, “Sesungguhnya Ibnu `Umar mengamati tempat-tempat perjalanan Nabi Saw sampai terlihat ia menumpahkan air di tempat yang terdapat air. Ketika ditanya akan hal itu ia menjawab, “Dulu Nabi Saw menumpahkan air di tempat ini. “

Al Bukhari dalam Al Shahihnya meriwayatkan dari Musa ibnu `Uqbah, ia berkata, “Saya melihat Salim ibnu `Uqbah mengamat-amati beberapa lokasi jalan dan shalat di tempat tersebut. Ia menceritakan bahwa ayahnya shalat di tempat-tempat tersebut dan melihat Nabi melakukan shalat di situ.” Musa berkata, “Nafi` menceritakan kepadaku bahwa Ibnu `Umar shalat di tempat-tempat tersebut. ” Iqtidla` Al Shirath Al Mustaqim hlm. 385.

Ibnu `Umar bukan satu-satunya sahabat yang melakukan hal ini. Banyak sahabat lain yang melakukan hal yang sama. Kami telah menyebutkan bukti-bukti pendukung akan fakta ini sebelumnya, yaitu tindakan yang dilakukan oleh khulafaurrasyidin yang mana tindakan mereka oleh Nabi dijadikan sebagai sunnah yang patut ditiru yang bersumber dari sunnah dan petunjuk Nabi. Beliau Saw juga menyuruh untuk berpegang teguh dengan sunnah mereka dan menjadikannya sebagai rujukan. Sudah maklum bahwa sunnah mereka sesungguhnya sunnah Nabi juga karena mereka tidak akan berkomentar, berijtihad dan berfikir terhadap sabda Nabi yang shahih dan terbukti bersumber dari beliau.

Dalam pembahasan mengenai memohon berkah dengan jejak-jejak peninggalan Saw kami telah menyebutkan sejumlah nash yang memadai yang memiliki relasi kuat dengan pembahasan dalam tema ini. Dengan nash-nash ini akan menjadi jelas bagaimana para sahabat termasuk Ibnu `Umar dan yang lain memohon berkah dengan jejak-jejak peninggalan beliau. Sejatinya kedua pembahasan ini saling terkait dan bermuara dari satu sumber. Karena memohon berkah dengan jejak-jejak peninggalan beliau adalah cabang dari melestarikan dan menaruh perhatian terhadap jejak-jejak tersebut. Hanya saja yang kedua lebih bersentuhan dengan sejarah dan peradaban sosial, sedang yang pertama lebih relevan dengan keimanan, rasa cinta dan hubungan batin.

 

IBNU ABBAS DAN JEJAK-JEJAK MASA LALU  PENINGGALAN BELIAU

 

Ketika Abdullah ibnu Al Zubair hendak membongkar ka`bah ia mengumpulkan para sahabat. Ia mengajak mereka bermusyawarah tentang rencana itu. Lalu Ibnu Abbas mengusulkan agar ka`bah jangan dibongkar total tetapi hanya merenovasi bagian-bagian yang membutuhkan perbaikan saja agar bagian yang layak dipertahankan dibiarkan apa adanya demi melestarikan batu-batu kuno yang ada pada masa pertama yaitu masa islam, masa diutusnya beliau dan masa Nabi Saw.

Dari `Atha`, ia berkata, “Saat ka`bah terbakar ( pada masa kekuasaan Yazid ibnu Mu`awiyah ) ketika makkah diserang oleh penduduk Syam maka terjadilah apa yang terjadi, Abdullah ibnu Al Zubair membiarkan ka`bah itu hingga orang-orang datang pada musim haji dan ia memprovokasi mereka untuk melawan penduduk Syam. Ketika berada di hadapan mereka, Abdullah ibnu Al Zubair berkata, “Wahai saudara-saudara, sampaikanlah pandanganmu kepadaku perihal ka`bah. Apakah saya harus membongkarnya lalu membangunnya kembali ataukah cukup memperbaiki bagian yang rusak saja ?” “Sungguh saya berpendapat agar engkau memperbaiki bagian yang rusak dan membiarkannya dalam kondisi saat orang-orang masuk Islam serta membiarkan pula bebatuan di mana orang-orang masuk Islam dan beliau diutus saat itu.”

Shahih Muslim Kitabul Hajj bab Naqdhil ka`bah wa Binaaiha Syarh Al Nawawi.

KEPEDULIAN BESAR `UMAR TERHADAP  JEJAK-JEJAK PENINGGALAN NABI SAW

 

Umar Ra adalah sosok sahabat yang sangat memperdulikan, memiliki perhatian besar dan melestarikan jejak-jejak peninggalan Nabi Saw. Karena itu saat ia melihat orang-orang mengerumuni sebuah pohon yang mereka kira pohon Al Ridlwan, pohon di mana bai`aturridlwan terjadi di dekatnya dan Allah pun menyebutkan dalam Al Qur`an

  لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ


“Sesungguhnya Allah telah ridla terhadap orang-orang mu`min ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon….” ( Q.S.Al.Fath : 18 )

 

Umar langsung menginstruksikan agar pohon itu ditebang. Karena ia mengetahui seyakin-yakinnya bahwa pohon tersebut tidak diketahui dan tidak ada seorangpun yang mengetahui di mana tempatnya apalagi pohonnya. Ia juga mengetahui bahwa para sahabat yang datang dan mengangkat bai`at di bawah pohon tersebut tidak mengetahui pohon tersebut maka bagaimana mungkin orang lain mengetahuinya. Bahkan mereka sendiri terang-terangan menyatakan tidak mengetahui pohon tersebut sebagaimana informasi yang terdaapat Al Shahihain dari Ibnu `Umar bahwasanya ia datang pada tahun setelah terjadinya bai`aturridlwan. “Kami mencari-cari pohon Ridlwan dan tidak ada dua orang yang berpendapat sama untuk menentukan pohon itu,”kata Ibnu `Umar.

Al Musayyib, ayah dari Sa`id mengatakan, “Sungguh saya pernah melihat pohon Ridlwan namun kemudian tidak ingat lagi.” Ucapan Thariq ibnu Abdirrahman, “Saya berangkat haji lalu lewat bertemu banyak orang yang sedang melakukan shalat. Saya pun bertanya, “Ada apa dengan masjid ini ?

Di sinilah tempat pohon dimana Rasulullah membai`at dengan bai`aturridlwan,” kata mereka. Lalu saya mendatangi Sa`id ibnu Al Musayyib dan menceritakan hal ini. “Ayahku menceritakan kepadaku bahwa ia termasuk sahabat yang terlibat bai`aturridlwan, ” kata Sa`id. “Ayah berkata, “Ketika saya datang pada tahun berikutnya saya terlupakan akan pohon itu dan kalian mengetahuinya. Apakah kalian lebih tahu ? ” lanjutnya. Dalam salah satu riwayat Al Musayyib berkata, “Pohon itu menjadi samar bagi kami.”

( Lihat Shahih Al Bukhari Kitabul Maghazi bab Ghazwatul Hudaibiyyah dan Shahih Muslim Kitabul Imarah bab Istihbaabu Mutaba`atil Imam ).

Apabila kegagalan menemukan pohon Ridlwan ini terjadi di sela-sela satu tahun dan pada satu masa padahal para sahabat yang terlibat pada bai`aturridlwan dan mengangkat bai`at di bawah pohon Ridlwan itu berjumlah banyak maka bagaimana pendapatmu perihal pohon yang muncul pada zaman `Umar beberapa tahun kemudian.

Zaman sudah berbeda, mereka yang terlibat bai`ah banyak yang telah meningal dunia, orang-orang berbeda pendapat dalam menentukan pohon penuh berkah yang mendapat kemuliaan berkat adanya bai`at oleh Nabi Saw dan telah terjadi di dekat pohon itu peristiwa terbesar dari sejarah pengorbanan dan jihad yang menggetarkan langit dan bumi dan disaksikan para malaikat yang mulia serta dicatat oleh Al Qur`an :


  لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا

“Sesungguhnya Allah telah ridla terhadap orang-orang mu`min ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat ( waktunya ). ( Q.S.Al.Fath : 18 )

 

Selanjutnya di dekat pohon yang penuh keberkahan ini terjadi proklamasi akan salah satu keutamaan dan keistimewaan Nabi paling agung dan Rasuk paling mulia Saw yang dicatat dalam Al Qur`an :
إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ  

”Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Kekuasaan Allah di atas kekuasaan mereka….” ( Q.S.Al.Fath :10 )

Umar Ra tidak menebang pohon tersebut untuk melarang mencari keberkahan dengan jejak-jejak peninggalan Nabi Saw atau karena ia tidak meyakini adanya keberkahan itu. Tidak terdapat dalam hatinya keyakinan tersebut sama sekali dan tidak terlintas dalam benaknya selamanya, dengan bukti adanya fakta darinya perihal mencari keberkahan dan ia memohon keberkahan dengan jejak-jejak peninggalan Nabi Saw dan yang lain seperti ia memohon kepada Abu Bakar tombak yang pernah berada di tangan Rasulullah, merawat cincin Rasulullah dan sebagainya. Rasulullah sendiri meminjam tombak itu dari Al Zubair sebagaimana tercantum dalam Shahih Al Bukhari dalam bab Syuhudul Malaikah Badran. Dari Al Maghazi. Dalam sebagian naskah : Al Qasthalani vol IV hlm. 264.

 

 

MENARUH PERHATIAN TERHADAP SANDAL NABI  DAN MENGADAKAN KAJIAN ILMIAH TERHADAPNYA

 

Salah satu peninggalan Nabi Saw yang menarik perhatian para ulama adalah sandal beliau. Ia dikaji secara mendalam menyangkut aspek sifat, keserupaan dan warnanya. Para ulama menulis kajian khusus dan artikel-artikel tersendiri tentangnya. 

Obyek dari semua upaya di atas sesungguhnya adalah pemilik sandal yaitu Nabi paling agung dan Rasul paling mulia Saw.

Jika kita menaruh perhatian terhadap peninggalan-peninggalan tokoh-tokoh besar, pakaian, dan benda-benda mereka, mengeluarkan dana yang besar dan kecil untuk memperolehnya, dan membangun museum-museum khusus dan menyediakan pakar-pakar spesialis, maka – nyawaku menjadi tebusan beliau Saw – Rasulullah lebih utama dan lebih berhak mendapat perlakuan seperti ini. Seandainya kita mengorbankan nyawa dan harta benda yang tak ternilai harganya dalam rangka melestarikan peninggalan-peninggalan beliau maka hal ini dinilai murah semata-mata karena beliau Saw.

PERHATIAN KERAJAAN ARAB SAUDI  TERHADAP PENINGGALAN BERSEJARAH

 

Pemerintahan kita yang mulia telah diberi taufik oleh Allah untuk memberikan perhatian besar terhadap peninggalan-peninggalan bersejarah. Hal ini dilakukan sebagai ungkapan perhatian terhadap warisan agung kita dan melestarikan jejak-jejak sejarah peradaban islam. Pemerintah telah membentuk departemen khusus yang bertugas mengurus dan memperhatikannya yang disebut departemen purbakala. Pemerintah juga telah menerbitkan UU khusus dengan berpijak pada surat kerajaan nomor : M / 26 tanggal 23-1396 H.

Pemerintah juga membentuk dewan khusus untuk memberikan pertimbangan terhadap hal-hal yang berkaitan dengan persoalan ini yang bernama Dewan Tertinggi Kepurbakalaan. Dewan Kementrian telah mengeluarkan keputusan nomor 235 tanggal 21 / 2 / 1398 H untuk membentuk anggota dewan dengan dikepalai menteri pendidikan dan anggota yang berkuasa atas urusan dalam negeri, keuangan, haji, wakaf, informasi dan peninggalan bersejarah. 

Undang-undang itu menjelaskan bahwa tujuan pembentukan dewan tertinggi kepurbakalaan adalah mengumpulkan sebanyak mungkin pakar untuk menjamin departemen kepurbakalaan mencapai tujuan yang diharapkan.

PELESTARIAN TERHADAP BENDA-BENDA PENINGGALAN :

 

Pasal 6 dari undang-undang berbunyi : Departemen Kepurbakalaan bekerjasama dengan instansi-instansi negara yang lain – masing-masing menangani spesialisnya – bertugas memelihara benda-benda peninggalan dan tempaat-tempat bersejarah sebagaimana ia bertugas merawat barang-barang antik, gedung-gedung bersejarah, beberapa lokasi pertempuran dan peninggalan-peninggalan yang wajib dicatat. Departemen kepurbakalaan juga mencatat seluruh peninggalan yang diakui negara urgensi kesejarahannya dan nilai seninya, dan bertugas menjaga seluruh peninggalan tersebut, mengkaji dan memamerkannya secara pantas sesuai dengan hukum undang-undang ini.

 

 

 


MASJID-MASJID DAN TEMPAT-TEMPAT IBADAH TERMASUK PENINGGALAN YANG PENTING

 

Pasal 7 berbunyi : Benda-benda peninggalan terbagi menjadi dua : benda yang permanen dan benda yang bisa dipindahkan.

(a) Benda-benda peninggalan yang permanen adalah benda-benda peninggalan yang melekat pada bumi seperti goa alam, gali-galian yang dikhususkan untuk manusia zaman dahulu dan batu-batu besar yang ada gambar-gambar, ukiran-ukiran dan tulisan-tulisan yang ditulis dan dipahat manusia. Demikian pula puing-puing kota dan bangunan-bangunan yang tertimbun di dalam lapisan-lapisan tanah, bangunan-bangunan yang didirikan untuk beragam tujuan seperti masjid, tempat-tempat ibadah lain, istana, ruang-ruang dalam rumah sakit, benteng, tembok, tempat bermain, pemandian air panas, tempat-tempat penimbunan, saluran-saluran air yang dibangun kokoh, bendungan-bendungan, reruntuhan bangunan-bangunan tersebut serta yang terkait dengannya seperti pintu, jendela, tiang, serambi, tangga, atap, relief di dinding atas, mahkota dan sebagainya.

(b) Adapun yang termasuk barang peninggalan yang dapat dipindahkan adalah barang-barang peninggalan yang dibuat sedemikian rupa secara terpisah dari bumi atau tidak melekat pada bangunan-bangunan bersejarah, serta yang memungkinkan untuk diubah tempatnya, seperti barang pahatan, mata uang, barang-barang berlukisan, batu-batu bertulis atau benda-benda yang ditenun, benda-benda yang dibuat ( di pabrik-pabrik ), dari apapun materi dan bahannya, dan apapun tujuan pembuatannya serta apapun manfaatnya. 



 

 


BENDA-BENDA PENINGGALAN DAN PROYEK-PROYEK PENGGUSURAN DAN PERENCANAAN KOTA

 

Dalam UU terdapat larangan mengubah benda-benda peninggalan baik oleh pihak swasta maupun Dinas Perencanaan kota. Pasal 11 berbunyi : Dilarang merusak benda-benda peninggalan yang bisa dipindahkan atau permanen, mengubahnya, melakukan tindakan yang membahayakannya, mengotorinya dengan tulisan dan cat, atau mengubah cirri-cirinya sebagaimana dilarang bagi pihak swasta menempelkan iklan atau memasang spanduk di lokasi-lokasi peninggalan dan di atas bangunan-bangunan bersejarah yang tercatat.

Pasal 12 berbunyi : Ketika diselenggarakan proyek perencanaan kota dan desa atau perluasan dan memperindahnya maka harus ada perlindungan terhadap kawasan-kawasan dan situs-situs peninggalan yang berada di dalamnya. Tidak diperbolehkan menetapkan proyek penataan kota di kawasan yang di dalamnya terdapat benda-benda peninggalan kecuali setelah mendapat persetujuan dari dinas kepurbakalaan. Dinas kepurbakalaan harus mengidentifikasi lokasi-lokasi yang di dalamnya terdapat situs-situs peninggalan dan dinas tata kota harus mengetahui dengan baik dari segala aspeknya.

Sudah maklum bahwa benda-benda peninggalan yang telah ditetapkan UU bahwa diantaranya adalah masjid dan tempat-tempat ibadah itu mencakup yang mendapat peringkat pertama yaitu benda-benda peninggalan keagamaan yang dinisbatkan kepada Nabi Saw atau para sahabat beliau. Bahkan benda-benda peninggalan ini berhak dimuliakan dan diprioritaskan karena merupakan benda-benda yang dibanggakan setiap mukmin dan mengingatkan anak cucu kepada leluhurnya dan generasi pengganti kepada generasi sebelumnya.

 

 

 

 

 

KAMAR NABI SAW DAN MASJID YANG MULIA

 

Sebagian kalangan yang terkena fitnah ingin mengubah bentuk kamar Nabi Saw dengan mengeluarkan kuburan beliau dari masjid. Saat almarhum raja Khalid bin Abdul Aziz mendengar rencana ini beliau sangat murka, fanatisme keagamaannya berkobar-kobar, dan berbicara melarang orang yang mengusulkan hal ini memperdengarkan ucapannya kepada orang yang hadir di majlis. Barangkali sebagian orang yang hadir di majlis pada saat itu masih hidup. Semoga Allah merahmati raja yang baik ini dan menjadikan sikap beliau sebagai pahala yang tersimpan di sisi Allah dan tangan yang putih cemerlang di sisi Rasulullah Muhammad yang dengannya insya Allah beliau memperoleh syafaat Rasul di hari kiamat.

Semoga Allah juga memberkahi pengganti beliau, raja Fahd, menolong agama islam melalui beliau, dan melindungi daerah-daerah, peninggalan-peninggalan, hamba-hamba, dan negara-negara melalui perantara beliau. Amin Ya Rabbal `Alamin.

 

 

FATWA SYAIKH MUHAMMAD IBNU `ABDIL WAHHAB
TENTANG KAMAR NABI SAW

 

Sebagian kalangan yang terfitnah dan berperangai buruk menisbatkan sebuah ucapan kepada Syaikh Muhammad ibnu `Abdil wahhab untuk mengeluarkan kamar Nabi Saw dari masjid Nabawi. Syaikh menolak penisbatan ini dan tidak mau bertanggung jawab atas ucapan dan orang yang mengatakannya sebagaimana yang tertulis dalam risalah yang dia sampaikan kepada kalangan akademik dimana dia berkata,

“Jika hal ini telah terang maka masalah-masalah yang mendapat kecaman dari Sulaiman ibnu Suhaim diantaranya ada yang merupakan kebohongan yang jelas yaitu ucapannya,

        Sesungguhnya saya menganggap sesat semua kitab madzhab empat;

        bahwa manusia semenjak 600 tahun yang silam tidak menganut agama yang benar;

        saya mengklaim mampu berijtihad dan lepas dari taqlid;

        perbedaan para ulama adalah bencana;

        saya mengkafirkan orang yang melakukan tawassul dengan orang-orang shalih;

        saya mengkafirkan Imam Al-Bushoiri karena ucapannya : Wahai makhluk paling mulia;

        seandainya saya mampu meruntuhkan kubah Rasulullah Saw maka saya akan melakukannya

        dan jika mampu mengambil talang Ka`bah yang terbuat dari emas maka saya akan menggantinya dengan talang kayu;

         saya mengharamkan ziarah ke makam Nabi Saw,

        Saya mengingkari ziarah ke makam kedua orang tua

        Saya mengingkari ziaroh ke makam orang lain;

        dan saya mengkafirkan orang yang bersumpah engan selain Allah.

Jawaban saya atas dua belas persoalan ini adalah dengan firman Allah :

سُبْحَانَكَ هَذَا بُهْتَانٌ عَظِيْمٌ

“Maha suci engkau, ini ( apa yang ditiduhkan Sulaiman ) adalah kebohongan yang besar”

                                (Q.S.An Nur : 16)


Dikutip dari Al Rasaail Al Syaikhsyiyyah bagian kelima hlm. 63 dan Al Durar Al Saniyyah vol. I hlm. 52.


 

 

 

 


KUBAH HIJAU DALAM PANDANGAN SYAIKH MUHAMMAD IBNU ABDIL WAHHAB

 

Adapun mengenai perihal kubah hijau, maka sebagian kalangan Wahabi menisbatkan kepada Syaikh Muhammad ibnu Abdil Wahhab pendapat untuk menghilangkan dan merobohkannya. Namun ternyata Syaikh menolak keras pandapat ini dan lepas tangan darinya. Dalam beberapa bagian dari risalah-risalahnya, Dia menampik pandangan ini. Dalam bagian pertama dari risalahnya untuk warga Al Qashim, dia berkata, “

Inilah aqidah singkat yang saya tulis dalam suasana hati yang   kacau agar kalian bisa melihat pandangan saya. Kepada Allah saya berserah diri atas apa yang saya ucapkan.”

Diantara kebohongan Sulaiman adalah : bahwa saya menganggap sesat semua kitab madzhab empat; bahwa manusia semenjak 600 tahun yang silam tidak menganut agama yang benar; saya mengklaim mampu berijtihad dan lepas dari taqlid; perbedaan para ulama adalah bencana dan saya mengkafirkan orang yang melakukan tawassul dengan orang-orang shalih, dan saya mengkafirkan Imam Al-Bushoiri karena ucapannya : wahai makhluk paling mulia; seandainya saya mampu meruntuhkan kubah Rasulullah Saw maka saya akan melakukannya dan jika mampu mengmbil talang ka`bah yang terbuat dari emas maka saya akan menggantinya dengan talang kayu; saya mengharamkan ziarah ke makam Nabi Saw dan mengingkari ziarah ke makam kedua orang tua dan makam orang lain; saya mengkafirkan orang yang bersumpah dengan selain Allah, mengkafirkan Ibnu Faridl dan Ibnu `Araby, dan bahwasanya saya membakar kitab Dalailul Khairaat dan Raudlul Rayaahin yang kemudian saya namakan Raudlul Syayaathiin.

Jawaban saya atas tuduhan telah mengucapkan perkataan-perkataan di atas adalah :

سُبْحَانَكَ هَذَا بُهْتَانٌ عَظِيْمٌ

“Maha suci engkau, ini ( apa yang ditiduhkan Sulaiman ) adalah kebohongan yang besar”

                                (Q.S.An Nur : 16)


Dikutip dari kumpulan karya Syaikh Muhammad ibnu `Abdil wahhab, bagian kelima, risalah pertama dari Al Rasaail Al Syakhshiyyah hlm. 12 dan Al Durar Al Saniyyah vol. I hlm. 28.

 

Bagian kedua dari suratnya yang ia kirimkan kepada warga Iraq adalah yang dikirimkan kepada Al Suwaidi salah seoran ulama Iraq. Al Suwaidi sebelumnya mengirimkan buku kepada Syaikh menanyakan komentar orang terhadap buku tersebut. Syaikh pun menjawabnya dengan surat di atas yang di dalamnya saat menolak ucapan yang dinisbatkan kepadanya dan menegaskan kebohongannya, ia berkata, “Di antara masalah-masalah tersebut adalah : Menyebarkan kebohongan adalah salah satu yang memalukan untuk diceritakan bagi orang yang berakal apalagi melakukannya; apa yang kalian sebutkan bahwa saya mengkafirkan semua orang kecuali pengikutku dan saya menilai bahwa pernikahan mereka tidak sah. Sungguh aneh, bagaimana pandangan-pandangan semacam ini masuk ke dalam akal seseorang yang berakal. Apakah ada orang muslim, kafir, orang yang pintar atau orang gila yang mengatakannya?. Demikian pula ucapan mereka bahwa Syaikh mengatakan : “Seandainya saya mampu menghancurkan kubah Nabi Saw maka saya akan melakukannya. Adapun menyangkut Dalailul Khairat maka ada penyebabnya, yaitu saya memberi saran kepada salah seorang teman yang menerima nasehatku agar di dalam hatinya jangan sampai kedudukan Dalailul Khairat lebih agung dari Al Qur`an serta menganggap bahwa membacanya lebih utama dari pada membaca Al Qur`an. Adapun perintah untuk membakar Dalailul Khairat dan melarang membaca shalawat untuk Nabi dengan menggunakan ungkapan apapun maka hal ini adalah sebuah kebohongan.”

(Kumpulan karya Syaikh Muhammad ibnu `Abdil Wahhab bagian kelima dalam Al Rasaail Al Syakhshiyyah hlm. 37, risalah kelima yang tercantum dalam Al Durar Al Saniyyah vol. I hlm. 54).

 

Sikap Syaikh Muhammad ibnu `Abdil Wahhab ini adalah kebijaksanaan dan kebenaran sesungguhnya. Sikap ini adalah siasat syar`i yang wajib menghiasi perilaku ulama, para pembimbing, dan para guru dalam menyuruh, melarang, memberi petuah dan memberi petunjuk.

Almarhum Syaikh adalah figur yang sangat antusias menepis anggapan para pendusta dan membantah ucapan penebar fitnah yang menisbatkan pandangan negatif kepadanya. Anda bisa melihat dalam beberapa kesempatan ia menolak pandangan-pandangan negatif itu karena pentingnya persoalan ini dan karena bisa berdampak buruk, terjadi fitnah dan kejelekan yang bisa menimbulkan bencana dan malapetaka yang tidak kita inginkan.Lalu dimanakah posisi Syaikh dari orang yang ilmu pengetahuan itu sempit dalam pandangan kedua matanya dan tidak menemukan persoalan yang ia tulis atau kajian yang ia persembahkan kecuali masalah kubah hijau. Sungguh betapa sempitnya akal seseorang yang batas pengetahuannya hanya mencapai merobohkan kubah hijau dan betapa dungunya ilmu seseorang yang kajian di atas adalah hasilnya.


Kami memiliki kajian khusus menyangkut tema di atas dan memohon kepada Allah agar dimudahkan untuk menyelesaikannya dan menerbitkannya dengan pertolongan dan karunia-Nya.



 

 

 

 


MEMELIHARA PENINGGALAN NABI DENGAN PENEGASAN  SURAT DARI RAJA FAHD BIN ABDUL `AZIZ

 

Di sini ada sikap agung yang berhak dicatat karena menjunjung amanah dan faktor sejarah. Yaitu ketika raja Fahd ibnu Abdil Aziz melihat desain grafis pembangunan dan perluasan masjid Quba` dan melihat bahwa ciri-ciri masjid sekarang yang kuno akan hilang dalam rencana perluasan maka beliau -semoga Allah memberi taufik kepadanya- memberi instruksi untuk membatalkan desain tersebut dan menyiapkan desain baru yang tetap mempertahankan mimbar, mihrab dan ciri-ciri kuno sekiranya perluasan terjadi pada dua sisi masjid dan area belakang agar kaum muslimin dari generasi ke generasi mengetahui lokasi-lokasi asli dan peninggalan-peninggalan otentik Nabi Saw. Raja berkata, “Salah satu hal positif adalah kita menambah bangunan masjid-masjid Allah dan bukan melenyapkannya.

Ide luhur dari pelayan dua tanah suci ini memberikan pengaruh yang sangat dalam pada jiwa kita di samping mengindikasikan kepedulian menjaga dan mempertahankan symbol-simbol warisan Islam.

Surat kabar Saudi telah menerbitkan secara spesifik wawancara dengan raja pada edisi Sabtu 17 Shafar 1405 H seperti surat kabar Al Madinah dan Al Nadwah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


DEFINISI BERKUMPUL DALAM PERAYAAN

 

Tradisi yang berlaku dalam masyarakat kita adalah berkumpul untuk mengenang sejumlah peristiwa bersejarah seperti kelahiran Nabi Muhammad, peringatan Isra` dan Mi`raj, malam nishfu Sya`ban, hijrah ke Madinah, peringatan nujulul Qur`an dan perang Badar.Dalam pandangan kami aktivitas ini adalah tradisi yang tidak memiliki relasi dengan agama, yang berarti tidak perlu dikategorikan sebagai hal yang disyari`atkan atau disunnahkan. Sebagaimana ia tidak bertentangan dengan salah satu prinip agama. Karena yang berbahaya adalah meyakini disyari`atkannya sesuatu yang tidak disyari`atkan. Menurut saya tradisi-tradisi ini tidak boleh dikatakan lebih dari sesuatu yang direstui atau tidak direstui syara`. Saya kira pandangan ini adalah pandangan yang disepakati. Sebagian orang mengklaim bahwa momen-momen dimana orang-orang berkumpul memperingatinya tidak sesuai dengan waktu yang telah ditentukan dan disepakati. Ia berkata, “Masyarakat terbiasa berkumpul pada malam tanggal 27 untuk mengenang peristiwa Isra` Mi`raj dan pada malam tanggal 12 Rabiul Awwal untuk mengenang kelahiran Nabi Muhammad Saw , padahal para ulama berbeda pendapat dalam menentukan tanggal kedua momen ini dengan tepat. ”

Menurut saya perbedaan dalam menentukan waktu tidak memiliki pengaruh. Karena kami tidak meyakini disyari`atkannya berkumpul pada waktu tertentu. Masalah ini hanyalah persoalan tradisi sebagaimana telah kami jelaskan. Sedang yang penting bagi kami adalah memanfaatkan kesempatan dan momen berkumpulnya orang banyak untuk mengarahkannya kepada hal yang positif dan di malam ini masyarakat dalam jumlah besar berkumpul. Baik mereka keliru dalam menentukan waktu atau benar. Karena berkumpulnya mereka ini untuk mengingat Allah dan mengungkapkan rasa cinta kepada Rasulullah sudah cukup untuk mengharap rahmat dan karunia Allah. 

Saya memiliki keyakinan sepenuhnya bahwa berkumpulnya banyak orang sepanjang dilakukan karena Allah dan berada dalam jalan Allah maka akan diterima oleh-Nya meskipun mereka keliru dalam menentukan waktu. Untuk menjelaskan persoalan ini saya akan membuat perumpamaan dengan seseorang yang menyebarkan undangan resepsi pada hari yang telah ditentukan lalu sebagian undangan datang bukan pada waktu yang telah ditentukan itu karena mengira waktu undangan adalah pada hari di mana mereka datang. Apakah anda kira pihak yang mengundang akan mengusir dan menolak mereka dengan kasar sambil berkata, “Kembalilah dan pergilah kalian dari saya, karena hari ini bukanlah waktu resepsi di mana saya memberikan undangan dan menentukan waktunya untuk kalian, ” atau ia akan menyambut mereka dengan baik, menyampaikan terima kasih atas kedatangan mereka, membukakan pintu untuk mereka, dan memohon mereka untuk masuk lalu meminta mereka untuk datang kembali pada waktu yang telah ditentukan? Sikap kedua inilah yang saya bayangkan dan yang pantas dengan karunia dan kemurahan Allah. 

Ketika kami berkumpul dalam rangka memperingati Isra Mi`raj, maulid Nabi atau peringatan bersejarah apapun maka yang terpenting bukanlah menentukan waktunya dengan tepat. Karena jika waktu peringatan itu ternyata adalah sesuai dengan waktu kejadian maka kami ucapkan Alhamdulillah. Tapi jika ternyata meleset maka Allah tidak akan menolak kita dan menutup pintuya untuk kita.  Menurut saya memanfaatkan kesempatan berkumpul dengan berdo`a, mendekatkan diri kepada Allah dan mengharap pemberian, kebaikan dan keberkahan-Nya adalah manfaat terbesar dari peringatan itu sendiri. Memanfaatkan berkumpulnya banyak orang dengan mengingatkan mereka, memberi petunjuk dan nasehat itu lebih baik dari pada menghalangi mereka dan melarang mereka serta mengingkari tindakan mereka dengan argumentasi yang tidak berguna sama sekali. Karena faktanya, larangan dan pengingkaran itu tidak efektif dan mereka semakin antusias dan fanatik setiap kali penolakan ditingkatkan dan semakin keras. Sehingga tanpa sadar orang yang melarang mereka seolah-olah menyuruh mereka untuk melaksanakannya. 

Sesungguhnya kalangan intelektual dan da`i yang menggunakan akal mereka dengan sepenuh hati berambisi menemukan ruang tempat konsentrasi massa untuk menyebarkan ide-ide mereka dan menarik simpati massa agar bergabung dalam barisan mereka. Karena itu Anda akan menyaksikan mereka mendatangi taman-taman, asosiasi-asosiasi, tempat-tempat umum dan konsentrasi massa agar mereka bisa melakukan misi yang mereka inginkan. Kami sendiri melihat masyarakat berkumpul dalam berbagai momen dengan penuh antusias. Lalu apakah kewajiban kita terhadap masyarakat tersebut ? 

Merepotkan diri dengan melakukan pengingkaran, penerimaan dan penolakan hukum berkumpulnya masyarakat dan sebagainya adalah tindakan sia-sia bahkan bisa dikategorikan sebuah ketololan dan kedunguan. Sebab kita akan menelantarkan asset besar dan kehilangan momen yang zaman tidak mungkin berbaik hati memberikannya kecuali pada acara-acara semisal ini. Maka marilah kita manfaatkan pertemuan-pertemuan tersebut.

 

PERSEPSI MAULID NABI YANG MULIA

 

Banyak orang keliru dalam memahami subtansi maulid Nabi yang kami propagandakan dan kami anjurkan untuk menyelenggarakannya. Mereka mendefinisikannya secara keliru yang kemudian di atasnya dibangun banyak persoalan-persoalan panjang dan perdebatan-perdebatan yang luas yang membuat mereka menyia-nyiakan waktu mereka dan para pembaca. Persoalan dan perdebatan ini tidak bernilai sama sekali laksana debu yang beterbangan. Karena dibangun di atas asumsi-asumsi yang keliru. 

Kami telah banyak menulis tema menyangkut maulid Nabi dan mengupasnya berkali-kali di radio dan forum-forum terbuka dengan uraian yang membuat jelas konsep kami tentang maulid. 

Kami katakan dan sebelumnya telah kami kemukakan bahwa berkumpul dalam rangka memperingati maulid Nabi Saw hanyalah sebuah tradisi dan sama sekali bukanlah sebuah ibadah. Inilah yang saya yakini dan saya patuh kepada Allah dengannya.

Silahkan, siapapun bisa memberikan interpretasi. Karena seseorang akan dibenarkan atas apa yang dikatakannya tentang dirinya dan substansi keyakinannya, bukan orang lain. 

Dalam setiap acara, pertemuan dan perayaan saya berkata bahwa pertemuan dengan format demikian adalah sekedar tradisi yang tidak memiliki unsur ibadah sama sekali. Setelah penjelasan ini masihkah tersisa keingkaran orang yang ingkar dan bantahan orang yang membantah ? Namun musibah paling besar sesungguhnya adalah ketidakmengertian. Karena itu Imam Syafi`i berkata :

مَا جَادَلْتُ عَالِمًا إِلاَّ غَلَبْتُهُ وَلاَ جَادَلْتُ جَاهِلاً إِلاَّ غَلَبَنِيْ

“Saya tidak pernah berdebat dengan orang alim kecuali saya mampu mengalahkannya dan saya tidak pernah berdebat dengan orang bodoh kecuali ia mampu mengalahkanku. “

 

Pelajar dengan kapasitas keilmuan terendah sekalipun akan mengetahui perbedaan antara tradisi dan ibadah ( ritual ) dan substansi keduanya. Jika seseorang berkata, “Ini ( perayaan ) adalah ritual yang disyari`atkan beserta tata caranya, ” maka saya akan bertanya kepadanya, “Manakah dalilnya ? ” Dan jika ia berkata, “Ini adalah tradisi, ” maka saya akan berkata kepadanya, “Berbuatlah sesukamu. ” Karena yang berbahaya dan malapetaka yang kami khawatirkan adalah jika tindakan bid`ah yang tidak disyari`atkan namun hanya ijtihad manusia, diberi bungkus ibadah. Hal ini adalah pandangan yang tidak kami setujui dan justru kami perangi dan kami peringatkan.

Walhasil, berkumpul untuk memperingati maulid Nabi hanyalah urusan tradisi. Namun ia adalah salah satu tradisi positif yang mengandung banyak manfaat untuk masyarakat karena memang satu-persatu dari manfaat itu dianjurkan oleh syara`. Salah satu gambaran keliru yang ada dalam benak sebagian orang adalah mereka mengira bahwa kami mengajak menyelenggarakan peringatan maulid Nabi pada malam tertentu, tidak sepanjang tahun. Si pelupa ini tidak tahu bahwa beberapa perkumpulan diselenggarakan dalam rangka memperingati maulid Nabi di Makkah dan di Madinah dalam format luar biasa pada setiap tahun. Dan setiap momen yang terjadi dimana penyelenggara merasa bersuka cita. Hampir setiap siang dan malam di Makkah dan di Madinah diselenggarakan perkumpulan guna memperingati maulid Nabi. Fakta ini diketahui sebagian orang dan sebagian lagi tidak mengetahuinya. Siapapun yang mengatakan bahwa kami mengingat Nabi hanya pada satu malam saja dan melupakan beliau selama 359 malam maka ia telah melakukan dosa besar dan kebohongan yang nyata. Tempat-tempat diadakannya maulid Nabi ini terselenggara berkat karunia Allah pada sepanjang malam setiap tahun. Nyaris tidak lewat siang atau malam kecuali di sana-sini diselenggarakan maulid Nabi. Kami serukan bahwa mengkhususkan satu malam saja untuk memperingati maulid Nabi adalah tindakan yang sangat kurang patut terhadap Rasulullah. Karena itu, alhamdulillah orang-orang menyambut seruan ini dengan antusias. 

Siapapun yang menganggap bahwa kami mengkhususkan penyelenggaraan perayaan maulid Nabi di Madinah Munawwarah maka ia tidak tahu atau pura-pura tidak tahu akan fakta sesungguhnya. Yang bisa kami lakukan hanyalah berdo`a kepada Allah untuknya agar Allah menerangi mata hatinya dan menyingkirkan tirai kebodohan darinya. Agar ia bisa melihat bahwa perayaan maulid Nabi Saw tidak hanya diselenggarakan di Madinah dan bukan hanya pada malam tertentu pada bulan tertentu. Tetapi merata di setiap zaman dan tempat.

 

وَلَيْسَ يَصِحُّ فِي اْلأَذْهَانِ شَيْءٌ      إِذَا احْتَاجَ النَّهَارُ إِلَى دَلِيْلٍ

 

Sungguh sama sekali tidak masuk aka

lJika terang benderangnya siang perlu bukti

 

 Walhasil, kami tidak mengatakan bahwa merayakan maulid Nabi pada malam tertentu itu sunnah. Bahkan orang yang berkeyakinan demikian telah melakukan bid`ah dalam agama. Sebab mengingat dan memiliki keterikatan batin dengan beliau harus ada dalam setiap waktu dan memenuhi seluruh ruang hati. Memang betul bahwa pada bulan kelahiran beliau ada faktor pendorong yang lebih kuat untuk menggugah orang-orang dan membuat mereka berkumpul serta emosi mereka juga meluap-luap akibat keterikatan waktu. Akhirnya, situasi kini membawa memori mereka ke masa lalu dan mengalihkan mereka dari hal yang kasat mata ke hal yang ghaib.  

Pertemuan-pertemuan dalam rangka merayakan maulid ini adalah wahana besar untuk mengajak mendekatkan diri kepada Allah. Ia adalah kesempatan emas yang layak untuk tidak dilewatkan begitu saja. Bahkan wajib bagi para da`i dan ulama untuk mengingatkan ummat akan budi pekerti, etika, aktivitas, perjalanan hidup, muamalah dan ibadah beliau dan menasehati serta membimbing mereka menuju kebaikan dan kesuksesan dan memperingatkan mereka akan bencana, bid`ah, keburukan dan fitnah. 

Berkat karunia Allah kami selalu menganjurkan hal di atas, berpartisipasi dan berkata kepada orang-orang, “Tujuan dari perkumpulan ini bukan sekedar berkumpul-kumpul dan formalitas saja. Tapi perkumpulan ini adalah media yang positif untuk meraih target mulia, yaitu ini dan itu. Barangsiapa yang tidak mendapatkan apapun dari agamanya maka ia terhalang dari kebaikan-kebaikan maulid yang mulia. Kami tidak ingin berbicara panjang lebar dengan menyebutkan dalil-dalil dan justifikasi yang kami gali dari tema ini. Karena kami telah menyusun sebuah risalah khusus tentang maulid Nabi yang bernama “Seputar Perayaan Maulid Nabi Yang Mulia. ” Hanya saja kami akan menyebutkan secara khusus kisah dimerdekakannya Tsuwaibah. Sebab banyak polemik seputar kisah ini. “

 

 

 

 

 

 

KISAH DIMERDEKAKANNYA TSUWAIBAH

 

Dalam literature-literatur hadits dan sirah ( sejarah ) para ulama menyebutkan kisah Abu Lahab yang memerdekakan hamba sahayanya Tsuwaibah, saat ia mengabarkan kelahiran Nabi Saw kepadanya dan bahwa `Abbas ibnu Abdil Muthollib bermimpi bertemu Abu Lahab setelah ia mati dan bertanya mengenai kondisinya. “Saya belum pernah merasakan kenyamanan setelah meninggalkan kalian. Hanya saja di neraka ini saya diberi minum, sebab memerdekakan Tsuwaibah. Dan setiap hari Senin saya mendapat keringanan siksa,” jawab Abu Lahab. 

 

Saya katakan bahwa hadits ini diriwayatkan dan dikutip oleh sejumlah imam hadits dan sirah seperti Al Imam Abdul Razaq Al Shan`aani, Al Imam Al bukhari, Al Hafidh Ibnu Hajar, Al Hafidh Ibnu Katsir, Al Hafidh Al Baihaqi, Ibnu Hisyam, Al Suhaili, Al Hafidh Al Baghawi, Ibnu Al Diibagh, Al Askhar, dan Al `Aamiri. Insya Allah hal ini akan saya jelaskan secara rinci. 

 Adapun Al Imam Abdul Razaq Al Shan`ani maka ia telah meriwayatkan hadits di atas dalam Al Mushannaf ( vol. VII hlm. 478 )

sedang Al Bukhari meriwayatkannya dalam Al Shahih dengan sanadnya yang sampai pada `Urwah ibnu Al Zubair dengan status mursal dalam kitab Al Nikah bab ( وأمهاتكم اللاتي أرضعنكم ) .

Ibnu Hajar menyebutkan dalam Fathul Bari dan mengatakan, “Hadits ini diriwayatkan oleh Al Isma`ili dari jalur Adz-Dzuhali dari Abi Al Yaman. Juga diriwayatkan oleh Abdul Razaq dari Ma`mar. Abdul Razaq berkata, “Hadits ini mengandung indikasi bahwa amal shalih kadang memberi manfaat untuk orang kafir di akhirat. Namun hal ini kontradiksi dengan makna konteks ayat Al Qur`an dimana Allah berfirman :

وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا

“Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan. “

 ( Q.S.Al.Furqan : 23 )

 

Kontradiksi ini bisa dijawab dengan :

Pertama, status hadits di atas adalah mursal yang diirsalkan oleh `Urwah dan ia tidak menyebutkan sumber yang menyampaikan hadits kepadanya. Bila diibaratkan status hadits ini maushul maka yang terjadi dalam hadits adalah mimpi pada saat tidur yang tidak bisa dijadikan argumentasi. Barangkali yang dilihat Abbas dalam mimpi terjadi sebelum masuk Islam yang otomatis tidak bisa dijadikan hujjah juga.

 

Kedua, jika hadits ini diterima, mungkin apa yang berkaitan dengan Nabi adalah kekhususan (pengecualian) dari firman Allah di atas dengan bukti kisah Abu Thalib di muka yang mendapat keringanan siksa dengan dipindahkan dari bagian neraka yang dalam ke bagian yang dangkal.

” Al Baihaqi berkata, “Batalnya hadits di atas untuk orang-orang kafir maksudnya adalah bahwa mereka tidak mungkin menghindari neraka dan masuk surga. Boleh juga mereka mendapat keringanan siksa atas dosa selain kufur berkat perbuatan baik yang mereka lakukan. 

 

 Al Qadli `Iyadl berkata, “Ijma` telah sepakat bahwa amal perbuatan orang-orang kafir tidak memberi manfaat dan mereka juga tidak mendapat balasan kenikmatan serta keringanan siksa meskipun sebagian mereka mendapat siksaan yang lebih berat dari sebagian yang lain. ”

Menurut saya pendapat Al Qadli `Iyadl tidak menolak kemungkinan yang dikemukakan Al Baihaqi. Karena semua informasi yang terkait dengan ketidakmanfaatan amal perbuatan orang kafir berkaitan dengan dosa kufur. Adapun dosa selain kufur maka faktor apakah yang menghalangi diringankannya siksa?.

Al Qurthubi menyatakan bahwa keringanan siksa ini khusus untuk Abu Lahab dan orang yang disebut dalam nash.

 

Ibnul Munir dalam Al Hasyiyah menegaskan bahwa dalam konteks ini terdapat dua persoalan.

Pertama, sebuah kemustahilan, yaitu diperhitungkannya ketaatan orang kafir yang tetap dalam kekufurannya. Karena syarat ketaatan adalah harus terjadi dengan motif yang benar dan hal ini tidak ditemukan dalam orang kafir.

Kedua, orang kafir diberi pahala atas sebagian amal semata-mata berkat karunia Allah. Jika masalah ini telah jelas maka tindakan Abu Lahab memerdekakan Tsuwaibah bukanlah sebuah perbuatan yang benilai ibadah yang diperrhitungkan. Boleh saja Allah memberinya karunia apa saja sebagaimana yang telah diberikan kepada Abu Thalib. Dalam konteks ini yang menjadi acuan dalam menetapkan dan menafikan adalah ketentuan langsung dari Allah (Tawqif). 

 

 Menurut saya kelanjutan ucapan Ibnul Munir secara lengkap adalah : karunia di atas ada karena memuliakan seseorang yang mendapatkan perbuatan baik dari orang kafir dan sebagainya. Wallahu a`lam.

 (Fathul Bari vol. IX hlm. 145). 

 

 Adapun Al Hafidh Ibnu Katsir maka ia telah meriwayatkan hadits di atas dalam Al Bidayah wa Al Nihayah dan dalam komentarnya ia berkata, “Karena ketika Tsuwaibah menyampaikan kabar gembira akan kelahiran keponakannya “Muhammad” ibnu Abdillah maka seketika itu juga Abu Lahab memerdekakan Tsuwaibah. Akhirnya tindakannya ini dibalas dengan keringanan siksa. ”

Al Sirah Al Nabawiyyah vol. I hlm. 224.

 

  Sedang Al Hafidh Abdul Rahman Al Dibai Al Syaibani, penyusun Taisirul Wushul maka ia telah meriwayatkan hadits tentang dimemerdekakannya Tsuwaibah dalam sirahnya dan menegaskan, “Saya katakan :”Keringanan siksa terhadap Abu Lahab semata-mata karena memuliakan Nabi Saw sebagai mana hal yang sama diterima Abu Thalib, bukan karena telah memerdekakan budak berdasarkan firman Allah :

وَحَبِطَ مَا صَنَعُوْا وَباطِلٌ مَاكَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

“…….dan lenyaplah di akhirat itu apa yang mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan. “

 Dari Hadaiqul Anwar fi Al Sirah vol 1 hlm 134.

 

  Adapun Al Hafidh Al Baghawi maka ia telah meriwayatkannya dalam syarh Al Sunnah vol IX hlm 76. Sedang Al Imam Al `Amiri telah meriwayatkannya dalam Bahjatul Mahafil dan Al Asykhar , pensyarahnya mengatakan,

“Ada versi yang menyatakan bahwa keringanan tersebut hanya khusus untuk Abu Lahab semata-mata demi memuliakan Nabi Saw sebagaimana Abu Thalib mendapat keringanan siksa berkat beliau Saw. Versi lain menyebutkan bahwa tidak ada halangan bagi orang kafir mendapat keringanan siksa atas perbuatan baik yang ia lakukan. ” Syarh Al Bahjah vol. I hlm. 41. 

 

 Adapun Al Suhaili maka ia telah meriwayatkannya dalam Al Raudl Al Anif fi Syarh Al Bahjah Al Nabawiyyah karya Ibnu Hisyam dan mengatakan setelah mengutip hadits di atas, “Abu Lahab mendapat manfaat dari tindakannya memerdekakan Tsuwaibah pada saat ia berada di neraka seperti halnya saudaranya Abu Tholib memperoleh manfaat dari pembelaannya terhadap Rasulullah. Abu Lahab adalah penghuni neraka yang paling ringan siksaannya. Telah dijelaskan dalam Bab Abi Thalib bahwa keringanan ini semata-mata hanya berkurangnya siksaan. Bila tidak dimaksudkan seperti ini maka seluruh amal perbuatan orang kafir itu hangus menurut kesepakatan bulat para ulama. Maksudnya hangus adalah ia tidak menemukan amal baiknya terdapat dalam timbangan amal dan amal baik itu tidak membuatnya masuk surga. ”

Al Raudl Al Anif vol V hlm 193.

 


KAJIAN PENUTUP

 

 Kesimpulannya, kisah dimerdekakannya Tsuwaibah adalah kisah populer dalam hadits dan sirah serta dikutip oleh para imam hadits yang kuat. Cukuplah sebagai bukti untuk menguatkan adanya kisah ini bahwa Al Bukhari telah mengutipnya dalam kitab shahih yang disepakati keagungan dan kedudukannya. Seluruh hadits musnad yang ada dalam kitab shahihnya disepakati berstatus shahih. Hingga hadits-hadits yang berstatus mu`allaq dan mursal tidak lepas dari kategori diterima dan tidak mencapai taraf ditolak. Fakta ini diketahui oleh para ulama yang menggeluti kajian hadits dan mushthalah hadits dan mereka yang mengerti arti hadits mu`allaq dan mursal serta memahami status hukum kedua hadits ini jika terdapat dalam kitab Shahih Bukhari.  

Jika anda berminat mengetahui hal di atas, simaklah literatur Mushthalah Hadits seperti Al Fiyah Al Suyuthi dan Al `Iraqi serta syarh keduanya, dan Tadrib Al Rawi.Para penyusun kitab-kitab ini menyinggung masalah di atas dan menjelaskan nilai hadits mu`allaq dan mursal dalam Shahih Al Buhkari dan di mata muhaqqiqin keduanya diterima. 

Selanjutnya persoalan ini adalah bagian dari keutamaan-keutamaan, keistimewaan-keistimewaan dan kemuliaan-kemuliaan yang disebutkan para ulama dalam kitab-kitab khasais ( keistimewaan-keistimewaan ) dan sirah ( sejarah ) mereka. Mereka cenderung memberi kelonggaran dalam mengutipnya dan tidak menetapkan kriteria yang ditetapkan dalam hadits shahih sesuai dengan istilah yang berlaku. Jika kita menetapkan kriteria ini niscaya kita tidak mungkin menyebutkan sedikitpun sejarah Nabi baik pra maupun pasca diutusnya beliau. Padahal anda bisa melihat dalam kitab-kitab para huffadz yang menjadi acuan dan karya mereka menjadi pegangan dan dari mereka kita mengerti yang hadits dlo`if yang boleh disebut dan tidak, kita menemukan kitab-kitab mereka sarat dengan hadits-hadits maqthu` dan mursal serta informasi-informasi yang bersumber dari para dukun dan semisalnya menyangkut keistimewaan-keistimewaan Rasulullah. Karena hal tersebut termasuk hal-hal yang boleh disebutkan dalam konteks ini.  

Adapun statemen orang yang mengatakan bahwa hadits di atas kontradiksi dengan firman Allah :

وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا

Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu ( bagaikan ) debu yang beterbangan. ”

( Q.S.Al.Furqan : 23 )

 

maka ini adalah statemen yang ditolak dengan pendapat yang telah dikemukakan para ulama dan dengan apa yang telah kami kutip dari mereka sebelumnya. 

 

Kesimpulan pembicaraan dalam persoalan di sini adalah bahwa ayat di atas itu menunjukkan bahwa amal perbuatan orang kafir itu tidak diperhitungkan. Dalam ayat tersebut juga tidak menunjukkan bahwa mereka sama dalam menerima siksaan serta bahwa sebagian mereka tidak ada yang mendapat keringanan siksa sebagaimana telah ditetapkan para ulama. 

Demikian pula ijma` yang telah disebutkan Al Qadli `Iyadl. Ijma` tersebut mencakup semua orang kafir secara umum. Di dalamnya tidak mengandung kesimpulan bahwa Allah tidak memberikan keringanan siksa kepada sebagian mereka karena amal perbuatan yang telah dikerjakan. Karena itu Allah menciptakan neraka Jahannam beberapa tingkat dan orang munafik berada di tingkat paling bawah.  

Kemudian ijma` ini ditolak oleh nash shahih. Dan ijma` itu tidak sah jika berlawanan dengan nash sebagaimana dimengerti oleh para pelajar.

Mengapa ditolak ? Karena telah terbukti dalam Al Shahih bahwa Rasulullah Saw ditanya, “Apakah engkau memberikan sedikit manfaat untuk Abu Thalib karena ia telah melindungi dan membelamu ? ” “Saya menemukannya di jahannam dalam kepedihan dan saya keluarkan ke bagian yang dangkal darinya, ” jawab Nabi. ( Hadits ). 

Demikianlah Abu Thalib mendapat manfaat dari tindakannya membela Nabi dan berkat pembelaannya beliau mengeluarkannya dalam kepedihan dalam neraka jahannam ke bagian dangkal darinya.  

Keringanan siksa yang diperoleh Abu Lahab juga termasuk kategori ini dan tidak perlu diingkari. Hadits di atas menunjukkan bahwa ayat tersebut berlaku untuk mereka yang tidak memiliki amal yang menjadi faktor diringankannya siksaan. Ijma` juga memberi kesimpulan demikian. 

Dalam hadits yang menjelaskan Abu Thalib yang disebutkan terdahulu, terdapat indikasi bahwa saat sekarang dan sebelum hari kiamat Nabi Saw selalu beraktivitas dalam urusan-urusan akhirat dan memberi syafaat kepada mereka yang memiliki keterikatan dengan beliau serta memberikan pembelaan. 

Adapun orang yang menyatakan bahwa hadits tersebut adalah mimpi dalam tidur yang tidak memberikan ketetapan hukum maka ia – semoga Allah menunjukkan kebenaran untuknya – tidak mampu membedakan antara hukum syari`ah dan lainnya. 

Dalam masalah hukum syari`ah ada perbedaan di antara para fuqaha` apakah boleh mengambil hukum dan menshahihkan hadits berdasarkan mimpi Rasulullah dalam tidur atau tidak ? 

Adapun dalam bidang selain hukum syari`ah maka menjadikan mimpi sebagai tendensi dalam tema di atas sama sekali bukan persoalan. Banyak para hafidh bertendensi dengan mimpi serta menyebutkan informasi yang ada dalam mimpi-mimpi kaum jahiliyyah pra diutusnya Rasulullah yang memperingatkan akan munculnya beliau dan bahwa beliau akan memberantas kemusyrikan dan sikap-sikap negatif mereka. Kitab-kitab sendiri sarat dengan informasi ini.

 Dan yang berada di garis depan adalah kitab Dalaailu Al Nubuwwah. Para hafidh juga menilai bahwa mimpi sebagai irhashat ( indikasi kenabian ) yang bisa dijadikan argumen dalam masalah irhashat tersebut. Seandainya tidak bisa dijadikan argumen, niscaya mereka tidak akan menyebut-nyebut atau membicarakan mimpi. 

Ucapan seseorang tentang mimpi `Abbas bahwa mimpi itu bukanlah hujjah dan tidak bisa menetapkan hukum dan berita ( khabar ) adalah ucapan yang keluar dari praktek para imam dari kalangan huffadh dan kalangan lain. Maksud dari ucapan itu sekedar menakut-nakuti, tidak ada motif lain. Dan tidaklah demikian sikap orang yang mengkaji kebenaran. Sedang perkara yang sebenarnya hanya Allah semata yang mengetahui. 

Adapun orang yang mengatakan bahwa yang bermimpi dan memberi informasi adalah `Abbas pada saat masih kafir sedang kesaksian dan informasi orang kafir tidak diterima, maka pandangan ini adalah pandangan yang ditolak dan tidak mengandung aroma keilmuan serta batil. Karena tidak ada seorang pun yang mengatakan bahwa mimpi termasuk dalam kategori kesaksian secara mutlak. Mimpi hanya masuk dalam kategori bisyarah ( informasi menggembirakan ). Maka tidak diperlukan syarat agama dan iman dalam masalah mimpi ini. Bahkan di dalam Al Qur`an Allah menyebutkan mu`jizat Nabi Yusuf dari mimpi raja Mesir penyembah berhala yang tidak mengerti agama samawi sama sekali. Meskipun demikian Allah menjadikan mimpi sang raja sebagai salah satu indikasi kenabian Yusuf AS dan keutamaannya. Allah juga menyebutkan mimpi sang raja bersama dengan kisah Yusuf. Seandainya mimpi itu tidak mengindikasikan apapun maka Allah tidak akan menyebutkannya. Karena mimpi itu mimpi orang musyrik penyembah berhala yang tidak ada gunanya sama sekali baik dalam mendukung atau menolak. 

Karena itu para ulama menyatakan bahwa saat tidur orang kafir bisa bermimpi bertemu Allah dan melihat sesuatu yang mengandung ancaman dan kecaman terhadapnya. Yang sangat ganjil adalah ucapan orang yang mengatakan bahwa mimpi `Abbas terjadi pada saat masih kafir sedang kesaksian dan informasi dari orang-orang kafir tidak bisa diterima. Karena ucapan ini mengindikasikan ketidaktahuan tentang disiplin ilmu hadits. Sebab yang telah ditetapkan dalam mushthalahul hadits adalah bahwa sumber yang berstatus sahabat atau bukan jika menerima ( tahammul ) hadits waktu masih dalam kekafirannya lalu hadits itu ia riwayatkan sesudah masuk Islam maka hadits itu dapat diambil dan dipraktekkan. Silahkan lihat contoh dari hal ini dalam literatur-literatur mushthalahul hadits agar Anda dapat mengetahui betapa jauhnya orang yang melontarkan ucapan di atas dari ilmu dan sesungguhnya hanya hawa nafsulah yang mendorongnya untuk terlibat pembicaraan mengenai tema yang tidak ia kuasai.

 


PENUTUP

 

Kitab ini berisi tulisan saya tentang berbagai persoalan di atas guna menjelaskan persepsi tentang persoalan-persoalan tersebut. Apabila persepsi-persepsi itu benar maka saya alhamdulillah dan jika sebaliknya, maka sungguh saya hanyalah seorang manusia yang bisa benar dan salah. Semua ucapan kita bisa diambil dan ditolak kecuali ucapan junjungan yang ma`shum Muhammad Saw yang tidak berkata dengan dorongan hawa nafsu. Apa yang dikatakan beliau tidak lain kecuali wahyu. 

Saya berlindung kepada Allah dari berdebat, bertengkar, ilmu yang tidak memberi manfaat, do`a yang tidak terkabulkan dan dari hati yang tidak khusyu`. Saya berlindung kepada Allah dari segala keburukan, kejahatan, musibah, kemusyrikan dan bid`ah. Saya berlepas diri dari semua hal yang Rasulullah berlepas diri darinya dan menetapkan apa yang ditetapkan beliau.

  Saya memohon kepada Allah agar Dia menetapkan saya dalam sikap yang diambil Rasulullah hingga mati menjemputku sebagai pemeluk agama Islam, yang mengesakan Allah dan beriman kepada Allah di negara Allah dan di tengah-tengah kaum mu`minin yang mengesakan Allah dan bersaksi bahwa tiada Tuhan kecuali Allah, Muhammad utusan Allah semenjak Muhammad ibnu Abdillah datang membawa persaksian ini dan para sahabat beliau, pengikut beliau serta para pengikut-pengikut beliau dari kalangan imam salaf shalih – semoga Allah meridloi mereka – menempuh jalan tersebut, dalam naungan para imam tauhid dan da`i-da`i penyeru kebaikan dari para pemimpin kami yang agung. Semoga Allah membimbing para pemimpin untuk membela kebenaran dan dan menuntun mereka menuju kebaikan negara dan masyarakat.

Segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam.

Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada junjungan kami Muhammad, semua keluarga dan shahabat beliau. Amiin…        

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.